Title : MISSING YOU

Author : Sulis Kim

M,cast Kim Jaejoong

Jung Yunho

Hankyung

Kim Heechul

Rate : M

Genre : Scool, Family, Romance.

WARNING

GS for uke,jika tidak suka jangan di baca. Author cinta damai. NO bash. Ini cerita milik saya sendiri, jika ada kesamaan cerita atau lainya. Mungkin kebelunan. Karna cerita yang saya buat pasaran.

Menerima masukan yang membangun.

Happy reading ...!

" Apa kau yakin, tidak ingin masuk bersama?" tanya Hankyung, menempikan mobilnya sekitar seratus meter dari sekolahan.

Jaejoong menarik tas selempangnya, tersenyum kearah sang kakak. " Aku tidak mau membuat seisi sekolah pingsan mengetahui kita berangkat bersama, apa lagi sampai mereka tahu kita bersaudara?" sambil melepaskan sabuk pengaman Jaejoong sekali lagi melirik kaca kiri kanan.

Hankyung menarik lengan Jaejoong, membuat sang empu berbutar menatapnya tajam. " Oppa, kita sudah membicarakan ini semalam. Tidak ada seseorangpun yang akan mengetahui kita bersaudara sampai hari kelulusanmu. Aku hanya ingin berusaha sendiri dengan beasiswa, bahwa aku bisa melakukan sesuatu sendirian. Jangan lupa, aku sudah menurutimu dengan tidak bekerja dan hari ini aku akan ketempat Hyunjoon oppa menjelaskan semuanya, dan juga loper koran ,Seven eleven ,toko buku..."

Hankyung menarik Jaejoong kedalam pelukanya, mendekapnya erat. Ya, Tuhan betapa keras kehidupan yang di jalani adiknya selama ini. Ia telah menelantarkan Jaejoong selama dua belas tahun, dan tidak berusaha lebih keras untuk menemukanya. " Maafkan aku, mulai saat ini aku akan menjagamu, tidak akan membuatmu merasa sendirian dan aku akan selalu ada untukmu." pelukan itu begitu erat sampai Jaejoong kesusahan untuk sekedar bernafas. Namun ia tidak mengatakan apapun selain memeluk kakaknya, ya Hankyung adalah kakaknya, selamanya adalah miliknya.

Jaejoong tersenyum melirik jam tangan di atas dasbor " Oppa sepuluh menit lagi bell masuk, aku tidak mau dihukum untuk kesekian kalia membersihkan toilet, jadi,..." ia mendorong sang kakak." kumohon lepaskan aku, kau bisa memelukku sepuasmu ketika kita dirumah."

Hankyung tertawa, sudah sangat lama ia tidak merasakan kehangatan seperti ini, seakan beban di pundaknya telah di ambil dengan mudah dengan kehadiran Jaejoong, seharusnya ia bertindak lebih cepat menyelidiki Jaejoong bukan menunggu munculnya kemiripan dari gadis kecilnya ini. Untuk terakhir kalinya ia mencium kening Jaejoong dan mendorongnya keluar. " Pulang sekolah tunggu aku disini."

" Ani, aku akan kerumah mengabil beberapa barang dan ke restoran untuk berpamitan pada Hyunjoong oppa. Jangan tunggu aku."

Jaejoong sudah berlari ketika Hankyung akan berkatan. Lihatlah gadis kecilnya sudah tumbuh dewasa dan begitu menawan. Sial ia harus menjauhkan Jaejoong dari Yunho, pria itu harus berhadapan denganya terlebih dulu jika berani memperlakukan Jaejoong semaunya sendiri.

Yunho duduk tenang di dalam mobil di tempat parkir yang menghadap pintu gerbang. Memang cukup Jauh jarak antara pintu gerbang dengan tempat parkir, tapi setidaknya

Ia akan melihat Jaejoong meski dalam kerumunan para murid lainya, dan satu lagi kebiasaan gadis itu, masuk lima menit sebelum bell berbunyi.

