A puzzle garden

Disclaimer: Aoyama Gosho

Story Al Landers

Warning: OC Daimaki Enoka, Arisu Enoka dan Nona Nana


009 Rabbit Hunting

Kembali di kantor detektif Kogoro Mouri yang tenang kecuali sore ini. Di sana tampak lebih ramai dengan kehadiran detektif cilik, Sonoko, Ran, Conan, dan Kogoro yang bersiul-siul ingin cepat menemui wanita cantik di dalam pesta Valentine kali ini. Khusus hari ini ia diundang sebagai tamu istimewa bersama dengan Conan untuk menangkap KID. Seperti biasanya mereka melakukan hal rutinitas mereka sambil menunggu Kogoro siap membawa mereka ke sana dengan mobil sewaan.

Di depan cermin Kogoro tersenyum lebar membayangkan wanita cantik yang akan menghampirinya. "Hohohoho! Kogoro Mouri ini siap menjadi sorotan media!"

"Bodoh," Conan hanya mendengus sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Sama saja denganmu yang masih songong di media masa." Ai membalas perkataan Conan.

"Iya Nenek tua yang sudah berusia 180 tahun lebih tapi penampilannya seperti loli anime-anime jepang."

Hawa tidak enak keluar dari Ai yang mengenakan dress berwarna biru, dress yang berhasil dipaksakan Ran, "Kau bilang apa tadi?"

"Tenang Ai, cuma sekali-kali kan bisa pakai dress. Aku malah senang bisa pinjam dress punya Kak Ran." Ayumi tersenyum, ia menenangkan suasana panas atara Conan dan Ai.

Di lain pihak Conan hanya berjalan mundur seolah tak kenal. Ia terus menatap Ran yang mengenakan dress pink panjang yang sangat sesuai dengan postur badannya. Ia bagaikan dewi.

"Hei Conan, lain kali kamu jangan jahat lagi sama Ai!" Mitsuhiko cemberut.

"Kenapa? Kau suka Ai ya?"

"Pokoknya jangan. Ai kan cantik, kenapa dianggap nenek-nenek 180 tahun?" Mitsuhiko menatap tajam Conan dengan wajah memerah. Conan hanya menelan ludah ketika melihat Ai menyeringai di belakang. Ia harus mulai hati-hati berbicara. Namun semuanya musnah ketika teriakan nenek sihir bukan itu Sonoko memanggil mereka untuk cepat-cepat siap ke dalam mobil.

"RAN! Ayo cepat-cepat!" Sonoko terus mendorong Ran yang sedang merapikan gaun yang ia kenakan di dalam pesta Valentine kali ini. Seperti biasa bila tiga huruf itu datang ke sebuah pesta, temannya akan dengan semangat memboyongnya mengikuti pesta itu. Ia tak peduli akan siapa saja yang ikut, asal orang itu datang.

Dia adalah KID, Kaitou KID yang terkenal di setiap telinga warga Jepang, dan menjadi pujaan hati setiap wanita. Siapa sangka seorang pencuri memiliki fans sebanyak artis top papan atas atau cosplayer terkenal yang laris manis di dunia. Siapa duga sosok penjahat bisa masuk ke dalam iklan-iklan dan sohor diperbincangan hangat para otaku dan weeaboo yang datang dari luar Jepang untuk mengagumi dirinya

Seseorang datang menghampiri grup yang siap berangkat sebentar lagi, "Aku benci tempat ramai."

"Arisu! Kau datang juga akhir... ," Ayumi menatap Arisu yang dengan bangga mengenakan tuxedo hitam seolah ia adalah seorang gentleman. "... nya."

Arisu hanya terdiam awalnya, takut-takut bila ada seseorang menariknya dan mengganti bajunya dengan dress yang menyeramkan. Sedikit ia mencairkan suasana, "Yo, aku datang. Mama tidak mau ikut kali ini. Katanya ia ingin membuat unsur kejutan untuk menggigit Papa yang kabur dari rumah sakit." Arisu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa dua pasang mata menatapnya lekat-lekat karena kostum yang ia kenakan. Mana ada gadis kecil menggunakan tuxedo ketika ia pergi ke pesta.

