Desclaimer: J.K Rowling

Pair: DMHP, etc.

Genre : Romance,Hurt/Comfort.

Rating : T

Warning:AU (Alternate Universe), OOC (Out Of Character ), OC (Original Character), Incest, YAOI, typo(s), EYD tidak sempurna, no magic.

"IF YOU DON'T LIKE , DON'T READ , DON'T ANY BASHING, DON'T PLAGIARIZED, NO FLAME!"

Author: Astia Aoi and Raya Salimah

Title: 1st January

Summary: "Aku mencintainya, sungguh. Namun, dengan apa yang terjadi ketika itu, apakah aku bisa tetap menjaga perasaan suci ini? Bolehkah?" /DraRry/YAOI/ff kolaborasi.

-o0o-

Thank's to :

Dewi Eka Suryani, Princess Hinata, Mega Teuki Fitzrugh, paradisaea Rubra, Mrs Kim siFujoshi, shizu indah, kannabelle.B, kuroko.

-o0o-

Gadis Sniper

"Severus?" bisik Dumbledore antusias. Malam sudah menyampirkan jubah gelapnya menutupi sebagian belahan dunia. Termasuk Inggris ke dalamnya, dan pria tua itu sudah hampir terlelap saat mesin telepon khususnya bedenting. Mengganggu keheningan.

"Tidak ada waktu Albus. Dengar aku. Tanggal 27 jam 10 malam, sebelum persimpangan St. Stragle dan St. Louis. Tenggara London, sebuah hanggar pesawat tanpa izin terbang. Membawa virus berbahaya untuk dijual pada Pusia. Berbentuk sabun," lalu suara tut...tut..

Menyebalkan memekakan telinga tua lelaki ringkih itu.

"27?" pria itu melirik kolom tanggal di sudut kiri layar mesin telephonnya. Masih 21 hari lagi dari malam ini.

Sebenarnya Dumbledore tidak ingin. Tapi ia harus memastikan kondisi Harry siap hari itu juga. Meskipun harus sedikit memaksa. Ia menekan sebuah tombol yang menghubungkannya dengan sebuah suara setengah mengantuk seorang wanita, "Buktikan kesetianmu pada ORDE. Tolong tambahkan dosis suplemen yang diberikan pada Harry. Mengerti?"

Gadis itu segera masuk ke dalam ruang penyimpanan obat tanpa diketahui oleh orang dan menambahkan dosis obat yang akan diberikan besok kepada Harry. setelah selesai dia keluar, tapi ada satu hal yang dia tidak sadari...semua tindak tanduknya telah direkam oleh kamera pengintai yang dipasang Retsu tanpa sepengetahuan Dumbledore dan semua anggota ORDE.

-o0o-

Mamoru Manor...

"Well master, tadi aku mendapat berita dari Severus bahwa Tanggal 27 jam 10 malam, sebelum persimpangan St. Stragle dan St. Louis. Tenggara London, sebuah hanggar pesawat tanpa izin terbang. Membawa virus berbahaya untuk dijual pada Rusia. Berbentuk sabun...dan Dumbeldore menyuruh seseorang untuk menambahkan dosis obat yang akan diberikan kepada Harry tadi..." Lapor Retsu dari hp-nya yang kini sedang mengamati video gerak-gerik seluruh kegiatan di gedung ORDE.

"Cih, brengsek...baiklah aku akan mengirim 'dia'..." jawab Akira.

"yakin kita harus sampai mengeluarkan 'dia', master?" Retsu menghentikan keasyikannya mengamati video itu. "Itu mungkin akan beresiko, master.." Retsu memelankan suaranya, merendahkan volume dari pendengaran Ken yang sedang sibuk bermain video game di PSP-nya.

"Kita butuh dia, Retsu.." suara Akira balas berbisik. Membuat Retsu tanpa sandar merinding sendiri. Mau tidak mau Retsu mengikuti apa yang jadi kehendak mutlak masternya ini. Well jika 'dia' sudah dikeluarkan maka tugas dia serta Ken lebih serius.

"Baiklah master, saya mengerti," ucap Retsu dan menyimpan hp-nya.

"Ken, berhenti bermin PSP ada sesuatu yang sangat penting," Perintah Retsu dan Ken menurut.

"Ada apa senpai?" tanyanya dengan wajah bosan.

"Akira-sama akan mengirim 'dia' kesini."

Ken terkejut mendengarnya, well, jarang-jarang Akira mengeluarkan salah satu agen terbaik klan.

