GOOD MORNING, VAMPIRE

Chapter 9 : Foundation

Balasan Review

Ifa Dragneel92 : Okey siap.

Natsu489 : Siap.

Fic of Delusion : Iya, tapi terimakasih sudah mau membacanya. Anda saja sadar siapa itu permaisuri, tapi peran utama tidak sadar-sadar, hehe. Tentunya benar, kurasa sedikit lebih panjang dari A Voice to You

Dragneel77 : Ya tentunya mengingat ceritanya lebih rumit.

Hiruna Mikk03 : Iya nggak apa, asal kedepannya jangan lupa ya, hehe ngarep banget. Tentu tidak, Lucy bakan pake seragam cewek kalau kedoknya sebagai laki-laki sudah terbongkar dari Natsu. Dan sepertinya Natsu tidak akan sadar kalau Lucy first love-nya meski ehem ketika ia bersatu dengan permaisuri di penobatan nanti.

Lusy922 : Begini, biar author perjelas. Secara tidak langsung sih iya. Tapi aslinya tidak, itu hanya menurut Natsu karena ia tidak terima ibunya meninggal setelah mengorbankan jantungnya padanya. Dan ia bisa mendapat donor itu setelah kecelakaan maut itu terjadi.

Amaterasu : Benarkah? Author tersanjung mendengarnya. Ya, author nggak nyangka bisa menulis sebagus itu hingga sampai sekarang belum bisa move on dari A Voice to You. Belajar dari mana ya? Author sih memang hobi mengarang cerita sejak kelas 3 SD, tapi kalau cara menyampaikannya belajar dari Drama, yang suka berbelit-belit. Natsu berubah apa? baik atau tambah jahat?

Aliifahgm : Sepertinya anda sangat antusia, terimakasih. Natsu memang begitu, rada susah sih penggambaran karakternya.

NataliaXaveria : Jangan sedih, di chapter ini lebih sedih lagi. Iya nggak apa asal jangan lupa review lagi aja, hehe. Akan diusahakan.

Akayuki1479 : Ya, potongannya mulai terkumpul. Tapi masih banyak puzzle yang belum terungkap. Dia bukan nggak peka hanya saja menurutnya Lucy, Lui dan permaisuri orang yang berbeda karena beda karakter meski ia belum pernah bertemu permaisuri menurutnya. Atau Lucy kecil yang sengaja berbohong?

Guest1 : Okey

Hannah : Siap pokoknya, tenang saja. Kan genre vampire NaLu juga request Hannah-san.

Justfan : Akan diusahakan.

Akina : Go!

Guest2 : Kan malam senin, author kan sudah janji kan? ini sudah update dan selamat membaca ya, dan nanti review lagi.

.

.

.

Rate : T

Genre : Drama, Fantasy, Mystery, Hurt/Comfort, little Comedy

Pair : [Natsu D, Lucy H] Sting E, Lisanna S

.

.

Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei

.

.

.

"Hoh" Natsu tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia mengalihkan pandangannya dan memutar matanya. Kemudian, perlahan ia melepaskan cengraman itu. Diambilnya tasnya yang tadi jatuh dan bersiap pergi. Namun perkataan Lucy menghentikannya.

"Apa kejahatan namanya . . . jika ingin hidup?" tanya Lucy dengan suara serak

"Semua orang ingin hidup, kenapa kau ingin aku mati?" tanya Lucy lagi

Natsu seolah menulikan pendengarannya, ia tidak menjawab pertanyaan itu. Eoh . . . Natsu, apa kau tidak sanggup menjawabnya? Atau hatimu bergetar karena ucapannya?

Natsu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Meninggalkan Lucy sendirian. Tak tahukah kau Natsu, kau sudah melukainya. Seseorang yang menjadi cinta pertamamu, seseorang yang merupakan permaisuri yang sangat kau benci. Seseorang yang ingin kau bunuh disetiap hembusan nafasmu. Tapi, tanpa sadar mungkin kau sudah mulai membunuhnya. Membunuhnya secara perlahan. Perasaannya, hatinya, fikirannya.

...

Sepeninggalan Natsu, Lucy mengedipkan matanya berkali-kali. Berusaha menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Air mata karena kekesalan. Ia bersumpah bahwa tidak akan pernah ada air mata yang tumpah apalagi untuk pangeran egois seperti Natsu. Meski disiksa, dipermalukan, atau bahkan hal ekstrim seperti apa yang pemuda itu ancamkan padanya, tidak akan. Bahkan jika dunia ini runtuh sekalipun.

"Jangan mimpi aku akan mati ditanganmu" ucap Lucy dengan penuh penekanan dan sorot mata tajam dan berkaca-kaca, nafasnya naik turun saking menahan segala amarah dan kekesalannya

Ia mulai memberesi buku-buku yang berserakan akibat ulah Natsu tadi. Cukup banyak memang, tapi tidak apa. Ia akan bertahan, bertahan sampai Natsu sendiri yang menyingkir dari bentengnya. Ia memang tidak berdaya dengan apa yang namanya uang. Tapi keteguhan hati, jangan main-main. Jangan sebut namanya Lucy jika mudah ditumbangkan begitu saja.

Di hari senja menjelang malam, Lucy berjalan sendirian sambil menenteng tas besar berisi buku-buku fisika. Lampu-lampu mulai menyala, menerangi setiap jalan yang berada di depannya. Iapun berhenti melangkah sebentar, mengamati jalanan didepannya. Biasanya jam segini ia masih kejar-kejaran dengan teman-teman di Sabertooth. Seperti menghindar untuk nongkrong bersama mereka karena pekerjaan paruh waktunya. Tapi kini, tak ada gelak tawa lagi di kala senja, tak ada lagi Lucy yang selalu ditakuti dan tak ada lagi teman-temannya. Lucy menahan nafasnya, hidungnya kembang kempis. Entah kenapa akhir-akhir ini ia mudah sekali terbawa suasana. Dengan cepat ia menutupi wajah dengan salah satu tangan yang tidak menenteng tas dan tertawa kecut.

"Cih! Aku merindukan mereka" kata Lucy

Kemudian memori saat Natsu mencengkeram lengannya dan menghantamkannya di rak perpustakaan kembali berputar. Lucy berdecih, hidupnya berubah drastis. Tapi percuma ia mengumpat, siapa yang akan dengar? Percuma ia mengeluh, apa gunanya? Dan mustahil untuk mundur karena ia sudah berada ditengah-tengah. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian membuangnya, menetralkan deru nafasnya yang mulai memburu kembali.

Beralih ke sebuah gedung menjulang tinggi dengan label Dragneel Corp. Disebuah ruang meeting room dengan meja bundar yang di kelilingi 9 orang dengan 10 kursi. Rapat Dewan Vampire, dipimpin oleh ketua dewan vampire Igneel Dragneel. Sedangkan 8 orang anggota dewan lain adalah Weisslogia Eucliffe, Skyadrum Cheney, Jude Heartfilia, Mirajane Strauss, Elfman Strauss, Jura, Makarov Dreyar, Jellal Fernandes. Igneel menatap kursi yang senantiasa kosong disetiap rapat diadakan.

"Dimana dia? Apa dia beralasan lagi?" tanya Igneel

"Dia mengirim surat ini, ketua" kata Jura

Igneel mengambilnya, baru beberapa detik membaca surat itu ia langsung menyobeknya menjadi dua dan membuangnya.

"Dia tahu ini mustahil" kata Igneel

"Jadi, pelaku pembunuhan para gadis belum ditemukan?" tanya Elfman

Igneel, Weisslogia, dan Jellal diam. Beruntunglah mereka karena ruangan yang tengah ditempati menghalang segala bentuk kekuatan vampire mereka jadi hampir tidak mungkin untuk membaca hati dan fikiran masing-masing. Menyadari gelagat aneh ketiganya, Jude diam-diam menyeringai.

Tak ingin dicuriagi, Igneel kemudian mengangguk lemah yang artinya iya.

"Bukan Natsu pelakunya kan?" tanya Jude tiba-tiba

"APA?" Igneel menaikkan nada bicaranya mendengar pertanyaan ketus dari sahabatnya

"Aku bukan ingin menuduh sang calon raja, ketua. Tapi mengingat Natsu sedang dalam proses mencari permaisuri bisa jadi mereka adalah korban" jawab Jude

Keadaan jadi tegang. Yang lain menatap Jude dan Igneel bergantian, memang sudah beberapa tahun hubungan Jude dan Igneel tidak baik, padahal mereka adalah teman akrab atau bisa dibilang sahabat dulu. Sepertinya pancingan Jude berhasil, lihatlah Igneel yang sedang menahan amarah.

