CHAPTER IX

"WHISPER"


Jack menapakan kakinya di seutas kabel listrik, hingga aura dingin dari telapak kaki Jack membekukannya. Dengan sikap waspada, ia mengancungkan tongkatnya ke depan, menajamkan pendengaran seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut yang dapat dijadikan tempat persembunyian. Seperti yang dikatakan North bahwa mereka selalu bergerak diam-diam yang artinya adalah bersembunyi. Jack merasakan hawa pekat dari desiran-desiran angin yang berhembus, tapi ia tidak bisa memastikan di mana posisi mereka.

Babytooth tampak terbang meringkuk di samping Jack, merasakan aura gelap di permukaan bulu-bulu halusnya, cemas dan khawatir jika terjadi hal yang menakutkan—suara kicauannya pelan dan bergetar.

Jack menyadari ketakutan peri itu. "Merapatlah padaku, Babytooth, aku tidak ingin kamu terluka jika nanti ada serangan tiba-tiba dari mereka yang bisa datang dari mana saja," kata Jack seraya melirik peri kecil itu di sampingnya, sementara ia tetap waspada dengan sekelilingnya.

Babytooth mengikuti saran Jack, merapatkan diri ke dalam tudung baju Jack yang membeku. Dengan tubuh gemetar kerena ketakutan, ia tetap memandang ke sekelilingnya untuk menemukan musuh yang bersembunyi di kegelapan di mana matahari tidak mampu menjangkaunya.

Secepat kilat sekelebat bayangan melesat di belakang Jack dan menyelinap ke dalam semak belukar di dekat tunggul pohon pinus. Reflek Jack membalikan ke arah di mana suara itu terakhir terdengar. Ia mendarat dengan pelan, memastikan langkahnya tetap mantap ketika mendekati semak belukar. Mungkin saja itu adalah suatu hal yang telah diduganya, seekor gagak yang ia cari. Menggenggam lebih erat tongkatnya, Jack sedikit tersentak ketika semak itu bergerak dengan bunyi kresekan, jantungnya berdegup kencang sampai ia sendiri dapat mendengar detaknya. Babytooth juga tampak tegang, tapi sorot matanya tetap fokus ke semak-semak.

Di kerimbunan semak belukar sekejap tampak kilatan dua sinar merah yang berjejer. Jack tersontak, hawa gelap itu menyelimuti Jack dan Babytooth. Segera saja Jack menembakan sihir bekunya yang terbentuk berupa kilatan putih. Tapi makhluk itu lebih sigap, ia terbang meninggalkan tempat persembunyiannya sebelum sihir Jack menggapainya. Ketika makhluk itu terbang, Jack sempat melihat debu-debu keperakan bertebaran dari kepakan sayapnya, tapi fokusnya tetap untuk membekukan makhluk itu. Ia kembali mengancungkan tongkatnya dan melapaskan sihirnya sekali lagi hingga makhluk itu membeku seketika.

"Yeah, aku mengenainya, Babytooth!" Jack tertawa girang dengan keberhasilannya .

Babytooth menanggapi dengan kicau gembira, ia melihat makhluk itu jatuh ke jalan. Dengan semangat menggebu, Jack mendekati makhluk yang tergeletak tidak bergerak itu. Ia dapat merasakan bahwa ia manjatuhkan makhluk yang ia cari, sebab makhluk itu mengeluarkan kegelapan pekat yang membuat perasaan gelisah dan tidak menyenangkan. Kedua kakinya dipenuhi dengan kuku-kuku hitam yang mengkilat dan tajam, warna abu-abu melingkar di leher sampai ke bagian bawah perutnya. Bagi Jack, gagak itu terlihat seperti makhluk biasa, hanya saja nalurinya berkata sebaliknya.

"Hah!" Jack berdengus remeh seraya menyodok tubuh si gagak dengan tongkatnya, "gagak berdada abu-abu, menyelinap di antara pepohonan dan semak belukar... sangat pengecut!" ia mencibir.

Jack menatap langsung bola mata merah si gagak yang berkilat—membelalak seakan menantang Jack dalam diam. Tiba-tiba semuanya menjadi hening, desiran angin tidak lagi terdengar, dan segala sesuatu di sekitarnya tidak bergerak. Ia terpaku manatap mata merah yang berkilat itu, sementara kedua tangannya melemas hingga tongkat kayu yang digenggamnya jatuh ke aspal, suaranya menimbulkan dentuman keras ke telinga Jack. Bola mata birunya tidak lagi tampak bersinar, matanya membulat, ia merasakan kepalanya tertunduk, lututnya lemas hingga ia jatuh berlutut. Kegelapanlah yang membuatnya merasakan tekanan luar biasa di sekujur tubuhnya, memancar dari kilatan sepasang mata merah gagak yang terbujur kaku di hadapannya, menatapnya dengan intensitas yang mengerikan.

