Part 9


-Life-

Kyungsoo mengerjapkan matanya beberapa kali. Keadaan kamarnya gelap gulita. Hanya sebuah penerangan kecil di atas meja nakas di samping kiri ranjang Kyungsoo. Ia melirik jam kecil di atas meja nakasnya. Jam tujuh pagi. Kyungsoo menguap kecil dan menoleh ke kanannya. Dilihatnya Chanyeol yang tertidur pulas. Kyungsoo bisa melihat bercak ungu di dada Chanyeol yang begitu banya. Itu tanda yang ia buat.

Kyungsoo tersenyum getir mengingat seberapa nakalnya ia semalam. Hampir ia yang terus merengek pada Chanyeol untuk terus bermain dan berakhir jam 2 dini hari tadi. Kyungsoo menghela napasnya. Ia melirik ponsel Chanyeol yang ada di atas meja nakasnya. 15 massages. Dadanya menjadi sesak saat melihat semua pesan itu dari satu orang. Byun Baekhyun. Awalnya ia ingin menghiraukannya. Tapi, rasa penasaran di hatinya lebih tinggi.

Dan pasti, ia meng-unlock ponsel Chanyeol dan membuka semua pesan Baekhyun.

From : Baekhie^^

Chanie, kau sudah bangun? Kau bisa menemaniku pergi?

Dahi Kyungsoo berkerut saat mengirim kapan pesan itu diterimanya. Kemarin pagi

From : Baekie^^

Chanie! Kau kemana? Aku bosan di appartemen sendiri.

From : Baekie^^

Park Chanyeol! Kau kemana?! Jika kau tak membalas pesanku, aku akan marah!

From : Baekie^^

Chanie! Aku serius!

Kyungsoo menelan ludahnya. Pesan terakhir di kirim saat mereka melakukan hubungan bada semalam. Kyungsoo mengenakan celana pendeknya dan turun dari atas ranjang. Sedikit tertatih karena pantatnya terasa sakit. "Astaga, berapa ronde kami semalam? Pantat ku benar-benar sakit," gerutu Kyungsoo seraya berjalan menuju dapur tak lupa ia meletakkan ponsel Chanyeol di tempatnya dan mengambil ponsel miliknya di samping ponsel Chanyeol. Mengambil secangkir susu coklat kesukaannya.

Kyungsoo meng-unlock ponselnya. Ada tiga pesan dari Jongin dan lima pesan dari kakaknya. Keningnya kembali berkerut. Sudah lama kakaknya tak mengirimkan pesan padanya.

From : Jongin Kim

Hyung~ kau bisa menemaniku ke cafe?

From : Jongin Kim

Kau sedang tidak melakukannya dengan Chanyeol kan? Perasaanku mengatakan seperti itu hyung. Aku cemburu! TT

From : Jongin Kim

Hyuuung~ kau serius? Baiklah, nikmati malam mu! Kekeke

From : Seungsoo hyung

Pulanglah, ayah sakit. Ia memanggilmu sejak tadi.

From : Seungsoo hyung

Kyung! Aku serius!

Tanpa melihat pesan yang lainnya Kyungsoo kembali mengunci ponselnya. Meletakkannya di atas meja di samping cangkir pororonya. Ia kembali menghela napas. Haruskah ia pulang? Mengunjungi ayahnya yang secara tidak langsung sudah membuangnya. Astaga! Kyungsoo mengacak rambutnya frustasi. Pikirannya benar-benar kacau. Permasalahannya dengan Chanyeol. Ayahnya yang sakit. Bujukan untuk segera pulang. Ponselnya berdering dan Kyungsoo melirik siapa yang menghubunginya. Ibu. Ia mengambil napas sejenak dan membuangnya kasar.

"Halo bu."

"Pulanglah. Ayahmu sakit Kyungsoo. Ibu mohon, pulanglah."