"Begitukah? Ah, wakarimashita.. Berarti tugas kita double hun..." gumamnya sambil mengukir sebuah seringai.

-o0o-

Bandara Internasional Heathrow London, seorang gadis berambut panjang sedikit bergelombang, wajah cantik campur manis, mata yang cukup sipit-tidak terlalu sipit-berwarna biru sapphire, hidung mancung bibir pink yang kecil, berbadan tinggi dan proposional bak model Internasional, baru saja turun dari pesawat.

'Huft... sekarang aku harus mencari Apartemen untuk tempat tinggalku yang sudah di siapkan,' batin gadis itu.

Beberapa menit kemudian gadis itu masuk ke sebuah taxi setelah memasukan semua barang-barangnya yang saking banyaknya menuhin taxi itu.

"Ke alamat ini pak," pinta gadis itu lewat tulisan tangannya.

-o0o-

Dua minggu kemudian...

Regulus menatap Sirius yang tengah mengupaskan apel untuknya. Tidak sangka ternyata mahir juga. Mana serius sekali mengupasnya, jadi mengasyikan sekali untuk diperhatikan.

"Setampan itukah aku?" Regulus mengerjap, memundurkan badannya yang tadi agak condong. Tidak sadar, sampai mendekat untuk memperhatikan lebih lekat.

"Terlalu percaya diri seperti biasa.." sang adik cuma memasang senyum simpul. Meskipun memalukan ketahuan terlalu memperhatikan, terlalu terpeasona. Baiknya jangan ditampakan kalau dia malu. Bisa habis dia digoda Sirius kalau begitu.

"Sudah? Aku cuma minta dikupaskan apel, bukan harus diukir segala? Lama sekali.." Sirius tidak menanggapi. Hanya sepotong apel tiba-tiba menghampiri bibirnya.

"Ayo.." Regulus mendiamkan irisan apel itu. Sedetik menatap Sirius beberapa detik, baru ia memasukannya sedikit-sedikit.

"Kau tidak mesti menyuapiku, Siri.. Aku bukan anak kecil.." Sirius hanya terkekeh, ritmis sekali.

Lalu menyuapkan irisan berikutnya, "Aku khawatir pada Harry..." Regulus menelan terlebih dahulu potongan apelnya. "Kudengar perkembangannya jauh lebih baik daripada perkembanganku?" tersirat heran di wajah tampannya.

"Tapi terlalu cepat..." lirih Sirius.

"Iya, aku juga curiga Siri..." jawab Regulus.

"Sudahlah, biar aku yang mencari tahu. kau harus mengembalikan kesehatanmu lalu kita pulang ke rumah love," ucap Sirius sambil terus menyuapi Regulus.

-o0o-

Yumine Kurokawa kini berada di apatemen sudah dua minggu.

"Oi, aku sudah ada di London dari dua minggu yang lalu, kapan aku melakukan tugas itu?" tanyanya melalui sms.

Setelah mengetik pesan singkat itu dia kembali mengelap Senapan panjang miliknya, tidak beberapa lama balasan datang.

"Rencana Voldemort dilaksanakan enam hari lagi, tapi kau bisa datang ke manor tiga hari lagi."

Yumi memutar bola matanya kesal...lalu dia mulai mengetik lagi...

"WTF! aku bosan Rambut merah bodoh! kalau begitu ijinkan aku untuk main di sekitar London..." klik -SEND-...

Yumi menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan menutup matanya, dia ingat ini adalah tugas pertama dia di luar benua, karena luar negri sih dia sudah...

###Flash Back###

*YUMI POV*

'Ck...pagi-pagi gini aku udah dipanggil! baru juga tidur satu jam gara-gara tugas membantai kelompok bodoh semalam,' batinku kesal.

Setelah sampai di ruang pemimpin Klan aku segera berlutut di hadapannya dan menyampaikan salam.

"Berdirilah Yumi, aku memiliki tugas khusus yang sangat penting untukmu," kata Akira.

Aku berdiri dan hanya menatapnya tajam, well jangan salahkan aku jika sikapku ini dianggap kurang sopan, mau bagaimana lagi mood-ku hancur seketika gara-gara panggilan ini.

"Well, kau akan ku kirim ke London untuk bergabung dengan ORDE yang dipimpin oleh Albus Dumbledore...dan semua kebutuhanmu sudah terpenuhi, di sana kau tidak sendiri. ada Retsu dan Ken juga anggota lainnya," perintah Akira dengan nada yang tidak bisa dibantah sama sekali. Aku mengangguk dan segera keluar dari ruangannya.