Tiba-tiba dari pupil mata gagak itu, kilatan kuning kemerahan menerobos pandangan Jack, mengalahkan sinar mata birunya. Sinar merah bagai peluru itu membuat jendela matanya membesar; berhasil melepaskan bidikannya dan menyusup ke jiwanya. Lalu desiran kecil menyambar telinganya—berbisik pada Jack hingga membuatnya bergidik.

"Hai..., Jack Frost!" bisik desiran itu lembut namun terasa tajam di saat bersamaan.

Spontan Jack menutupi telinganya. Bisikan itu pelan, tapi mengandung sihir—Jack merasakannya—kedua daun telinganya seolah dicabik-cabik; dan gendang telinganya seakan meledak. Jack merintih kesakitan, menggetarkan kerongkongannya yang seketika terasa kering.

Dengan cemas, Babytooth berkicau di samping Jack. Ia tidak mendengar desiran itu hingga tidak mengetahui apa yang membuat Jack tampak kesakitan, panik dan bingung ia terbang mengitari Jack, tidak tahu harus melakukan apa. Babytooth memandangi sekelilingnya, dengan ngeri ia menyadari bahwa debu-debu perak itu telah menyelubungi mereka.

"Senang akhirnya aku bisa bicara denganmu, setelah sekian lama. Hanya saja kamu berubah... sedikit berlebihan dalam berharap dan meminta, kamu jadi serakah dan itu tidak baik... benar-benar tidak baik," desiran itu terdiam sesaat, kemudian ia berkata lagi dengan nada tinggi, "kau hanya memikirkan hal yang sia-sia Jackson Overland Frost!" desiran itu menggema di gendang telinga Jack, menghantam kepalanya seolah ia mendapatkan pukulan keras dengan benda tumpul tepat dari dalam.

Jack memicingkan mata menahan sakit, menutup telinganya serapat mungkin, berusaha keras untuk tidak mendengarkan bisikan dari desiran itu. Sia-sia adalah kata-kata yang menusuk hatinya, ingatan-ingatannya berpedar dengan cepat dalam gelap picingan matanya: dirinya yang dahulu manusia, lalu Jack Frost si pengacau, dan Jack Frost seorang guardian. Sekelebat ingatan melesat dan menderu di setiap tarikan nafasnya yang menyesakan. Kemudian ingatan yang berpedar dalam kegelapan mengabur perlahan-lahan, memusat kesatu titik dan dengan sekejap mata menyeret paksa pandangannya memasuki cahaya merah kekuningan yang menyilaukan. Tarikannya yang begitu kuat merongrong dengan kasar seolah mengejek kerapuhannya.

Jack memekik sekeras-kerasnya akibat tekanan rasa sakit, tubuhnya menegang di atas aspal. Matanya membelalak menghadap langit yang semakin memudar dari pandangannya. Rasa sakit yang ia ketahui adalah semu itu tidak mampu ia kendalikan, otaknya menerima bahwa itu adalah rasa sakit yang nyata—menyiksanya luar-dalam.

"Memalukan sekali... melahirkan harapan dalam keinginan untuk bisa dilihat oleh manusia, si gadis kecil Aurora," cibir desiran itu, sementara Jack terperangkap di alam bawah sadarnya dalam balutan kecepatan yang mengerikan di antara visual-visual ingatannya.

"Aurora!" guman Jack gemetar, tenggorokannya terasa perih menusuk-nusuk.

Di ujung penglihatan Jack, kegelapan menyeruak menyelimuti dirinya, menutupi cahaya merah kekuningan sebelumnya, kini ia diselimui oleh kegelapan total. Ia tidak tahu apakah dirinya kini terlentang ataukah terlungkup, di kiri atau di kanan; semuanya terlihat sama saja.

Babytooth menutup mulut dengan kedua tangannya, ia menatap Jack dengan penuh kesedihan, ketakutan, dan gemetar. Di dalam ketidakberdayaannya, ia mulai terisak-isak melihat Jack meregang dengan tatapan hampa menatap langit. Kedua tangan Jack terkulai di sisi tubuhnya.

"Kesepian dalam keramaian, Jack? Kau adalah Guardian of Fun yang kesepian? Menyedihkan jika seandainya itu benar, salahmu karena menginginkan seorang teman yang utuhseorang manusia. Dan kau terus menumbuhkan harapan itu. Sedikit peringatan dariku, Jack. Kau tidak tahu siapa yang ingin kau jadikan sebagai temanmu ini," kata bisikan itu pelan. "Apakah kau lupa dengan batasanmu?!"

