DISCLAIMER :

BUNGOU STRAY DOGS by Asagiri Kafka and Harukawa 35

Warning :

AU, OOC, DazaiXfem!Chuuya, Typos, Alur dan update lambat, yang ga suka silahkan fav apalagi yang suka :)

Tidak bertanggung jawab dengan komplain mual dan muntah gegara baca ini.

Happy reading~

SEMOTIF AFEKSI

By : Hilaryan

.

.

.

EPILOG

.

.

.

Sore itu cerah. Akhir pekan kedua setelah Chuuya dan Osamu resmi jadi pasangan kekasih (oke, sebenarnya tidak resmi, karena tidak ada deklarasi besar-besaran, serta cara nembak Osamu yang agak aneh, juga cara Chuuya bilang iya yang lebih aneh lagi), membuat Agatha akhirnya mau melepas Chuuya dan menyerahkan penjagaannya pada pemuda itu, kemudian menerima Fyodor. Begitulah yang diketahui Osamu.

Sementara itu, satu hal yang diketahui Chuuya adalah, sekarang dia adalah pacar Dazai Osamu (harus kutekankan kalau ini adalah hal yang amat sangat bagus, sungguh. Mengingat karena adanya ke-tsunderean akut Chuuya, bisa saja Chuuya tidak mau mengakuinya). Agatha masih tetap peduli padanya, walau tidak sepeduli sebelumnya. Mereka masih berangkat sekolah dan pulang bersama setiap hari, meski sekarang mimik kekhawatiran berlebihan yang sering ditampakkannya mulai berkurang. Itu malah bagus menurut Chuuya. Mungkin Agatha memang sudah mulai sadar kalau Chuuya sudah dewasa dan tak perlu dikhawatirkan seperti bayi.

Kini, gadis itu tengah melenggang ke pintu depan setelah mandi dan ganti pakaian sehabis sekolah. "Halo, Ayah," Chuuya menyapa ayahnya yang sedang berada di ruang tamu sambil memandangi laptop.

"Kau mau ke mana, Chuuya?" tanya ayahnya.

"Ke tempat Dazai," jawab Chuuya, hendak memasang sepatu.

"Oh, kaujalan kaki sendirian ke sana?"

"Tidak. Dazai menungguku di stasiun. Kami akan naik kereta,"

"Kenapa dia tidak ke sini?"

"Entahlah Ayah. Katanya semakin jarang dia ke sini, semakin aku merindukannya. Yang benar saja, kan." Semenjak bicara dengan Osamu waktu itu, kini Chuuya lebih terbuka dengan ayahnya.

"Kau akan bertemu Dazai-kun, dengan pakaian seperti itu?"

Chuuya dan ayahnya sontak menoleh, melihat pengasuh Chuuya sedang memandang ke arah mereka.

Chuuya menatap dirinya sendiri. Kaos dan celana panjang kain. "Oh, ayolah. Ini hanya Dazai." Chuuya berdiri dengan sepatu yang hanya terpakai di kaki kanan. "Kenapa setiap bertemu Dazai, kau selalu memermasalahkan pakaianku? Selain itu kau juga mendandaniku dengan berlebihan. Aku tidak suka pakai rok, one piece, dan sejenisnya itu." Beginilah Chuuya sekarang. Dia berani mengutarakan pendapatnya.

"Baiklah, baiklah. Aku janji tak akan memaksamu pakai rok Chuuya. Tapi sebaiknya kaupakai kemeja saja, jangan kaos itu," kata pengasuh Chuuya. "Kemarilah, sepertinya sekarang waktunya mencoba hadiah dari ibumu, akan kubantu pakaikan," lanjutnya dengan senyum riang.

Chuuya ingat pakaian yang dihadiahkan ibunya ketika Osamu pertama kali ke sini. Dia sudah melihatnya, namun sampai sekarang belum mengerti bagaimana cara memakainya dan kenapa ada pakaian seperti itu.

"Janji kau tak akan menyuruhku pakai rok?"

"Iya. Ayo."

Chuuya memutar bola mata, melepas sepatu kanan, lalu mengikuti pengasuhnya ke dalam.

Tak lama setelah itu ibu Chuuya pergi ke ruang tamu sembari membawa dua cangkir teh. "Chuuya sudah pergi?" tanyanya, duduk di sebelah suaminya.