Mobil sport Hankyung memasuki gerbang dan tidak lama kemudian Jaejoong berlari seperti biasa dengan kecepatan yang memang hebat. Yunho buru buru keluar dari mobil dan berlari kearah yang sama yang di tuju gadis itu.

Tubuh Jaejoong mungil ramping dan lekukan pas di setiap tempat mengingat gadis itu masih berumur tujuh belas tahun kalau tidak salah. Namun Jaejoong memikiki lekukan tubuh bak gadis umur dua puluhan dengan tonjolan pas di tempatnya.

Sial bahkan wanita wanita klub yang pernah Yunho tiduri tidak semenggoda Jaejoong. Yunho tidak perlu menggoda karena wanita wanita di klub dengan senang hati menawarkan ranjang mereka dengan suka hati untuknya. Tetapi mengapa gadis satu ini tidak tertarik padanya, Jaejoong seakan tidak melihat ketampanan Yunho dan jangan lupa kekayaan dan kepopuleranya melebihi artis yang sedang naik daun. Baiklah anggap dia terlalu percaya diri, namun itu kenyataan bahwa para gadis memujanya kecuali Kim Jaejoong.

Ia berhenti tepat di Samping Jaejoong yang menunggu lift. " Morning." sapanya sekedar berbasa basi. Ia tidak tahu apa yang akan ia tanyakan pada Jaejoong, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Jung Yunho tertarik bahkan kesulitan mencari obrolan untuk berbicara pada seorang gadis.

Pintu lift terbuka dan mereka masuk, sudah menjadi kebiasaan jika murid kelas exkslusif selalu di utamakan. Murid murid yang lain berbisik bisik dan histeris bangga melihat Yunho dengan jarak kurang dari satu meter.

Ini memang untuk pertama kalinya Yunho menggunakan lift yang biasa dan memang kebetulan jaraknya agak jauh dari kelas ekslusif.

" Kalian bisa bergabung, sebentar lagi kelas akan segera di mulai."

Jaejoong berdecak pelan, melihat keantusiaan para gadis untuk berdekatan dengan pria arogan seperti Yunho. Ia memutar bola mata saat melihat para gadis berebut berdiri di kedua sisi Yunho. " Jae, kenapa? Masih muat jika kau ingin bergabung dengan kami."

Jaejoong dapat melihat serigai dari bibir Yunho, dan namja itu tersenyum arogan." Tidak, terimakasih kalian duluan." ucapnya acuh. Jaejoong merasakan gerah melihat para yeoja ganjen itu berebut mencari perhatian Yunho. Dasar namja sok tampan.

Oh, dan mengapa juga ia merada tidak nyaman dengan owmandangan yang bukan pertama kali ini ia lihat.

Pintu lift sudah akan tertutup ketika Hankyung menekan tombol dan melenggang masuk sambil menarik lengan Jaejoong. " Kau akan telat, dan membersihkan toilet bukanlah hukuman yang kau sukai, bukan begitu, Jaejongie? " ucapnya Hankyung sambil tersenyum manis ke arah Jaejoong. Mengabaikan Yunho yang mendelik kearahnya.

" Tentu tidak, Sunbae." jawab Jaejoong membalas senyum Hankyung, dengan senyumannya yang paling manis, ia berdiri di sebelah kiri Hankyung dan Yunho desebelah Hankyung lainnya.

Lift yang biasanya berjalan cepat seakan melambat. Otot rahang Yunho begitu menojol saat matanya menangkap senyum Jaejoong untuk Hankyung dan delikan mata untuknya. Berani beraninya gadis itu ...

Ting. Lift berhenti di lantai tiga, kelas murid beasiwa. " Apa aku perlu mengantarmu ke kelas Jaejoongie, siapa tau di tengah jalan ada namja kurang ajar yang akan menggodamu."

Jaejoong tertawa mendengar kata kata Hankyung. " Terimakasih Sunbae, tapi aku bisa menghadapi mereka sendirian."

Hankyung mengangkat tangan kananya dan mengacak rabut Jaejoong. " Hati hati..." Jaejoong berlari keluar dan menegok sebentar untuk melambai ke arah Hankyung dan menjulurkan lidah kearah Yunho. Dan murid murid lainpun keluar bersamaan.