*YUMI POV END*

###END FLASHBACK#

Gadis itu menaruh senapannya hati-hati. Teliti sekali. Masuk ke dalam sebuah peti. Memasukannya ke laci, dan menguncinya. Itu senapan kesayangan miliknya. Tidak pernah ia gunakan membantai. Hanya ia gunakan berlatih sesekali, lebih mirip pajangan mungkin. Tapi jangan salah kan ia soal sifatnya yang sedikit sentimentil. Pistol itu menyimpan kenangan. Itu pistol pertama yang ia sentuh, pistol yang menyelamatkan nyawanya dari terkaman maut belasan tahun lalu. Saat ia diculik oleh musuh klan mamoru, dan nyaris dihabisi. Saat itu ia tahu, ia hidup untuk mencintai senjata. Ia tahu hidupnya berarti saat ia membidik. Ia akan hidup dan berbicara lewat aksara peluru. Lewat panah-panah yang bisu. Namun melejitkan jerit-jerit nyawa-nyawa penuh dosa. Ya, ia hidup untuk membidik segala macam penjahat di dunia ini.

-o0o-

"Kau akan boleh pulang tiga hari lagi, Harry.." pria pemilik mata emerald itu menyunggingkan cengiran khasnya. Matanya bersinar bahagia.

"Selamat ya.. Syukurlah kau akan segera pulang, Harry.." setelah tadi Ron sekarang Hermione. Pakai acara berpelukan segala. Gadis ini memang sahabatnya yang paling perhatian soal apapun.

"Ngomong-ngomong.. Kau sudah terbiasa dengan tonik barumu, Harry?" giliran Ginny yang bertanya. Harry hanya membalas anggukan.

Wajahnya menengadah ke arah jendela, mentari memantulkan sinar senja pada zat padat itu. Terbiaskan hangat. Harry mengawangkan pikiran, tentang Severus. Segala yang terasa begitu membingungkan. Ia sudah tahu apa efek dari suntikan yang diberikan Severus tempo hari, dan Harry yakin yang dimaksud Voldemort bukan hormon ini. Ia melindungi Harry, tapi sebelumnya? Lelaki berambut hitam itu menembakan peluru bius pada Harry. Sekarang? Ia tak muncul-muncul dan tak ada kabar. Bahkan menghentikan kiriman tonik milik Harry.

"Apa kau merasakan sesuatu yang kurang nyaman, Harry?" kali ini Sirius. Blaise tidak ikut menjenguk hari ini. Ada misi dengan Cedrig, dan seseorang yang Harry harapkan datang juga tak muncul.

Entah bagaimana... Tapi Harry merasa merindukan Draco. Ia tahu Draco dan Sirius dilarang terlalu sering menengok, juga kawan-kawan ORDE yang lain. Itu sebabnya Harry sering merasa kesepian.

Tapi...untuk Draco.. Ini bukan urusan menghabisi kesepian. Ini soal kerinduan. Tapi sialnya justru pemuda itu yang paling jarang muncul.

"Tidak.. Oh ya? Sirius.. Boleh aku tahu kau dapat darimana pasokan tonik baruku.. Khasiatnya sama bagusnya dengan yang lama, tapi dengan tingkat rasa pahit yang lebih kecil.. Dia pasti peramu hebat.."

Sirius cuma tersenyum penuh arti kalau ia bilang nanti malah Harry tak sudi minum lagi. Draco yang buat. Anak itu memang punya kegemaran dan keahlian meracik-racik obat-obatan dari rempah dan bahan alam. Sayangnya Lucius tak terlalu menganggap bakat anaknya itu.

Ketika itu Retsu muncul dengan wajah serius, "Selamat siang Harry-sama, bagaimana kabar anda?" sapa Retsu.

"Siang, yah sudah jauh lebih baik."

"Harry-sama master menyampaikan sebuah pesn penting...dia mengatakan kalau dia memiliki sebuah informasi baru dari spy yang beliau kirim ke tempat persembunyian Voldemort, dan ini berhubungan dengan kedua orang tuamu."