"Hei Ran, lihat sifatmu sepertinya menurun padanya." Sonoko yang menatap tajam Arisu hanya bisa memberi seringai lebar karena siapa duga Ran dulu sempat datang ke pesta dengan Tuxedo juga.

"Arisu ayo masuk ke dalam dulu." Ran menghampiri Arisu yang bersembunyi di balik Conan. Ia tahu kalau ini pertanda akan satu hal.

Ia harus mengganti bajunya dengan baju yang sesuai dengan jenis kelaminnya secara umum.

"NGGAK! NGGAK MAUUUUUUUUUUUUUU!" Arisu yang masih berteriak dibawa paksa oleh Sonoko dan Ran ke dalam kamar sebelum teriakan lain yang menyakitkan telinga keluar terus-menerus sampai pintu terbuka kembali dengan Arisu mengenakan dress serupa dengan Ran dalam versi kecilnya.

Semua anak laki-laki merah padam dibuatnya, termasuk Conan sehingga Ayumi sedikit iri dengan Arisu. Arisu bak Ran kecil di hadapan mereka. Sedangkan di lain pihak Ai tahu dengan pasti penderitaan Arisu yang sama-sama harus mengenakan apa yang Ran dan Sonoko inginkan untuk mereka. Tentu sebagai satu teman dalam penderitaan kecil ini, ia menepuk pundak Arisu memberi semangat. Ia menatapnya seolah mengatakan, 'badai pasti berlalu.'

"Cepat bocah-bocah, aku ingin cepat bertemu dengan Yoko Okino yang ingin bertemu dengan detektif terkenal ini!"

"Detektif tidur yang terkenal karena aku." Conan mengucapkannya pelan hingga hanya ia dan Ai yang tahu.

"Salah sendiri sok ingin tahu."

"Ya-ya-ya, aku sendiri yang salah." Conan hanya bisa menghembuskan napas menyerah. Ia takkan tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Ai tersenyum ringan, "Senang kau sudah tahu dengan sendirinya."

o-o-o

Di tempat lain seperti bisa Inspektur Nakamori dan jajaran polisi bawahannya terus mengamankan situasi di mana pesta valentine itu diadakan. Dan seperti biasa pula ia menarik pipi setiap jajaran polisi bawahannya untuk menanggulangi orang-orang yang menyamar menjadi mereka. Walau pun tetap saja KID berhasil meloloskan diri dari jeratan mata Inspektur Nakamori ini. Dan malam ini setelah dua bulan ia ta bersuara, ia dengan semangat menjalankan tugasnya baik-baik menjaga 'red diamond', salah satu batu mulia yang terkenal akan kecantikan dari warna merah yang masih langka ditemukan di dunia. Sang penyelenggara pesta menamakan batu mulia ini dengan 'Eternity Rose' karena batu ini langka dan dikabarkan dapat membangkitkan orang yang sudah meninggal dan awet muda.

"Inspektur, pesta masih aman."

"Inspektur menurut seorang pemuda sawo matang yang datang, ia akan menjaga pemilik batu, Nona Nana." Seorang lagi berkata.

Tampak kedutan terlihat di dahi sang inspektur, "Sejak kapan ada orang biasa bisa menjaga pemilik batu dan batunya tanpa persetujuanku hah!"

"Ta-tapi, ini merupakan permintaan langsung dari Nona Nana sendiri," tampak salah satu polisi bawahan menciut, "kami tidak bisa membatah keinginannya."

"Aku akan ke sana sekarang. Jaga pesta ini baik-baik."

"BAIK BOS!"

Inspektur Nakamori hanya bisa mendesah. Orang kaya memang sulit untuk diatur demi keamanan mereka sendiri. Walau pun kemungkinan batu itu akan kembali lagi, tetap saja setidaknya mereka bisa mencegah pencuri itu mendapatkan batu incarannya. Bagaimana bisa ia menaruh wajahnya lagi bila ia tak dapat menjaga apa yang harus ia jaga. Mungkin hanya tiap orang kaya saja yang mengerti apa yang lainnya pikirkan. Ia segera bergerak menuju tempat pesta di mana Nona Nana dan seorang pemuda berkulit sawo matang itu berdiri di dekatnya.

"AWAWAWAW." Pemuda itu memegang pipinya yang dicubit sendiri oleh Inspektur Nakamori.

