***Disclaimer:
Absolutely JK Rowling (The real owner for the all of Harry Potter characters. I have nothing but "Serafina" dan beberapa yang lain sih, Haha yay tetep aja) \(^_^)/
***Starring: George Weasley & Lucia Anderson (a.k.a Serafina)
***Genre: Romance
***Rate: T
"Ini adalah kisah cinta George Weasley, dimana dia berusaha menemukan kembali
cerita cinta yang hampir dilupakannya."
Chapter 9. Siapa mereka?
*Normal POV*
"Hey, tampaknya kau sedang kerepotan", tanya seorang berambut blonde bersyal biru dari balik pintu keluar perpustakaan. Mungkin dia siswa Ravenclaw.
"Siapa kamu?", tanya Serafina yang terlihat sedang kerepotan membawa banyak buku, sekitar 15 buku bertumpuk di tangannya.
"Mari ku bantu", anak lelaki itu mengambil beberapa buku dari tangan Serafina tanpa menunggu persetujuan dari Serafina.
"Baiklah, terima kasih", Serafina rupanya masih heran dengan tingkah anak lelaki yang tampaknya sudah pernah di lihatnya, tapi entah dimana.
"Mengapa kau ingin membaca begitu banyak buku? Apa kau ingin menjadi Miss Granger ke-2?", tanya anak lelaki blonde itu dengan tatapan mata curiga
"Bukan urusanmu", kata Serafina dengan nada yang sedikit meninggi, dia mengalihkan pandangannya pada jalan lagi.
"Mm... ketika aku membantumu, kau berhutang budi padaku, jadi jawablah pertanyaanku, walaupun untuk sekedar basa-basi, buku-buku ini cukup berat, jadi berbincanglah denganku agar waktu berjalan cepat", kata Si Blonde itu lagi
"Aku tak pernah memintamu untuk membantuku, jadi berhentilah mengoceh, atau pergilah sekarang, aku bisa membawa buku-buku itu sendiri" Serafina mengambil buku-buku itu dengan paksa dari tangan Si Blonde, namun beberapa buku terjatuh dan membuat yang lain ikut jatuh berantakan pula.
"Lihatlah, kau tidak bisa membawanya sendirian, tsk tsk", Si Blonde itu kembali mengambil buku-buku yang terjatuh di lantai. Serafina membiarkannya karena dia mengakui kalau dia sedang membutuhkan bantuan.
"Apa kau benar-benar sudah melupakanku?",tanya Si Blonde dan membuat Serafina terhenti sejenak
"Aku tak ingat", Serafina kembali berjalan
"Benarkah?", tanyanya lagi
Serafina mulai berpikir, tampaknya dia memang sudah pernah bertemu anak lelaki blonde ini. Dan sepertinya dia mengingat sesuatu.
"Ahhh aku sepertinya ingat! Kau yang waktu itu memanggilku kucing penggoda! Iya, aku ingat dengan sangat jelas, aku menghajarmu dengan buku tebal!", Serafina terlihat sangat puas
"Eww itu sangat sakit kau tau? Hidungku mimisan dan aku harus pergi ke Rumah Sakit St. Mungo dan Si Weasley itu mengejekku, akan aku balas dia!", kata Si Blonde itu dengan nada kesal
"Weasley? Yang mana?", tanya Serafina penasaran
"Tentu saja salah satu Si Kembar Weasley, mereka pembuat onar", Si Blonde mencibir
"Hentikan, kau tidak boleh menghina keluarga Weasley, kau hanya belum tau seberapa baik mereka", Serafina terlihat sangat kesal
"Hey, jangan marah, kau sedikit sensitif akhir-akhir ini, apa kau sedang mengalami PMS?", Si Blonde melirik curiga, itu membuat Serafina sangat malu
"Bukan urusanmu!", muka Serafina terlihat sangat merah, mungkin karena kesal dan malu
"Hehe, kau ini memang aneh, kau tidak banyak berubah", kata Si Blonde sambil memberikan buku-buku tebal itu pada Serafina
"Apa maksudmu?", tanya Serafina dengan heran
"Lupakan, ahhh iya, Si Weasley itu memanggilmu sebagai gadisnya, apakah kalian berpacaran?", tanya Si Blonde dengan memicingkan matanya ke arah Serafina
"Bukan urusanmu!", pipi Serafina semerah apel sekarang
"Kalau saja Cedric masih disini, dia akan cemburu padaku, kau begitu manis ketika malu, bagaimana bisa dia lebih memilih gadis China itu di bandingkanmu", kata Si Blonde sambil berjalan cepat meninggalkan Serafina, dia melambaikan tangan dan berjalan semakin cepat lalu menghilang di persimpangan lorong. Serafina menghentikan langkahnya, sekali lagi dia mendengar nama itu disebut. Kepala Serafina tiba-tiba sekali lagi terasa sakit.