Pintu lift kembali tertutup dan tinggalah mereka berdua di dalam lift mengantar mereka sampai di lantai ekskusif.

Yunho berkata." Tolonglah jangan berlebihan , Hyung. Kelas Jaejoong beberapa meter dari ..."

" Tetap saja aku mengkhawatirkanya. Kau lihat dia begitu Cantik dan mempesona , mungkin aku harus ke dokter untuk memeriksa apakah aku terkena diabetes, karena senyumanya bagitu manis. Bukan begitu menurutmu?" mengabaikan delikan Yunhi ia menambahkan. "Atau obat anti diabetes, kau tahu, bukan tidak ayal ia akan selalu tersenyum di hadapanku. Apa kau tidak merasa kalau dia benar benar cantik?"

Tanpa sadar Yunho tersenyum. " Ya."

" Ya." Alis Hankyung terangkat. " Kau menyukainya."

Yunho semakin tersenyum lebar sampai memperlihatkan giginya yang putih. Ia sudah membuka mulut untuk menjawab ketika melihat serigai Hankyung yang menyebalkan. " Bukan urusanmu." pintu lift terbuka dan ia melenggang keluar.

Sial , seharusnya Yunho tahu Hankyung menggodanya, ia telah termakan jebakan namja itu dan hanya Tuhan yang tahu apa yang Hankyung pikirkan. Bahkan, Yunho bisa mendengar suara tawa Hankyung mengikutinya di belakang.

.

.

.

Hari sudah gelap ketika Jaejoong keluar dari restoran Hyunjoong. Ia menghembuskan nafas lelah, Jaejoong ingat ekspresi Hyunjoong ketika ia mengatakan akan berhenti. Mata pria itu terbelalak, dan dan terluka, setelah mendengar cerita Jaejoong. " Berarti kita tidak akan bertemu lagi."

Oh, bagaimana dia tidak melihat luka, kesedihan di mata pria itu . Jaejoong bukan gadis bodoh untuk mengartikanya sorot mata pria itu, ia tau Hyunjoong masih menyukainya, meski sudah sekian kali ia tolak secara halus."Aku akan datang mengunungimu." dan Hyunjoongpun tersenyum.

Hari ini cukup melelahkan bagi Jaejoong, berkeliling , di mulai dari loper koran sampai restoran. Atas kehendak kakaknya yang bersikeras agar ia tinggal bersama, dan tidak bisa ia menolak keinginan Hankyung, tidak akan pernah bisa! Dan tidak akan.

Hankyung menginginkanya berhenti bekerja, Jaejoong harus merelakan gaji beberapa hari, sebagai denda karena mengundurkan diri tiba tiba yang mengharuskan mereka mencari pegawai baru.

Tidak, ia tidak menyesalinya. Ini kesempatan yang bagus untuk memperbaiki hubungan mereka yang selama ini kurang baik, Hankyung sudah berubah, dan Jaejoong tau itu.

Ia melirik Jam tangan di pergelangan tanganya. Jam sembilan, ia harus bergegas pulang, kerumah Hankyung, rumah mereka. Ia sudah akan berlari mengejar bis yang berhenti di halte tidak jauh di depan sana, ketika mobil yang ia kenali berhenti di sampingnya, mobil Jung Yunho.

" Masuklah." pria itu membuka kaca depan tanpa menatap Jaejoong.

Pria itu benar benar menyebalkan.

" Kenapa?"

" Aku bilang masuk."

" Kenapa aku harus masuk?" Jaejoong tetap bersikukuh. Bagaimana bisa pria itu tiba tiba muncul dan menyuruhnya masuk tanpa alasan dan sebab kenapa ia harus ikut dengan namja kaku sedingin es seperti Jung Yunho.

" Karena aku yang menyuruhmu,"

Jaejoong tetap bergeming menatap Yunho dengan wajah tanpa ekspresi.

" Masuk, atau aku akan ..."

Blam... Pintu mobil tertutup cukup keras ketika Jaejoong menghempaskan tubuhnya sambil menggerutu di sebelah Yunho.

