Peringatan Tak Langsung

Ia mengelap keringat yang mengalir dikeningnya dengan lengan bajunya yang panjang diikuti dengan helaan napas panjang. Rasanya seperti berbulan – bulan dirinya tidak menggerakan tubuhnya. Ia merasa bersyukur ketika menawarkan bantuan kepada Yuuma diladang tanpa harus diperintah, yang menimbulkan kerutan didahi cowok tinggi itu.

"Yuuma-san, aku sudah selesai mengambil tomatnya," lapor Yuki.

"Bagus. Sekarang bantu aku mengumpulkan kentang – kentang ini," perintah Yuuma. Setelah meletakkan keranjangnya yang berisi tomat, ia segera menghampiri Yuuma dan memulai memetik sayuran umbi itu. Mungkin karena hati – hati dan fokus pada sayurannya, ia tak sadar jika sejak tadi Yuuma terus menatapnya. Ia baru sadar ketika ia merasa aneh dengan cowok tinggi itu karena tidak menggerakkan tangannya.

"Ng? Ada apa Yuuma-san?"

"Kau sedang kena angin apa tiba – tiba menawarkan bantuan dikebunku?" tanya Yuuma.

Yuki sedikit terkejut dengan pertanyaan Yuuma yang terang – terangan itu. Ia tersenyum dan kembali mengambil sayuran kentang yang ada dihadapannya. "Hanya ingin mencari angin segar," gumamnya pelan. "Oh Yuuma-san, lihat. Aku mendapat kentang yang besar."

Perilaku aneh yang diperlihatkan Yuki beberapa hari lalu bagaikan sebuah kebohongan dimata mereka. Dikatakan kembali juga tidak bisa karena sekarang ia lebih mirip dengan Kou yang tak pernah berhenti jika bercerita. Berbicara mengenai Kou, entah sejak kapan ia jadi dekat sekali dengan Yuki. Pembicaraan diantara mereka sungguh heboh dan banyak hingga harus ditegur berkali – kali oleh Ruki karena berisik. Yuki juga terlihat begitu dekat dengan Azusa, meski cowok itu hanya menjadi bagian pendengar. Namun anehnya, tidak ada rasa tidak suka yang diperlihatkan cowok itu. Ia justru terlihat sangat menikmati mendengar semua cerita dari mulut Yuki. Gadis itu bahkan terang – terangan ingin bertemu dengan "teman" Azusa yang tak lain adalah luka iris ditubuhnya. Jika orang biasa lainnya pasti akan berpikiran menakutkan juga menjijikan mengenai Azusa. Tapi, berbeda dengan gadis berambut hitam pendek itu. Ia terlihat senang seolah bisa bertemu dengan mereka lagi.

Sesampainya disekolah, mereka langsung berpisah dengan Yuki mengingat gadis itu masih kelas satu. Yuuma menyadari hampir semua siswi menatap gadis itu dengan tatapan menusuk sejak mereka sampai disekolah. Tapi, tak digubris oleh sipelaku dan bersikap seolah – olah tak tahu. Mungkin dia sadar karena mereka menatap sambil berbisik serta menunjuk kearah Yuki. Bodoh jika ia tidak menyadarinya. Setelah menilik Yuki dari ujung matanya ia menyusul saudaranya yang lain menuju kelasnya. Ah, mengingat pelajaran hari ini rasanya ia ingin membolos, menghabiskan waktunya dengan bersantai sambil menikmati gula batu kesayangannya. Ketika ia ingin memasuki kelas, mata cokelatnya tak sengaja menangkap seseorang yang tengah tertidur ditangga menuju atap sekolah. Ia mendecih pelan. Ia selalu kesal jika melihat orang itu, yang dengan seenaknya tidur dimana saja tanpa memedulikan orang lain.

Makanya aku benci dengan bangsawan, batinnya kesal.

"Minggir," perintah Yuuma.

Orang itu tak bergeming.

Kesal, ia menendang tembok didepannya. "Oi! Kau dengar aku kan, hah?!"

"Urusai," tukas orang itu. "Apa maumu?"

"Harusnya itu kalimatku!" tukas Yuuma kesal. "Apa kau tahu kalau kau menganggu? Kau menghalangi jalanku!"