Jack sangat tertekan dengan ucapan yang tajam itu, sangat menyayat hatinya. Batasan! Iya, dulu rasanya ia pernah hampir melewati batasannya. Apakah keinginannya adalah keegoisan? Keinginan untuk memiliki seseorang yang mempedulikan dirinya, menyambut keberadaannya, hanya satu itu, apakah ia terlalu banyak meminta?

Emi.

Sekelilingnya sunyi, desiran itu samar-samar mulai menghilang, meninggalkan Jack di dalam kegelapan. Tubuhnya melemas bagai tumbuhan layu, pijar matanya mati layaknya korek api, dan ia pun terperangkap.

Babytooth sangat mencemaskan Jack, ia bertengger di atas paha Jack dan memandanginya. Hatinya sangat pilu melihat keadaan Jack. Tidak ada tanda-tanda keceriaan dari garis wajah Jack, bibir bawahnya bergetar manahan tangis. Ia terbang mendekati wajah Jack seraya manahan air mata yang akan mengancam tumpah. Babytooth menangkup tangannya dan berharap semuanya akan baik-baik saja, ia hanya bisa berdoa.

Sepercik cahaya dengan lembut bermunculan di sekeliling Jack dan Babytooth—menghalau debu-bebu perak—seiring dengan suara kepakan sayap seekor burung yang datang mendekatinya, mendarat di dekat tubuh si burung gagak. Salah satu kakinya menyentuh paruh si gagak hingga menimbulkan retakan dan menjalar ke seluruh tubuhnya lalu melebur menjadi sepihan-serpihan—menghilang seiring angin dingin bertiup. Makhluk baru itu mendekati Jack, menengadah menatapnya dengan mata merah yang bersinar jernih. Dengan gerakan anggun ia membentangkan sayapnya, menghentakannya sekali dua kali, lalu dari sela-sela bulunya debu yang berkelap-kelip penuh warna bertebaran dan bergerak melingkupi tubuh Jack. Babytooth terkesiap melihat debu-debu yang berkelip-kelip cantik itu, ia tidak bisa bersuara ketika mendapati makhluk asing yang tepat berdiri di sebelahnya. Babytooth terlalu terpesona.

Di kegelapan, Jack merasakan sesuatu membelai kulitnya, jari-jemarinya yang mati rasa merespon dengan gerakan-gerakan kecil. Bola matanya bergerak di balik kelopak matanya, alisnya bertaut dalam karena belaian hangat dan lembut yang baru saja ia rasakan: kemudian berkali-kali, lalu pelan dan halus. Sentuhan lembut itu dengan perlahan dicerna oleh pikirannya yang mulai tersadar, ya, Jack mengenalnya. Itu adalah hambusan angin di musim semi yang sejuk menentramkan. Desiran pepohonan dan rerumputan melantun di telinganya, sebuah suara menyapanya dengan ramah dan penuh semangat.

"Selamat pagi, Jack Frost! Waktunya untuk bangun! Bukankah ada yang harus kamu lakukan dengan sedikit kesenangan di dalamnya. Hehehe... Jack FrostSang Penjaga Kebahagian, tenggelam dalam kesendirian dan melewati kesenangan yang ada di depan mata? Ayolah temanku yang manis, aku yakin kamu tidak ingin melewatinya. Jadi... bangunlah!"

Bisikan yang membujuk itu menyapa Jack dengan suara yang familiar, terdengar bening dan rendah. Tetapi yang membedakannya adalah suara itu terdengar polos seperti suara anak kecil, juga seperti suara orang yang ia kenal, seseorang yang ia inginkan untuk berbagi cerita. "Au... ro... ra?" bibirnya yang kelu akhirnya mengucapkan sebuah nama yang memenuhi pikirannya serta menumbuhkan rasa penasaran di sudut hatinya, "Itu kamu?" Perlahan kelopak matanya membuka, memastikan dan berharap ia akan melihat sosok Aurora. Namun, matanya menyipit dan kabur untuk sesaat—perih.

Sementara bisikan itu kembali terdengar di telinga Jack, "Jack temanku, apa yang membuatmu merasa bersedih hati?"

