[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

A LITTLE WHITE LIE

작은 하얀 거짓말

[ChanBaek GS]

.

Remake story by Titish AK

WARNING! Remake from a teenlit novel, so bahasa non baku dan gaul bertebaran!!

.

.

CHAPTER NINE

Kriing.. Kriing.. Kriing..

Dengan enggan aku membuka mataku, beranjak dari tempat tidur dan mematikan beker yang ada di meja belajar. Sengaja aku taruh jauh dari tempat tidur agar aku benar-benar terbangun.

Sekarang jam lima. Cukuplah untuk siap-siap pergi ke sekolah tanpa terlambat. Eh, bentar... Hari ini kan hari Rabu? Mampus! Olahraga kan mulai jam enam! Goblok!

Segera aku memutar kunci pintu kamar, berlari ke bawah dan mencari Ahjumma yang biasanya pagi-pagi begini ada di ruang makan. Tetapi begitu sampai di sana, hanya ada Mama yang sedang menata piring di meja makan.

"Ahjumma mana, Ma?" tanyaku pada Mama.

"Itu baru di dapur. Kenapa nyariin Ahjumma?"

"Baju olahragaku udah siap belum, ya?"

"0, sudah kayaknya. Tadi malam Mama lihat sudah disetrikain Ahjumma. Lho, bukannya kamu olahraga jam enam, Baek? Kok masih belum ngapa-ngapain?"

"Lupa kalo sekarang olahraga, Ma. Mama juga kok tumben nggak ngebangunin aku sih? Kan aku nanti bisa telat nih."

"Tuh kan, kalo udah gini bisanya cuma nyalahin orang lain. Tadi Mama udah gedor-gedor pintu kamarmu, Baek! Tapi kamu nggak bangun-bangun juga. Kamu juga sih, sekarang kalo mau tidur sukanya ngunci pintu kamar segala," ujar Mama membela diri.

"Kok Mama jadi gantian nyalahin aku sih? Ya udah deh, Ma, naik dulu ya... hampir telat nih!" jawabku sambil beranjak pergi ke kamarku di atas.

.

.

.

Setelah siap aku langsung tancap gas mengarungi kabut pagi bersama para kelelawar yang pulang kandang (jangan bilang-bilang kalau aku cuma gosok gigi ya, hehe...), sampailah aku di pintu gerbang sekolah dengan selamat. Saat aku memarkir motorku di tempat parkir, kulihat tempat itu masih sepi. Hanya ada sekitar lima motor yang ada di situ. Aneh... Padahal udah jam enam seperempat. Masa banyak banget yang lebih telat dari aku?

Tiin... Tiin...

"Baekhyun! Tungguin...," panggil Jennie dari atas motornya yang tengah melaju menuju tempat parkir. Jennie yang biasanya rajin datang pagi kok jam segini juga baru dateng? Tumben banget!

Jennie yang juga sudah memakai baju olahraga, sama sepertiku, menghampiriku yang sedang menunggunya di dekat pintu tempat parkir.

"Olahraga masih lama kok udah datang, Baek? Tumben," tanyanya ketika kami berdua berjalan bersama menuju kelas.

Lho?

"Tumben? Bukannya malah kamu yang tumben? Jam segini kok baru datang! Lagian olahraga masih lama gimana sih? Bukannya udah telat lima belas menit?"

"Lho, kan kemarin ada pengumuman jadwal baru. Jadi sekarang nggak ada jam ke-nol lagi. Olahraga mulai jam tujuh, bukan jam enam. Kok kamu bisa nggak tahu sih? Di papan kelas juga ditempel kok! Ke mana aja, Non?"

Jadwal baru? Aduh, aku kok bisa nggak tahu ya... Aku kan bawa buku berdasarkan jadwal lama. Kalau hari ini ada pelajaran Mr. Kim kan gawat.

"Jadwal hari ini yang berubah apa aja, Jen?"

"Mmm... cuma olahraga mundur satu jam itu aja kok. Lainnya sama aja. Paling kita ntar pulangnya siangan dikit."

Aku cuma mengangguk-angguk lega.

Sesampainya di kelas, kulihat kelas masih sepi. Aku langsung meletakkan tasku di bangku kesayanganku.