Orang itu membuka kelopak matanya, memperlihatkan iris birunya yang terlihat dingin bagaikan es. "Aku duluan yang sampai disini. Jadi, terserah aku mau melakukan apa disini," jawabnya dingin.

Mendengar itu, emosi Yuuma semakin memuncak. Ingin sekali ia memukul orang yang masih dengan santainya bersandar ditembok sambil mendengarkan musik itu. Tapi, repot juga jika ia harus berurusan dengan Ruki yang mulai menceramahinya. Akhirnya, meski dengan terpaksa, Yuuma memutuskan untuk mundur dan mencoba jalan lain menuju tempat kesukaannya. Baru beberapa langkah ia menjauhi orang itu, suara berat dari orang itu terdengar ditelinganya.

"Naa," panggilnya. "Apa kalian memberitahukan masalah wanita itu pada cewek yang tinggal bersama kalian?"

"Wanita itu?" tanya Yuuma tak mengerti. Ia memutar bola matanya. "Oh, maksudmu ibu si kembar tiga itu? Kenapa kau bertanya? Itu bukan urusanmu, kan."

"Aku bodoh menanyakannya padamu," ujar orang itu. "Yah, kau memang benar. Itu bukan urusanku. Tapi, jika sudah menyangkut masalah wanita itu, itu menjadi urusanku juga."

Yuuma mendengus. "Ternyata seorang NEET pun punya urusan?" ejeknya. "Aku baru tahu itu."

Orang itu tak menanggapi dan kembali menyamankan dirinya. Melihat itu, Yuuma merasa semakin kesal dan memutuskan untuk pergi memutar. Sudah cukup dengan semua hal yang berhubungan dengan Sakamaki Shuu. Dalam langkah menuju tempat yang akan ia tuju, tangannya membuka sebuah botol dan mulai mengunyah gula batu kesayangannya. Meski belum hilang sepenuhnya, setidaknya rasa kesalnya berkurang sedikit.

Begitu Yuuma sudah hilang dari pandangannya, Shuu membuka matanya. Raut wajahnya terlihat seperti orang yang melamun. Namun, orang yang mengenalnya pastilah tidak berpikiran seperti itu. Pikirannya berkelana, mengingat masa lalunya bersama dengan orang yang barusan bersamanya. Sejak kebangkitan Komori Yui 3 bulan lalu, ia benar – benar menyadari bahwa Yuuma adalah Edgar. Sulit dipercaya memang jika mengingat kejadian mengenaskan yang membuatnya seperti ini. Akan tetapi, setelah mendengar penjelasan tak langsung dari Reiji dan memastikannya sendiri, ia yakin benar bahwa Mukami Yuuma adalah Edgar. Dan yang bersangkutan pun nampaknya mulai mengingat ketika mereka pernah berteman. Meski Yuuma sendiri selalu menyangkalnya dan masih belum bisa mempercayainya. Tapi, setidaknya ia bisa lega karena teman satu – satunya masih hidup.

Alisnya bertaut. Entah mengapa ia merasa aneh. Ada yang janggal dalam kejadian 3 bulan lalu. Ia seolah melupakan sesuatu yang penting dan masih ada kaitannya dengan wanita itu juga ayahnya. Seseorang yang keberadaannya misterius namun sangat berharga bagi Mukami bersaudara.

Tapi, siapa? Pikir Shuu.

xxx

Yuki sama sekali tak habis pikir dengan jalan pikiran anak muda zaman sekarang. Yah, meski terkadang ia juga heran dengan pikirannya sendiri. Ia kira kejadian ini hanya berlaku dalam manga ataupun drama. Nyatanya, dalam kehidupan nyata pun bisa juga terjadi. Yui yang berada dibelakangnya nampak ketakutan, tapi berusaha menyembunyikannya dengan bersikap kuat. Pipi kanannya sedikit merah, bekas tamparan seorang gadis dari kumpulan gadis yang mengerubungi mereka. Helaan napas keluar dari mulut gadis berambut hitam pendek itu.

"Jadi, hanya karena Komori-san selalu direbutkan oleh Sakamaki dan Mukami bersaudara kalian jadi iri?" tanya Yuki heran. "Ya ampun, kalian kan bisa merebut mereka dengan cara kalian sendiri."

"Berisik kau murid pindahan," seru gadis didepannya. "Kau tidak tahu perjuangan kami untuk mencari perhatian mereka."

Yuki menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan gadis itu.