Sial dia tidak menyamar. Inspektur Nakamori hanya bisa mendesah napasnya. Mengapa bukan cuma si Detektif tidur dan bocah kacamata itu saja yang mengganggunya, kali ini polisi divisi satu berkulit sawo matang ini juga tampak seolah ingin mengejeknya yang selalu gagal dalam menangkap KID.

"Apa yang terjadi Inspektur? Kenapa wajahmu keliatan menekuk sekali?" Nona Nana kembali meringankan suasana.

Nona Nana, wanita berusiakan 29 tahun dengan rambutnya yang ia gelung dengan gelombang di ujungnya. Wajahnya masih terlihat muda dengan kulitnya yang kuning langsat. Kini ia mengenakan dress berwarna merah pekat yang disesuaikan dengan kalung batu mulianya yang merah dan tak ada yang tahu selain Inspektur dan Nona Nana sendiri. Tubuhnya nampak tinggi dikarenakan sepatu hak lima senti yang ia kenakan. Karena peringainya, ia senang bertemu dan meminta bantuan pria tampan yang ia temui seperti sekarang.

"Kenapa polisi ini ikut-ikutan menjaga Nona?" Ia sedikit menyindir karena polisi yang ia lihat seharusnya masih dikurung di dalam kamar rumah sakit bukannya melenggang di dalam pesta ini.

Nona Nana malah makin menguatkan genggamannya di lengan baju tuxedo milik Enoka. "Terserah aku, aku maunya yang lebih ganteng."

"Tapi Nona!"

"Pokoknya aku mau yang lebih ganteng sedikit, emang kenapa sih?" Ia mencibirkan bibirnya seolah tidak ada polisi divisi dua yang bisa membandingi kegantengan polisi divisi satu didepannya. "Kalau kau ingin menjagaku, kau bisa menjagaku dari jauh."

"Awas saja Kau! Kalau istrimu datang, dengan senang hati kuberitahu padanya bila suaminya sudah berpindah hati."

Enoka membatu. Bukan keinginannya untuk didekati oleh Nona Nana, dan kini ia harus berhadapan dengan Inspektur Nakamori yang sakit hati ditolak untuk menjaga Nona Nana. Mengapa ia selalu memiliki nasip yang buruk.

"Tapi ini kan bukan salahku." Ia hanya dapat menangis dalam hati, berdoa supaya Shiho tidak menemukannya di sini dalam pelukan Nona Nana, orang yang diincar KID dalam aksinya malam ini.

"Lihat saja Enoka! Aku akan membalasmu!" Ia menunjuk Enoka, lalu menyuruh petugas yang lainnya menjaga lebih ketat sehingga KID dapat ditangkap dengan mudah. Polisi yang penuh daya juang.

o-o-o

"HUAAAAA! Pestanya cantik banget Bakaito, nggak salah kita datang kemari." Aoko tersenyum menatap dekor pesta yang serba merah muda dan putih, tipikal valentine. Menu-menu buffet yang dipenuhi dengan hiasan coklat yang cantik dan indah, air mancur yang sengaja didirikan ditengah ruangan, dan berbagai aksesoris hati yang biasa dipasang dalam pesta-pesta seperti ini. Dibandingkan pengunjung lain, mereka mengenakan pakaian yang lebih sederna. Aoko yang mengenakan baju terusan hijau dan Kaito yang mengenakan kemeja biru dan celana panjang yang senada.

"Kayak anak kampung aja." Kaito mendengus kesal melihat teman gadisnya tersenyum kekanak-kanakan.

"Bukannya kamu yang paling senang ketika kita bisa datang ke sini. Harusnya kau ucapkan terima kasih pada Ayah yang mau mengajak kita ke sini."

Kalau tidak ada surat penipu itu, aku gak akan mau datang. Kaito hanya mengiyakan apa yang diucapkan oleh Aoko walau pun tak ada satu pun yang benar. "Tapi tumben kau semangat ketika Kaitou KID datang?"

"Aku ingin menangkapnya lalu menyerahkannya pada Ayah~!"

