~oOo~ { READ MY BIO FIRST BEFORE YOU READ MY OWN FANFICT } ~oOo~

"Ada apa datang kemari?" Baekhyun mendudukan tubuhnya pada pinggir ranjang yang diikuti oleh Chanyeol.

"Apa kau masih menyimpan buku yang kuberikan padamu dulu?" Tanya Chanyeol. Baekhyun tersenyum mendengar Chanyeol masih mengingat buku yang sangat penting bagi mereka itu.

"Tentu, aku menyimpannya dengan baik. Aku bahkan membawa buku itu sekarang," Baekhyun masih tersenyum, menunggu perkataan lain yang keluar dari mulut lawan bicaranya ini. Mata Baekhyun melirik segelas susu yang masih Chanyeol pegang dari tadi, Baekhyun berpikir saat ini Chanyeol sedang gugup sama seperti dirinya.

"Bisakah kau memberikan buku itu padaku?" Baekhyun mengeryit menanggapi perkataan yang keluar dari bibir Chanyeol.

"Memangnya kenapa kau meminta buku itu?"

"Kau tidak mau memberikan buku itu padaku lagi ya?" Baekhyun sontak menggeleng pelan.

"B-bukan begitu, baiklah aku ambilkan dulu." Baekhyun melangkah menuju laci tempatnya menaruh buku yang dimaksud Chanyeol tadi, lalu menyerahkan buku bersampul buruk itu pada Chanyeol.

"Ini.." ujar Baekhyun sembari mengulurkan buku itu pada Chanyeol.

"Terima kasih, aku harus kekamar Kyungsoo untuk mengantarkan susu favoritnya juga buku ini, Kyungsoo sangat suka membaca buku novel klasik seperti ini, sekali lagi terima kasih."

Tubuh Baekhyun lemas seketika mendengar ucapan Chanyeol yang menyakitkan bagi dirinya. Baekhyun pikir Chanyeol ingin memperbaiki semuanya, Baekhyun pikir Chanyeol membawakan Susu untuknya, Baekhyun pikir..

..Chanyeol akan kembali peduli padanya.

"Baek? Kau kenapa melamun? Aku harus keluar agar Kyungsoo tidak berpikir yang macam-macam, selamat malam."

Chanyeol keluar kamar Baekhyun dengan perasaan yang berkecamuk, hatinya sakit melihat Baekhyun yang terlihat kecewa padanya.

'Maafkan aku Baekhyun'

Chanyeol yang melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya. Dia memang bohong pada Baekhyun soal dirinya akan menemui Kyungsoo, dia hanya ingin pertemuan dengan Baekhyun segera Berakhir sebelum dirinya mengakhiri semuanya secara sepihak.

Didalam kamar Baekhyun masih bersimpuh memegang dadanya yang berdenyut sakit, Chanyeol memang sudah berubah dan ia semakin pesimis akan mendapatkan kembali cinta Chanyeol.

"Aku akan bertahan untuk hubungan ini, Chan. Aku berjanji."

.

.

.


-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-


.

.

.

Author:

Yuta CBKSHH ( dan Byun ChanZha)

Tittle:

PRETENDING OF LOVE (CHANBAEK)

Main Cast:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Support cast:

Oh Sehun a.k.a Sehun

Xi Luhan a.k.a Luhan

Kim Jong In a.k.a Kai

Do Kyungsoo a.k.a Kyungsoo

Others cast (EXO's members)

Rating:

M

Genre:

Angst, Romance, Drama, Hurt/Comfort

Length:

Chaptered

Disclaimer:

Sudah Yuta jelaskan di atas yaa. Cerita ini adalah pemikiran murni tanpa plagiat dari cerita manapun. Terinspirasi dari beberapa pengalaman si penulis. PLAGIARISM ISN'T MY STYLE! NO COPAST! NO PLAGIAT! Semoga kalian suka dan bisa menerima cerita ini dengan baik ^^

Warning:

BL-BoysLove / YAOI / SHOUNEN-AI / HUBUNGAN SESAMA JENIS. DLDR! DO NOT BASH BUT KRITIK ATAU SARAN SANGAT DI PERBOLEHKAN. ENJOY IT!

Summary:

[YAOI/ANGST] "Maafkan aku karena telah berpura-pura mencintaimu selama ini, Byun Baekhyun. Aku memiliki sebuah alasan. Ku harap kau mengerti, karena pada akhirnya kita tidak akan pernah bisa bersama" - Chanyeol. (CHANBAEK) Slight Official Pairing! RnR!

Backsong:

Jin - Gone

~~ HAPPY READING ~~

.

.

.

Baekhyun membuka matanya perlahan, menyesuaikan dengan cahaya matahari yang tiba-tiba masuk kedalam kamar yang ia tempati. Baekhyun mengerjapkan matanya untuk melihat siapa yang kini berdiri disamping ranjangnya.

"Selamat pagi Putri tidur"

Baekhyun tersenyum mendapati Jongin yang sedang tersenyum cerah padanya.

"Selamat pagi juga Kkamjong, kenapa kau membangunkanku? Aku bisa bangun sendiri nanti." Baekhyun mendudukan tubuhnya seraya mengucek matanya perlahan.

"Jika kau tidak aku bangunkan, kau akan bangun jam berapa? Setelah makan siang selesai?"