"Belum. Masih ganti pakaian. Dia bicara soal hadiah darimu." Ayah Chuuya menaruh laptop dan meneguk teh yang disuguhkan padanya.

"Oh…."

Akhirnya Chuuya keluar memakai kemeja dan celana panjang jeans dengan muka merah terang. Di belakangnya, pengasuhnya mengikuti dengan wajah senang.

"Bagaimana hadiah dari Ibu, Chuuya?" tanya Nakahara Fuku.

"Menggelikan. Aku bahkan tak ingin melihat diriku pakai pakaian itu." Sekali lagi, Chuuya berkata jujur. Dulu, dia pasti akan bilang, "Yah, bagus, seperti biasanya."

Mendengar jawaban anaknya, Nakahara Fuku tertawa kecil. "Oh ya? Tapi Dazai-kun akan senang melihatmu pakai itu,"

"Ya, kalau dia melihatnya. Sayang sekali dia tidak akan melihatnya." Chuuya berlalu dan memakai sepatu dengan cepat lantaran emosi.

"Bagaimana kau yakin?" Nakahara Fuku terus saja menggoda putrinya.

"Karena kalau dia berani, akan kutendang adiknya,"

Nakahara Fuku langsung melotot. "Chuuya, jaga bicaramu!"

"Ups." Chuuya berdiri dan menoleh. "Maaf ya. Aku tak sengaja." Ia membuka pintu sambil berkata, "Aku berangkat sekarang!" Lalu pintu terbanting menutup.

"Astaga anak itu," Nakahara Fuku menghela napas maklum.

"Memangnya apa yang kauberi pada Chuuya?" tanya ayah Chuuya pada istirnya yang hanya dijawab dengan senyum misterius.

.

.

.

Minggu pagi di apartemen Osamu. Pemuda itu sudah bangun sejak dua puluh menit lalu, tapi masih enggan meninggalkan ranjang. Ia duduk sambil membaca sebuah buku, sesekali (berkali-kali sebenarnya) melihat perempuan yang bergelung dalam selimut di sebelahnya.

Alaram dari jam di sebelah tempat tidur berbunyi. Dilihatnya jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Hei, kalau perempuan itu tidak bangun juga, mereka bisa terlambat memang, tapi biarlah. Sepertinya dia memang tipe orang yang susah dibangunkan.

Namun ternyata, suara dari bip bip, bip bip alaram jam bisa juga membangunkannya. Ia mulai menggeliat dan mengusap kedua mata yang masih tertutup.

"Sudah bangun?" Osamu bertanya.

"Selamat pagi, Dazai." Chuuya merespons dengan mata terpejam.

"Sekarang sudah siang, tahu." Osamu menutup bukunya. "Biasanya kau dibangunkan, ya?"

"Kemarin lewat jam tidurku." Ia membalikkan badan dan mengucek mata hingga sanggup membuka kedua kelopak yang menyembunyikan dua kelereng biru itu.

Dilihatnya sekitar dan langsung paham di mana dia berada. "Waw…." Sungguh tak bisa dipercaya, bagi Chuuya, semua yang terjadi semalam rasanya seperti mimpi saja. "Sulit dibayangkan aku sudah tidur dengan seorang cowok di usiaku yang sekarang. Ditambah lagi, itu denganmu."

"Yah, sekarang sapalah pasanganmu dengan ciuman selamat pagi,"

Chuuya duduk. Kemejanya yang kebesaran membuat leher sampai dadanya terbuka, memperlihatkan lingerie yang dia pakai. Yah, siapa sangka Chuuya menggunakan pakaian seperti itu di bawah kemeja yang dia pakai kemarin?

Chuuya mendekat dan mengecup pipi Osamu.

Pemuda itu mau protes tentu saja, tapi Chuuya menjitak kepalanya sebelum dia membuka mulut. "Sudah, itu saja."

Osamu cemberut. Dia meletakkan buku di meja sambil menggerutu. "Di antara kita berdua, memang kau yang beruntung, ya."

"Ha?"

"Iya, kau yang beruntung. Tidak semua perempuan menemukan laki-laki tampan yang lebih cerdas, menyenangkan, dewasa, dan lebih baik darinya dalam segalah hal."

Perkataan itu membuat Chuuya tersulut. "Hei, iapa bulang kau lebih baik dariku heh?"

"Dazai."