Yunho mengulum senyum, melajukan mobilnya menembus malam. Mereka duduk diam tanpa ada niat untuk berbicara. Dan Jaejoong menatap lampu lampu jalan yang mereka lewati.

" Aku lapar,"

Alis Jaejoong tertarik keatas, menatap Yunho heran. " Lalu."

" Kita berhenti di restoran depan, disana ada Teoboki kesukaanku dan kau harus mencoba , sangat enak."

Bibir jaejoong melengkung keatas, entah mengapa ia merasa lucu melihat wajah Yunho yang dengan semangat membicarakan sesuatu yang disukainya. " Kenapa aku harus menemanimu?"

Sial, Yunho tidak tahu mengapa? Dan kenapa? Ia hanya terlalu lama menunggu Jaejoong , hingga lupa waktu bahkan Yunho sudah mengikuti Jaejoong ketika gadis itu keluar dari Shinki, dan ide itu muncul ketika Jaejoong duduk di sampingnya.

Ia berdeham " Anggap saja permintaan maafmu karena kemaren kau membuat tulang punggungku sakit, dan ..." Yunho mengeraskan suaranya ketika melihat Jaejoong akan menyela. " Kata dokter bisa saja tulangku retak."

" Dan belum retak. Demi Tuhan, aku hanya mendorongmu... Baiklah menjatuhkanmu sekali. Tidak mungkin menghancurkan tulangmu." geram Jaejoong tak habis pikir. Retak, ia pernah berkelahi dan babak belur ketika menolong seorang ibu ibu yang di jambret dan ia baik baik saja.

" Kau harus menemaniku, aku bahkan melupakan makan siangku, karena menunggumu." Yunho mempoutkan bibirnya.

Jaejoong memutar bola mata." Aku tidak menyuruhmu menungguku, dan kenapa kau menungguku?"

Kenapa? Ia sendiri tidak tahu, Yunho hanya merasa ingin dekat dengan yeoja keras kepala ini. Tetapi ia tidak mungkin mengatakanya, egonya terlalu tinggi.

" Berhenti dengan kenapa, Dan mengapamu itu, kau harus menemaniku atau kau harus menemaniku ke dokter lebih dulu untuk memastikan kesehatanku dengan begitu kau bisa memutuskan mau menemaniku atau tidak."

Brengsek. Pria menyebalkan ini selalu punya jawaban untuk segala pertanyaanya. " Aku tidak punya waktu sebanyak itu untuk selalu mengikutimu, jadi akan lebih baik cepat berhenti di restoran manapun setelah itu makan sepuasmu dan antarkam aku pulang. Ya Tuhan, kau tidak berniat aku harus membayarnya, bukan?" Jaejoong hanya mempunyai beberapa lembar uang sisa pembayaran bulanan listrik dan itu tidak akan cukup untuk segelas Jus di restoran yang pastinya akan di tuju pria es itu.

Senyum Yunho secerah cahaya pagi, menyilaukan sampai Jaejoong tercekat di buatnya. Ada apa denganya, ini pertama kalinya Jaejoong melihat senyuman tuluds namja es ini.

" Tentu saja, mana mungkin aku membiarkan yeoja yang pergi bersamaku melakukan itu."

" Ck... Dan aku bukan Go Ahra, yang akan menghabiskan isi dompetku."

Yunho terkesiap. Bagaimana Jaejoong mengetahui tentang yeoja itu. Apakah Ahra mencari masalah dengan Jaejoong. Yunho mengeratkan genggamanya dia kemudi semakin erat. " Bagaimana kau bisa tahu?"

Jaejoong mebatap Yunho heran. " Tau apa?"

" Tentang Yeoja itu."

Oh, jadi . " Ahra, maksudmu." tanpa menunggu jawaban Yunho Jaejoong menambahkan. " Seluruh sekolahan tau tentangmu dan Ahra, yeoja itu begitu bangga menjadi kekasihmu hingga memastikan tidak ada Yoeja lain yang mendekatimu."

Sesuatu yang tidak di ketahui Yunho, tentang Jaejoong yang ternyata gadis itu suka bergosip. Seakan mengetahui jalan pikiran Yunho Jaejoong berkata. " Jangan salah paham. Aku mendengar itu dari Junsu."