"Meski hanya Kou-kun yang mau membagi perhatiannya pada kami. Tapi, tetap saja perhatiannya tertuju pada cewek jalang dibelakangmu itu!"

"Yah, karena Kou-san itu idola sih. Itu tidak bisa disalahkan," ujar Yuki.

"Karena itu, minggir anak pindahan. Biar kami yang memberi pelajaran pada cewek jalang itu," perintah mereka. "Kau juga kesal kan?"

Yuki kembali menghela napas. Mendengar hal itu tentu membuatnya semakin tak ingin meninggalkan Yui sendirian. Ia tetap berdiri diantara para gadis itu dan Yui, mencoba melindungi gadis berambut pirang pucat itu. Ia paling benci jika harus menurunkan tangannya hanya untuk membuka mata para manusia yang dibutakan oleh sesuatu. Sayang, kondisinya saat ini membuatnya terpaksa melakukannya. Yah, walau pada akhirnya hal itu bisa terselamatkan berkat kehadiran seseorang disana. Tidak. Mungkin lebih tepatnya dua orang, karena ternyata ia berada dibelakang orang yang baru saja menghentikan mereka. Jika dirinya tak salah, yang berambut merah adalah Ayato dan yang memakai topi adalah Raito.

"Segitu irinya kah kalian pada cewek ini?" tanya Ayato. "Kalau begitu, lain kali aku akan menemani kalian bermain."

Raito tersenyum lebar, membuat wajah para gadis itu besemu merah seketika. "Tentu saja, aku juga akan membuat kalian senang loh. Dengan caraku sendiri."

Yuki yang mendengar hal itu, membuatnya merinding seketika.

"Jadi, pergi! Aku tak suka dengan cewek yang tak patuh," perintah Ayato.

Para gadis itu mengikuti perintah Ayato dan meninggalkan mereka, meski mereka masih sempat memberikan tatapan tajam pada Yui. Setidaknya, masalah kali ini selesai tanpa Yuki harus turun tangan. Ia baru saja menyadari, jika ia membuat keributan bisa saja mengundang kemarahan Ruki. Mengingat hal itu langsung membuat gadis itu pucat dan bersyukur pada kehadiran Ayato dan Raito.

"Ternyata kau disukai para cewek ya, chichinashi," ejek Ayato.

"Sasuga Bitch-chan ne," sambung Raito.

"Mata kalian berdua buta ya?" tanya Yuki mengejek.

"Apa katamu kuso onna?!" seru Ayato yang dibalas dengan Yuki yang menjulurkan lidahnya.

"Yah, kurasa keberadaanku disini sudah tak dibutuhkan," sahut Yuki.

"Arigatou, Yuki-chan," ujar Yui. "Maaf, aku jadi merepotkanmu."

"Ii no yo," tukas Yuki. Ia segera kabur dari sana karena merasa bahaya yang berasal dari cowok berambut merah didepannya. Ketika dirasa sudah jauh dari tempatnya berada tadi, ia berhenti untuk mengatur napasnya yang sedikit tak teratur. Dikoridor yang kebetulan sedang sepi, ia menyandarkan punggungnya, mengatur napasnya sekaligus mencoba menghilangkan penat yang menghinggapinya sejak tadi sore. Dadanya bergerumuh tak tenang, seolah akan ada hal buruk yang terjadi menimpanya juga sekitarnya. Dikoridor yang sepi itu, indera pendengarannya menangkap sebuah suara asing. Ia menoleh kepalanya kekanan dan kekiri, tapi tak ada siapa – siapa disana, kecuali dirinya. Suara itu makin terdengar dan alisnya bertaut. Mengapa ia mendengar suara lolongan serigala disekolah. Apalagi lolongan itu terdengar didalam koridor dan seolah terpanggil, ia mengikuti asal suara itu.

Lolongan itu membawanya kebelakang gedung sekolah yang nampaknya tak pernah didatangi oleh murid bahkan penjaga sekolah sekali pun. Tak jauh didepannya, berdiri seekor serigala berwarna hitam, yang anehnya, sekeliling tubuhnya diselimuti cahaya merah redup. Melihat serigala yang duduk tenang itu membuatnya aneh. Ia seolah mengenali serigala itu. Dengan langkah pelan, ia mendekati serigala itu yang masih tenang menunggunya. Pikirannya yang tadinya berkecamuk mendadak menjadi putih, tak bisa memikirkan hal lain selain menyentuh serigala hitam itu. Ia hampir saja menyentuh serigala itu ketika suara gema langkah kaki seseorang terdengar, menyebabkan serigala itu kabur.