Chuuya diam, serasa mengalami déjà vu. Ia menarik napas. "Dengar ya. Kuharap kau tidak lupa kalau kaulah yang suka duluan padaku. Jadi, sudah pasti aku yang lebih baik," ia berkata dengan percaya diri.

"Iya, lebih baik dalam hal mengacuhkan orang, bicara kasar, serta melakukan kekerasan." Osmu menyahut.

Wajah Chuuya sudah memerah dan hampir melakukan kekerasan lagi, namun Osamu malah tertawa sambil mengacak rambut Chuuya. "Setidaknya kau manis sekali."

Chuuya menepis tangan pemda itu. Lalu, ditatapnya wajah Osamu cukup lama seolah berusaha mengenalinya lagi.

"Ada apa?" tanya Osamu.

"Mm…." Padahal dulu dia sangat tidak menyukai pengganggu ini. Tapi sekarang, "Sepertinya aku memang mulai mencintaimu," katanya. Tak ada tanda gurauan, bukan kebohongan.

Seketika Osamu lupa caranya bernapas. "Kau tahu, sepertinya aku harus ke kamar mandi." Setelah mengatakan itu, ia langsung keluar dari selimut dan pergi.

"Ap – hoi, Dazai!" Chuuya berusaha mengejar Osamu, tapi dia malah jatuh dari tempat tidur.

Osamu sudah tidak peduli. Di kamar mandi, dia membatin, kenapa dia jadi jujur sekali?

.

.

.

Kalau kalian belum tahu, sesungguhnya semua yang terjadi belakangan adalah perbuatan Fyodor. Yeah, sejak pemuda itu bertemu dengan Agatha secara tidak sengaja di perpustakaan kota setenggah tahun lalu, Fyodor sudah tertarik padanya. Namun, ketika dia mengungkapkan perasaan, Agatha malah menolak dengan alasan tidak masuk akal. Melihat mata Agatha yang selalu berbinar ketika bertemu dengannya membuat Fyodor tidak bisa percaya. Akhirnya, ia lelah mendengar alasan yang sama itu terus terucap, dan mulai membuat kesepakatan dengan Agatha.

"Kalau sudah ada orang lain untuk juniormu itu, kau jadi kekasihku," kata Fyodor waktu itu.

Agatha mengiyakannya. Namun, siapa sangka yang Fyodor lakukan adalah membujuk orang yang dikenalnya untuk kenalan dengan Chuuya?

Pada minggu pertama, dia menunjukkan profil seorang laki-laki dengan rambut hitam bernama Akutagawa Ryuunosuke. Namun, cowok itu langsung menolak ketika pertama kali bertemu dengan Chuuya, dan malah tergaet dengan siwsi polos bernama Nakajima Atsushi, yang tanpa diketahui juga suka dengan Akutagawa. Sekarang hubungan mereka berdua makin baik saja.

Pada minggu berikutnya, Fyodor menunjukkan Tachihara Michizou pada Agatha. Agak berandal, tapi sepertinya anak yang jujur. Hingga sekarang, dia masih mempertahankan cinta platonisnya pada Chuuya. "Pemuda yang malang, dia tidak tahu kapan harus menyerah," salah satu komentar jahat yang dilontarkan Fyodor.

Lalu, maniak bunuh diri bernama Dazai Osamu. Awalnya Agatha tidak setuju. Fyodor bilang Dazai Osamu adalah palyer dan mendengar hobinya yang ekstrem membuatnya ingin langsung mengatakan jangan. Namun, melihat Chuuya yang bebal itu, sepertinya bagaimanapun laki-laki yang diperlihatkan oleh Fyodor tidak akan membuahkan hasil yang jauh beda. Akhirnya, Agatha pun memperbolehkan Fyodor mempertemukan Chuuya dan Osamu.

Namun siapa sangka malah dialah yang berhasil mengambil hati Chuuya yang kecil dan rapuh—

Agatha menghela napas. Sekarang, dia sedang kencan dengan Fyodor di kafe tengah kota, menunggu pasangan itu datang. Dia senang akhirnya bisa dengan Fyodor, itu benar. Tapi jika demikian berarti Chuuya dengan Osamu, ceritanya beda lagi.