"Cedric" batin Serafina
*George POV*
"Berhentilah mengomel George, telingaku sakit", Fred menyindirku karena sedari tadi aku membicarakan tentang Serafina yang tadi tampak mengobrol bersama dan terlihat sangat dekat dengan anak lelaki Blonde dari Ravenclaw.
"Kenapa kau mencegahku untuk menghajar Si Blonde itu?", aku mulai mengepalkan tangan, aku merasa sangat kesal
"Aku tak mau kau terlibat masalah George, tenanglah, kau begitu cemburu sehingga susah bagimu untuk berpikir jernih", Fred mengetuk kepalaku dan membuatku tersadar
"Tunggu, siapa yang cemburu?", aku mencoba mengelak
"Well, tentu saja kau bodoh", Fred mengetuk kepalaku lagi "oouucchh"
"Berhenti memukulku, aku hanya khawatir tentang Serafina, Si Blonde itu mungkin sedang menggodanya atau berniat buruk, terakhir kali aku lihat dia sedang bersama para gadis, dia kelihatannya tidak baik", aku mulai mengoceh
"Kau yang berhenti, berhenti mencari-cari alasan, kau itu sedang merasa cemburu, CEMBURU, itu! ahaha", Fred menertawaiku dengan tawa yang aku benci
"Kembalikan 10 galleons ku", aku mencoba mengubah topik pembicaraan
"Cih, bisakah kau lupakan tentang utang itu walau sebentar? Aku bahkan belum menggunakan uang darimu, aku masih menyimpannya di laciku", Fred terlihat jengkel
"Baiklah, lupakan, mari kita bermain Quidditch, kita bisa memukul bludger sebagai pelampiasan bukan?"
"Boleh juga Brother", Fred tersenyum dan melempar sapu terbang ke arahku.
Aku dan Fred keluar dari ruang asrama Gryffindor, sesekali dia menepuk bokongku dengan sapu terbangnya, dia memang sangat usil.
"Hey Fred, hentikan itu, itu membuatku berpikir kau sudah tidak normal", aku mulai menyindir Fred lagi.
"Apa maksudmu?", Fred melotot padaku
"Well, apa kau begitu menyukai bokongku, eh?", aku mengedipkan sebelah mataku pada Fred dengan maksud bercanda saja
"Cih, aku masih normal brother, kau ini ada-ada saja, dengar aku akan berkencan dengan Angelina, aku akan mengajaknya ke suatu tempat yang bagus. Aku akan membeli beberapa barang yang dia sukai besok, kau mau ikut ke Diagon Alley? Mungkin kau bisa menemukan sesuatu yang bagus disana untuk si gadis Hufflepuff itu", Fred menyikut lenganku
"Eyyy, apa-apaan kau ini Fred" aku berpikir sejenak, kulihat ada Si Blonde di dekat lapangan "Mmmmm tapi boleh juga, besok sore usai jam 3 kita tak ada kelas, kita bisa pergi ke Diagon Alley pada jam itu, kita juga bisa mampir ke Leaky Cauldron setelah itu, seorang pelanggan kita ingin mendapatkan beberapa kantung bola letup dengan harga tinggi", kataku lagi
"Deal", Fred terbang dengan sapu terbangnya menuju lapangan
"Tunggu aku brother" aku meluncur dengan sapu terbangku menyusul Fred, aku terbang rendah sehingga ku pikir aku menyenggol sesuatu.