Beberapa orang di ruangan itu nampak menegang. Nyaris semua kecuali Sirius, dan Harry sendiri. Entahlah. Harry merasa sudah tak berminat lagi. Terkadang Harry kebingungan sendiri dengan moodnya. Mungkin efek hormon steroid-nya? Dia jadi merasa melankolis akhir-akhir ini. Ingin menyerah saja rasanya. Tapi terkadang ia merasa memiliki segalanya untuk mengungkap dan menghukum siapa saja yang telah merampas kehidupannya.

"Maksudmu tentang orangtuaku?" kacamata Harry melorot sedikit di batang hidungnya. Setelah menyamankan gagang benda bundar itu Harry melanjutkan, "Mereka sudah tiada? Apalagi perkara yang tersisa?"

Retsu tersenyum... "Well, yang tersisa adalah sesuatu yang cukup mencengangkan...yang ternyata berhubungan cukup erat dengan klan Mamoru. tapi saya tidak bisa memberitahukannya secara mendetail sekarang. Jika master sudah datang, beliaulah yang akan memberitahukannya pada anda Harry-sama..." jawab Retsu dengan wajah datar.

"Nee...senpai, masalah itu bagimana? apa diberi tahukan sekarang?"

"Ken...diamlah!" perintah Retsu, Ken mendengus kesal.

"masalah apa?" Hermione penasaran mesti dia sedikit gugup.

"Masalah tangan kanan Voldemort yang kemarin membom sebuah dermaga di Italy...dan dermaga itu milik klan Kurokawa...atau klanku...pelakunya adalah Bellatrix Lestrange...sepupu anda ." jawab Retsu.

"Ah.. Bellatrix masih bisa membuat onar rupanya?" Sirius terkekeh, dan cukup untuk membuat semua agen muda ORDE mengernyit heran. Selera humor Sirius kadang-kadang musti dipelajari. Karena yang lain tak ada yang merasakan seseuatu yang cukup lucu.

"Lalu? Apakah kerusakannya cukup parah?" Retsu sudah hendak menjawab jika saja Ken tidak memotong tarikan nafasnya dengan sebuah celetukan.

"Tidak akan lebih hancur dari tubuh lelaki yang mengandung.." detik berikutnya Retsu meyakinkan diri telah menginjak kaki Ken sekencang mungkin. Begini kalau punya anak buah terlalu atraktif. Repot sendiri.

"Ap..apa maksudnya itu?" Ginny bertanya dengan wajah ngeri. Sementara yang lain memasang tampang yang kentara penasarannya. Justru Harry yang nampak apatis. Sial! Dia benar-benar merasa diombang-ambingkan oleh hormon.

"Heh.." Retsu menarik nafas. "Kami tidak tahu bagaimana dengan hormon ciptaan Severus. Tapi yang kami tahu, percobaan-percobaan semacam ini di Jepang selalu menghasilkan hormon yang sama kemampuannya.." Retsu memotong kalimatnya lagi.

"Kemampuan apa?" Harry yang kali ini bertanya, meskipun nadanya terdengar begitu datar.

"Yah.. Uhmm.. Well.." baru kali ini mereka menyaksikan seorang Retsu tergeragap. Mengirimkan firasat buruk pada semua orang.

Merasa bosan. Maka Ken dengan santainya melanjutkan, "Rahim yang tercipta tidak sempurna dan berpotensi mengakibatkan kematian 'pembawa' lebih besar 60 persen daripada kematian akibat melahirkan pada status kehamilan umumnya.."

Semua orang yang berada di dalam sana tercekat mendengar itu.

"Meskipun aku sendiri belum tahu apakah steroid yang dibuat Severus sama dengan steroid yang di buat di Jepang...dan semua ini mesti diteliti lebih jauh lagi," kata Retsu.

Harry hanya terdiam dan mencerna semua penjelasan itu, pada saat dia melihat wajah Retsu dia melihat kalau wajah Retsu pucat.

"Retsu wajahmu pucat, kenapa? apa kau sakit?" tanya Harry.

Retsu memandang Harry, "Tidak aku sehat, dan aku baik-baik saja," jawabnya.

Tiba-tiba Ken nyeletuk lagi, "sehat gimana Seminggu penuh senpai tidak tidur sama sekali dan makan pun hanya sekedarnya...kalau ada master pasti senpai sudah di hukum." kata Ken sambil melipat kedua tangannya dibelakang kepala.

"Keeen.. Aku beri kau dua pilihan.. Diam atau kupulangkan ke Jepang!" ujar Retsu dengan nada kelewat datar. Tapi cukup untuk menyebar aura ketakutan. Yah, terutama untuk Ken tentu saja yang kedua tangannya langsung berpindah menutup mulutnya.