Sunguh, Agatha masih tidak bisa percaya. Sejak dengan pemuda itu, Chuuya berubah. Dia tidak lagi sedingin dulu, tidak lagi setertutup dulu, tidak lagi terlihat sekesepian dulu. Begitu juga Osamu. Fyodor bilang cowok itu sudah berhenti main perempuan. Luar biasa.

Tapi tetap saja dia khawatir.

"Aku sama sekali tidak mengerti, apa sih bagusnya Dazai-san. Apa yang dilihat Chuuya darinya?" Agatha bertanya pada Fyodor yang ada di sampingnya.

Fyodor meneguk minuman sebentar dan menaruh gelasnya kembali. "Kalau kautanya itu padaku, bisakah beri tahu apa bagusnya Nakahara Chuuya?"

"Setidaknya Chuuya berharga,"

"Dazai tidak berharga?"

"Bukan begitu maksud–" Agatha mendesah. "Fyodor-san, aku hanya mengkhawatirkannya."

"Sepertinya sudah berlebihan," Fyodor menanggapi.

"Aku tahu."

"Christie, kalau dia sampai menyakiti atau mencelakai Nakahara Chuuya, aku akan buat dia membayarnya." Fyodor menenangkan. "Merasa lebih baik?"

Agatga tersenyum kaku. "Terima kasih, aku hargai itu."

Tak lama, pintu kafe terbuka, dan subjek yang sejak tadi mereka tunggu akhirnya datang juga. Dazai Osamu, dengan begitu percaya diri memasuki kafe dan melayangkan pandangan ke seluruh sudut, menikmati tatapan gadis-gadis yang tertuju padanya.

Pemuda dengan manik ruby mengangkat tangannya sebagai sinyal pemanggil pada temannya.

Osamu balas tersenyum pada pasangan baru yang sedang menatapnya dengan cara berbeda. Pandangan Agatha padanya menunjukkan ketidaksukaan khas, sementara Fyodor, kalem seperti biasa.

Namun, ada satu hal yang salah. Kenapa Osamu hanya sendiri?

Osamu berjalan mendekat dan duduk di kursi berhadapan Fyodor.

"Yo, Dazai," sapa Fyodor.

"Selamat pagi kalian berdua,"

"Dazai-san, mana Chuuya?"

"Dia bilang ingin pergi sendiri. Keras kepala. Tidak usah kawatir, sebentar lagi juga datang. Lihat saja, satu… dua… tiga…."

Pintu terbuka lagi dan menampakkan Chuuya melenggang masuk.

"Sudah kubilang Tuan Putri datang sebentar lagi," Osamu nyengir.

Agatha menaikkan alis. Dia tidak tahu bagaimana Osamu melakukannya, jujur saja, itu menarik.

Agatha melambaikan tangan dan Chuuya langsung duduk di samping Osamu, berhadapan dengan Agatha. Dia memakai kalung dengan liontin huruf D yang diberikan Osamu seminggu lalu di taman hiburan.

"Senang kau sampai dengan selamat. Kau lama sekali. Aku sudah merindukanmu tahu." Osamu memeluknya singkat.

"Memangnya aku anak dua tahun! Lagian kita masih bersama sampai pagi tadi!"

Agatha tidak sengaja tersenyum melihat itu. Lalu, dia mengenalkan, "Chuuya, ini Fyodor."

"Senang beekenalan denganmu, Nakahara-kun," Fyodor mengembangkan senyum dan mengulurkan tangan. "Aku Fyodor Dostoyevsky."

Sebelum Chuuya menyambut uluran tangan itu, Osamu mendahuluinya menyalami Fyodor. "Maaf kawan, tapi sepertinya tangan Chuuya cukup sensitif." Osamu berkata dengan senyum yang dibuat-buat (seperti waktu dia senyum ke Mori, itu senyum apa sih namanya).

Chuuya memutar bola mata. "Kau berlebihan," ujarnya pada Osamu.

Fyodor tertawa. "Dazai memang selalu berlebihan. Semoga kaubetah dengannya,"

"Oh, dialah yang harus betah denganku." Chuuya melemparkan tatapan tajam pada Osamu yang dibalas dengan senyuman konyol, lalu kembali menatap Fyodor. "Yah, senang berkenalan dengan kau juga, Doso…"

"Kauboleh panggil Fyodor."

"Nah, itu lebih baik. Akhirnya kita kenalan juga Fyodor. Siapa sangka kau juga teman Dazai."