"Tapi tak ada bukti yang mengatakan kalau itu Natsu. Jadi kurasa bukan dia" lanjut Jude kemudian

Igneel menahan nafasnya. Sebenarnya apa mau Jude hingga pria blonde paruh baya itu selalu menyinggung-nyinggung Natsu tiap kali rapat atau bertemu entah dimanapun itu.

"Jadi, permaisuri belum ditemukan ya?" tanya Makarov

"Maafkan aku, Makarov-san. Natsu belum menemukannya" jawab Igneel seraya sedikit menunduk

"Tidak apa, kurasa ia hanya perlu sedikit waktu. Bukan begitu?" jawab Makarov seraya tersenyum pada yang lain yang ditanggapi dengan anggukan minus Jude

"Lalu bagaimana dengan kasus pembunuhan yang menargetkan vampire kelas atas? Sudah dua tahun kita tidak menemukan aksinya" kata Mirajane

"Sepertinya ia menghilang atau menyembunyikan diri" jawab Skyadrum

"Aku sudah mengkorek informasi dan mengirim intel ke seluruh penjuru negri tapi tak ada satupun yang menemukannya bahkan tak ada tanda-tanda sedikitpun akan dirinya" lanjut Skyadrum, pria paruh baya yang hobi mengenakan pakaian hitam dan seorang CEO dari Perusahaan militer Swasta yang sebenarnya merangkap sebagai militer vampire.

"Apa mungkin si bastard itu keturunan 'dia'?" tanya Makarov

Igneel menggenggam tangannya di balik meja. Ia tentu sangat tahu apa yang dimaksud kakek Makarov dengan dia.

"Tidak mungkin, dia bahkan belum pernah menikah sebelumnya apalagi sampai punya anak" kata Igneel

"Yang dikatakan ketua itu benar, dia tidak pernah dekat dengan perempuan manapun hingga bisa memiliki anak. Jadi mungkin saja ini hanya kebetulan atau seseorang yang mirip dengannya" kata Jude

"Kalian yakin hanya mirip? Tidakkah kalian tahu kalau dia adalah salah satu vampire terkuat kala itu? bahkan Zeref-sama mengakui kemampuannya. Tidak hanya itu, ia juga penemu buku terlarang. Apakah kalian yakin ini hanya kebetulan belaka?" tanya Jellal kritis, maklum ia adalah seorang Analyz di dewan vampire

Semua berfikir, benar apa yang dikatakan pemuda biru itu.

Sementara Igneel mendengar kata buku, ia mengingat kembali apa yang dia pernah katakan sebelum buku terlarang selesai dan menggemparkan dewan. Dia juga ingat betul apa yang telah dia lakukan pada keluarga, mendiang istri dan juga Natsunya. Tapi, dia sudah mati. Tidak mungkin jika dia hidup lagi.

"Benar kata Jellal-kun, dia vampire terkuat setara dengan Zeref-sama. Jadi aku yakin ini bukan kebetulan. Hipotesaku, dia mengimplementasikan apa yang terdapat di buku itu. Sesuai sumpahnya waktu kita memvonisnya hukuman mati" kata Igneel mengambil kesimpulan

"Jadi, Skyadrum bawa buku itu kehadapanku dan Zeref sama minggu depan" pinta Igneel

"Tidak, Igneel-san. Kau tahu buku itu akan membuat malapetaka, kita tidak tahu apa isinya maka kita memutuskan mengurungnya di bawah pegawasan kemiliteran dewan. Aku tidak setuju" kata Elfman

"Aku juga" jawab Mirajane tegas

"Aku juga" jawab Weisslogia lirih karena masih tak yakin dengan keputusannya sendiri

"Aku setuju dengan Igneel" kata Jude tiba-tiba diikuti pandangan Jellal, Makarov, Jura dan Syadrum. Mereka berempat mengangguk menyetujui perkataan Jude.

Strauss bersaudara menghela nafas. Bisa apa mereka jika lawan lima? Tentu keputusan akan diambil dari suara terbanyak. Weisslogia hanya mengerutkan dahi saja tanda berfikir.

Malam ini bulan tidak begitu terang. Cahayanya redup, awan hitam berkumpul dan menutupi sinarnya. Mungkin akan turun hujan. Kilat membelah angkasa. Disebuah rumah mewah kediaman Weisslogia, Sting yang sedang minum air di dapur menjatuhkan gelasnya. Dipandanginya pecahan gelas itu. Sejak tadi benaknya tidak enak, seperti ada yang akan terjadi. Ditambah Lucy kini tidak membencinya, harusnya ia senang. Tapi malah itu bebannya, bagaimana jika Lucy tahu semuanya dan membencinya? Akankah ia sanggup dibenci olehnya?

"Sting, kau belum tidur? Apa kau butuh darah?" tanya Clara Eucliffe

Sting menegang. Darah, kata itu bagai sengatan listrik baginya. Ia memang tidak bisa meminum darah, sejak kejadian itu. Sejak malam itu, malam dimana seseorang ia paksa memberikan darahnya. Tiba-tiba saja rasa bersalah menyerang benak Sting. Mata Saphirenya sendu. Namun sebelum sang ibu curiga iapun tersenyum dan menggeleng.

"Tidak bu, aku hanya belum bisa tidur saja" jawab Sting lembut

"Apa yang kau fikirkan hingga tidak bisa tidur dan menjatuhkan gelasmu?" tanya sang ibu seraya mengambil pecahan-pecahan gelas dilantai lalu membuangnya di tempat sampah.

Tidak ada jawaban dari putra semata wayangnya. Clara hendak menoleh namun langan kekar sudah memeluk pinggangnya. Sting memeluknya, ia memeluk ibunya erat. Clara tersenyum mendapati sang putra mendadak jadi manja, sikap Sting memang aneh akhir-akhir ini. Dengan lembut Clara-pun mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Sting.

"Jangan khawatir ibu ada disini" kata Clara menenangkan

"Ibu, apa yang ibu rasakan jika tiba-tiba saja orang yang selalu berada didekat ibu menghilang dan ketika bertemu tidak mengenali ibu?" tanya Sting dengan nada parau

Clara tercengang. Baru pertama kali ini ia mendengar nada bicara Sting seperti itu.

"Bukan, tapi berbohong dengan pura-pura tidak mengenali ibu?" lanjut Sting

"Sakit" jawab Clara singkat sukses membuat sebilah panah melesat tepat di jantung Sting

"Apa ibu akan membenci orang itu?" tanya Sting

"Tidak" jawab Clara

"Benarkah?" tanya Sting

"Sejak kapan putra ibu jadi semanja ini? dimana Sting yang menyandang gelar Pangeran Es dari Fairy Tail Gakuen?" goda sang ibu berusaha agar mengalihkan suasana. Ia tidak ingin Sting-nya bersedih.

Sting mengeratkan pelukannya, diam-diam ia tersenyum. Ya, mungkin Lucy akan bertindak sama. Tidak mungkin Lucy membencinya, ia sahabatnya kan? tunggu, sahabat? Ia tersenyum lagi karena dihatinya Lucy bukanlah sosok sahabat lagi melainkan seorang perempuan.

"Sejak sekarang" bisik Sting membuat sang ibu terkekeh geli.

Jam 12.00 waktu setempat. Setelah tadi bicara dengan ibunya, Sting kembali ke kamar. Ayahnya juga sudah pulang dari rapat Dewan. Malam ini ia akan tidur tenang, mungkin. Ia tersenyum tak kala mengingat Lucy tidak mungkin membencinya. Ia kan sudah menyelamatkan gadis itu tadi. Bahkan ia juga memberinya nafas buatan. Mendadak wajah Sting memerah. Ia ingat itu bukan hanya sekedar nafas buatan, tapi secara tidak langsung ia mencium Lucy.

"Hoh, ada apa denganku? Kenapa aku merasa malu?" tanya Sting kemudian berbaring dan menyembunyikan wajahnya dengan bantal. Ia juga siaga siapa tahu ada yang melihatnya yang tentunya tida mungkin. Sepertinya sifat aneh Lucy menular padanya.

Akhirnya Sting terlelap dengan senyum yang senantiasa mengembang di wajah tampannya. Namun tepat pukul 00.30 dini hari, tiba-tiba saja aura gelap menyelimutinya. Gumpalan seperti asap gelap bergoyang-goyang didekatnya. Bisikan-bisikan halus menggema di seantero kamarnya.

"Ya, jatuh cinta padanya dan rebut dia. Kemudian bunuh Natsu. Dengan begitu aku bisa menguasai tubuhmu sepenuhnya"

"Bunuh semua sampah yang ada dan singkirkan semuanya untukku"

"Wahai Sting Eucliffe, wadahku yang sempurna"

Gumpalan asap itu seketika masuk ke tubuh Sting. Sting menegang, ia membuka matanya lebar-lebar. Memperlihatkan kedua iris yang berbeda warna, merah dan biru.