Mata Baekhyun membulat menatap jam dinding yang menunjukan angka sepuluh kurang lima menit. Baekhyun sebenarnya baru tidur pukul tiga pagi, ini salah Chanyeol yang membuat Baekhyun menangis dan baru bisa diam saat menjelang pagi.

"Aku kesiangan sepertinya, aku sedikit tidak enak badan jadi aku kesiangan seperti ini." Baekhyun tersenyum sembari menyingkap bedcover yang menjadi selimut untuknya semalam, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi lalu meninggalkan Jongin yang menatap punggung Baekhyun yang menghilang dibalik pintu kamar mandi itu.

"Aku bahkan tahu kau habis menangis semalam.."

Jongin bukanlah orang yang mudah dibohongi, ia memang belum lama mengenal dengan Baekhyun tapi ia dapat dengan mudah menghapal sifat pria bersurai brunette itu.

"Apa Baekhyun sudah bangun?" Lay kini datang dari arah pintu kamar Baekhyun, membawa nampan berisi susu juga roti isi ditangannya.

"Sudah, dia sedang mandi sekarang." Jongin tersenyum lalu meraih bedcover Baekhyun yang tergeletak dilantai, merapikan ranjang Baekhyun yang sedikit berantakan.

"Bisa kita bicara sebentar? Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu." Lay menaruh nampan yang ia bawa pada meja kecil disamping ranjang.

"Emm, baiklah kita bicara tapi diluar saja."

Lay mengangguk sebagai jawaban, ia dan Jongin berjalan beriringan menuju ruang keluarga yang terletak di lantai dasar. Jongin sebenarnya penasaran dengan apa yang ingin Lay tanyakan padanya, mengingat tidak ada hal yang perlu diperjelas disini karena Lay juga sudah tahu bahwa ia kemari karena permintaan Baekhyun sendiri.

"Baiklah, katakan apa yang ingin kau tanyakan." Jongin dan Lay duduk di sofa besar dengan warna merah maroon, Lay masih diam menanggapi pembicaraan penting yang akan segera ia mulai ini.

"Apa hubunganmu dengan Baekhyun?" Jongin menaikan satu alisnya keatas, bukankah dirinya sudah bercerita bahwa ia dan Baekhyun itu sahabat?

"Aku kemarin sudah mengatakan ini dan sekarang kau minta pengulangan? Ayolah, ini sudah bukan hal yang penting lagi Lay." Jongin mendengus pelan.

"Hey, ini penting kau tahu! Ini menyangkut keadaan Baekhyun."

"Aku sahabat Baekhyun belum lama ini, kita bertetangga dekat, hanya itu." Lay mengacak kasar rambutnya. Bukan jawaban ini yang ia harapkan dari Jongin.

"Kenapa kau berteman dengan Baekhyun?"

"Apa perlu kujelaskan? Baiklah, Baekhyun itu baik dan aku menyukainya sebagai teman yang pengertian. Saat aku tersesat mencari alamat rumah baruku, dia yang menolongku dan dia juga yang memintaku menjadi sahabatnya." Jongin mulai tidak paham kemana arah pembicaraan antara dirinya dan Lay menuju, Jongin bingung kenapa Lay bertanya macam-macam kepadanya.

"Jika Baekhyun baik, jangan mencoba menghancurkannya Jongin! Aku tidak tahu ternyata kau adalah orang jahat sekarang, jika kau mencintai Kyungsoo jangan berbuat hal yang merugikan orang lain seperti ini lagi." Jongin diam, mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut sahabatnya ini.

"Kau tahu?"

"Ya. Sehun bilang kau ingin mengancurkan Baekhyun karena dia adalah kekasih Chanyeol, sahabat yang telah merebut Kyungsoo dari pelukanmu. Aku tidak habis pikir kenapa kau tega menyakiti orang yang bahkan tidak tahu apapun disini."

Lay mendesis pelan melihat Jongin yang menundukan kepalanya dalam diam, bukan seperti ini keadaan yang Jongin inginkan, tujuan buruknya itu sudah ia hapus sebersih-bersihnya dari pikirannya.

"Memang itu niat awalku menemui Baekhyun, tapi sekarang sudah tidak lagi Lay, aku sudah tidak berfikir untuk melanjutkan pikiran burukku itu lagi." Jongin mendongakkan matanya, seolah meminta lawan bicaranya untuk mempercayai apa yang keluar dari bibirnya adalah sebuah fakta, bukan hanya kebohongan semata.

"Hahh~ aku tidak tahu harus percaya padamu atau tidak, karena sekali kau berbuat jahat maka akan sulit untuk mendapatkan sebuah kepercayaan lagi."

"Kumohon, untuk kali ini percayalah padaku Lay. Aku benar-benar tidak berniat menyakitinya."

"Menyakiti siapa?"

Chanyeol yang baru datang dari arah kamarnya bertanya tentang pembicaraan yang dilakukan dua orang yang kini sedang duduk di sofa itu. Matanya menangkap ada yang tidak beres dalam pembicaraan mereka.

"Bukan, kita hanya sedang bercerita tentang kucingku yang tadi sempat terluka karena ulah Jongin. Dan Jongin bilang bahwa ia tidak berniat melakukannya." Jawab Lay asal.

Namun Chanyeol bukanlah orang yang mudah dibohongi, karena tadi ia melihat kucing peliharaan Lay masih tertidur pulas dalam rumah-rumahannya.