"Omae... kenapa kau ada disini?" tanya sipemilik suara yang nampaknya tak senang dengan kehadirannya.

Yuki menoleh, mendapati anak bungsu Sakamaki berdiri disana dengan tatapan garangnya yang biasa. "Su... baru...-kun?" gumamnya. Ia segera menutup kedua telinganya ketika suara bising mendadak menyerangnya. Berbagai macam gambar juga suara masuk secara paksa kedalam kepalanya, membuatnya jatuh terduduk diatas rumput. Tentu ia bingung dengan ingatan aneh yang masuk begitu saja kedalam kepalanya. Namun, diatas semua itu rasa takutlah yang membuat tubuhnya gemetar tak karuan. Rasa takut itu belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ditengah semua ketakutan juga kepanikkan yang ia alami, sesuatu yang dingin namun hangat menyelimutinya. Suara – suara bising juga gambar tak jelas itu menghilang ketika menyadari tubuhnya didekap oleh seseorang. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memahami apa yang terjadi. Begitu juga dengan orang yang memeluknya. Sedetik kemudian, mereka berdua sama – sama meninggikan suara mereka dan segera menjauh.

"A-a-apa yang kau lakukan, Subaru-kun?!" tanya Yuki.

"Harusnya itu kalimatku?!" seru Subaru tak kalah kencang. "Huwah, apa yang kupikirkan hingga me-me..."

"Uwah! Jangan katakan!" potong Yuki cepat. Ia melirik kearah Subaru yang terduduk didepannya, memalingkan wajahnya dan menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. Tanpa sadar, tawa keluar begitu saja dari mulutnya, mengundang amarah dari serigala didepannya.

"Warauna!" tukas Subaru kesal.

"Ha-habisnya... wajahmu lucu sekali," ucap Yuki disela tawanya. Ia segera menghapus air mata yang berada disudut matanya. Lega rasanya bisa tertawa lepas seperti ini, seolah rasa takut yang ia alami barusan hanyalah kebohongan belaka. "Arigatou, Subaru-kun. Meski memalukan, tapi aku menghargai pelukanmu tadi."

"Iuna, baka!" seru Subaru dengan wajahnya yang merah, membuat tawa Yuki keluar dari mulutnya kembali. Melihat itu, Subaru langsung menatapnya tajam dan hendak menyerang Yuki. Namun, cowok itu kalah cepat karena Yuki sudah berdiri dan berlari meninggalkan cowok itu sendirian. Gadis itu sempat berhenti, menoleh pada Subaru yang masih mendeliknya.

"Arigatou nee, Subaru-kun," serunya. "Aku pasti akan mentraktirmu sesuatu nanti."

Setelahnya ia berlari secepat mungkin, berusaha menghindari Subaru mengingat cowok itu adalah vampire. Wajahnya langsung panas jika ia mengingat kejadian barusan. Berbeda sekali ketika ia memeluk Yuuma ataupun Mukami bersaudara, kecuali Ruki tentunya. Pelukan itu membuatnya nyaman bagaikan seorang kakak yang melindungi adiknya. Dibandingkan dengan hal itu, pelukan Subaru membuatnya sangat senang dan sedikit berdebar – debar.

Menyadari lamunan anehnya, Yuki menepuk pelan kedua pipinya. "Mou, apa sih yang kupikirkan?!"

xxx

Subaru mengacak rambut putihnya frustasi. Debaran jantungnya maupun panas diwajahnya masih tak menampakkan akan hilang dalam waktu cepat. Niatnya yang ingin mencari tempat untuk menyendiri hilang sudah akibat kehadiran gadis aneh dan tidak bertanggungjawab bernama Akatsuki Yuki. Padahal ia cukup yakin tempat ini adalah tempat yang paling sunyi disekolah. Helaan napas lolos dari mulutnya. Nampaknya hari ini benar – benar hari sial untuknya. Tadi pagi, tidurnya yang nyenyak diganggu oleh suara teriakan sikembar tiga, tengah memperebutkan sesuatu. Sesampainya disekolah, entah ada angin apa, mendadak ia dikelilingi oleh beberapa siswi yang membuatnya harus kabur. Yang paling buruk dari semuanya adalah bertemu dengan Akatasuki Yuki. Sejak pertemuannya dengan gadis itu, tak pernah sekali pun ia merasa tenang, seolah akan ada sesuatu yang buruk menimpa mereka dalam waktu dekat. Mungkin itu memang benar, karena gadis itu sempat bertindak aneh tadi.