Guntur kembali membelah langit, menggema disetiap penjuru kota. Hujan turun semakin lebat. Membuat tikus-tikus bersembunyi dan kelelawar berterbangan ketakutan dan ikut menyembunyikan diri. Bahkan anjing tak berani menggonggong, sedangkan kucing dan hewan lainnya bergidik ngeri karena merasakan aura yang mengerikan.

Dikamar Sting, jendela terbuka. Tiraipun berkibar tertiup oleh angin diikuti bantingan sang daun jendela. Ketika guntur kembali menggema, terlihatlah kalau dikamar sang putra tunggal Weisslogia dan Clara tidak ada seorangpun. Sting tidak ada disana. Sementara disebuah rumah mewah disalah satu kediaman vampire C Class, seseorang tengah menghisap darah seorang gadis vampire yang merupakan putri kediaman tersebut.

Mansion Dragneel. Natsu memandang hujan dari jendela kamarnya. Sekarang sudah dini hari, yang artinya diri vampirenya sudah kembali menggantikan diri manusianya. Sejak kejadian di perpustakaan tadi ia jadi bertanya-tanya.

"Siapa bocah itu sebenarnya?" tanya Natsu dalam hati

"Kenapa ia bisa tahu lagu itu?" tanya Natsu

"Apa dia mengenal Lui? Maka dari itu ia menanyakan namanya?" lanjut Natsu

"Apa dia teman Lui?" tanya Natsu lagi

Di usapnya toples kaca berisi origami bintang berbagai warna. Memikirkan tentang Lucy, tiba-tiba saja ia teringat kejadian Sting mencium bibir bocah itu. Dan tanpa ia sadari tangan yang semula mengusap toples jadi tidak fokus dan –

PRANG

Toples kaca jatuh dan pecah, menghamburkan origami bintang. Natsu sedikit terkejut, ada apa dengan dirinya? Dipungutinya bintang-bintang kertas itu, namun jari jemarinya tak sengaja menyentuh pecahan kaca, ibu jarinya berdarah. Spontan ia menghisap darah di jarinya. Dan tiba-tiba saja ia teringat hal yang sama.

Flashback

"Natsu, jangan lupakan aku. Aku akan selalu memperhatikanmu, meski aku tak disisimu. Kumohon jangan pernah bersedih, menangis atau menyalahkan dirimu sendiri. Kau tahu Natsu, cinta bukan malapetaka. Mereka pergi bukan karena kau mencintai mereka. Jadi jangan katakan kalau kau tidak akan pernah mencintai lagi karena takut mereka akan berakhir sama" ucap Lui dengan lirih namun masih bisa didengar oleh Natsu kecil

"Lui" panggil Natsu dengan suara serak karena menahan tangis

"Kau dulu pernah menanyakan untuk apa aku membuat banyak sekali origami bangau dan bintang kan?" tanya Lui yang dijawab anggukan lemah Natsu

"Karena aku ingin bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sanggup menggetarkanku, seperti ini" kata Lui kemudian meraih tangan Natsu dan meletakkannya di dada. Natsu terperangah dengan detak jantung Lui, sangat cepat. Barulah ia menyadari maksud dari perkataan Lui, gadis kecil itu berharap bertemu dengannya. Ia menunduk dan diam-diam menggigit bibir bawahnya.

"Aku akan tetap membuatnya berdegup" ucap Natsu kemudian, membuat Lui terpana. Namun kemudian Lui tersenyum lembut, tak tahukah kau Natsu kalau dibalik senyuman lambut itu tersirat luka. Perlahan Lui memanggil nama Natsu, ia menyadari kalau dia sudah menemukan mereka.

Natsu mendongakkan kepala. Belum sempat ia membuka suara tiba-tiba Lui sudah menyentuh bibirnya dengan ibu jari mungilnya. Natsu terpana, itu bukan hanya sentuhan semata, ia bisa merasakan sensasi lain. Rasa anyir, tidak. Lebih tepatnya rasa manis dari cairan merah kental yang keluar dari ujung ibu jari Lui. Natsu meneguknya, matanya memerah sempurna. Lui tersenyum lembut tak kala darahnya sudah sampai di tenggorokan Natsu. Dan, disitulah untuk pertama kalinya seorang Natsu Dragneel meminum darah. Tak mau membuat Lui kehabisan darah, dengan segera ia menjauhkan ibu jari gadis kecil itu.

"Apa yang kau lakh - Hmmpt" belum sempat Natsu mengeluarkan satu kalimat, ia kembali merasakan sesuatu dibibirnya.

Lui menciumnya. Ia mempertemukan bibirnya dengan bibir Natsu dengan lembut, Natsu masih diam terpaku. Ia mencerna apa yang tengah dilakukan Lui, namun bukan itu yang membuatnya tambah terpaku. Melainkan sebuah liquid bening yang menetes dari mata Lui yang terpejam. Seperti ada sebilah belati yang menusuk ulung hatinya, Natsu merasakan sakit. Ciuman Lui sangat menyakitkan, kenapa ia merasa seperti Lui akan meninggalkannya?

Flasback End

"Ya, kau memberikan darahmu, ciumanmu dan meninggalkanku setelah itu, Lui" gumam Natsu memandangi ibu jarinya yang sudah menutup lukanya.

"Membuatku menanggung beban sebagai seorang pembunuh seumur hidup. Bahkan ketika aku menodai taring dan tanganku dengan darah. Tak dapat membuatku lupa kalau dengan tangan ini aku sudah membunuhmu" lanjut Natsu dengan mata berkaca-kaca

"Bahkan sekarang kau menghukumku dengan mengirimkan seseorang yang mirip denganmu" kata Natsu kemudian

"Cih! Aku tidak mau mengakuinya mirip karena yang mirip dari kalian hanya mata saja" elak Natsu

"Dia bahkan seorang laki-laki. Dan aku sangat membencinya, Lui" kata Natsu

Tepat setelah itu, Natsu kembali terngiang perkataan Lucy tadi. Perkataan yang sedikit membuat hatinya bergetar meski ia sangat benci untuk mengakuinya.

"Kau katakan kalau kau akan membunuhku. Lalu, apa aku harus diam saja? Aku harus melakukan apapun demi selamat. Apa aku harus mati begitu saja?"

"Setiap bicara padaku yang kau katakan hanyalah ingin membunuhku dan membunuhku. Kau mengancamku padahal kau tahu aku tidak berdaya dihadapan orang kaya sepertimu"

"Apa kejahatan namanya . . . jika ingin hidup?"

"Semua orang ingin hidup, kenapa kau ingin aku mati?"

Natsu memejamkan matanya pelan dan berusaha mengusir suara itu dari kepalanya. Kenapa lagi dengan dirinya? Kenapa lagi-lagi setiap ia ingat akan sosok Lui maka ujung-ujungnya diikuti ingatan tentang bocah laki-laki serampangan macam Lucy? jika ini hukuman atas perbuatannya di masa lalu pada Lui, tapi kenapa harus Lucy? bocah yang sangat ingin ia kuliti dan siksa demi membalaskan dendamnya pada Sting yang sudah mengkhianati persahabatan mereka karena tunggal Eucliffe itu lebih memilih memihak permaisuri dibanding dirinya yang menjadi korban permaisuri.

...

Esoknya di Fairy Tail Gakuen. Dipagar, anggota dewan kedisiplinan OSIS sudah berjejer rapi. Hari ini sang ketua kedisiplinan sudah masuk, terpaksa para anggota dipaksa datang jam 06.00 pagi hanya untuk melakukan operasi. Erza Scarlet tampak segar bugar pagi ini, jelas saja ia kan habis berlibur. Levy dan Juvia bahkan masih sesekali menguap yang dihadiahi deathglare oleh sang Scarlet.

"Erza, kau membangunkanku terlalu pagi. Aku bahkan belum sarapan" keluh Levy

"Juvia bahkan lupa membawa bekal" kata Juvia

"Nanti keruanganku. Akan kumasakkan kalian apapun yang kalian mau. Jadi berhenti mengeluh dan tunjukkan ketegasan kalian" kata Erza

Levy dan Juvia tentu tersenyum lebar. Masakan Erza itu bisa dibilang lumayan enak karena sang ayah merupakan Chef kelas dunia dan mempunyai banyak restoran berbintang hampir disetiap negara. Tentu dengan segala hormat mereka kembali menegakkan tubuh mereka.