Osamu membelalak dengan dramatis. "Chuuya tidak adil! Kaubahkan tak memanggil namaku—"

Chuuya menginjak kaki Osamu.

"Lagipula, Fyodor bukan teman," Osamu mengoreksi.

Agatha mengernyit. Ada yang janggal dari kalimat Chuuya. "Chuuya, apa maksudmu akhirnya? Kaupernah bertemu dengan Fyodor-san?"

"Bertemu? Tidak. Aku hanya tahu dia adalah orang yang pernah bicara denganmu sepulang sekolah beberapa kali. Hehe, dunia sempit sekali ya, dia pacarmu, dan teman Dazai."

"Ah, begitulah," Fyodor tertawa lagi, dan Agatha ikut tertawa canggung. Chuuya dan Osamu saling pandang.

"Yah, mari lupakan itu. silahkan pesan sesuatu Chuuya, Fyodor yang baik akan mentraktir kita hari ini." Osamu berkata dengan nada ceria setelah pasangan di depannya mengakhiri tawa dengan helaan napas.

Yahooo. Lar datang (lagi) membawa kado natal UwU.

Ehhh, sebelumnya kuingatkan kalau aku memang suka menggunakan bahasa yang melebih-lebihkan ya.

So, sebenarnya, sebelum aku memutuskan untuk hiatus (yang baca sommelier pasti ngerti) epilog ini udah hampir jadi. Tapi, ternyata aku hiatus duluan sebelum ini selesai. Karena itulah, Semotif Afeksi pun ga keurus. Hehe, gomennasai ne.

Tapi, kemarin, aku dapat pencerahan(?) dari seorang teman. Lalu, mengingat kata Uechan, "Selesaikan yang telah kaumulai," sepertinya aku memang kudu mempublis epilognya.

Karena itulah, salah satu hari dalam masa hiatusku yang damai kugunakan untuk menyelesaikan Semotif Afeksi… sumpah aku sedang didamprat wb parah padahal.

Nah. Dengan ini, berarti dah lunas loh ya. Tahun depan aku dah bebas dong. Aku bisa pergi dari fic BSD dengan senang tanpa ada pertmupahan darah /apaan coba.

Yeah, keinginanku untuk keluar dari fic ini memang lebih besar tbh, sebab ada orang yang menggangguku di sini. Jadi, ini merupakan penutup.

Itu saja. Bay-bay~

.

buat yang ingin tahu kelanjutan dari Sommelier, haha, Anda berani bayar saya?

Omake

.

.

.

"Kouyou, aku tahu sekali adikmu tidak suka denganku." Agatha mengeluh ketika dia sudah tidak tahan dengan sikap adik Kouyou.

"Chuuya? Omong kosong." Sambil menulis jawaban di buku, Kouyou menanggapi.

"Aku serius. Sikapnya padaku buruk sekali."

"Itu karena kau belum mengenalnya. Tunggu sampai kalian beruda saling kenal."

Dia bahkan tak ingin kenalan denganku. Agatha berusaha membayangkan Nakahara Chuuya tersenyum padanya saja sulit sekali. "Aku ragu."

Kouyou tertawa. "Hei, omong-omong, boleh aku minta tolong satu hal?"

"Apa?"

"Kalau aku pergi nanti, kaujaga adikku, ya?"

"A-ap-apa?" Agatha tidak salah dengar? Menjaga Chuuya? Chuuya yang itu? "Kouyou, kau temanku, dan aku akan senang menolongmu. Tapi untuk apa pun yang berhubungan dengan adikmu… tidak."

"Ayolah, dia tidak seburuk itu."

"Seburuk itu, kalau menurutku." Agatha menghela napas. "Memangnya mau ke mana? Menghadiri pesta besar dengan ayahmu di luar kota lagi selama seminggu?" tanyanya. Ayah dari kakak-beradik ini memang lebih suka mengajak putri sulungnya ke acara seperti itu.

"Katakan saja begitu. Dia punya masalah komunikasi yang buruk sekali, aku jadi khawatir."

Memang sangat buruk. "Yah, akan kuusahakan. Tapi kalau dia sampai mencakar mataku, aku akan langsung jauh-jauh darinya, selamanya,"

"Terima kasih, Agatha! Kau memang selalu bisa diandalkan! Sekarang, ayo ambil kue di dapur."