"Benar, aku tadi tidak sengaja menginjak kaki kucing putih itu dan Lay kira aku sengaja, padahal tidak."

Chanyeol sebenarnya curiga namun ia memilih mengendikan bahunya dan berjalan kearah dapur untuk mengambil air putih. Gerakan tangannya berhenti saat mendengar langkah kaki menuruni tangga, siapa lagi jika bukan Baekhyun yang baru selesai mandi dengan rambutnya yang masih basah sehabis keramas.

"Selamat Pagi!" Baekhyun tersenyum cerah sembari menyapa orang-orang yang ada disekitarnya, berbeda sekali dengan hatinya yang sebenarnya mendung.

"Selamat pagi juga Baek, kau baru habis keramas? Kenapa tidak dikeringkan dulu." Tanya Lay yang kini sibuk meminum susu putih yang ia bawa dari arah meja makan.

"Ya, begitulah hyung. Aku biasa mengeringkan dengan handuk biasa jadi rambutku masih sedikit basah."

Baekhyun menaruh nampan berisi gelas susu beserta piring yang semuanya telah kosong pada bak pencucian piring, melewati tubuh tinggi Chanyeol yang masih berdiri didepan kulkas sembari meminum air putih dalam botol.

"Hai! kau tampak cerah, apa ada berita bagus hari ini?"

Chanyeol merutuki kebodohannya yang dengan tiba-tiba menyapa Baekhyun, apalagi dengan basa-basi yang sungguh itu tidak bermutu.

"Benarkah? Mungkin karena semalam aku mimpi indah, jadi aku tampak baik hari ini."

Bohong.

Chanyeol bahkan dapat melihat mata Baekhyun yang nampak berkantung; sebagai tanda bahwa Baekhyun kurang tidur.

"Bagus jika begitu, ahh Hyung dimana Baby Kyung? Dia belum bangun?" Chanyeol bertanya pada Lay yang kini menatap tajam padanya, Chanyeol hanya memasang wajah Poker Facenya tanpa mempedulikan Jongin dan Baekhyun yang tiba-tiba merubah air mukanya dengan cepat.

"Kyungsoo sudah berangkat kuliah tadi pagi." Lay berujar datar, dulu ia memang mendukung hubungan Chanyeol dan Kyungsoo tapi jika mengetahui semua akan seperti ini, ia memilih untuk tidak membela siapapun disini.

"Benarkah? Kenapa tidak membangunkanku jika begitu? Aku takut Kyungsoo kenapa-kenapa." Ujar Chanyeol dengan wajah menyesalnya.

Baik Baekhyun maupun Jongin memilih untuk diam, mereka memilih memendam perih yang secara tiba-tiba menjalar di hati mereka, bukan tanpa sebab karena mereka masih mencintai pasangan masing-masing. Jongin sampai sekarang belum menyatakan bahwa hubungannya dengan Kyungsoo sudah berakhir, apalagi Baekhyun dengan Chanyeol yang kini entah masih mempunyai sebuah hubungan atau tidak.

"Memang kau tidak kuliah Chan?" Tanya Jongin; mengalihkan fokus perhatian mereka, yang jika tidak segera dialihkan hanya akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa dihatinya dan Baekhyun.

"Aku cuti untuk seminggu ini." Chanyeol berujar jujur, ia memang mengambil cuti selama seminggu karena ia yang sempat pingsan beberapa waktu lalu sebelum Baekhyun datang.

"Apa? Kemarin Baekhyun bilang kau kurang dari sebulan disini, tapi kenapa cepat sekali mengambil cuti." Chanyeol diam, matanya melirik kearah Lay yang sama bungkamnya dengan dirinya.

"Ah, Jongin bisa kita pergi keluar sebentar? Aku harus pergi ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan." Jongin mengeryitkan kepalanya mendengar ajakan Lay yang tiba-tiba mengajaknya pergi keluar.

"Bukannya disini banyak maid? Kenapa perlu repot-repot mencari keperluan ke supermarket sendiri?" Sela Jongin, ia melihat dirumah ini bukan hanya ada satu atau dua maid yang bisa dimintai tolong untuk membelikan beberapa keperluan yang tuannya butuhkan, tapi kenapa Lay harus pergi sendiri? Ujar Jongin bermonolog dalam hati.

"Kau pikir mereka bekerja sebagai apa? Mereka hanya membersihkan rumah ini juga memasak makanan, tidak lain." Kini giliran Chanyeol yang menyela pertanyaan Jongin.

"Hyung, jika Jongin tidak mau lebih baik aku saja. Lagi pula aku juga ingin pergi jalan-jalan sebentar disini." Baekhyun yang sedari tadi diam kini ikut ambil suara, kemungkinan ia akan pergi keluar untuk melihat indahnya Kota New York tidaklah banyak karena setelah semuanya selesai, ia akan segera kembali ke Seoul.

"Wah, itu ide bagus Baek, tapi lebih bagus lagi kau pergi dengan Chanyeol. Lagi pula si tiang itu tidak ada kerjaan jadi kau ajak saja dia."

Deg

Chanyeol mengalihkan pendangannya kearah Baekhyun yang kini sedang menatap gugup matanya. Itu sungguh ide paling buruk yang akan membuat Chanyeol tersiksa, ia nanti pasti akan kembali merasa de javu mengingat masa-masa indahnya dengan Baekhyun dulu.