"Oh ya Erza. Kau mau dengar berita terhangat di sekolah ini selama kau pergi?" tanya Levy sambil membuka buku kedisiplinan

"Boleh, memangnya apa? tidak biasanya seorang kutu buku Levy McGarden tertarik mendengarkan gosip" jawab Erza dengan nada sedikit singgungan, membuat Levy dan Juvia sweatdrop

"Sebenarnya kau ingin dengar atau tidak Erza-san?" tanya Juvia

"TENTU" jawab Erza pasti seraya mengambil botol air di jendela pos security, tempat mereka tengah berdiri. Ia memutar tutup dengan pelan seraya menyimak si kutu buku.

"Pangeran Egois dan Pangeran Es kembali bersi tegang" kata Levy membuat Erza menghentikan putarannya pada tutup

"Bukankah itu sudah sering terjadi?" tanggap Erza malas-malasan

"Dan kau tahu, apa yang membuatnya tambah menggemparkan?" tanya Levy

"Kalau aku tahu maka gelarku akan berubah menjadi seorang dukun" jawab Erza membuat Juvia terkekeh dan Levy mendengus

"Hanya karena seseorang" lanjut Levy

"Perempuan?" tanya Erza kemudian meminum air di botol

"Laki-laki" jawab Levy

BUUUFFFTTTTTT

Erza menyemburkan air dari mulutnya, bahkan ia sampai tersedak. Ditatapnya Levy dengan tajam, tidak bisakah si kutu buku itu tidak membuatnya hampir serangan jantung.

"Apa mereka sudah gila?" tanya Erza

"Kurasa. Karena baru kali ini Kaichou kita mau melirik dan memperhatikan seseorang. Bahkan ia berangkat ke sekolah bersama anak itu" jawab Levy

"Dan yang lebih anehnya lagi. Baru pertama kali ini juga sang pangeran egois membiarkan seseorang berada disisinya selain antek-anteknya dan Lisanna. Bahkan ia sangat marah ketika Ketua berusaha mendekatinya" lanjut Levy

Erza mencerna apa yang dikatakan Levy. Siapa gerangan yang bisa membuat kedua pangeran sekolah yang terkenal sama-sama acuh tak acuh mau memperhatikan seseorang. Tapi kalau itu Natsu, tidak mungkin ia mempertahankan seseorang tanpa maksud. Kalau Sting, tidak mungkin ia tertarik dengan sesuatu jika tidak menyukainya. Sepertinya ia harus melihat siapa anak yang dimaksudkan oleh Levy.

Satu jam menunggu, tepat pukul 07.00 mobil-mobil mewah dari BMW, Marcedes Ben, Hyundai, dan mobil-mobil mewah lain mulai berhenti di depan pagar. Para siswa yang rata-rata anak konglomerat dan atau orang penting keluar dan menuju gerbang. Erza men-stop mereka satu persatu guna mengecek seragam mereka dan baru mengizinkan mereka masuk setelah di cek. Tak ada yang berani menyelanya, mereka semua patuh tanpa terkecuali. Siapa juga yang berani dengan tunangan Jellal Fernandes yang mensabet gelar perempuan terkuat di Fairy Tail? Tuntunya tidak ada. Meski kini karena cara Operasi Erza, banyak siswa yang harus mengantri panjang layaknya masyarakat yang antri sembako di acara sumbangan sosial.

Sudah hampir satu jam ketiga anggota OSIS Fairy Tail Gakuen melakukan operasi, 15 menit lagi bel akan berbunyi. Erza sudah bersiap mau menutup gerbang, namun dua buah mobil mewah sepertinya sedang beradu balap untuk masuk. Kedua mobil itu adalah Lamborghini Aventador Silver dan Lamborghini Aventador Gold. Erza sudah memasang wajah garangnya karena tampaknya kedua pemilik mobil itu tak ada yang mau mengalah untuk masuk. Lihatlah sang Aventador Silver yang tiba-tiba menghentikan mobilnya dengan posisi berbelok memenuhi gerbang. Membuat sang Aventador Gold berhenti seketika dan hampir menabraknya.

"Kalian! Keluar!" teriak Erza

Pemilik Aventador Gold keluar, ia adalah Sting Eucliffe dengan wajah datarnya. Diikuti pemilik Aventador Silver yang merupakan Natsu Dragneel yang keluar dengan membanting daun pintu mobil. Mereka berdua menghadap Erza dengan saling melirik sinis melalui ekor mata.

"Kalian pikir ini area balap? Huh? Dan kau Sting! kau ini ketua, harusnya kau tahu berapa kecepatan yang diperbolehkan saat memasuki area sekolah!" teriak Erza

"Aku tahu, hanya saja Aventadorku tidak bisa sepelan itu" elak Sting dengan suara sedikit kekanakan, sukses membuat Erza bagai serangan jantung. Apa ini? Apa seorang Sting Eucliffe yang selalu taat dan menjunjung tinggi peraturan sekolah tengah berkilah?

"Cih! Katakan saja kalau kau ingin bersaing denganku" kata Natsu

"Aku tidak ingin bersaing denganmu, hanya saja kau yang selalu memblok jalan yang hendak kulalui" balas Sting

"Aku? Hei bung, ini jalan umum. Kau pikir ini lahanmu? Lahan Eucliffe?" balas Natsu terpancing emosi

"Aku tidak mengatakan ini lahanku, kurasa kau berlebihan" jawab Sting dengan datar sedatar-datarnya, sifatnya kembali ke Sting asli.

"Kenapa? kau masalah dengan itu?" tantang Natsu

"KALIAN BERDUA, HENTIKAN!" bentak Erza dan membuat keduanya diam seribu bahasa. Meski dapat Erza lihat kalau bibir Natsu tak henti-hentinya komat kamit menyumpahinya. Ia akan tahan, memukul Natsu sama artinya memukul anak kecik. Anak itu tetap tidak akan kapok. Ya, pangeran egos sampai kapanpun akan tetap egois.

"Natsu, parkirkan mobilmu ke tempatnya. Dan kau juga Sting. Ingat, pelan-pelan. Kalau aku tahu lagi, akan kusita AVENTADOR kalian!" ancam Erza

"Sita saja kalau mau, aku masih punya banyak mobil" gumam Natsu seraya pergi

BRUKKKH

Mereka semua seketika menoleh. Mereka mengernyit tak kala melihat seorang siswa berseragam laki-laki yang jatuh tengkurap dengan dijatuhi buku-buku tebal. Bahkan isi dari tasnya berhamburan. Siswa itu bangun sambil merintih, ia mengusap-usap hidungnya yang sedikit lecet. Kacamata bulatnya miring dan rambutnya sangat berantakan. Ditambah seragam yang sepertinya tidak disetrika. Siapalagi kalau itu bukan Lucy.

"Hidungku" keluh Lucy

Seketika Sting mendekat, ia berjongkok menyamai tingginya dengan Lucy dan meraih wajah gadis itu. Lucy tentu sangat terkejut.

"Bagaimana mungkin Sting?" tanya Lucy dalam hati

"Hidungmu lecet" kata Sting perhatian membuat ketiga gadis yang lain blushing

Namun ketika ia hendak menyentuh hidung kecil mancung itu, tangannya tiba-tiba dicengkeram dengan kasar oleh Natsu. Sting terkekeh.

"Lepaskan tanganmu" pinta Sting

"Sudah kubilang jangan sentuh dia, tidak cukupkah kau menyentuhnya tanpa izinku kemarin?" balas Natsu

"Menyentuh? Apa maksudnya?" tanya Lucy dalam hati

"Kenapa baru sekarang kau protes? Bukankau kau tak berkutik kemarin?" balas Sting

Natsu geram, dicengkeramnya lengan Sting berharap akan meremukkan tulang-tulangnya. Benar saja, Sting kesakitan tapi ia hanya tersenyum sinis pada Natsu tanpa berusaha melepaskan tangannya. Tahu apa yang terjadi, Lucy segera menengahi. Dilepaskannya tangan Natsu dengan paksa.

"Lepaskan dia!" kata Lucy

"Hoh, kau membelanya? Lucu sekali. Aku ini tuanmu, apa kau lupa?" tanya Natsu sarkartis

"Tentu tidak, aku sangat tahu kalau kau tuanku, majikanku dan bosku" jawab Lucy dengan penekanan disetiap kalimatnya

"Jadi berhenti mengatakan itu karena aku mual mendengarnya" lanjut Lucy seraya memberesi buku dan peralatannya yang berserakan dan pergi begitu saja dari sana

Sepeninggalan Lucy, Natsu dan Sting saling menatap dengan tajam.