"Baek, anterin pipis yuk!" pinta Jennie setelah meletakkan tasnya di tempat biasa, bangku di belakangku dan Kyungsoo. Aku cuma mengangguk dan mengikuti langkah Jennie yang berlari duluan ke arah kamar kecil. Saking kebeletnya, kali! Begitu Jennie masuk kamar kecil, aku menunggunya di luar sambil bersandar ke tembok. Hmm... Waktu aku pipis kemarin lusa itu, Chanyeol juga sandaran persis di tembok ini. Aku tersenyum mengingat kembali peristiwa itu.

"Heh, pagi-pagi udah senyum-senyum sendiri!" goda Jennie yang membuyarkan lamunanku.

"Balik, yuk!" ajak Jennie kemudian.

"Yuk!"

Kami berdua kembali berjalan menuju kelas. Di dekat taman sekolah, Jennie menghentikan langkahnya dan mengajakku duduk di bangku taman.

"Duduk sini dulu aja deh, Baek! Olahraga mulai masih lumayan lama kok."

Aku sih manut dan segera mengambil tempat duduk di sebelahnya.

"Oh ya, Baek! Tahu nggak? Gara-gara ada jadwal baru itu, pelajaran olahraga kelas kita jadi bareng kelas X-2 lho sekarang!"

"Terus kenapa?" tanyaku heran.

"Ya jadi ntar kita olahraganya bisa bareng Chanyeol. Asyik, kan?" kata Jennie penuh semangat.

"Ya ampun, biasa aja kenapa sih. Lagian cuma waktunya kan yang sama, gurunya aja beda, paling ntar tempatnya juga pisah."

"Iya sih. Tapi kan bisa aja ntar ada pertandingan antarkelas. Wah, olahraga bisa lebih semangat nih kalo bareng Chanyeol."

Aku cuma geleng-geleng kepala melihat antusiasme Jennie. Jennie sih seneng-seneng aja bisa olahraga bareng Chanyeol. Lha aku? Bisa-bisa aku salting di depannya kalau inget SMS dia tadi malam, ditambah lagi masalah dia sakit kemarin. Aku kan belum minta maaf langsung ke dia tentang masalah itu.

"Eh, Jen, Chanyeol kan sakit kemarin, emangnya dia udah kuat ikut olahraga? Orang berangkat sekolah aja belum tentu bisa kok."

"Oh iya, ya. Aku kok jadi amnesia gini sih! Ya... moga-moga aja dia udah berangkat sekolah. Kalo nggak ikut olahraga, paling dia ikut nongkrong di pinggir lapangan basket. Itu juga udah cukup kok buat vitamin A Bikin mata sehat, he he..."

.

.

.

Priitttt... Priitttt...

"Ayo, kumpul di sini!" teriak Pak Shin, guru olahragaku yang masih cukup muda. Beberapa anak yang masih duduk-duduk dengan malas di pinggir lapangan basket diberi aba-aba agar segera berdiri dan mendekat untuk diabsen. Aku salah satu di antaranya.

"Sekarang tanggal berapa ya?" tanya Pak Shin begitu selesai mengabsen kami semua.

"Tanggal sepuluh, Pak!" jawab Jihoon yang berbaris paling belakang.

"Oke, nomor absen sepuluh, tolong memimpin pemanasan," kata Pak Shin lagi.

"Waduh, kok malah aku?" keluh Jihoon sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Tolong ya, saya mau mengurus inventaris gudang olahraga dulu sama Pak Nam. Nanti saya ke sini lagi," pinta Pak Shin pada Jihoon sambil berlalu meninggalkan kami. Sementara itu Jihoon berjalan ke depan menghadap kami semua, siap untuk memimpin pemanasan

"Ayo, teman-teman, kita mulai dengan... Aduh, enaknya ngapain ya?" tanyanya sambil menggaruk-garuk kepalanya lagi. Aku cuma tersenyum melihat tingkahnya.

"Oh... Ayo, sekarang rapatkan kaki, letakkan tangan di pinggang, terus yang tengok kanan tengok kiri itu ya. Ayo bantu hitung mulai dari yang pojok depan. Daehwi! Heh, Dae! Kamu, Dae! Jangan menguap mulu!" kata Jihoon sambil menunjuk Daehwi yang sedang menguap di baris pojok depan.

"Hah? Aku? Oke... Ayo, teman-teman. Satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan...," kata Daehwi dengan nada suara sedikit lemas, mungkin karena masih mengantuk.

Setelah itu, kami sekelas melakukan beberapa gerakan pemanasan lagi, dipimpin oleh Jihoon yang dibantu menghitung secara bergiliran. Yah, namanya juga instruktur pemanasan dadakan. Walhasil, ada beberapa gerakan pemanasan yang sumpah nggak bermutu, tapi tetap kami lakukan juga meski sambil terpingkal-pingkal.

