carnation

[/n/: a white carnation is]

a Naruto fanfiction, written by Rou

.

.

.

.

.


Uzumaki Naruto sama sekali tidak memprediksi ini sebelumnya.

Ia mengayuh sepeda sekuat tenaga. Terakhir kali melihat arloji, jarumnya baru menunjuk angka tiga. Masih sore untuk bersiap ke rumah sakit dengan jumlah pesanan yang harus ia antar seharian. Tetapi kali ini ia tahu nasibnya apes. Perhitungannya meleset.

Padahal ia sudah kadung membuat janji dengan Menma untuk mengantar pesanan anak itu setelah jam kerjanya selesai, tidak lebih dari jam delapan malam. Tetapi sialnya, bukan hanya waktu yang tidak mendukung, hujan tiba-tiba turun deras, dan Naruto tidak memiliki kesempatan berpikir untuk berteduh barang sedikit. Sekarang, serentetan alasan berkelebat dalam kepalanya: ban kempes, terserempet mobil, terkunci di toko dan—

"Oniisan?"

Begitu Naruto sadar, ia telah berada tepat di depan ruang rawat Menma. Dengan daun pintu yang menjeblak terbuka dan menampilkan bocah itu di kursi rodanya. Berhadap-hadapan dengan wajah Menma yang berbinar senang, satu demi satu alasannya menggelontor jatuh. Naruto mengepal tangan menahan gigil yang perlahan merayap ke permukaan kulit.

"Oniisan kehujanan. Tidak bawa payung, ya?"

Naruto mau menjawab 'tidak' tapi ia tahu anak itu sudah mendapat jawabannya sendiri. Yang bisa Naruto lakukan selanjutnya hanya ini; mendekat dengan senyum hangat, kemudian berlutut untuk mensejajarkan posisi, dan mengucap permintaan maaf yang mungkin ampuh. "Maaf ya, Menma, bunganya ikut kehujanan. Aku sudah berusaha menjaganya, tetapi sepertinya aku gagal."

Naruto bisa melihat kekecewaan di mata biru pria kecil itu, tetapi ia tidak bisa melakukan banyak setelah usaha menembus hujan dan datang terlambat. Mengayuh sepeda dalam keadaan hujan lebat bukan sesuatu yang bisa ia lakukan dengan gampang. Naruto merasa payah seketika.

"Lain kali, aku akan membawakan aster biru, dan aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa," imbuh Naruto dengan sungguh-sungguh.

Mata biru yang sama dengannya itu mengerjap senang, binar bahagia menggantikan redup yang sedetik lalu terbentang di iris biru langit Menma. Anak itu tersenyum cerah dan mengangguk.

"Oniisan janji?"

Naruto mengangguk. Ia mengulurkan jari kelingkingnya, saat Menma melakukan hal yang sama, Naruto tertawa. "Tentu saja."

"Baiklah, aku akan mengatakannya pada paman dokter!"

.

.

Paman dokter yang Menma maksud adalah sosok jangkung yang berdiri di balik pilar, bersembunyi tepat di belokan yang tadi Naruto lewati sambil berlari. Laki-laki itu bersandar di sana, menatap dari jauh dengan senyum tipis yang menghiasi bibir.

Satu jam yang lalu Uchiha Sasuke baru saja keluar dari ruang rawat Menma. Usai memeriksa keadaan anak itu, ia memutuskan kembali ke ruang kerja. Tetapi sebelum ia benar-benar mencapai pintu, tiba-tiba saja Menma bertanya perihal si pengantar bunga yang tak kunjung datang. Sasuke dibuat teringat dengan sebuket mawar yang tergeletak di meja kerjanya setelah obrolan singkat dengan si pengirim bunga itu seminggu lalu.

Sasuke jadi ikut bertanya-tanya kapan kira-kira pengantar bunga itu akan datang lagi.

"Sasuke-san, Anda sini rupanya."

Suara suster penjaga yang datang dari balik punggungnya mengejutkan Sasuke, membuatnya sedikit terperanjat. "Ada apa?" sebelum suster penjaga mengatakan kepentingannya, Sasuke lebih dulu tahu maksud perempuan itu mencarinya hingga ke bangsal anak. Sebuah bingkisan bening yang ia titipkan kepada suster itu ternyata sudah sampai. Sasuke mengucapkan terima kasih pelan untuk kemudian berbalik mengambil arah berlawanan.

Suster penjaga itu mengeryit heran. "Mau apa Sasuke-san hujan-hujanan begitu?"

.

.

Ketika Naruto sampai ke tempat ia menyimpan sepedanya, hujan sudah berhenti total, dan ia cukup bersyukur atas itu. Ia membangunkan kendaraan itu dengan buru-buru hingga hampir tidak menyadari sebuah bingkisan terselip di bagian depan sepedanya.

Naruto celingukan. "Siapa yang meletakkan sa—"

Kalimatnya terpenggal saat ia menyadari siapa pengirim hadiah kecil itu untuknya. Mau tidak mau senyumnya mengembang. Ia melempar pandang ke seberang pagar rumah sakit dan menemukan ruangan terujung bagian paviliun area bangsal anak, masih belum sepenuhnya menggelap.

Senyumnya merekah satu tingkat lebih lebar. Naruto kembali pulang dengan perasaan hangat yang menelusup ke dadanya.

.

.

"Yo! Menma!"

Si empunya nama mendecih kecil ketika mendengar suara khas yang dihapalnya tiba-tiba saja berbunyi dari balik pintu. Menma tidak menduga Naruto akan menepati janjinya sepagi begini, astaga. "Oniisan selalu berisik," gerutu Menma kepada dokter tunggal di ruangan itu.

Sasuke tersenyum tipis menanggapi. Tetapi jauh dalam dirinya merasa was-was karena tiba-tiba saja dadanya berdetak lebih keras dari biasanya, sampai-sampai ia khawatir Menma bisa mendengar.

Semakin suara langkah itu mendekat, Sasuke semakin panik. Sebisa mungkin ia mengendalikan diri agar canggung itu tidak kentara.

"Selamat pagi, Menma." Yang disapa padahal bukan dirinya, tetapi Sasuke bisa merasakan jantungnya berpacu hebat. Aroma citrus yang mengambang di udara berlomba memenuhi hidungnya. Tanpa ia sadari, rasa nyaman itu pelan-pelan mengalir.

"Selamat pagi juga, dokter Sasuke," sambung Naruto dengan senyum cerah. Ia mengulur jemari yang terbalut bahan lembut, lengkap dengan sebuket anyelir putih. "Aku senang kau bisa tahu aku suka warna-warna bintang, seperti matamu. Terima kasih ya, aku suka sekali sarung tangan ini. Membuatku tidak kedinginan."

Sasuke tertegun. Kemudian sepercik kilat ia temukan dalam bulat biru langit di mata Naruto. Dalam dadanya, rasa hangat menggelenyar.


(end)


White carnation (anyelir putih) melambangkan perasaan sayang yang mendalam, kesetiaan, dan cinta yang menggebu.