Kyungsoo menghela napas. Suara ibunya yang serak begitu menyakitkan. Kyungsoo tidak pernah menolak keinginan ibunya kecuali saat ia memutuskan pergi dari rumah.

"Ibu, aku―"

"Kyungsoo, ibu mohon. Ayah memanggil namamu sejak tadi Kyungsoo." Kyungsoo terdiam.

"Ibu mohon Kyungsoo."

Kyungsoo menghela napas lagi. "Baiklah, aku pulang nanti. Aku janji." Kyungsoo langsung mematikan sambungan telfonnya. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di dapur. Ponselnya kembali bergetar. Lagi-lagi Jongin mengiriminya pesan.

From : Jongin Kim

Sudah selesai? Kau tak lupa tentang Baekhyun kan hyung? Maaf bukan maksudku untuk membuat hyung kembali sakit hati. Tapi, hyung tidak lupa akan Baekhyun bukan?

Kyungsoo memejamkan matanya dan menelan ludahnya kasar. Ia segera kembali ke kamarnya. Dilihatnya Chanyeol masih tertidur di atas ranjangnya. Kyungsoo tersenyum kecil kemudian meyambar handuknya dan berjalan ke arah kamar mandi.

.

.

.

Chanyeol bangun tepat jam 10 pagi. Ia tak menemukan Kyungsoo di sampingnya. Chanyeol menghela napas. Dipakainya celana pendeknya dan berjejak ke arah dapur. Ia menemukan makanan yang ia yakin Kyungsoo yang membuatnya. Chanyeol duduk di kursi tepat di depan makanan itu. Sepucuk surat berada di samping mangkuk soup menarik perhatiannya.

Aku pulang ke rumah. Ayah sakit dan ibu memintaku pulang. Aku tidak tahu pulang jam berapa, jadi jangan menunggu ku. Aku sudah membuat sarapan untukmu. Itu cukup hingga nanti malam. Kau cukup menghangatkannya di dalam microwave. Kau bisa kan Chan? Maaf, seharusnya semalam kita tidak melakukannya.

Kyungsoo

Chanyeol meremasnya. Membuang surat itu ke sembarang arah. Tidak, ia tidak marah. Ia hanya bingung. Kenapa Kyungsoo harus meminta maaf. Bukankah sudah biasa jika mereka melakukannya semalam? Bukankah mereka sepasang kekasih.

.

.

.

Kyungsoo berdiri di depan ranjang. Mengamati tubuh pria berumur di depannya. Tubuh yang lemah, dengan selang infus di pergelangan tangannya. Di samping Kyungsoo berdiri seorang laki-laki yang wajahnya tak jauh berbeda dengan Kyungsoo.

"Aku tak percaya akhirnya kau pulang." Kyungsoo meliriknya sekilas kemudian kembali mengamati pria yang terbaring lemah di ranjang itu.

"Kalau bukan karena ibu aku tak akan pulang," jawab Kyungsoo dingin.

Kyungsoo berlalu keluar dari kamar. Ia bersandar di dinding tepat di samping pintu kamar. Matanya terpejam dan ia mengatur napasnya.

Ayah ingin kau melanjutkan perusahaannya di Jepang. Ayah tidak bisa jika kau tidak membantunya Kyungsoo. Perusahaan di Amerika akan di kelola oleh kakakmu. Dan ayah menginginkan agar kau mengelola perusahaan di Jepang.

Kyungsoo menghela napas. Perkataan ibunya beberapa menit yang lalu kembali berputar. Melihat ayahnya terbaring lemah di atas ranjang membuatnya iba. Ingin sekali ia melakukan perintah ayahnya. Tapi bagaimana dengan kuliahnya.


-Life-

Kyungsoo menatap Baekhyun yang duduk di depannya. Memainkan ponselnya dan tersenyum-senyum kecil. Kyungsoo yakin itu dari kekasihnya yang juga kekasih Baekhyun. Kyungsoo menghela napas.