"Si... siapa? Aurora?" Jack meregangkan seluruh tubuhnya yang kaku, mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Kamu tidak perlu bersedih hati, Jack! Kamu tidak sendirian," bisik desiran itu lembut, "kamu memiliki teman-teman yang baik, mereka berjuang di luar sana, bertarung untuk menjaga mimpi dan hati anak-anak. Mereka peduli padamu, Jack, sama halnya mereka mempedulikan anak-anak. Kamu bagian dari mereka. Tidakkah kamu melihat dan merasakannya?!" bisikan itu tertawa geli. Jack merasa terpesona, hatinya juga sedikit merasa tersentuh oleh kebahagiaan dan semangat yang terkadung dalam suara itu, "Yaah, meskipun terkadang kamu dan Bunny selalu melemparkan ejekan..., tapi lebih dari itu, Jack, ia sangat menghargaimu sebagai seorang Guardian, dan juga sebagai seorang sahabat."

Suatu belaian lembut mengusap dahi sampai ke puncak kepala Jack. Penglihatannya yang kabur mulai jernih, "Aku... tahu itu!" Jack mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Kegelapan yang menyelimutinya terkoyak dan melebur perlahan-lahan oleh balutan cahaya kekuningan yang temaram. Jack tersontak ketika bulir-bulir cahaya mungil penuh warna yang berkelap-kelip berhamburan di sekitarnya. Ia menjauh dari kumpulan cahaya itu dengan sigap. "Hah... hah, di... di mana aku? Siapa yang bicara?" Ia akhirnya tersadar sepenuhnya.

"Cobalah untuk santai temanku, Jack," kata bisikan itu, hembusan angin lembut menerpa tubuh Jack.

Angin itu sangat hangat dan menenangkan, tapi Jack tidak ingin berbicara dengan orang asing, "Aku benar-benar ingin tahu! Siapa ka...," ucapan Jack terputus ketika ia merasakan telapak kakinya merasakan sesuatu yang lembut. Jack menunduk, penasaran dengan benda yang ia tapaki, "Apa..., apa ini?"

Itu adalah rumput hijau pendek dengan dedaunannya yang kecil, Jack tersontak, kemudian ia mengedarkan pandangannya. Mulai dari kakinya berhamburan liukan-liukan cahaya kekuningan diiringi butir-butir cahaya penuh warna yang berloncatan, menciptakan padang rumput di depannya. Pepohonan kecil dengan daun-daunnya yang rimbun terbentuk dengan sempurna, kemudian keajaiban itu berakhir dengan bunyi letupan-letupan di sekitar Jack. Semilir angin lembut kembali menerpa tubuhnya, dan ia terdiam dengan perasaan bingung. Berkali-kali ia menghambuskan nafas panjang untuk meringankan perasaan kebingungan dan tekanan yang ia dapatkan sebelumnya.

"Apakah aku sudah mati?" ia tidak menyangka akan menanyakan pertanyaan itu. Sebab tempat di mana ia berada sekarang adalah sebuah tempat yang sangat nyaman dan damai. Aroma dan sensasinya sangat menyentuh hatinya, hampir membuatnya terharu.

Terdengar suara tawa dari angin yang bertiup, "Tidak!"

Jack penasaran dengan siapa ia berbicara, tetapi ia mengabaikannya karena seseorang yang mengajaknya bicara ini tidak memencarkan aura gelap, "Jadi, di mana aku?"

"Tidak di mana pun, hmm... mungkin di alam bawah sadarmu, bisa saja," jawab desiran itu santai, seakan hal itu tidak begitu penting.

Jack bergeming di tempatnya—sunyi—ia tidak lagi berusaha untuk mengetahui dengan siapa ia berbicara karena sepertinya sang Suara jelas sekali menghindari pertanyaannya. Jack menutup mata, menghirup udara dan menghembuskannya dengan pelan. Merasakan kelegaan dan ketenangan menyelimuti hatinya—melenyapkan perasaan terbebani dan kegelisahannya.. Ia menunggu suara itu kembali bicara melalui angin lembut yang berhembus melingkupinya.

"Apa sudah lebih baik, Jack?"

Jack tertawa ringan mengangkat salah satu sudut bibirnya sehingga menampakan barisan gigi putih saljunya, "Ahem...," ia mengangguk sebagai jawaban.

"Bagus, sekarang... mengenai gadis itu, apa yang kamu inginkan darinya, Jack?"

"Hmm, bukan sesuatu yang merepotkan," Jack terdiam beberapa saat menyiapkan hati akan respon dari si Suara, "aku hanya ingin dapat berbicara dengannya, itu saja." Ia membuka matanya dan memandangi kakinya, semantara pikirannya melayang menuju ingatan tentang seorang gadis bernama Aurora. "Heh," ia berdengus mengejek, menertawai dirinya sendiri, "bukankah itu terdengar bodoh!? Ia bahkan tidak bisa melihat dan mendengarku!"

