Sulay Fanfiction Indonesia

Flying White Unicorn

Mirror Of Souls

(The Killers Series)

Kim Junmyeon

Zhang Yixing

e)(o

BxB

Yaoi

Many Typo(s)

Rate M

Various hell gates are open, demons are pouring out of them, we need your help!

..

Bau yang menyengat, beberapa tampak pejalan kaki dengan langkah sempoyongan berusaha menghindari rintikan hujan dan kilat- kilat yang tidak bersuara. Jeonghan tetap berjalan kedepan bersama mantel abu-abu yang membungkus tubuhnya. Dia menyeritkan hidungnya, bau kencing tikus bercampur aroma dari selokan memasuki hidungnya, menyematkan rambutnya yang berwarna coklat di belakang telinganya. Berusaha mencari suara yang dia cari.

" Hei anak muda! Hei kau anak muda! Beri aku uang." Jeonghan tidak memperdulikan suara yang keluar dari salah satu pemabuk tua yang berada di pinggiran jalan. Matanya terus menatap depan hingga sebuah bar kecil murahan.

Jeonghan membuka pintu bar berwarna mahogany, udara yang berasal dari dalam bar ini tampak tidak lebih baik dari bau kencing tikus di luar sana. Walau udara tengah dingin namun hidung sensitive Jeonghan dapat mencium bau keringat-keringat para pekerja tambang dan tuna wisma yang seperti telah melekat di dinding bar itu.

Mata kecil Jeonghan terus mencari, semua orang di dalam sana tidak memperdulikan kedatangan Jeonghan kecuali bartender di balik meja bar.

" Hei keluar sana jika kau tidak memiliki uang! Aku tidak melayani anak kecil kecuali kau memiliki uang." Perhatian Jeonghan akhirnya berpusat ke bartender dengan lengan penuh tattoo itu. Dengan tidak takut Jeonghan mendekatinya.

" Aku tidak akan minum apapun disini. Tapi aku akan memberimu uang jika kau memberikan apa yang kucari." Ucap Jeonghan menunjukkan sejumlah uang ke depan wajah bartender.

Tidak hanya Bartender yang mulai melihat uang ditangan Jeonghan, sejumlah para tuna wisma yang mabuk memusatkan perhatiannya ke Jeonghan.

" Apa yang kau cari?." Tanya Bartender

" Seseorang laki-laki dengan rambut abu-abu dan bermata anime."

" Apa yang kau maksud itu si pemuda pemarah?." Tanya salah satu tuna wisma

" Pemuda pemarah?." Ulang Jeonghan

" Ya belum lama ini anak laki-laki dengan ciri-ciri yang kau sebut itu mengamuk di depan jalan. Aku tidak tahu masalahnya hanya saja dia langsung mengeluarkan senjata dan aku cepat-cepat pergi dari sana."

" Dengan siapa dia berkelahi?."

" Laki-laki muda juga. Mereka saling berteriak tentang suatu perguruan atau kuil entah aku juga tidak mengerti."

" Dimana kau terakhir melihatnya?."

" Tidak perlu kau cari. Setiap malam dia akan menghabiskan minumannya di sudut sana." Ucap bartender menunjuk salah satu meja kumuh dengan pencahayaan sedikit.

" Dia selalu membayar lebih kepadaku. Awalnya aku tidak ingin memberitahumu tentangnya, hanya saja lelaki tua ini sangat serakah menginginkan uangmu."

" Ini bagi dua." Ucap Jeonghan meletakkan segepok uang di meja bartender dan terus menuju tempat yang ditunjuk Bartender tadi.

" Aku akan menunggu mu jika itu bisa menyelamatkan Triple Kim dan Yixing." Gumam Jeonghan mencoba memposisikan dirinya nyaman di atas tempat duduk kumuh itu.

.

.

.

Kyungsoo telah berganti baju, membiarkan Yixing memeriksa dan memilih senjata nya sendiri. Yixing sendiri tidak percaya dengan segala senjata yang di miliki Jae Jin. Dia telah bersiap untuk dirinya sendiri. Bahkan untuk kemungkinan dia akan dibenci dunia. Dia telah menyiapkan apapun yang diperlukan dirinya nanti.