"Kenapa aku? Aku belum lama disini, bagaimana jika kami nanti tersesat dan tidak bisa pulang kerumah lagi?" Chanyeol mencoba menolak untuk pergi bersama Baekhyun, ia benar-benar akan mati kutu jika sampai pergi dengan pria kecil yang masih sangat ia cintai ini.

"Aku tahu kau bukan orang yang idiot untuk sekedar bertanya jalan atau menghidupkan GPS yang ada di ponsel pintarmu itu Park Chanyeol, jadi tidak perlu mencari-cari alasan." Lay berkacak pinggang disamping Chanyeol lalu menarik paksa tubuh besar Chanyeol dan menyerahkan kunci mobilnya pada sepupunya itu.

"Tidak perlu Hyung, jika Chanyeol tidak mau aku bisa pergi dengan Jongin untuk-"

"Ayo kita pergi sekarang."

Mendengar Baekhyun yang mengucapkan nama Jongin, Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun. Sejujurnya ia kurang suka, bahkan tidak suka jika Baekhyun berada disamping dengan Jongin terus-menerus karena bagaimanapun juga ia masih berstatus sebagai kekasih Baekhyun. Cihh padahal ia justru melakukan hal yang lebih dengan Kyungsoo didepan Baekhyun walaupun hanya sebuah kepura-puraan belaka tetap saja itu membuat Chanyeol terlihat egois dimata semua orang.

Chanyeol membukakan pintu yang berada disamping kanan untuk Baekhyun, lalu ia mendudukan diri di samping kiri pria mungil itu.

Chanyeol mulai menyalakan mobil berwarna silver itu dan menjalankannya keluar dari pekarangan mansionnya menuju pusat perbelanjaan terdekat. Selama di perjalanan, baik Chanyeol maupun Baekhyun memilih diam. Mereka tidak tahu harus berbicara mengenai hal apa, dan sungguh ini sangat canggung bahkan Baekhyun yang biasanya cerewet mengenai banyak hal yang tidak penting kini mati kutu saat bersama Chanyeol dalam satu mobil yang sama.

Jika saat ini mereka masih berhubungan dengan baik, sudah dipastikan saat ini mereka sudah saling melempar omongan-omongan konyol yang tidak jelas, atau menyetel musik semi rock favorit Chanyeol lalu menyanyikannya secara bersama ditemani sebuah tawa bahagia. Tapi itu tidak berlaku untuk sekarang, mereka seperti dua kutub yang dipertemukan bersamaan.

"Chanyeol, tadi Lay Hyung meminta kita pergi membeli apa?" akhirnya Baekhyun mencoba membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang sedari tadi bersarang di otaknya.

"Sial! Aku lupa menanyakannya tadi." Chanyeol memukul stir kemudinya lalu mengumpat tidak jelas, Baekhyun memilih diam saja karena juga bingung apa yang harus ia lakukan.

"Aku akan menghubungi Lay untuk menanyakannya." Chanyeol mengambil ponselnya yang ia taruh di saku celananya, tangannya mencoba mencari kontak Lay yang ada diponselnya, namu tiba-tiba Baekhyun menahan tangannya.

"Jangan menelepon sambil mengemudi, itu berbahaya bagi dirimu sendiri dan orang lain." Baekhyun mengambil ponsel Chanyeol secara paksa, lalu mendial kontak Lay yang tertera di layar ponsel itu.

"Yeoboseyo. Ini aku Baekhyun, tadi kau minta dibelikan apa Hyung?"

"..."

"Baiklah, aku akan sampaikan pada Chanyeol. Sudah aku tutup dulu Hyung, Annyeong." Baekhyun menutup panggilannya pada Lay lalu menaruh ponsel Chanyeol pada Dasboard mobil secara pelan.

"Apa yang ia katakan?" Tanya Chanyeol yang masih berfokus pada kemudinya.

"Bahan makanan, juga kimchi dan jajjangmyun. Dia bilang kita harus mendapatkan makanan itu, jika tidak dia akan marah."

Chanyeol bisa saja menjatuhkan rahangnya jika ia tidak memiliki tulang rahang. Yang benar saja Lay menyuruhnya dan juga Baekhyun mencari Kimchi dan Jajjangmyung disekitar sini, makanan Korea sangat jarang disini dan untuk mencarinya memakan waktu yang lama karena harus berkeliling ke beberapa tempat yang menjual makanan khas Korea.

"Pasti Lay sengaja, dia ini selalu membuat ulah saja." Baekhyun merasa Chanyeol sepertinya tidak suka jika pergi dengan dirinya, tapi hati Baekhyun menolak untuk mengatakan bahwa Chanyeol tidak ingin berdekatan dengan dirinya lagi. Walaupun sudah sangat jelas bahwa Chanyeol mencoba menghindarinya.

"Kita sampai, ayo masuk." Chanyeol melepas sitbeltnya sesaat setelah memarkirkan mobilnya, ia hanya berhenti pada toko yang sekiranya mempunyai barang-barang yang ia butuhkan.

Chanyeol mengambil sebuat trolly lalu mendorongnya pelan diikuti Baekhyun di belakangnya.

Brakk!

"Ahh.. maaf."