"Awas kau, lihat saja. Akan kubuat bocah itu menangis darah dan memohon ampunanku" kata Natsu dengan telepati

"Kau akan menyesal jika benar-benar melakukannya" balas Sting dengan telepatinya

"Aku hanya akan menyesal jika tidak melakukannya" balas Natsu dengan telepati

"Ah, bagaimana kalau kita bertaruh? Aku menantangmu di circuit nanti malam" tawar Natsu

"Aku akan berbaik hati dengan melepaskannya setidaknya selama sebulan. Bagaimana?" lanjut Natsu

"Kalau aku kalah?" tanya Sting

"Kau harus menjauh darinya selamanya" tawar Natsu

"Tidak bisa begitu, jika aku menang kau harus lepaskan dia" kata Sting

"Baiklah jika kau tidak mau, aku pergi" kata Natsu seraya beranjak

"Aku terima tawaranmu" kata Sting memutuskan, ia tahu konsekuensinya besar namun setidaknya biarkan ia untuk meringankan beban Lucy selama sebulan.

Kini jam pelajaran dimulai. Seperti biasa, Lucy harus mencatat dua kali disetiap mata pelajarannya. Ditambah lagi dikelas ini tak ada satupun seseorang yang bisa ia mintai tolong. Selama jam pelajaran pula, Natsu terus diam. Namun ekor matanya melirik ke hidung mancung Lucy yang lecet. Oh Natsu, apa kau sedang mencoba perhatian? Atau sedang merencanakan sesuatu?

Jam berganti. Saatnya jam pelajaran Gildarts-sensei, olahraga. Mereka semua keluar menuju ruang ganti. Dan barulah Lucy sadar, kemana ia harus berganti pakaian? Tidak mungkin ia masuk ruang ganti perempuan, ia pasti akan diteriaki mesum. Tapi jika ke ruang ganti laki-laki, ia juga tidak akan sanggup melihat dada bidang anak laki-laki.

"Oh, bagaimana ini?" tanya Lucy dalam hati

Natsu berlalu begitu saja dengan ketiga antek-anteknya. Lucy tidak mengikutinya, membuat sang Dragneel muda itu berdecak dan harus kembali untuk menyeretnya.

"Bangun, kau mau dikelas saja? apa kau mau di drop out?" tanya Natsu yang dijawab gelengan oleh Lucy

Akhirnya Lucy mengikuti mereka berempat ke ruang ganti Laki-laki, kalau tidak ada orang tidak masalah. Tapi kali ini ia harus berbagi, perlu diulangi? Berbagi? Matanya melotot tak kala melihat anak laki-laki dengan cueknya membuka seragam dan memperlihatkan otot-otot mereka. Tak hanya itu, bahkan mereka juga melepaskan celana panjang mereka begitu saja. Tak kuat melihatnya Lucy membalikkan badan. Selama di Sabertooth, ia berganti di ruang ganti perempuan bersama Yukino, karena semua tahu kalau ia adalah seorang perempuan.

"Sial, aku tidak ingin mataku kena bisul gara-gara mengintip para laki-laki tidak tahu malu itu. Seenaknya saja membuka pakaian!" gerutu Lucy dalam hati

Lucy mengendap-endap ke pojok ruangan, tempat paling sepi, terhalang loker dan sepertinya tak ada siapapun disana. Namun tangannya ditarik dan tanpa sadar punggungnya sudah membentur dinding dengan keras. Natsu segera mengunci Lucy dengan kedua lengannya. Sedangkan Lucy, ia bersiap mengeluarkan sumpah serapahnya, namun melihat siapa yang berani melakukannya ia mengurungkan niatnya.

"Kenapa? kau tidak bisa mengeluarkan sumpah serapahmu? Huh?" tanya Natsu dengan nada bossy-nya

"Apa maumu? Minggir" kata Lucy

"Kau memerintahku? Kau sudah berani rupanya. Dengar ya, bocah. Jangan sombong hanya karena sang Kaichou yang merupakan teman atau apalahmu itu membelamu. Iya sekarang, tapi tidak nanti dan selamanya" papar Natsu

"Apa maksudmu?" tanya Lucy

"Maksudku? Rahasia. Ini terlalu berharga untuk diberi tahu padamu. Ah, tapi jika kau menangis dan memohon mungkin akan kuberi tahu. Bagaimana?" tawar Natsu persis seperti seorang mafia yang menghadapi tawanannya

"TIDAK SUDI" jawab Lucy tegas

Lucy berusaha menghindar namun Natsu tak tinggal diam, ia belum selesai bicara. Ditariknya kedua tangan Lucy dan ia menguncinya di samping kepala gadis yang ia sangka laki-laki itu.

"Arh" rintih Lucy, pegangan dan cengkeraman Natsu tidak kira-kira. Meski ia kuat, tapi tetap saja seperti itu sakit

"Suara yang indah bocah, aku suka rintihanmu" kata Natsu

"Lepaskan aku" pinta Lucy dengan mata tajam

"Diamlah, aku belum selesai bicara. Dan, tidak bisakah kau tidak menatapku seperti itu? matamu sangat mengganggu, mau kucongkel?" kata Natsu

"Cih, seperti kau berani melakukannya saja" tantang Lucy

"Kau tahu aku punya kemampuan untuk itu, tapi aku tidak akan melakukannya sekarang. Nanti tidak asyik kalau kau menderita tanpa bisa melihat apa yang kusuguhkan" lanjut Natsu

Lucy menggigit bibir bawahnya. Setiap keluar dari kelas, Natsu bagai binatang buas yang dilepas dari kandangnya. Pemuda pink itu akan tetap diam di kelas, menyiksanya dengan halus dengan mengerjakan ini itu, menulis semua catatan, bahkan tugas dan PR. Tapi setelahnya, siksaan fisik dan mental akan menempanya.

"Jadi apa yang mau kau bicarakan? Bukankah kau tidak mau mengatakannya tadi?" tanya Lucy kemudian

"Kenapa kau mengindar? Apa kau malu melihat tubuh atletis anak-anak?" tanya Natsu

Lucy tersentak, darimana Natsu tahu kalau ia sedang malu? Apa pemuda itu bisa membaca fikiran?

"Padahal kau itu Gay, kenapa harus malu" lanjut Natsu

"Jaga bicaramu tuan" Lucy tidak terima dibilang gay

"Gay tidak akan pernah mengakui kalau ia seorang gay. Makanya kau malu melihat mereka. Bukan begitu?" kata Natsu

"Tutup mulutmu, aku bukan —" jawab Lucy dan terputus, bagaimana ini? ia memang bukan gay. Ia masih normal, ia menyukai laki-laki. Tapi bagaimana menjelaskannya? Apa ia harus mengakui kalau ia adalah perempuan? Tidak mungkin.

"Heh? Kau tidak bisa menjawab?" tanya Natsu

"Baiklah kalau kau tidak bisa menjawab. Aku akan membantumu menjawab" kata Natsu kemudian mulai menyentuh dasi Lucy

Lucy gemetar. Apa yang mau Natsu lakukan padanya? Merasa terancam, ia menggigit bibir bawahnya. Ingin sekali ia memohon agar Natsu berhenti namun lidahnya kelu, cih! Pemuda itu memang sangat suka melihat dirinya memohon.

Dengan sekali tarikan, dasi Lucy sudah terlepas. Tangan pemuda itu mulai meraih kancing pertamanya, dan membukanya. Turun ke kancing kedua, dan ketiga. Ia bahkan mulai berani membuka kemeja bagian atas Lucy. Lucy memalingkan wajahnya ke kiri, tidak sanggup dengan apa yang dilakukan Natsu. Bisa saja ia menendang Natsu, tapi ia tidak ingin memperburuk keadaan. Bisa saja kemejanya lepas jika ia melakukannya. Wajahnya memerah, antara kesal, marah dan malu. Dan kini, Natsu dapat melihat betapa mulusnya kulit leher dan dada bagian atas Lucy. Apa reaksinya?

TERPANA

Natsu diam, melihat pemandangan dihadapannya. leher Lucy sangat mulus tanpa noda. Ditambah nafasnya yang naik turun membuat sensasi aneh di diri Natsu. Seperti dirinya seketika mulai dialiri arus listrik dengan sengatan-sengatan kecil kemudian menjalar ke setiap inchi tubuhnya. Dan, darahnya memanas. Tanpa ia sadari, vampire mode on-nya aktif. Matanya memerah dan taringnya menyembul di bibir manisnya.

"Apa ini? kenapa aku tiba-tiba saja haus?" tanya Natsu dalam hati

"Lehernya benar-benar menggodaku untuk menancapkan taringku disana" lanjut Dalam hati

Natsu mulai mendekatkan wajahnya ke leher bagian kanan Lucy. Dapat Lucy rasakan hembusan nafas hangat menerpa kulit lehernya. Bulu kuduknya merinding, ingin sekali ia melawan namun hembusan nafas itu semakin dekat membuat tubuhnya seakan kehilangan tenaga.