" Aku sudah makan duluan tadi. Kau darimana?." Tanya Kyungsoo heran melihat penampilan Yixing yang seperti habis mengisir sebuah hutan.

" Mencari orang mati yang hidup lagi." Jawab Yixing

" Kim Jae Jin?." Kyungsoo merinding sendiri

Yixing menggeleng tanpa melihat Kyungsoo.

Apa yang mau kau pilih?." Tanya Kyungsoo mengalihkan pembicaraan, melihat Yixing masih asyik mengelus senjata.

" Aku belum memutuskannya. Mungkin aku hanya memerlukan sedikit senjata saja."

" Jika itu yang menjadi lawanmu hanya Sehun dan bandit-bandit lainnya." Kyungsoo menatap Yixing. Yixing membalas tatapan Kyungsoo, tahu apa yang dimaksud namja bermata bulat itu.

" Kalau pun dia memang masih ada di dunia ini. Aku yakin…"

" Ne aku yakin dia juga akan membunuhmu. Yixing apa kau ingat dulu ketika dia memang benar berniat membunuhmu?." Mau tidak mau Kyungsoo tidak bisa lepas dari topik Kim Jae Jin. Sebuah topic yang membuat tubuhnya merinding. Bahkan dia sendiri tidak mengenalnya secara langsung.

" Jika dia memang ingin membunuhku pastinya dia melesatkan apapun itu di jantungku." Ucap Yixing

" Maksudmu?."

" Kurasa dia tidak benar-benar berniat menghabisiku Kyung. Aku masih berpikir ada sebagian di diriku yang terus menjadi mimpi buruknya."

" Apa kau pikir mengumpan mu ke tiga pembunuh bayaran tidak termasuk niat dalam membunuh?." Ulang Kyungsoo

" Dia bisa membunuhku dari awal, tapi mengapa dia menunggu sampai semua berbelot dari dirinya?."

Kyungsoo diam, kata-kata Yixing memang benar. Kyungsoo sendiri bingung dengan Kim Jae Jin, misteri yang terbaik di dunia ini. Seseorang yang ingin membunuh putranya sendiri namun seperti terbuai asyik menghitung detik-detik kematian buruannya.

" Apa benar kau tadi tidak mencarinya?." Ulang Kyungsoo ngeri

" Tidak Kyung tidak." Kyungsoo percaya dengan mengangguk kepada Yixing

" Apa yang dia inginkan sebenarnya?." Tanya Kyungsoo lagi

Yixing menggeleng.

" Aku hanya punya dua dugaan. Satu dia ingin energi dalam diriku keluar atau dia ingin menghentikan energy itu."

" Energi?."

Yixing menggeleng lagi. " Aku juga tidak tahu Kyung. Tapi kuharap itu bukanlah sesuatu yang negative. Ku ambil ini, ayo kita harus kembali ke tempat kemarin lagi." Ucap Yixing menggengam sebuah busur.

" Terserah. Semua ini punyamu. Kembali kerumah itu? ke orang tua itu? berdiri saja dia susah! Apa yang dia punya?!."

.

.

.

Kyungsoo akhirnya menutup mulutnya dari ketakjuban yang di lihat di depan matanya. Dia memang hanya mendengar melalui cerita sebelum tidur dari Jongin. Cerita tentang pembunuh-pembunuh bayaran hebat selain triple Kim dan Jae Jin. Yang menjadi musuh mereka di dalam bisnis hitam ini. Kini lelaki tua yang semula di sepelekan Kyungsoo itu berhasil duduk di tengah para pembunun bayaran yang telah bersumpah membenci triple Kim dan Jae Jin seumur hidup mereka dengan sebuah misi yaitu menyelamatkan triple Kim.

" Yi-Yixing. Siapa pria tua ini?." Bisik Kyungsoo.

Yixing tidak menjawab hanya tersenyum kemudian matanya kembali menatap kedepan.