"Ouuccchhh, awas kau Weasley!", teriak seseorang berambut Blonde dan mengepalkan tangannya ke arahku
Aku hanya menjulurkan lidahku pada Si Blonde itu dan terbang menjauh.
"Rasakan itu! Seorang pengganggu pantas mendapatkannya", batinku
"Ada apa George?" Fred menatap ke arah Si Blonde, "Mmmm kau memang susah di kendalikan George", Fred berkata lagi.
"Sama sepertimu", kataku sambil melempar bludger. Fred yang kaget berusaha memukul bludger yang aku lemparkan namun sedikit meleset.
*Normal POV
"Weasley itu benar-benar sialan, dia terus mengusikku", seseorang berambut Blonde menggerutu dan bergumam sendiri
"Hey Carl, darimana saja kau? Prof. Dumbledore mencarimu, dia memintamu untuk datang ke ruangannya sekarang juga", kata seorang gadis berambut hitam padanya.
"Baiklah Miss Cho Chang", Si Blonde bernama Carl mendesah, dia tampak lelah.
"Ku harap kau tidak berulah",kata gadis berambut hitam yang bernama Cho Chang itu.
"Ravenclaw tidak berulah, bukankah ini sudah bakat alam kita?", kata Carl sambil berlalu meninggalkan Cho Chang yang terlihat kesal. Carl tersenyum ketika Cho Chang sudah berlalu pergi.
Sementara itu, di ruang asrama Hufflepuff, Serafina bertemu dengan Ed yang sedang menulis di sebuah perkamen tua, dia bermaksud menanyakan sesuatu tentang Cedric pada Ed, terakhir kali dia pernah menyebutkan tentang Cedric.
"Ed, bisakah aku bertanya sesuatu padamu?", tanya Serafina sambil meletakkan buku-buku yang dia bawa di atas sofa beludru.
"Sure, apapun itu", Ed berhenti menulis dengan kuasnya dan memandang Serafina
"Bisakah kau ceritakan padaku tentang pria bernama Cedric?", tanya Serafina sedikit ragu
"Mmm... mengapa semua orang masih saja memikirkan tentang pria itu? Ternyata dia boleh juga, walaupun sudah mati tapi begitu banyak orang yang masih mengingatnya, aku akui itu", kata Ed dengan sedikit congkak, dia kembali melihat perkamennya.
"Hanya katakan tentang Cedric, aku tidak ingin mendengar komentarmu", Serafina memutarkan bola matanya.
"Oke, dengar, Cedric, nama lengkapnya Cedric Diggory. Dia seorang Prefek Boy dari Hufflepuff, orang-orang bilang dia itu memesona, mmm yah, boleh lah, dia juga kapten tim Quidditch Hufflepuff sehingga dia cukup terkenal, lalu dia mati begitu saja ketika Turnamen Triwizard berlangsung, Kau-Tau-Siapa sudah membunuhnya, ada pertanyaan?",Ed menjawab dengan congkak lagi
"Siapa itu Kau-Tau-Siapa?", tanya Serafina
"Kau tak tau siapa dia? Ini mencurigakan, semua orang di dunia sihir tau tentangnya, dia itu penyihir jahat yang terkuat, apa kau berpura-pura lupa?", Ed menampakkan wajah penasaran
"Umm, aku... mmmmm lupakan, oke, kembali pada Cedric Diggory, uummm apakah kau punya fotonya?", Serafina mulai mengganti topik pembicaraan karena Ed sudah semakin curiga, Serafina tidak ingin Ed tau kalau dia mengalami hilang ingatan.
"Mmmm tidak, tanyalah pada Cho Chang, sebelum Cedric meninggal, dia lah pacarnya", jawab Ed
"Cho Chang? dari asrama apa dia?", tanya Serafina lagi
"Dia gadis berambut hitam dari Ravenclaw, cukup manis, tapi tidak secantik kau", jawab Ed sambil mengedipkan matanya.