Namun mereka tidak tahu kalau seorang penggemar KID akan membuat sesuatu yang mereka tak duga. Ia tak lain dan tak bukan adalah Nona Sonoko. Dengan bajunya yang panjang ia sanggup berlari sambil mengucapkan apa yang di dalam pikirannya. "Aku takkan membiarkan hal itu terjadi!" Terdengar suara tinggi terdengar dari ujung ruangan pesta. Terdengar orang itu datang karena tersinggung idolanya harus ditangkap.

"Sonoko! Malu, malu dong, aku tahu kamu suka KID, tapi bukan begini caranya," Rupanya Ran dan Sonoko yang datang dengan iringan Conan yang tertawa terbata-bata karena kebodohan Sonoko. "Maaf ya."

"Dia sama saja denganmu kalau sudah berhubung dengan Ran." Ai sedikit mengejek pada Conan.

"Terserah."

"Eh kamu yang ketemu di Shibuya itu? Dan kamu yang mirip bocah detektif itu." Sonoko menunjuk mereka berdua. Benar, mirip dengan Ran dan Shinichi.

"Oh! Senang bertemu lagi!" Aoko tersenyum lebar ketika Kaito hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat seorang fansnya yang tersenyum lebar membicarakan KID. Kalau fansnya seperti dia semua kadang menyeramkan.

Sebelum mereka berkenalan seorang pria tak sengaja menyenggol Ran yang berdiri. Pria berkulit sawo matang itu tampak ketakutan ketika seorang wanita berambut coklat kemerahan dengan dress berwarna coklat itu menghampirinya.

"Ma-mafkan saya." Ia membantu Ran berdiri tanpa peduli tatapan tajam Conan yang sudah mengenali identitasnya. "Saya tak bermaksud untuk menyenggol Anda."

"DAIMAKI ENOKA!" Wanita itu atau Shiho mulai mendatanginya. "Kenapa kau menempel sekali tadi dengan Nona Nana!"

"Itu bukan salahku! Salahkan Nona Nana yang ingin aku menemaninya dari kejaran KID! BUKAN MAUKU! ITU MAUNYA DIA!" Ia memohon sambil bersujud di depan Shiho.

"Sama dengan kata-kata Shinichi ketika itu ya Ran?" Sonoko menghasut Ran.

"Dan sama dengan kata-kata Kaito juga." Aoko ikut memojokkan Kaito yang berdiri dan semakin lama semakin menjauh.

"Ya... ." Ai menatap Conan yang menggarukkan kepala.

Namun semuanya kembali padam setelah Aoko menarik telinga Kaito dan pamit untuk menemui ayahnya, Inspektur Nakamori. Shiho pun pergi sambil menarik Enoka yang masih mengucapkan ribuan maaf pada Ran dan berharap dapat bertemu lagi di pertemuan selanjutnya lalu meninggalkan anaknya bersama mereka.

"Maaf ya Papa dan Mama memang cara mesra-mesranya begitu."

"Sama seperti kau dan dia ya Conan." Ai mengedipkan matanya. Ia meninggalkan Conan menggeleng-geleng kepala.

Dan pada akhirnya mereka terus menikmati pesta sendiri meninggalkan Kogoro bersenang-senang dengan Yoko sampai seluruh acara sampai lampu acara menjadi padam. Semua orang menjadi panik, dan seseorang terlihat di atas panggung.

TRANG

"Ladies and gentlemen, welcome to my magic show tonight!"

TBC


Maafkan aku sudah meninggalkan ffn ini selama setahun penuh. Bukan nggak ada ide, hanya saja banyak tugas dan baru kesampaian hari ini. Dan tidak terasa tiga atau empat chapter lagi kalau nggak ngaret cerita ini akan tamat. Bagi yang menunggu pair langka seperti MitsuAi dan ConanAyumi atau yang lainnya mungkin bisa kukabulkan di akhir cerita. Jadi tetap stay tunenya untuk menunggu lanjutan cerita ini. Semua pair bisa berubah sesuai dengan kebutuhan cerita.

Dan lagipula slice MitsuAi sudah ada di atas _(:3_\\_)_ oh ya yang review login silahkan lihat pmnya~

Satu lagi karakter di pilihan karakter bukan pair tapi karakter yang sering unjuk muka di cerita!

Ciao ciao mohon saran, kritik membangun dan tanggapannya di review~