"Aaa! Apa – apaan sih?!" serunya frustasi, tak mempedulikan retakan yang ia timbulkan akibat pukulannya. Entah apa yang merasukinya hingga memeluk gadis aneh itu. Tapi, melihat tubuhnya yang gemetar, seperti ketakutan itu, ia sama sekali tak tahan. Hatinya, yang ia akui sudah membusuk, mengatakan untuk segera menenangkannya. Berharap setelah itu, Yuki akan memberikan senyumnya yang pernah ia perlihatkan. Senyuman yang benar – benar tulus, yang mampu membuat pipinya bersemu merah, seperti dulu.

Alisnya bertaut. "Kapan ia pernah tersenyum seperti itu?" tanya Subaru pada dirinya sendiri.

Yah, kapan pun itu, ia sungguh berharap bisa melihatnya lagi. Sebuah senyuman yang tulus, tanpa ada paksaan maupun kebohongan yang selalu diucapkan oleh seorang gadis bernama Yuki.

xxx

Usai mengantarkan barang yang dimintai tolong oleh guru, Yuki segera keluar dari ruang guru. Langkahnya sedikit terburu – buru karena waktu istirahat sebentar lagi habis dan ia belum sempat istirahat dengan tenang. Setelah menyelamatkan Yui dari amarah para fans fanatik Sakamaki dan Mukami bersaudara, dirinya langsung dihadapi dengan kejadian memalukan namun sedikit menyenangkan. Mengingat wajah cowok bungsu Sakamaki membuat pipinya kembali bersemu merah dan sedikit panas. Yuki melingkarkan kedua tangannya, seolah sedang memeluk dirinya sendiri. Ia masih bisa merasakan kuatnya lengan yang mengurung dirinya juga kehangatan yang diberikan dibalik dinginnya tubuh seorang Sakamaki Subaru. Belum pernah ia rasakan pelukan yang seperti itu hingga tanpa sadar ia menginginkannya kembali. Yah, ia akui ia sama sekali tak pernah memeluk maupun dipeluk oleh seseorang, terutama cowok. Bahkan dari orangtua asuhnya saja, ia jarang sekali menerima pelukan. Jika pun ia memeluk seseorang, tak pernah jantungnya sampai berisik seperti ini.

Ia menggelengkan kepalanya kuat – kuat, mencoba melenyapkan khayalan anehnya dan bergegas menuju kelas. Bisik – bisik suara siswi yang asyik berbicara terdengar ditelinganya. Tanpa perlu memaksakan diri untuk bergabung, ia tahu apa yang menjadi topik pembicaraan. Pembicaraan mengenai kedatangan murid baru yang katanya berasal dari Inggris. Hal itu memang benar karena ia sempat menanyakannya pada guru yang menyuruhnya melakukan sesuatu tadi. Dua orang cowok kelas 3 yang berasal dari Inggris akan masuk minggu depan. Tak heran jika para siswi meributkan hal itu.

"Selain itu, kalian sudah dengar rumor yang beredar akhir – akhir ini?"

"Rumor? Rumor yang mengatakan adanya serigala dikota ini?"

Serigala? Batin Yuki.

"Sou, rumor itu. Bahkan diberita juga ada. Katanya ada korban yang mengaku diserang serigala ketika tengah malam."

"Tapi, bisa saja itu ulah anjing liar bukan? Dikota yang tak ada gunungnya, tidak mungkin ada serigala. Yah, walaupun ada hutan sih."

Yuki tak lagi mendengarkan pembicaraan itu karena matanya terkunci pada seekor serigala yang tengah menatapnya dari bawah. Sedetik kemudian, serigala itu langsung menghilang dibalik bayangan semak juga pohon yang tumbuh lebat disebelah gedung. Mungkinkah serigala itu yang dibicarakan oleh semua orang. Tapi, ia sama sekali tak merasakan adanya bahaya datang dari serigala tadi. Yang ia rasakan justru kebalikannya, perasaan rindu akan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui seumur hidupnya.