"Aku harus pergi sekarang", Serafina berkata sambil mengemas buku-bukunya lagi, dia mulai merasa risih dengan Ed
"Mau ku bantu?" Ed bertanya sambil memegang tangan Serafina
"Tidak perlu, aku bisa sendiri", Serafina menyingkirkan tangan Ed, dia membawa buku-bukunya sekaligus dan meninggalkan Ed yang terlihat kesal.
Beberapa menit setelahnya, di ruangan Prof. Dumbledore.
"Silakan duduk Mr. Frederic Carl Junior" , Prof Dumbledore meminta Carl untuk duduk di kursi bercorak phoenix pada tangan-tangannya
Carl merasa sangat kaget karena Prof. Dumbledore baru saja memanggilnya dengan nama lengkapnya, tidak banyak yang tau tentang nama lengkapnya, entah kenapa dia lebih suka merahasiakannya. Mungkin karena namanya sama persis dengan nama ayahnya, atau entah apa.
"Terima kasih Prof", kata Carl berusaha mengusir kecanggungan, karena ini merupakan kali pertama dia duduk di ruangan kepala sekolah. Dia pun sebenarnya takut jika Prof. Dumbledore mengetahui yang dia lakukan selama ini.
"Bagaimana kabar Frederic? Mmm bukan kau, maksudku, ayahmu, apa kau sering mengirim pesan padanya?", Prof Dumbledore bertanya pada Carl
"Umm kurasa dia baik-baik saja Prof, aku belum sempat mengiriminya surat, kita berdua sama-sama sibuk", jawab Carl dengan sedikit tegang.
Dia sedikit takut rupanya, berada di ruangan kepala sekolah berdua saja, bukan tidak mungkin Prof Dumbledore mengetahui kalau Carl sudah melakukan suatu kesalahan.
"Ummm Prof, untuk kepentingan apa anda memanggil saya ke sini? Apakah saya berbuat kesalahan?", tanya Carl dengan pelan
"Baiklah, mari kita langsung saja pada inti permasalahannya. Begini, kemarin aku menemui kakekmu, Eugene, di Kementrian Sihir, aku berbincang padanya tentang kasus Veela yang beberapa bulan lalu sempat menggemparkan dunia sihir, aku yakin kau masih ingat dengan sangat jelas mengenai kasus itu karena kau juga bagian dari Veela, bukan begitu Carl?", Prof Dumbledore menatap Carl dengan sorot mata tajam.
"Anda tau segalanya tentang saya Prof", Carl menjawab dengan menundukkan pandangan
"Dengar Carl, aku turut berduka atas kematian Rossane, aku dan Eugene serta beberapa yang lain telah sepakat untuk membongkar kasus itu bersama-sama", Prof Dumbledore menjelaskan
"Kakek? Bukankah dia itu seorang penghianat? Dia bahkan tidak peduli tentang kasus itu, aku dan Dad benci sekali padanya ketika mengetahui kalau kakek menyerah pada kasus itu", Carl terlihat memerah, dia berusaha menahan amarahnya.
"Memang benar, pada awalnya Eugene memang berusaha menghindar dan seakan menyerah, namun aku berhasil meyakinkannya untuk bergabung dan dia setuju. Aku mengenalnya sejak lama, dia itu bukan tipe penghianat, yang dia butuhkan adalah dukungan dari dia, jadi apa kau mau bergabung?", tanya Prof Dumbledore lagi.
"Tentu saja Prof, sejak awal aku dan Dad masih memperjuangkan kasus itu", sekarang Carl tersenyum. Dia merasakan sebuah harapan.
"Beritahu ayahmu kalau kita semua akan berkumpul di Leaky Coudron besok sore",kata Prof Dumbledore lagi
"Uummm akan aku coba mengiriminya surat malam ini Prof"
"Tanyakan kabarnya, sesekali kirimi dia surat, dia mungkin sebenarnya merindukanmu, aku tau kalian berdua sangat sibuk dengan berita-berita itu, tapi usahakanlah saling menyapa walau hanya dalam surat", kata Prof Dumbledore sambil tersenyum
Carl sedikit gugup mendengar Prof Dumbledore mengucapkan kata "berita", agaknya dia tau sesuatu.