Yunho tidak berkata kata lagi begitu juga Jaejoong. Lima menit kemudian Yunho menepikan mobilnya dan berhenti di restoran di pinggiran jalan. Jaejoong melirik keluar dan menggeryit. Restoran ini tidak cukup besar namun tidak cukup kecil karena masih terletak di kawasan elit, dan bisa di pastikan para pengunjung tidak hanya dari kalangan menengah atas.

" Kita sudah sampai." ucap Yunho.

Sejak kapan namja itu keluar dan berada di sisi lain mobil,dan membuka pintu sebelah untuk Jaejoong.

"Kau sering kesini?" Jaejoong melompat keluar dengan gesit.

Yunho menutup kembali pintu mobil kemudian menuntun Jaejoong masuk melalui loby yang lumayan rame. "Ya, kami sering kesini?"

"Kami?"

Seorang pelayan manyambut kedatangan mereka dan menunjukkan kursi yang kosong.

"Trimakasih" kata Jaejoong pada pelayan itu. Ia mendudukan diri di kursi sebelum Yunho sempat menarik kursi itu untuknya.

Dasar! Wanita yang aneh. Pikir Yunho. Selama ia berkencan dengan banyak gadis, baru kali ini dia di abaikan.

Kencan? Apakah ini bisa di namakan kencan? Ia terenyum sendiri.

"Yunho kau belum menjawab pertanyaanku."

Yunho menarik kursi untuk dirinya sendiri.

"Hm...aku dan teman temanku, kau tau bukan? Siapa mereka ."

"Akh, Hankyung Oppa juga yang lain?"

Yunho mengeryitkan dahi, ia berhenti menatap Jaejoong yang duduk di hadapanya. "Oppa?"

Jaejoong masih memperhatikan dekorasi restoran itu, ia tidak menyadari ekapresi jengah dari wajah Yunho. "Dan kau tidak memanggilku Oppa?"

"Kenapa juga aku harus memanggilmu oppa? Sun,,bae,,nim" sahut Jaejoong penuh penekanan di akhir kalimat.

"Panggil aku Oppa."

"Dalam mimpimu," Jaejoong mengibaskan tanganya, dan menerima sebuah menu yang di ulurkan pelayan. Kemudian Jaejoong menambahkan "Kau tidak memintaku untuk menghormatimu, bukan? Setelah apa yang kau lakukan padaku selama ini" Gadis itu menutup menu dengan keras.

Kemudian ia berbalik pada pelayan. "Beri aku apapun masakan dari restoran ini yang paling enak, Trimakasih"

Yunho tak kalah sengit menutup menunya. "Aku juga."

Keduanya saling melempar tatapan sengit setelah pelayan undur diri.

Jaejoong tertegun menatap mata musang milik Yunho. Ia tidak pernah memperhatikan mata hitam kelam yang seakan perlahan menyedot jiwanya. Mata itu berbinar dengan gelisah, Jaejoong tidak bisa menilai tatapan itu, mata hitam Yunho bergerak gelisah mirip seperti mata Hankyung ketika ia membuat kesalahan dan membuatnya marah.

Marah? Apakah laki laki itu marah padanya? Mengapa?

Sesuatu dalam dada Jaejoong melonjak gelisah. Ia gugup dan mulai tidak tenang memandang mata setajam musang itu, bukan! Ia tidak takut dengan Yunho, akan tetapi ada sesuatu yang aneh dalam tatapan itu yang tidak ia kenali. Tapi ia tidak tahu apa?

"Yunho aku..."

Apapun yang akan di ucapkan Jaejoong tepotong oleh kehadiran seseorang.

"Kim Jaejoong apa yang kau lakukan disini," Suara cempreng seorang Yeoja mengagetkan Jaejoong.

Gadis itu berdiri di belakang Yunho. Jaejoong mengerjapkan mata besarnya. Apa ia salah lihat, bagaimana gadis itu juga disini.