"Bosan ya? Maaf aku mengacuhkanmu Kyungsoo," ujar Baekhyun seraya tertawa kecil. Kyungsoo tersenyum lembut menatap mata Baekhyun.

"Kyungsoo-ya, menurutmu aku dan Chanyeol cocok atau tidak?" Tanya Baekhyun to the point. Sebisa mungkin Kyungsoo menahan amarahnya. Ia menggigit bibir bawahnya tanpa Baekhyun tahu dan menelan ludahnya berat.

"Wae? Kalian seperti ingin menikah saja," goda Kyungsoo tertawa kecil. Baekhyun memajukan bibirnya layaknya anak kecil.

"Entahlah, sepertinya aku ingin menikah saja dengan Chanyeol. Yang pasti tidak sekarang. Bagaimana menurutmu?" Kyungsoo benar-benar ingin menangis sekarang. Ia ingin berteriak pada Baekhyun bahwa Chanyeol adalah kekasihnya. Kyungsoo memejamkan matanya sebentar lalu menatap Baekhyun lembut.

"Kau benar-benar mencintainya, Baekhyun-ah?" Baekhyun mengangguk pasti.

"Ya, aku sangat mencintainya. Aku tak akan membiarkan siapapun mengambilnya dariku. Dia benar-benar terlalu berharga untukku." Kyungsoo menelan ludah.

"Memang terkesan egois, tapi, hanya Chanyeol yang bisa mengerti aku selama ini. Menjadi anak dari keluarga broken home tidaklah mudah, Kyungsoo-ya. Aku membutuhkan Chanyeol di sampingku."

"Kyungsoo, kau baik-baik saja?" Tanya Baekhyun khawatir karena Kyungsoo yang terus saja diam.

"Ha? Ah, iya, aku baik-baik saja," jawab Kyungsoo gugup. Ia kembali terdiam dan sedikit menunduk.

.

.

.

"Kau yakin akan keputusanmu?" Tanya seorang wanita.

"Iya, aku yakin. Aku akan melakukannya." Jawab pemuda itu mantap.

"Apa yang membuatmu ingin melakukannya?" Pemuda itu terdiam. Pikirannya kembali melayang pada hal yang membuatnya mengambil keputusan itu.

"Sesuatu hal yang penting."


-Life-

Two Weeks Later

Kyungsoo masih mengingat jelas bagaimana keluhannya tentang Chanyeol. Chanyeol yang ini, Chanyeol yang itu. Kyungsoo hanya mendengarnya dari Baekhyun. Selingkuhan Chanyeol yang Kyungsoo sudah tahu dari awal.

Dua minggu pergi dari appartmen dan memilih tinggal di rumah Minseok, mungkin keputusan yang benar. Walaupun tidak sepenuhnya. Karena Jongin akan datang bersama dengan Sehun dan Yixing lalu akan merengek meminta jatah masakan pada Kyungsoo.

Seperti malam ini, dimana Kyungsoo sedang berada di dapur appartemen Minseok. Memasak untuk Jongin, Sehun, Yixing dan kekasihnya, Joonmyeon. Kerja? Oh, tidak. Jongdae menugaskan Kyungsoo untuk tidak bekerja. Kenapa? Itu karena Minseok—kekasih Jongdae tidak ingin Kyungsoo bertemu Baekhyun ataupun Chanyeol. Karena memang ia tinggal di appartemen Minseok untuk menghindar dari kedua orang itu.

"Aku tidak percaya hyung kemarin bertemu dengan Byun," ujar Jongin setelah disuguhi spaghetti cream oleh Kyungsoo. Tak ada responan dari Kyungsoo, hanya berupa lirikan mata yang Jongin tidak bisa lihat.

"Itu tidak sengaja. Lagipula, aku juga tidak memberitahukannya dimana aku tinggal. Walaupun ia sudah beribu kali meminta alamat rumah Minseok hyung." Kyungsoo mengendikkan bahu dan ikut memakan masakannya bersama Jongin dan tiga orang lainnya.