Baekhyun tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang berjalan membawa beberapa bungkus snack yang kini berceceran di lantai.

"Tidak apa, tunggu! Kau bicara bahasa Korea? Kau orang Korea juga?"

Baekhyun hanya mengangguk sembari membantu pria yang menurutnya sedikit lebih tinggi dari Chanyeol ini membereskan belanjaan yang ia bawa.

"Aku juga orang Korea, ahh maksudku aku menghabiskan sebagian besar hidupku disana. Ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya pria itu lalu mengulurkan tangannya pada Baekhyun yang sedang tersenyum manis.

"Baekhyun, namaku Byun Baekhyun. Lalu kau?" Baekhyun menjawab lalu menjabat tangan pria dihadapannya itu dengan pelan.

"Aku Kris, namamu manis sekali seperti dirimu. Jadi bisakah kita sering-sering bertemu? Kupikir kau adalah orang yang menyenangkan, bagaimana?" Tawar Kris. Matanya menatap Baekhyun yang tengah mengangguk sebagai jawaban, sungguh manis dan ia menyukainya.

"Aku.."

"Baek! Bisakah kau lebih cepat? Kita masih harus mencari makanan yang dipesan Lay."

Chanyeol tiba-tiba datang menghampiri Baekhyun, sebenarnya ia sedari tadi sengaja meninggalkan Baekhyun beberapa langkah tapi saat ia menoleh kebelakang dan tidak menemukan pria itu, ia khawatir dan kembali untuk menemui Baekhyun yang mungkin saja sedang memilih beberapa makanan, tapi matanya menangkap hal lain. Ia melihat Baekhyun bersama orang asing dan lagi, Chanyeol tidak menyukainya apalagi ia lihat Baekhyun tersenyum pada pria asing itu. Karena tidak tahan, ia akhirnya secepatnya menemui Baekhyun lalu menarik tangannya.

"Kita akan secepatnya bertemu lagi, Baekhyun manis!" Kris berteriak melihat Baekhyun yang tengah ditarik paksa oleh seseorang yang ia pikir adalah teman dari Baekhyun. Sedangkan Chanyeol yang mendengar ucapan Kris tadi semakin mengeratkan cengkeramannya pada tangan Baekhyun, membuatnya meringis karena Chanyeol membuat tangannya sedikit memerah.

"Kuperingatkan padamu Baekhyun, jangan asal berbicara dengan orang asing. Ini New York, banyak orang jahat disini. Aku tidak ingin kau menjadi korban kejahatan mereka."

Chanyeol menghempaskan tangan Baekhyun pelan, ia lalu meraih trollinya kembali dan mulai berjalan. Hati Baekhyun sedikit menghangat mengetahui Chanyeol masih sangat mengkhawatirkannya, ia senang karena tidak sepenuhnya Chanyeol bersikap buruk padanya.

"Hei! Kenapa kau jalan seperti siput? Cepat sedikit Byun Baekhyun, astaga." Chanyeol kembali menarik tangan Baekhyun, tapi kini lebih lembut membuat pipi Baekhyun merona. Sudah lama ia tidak melakukan skinship dengan Chanyeol, terakhir kali ia melakukannya sehari sebelum Chanyeol berangkat kemari.

"Apa yang membuat kau meninggalkanku?"

Baekhyun bertanya pelan pada Chanyeol. Tapi Chanyeol tetap memilih diam, tidak bergeming sama sekali. Ia masih berpura-pura tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Baekhyun dan memikih untuk sibuk memilih beberapa sayuran di salah satu stand buah dan sayur.

"Chan.." panggil Baekhyun lagi, tapi Chanyeol masih diam dan tidak merespon apapun.

"Aku tahu aku memang tidak cocok berada didekatmu, tapi aku ing-"

"Bisakah kau diam dan ikut membantuku? Kita akan semakin memperlama waktu untuk berbelanja, dan kita masih harus mencari makanan pesanan Lay. Jika kau ingin ini segera cepat selesai, tolong bantu aku."

Kini giliran Baekhyun yang diam, ia sedikit takut melihat Chanyeol yang begitu dingin seperti sekarang, ia takut jika Chanyeol akan selamanya seperti ini dan melupakannya. Akhirnya Baekhyun memilih membantu Chanyeol untuk mencari keperluan yang mereka butuhkan tanpa suara, karena Baekhyun tahu jika ia semakin banyak bicara maka ia sama saja membuat Chanyeol semakin membenci dirinya.

Tangan Chanyeol terulur untuk mengambil Mentimun, tapi ia urung lakukan karena melihat Baekhyum yang memperhatikan deretan buah Strawberry yang dipajang diantara rak buah berry lainnya. Chanyeol tahu Baekhyun itu menyukai Strawberry dan sangat membenci Mentimun, tapi ia putuskan untuk tetap mengambil mentimun tadi tanpa menatap Baekhyun yang masih melihat buah favoritnya itu.

"Jika kau mau ambil saja, aku akan pergi mencari barang-barang lain." Ujar Chanyeol datar, walaupun begitu ucapan Chanyeol tadi mampu membuat Baekhyun terlonjak senang dan dengan segera mengambil beberapa Strawberry dalam wadah bening lalu membawa dalam pelukannya.

"Aku tahu kau masih peduli padaku, begitupun aku."