Yunho menoleh lewat bahunya dan terbelalak, melihat sahabatnya berdiri disana dengan jemarinya menggenggam tangan seorang Yeoja.

" Yunho Sunbae,,, kalian... Jangan katakan pada kami kalau kalian berkencan." gadis itu menutup mulutnya histeris.

Jaejoong dan Yunho duduk tegak di kursinya. Sial seharusnya Jaejoong sadar sejak Yunho mengatakan teman temanya sering kesini, dan kemungkinan besar salah satu temanya juga disini, tapi ia tidak menyangka jika sahabatnya, maksudnya sahabat yang baru di kenalnya itu juga ada disini dan bergandengan tangan dengan.

"Yoochun Hyung," panggil namja lain dari belakang Jaejoong, menatap Yoochun yang tiba tiba berdiri tegak di belakang Yunho.

Dengan gesit Jaejoong memutar tubuhnya dan melihat dua namja berdiri disana.

. "Oh, Jaejoong nuna, kau juga disini." Ucapnya ia sudah membuka mulut untuk berkata namun ia malah melonggo melihat siapa gerangan namja yang duduk di sebrang meja di hadapan Jaejoong.

Jung Yunho duduk tegak dengan menu menutupi wajahnya untuk menghalang para sahabatnya mengenali siapa dirinya. Namun telat! Mereka jelas mengenali sang Leader mereka.

"Tidak usah bersembunyi dude, aku mengenalimu meskipun kau bersembunyi di dalam karung goni." Yoochun menepuk pundak Yunho.

Yunho menampik tangan Yoochun," Dan aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu." geramnya. Ia mengalihkan tatapan tajamnya ke arah dua namja yang sekarang sudah berditi di kedua sisi Jaejoong.

"Dan kalian berdua, Shim Changmin Choi Siwon apa yang kalian lakukan?"

" Kami."kata Changmin berlagak histeris, "Apa yang kita lakukan disini Hyung?"

" Aku yakinkan kau Chwang, kita tidak sedang berkencan." kata Siwon ngawur.

Yunho dan Yoochun mendelik kearah Siwon. Namun ia abaikan, "Aku rasa kita akan bergabung dengan kalian. Jaejoong kau tidak keberatan bukan?" tanya Siwon, mengabaikan tatapan tajam yang di tunjukan Yunho.

"Tentu saja, aku akan sangat senang jika kalian semua bergabung."

Changmin sudah menyeret kursi yang entah dari mana dan duduk nyaman di samping Jaejoong ketika pelayan datang dengan pesanan mereka. " Akh dan kau nuna cantik..." mengabaikan Yunho yang semakin geram, Changmin memanggil kembali si pelayan. " Tolong kau tambahkan beberapa hidangan lain kemeja ini, karena kami juga akan duduk disini."

Kemudian ia menatap Yunho dengan senyum polosnya. "Berbaik hatilah Hyung, sudah tidak ada meja kosong lain lagi, dan disini ada dua kursi kosong kau hanya perlu menambahkan dua kursi lagi untuk Yoochun dan teman kencanya."

" Ka...kami tidak berkencan." sahut Junsu gugup yang sejak tadi berdiam diri di samping Yoochun.

"Kalau aku tidak salah lihat jemari kalian saling melekat, jangan katakan kalau mataku sudah rabun..." sindir Yunho melirik Yoochun.

Untuk pertama kali dalam hidup para sahabatnya itu ia melihat Yoochun merona. "Ya kami memang berkencan," jawab Yoochun tidak kalah gugup dari junsu.

" Dan kau bung, apa yang kau lakukan dengan Jaejoong sisini?" Yoochun menyipitkan mata. "Ber...du...a...an denganya jangan katakan kalian mengadakan taruhan yang kami tidak tahu."

"Karena kami tidak akan percaya." sahut Siwon yang tersenyum manis kearah Jaejoong.

Wajah Jaejoong merona,ia gugup dan menatap Yunho. Namja itu masih berdiam diri dengan lima pasang mata menatapnya. Jantung Jaejoong berdetak lebih cepat menunggu jawaban Yunho.

Oh, apa yang ia gugupkan?

~TBC~