"Lalu, selanjutnya kau melakukan apa?"

"Memutuskan Chanyeol lalu pergi ke Jepang."

Hening.

"MWORAGO?!" Suara Jongin dan Sehun menggema di ruang makan Minseok. Tidak, bahkan Minseok yang berada di ruang tengah datang ke ruang makan karena suara Jongin.

"Kyungsoo, kau bercanda? Jepang?" tanya Yixing.

"Abosolutely not. You can ask Minseok hyung. He knows everything." Semu mata menuju pada Minseok dan Kyungsoo bergantian. Minseok hanya tersenyum dan Kyungsoo memasang wajah datarnya. Jongin? Wajahnya memerah seperti sedang marah. Sehun? Hanya mengerucutkan bibirnya dengan wajah ditekuk. Yixing dan Joonmyeon? Hanya saling pandang satu sama lain.

"Kenapa, hyung?" Kyungsoo menatap Jongin yang terlihat sangat murung. Ia tak tahu pasti apa yang ada dalam hati Jongin. Tapi Kyungsoo bisa melihat dari mata Jongin, bahwa pemuda itu terlihat sangat marah dan kesal.

"Mungkin sudah saatnya aku menjadi anak yang berbakti. Pergi dari Seoul, itu lebih baik." Kyungsoo tertawa kecil. Jongin masih tidak mengerti, begitu pula yang lainnya.

"Anak yang berbakti, maksud mu hyung?" Tanya Sehun.

"Ya, berbakti pada ayahku. Menuruti semua permintaannya, walaupun itu bertentangan dengan diriku."

"Sejak kapan kau ingin menjadi anak yang berbakti?" Kali ini Joonmyeon yang bertanya.

"Semenjak Chanyeol berselingkuh?" Semua membelakkan mata. "Bercanda. Sejak, beberapa hari yang lalu." Kyungsoo kembali memakan spaghetti creamnya.

Semuanya terdiam, tak ada yang berbicara. Bahkan Minseok sudah kembali ke ruang tengah setelah Kyungsoo mengucapkan jawaban atas pertanyaan Joonmyeon. Jongin hanya melirik ke arah Kyungsoo. Yixing dan Joonmyeon terlihat canggung. Sehun hanya acuh.

Getaran ponsel dari balik celana panjang Kyungsoo mengintrupsi sang empu untuk menjawabnya. Kyungsoo menghela napas sesaat setelah melihat siapa yang menghubunginya.

"Halo, ada apa Baekhyun?"

"Chanyeol kecelakaan!" Kyungsoo masih terdiam.

"Kyungsoo, kau ada disana? Ia memanggil namamu sejak tadi. Bisakah kau—"

"Eodiya?"

Kyungsoo langsung melesat begitu Baekhyun mengatakan dimana rumah sakit Chanyeol dibawa. Ia tak peduli dengan teriakan para teman-temannya. Hanya ada Chanyeol di kepalanya saat ini.

.

.

.

Kyungsoo bejalan dengan napas terengah-engah. Hanya perlu mencari sosok Baekhyun yang mungkin masih berada di ruang UGD. Dan dapat, Kyungsoo bisa melihat Baekhyun duduk bersandar di dinding tepat disamping ruang UGD. Kyungsoo mengatur napasnya sejenak lalu mendekati Baekhyun.

"Baekhyun-ah," panggil Kyungsoo lirih. Baekhyun mendongak memperlihatkan wajahnya yang penuh air mata. Baekhyun langsung berdiri dan memeluk Kyungsoo.

"Gwaenchana, Chanyeol akan baik-baik saja Baekhyun-ah. Tenanglah," hibur Kyungsoo. Tangan Kyungsoo bergerak mengusap punggung Baekhyun. Menenangkannya walaupun isakan masih keluar dari bibir Baekhyun.