" Kita tidak mempunyai banyak waktu. Aku takut Junmyeon akan kehabisan darah." Ucap Yixing

" Tenang Yixing. Kita akan bertindak cepat. Sebelumnya untuk tidak ada terjadi salah menembak ada baiknya kita saling mengenal team." Ucap Master

" Aku Song Min Ho. Panggil aku Mino. Ingin ku sebut apa dirimu? Zhang? Kim?." Mata Mino menatap Yixing kagum bercampur lapar.

" Cukup panggil aku Yixing dan ini rekanku Kyungsoo." Ucap Yixing

" Aku Kim Jin Woo dan ini Zico. Benar-benar sebuah tawaran yang sangat berharga master."

" Apa kau menjual temanku?!." Ucap Kyungsoo berdiri menatap Master.

Zico tertawa bersama Mino. Menatap lucu Kyungsoo yang masih marah dan bingung.

" Aku tidak menjual siapapun. Bahkan Yixing tidak sangat bernilai untukkku. Aku tidak akan menjualnya. Yixing, mereka semua sama sepertimu. Murid yang telah kubukakan energy nya."

" Mereka tampak….sukses." ucap Yixing bingung harus memilih kata-kata apa.

" Haha. Aku senang kau akan menjadi team kami."

" Yixing?!." Dengking Kyungsoo

" Kyung. Kita tidak punya pilihan lagi. Apa kau ingin kehilangan Jongin untuk kedua kalinya?." Ucap Yixing

" Tapi bukan seperti ini juga mau ku." Ucap Kyungsoo

" Kita harus bergegas. Setiap menit nyawa mereka taruhannya."

Master mengangguk. " Kuharap setelah ini kau akan mematuhi segala yang ku katakan Yixing."

Yixing mengangguk. " Asal kau berjanji akan menyelamatkan mereka hidup-hidup."

" Tentu."

" Sekarang."

.

.

.

" Tikus."

" Apa maumu?."

" Kau kira aku kemari duduk di tempat seperti ini hanya karena rindu denganmu?."

" Lalu apa maumu."

" Selamatkan Triple Kim."

" Ha!. Kalau begitu kau datang untuk sia-sia."

" Demi Yixing?."

Lelaki dengan rambut abu-abu dan mata anime itu menatap pria cantik di depannya. Memang cantik tapi tidak mempesona baginya seperti nama yang baru disebutkan. Yixing. Lelaki yang terus hanya berani dia pandangi dari belakang. Karena laki-laki itu tidak pernah menatapnya seperti dia menatap hujan ataupun salju yang turun karena rindu.

" Apa kau tega akan membiarkan Yixing menyelamatkan mereka sendirian? Apa kau rela membiarkan Yixing…"

" Untuk apa aku harus membantu Yixing."

" Taeyong! Berhenti bersikap layaknya kau seorang fans triple Kim. Kau bisa membohongi mereka tapi tidak denganku. Aku tahu perasaan itu. kau tidak bisa membohongi orang yang juga pernah berada di posisi yang sama denganmu." Jeonghan menundukkan wajahnya, mengelap air mata yang turun di matanya.

" Kau tahu ingatan apa yang paling membahagiakan untukku? Ketika Junmyeon kesal karena aku menyukai Yixing. Ne kau benar, aku tidak benar-benar menyukai Yixing. Aku hanya ingin reaksi dari Junmyeon. Tapi dia hanya menganggapku sebagai adik. Aku mulai marah dengan diriku sendiri, hingga aku sadar."

" Sadar?."

" Ne aku sadar. Aku tidak perlu marah dengan siapapun. Karna yang terpenting adalah Junmyeon menyayangiku, apapun itu bentuk perasaannya. Aku sangat takut kehilangan perasaan itu."

" Kenapa kau tidak memperjuangkan perasaanmu?."

" Untuk apa? Jika aku sudah bahagia melihatnya bersama Yixing. Aku hanya perlu melanjutkan hidupku dan membagi perasaan cintaku dengan orang lain. Hidup ini tidak sesulit yang orang-orang pikir."