"Kalau begini ia benar-benar akan mencium leherku! Apa yang harus aku lakukan? tubuhku seakan mati rasa. Aku tidak sudi disentuh oleh laki-laki kecuali suamiku kelak!" kata Lucy dalam hati

Bibir Natsu sudah sedikit bergesekan dengan kulit leher Lucy. Membuat Lucy menegang sempurna dan tubuhnya sedikit gemetar. Melihat seseorang yang berada di cengkeramannya bergetar, Natsu malah semakin mendekat namun –

"Hentikan" mohon Lucy lirih

Natsu menghentikan aksinya. Mata merahnya kembali seperti semula dan vampire mode on-nya nonaktif. Ia tercengang.

"Apa yang sedang aku lakukan?" tanya Natsu dalam hati.

Ia masih memproses posisinya, diliriknya bibirnya yang sudah sedikit menyentuh leher sang pelayan. Membuat Onyx hitamnya membulat. Seketika ia melepaskan tangan Lucy dan menjauh darinya. Ditatapnya Lucy dengan penuh tanda tanya, berharap bocah itu akan menjelaskan apa yang terjadi. Namun dengan tergesa-gesa Lucy membenahi kemejanya yang tadi sedikit terbuka. Kedua pipinya memerah, dan entah kenapa kini dimata Natsu itu sebuah pemandangan yang –

Sulit menyebutkannya. Dengan tergesa-gesa Lucy mengambil seragam olahraganya dan pergi melewati Natsu begitu saja. Tunggal Dragneel itu mematung ditempat, tak sanggup berkata-kata.

"Apa yang baru saja aku lakukan?" tanya Natsu dalam hati

Diluar, Lucy tergesa-gesa berjalan menuju toilet laki-laki. Wajahnya masih merah akibat ulah Natsu yang hampir menciumnya fikirnya.

...

Malamnya, di Circuit balap Fiore. Anak-anak Fairy Tail Gakuen sudah berkumpul. Suara rih-riuh terdengar membengkakkan telinga ditambah suara mobil yang sedang pemanasan. Malam ini lebih ramai dari biasanya karena untuk pertama kalinya seorang Sting Eucliffe menerima tantangan Natsu Dragneel sang pemegang piala Circuit selama tiga tahun berturut-turut. Ya, Natsu sudah masuk menjadi anggota balap sejak kelas 2 SMP. Dia belum pernah kalah sekalipun, ia raja disini. Raja!

Disana, banyak sekali mobil mewah berjejer rapi. Dari BMW Sport, Lamborghini, Ferrari, Bugatti, Jaguar.

"Natsu! Natsu! Natsu!" teriak seluruh anggota Circuit dan penonton

Diantara mereka ada Lucy yang duduk di sebuah kursi yang berada tak jauh dari gerombolan. Ia bingung kenapa tiba-tiba Natsu menyeretnya kesini. Ia harus mengerjakan PR mereka, ditambah tugas Fisika yang tiada habisnya. Jujur ia tidak nyaman, lihatlah mobil mewah itu. Dan lihatlah pakaian minim yang menunjukkan lekuk tubuh mereka anak-anak gadis Fairy Tail. Ia memandangi dadanya sendiri. Datar, oh apa yang difikirkannya. Ia beruntung punya dada rata sehinga tidak mengundang laki-laki hidung belang. Ia berdecak melihat Natsu yang sangat bangga disoraki oleh gadis apalah-apalah itu.

"Cih! Sombong sekali dia" komen Lucy

Mata Lucy beralih ke surai blonde spike yang berdiri menatap Natsu. Tidak ada yang menyemangatinya, Lucy tersenyum dan diam-diam ia mengepalkan tangannya menyemangati.

"Fighting Sting" kata Lucy

Sting melirik Lucy dan ia ikut tersenyum. Sang penantang tentu sadar dengan siapa Sting tengah tersenyum, siapa lagi yang bisa membuat Sting out of character kecuali Lucy?

"Tersenyumlah selagi kau bisa" sindir Natsu

Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Kali ini Natsu dengan Lamborghini Veneno hitam dan Sting dengan McLarem F1 putih. Keduanya saling melirik, Natsu menyeringai yang hanya ditanggapi datar oleh Sting. Sang wasit Circuit yang tak lain adalah Kagura maju dan menyiapkan benderanya.

"Three, Two" kata Kagura

BRMMM BRMMM

"One, GO!" lanjut Kagura mengibarkan benderanya

Mobil keduanya langsung melesat dengan kecepatan penuh. Sang McLarem F1 putih menambah kecepatan, meninggalkan sang Veneno. Natsu terkekeh, Sting tidak sabaran rupanya. Tidak mudah karena di Circuit Fiore baru saja direnovasi dan mengganti arah lintasannya. Natsu menancap gas dan mulai melaju kencang, dengan sepersekian detik ia bisa menyusul Sting. Ia mengedipkan lampu depannya dan melewati Sting dengan mudahnya.

Para penonton bersorak. Lucy menggenggam tangannya kuat, perasaannya tiba-tiba tidak enak melihat Sting seperti itu. Kecepatan mereka tidak kira-kira, Lucy memucat.

SETTT

Dua buah mobil yang terdiri dari Lamborghini Gallardo hijau dan Zenvo ST1 merah. Jellal dan Erza keluar dari Gallardo diikuiti Levy dan Juvia dari Zenvo. Mereka segera menuju ke dekat monitor dan terkejut melihat mobil Sting dan Natsu saling salip menyalip. Jellal memegang kepala bagian belakangnya.

"Kurasa Sting benar-benar tersulut emosi. Ia pasti benar-benar lupa kalau Natsu tidak pernah kalah sekalipun" keluh Jellal

"Kau sedang mengenang kebersamaan kalian ketika SMP?" sindir Erza

"Tidak, Erza" elak Jellal dengan keringat dingin

"Cih! Padahal kalian bertiga dulu sangat hobi balapan disini hinga ayahmu menyita semua mobilmu waktu itu" sindir Erza lagi

"Aku kan sudah tobat" keluh Jellal

"Tapi, kenapa Kaichou tiba-tiba mau bertarung melawan Natsu dengan cara seperti itu?" tanya Levy

"Kaichou benar-benar berubah, ia terlihat mengerikan kalau seperti itu" timpal Juvia

SETT

Lamborghini Estoque parkir disamping kedua mobil mereka. Rogue keluar bersama Yukino, mereka terkejut melihat layar monitor. Ketika keduanya menoleh, Jellal terkejut dengan kehadiran sepupu Sting dan kekasihnya.

"Rogue? Yukino?" tanya Jellal. Erza, Levy dan Juvia ikut menoleh dan heran bagaimana mereka bisa sampai sini

"Hlo, ada Erza, Levy dan juga Juvia?" tunjuk Yukino

"Lama tidak bertemu Yukino, Rogue" sapa Juvia

"Sekarang bukan waktunya untuk itu, Juvia. Kita harus fikirkan bagaimana membatalkan pertarungan ini. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi yang jelas firasatku mengatakan kalau mereka tengah bertaruh" kata Erza

"APA?" Jellal, Rogue, Juvia dan Yukino terkejut tapi tidak dengan Levy. Gadis berambut biru yang suka mengenakan bando itu memegangi dagunya.

"Tadi pagi mereka sempat berseteru. Karena level mereka terlalu tinggi maka aku tidak bisa mendengar telepati mereka. Yang jelas dari pandangan keduanya pasti apa yang dikatakan Erza ada benarnya" jelas Levy

"Terlebih mereka berseteru karena seseorang" lanjut Levy

"Lucy?" tebak Yukino

Menyadari artinya taruhan itu, Yukino jadi panik. Ia mencoba menghubungi Sting namun malah teralihkan ke kotak suara.

"Tidakkah menurut kalian ini menarik?" tanya seseorang, mereka menoleh ke sumber suara. Kini Gray, Gajeel dan Loki mendekat ke tempat mereka berdiri.

"Apa maksudmu taruhan ini menarik? Jaga bicaramu!" tuding Yukino kesal

"Hoho, sudah lama tidak bertemu tapi reaksimu berlebihan, Yukino" jawab Gray

"Yukino jangan terpancing emosi ya" kata Juvia menenangkan Yukino yang sudah kembang kempis

"Tentu menarik. Tidak biasanya seorang Natsu Dragneel mempertahankan seseorang disisinya hingga seperti itu" jawab Gray

"Ya, dia mempertahankan Lucy karena ingin menyiksanya kan?" bantah Yukino

Gray mengedikkan bahu. Pura-pura tidak paham, kemudian dia bersama kedua temannya tertawa. Cukup untuk menaikkan parameter kemarahan seorang Yukino Aguria. Gadis Silver itu hampir saja melepaskan bogemnya kalau Rogue tidak menahannya. Gajeel melirik Rogue, sudah lama juga ia tidak bertemu pemuda emo itu. Padahal dulu mereka juga merupakan rival di circuit ini tapi sekarang pemuda emo itu sepertinya sudah tidak tertarik atau sengaja menarik diri.