Baekhyun masih saja menangis, hingga seorang dokter keluar dari ruang UGD dan Baekhyun melepas pelukan Kyungsoo. "Uisanim, bagaimana keadaan Chanyeol? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Baekhyun tidak sabar. Sang dokter melepas masker yang ia gunakan.

"Dia baik-baik saja, hanya beberapa luka. Patah tulang pada kaki kanannya tidak terlalu parah. Tapi kami harus merawatnya secara intensif terlebih dulu." Baekhyun masih terisak sedangkan Kyungsoo hanya diam.

"Baiklah, saya tinggal dulu." Sang dokter berjejak pergi meninggalkan Baekhyun dan Kyungsoo.

"Kyungsoo-ya—"

"Baekhyun-ah, kau temani Chanyeol. Aku akan menghubungi keluarganya."

.

.

.

Kyungsoo tidak tahu bagaimana Jongin bisa berada di rumah sakit. Yang ia tahu Jongin dan teman-temannya yang berada di rumah Minseok tadi tidak tahu bahwa ia akan pergi ke rumah sakit.

"Bagaimana kau tahu aku disini?" Tanya Kyungsoo begitu Jongin datang dan duduk di sampingnya. Di tempat tunggu.

"Kau lupa, jika ponselmu tertinggal hyung?" Jongin mengeluarkan ponsel hitam dari dalam saku celana panjangnya. Kyungsoo meraih ponselnya dan mengucap terimakasih pada Jongin.

"Bagaimana keadaan Chanyeol, hyung?"

"Kata dokter ia baik-baik saja, hanya patah tulang ringan pada kaki kanannya. Di dalam sudah ada kedua orang tuanya dan Baekhyun," jelas Kyungsoo. Jongin mengangguk-angguk mengerti.

"Kau sudah tahu bagaimana Chanyeol bisa kecelakaan?" Kyungsoo menggeleng dan diam. Tak lama Baekhyun keluar dari kamar rawat inap Chanyeol.

"Kau disini Jongin-ah?"

"Iya, aku menyusul Kyungsoo hyung." Baekhyun memilih duduk di samping kanan Chanyeol. Menundukkan wajahnya dan menompang kepala dengan kedua tangannya.

"Dia akan baik-baik saja, aku yakin itu." Kyungsoo menepuk pundak kiri Baekhyun. Mencoba memberi semangat padanya. Baekhyun menghela napas namun masih menundukkan wajahnya.

"Hyung, apa kau ingin bercerita bagaimana Chanyeol bisa kecelakaan? Itu pun jika kau mau," tawar Jongin. Kyungsoo menyikut lengan Jongin karena cara bicaranya yang kurang sopan.

"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu, Kyungsoo," ucap Baekhyun.

"Katakanlah," jawab Kyungsoo.

"Ditaman? Hanya berdua, bagaimana?" Kyungsoo melirik ke arah Jongin yang masih diam. Kyungsoo mengangguk setuju, kemudian ia mengikuti kemana Baekhyun membawanya.

Kyungsoo diam menatap punggung Baekhyun yang berjalan lebih dulu di depannya. Ia tidak tahu kenapa pemuda beparas cantik itu terus menunduk selama berjalan. Setibanya di taman rumah sakit, Baekhyun tak langsung berbicara. Ia diam sejenak dengan menunduk.

"Baekhyun-ah, sebenarnya—"

"Mianhae, jeongmal," potong Baekhyun. Kyungsoo berkerut kening. Maaf, untuk apa?

"Chanyeol, sudah menceritakannya semua padaku. Bahwa kau kekasihnya."


Oke, ini ketiga kalinya aku ngedit dan sinyal bener-bener balak. Terimakasih semuanya. Dan sekali lagi, aku ngga bisa balas reviews kalian. BIG SORRY guys TT-TT

Regards

Heerin^^