Baekhyun tersenyum dan berlari kecil menuju tempat Chanyeol berdiri sembari memilih beberapa bungkus kue kering. Baekhyun menaruh Strawberrynya pada troli belanja, lalu mendorongnya kearah rak yang berisikan deretan jenis jelly yang berbeda.

"Chan, kau ingat dulu kita pernah disuruh ibuku membeli jelly di minimarket tapi saat membeli kita justru saling berdebat soal rasanya?" Baekhyun mencoba membawa Chanyeol kedalam pembicaraan tentang masa lalu mereka. Baekhyun pikir ini adalah salah satu cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Chanyeol.

"Tidak." Jawab Chanyeol singkat.

Mendengarnya, Baekhyun hanya tersenyum miris. Bagaimana mungkin Chanyeol melupakan saat dimana mereka bertingkah seperti anjing dan kucing berebut makanan ketika mereka hanya disuruh membeli beberapa bungkus jelly? Baekhyun tahu Chanyeol sedang bohong, Baekhyun bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi oleh orang dewasa, ia adalah seorang remaja yang beranjak dewasa dan paham mana yang berbohong dan tidak, terlebih itu dilakukan oleh orang yang paling ia cintai.

"Ohh, bagaimana dengan saat dimana kita lupa tidak membawa uang saat pergi makan ramyun di toko samping sekolah? Kau ingat?"

Baekhyun masih berusaha mencoba membangun komunikasinya dengan Chanyeol lagi, walaupun ia tahu bahwa Chanyeol akan tetap menjawab dengan nada yang terdengar dingin. Tapi Baekhyun tidak tahu bahwa sedari tadi Chanyeol selalu berteriak frustasi dalam hati. Chanyeol sepenuhnya ingat dengan kejadian yang membuat Baekhyun tidak mau berbicara padanya selama tiga hari itu, dan ia juga ingat saat hujan turun dengan derasnya ia dan Baekhyun yang kala itu sedang berkencan berakhir dengan masuk kedalam toko yang menjual ramyun tapi saat mangkuk mereka sudah kosong, mereka baru ingat tidak membawa uang. Baekhyun saat itu menyalahkan Chanyeol yang mengajaknya kencan tapi tidak membawa dompet, tapi Chanyeol mengelak dengan mengatakan bahwa dompetnya berada di mobil dan Baekhyun tidak ingin kencan dengan menggunakan mobil lalu menyuruh Chanyeol untuk berjalan kaki menuju taman tempat biasanya mereka berkencan. Walau bukan kenangan yang baik, tapi dengan kenangan itu menambah daftar manis perjuangan cinta mereka dalam memahami sifat masing-masing pasangan juga mengerti akan ke-ego-an yang berada didalam diri mereka.

"Kita harus cepat beranjak agar Lay tidak marah-marah karena kita belum juga pulang."

Chanyeol mengabaikan Baekhyun yang kini memandang punggungnya yang menjauh dari padangan Baekhyun.

Terlalu sulit untuk melupakan Baekhyun dengan kenangan manis yang terjadi diantara mereka, Chanyeol sudah tahu itu dari awal. Maka dari itu ia sejak awal mengatakan bahwa perasaan yang ada dalam dirinya itu hanyalah sebuah rasa terima kasih dan tidak lebih, tapi sayangnya ia tetaplah seorang manusia yang tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia mencintai Baekhyun secara tulus dari hatinya, bukan hanya rasa terimakasih semata.

Chanyeol membawa beberapa kantong berisi belanjaannya menuju mobil setelah menghabiskan beberapa menit dimeja kasir. Dibelakangnya nampak Baekhyun yang juga membawa kantong namun dengan ukuran yang lebih kecil, ia lalu menaruh kantong tersebut pada Bagasi mobil.

"Baek, kau bisa duduk dibagian jok belakang?" Pinta Chanyeol. Baekhyun butuh beberapa kedipan mata untuk mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Chanyeol.

"Memang kenapa?"

"Tidak, hanya saja aku takut orang beranggapan yang tidak-tidak tentang kita. Apalagi Kyungsoo."

Baekhyun diam. Memang orang lain akan beranggapan apa jika sepasang kekasih duduk bersandingan? Lagipula ia juga tidak peduli dengan tanggapan Kyungsoo yang tahu dirinya pergi hanya berdua dengan Chanyeol, karena sampai saat ini Baekhyun masih berstatus kekasih Chanyeol.

"Baiklah, cepat kemudikan mobilmu lalu kita membeli pesanan Lay Hyung." Baekhyun berjalan mendahului Chanyeol menuju pintu kedua pada Jok belakang mobil itu, menutupnya dengan sedikit keras, membuat gerakan kasar pada mobil itu terlihat.

"Jika kau keberatan duduklah disampingku." Ujar Chanyeol yang sedang memasang sitbelt kemudinya.

"Tidak perlu, kupikir tidak duduk disampingmu bukanlah hal yang buruk." Chanyeol hanya diam sembari menyalakan mesin mobilnya, menarik tuas pada samping mobil dan menginjak gasnya perlahan. Dia sedikit sedih mendengar ucapan Baekhyun barusan.

"Bisa kau bantu aku?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun.

"Apa?"

"Tolong carikan tempat yang menjual makanan yang dipesan lay lewat internet, bisa?"

"Eumm."