Mereka masih saling menatap tajam hingga suara riuh-riuh semakin menjadi-jadi. Semua pasang mata langsung melihat layar. Dan wajah Gray, Loki dan Gajeel –

Ditempatnya, Lucy terpana. Berharap ia salah lihat, tapi tadi dengan jelas kedua bola mata caramelnya melihat bahwa bagian mobil depan keduanya hanya selisih sedikit. Sudah tahu kan siapa pemenangnya?

Sting mengerem mobilnya mendadak. Tidak memperdulikan tubuhnya yang hampir menghantam setir. Ia yakin kalau tadi ia hampir menang jika saja Natsu tidak men-telepatinya dengan kata-katanya.

Flashback

Sting memimpin perlombaan. Sementara Natsu tertinggal, dimobil Lamborghini Veneno-nya ia mengumpat. Beraninya Sting, awas saja. Namun kemudian ia tersenyum licik. Otaknya baru saja mendapatkan ide cemerlang.

"Sepertinya kali ini aku akan kalah" kata Natsu men-telepati Sting

"Sepertinya kesombongan akan memakanmu" balas Sting

"Tidak masalah aku dimakan kesombongan tapi setidaknya aku sudah memamakan hidangan istimewa-mu" kata Natsu memanas-manasi

"Apa maksudmu dengan hidangan istimewa-ku?" tanya Sting

"Siapa lagi kalau bukan bocah itu" jawab Natsu

Mereka hampir mendekati Finish dengan Sting yang masih memimpin, namun kecepatannya sedikit berubah gara-gara ucapan Natsu barusan.

"Kau tahu, rasa darahnya benar-benar memuakkan. Untung aku masih berbelas kasihan padanya hingga tidak membunuhnya" lanjut Natsu

Kecepatan Sting menurun drastis, darahnya mendidih. Ia bahkan tidak sadar siasat yang telah dilakukan Natsu padanya. Hingga ketika wasit meniup peluit ia baru sadar kalau ia sudah –

KALAH

Flashback End

Natsu keluar dari mobilnya seraya tersenyum penuh kemenangan. Para penonton mengerumuninya. Dengan angkuhnya ia menanti sang lawan yang kini sudah kalah untuk keluar dari mobil. Begitu Sting keluar, pemuda itu langsung mendekati Natsu. Pandangan matanya tajam.

"Kupikir kau akan bertanding sportif" ucap Sting dengan nada penuh emosi

"Aku memang sportif, memangnya aku mensabotase mobilmu atau lintasan ini? tidak kan?" tanya Natsu, padahal ia tahu apa yang dimaksudkan sportif oleh Sting.

Sting mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia menghantam wajah Natsu sekarang juga, tapi pemuda itu malah tersenyum evil. Nyata sekali ia tengah menantangnya. Tanpa pikir panjang ia layangkan tinjunya pada Natsu namun berhasil dicegah oleh Gray yang tiba-tiba saja sudah menghalanginya.

"Kurasa kau juga seharusnya tahu apa itu Sportif, Sting" kata Gray

Nafas Sting naik turun. Dikejauhan, Lucy memandang penuh tanda tanya perseteruan Natsu dan Sting. Sebenarnya apa tujuan balapan ini hingga Sting bisa semarah itu. Padahal dari desas-desus yang beredar di sekolah Sting bukanlah seseorang yang mudah marah bahkan ia jarang berekspresi hingga dijuluki Pangeran Es.

"Sesuai perjanjian kita. Kau harus menjauhinya. Hmm? Kaichou?" kata Natsu

Sting tak bisa berkata-kata lagi. Dalam lubuk hatinya ia menyesal menerima taruhan ini, karena dengan bodohnya ia tidak menyadari maksud dari taruhan ini sebenarnya. Tentu untuk menjauhkannya dari Lucy dan membuat gadis itu membencinya, ia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Natsu menyeringai senang, ini dia. Ia mengedikkan pandangannya pada Loki dan Gajeel. Kedua antek-anteknya kembali ke mobil mereka dan mengambil dua kantung besar.

"Jadi kau harus diam saja ketika aku melakukan sesuatu pada -nya. Sejak awal kau sudah menyetujuinya bukan?" kata Natsu

Sting masih diam.

"Tenang saja. Aku tidak akan memberitahukan padanya tentang taruhan ini. Berterimakasihlah padaku nanti" lanjut Natsu

Loki dan Gajeel sudah membagikan sesuatu dari kantung besar itu kepada seluruh penonton. Semua heran dengan apa yang diberikan, bahkan banyak yang merasa jijik. Digenggaman mereka kini ada dua butir telur mentah.

"Gray, bawa dia kesini" pinta Natsu yang langsung dilaksanakan ole Gray

Mata Sting hampir berubah ke dalam vampire mode-on.

"Kalau kau kelepasan disini, maka ia akan membencimu. Sanggupkah kau dibenci olehnya?" tanya Natsu

Gray membawa Lucy, perasaan Lucy tidak enak. Hingga kini ia sudah berada disamping Natsu. Pemuda itu merangkul lehernya, otomatis membuat Lucy terkejut. Bayangan ia hampir diserang Natsu di sekolah tadi kembali menghampirinya. Ia mencoba menarik diri namun Natsu meraih pinggangnya dan menariknya lagi. Para gadis yang melihatnya panas, hei siapa Lucy hingga Natsu harus melingkarkan tangannya di pinggang? Namun diantara semua yang paling panas adalah Sting dan seseorang yang sedari tadi bersembunyi di dalam mobilnya, Lisanna.

"Sialan bocah itu, lihat saja. Persiapkan dirimu mulai besok, karena Lisanna Strauss akan beraksi" geram Lisanna

Tiba-tiba Natsu mendorong Lucy ke tengah jalan Circuit, ia mengedikkan pandangannya dan semua tentu tahu apa maksudnya. Mereka mengerumuni Lucy, Lucy yang masih mencerna apa yang terjadi belum beranjak.

"Apa yang mau kalian lakukan padh-?" tanya Lucy langsung terhenti tak kala

CPLOKKK

Mata Lucy membulat tak kala sebuah telur pecah tepat di kepalanya. Ia hendak membuka mulut namun telur-telur kembali menghujaninya tanpa ampun, tidak memberinya kesempatan untuk sekedar bicara. Semua melemparinya dengan telur bahkan diantaranya ada yang telur busuk. Lucy memejamkan matanya, ia berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangan yang tentunya itu mustahil. Kuning telur dan putih telur sudah melumuri sekujur tubuhnya. Bahkan warna pakaiannya sudah tidak terlihat saking banyaknya telur yang menghujaninya.

"Hentikan" pinta Lucy dalam hati dengan lirih

"Kumohon hentikan ini" lanjut Lucy dalam hati

"Hentikan!" teriak Lucy dalam hati

Natsu tertawa puas melihat keadaan Lucy sekarang. Bocah sombong itu pasti sangat malu sekarang. Ia tahu kalau siksaan seperti ini akan mempan dengan Lucy, mengingat bocah itu sangat menjunjung tinggi harga dirinya.

Sementara Sting, ia hanya mampu berdiam diri tanpa mampu melakukan apapun. Ia sangat tahu kalau ia bertindak maka Natsu akan berbuat lebih dari itu.

Lucy mencoba membuka matanya, kini matanya kembali berkaca-kaca. Ia sangat malu sekarang. Bagaimana mungkin mereka mempelakukannya lebih rendah dari binatang? Bahkan seingatnya binatang diperlakukan lebih baik dari ini. Matanya mengedar, mencari sosok yang mungkin mau menolongnya. Ketika matanya bersirobok dengan Saphire Sting, ia berharap pemuda itu menolongnya. Menariknya dari sana, namun harapannya pupus ketika Sting malah berlalu. Sakit, ya sakit bahkan sangat sakit. Lebih sakit daripada dipermalukan seperti ini.

"Kenapa? Kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkanku? Apa aku begitu memalukan untukmu? Apa senyummu kemarin hanya penghibur belaka?" tanya Lucy dalam hati

"Kufikir kau adalah sahabatku. Aku tidak membencimu meski kau melupakanku atau pura-pura tidak mengenalku atas alasan yang entah aku tidak tahu. Tapi haruskah kau tidak peduli disaat aku seperti ini?" tanya Lucy dalam hati

Bisa saja Lucy berlari dari sana, tapi kakinya seolah sangat berat. Ia memejamkan mata, menerima segala bentuk penghinaan. Bahkan sekarang tidak hanya telur, tapi tepung mulai menghujaninya. Ditambah teriakan mengejek.