Taeyong diam memegang erat gelas dengan bir kualitas buruk. Jeonghan benar, untuk apa dia membebani dirinya sendiri. Bahkan Yixing tidak tahu akan perasaannya. Bukannya selama ini dia telah melakukan suatu perbuatan sia-sia. Bukannnya dia juga menikmati perjuangan Yixing untuk bersama Junmyeon? Lalu untuk apa dia menyiksa dirinya untuk hal seperti ini.

" Aku kehabisan senjata. Aku akan pergi denganmu jika aku mendapatkan senjata terbaik untukku."

Jeonghan memandang Taeyong bahagia, dia tahu bahwa perjuangannya di tempat kumuh itu akan membuahkan hasil.

" Kami punya gudang senjata. Kau bisa mendapatkan apa yang kau mau disana."

" Hanya kita berdua?."

" Aku sudah menghubungi dua orang lagi untuk membantu."

" Teman kuliahmu? Atau pacar mu?." Tanya Taeyong meremehkan

" Tidak. Mereka anak buah Kris dulunya orang yang pernah mencoba membunuh Triple Kim. Chanyeol dan Baekhyun."

" Wah tak kusangka kau memiliki teman yang superior."

.

.

.

Busur yang sejak tadi dipegang Yixing kencang hingga jari-jarinya memutih menjadi tanda bahwa Yixing tengah gugup saat ini. Yixing tidak takut dengan apa yang akan dia hadapi. Dia telah memperkirakan bahwa bala bantuan yang dibawanya untuk Triple Kim pasti mampu menembus pertahanan Sehun Cs. Namun seluruh pikiran berpusat kepada nyawa Junmyeon. Junmyeon telah tertembak mungkin saja kini darah yang terus menetes bisa membuatnya mati kehabisan darah.

" Apa kau bisa lebih cepat lagi?." Tanya Yixing

" Ini sudah laju. Tenanglah, aku tahu triple Kim. Mereka seperti kucing dalam bentuk serigala. Lebih dari sembilan nyawa yang mereka miliki." Ucap Zico

Yixing tidak memperdulikan perkataan Zico. Ingin hatinya meloncat dari dalam mobil itu dan terus berlari menuju tempat Sehun.

Kyungsoo tidak berada dalam satu mobil dengan Yixing, dia memilih mengawasi Mino, pembunuh yang pernah diceritakan Jongin membunuh hanya dengan benang jahit.

" Kenapa kau terus menatapku?."

" Aku tidak menatapmu." Ulang Kyungsoo. Mino tertawa.

" Kau terlalu imut untuk berada dalam kegelapan ini. Apa yang membawamu kesini?." Tanya Mino

" Bukan apa-apa. Dan aku tidak imut."

" Jongdae? Jongin? Oh kurasa Jongin." ucap Mino

" Darimana kau tahu."

" Karena Jongdae telah dimiliki Minseok. Dulu Minseok satu angkatan denganku haha jika kau bisa sebut ini seperti sebuah perguruan. Sebelum dia kini setia kepada triple Kim. Minseok, Yixing dan kau. Semua sama menghabiskan segalanya untuk satu kata CINTA."

" Apa kau membenci hal itu?." Kyungsoo mengepalkan tangannya, bukan karena kesal melainkan dia mulai merasakan apa itu takut.

" Tidak honey. Aku tidak membenci kebodohan itu. aku hanya benci triple Kim dan gurunya."

Kyungsoo memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraannya lagi, bagaimana Yixing bisa yakin manusia-manusia ini akan membantu dirinya, sedangkan keinginan mereka hanya memusnakan Triple Kim. Apa akan ada aksi-aksi pengkhianatan lainnya lagi? Sungguh Kyungsoo sendiri sudah tidak sanggup memikirkannya.

" Satu belokan lagi." Smirk Mino menghiasi wajahnya.

.

.

.