"Baik Prof, saya permisi dulu" Carl meminta ijin untuk meninggalkan ruangan, dia beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu.
"Ah, omong-omong, bukankah malam ini kau ada siaran? ku harap itu sukses", perkataan Prof Dumbledore membuat Carl terkejut dan itu membuatnya terhenti sejenak
"Uummm Te.. Terima kasih Prof, ku harap itu tidak mengganggumu", Carl menjawab dengan gugup
"Tentu saja tidak, itu cukup menarik, kau siswa yang pandai, itulah kenapa kau berada di Ravenclaw, dan kau jangan khawatir, aku pandai menjaga rahasia", Prof Dumbledore membuat Carl tersenyum kembali. Dia tau segala yang terjadi di Hogwarts, tapi yang Carl tau, dia adalah orang yang baik.
*George POV
Hari berikutnya, sore hari setelah kelas usai.
"Cepatlah George, kita akan terlambat jika tidak segera berangkat sekarang, aku tidak ingin kehabisan barang di Diagon Alley", Fred terus mengomel
"Bisakah kau diam sejenak Fred? aku masih harus mengemas beberapa kantung bola letup. Ini sangat penting, kita akan mendapatkan banyak uang brother, lebih baik kau membantuku di banding mengomel seperti perempuan", kataku sambil memutar bola mata pada Fred
"Baiklah", Fred akhirnya berhenti mengomel dan mengambil beberapa bola letup dan memasukkannya di kantong yang lain
Beberapa menit kemudian,
"Well, ayo berangkat sekarang, semua sudah siap, masukkan ke kantong ini Fred, agar semua benda mengecil, aku tak mau kerepotan membawa barang-barang ini", kataku menginstruksi Fred. Fred mematuhi perintahku seperti anak kecil, dia bertingkah manis sekarang, baguslah.
Diperjalanan menuju ke pintu keluar asrama Gryffindor, kami bertemu dengan Ron dan Hermione yang sedang bertengkar. Fred berusaha menggoda Ron yang sedang marah.
"Hentikan Fred, kita sudah terlambat, kau ingat?", kataku sambil menyikut lengan Fred dan meliriknya
"Baiklah, rupanya kau mau balas dendam, eh?",Fred balik melirikku
"Apapun itu, ayo cepat", aku dan Fred berlari di lorong-lorong, menabrak para siswa yang sedang asyik mengobrol di dekat pintu utama. Aku melihat sekilas ada Serafina dan temannya yang berkacamata sedang duduk di bawah pohon. Aku berlari pelan, aku menatapnya dan menemukan suatu ide. Fred memergokiku sedang menatap Serafina, dia menjitak kepalaku dan membuatku tersadar dari lamunan.
Aku dan Fred meneruskan perjalanan dengan berlari, aku rasa itu bukan lari biasa. Dia seakan mengajakku untuk berlomba lari. Tapi aku cukup menikmatinya. Seperti pemanasan untuk pertandingan Quidditch.
Di Diagon Alley,
"Fred, kita berpisah disini, ada sesuatu yang ingin aku beli di toko lain, aku akan menemuimu lagi disini 30 menit lagi", aku melambaikan tanganku pada Fred, tanpa menunggu persetujuannya, aku meninggalkannya sendiri. Ku dengar dia berteriak "UNTUK SI GADIS HUFFLEPUFF ITU? AHAHA, KAU LUMAYAN JUGA, GOOD LUCK BROTHER!"
Orang-orang di jalan kini mulai menatapku dan itu sungguh membuatku malu. Aku berjalan dengan menunduk karena saking malunya.
"Akan aku balas kau Fred", batinku.
Akhirnya aku sampai di sebuah toko bernama "Birthy Bones", disana menjual berbagai kuas sihir maupun perkamen yang cantik.
Aku memasuki pintu dengan lonceng pada salah satu sisinya sehingga menghasilkan bunyi gemerincing ketika seseorang memasukinya. Toko ini bernuansa klasik, berbagai ukiran cantik ada di setiap sisi dinding. Sudah jelas kalau toko ini menjual barang dengan kualitas yang cukup eksklusif. Sangat jarang bagi seorang Weasley seperti aku untuk memasuki toko macam ini. Dan sudah sangat jelas ini pertama kalinya bagiku memasuki toko ini, karena aku begitu terkagum dengan apa yang ada di dalamnya. Sebelumnya aku hanya bisa memandang dari luar.