"Rasakan ini!"

"Makan ini, kau miskin kan. Nikmati telur ini"

"Dasar tidak tahu malu"

"Makanya jangan jadi jalang! Jalang laki-laki? Huh dasar gay"

"Dasar muka tembok"

"Menyedihkan"

"Sialan"

Ditempatnya, Yukino meronta-ronta minta dilepaskan. Ia sangat marah hingga vampire mode on-nya aktif, membuat Rogue harus dibantu Juvia dan Levy untuk memeganginya.

"LEPASKAN AKU! SIALAN! MATI KALIAN JIKA MENAHANKU! AKU AKAN MEMBUNUH NATSU SEKARANG JUGA" teriak Yukino sejadi-jadinya

Teriakan Yukino tentu didengar Natsu, tapi bukannya marah ia malah semakin melebarkan senyum iblisnya. Sangat menyenangkan. Ini bahkan 100 kali lipat lebih menyenangkan daripada menghisap darah para gadis.

"Natsu, hentikan ini" pinta Erza yang sudah berada disamping Natsu

"Hentikan katamu? Atas dasar apa aku harus menghentikannya. Ini bahkan baru pembukaan. Hidangan utamanya belum keluar" jawab Natsu santai

"Kau tidak kasihan padanya?" tanya Erza tajam

"Sejak kapan di kamusku ada kata menjijikkan itu?" tanya Natsu

"Kau masih ingat hukum sebab akibat? Apa yang kau lakukan sekarang maka suatu saat akan berbalik padamu. Tidakkah kau tahu itu?" tanya Erza geram

"Aku tahu tapi aku tidak takut. Toh aku akan mati setelah membunuh permaisuri. Itulah tujuan hidupku. Jadi selagi aku masih bisa bersenang-senang maka akan kulakukan" jawab Natsu

"NATSU" pekik Erza sambil menggenggam kedua tangannya berusaha untuk tidak meninju wajah tampan didepannya.

Tiba-tiba tiga buah mobil mewah masuk ke circuit. Ketiga mobil Lamborghini dengan tipe Gallardo, Murcielago dan Cabrera mengelilingi Lucy. Tiga mobil itu adalah milik Loki, Gray dan Gajeel. Mereka membawa APAR FOAM, jadi sekarang mereka tidak menyetir sendiri melainkan seorang supir yang merupakan anggota dari Circuit. Teriakan semakin menggebu-nggebu.

"Lanjut! Lanjut!" teriak para penonton

Loki tersenyum mendengarnya, ia mengkodekan pada kedua temannya untuk membiarkan ia yang memulai hidangan utamanya. Tanpa berfikir lagi, ia segera menyemprotkan APAR FOAM yang berisi busa pada Lucy. Lucy tersentak.

"Siksaan apa lagi ini?" tanya Lucy dalam hati

"Kau lihat Erza? Ini dia bagian utamanya" kata Natsu pada Erza

"Kau!" kata Erza

"Aku tahu, tidak perlu dilanjutkan" jawab Natsu

Semprotan APAR diikuti oleh Gray dan Gajeel. Badan Lucy jadi tidak karuan kotornya. Ia hanya mampu menelan air matanya. Ia sudah bersumpah kalau tidak akan menangis gara-gara Natsu dan segala ulahnya. Jika ia melakukannya maka artinya ia kalah. Tapi jujur saja, sebenarnya fondasinya mulai goyah. Apa benar ia tidak akan menangis? Sekitar 5 menit mereka bertiga menyemprotkan isi dari APAR sampai habis.

Di mobilnya, Lisanna diam, namun lama-lama tawanya meledak.

"HAHAHAHA, Pemandangan apa ini? Natsu menyiksanya? HAHAHA, kukira ia menyukainya" kata Lisanna di sela-sela tawanya. Ia mengusap ujung matanya yang meneteskan liquid saking kerasnya tertawa

"Hah, mungkin aku yang akan menambahkan bonusnya" lanjut Lisanna

Natsu mengkodekan ketiganya untuk menghentikan mobil. Kakinya melangkah mendekati Lucy. Dapat Lucy dengar langkah seseorang mendekat.

"Apa Sting kembali?" tanya Lucy dalam hati dan membuka matanya

Namun sosok dihadapannya bukanlah Sting melainkan Natsu.

"Sepertinya kau sangat kecewa melihatku. Siapa yang kau harapkan datang? Sting?" tanya Natsu

Lucy diam, ditatapnya Natsu dengan penuh benci. Ini ulahnya bukan?

"Sudah kubilang jangan tatap aku seperti itu. Karena aku membencinya" lanjut Natsu

"Kenapa kau diam? Tidak biasanya kau diam. Atau kau malu saat ini? lihatlah dirimu, kau bahkan tak mau menundukkan kepalamu pada tuanmu. Sikap macam apa itu?" tuding Natsu

"Haruskah aku menundukkan kepala pada orang sepertimu?" balas Lucy

"Cih! Kau semakin berani rupanya. Apa ini belum cukup?" tantang Natsu

"Haruskah kau melakukan ini padaku? Apa sebenarnya maumu? Tidak cukupkah kau mengambil rumahku dan kebebasanku?" tanya Lucy dengan suara penuh amarah

"Mauku? Tentu membuatmu memohon padaku dengan penuh air mata. Itu pasti akan sangat menghibur" jawab Natsu santai

"Apa menurutmu ini sebuah permainan? Apa menyiksa orang lain itu menyenangkan?" tanya Lucy lagi

"Tentu" jawab Natsu pasti

"Tidak mungkin kan aku melakukan ini karena aku menyukaimu? Jangan mimpi" jawab Natsu diikuti kekehan

Natsu mendekat pada Lucy dan membisikkan sesuatu. Membuat gadis itu menegang dengan mata yang membulat sempurna. Natsu tersenyum iblis tak kala menyadari perubahan mimik Lucy.

"Why?" tanya Natsu

"Daripada menatapku seperti itu, lebih baik bersujudlah padaku maka aku akan mengampunimu malam ini" perintah Natsu

Mata Lucy memanas. Ia sudah direndahkan sampai titik paling rendah. Natsu benar-benar menjatuhkan harga dirinya. Ditatapnya pemuda itu dengan penuh amarah.

"Aku tidak bisa menghentikan amarahku saat ini. Penyesalan hanya akan datang setelah aku memutuskan. Aku tidak akan pernah berfikir untuk melepaskan tatapan dingin ini" kata Lucy dalam hati

"Tidak masalah jika kau memaksaku mengenakan topeng. Topeng yang kau berikan padaku. Topeng yang suatu saat akan kulempar kembali padamu, mengembalikan rasa sakit atas penghinaan yang kau berikan padaku" kata Lucy dalam hati

"Dia menatapku, dengan mata bulatnya. Dengan penuh rasa kesal dan kebencian. Aku sudah menanam duri dihatinya. Duri yang akan mengunus seseorang yang ia sebut sebagai sahabat. Akan aku tunjukkan bahwa persahabatan, cinta, itu semua absurd dan kebohongan belaka!" kata Natsu dalam hati

"Aku benci seseorang yang naif, percaya bahwa cinta akan membuatmu bahagia. Lihatlah! Apa kau bahagia sekarang?" tanya Natsu dalam hati

To Be Continue

Mina-san, akhirnya selesai.

Dan tidak kusangka ternyata akan jadi sepelik ini. Awalnya aku menargetkan hanya 15 Chapter saja tapi mengingat alurnya yang pelan sepertinya akan tambah. Anggap saja ini Drama 20 Episode, hehe.

Terimakasih sudah bersedia dan menyempatkan diri membaca fic ini. Disini sudah kubuat Natsu kejam. Ya tentunya setelah Natsu menyingkirkan Sting. Meski author akui sedikit sulit membuat scene kekejamannya. Karena semua sudah diborong sama A Voice to You.

Maaf jika ceritanya tidak nyambung atau apa, maafkan author. Kritik dan saran diterima. Kutunggu review kalian, dan jangan hanya membaca. Kasihanilah author yang selalu menunggu review dengan dag dig dug.

Sampai bertemu next chapter. Tetap ikuti Good Morning Vampire, karena 'dia' yang dimaksud dewan ada hubungannya dengan ketiga peran utama kita. Terutama masa lalu Natsu dan Lucy. Sekian, terimakasih banyak.

Best Regards

Nao Vermillion