Baekhyun hanya berujar datar, sungguh dia kesal pada Chanyeol yang seakan tidak merasa bersalah padanya. Baekhyun kesal karena Chanyeol selalu mementingkan Kyungsoo, padahal dirinya masih berstatus kekasih Chanyeol juga.

"Ada di Street , Km 4 disamping toko roti Muggle. Nama Tokonya Daemugu Food." Baekhyun menunjukan layar ponselnya pada Chanyeol yang masih mengemudikan mobilnya, Chanyeol melirik sebentar lalu mengangguk beberapa kali.

"Kita butuh sekitar tiga puluh menit untuk sampai ditempat itu, setelah melewati perkebunan tebu, kita baru akan sampai di pusat kota."

Baekhyun kembali membaca keterangan yang tertera di ponselnya, lalu menaruh ponsel yang tingkat dayanya hanya 4% itu disaku celananya. Mansion Chanyeol memang tidak terletak di pusat kota, bahkan bisa disebut berada dipinggir kota. Selain itu jalan yang mereka tempuh untuk sampai di pusat kota juga cukup jauh, mereka harus melewati beberapa perkebunan besar yang ada dikota mewah ini.

Baekhyun awalnya tidak tahu bahwa di New York ternyata ada banyak perkebunan seperti halnya di Negara bagian Amerika lainnya, dan ternyata perkebunan disini sangatlah luas karena hanya diolah oleh satu perusahaan besar yang biasanya berpusat di distrik kota.

.

.

.


-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-


.

.

.

Jongin masih setia menonton acara American Idol di Tv, kakinya ia luruskan pada karpet bulu didepan TV 25 inch itu. Sedangkan Lay sedang mengetik sesuatu yang entah Jongin tidak tahu apa itu.

"Lay, sebenarnya apa yang kau kerjakan? Bukannya kau punya bisnis Fashion disini?" Jongin mengalihkan pandangannya pada Lay yang masih sibuk mengetik dan sesekali melirik buku tebal tentang Bisnis di samping laptopnya.

"Aku membantu Chanyeol mengurusi mata kuliahnya, dia sama sekali tidak berbakat dalam hal bisnis dan ayahnya tetap memaksakan anak itu untuk kuliah dengan jurusan ini."

Lay masih tidak menolehkan wajahnya pada Jongin, membuat sebuah Line Kurva tentang pasar saham adalah pekerjaan yang tidak mudah dan ditambah lagi dengan bagaimana membentuk bagan tentang cara memasuki pasar Oligopoli ditengah persaingan yang kuat.

"Harusnya dia masuk Universitas di Austria agar bakat musiknya benar-benar menjadi lebih baik." Jongin kini ikut duduk disamping Lay; mengabaikan acara televisi yang semakin lama membuatnya bosan.

"Apa Kyungsoo pulang kemari nanti?" Lay menatap Jongin sesaat setelah mendengar ucapan pria tan disampingnya.

"Tidak, Kyungsoo tidak pulang kemari."

"Kenapa?" Tanya Jongin. Lay mengeryit aneh, ia pikir Jongin tahu bahwa Kyungsoo dan Chanyeol itu tidak saling mencintai dan bahkan hubungan mereka hanya sebuah kebohongan, jadi untuk apa pula Kyungsoo tinggal disini.

"Karena ini bukan rumahnya."

"Tapi inikan rumah kekasihnya, daripada harus tinggal sendiri di Apartement lebih baik tinggal disini bersama orang yang dicintainya."

"Apa sebuah hubungan didasari oleh kebohongan itu termasuk?" Jongin diam. Mencoba mencerna perkataan Lay barusan.

"Maksudmu? Bukannya Chanyeol dan Kyungsoo sudah kembali menjadi sepasang kekasih?" Lay mendengus pelan.

"Mereka hanya berpura-pura didepan Baekhyun, agar anak itu cepat memutuskan Chanyeol."

Jongin menjatuhkan rahangnya seketika. Dalam hatinya ada rasa bahagia bercampur sedih. Dia bahagia karena Kyungsoo tidak bersama dengan Chanyeol lagi, tapi ia sedih mendengar bahwa kenyataan Chanyeol tidak lagi mencintai Baekhyun dan mencoba menyakiti pria mungil itu dengan cara yang pasti sangat menyakitkan.

"Kenapa kau tidak bilang sejak awal padaku?"

"Tidak penting." Lay kembali fokus pada layar Laptopnya, meneliti setiap angka kenaikan yang terjadi pada Kurva Line-nya.

"Itu penting, bahkan sangat penting. Jika kau mengatakan hal ini dari kemarin, Baekhyun pasti akan mengerti dan tidak berharap pada Chanyeol lagi." Jongin menarik paksa kerah belakang Lay agar pria itu mau menoleh padanya.

"Yak! Apa-apaan kau ini, aku sibuk Jongin, bicaranya nanti saja." Lay dengan pandangan gusar meraih Laptopnya dan menuju kamar untuk menyelesaikan pekerjaan ini secepatnya. Namun dilangkah ketiga ia benar-benar terhenti karena ucapan Jongin.

"Baiklah, kita bicara nanti saat Baekhyun ada disini. Lalu ia akan sangat membenci Chanyeol termasuk juga dirimu."