"Silakan Tuan, apa yang bisa saya bantu?", seseorang bertubuh kurus namun berpakaian sangat rapi, bahkan dia menyisir rambutnya dengan begitu licin, dia menyapaku dengan sangat sopan.
"Ahhh, iya, bisakah kau menunjukkan padaku beberapa koleksi kuas yang ada disini?", tanyaku pada pelayan toko itu dengan sedikit gugup.
"Kami punya ribuan Tuan, haruskah saya tunjukkan semua?", kini pelayan itu melayangkan pandangan aneh yang membuatku merasa kikuk.
"Uummmm maaf, mungkin kau bisa tunjukkan beberapa yang terbaik di sini", kataku untuk membuatnya sedikit tenang
"Baiklah Tuan, berikan aku beberapa menit dan kau akan melihat kuas-kuas terbaik disini", pelayan itu berjalan ke arah lemari yang sangat besar dan mencari beberapa kuas disana, terkadang dia menggeleng tanda dia menemukan kuas yang salah.
Beberapa menit kemudian, dia membawa 7 buah kuas yang sangat cantik.
"Pilihlah mana yang kau suka Tuan", pelayan toko itu tersenyum padaku
Aku melihat ke tujuh kuas yang ada di meja, beberapa memang terlihat mahal, tapi mereka terlihat norak, dan aaahhh aku menemukan sebuah kuas yang cantik.
"Ini dia", aku mengambil kuas yang berwarna putih pekat dan berkilau.
"Pilihan yang bagus Tuan, ini 3 kuas terbaik yang kami miliki"
"Mataku cukup bagus juga rupanya, hehe", aku memuji diriku sendiri
"Baiklah Tuan, jadi kau akan mengambil yang ini?", tanya pelayan toko itu
"Mmmm berapa harganya?", tanyaku dengan was was
"Kami membuat gagang kuasnya dari tulang binatang. Kuas ini memiliki gagang cukup kuat namun rambut kuasnya sangat halus, seperti rambut unicorn. Well, kami memang menambahkan beberapa helai rambut unicorn, kurasa 80 galleons adalah harga yang cocok untuk kuas cantik ini", pelayan toko itu menjelaskan dengan panjang lebar
"Unicorn selalu menarik bagiku. Uuummm tapi sejujurnya aku hanya punya 50 galleons, bisakah aku mendapatkan potongan harga?"
"Sayang sekali Tuan, disini kami tidak menerima potongan harga, jika anda tidak mampu membeli ini, maka anda bisa keluar sekarang", pelayan itu kini mulai marah
"Uummm maafkan aku, tapi", aku masih mencoba menawar
"Siapa namamu?", tanya pelayan itu dengan kasar tiba-tiba
"George Weasley"
"Ahh, pantaslah, Si Miskin Weasley. Rambut merahmu sangat populer. Kau tidak mungkin bisa membeli barang yang mahal, keluarlah sekarang sebelum aku menyeretmu keluar", pelayan itu mulai bertingkah congkak rupanya
"Dengar! Aku akan keluar sekarang, tapi bukan berarti aku takut, aku hanya tidak ingin menghancurkan tempat ini dan membuat masalah denganmu, Weasley juga punya harga diri", aku keluar dari toko itu dengan sangat kesal. Aku membanting pintu dan lonceng-lonceng di salah satunya bergemerincing sangat keras. Aku harap pintu itu rusak.
*Normal POV
"Ada apa ini Greg?", tanya seseorang berambut blonde yang baru saja muncul dari pintu depan toko Birthy Bones.
"Ada seorang pengacau Tuan, tapi aku sudah mengusirnya", kata si pelayan yang bernama Greg.