Lamunannya terpaksa berhenti karena guru pelajaran berikutnya sudah masuk dan menyuruh muridnya untuk kembali kekursinya. Meski pelajaran dimulai pun, tetap tak menghentikan sebagian murid untuk berbicara dengan cara berbisik atau menyerahkan kertas sebagai media. Ditengah bisik – bisik yang nampak sengaja diperbesar, ia mendengar informasi menarik yang akan datang sebentar lagi. Sebuah gejala alam yang jarang sekali terjadi.

Gerhana bulan akan terjadi minggu depan.


Sasuga Bitch-chan ne : Bitch-chan memang hebat ya

Ii no yo : Tidak apa kok

Warauna : Jangan ketawa

Iuna, baka : Jangan katakan, bodoh


Yuki : Yahoo~ hisashiburi minna. Huwah... rasanya kayak udah bertahun - tahun aku nggak kemari untuk mengomentari banyak macam dari tulisan Author-san

Yui : Benar juga ya. Sejak season 2 ini dimulai, kita jadi jarang ketemu sama mina-san

Yuki : Da ne. Nja, karena Author-san lagi sibuk ngurusin UTS dan tugas lainnya dari para dosen tercinta juga kegiatan organisasinya, kali ini kita berdua yang akan mewakili Author-san di Author note ini

Yui : Un. Author-san meminta maaf sekali karena baru bisa update sekarang. Katanya, chapter ini udah selesai dari kemarin - kemarin. Cuman belom ada waktu buat update karena yah... Author-san cukup sibuk belakangan ini

Yuki : Sou da yo. Yah, asalkan jangan ampe sakit karena itu akan merepotkan kita semua. Ne minna

Yui : Baiklah, sekarang ayo kita balas review dari mina-san

Untuk 08Diandra : Terima kasih ya udah terus menyemangati Author-san.

Untuk yuuki kagami : Terima kasih udah menyemangati Author-san. Nanti akan kusampaikan biar Author-san cepet update lagi

Untuk Lightning Shun : Silahkan kok menjerit sampe puas, asalkan Lightning-san emang puas dengan tulisan Author-san. Huwah... terima kasih loh juga atas pujiannya loh. Oh iya kata Author-san, dia sendiri juga bingung loh. Memangnya tulisannya dia konsisten ya?

Yuki : Waduh! Kan Author-san sendiri yang bikin, kenapa dia sendiri yang bingung? #tepok jidat

Yui : Benar juga. Ah pokoknya, Lightning-san, jangan bosen - bosen terus datang dan mereview atau bahkan memberikan kritikan untuk Author-san ya

Yuki : Lanjut untuk Nivans Erlangga : Sugoi... Nivans-san, itu dibaca seharian untuk sequel pertama dan keduanya? Sugoi sugoi sugoi. Lega deh kalo Nivans-san puas dengan tulisannya Author-san. Tenang, ini udah dilanjut dong dan jangan khawatir karena baru bisa ngereview sekarang hehehe. Humu... okeh, nanti akan kusampaikan saran Nivans-san ke Author-san yak. Kali aja dia mau bikin cerita yang kayak gitu.

Yui : Kalo sequel kedua ini dibuat cerita cinta antara Mukami bersaudara dan Yuki-chan pasti menarik banget ya. Kurasa bakal ada adegan rebutan antara Mukami dan Subaru-kun

Yuki : Eh? Kenapa nyambung - nyambung ke Subaru-kun, Yui-chan?

Yui : Loh, kan dichapter ini ada adegan kalian berpe-!

Yuki : #langsung bekap mulut Yui. Iwanai de yo ne Yui-chan! Ka-kalau begitu, sampai jumpa dichapter selanjutnya ya

Yui : Matte, Yuki-chan. Ada satu pesan lagi dari Author-san untuk mina-san

Yuki : Apa?

Yui : Katanya, Author-san minta saran untuk update chapter lebih enak 2x sebulan atau 1x sebulan? Karena kalo nggak jelas kapan updatenya nanti kasihan mina-san yang penasaran pake banget buat tahu lanjutannya.

Yuki : Sou ka? Jya, minna. Seperti biasa, minta saran dikotak review tercinta yak.

Yuki/Yui : Sampai jumpa~