Lay adalah seorang yang tidak suka dibenci oleh orang lain. Dia adalah seorang yang ingin berteman baik dengan siapa saja, lagipula saat ini ia sangat mendukung hubungan Baekhyun dengan Chanyeol. Mengingat Chanyeol yang sangat frustasi ketika mendapat masalah dengan Baekhyun, jadi ia pikir lebih baik ia menceritakan semua pada Jongin sebelum Baekhyun dan Chanyeol pulang. Juga lebih baik lagi jika ia merencanakan perbaikan hubungan Chanyeol dengan Baekhyun bersama Jongin.

"Well, kupikir kita memang butuh bicara sekarang." Jongin tersenyum menang mendengar jawaban Lay yang kini kembali duduk ke tempat semula.

"Oke kita mulai, jadi bagaimana cerita sebenarnya?" Jongin mulai bersemangat, mendengar bahwa Kyungsoo tidak memiliki hubungan dengan Chanyeol seolah membuat dirinya seperti disuntik oleh energi menyenangkan yang membuncah dalam dirinya.

"Baiklah, jadi begini.." Lay menarik nafasnya sebelum memulai pembicaraan serius antara dua pria dewasa.

"Chanyeol sebenarnya masih mencintai Baekhyun.."

"Bohong! Mana mungkin jika Chanyeol mencintai Baekhyun tapi dia justru menyakiti Baekhyun dan berusaha untuk menjauhinya? Itu tidak rasional sama sekali." Jongin menyela ucapan Lay, membuat pria berlesung didepannya ini mendengus kasar.

"Aku belum selesai bicara bodoh! Jangan menyela perkataanku kau cukup dengarkan dengan seksama." Jongin kini tersenyum lima jari pada Lay.

"Chanyeol itu masih mencintai Baekhyun, hanya saja ada hal yang membuat dirinya tidak bisa bersama dengan Baekhyun untuk saat ini dan mungkin selamanya."

"Kenapa?"

"Chanyeol.. sakit, dia mempunyai masalah pada hatinya, Dokter bilang kemungkinan untuk sembuh sangat sedikit. Jikapun bisa sembuh harus melakukan cangkok hati."

Jongin terkesiap mendengarnya, hatinya sedikit nyeri mengetahui Chanyeol yang tampak baik-baik saja ternyata menyembunyikan sesuatu hal yang sangat besar, Jongin kembali merasa bersalah padanya.

"Apa itu Hepatoma?"

"Ya, maka dari itu Chanyeol berusaha untuk menjauhi Baekhyun. Alasannya ia hanya ingin Baekhyun hidup bahagia tanpa dirinya, ia takut jika pergi dengan meninggalkan banyak cinta maka ia akan sangat terbebani. Chanyeol takut jika pada akhirnya Baekhyun akan frustasi akan kepergiaannya." Lay menunduk dalam, berkata bahwa Chanyeol akan pergi dengan cepat bukanlah hal yang mudah. Sejujurnya itu adalah kata yang sangat menyakitkan dirinya sendiri.

"Maafkan aku.."

Jongin ikut menunduk seperti yang Lay lakukan. Bagaimanapun juga ia belum siap jika harus berpisah selama lamanya dengan Chanyeol disaat hubungannya mulai membaik dengan pria tinggi itu.

"Tidak apa, Tuhan memberikan pelajaraan yang berharga pada kita saat ini untuk saling melindungi satu sama lain dalam segala suasana, semua akan indah jika waktunya sudah tepat."

Lay menepuk pundak Jongin pelan. Ia menyeka air matanya perlahan, dia tidak ingin menangis kencang saat ini. Bagaimanapun juga ia harus menjadi seorang yang kuat, sekaligus untuk menguatkan orang lain.

"Kau benar, semoga ini akan menjadi hal yang dapat kita pahami sebagai pedoman kehidupan dimasa depan." Jongin tersenyum tipis.

"Tapi ngomong-ngomong kemana Baekhyun dan Chanyeol? Mereka harusnya sudah pulang." Jongin melirik jam dinding yang menunjukan angka tiga. Ini sudah sekitar lima jam Baekhyun dan Chanyeol pergi, sungguh mereka membuat Jongin khawatir.

"Bagaimana jika mereka tersesat? Chanyeol bahkan masih baru disini." Lay membulatkan matanya, mungkin benar kata Jongin barusan, Chanyeol belum Familiar dengan tempat ini. Tapi manamungkin Chanyeol sebodoh itu sampai tersesat dijalan tanpa bertanya atau mencari petunjuk arah disekitarnya.

"Aku akan coba menghubunginya."

Lay mendial ponsel Chanyeol, begitupun Jongin yang mendial nomor ponsel Baekhyun. Namun selang beberapa menit tetap tidak ada jawaban.

"Ponsel Chanyeol tidak dapat dihubungi." Gusar Lay.

"Benarkah? Ponsel Baekhyun tidak aktif saat ini. Sebenarnya apa yang mereka lakukan di luar sana?"

.

.

.

.

.

.

To Be Continued..

.

.

.

.

.

.

Kok nyesek sendiri ya ngeliat kepura-puraan mereka berdua? Sampe kapan mereka pura-pura terus kaya gini? Sampe Chanyeol mati dan akhirnya mereka berpisah?

Dan apa yang dilakukan oleh ChanBaek yang ga pulang-pulang(?)

Still waiting for the next chap?

Review juseyoo~

Yuta tunggu~

Saranghae bbuing~!