Sang Suara tidak mengomentari keinginan Jack, ia bahkan tidak menertawakannya.

"Teman-temanku yang lain sibuk dengan pekerjaan mereka, tapi tidak untukku... ada saatnya aku memiliki waktu luang. Meskipun terkadang mereka juga memilikinya, namun dengan waktu terbatas, mereka selalu memikirkan cara untuk menyenangkan anak-anak," Jack terkekeh getir.

"Begitu juga dengan dirimu, Jack!" kata bisikan itu lembut.

Jack tersenyum merespon kata-kata sang Suara.

"Hmm, tidak ada yang salah ketika kamu memiliki harapan dan keinginan, Jack! Ada kekuatan besar di luar sana, mengawasi dan menyusup di antara kekuatan-kekuatan yang tercipta di dunia, tidak terlihat, namun selalu menjawab harapan semua orang dan terkadang jawabannya tidak selalu iya."

"Itu tidak mungkin terkabul, bukan?" tanya Jack pelan.

"Bisa saja, jika kita terikat dengan takdir, kamu... terikat dengan takdir."

"Maksudmu?"

"Pertemuanmu dengan gadis itu telah ditakdirkan," pernyataan suara itu membuat Jack tertegun, "sebagai makhluk hidup, memiliki harapan dan keinginan itu biasa, hanya saja kita harus bijak..."

Jack mengerti arah pembicaraan itu, "Batasanku!" katanya cepat tanpa ragu-ragu. "Batasan itulah yang membuat hal itu mustahil, bukan?"

Sunyi sesaat, sampai sang Suara berkata, "Pertanyaanya, apa yang membuatmu ragu, Jack? Ada hal yang harus kamu lakukan sebagai seorang guardian, juga sebagai seorang sahabat bagi teman-temanmu."

"Aku tahu! Itulah sebabnya aku berada di sini—bertarung, untuk membereskan mereka semua yang mengancam teman-teman kecilku dan anak-anak di seluruh dunia," tegas Jack.

"Lalu... kenapa kamu masih di sini? Bersedih hati dan bermuram durja? Jack, jangan biarkan kegelapan memenjarakanmu, ia akan menggunakan kelemahan hatimu dan kamu akan terperangkap di dalamnya."

"Hatiku?" Jack menyentuh dadanya.

"Kamu mengetahui semuanya, tentang dirimu yang tidak sendirian; tentang dirimu yang dipilih sebagai seorang Guardian, ingat-ingatlah, Jack temanku!" bisikan itu terdiam sejenak, dan kembali berbicara, "kuatkan hatimu, untuk dirimu, anak-anak, teman-temanmu, untuknya yang aku sayangi, untuk mereka yang percaya akan kekuatan kebaikan di dalam hati, dan mereka yang tersesat di kegelapan."

Jack tertegun mendengar perkataan sang Suara, "Kamu sebenarnya siapa?"

Suara itu tertawa kecil sembari berkata, "Kembalilah, Jack! Teman mungilmu yang manis sedang menangis karena mengkhawatirkanmu."

"Teman mungilku?" tanya Jack bingung, "haah... Babytooth!" ia terperanjat, "tolong katakan kalau ia baik-baik saja!"

"Ia baik-baik saja, ia hanya mengkhawatirkanmu, temuilah dia agar dia merasa lega," jawab bisikan itu seiring angin lembut mengitari Jack. "Jangan lupa, Jack, teman-temanmu dan anak-anak membutuhkanmu, itulah sebabnya kamu di sini untuk membantu dan melindungi mereka. Kamu ada untuk mereka! Dan juga mengenai gadis yang kamu bicarakan itu, akan ada waktu untuknya, Jack."

Bercak-bercak cahaya kekuningan berpedar di atas kulit Jack. Ia menutup matanya dan menikmati kehangatan dari hembusan angin yang melingkupinya. Pada akhirnya ia menyadari bahwa ia tidak mendapat jawaban dari sang Suara mengenai siapa dirinya sesungguhnya. Datang dengan bisikan yang menghangatkan.


Bersambung...


Ami: ok ini update-tan yang memberondong sampai 2 chapter, yang punya(si Ama) yang minta buat upload 2 chapter segaligus (T_T')v (tolong pikirkan juga saya yang mengetik sama mengeditnya! :'( . Update lamaa bangeet ya fanfic ini, tapi ceritanya masih lanjut kok di samping menulis draf juga untuk cerita sampingannya, semoga dapat berjalan lancar ya, selamat menikmati XD