"Siapa yang kau bilang pengacau itu?", Lelaki berambut blonde itu bertanya lagi pada Greg
"Weasley Tuan, keluarga penyihir miskin, mereka rendahan, dia hanya berpura-pura ingin membeli kuas tapi pada akhirnya dia mengaku kalau tak punya uang, sungguh menjijikkan", kata Greg mencibir
"Weasley? Kau tau, mereka tidak seburuk itu, hanya saja ada beberapa keluarga penyihir yang hidup dengan sangat sederhana, tapi bukan berarti mereka rendahan, setauku mereka rendah hati", kata lelaki berambut blonde pada Greg.
"Tapi Tuan, anda ini orang yang sangat sibuk, bagaimana anda bisa tau tentang keluarga Weasley itu? Orang rendahan seperti mereka tak mungkin menarik perhatianmu bukan?", Greg bertanya balik
"Apa kau lupa? Aku ini wartawan, Frederic Carl melaporkan dari Radar 13", lelaki blonde itu berjalan meninggalkan Greg yang sedang menghela nafas. Dia tau persis kalau Boss nya itu senang bergurau, sementara dia orang yang kaku.
"Oh iya Greg, tolong simpan kembali kuas yang membuat Weasley itu tertarik, jangan kau jual pada siapapun, dan letakkan itu di ruanganku nanti"
"Baik Tuan", Greg mengemas kuas yang tadi dipilih oleh George dan meletakkannya di kotak.
"Tuan, anda mendapatkan surat dari Tuan Muda, saya meletakkannya di meja kerja anda",kata Greg lagi
Lelaki berambut blonde itu tersenyum, tanpa berkata apapun, dia memasuki ruangan. Garis tegas diwajahnya tak membuatnya terlihat garang, dia justru terlihat baik. Siapapun akan mengatakan kalau dia itu tampan walaupun di usianya yang sudah mencapai kepala 3.
Sementara itu, George kembali menemui Fred yang baru keluar dari toko mainan, dia membawa sekantung hadiah, tampaknya dia membeli satu set miniatur Quiddith yang sedang populer akhir-akhir ini. Itu terlihat dari beberapa miniatur gawang yang terlihat menyembul dari ujung paper bag.
"George, mengapa kau kembali begitu cepat? Apa yang kau dapat?", tanya Fred pada George yang terlihat kesal
"Aku tak mendapatkan apapun Fred, aku sungguh kesal pada pelayan di toko itu", George menunjuk toko Birthy Bones
"Ah, kenapa juga kau pergi kesana George? Itu tempat untuk orang-orang yang sinting, mereka menjual barang dengan harga yang tidak rasional, sudahlah, lupakan, mungkin kita bisa mencari hadiah yang lain untuk Si Gadis Hufflepuff itu", Fred menepuk pundak George.
George yang masih kesal hanya bisa terdiam, dia menendang kotak pembungkus coklat kodok yang ada di depannya. Namun kotak itu mengenai seseorang yang tampaknya sudah cukup tua.
"Hey, dasar kau anak muda yang kurang ajar", lelaki tua itu mengarahkan tongkat sihirnya ke arah George dan Fred, namun mereka segera berlari cepat sebelum si lelaki tua mengucapkan sebuah mantra.
Jubah lelaki tua itu terlihat sedikit kotor. Beberapa sisa coklat lumer dari kotak pembungkus coklat kodok menempel pada jubahnya. Dia terlihat sangat kesal.
"Weasley", lelaki tua itu bergumam.
*Author Notes:
Maaf banget aku telat updatenya, akhir-akhir ini aku bener-bener sibuk :(
Moga-moga kalian masih mau baca kelanjutan cerita ini. Aku masih berjuang buat selesaikan cerita ini koq, iya, kasih semangat donk #ngarep (makasih ya) :D
QueenMamba, makasih ya, semoga kamu masih setia baca lanjutan cerita ini, aku bener-bener minta maaf karena telat banget update.
Ongbin Cross, Ooiii anda jangan membuka kedok, itu rahasia. Btw makasih ya mau baca ff ku, terima kasih senior, mohon jangan ospek saya, saya masih newbie di ff ini.
And for all, thanks to read this chapter. Lemme know what do you think about this chapter, I'll be so happy to see ur review, hehe :D #masihngarep