"Teman-teman, pemanasan sudah cukup. Seperti biasa, kita sekarang lari keliling lapangan basket ya... Dan mumpung Pak Shin belum balik, larinya cukup dua putaran aja. Oke? Oke? Yok...," kata Jihoon sambil mulai lari mengelilingi lapangan basket. Sementara kami semua mengikutinya dari belakang.

Aku berlari pelan-pelan di sebelah Kyungsoo. Kulihat kelas X-2 sedang berolahraga di lapangan voli, di sebelah luar lapangan basket, yang hanya dipisahkan jeruji besi. Kulihat sekilas, sepertinya Chanyeol nggak kelihatan sama sekali. Hufh, lagi-lagi tindakan bodoh! Ngapain juga aku nyari-nyari dia!

Setelah setengah putaran, aku baru menyadari bahwa di pinggir lapangan basket ada Jonghyun dan Chanyeol yang tidak memakai baju olahraga dan sedang duduk mengobrol di situ. Bener kata Jennie, meskipun nggak ikut olahraga, Chanyeol tetap ikut nongkrong di lapangan. Astaga, hidungnya sampe diplester kayak gitu ya? Kasihan sih, tapi mukanya bener-bener jadi kelihatan lucu. Mau nggak mau aku tertawa dalam hati melihat mukanya. Jahat banget, ya? Padahal dia seperti itu gara-gara aku juga sih.

Ketika berlari di dekat tempat mereka duduk, sekilas aku melihat Chanyeol sedang memerhatikanku. Selama sepersekian detik pandangan kami bertemu. Tapi karena tiba-tiba merasa deg-degan, aku langsung mengalihkan pandangan dengan cepat. Kenapa aku mesti deg-degan ya? Aneh!

Aduh, masih ada satu putaran lagi. Kalau lewat dekat Chanyeol duduk lagi, masa aku mesti pura-pura nggak lihat lagi? Kalau aku coba menyapanya, apa nggak terkesan terlalu sok akrab? Tapi hidungnya bengkak begitu kan gara-gara aku. Toh sapaan itu kan bisa diartikan sebagai ungkapan maaf dan rasa simpati. Menurutku sih nggak apa-apa asal aku nggak melambaikan tangan terus teriak kenceng-kenceng, "Hei, Chan!" Apa kata Kyungsoo nanti kalau aku benar-benar melakukan itu? Lagian waktu kemarin lusa itu kami bisa ngobrol enak kok. Mungkin nggak apa-apa kalau aku sekadar senyum tipis ke arahnya. Oke, beberapa detik lagi Baekhyunl siap beraksi.

Begitu tinggal sekian meter dari tempatnya duduk, aku yang berlari menunduk segera mengangkat kepala dan langsung menatap ke arah Chanyeol. Aku lihat dia juga sedang menatapku. Bagus... Tinggal senyum... Satu, dua, tiga, senyum, Baek!

Meskipun sebenarnya deg-degan setengah mati, akhirnya aku berhasil tersenyum tipis ke arah Chanyeol. Nyebelinnya, Chanyeol yang melihatku senyum malah menoleh ke arah Jonghyun tanpa ekspresi. Siaul! Dia sengaja atau apa sih? Tapi untung Jonghyun nggak melihat senyumku barusan. Bisa malu berat aku kalau dia sampai lihat aku dikacangin kayak gini. Menyakitkan, euy.

"Baek, kok barusan kayaknya aku lihat kamu senyum ke Chanyeol, ya? Aku salah lihat nggak sih?" tanya Kyungsoo ketika kami sudah berlari satu setengah putaran dan cukup jauh dari jangkauan pendengaran Chanyeol dan Jonghyun.

Jonghyun memang nggak lihat, tapi rupanya aku lengah dari partner lari sebelahku ini. Mampus!

"Oh, kamu nggak salah lihat sih. Aku emang senyum, tapi ke Jonghyun kok, bukan ke Chanyeol! Ya, cuma sekadar nyapa aja gitu," jawabku sambil terengah-engah ketika kami akhirnya berhasil menyelesaikan dua putaran. Sebenarnya aku sedikit gugup menjawabnya, tapi semoga bisa tertutupi napasku yang terengah-engah.

"Lho, kamu kenal Jonghyun ya, Baek? Kok aku nggak tahu?"