Langit di atas kota Seoul yang penuh dengan pencakar langit sejak pagi tadi telah mendung basah. Halte-halte bus dipenuhi dengan orang yang singgah untuk menunggu bus nya dan menunggu rintik hujan selesai. Angin bertiup kencang menerbangkan coat panjang milik pria berbadan tinggi besar yang tidak ikut berteduh di dalam halte bis. Mulutnya sibuk mengunyah permen karet rasa mint. Kakinya sibuk memainkan genangan air yang menetes dari pinggiran topi hitamnya.

" Berhenti bermain seperti anak kecil." Seorang pria kecil datang membawa dua gelas kopi dengan rasa yang sama dan ukuran yang sama. Tangannya mengulurkan segelas kopi panas yang asapnya mengepul di balik rintikan hujan.

Tangannya tidak bersambut, si pria dengan badan lebih besar memilih menarik gelas kopi yang sudah setengah di minum si kecil.

" Hei itu punyaku."

" Jadikan gelas itu milikmu dulu baru aku akan meminumnya." Ucap pria tinggi tersenyum sedikit.

" Kau memang seperti anak kecil Park Chanyeol, tidak pernah berubah."

" Ya memang. Aku tidak akan pernah berubah Byun Baekhyun. Bagaimana apa sudah ada informasi dari Jeonghan?." Tanya Chanyeol mengembalikan gelas kopi kepada Baekhyun

" Um.. Kenapa kau selalu menanyakan laki-laki cantik itu."

" Tidak ada yang lebih cantik selainmu. Aku hanya menanyakan kabar Yixing."

" Ne-Ne aku tahu. Belum, hanya saja aku rasa lebih baik kita mempersiapkannya malam ini juga untuk menyerang. Kau tahu bukan Kris bukan seseorang yang senang bermain lama."

" Lagi-lagi triple Kim harus berhutang nyawa mereka pada kita."

" Ya andai setelah malam ini nyawa kita masih ada." Baekhyun meninggalkan Chanyeol untuk segera naik ke dalam bus yang baru saja tiba.

Di dalam bus Chanyeol mengambil tempat duduk dibelakang Baekhyun. Mulutnya meniup-niupkan rambut halus Baekhyun dan si empunya rambut nampak senang dengan kegiatan itu.

Ting!

" Jeonghan…" Bisik Baekhyun. Chanyeol merapatkan wajahnya dibalik pundak Baekhyun membaca pesan singkat dari Jeonghan.

Kurasa Yixing akan bertindak sendiri. Kumohon kalian untuk segera tiba.

.

.

.

Tidak menunggu sampai Mino memberi aba-aba kepada Kyungsoo, dia telah turun dari mobil itu untuk menuju mobil Yixing. Yixing yang baru keluar langsung ditariknya dengan keras.

" Apa lagi Kyung?." Bisik Yixing pelan. Semua mata para pembunuh mengikuti Yixing dan Kyungsoo dengan tatapan dingin

" Apa lagi?. Kau lihat mereka semua? Entah bantuan apa yang akan mereka berikan. Tapi sebelum kita benar-benar masuk ke dalam sana. Aku ingin bertanya kepadamu. Apa kau benar-benar yakin?."

Yixing menatap dalam mata Kyungsoo. Mata yang masih dengan tajam dan tidak berkedip melihatnya terus.

" Aku yakin apapun itu jika bisa menyelamatkan mereka." Ucap Yixing tegas

" Dan kau?." Tanya Kyungsoo lagi mengeratkan tangannya agar Yixing tidak pergi sebelum menjawab pertanyaannya.

" Kau percaya denganku Kyung?." Tanya Yixing. Kyungsoo mengangguk tanpa ragu.

" Setelah banyak yang kita lalui bersama? Aku selalu mempercayaimu Yixing. Selamanya."

Yixing membalas genggaman Kyungsoo erat. Dia tahu saat ini yang terpenting bukanlah berapa banyak jumlah sekutu yang dibawanya. Melainkan kepercayaan Kyungsoo agar melancarkan semua ini. Triple Kim harus bebas dan selamat. Apapun itu resikonya.

TBC

Holaaaa…. Mianhe… terlalu lama tidak lanjutin T_T