Aku juga baru tahu, Kyung! Meskipun Jonghyun sobatnya Chanyeol dan Chanyeol tahu namaku, aku nggak berani menjamin Jonghyun menyadari ada aku di dunia ini.

"Kalo kenal Jonghyun nggak harus bilang-bilang ke kamu kan, Kyung!" kataku ngeles.

"Iya sih! Tapi emang kamu bisa kenal Jonghyun dari mana, Baek? Jennie aja bisa kenal Jonghyun lewat cara ajaib gitu, gara-gara misi spionase Chanyeol itu lho... Kalo kamu?"

Priitttt... Priitttt...

I love you, Pak Shin!

"Eh, udah disuruh kumpul sama Pak Shin tuh! Ke sana yuk!" ajakku segera.

"Yuk..." kata Kyungsoo manut sambil berjalan mengikutiku.

Kyungsoo boleh jadi murid yang tergolong pintar di kelas. Tapi pada kenyataannya aku nggak pernah kesulitan kalau pengin ngibulin Kyungsoo sedikit. Well, seperti yang baru saja terjadi.

.

.

.

Jam setengah sebelas malam. Beker udah aku setel, buku-buku buat besok udah aku siapin, dengan jadwal baru yang udah aku catat tadi pagi tentunya. Lampu kamar juga udah aku matiin. Sebenarnya saat ini waktu yang tepat untuk segera tidur. Tapi nggak juga tuh! Karena meskipun semua sepertinya sudah beres, aku cuma melamun menatap langit-langit kamar yang gelap gulita, merasa ada satu hal yang mengganjal.

Kuraba-raba handphone yang ada di meja sebelah tempat tidurku. Begitu melihat keadaannya masih sama seperti waktu terakhir aku melihatnya beberapa detik yang lalu, aku langsung membantingnya di kasur empukku. Aha, tahu kan apa yang merisaukanku?

Kutunggu sampai jam sebelas, Chan! Itu batas kesabaranku. Itu juga batas jam malam maksimal aku boleh melek sama Mama. Kalau kamu nggak SMS juga, aku nggak bakal maafin kamu! Hiks, aku kenapa sih? Kenapa Chanyeol nggak SMS lagi, aku bisa sesebel ini ya? Tapi, masa dia SMS cuma semalam itu aja? Terlalu cepat semua ini berlalu. Emang 'semua ini' itu maksudnya apa sih? Aduh, aku ngasal lagi!

Atau aku yang mesti SMS duluan? Eh, jangan ding. Aku kan cewek! Apa kabar sama yang namanya gengsi dan harga diri cewek? Yah, meskipun hari gini cewek boleh first move duluan sih, tapi... Nggak ah!

Eh, jangan-jangan dia nggak SMS lagi karena udah tahu kalau yang dia SMS kemarin itu aku, Baekhyun, bukan Hyunnie. Tadi pagi di lapangan basket aja dia pake buang muka segala. Maksudnya apa coba kalau bukan karena dia memang udah tahu? Tapi tahu dari mana ya? orang sekolah yang tahu nomor baruku aja cuma Kyungsoo. Masa Chanyeol tahu dari Kyungsoo sih? Nggak mungkin! Pasti Kyungsoo udah cerita-cerita kalau dia ditanya soal nomor handphone-ku sama Chanyeol. Tapi kenapa dia buang muka segala ya? Atau karena marah udah aku lempar bola kemarin? Tapi kan aku senyum itu dalam rangka minta maaf, Chan! Bisa senyum kayak tadi itu udah usaha yang berat buatku. Kenapa sih kamu nggak ngerti?

Aku mengambil handphone-ku yang sekarang tidak sengaja aku tindih. Aku lihat layarnya. Masih sama saja. Dan sekarang jam setengah dua belas? Yang bener aja! Kok cepet banget ya?

Oke, Chan, udah cukup. Bodo amat kalau kamu nggak bakal SMS lagi. Kalau cuma buang muka sih, aku juga bisa. Tunggu saja besok!

Aku segera menonaktifkan handphone yang kemudian aku taruh di meja dengan kesal. Aku kemudian berbalik memunggunginya sambil memeluk gulingku.

Chanyeol, kenapa kamu nggak SMS lagi?

.

.

.

[ End of Chapter 9 ]

[ Tbc to Ch.10 ]

.

.

Next chapter lagi aku ketik.. Super Puanjaaaangg banget (3x lipatnya chapter ini) XD bakal segera aku update.

Jangan lupa tinggalin reviewnya ya! :)