Hermione menatap wajah pucat Retsu dan merasa simpati. Bagimanapun mereka rekan, seharusnya Hermione bisa lebih perhatian jika saja ia bukan saksi kejadian malam itu.

"Euh..." Hermione berfikir untuk mengajak Retsu makan malam bersama tapi..

"Ken? Kau belum bertemu Mrs. Weasley kan?" itu suara Harry. Terdengar riang, mengherankan sekali.

"Aku yakin Ron tidak akan keberatan mengundang kalian berdua makan malam. Mrs. Weasley punya banyak maknan sehat dan lezat untuk mengembalikan stamina Retsu.." semua orang nampak tercengang mendengar suara Harry yang keluar gembira. Benar, kondisi psikologis Harry yang paling tidak stabil disini. Tapi senang juga tiba-tiba mendengar Harry mengusulkan sebuah usulan hangat disertai senyuman menghiasi wajahnya, dan seseorang dibalik pintu bersyukur bisa menyaksikannya. Meskipun harus mencuri-curi lewat celah. Draco malfoy akan selalu mensyukurinya.

"Euh...maaf...aku, tidak bisa...pekerjaanku masih menumpuk di manor," tolak Retsu.

Harry berubah lesu kembali, melihat itu Retsu menghela napas, 'Aku bisa dibantai Akira bila dia tahu aku membuat sahabatnya sedih seperti ini,' batin Retsu.

"*Sigh* Baiklah...aku akan ikut, dan Ken berhenti menatapku seperti halnya anjing kecil yang dibuang di pinggir selokan!" ucap Retsu sarkatis.

Ketika itu sms masuk ke hp Retsu, "Rambut merah bodoh! aku ingin kau membelikan 3 kotak peluru untuk SR25-jenis senjata api laras panjang - milikku."

"Ck, dasar mendokusai," gumam Retsu.

"Nani Senpai?" tanya Ken.

"Iie, bukan apa-apa, " jawab Retsu yang entah mengapa wajahnya terlihat pucat bercampur kesal.

"Baiklah.." sahut Ron kemudian. "Aku harap kau tidak menangis karena tidak merasakan masakan ibuku hari ini, Harry" disambut tawa lumayan meriah dalan ruangan itu. Mungkin minus Retsu yang cuma memasang senyum tipis. Bahkan Malfoy muda di luar sana ikut tertawa kecil, bukan karena selera humornya telah menyesuaikan diri dengan lelucon Ron. Itu lebih karena Harry juga ikut tertawa. Tawa yang terkesan lepas.

-o0o-

Sebuah bangunan mewah untuk ukuran Asia Barat. Sebuah ruangan dengan dominan bambu sebagai interiornya. Pintu geser dengan pembatas kertas. Benar-benar terasa khas Asia Barat. Ini siang yang menyenangkan untuk menghabiskan sebuah semangka bersama keluarga. Bukan duduk diam-diaman berdua. Meskipun ruangan itu dilengkapi pendingin. Pandangan diantara keduanya terasa memanas.

"Ayah harap kau tidak melakukan hal yang bisa menurunkan harkat teritori kita.." lelaki di hadapan Akira, si pemuda pemimpin baru klan Mamoru. Ia meneguk tehnya.

"Jangan salah paham soal 'dia'..aku memang benar-benar membutuhkan dia... Kuharap anda bisa mengerti..." Akira meneguk tehnya setelah kalimatnya selesai. "Kalau begitu, saya permisi. masih ada tugas yang harus saya selesaikan," pamit Akira meninggalkan pemimpin sebelumnya alias ayahnya. "Ah iya, anda tidak perlu khawatir...semua sudah ku rancang dengan baik," ucap Akira sambil keluar dari ruangan itu.

Tidak lama kemudian Akira sampai di kamar pribadinya, dia langsung saja menghempaskan tubuhnya di kasur empuk...

"Chikuso!...aku ingin segera kembali ke London!"

-o0o-

"Harry?" si kacamata bundar itu berbalik. Menatap Hermione yang sedang membatunya mengemasi beberapa pakaian. Hari ini ia keluar dari tempat kedua paling dibenci Harry, rumah sakit. Bau obat. Mengingatkannya pada pelajaran kimia. Harry payah pada pelajaran itu. Ia membiarkan Hermione duduk di ranjang inapnya. Sementara ia sendiri duduk di kursi di samping tempat tidur pasien.

"Apa kalian tidak bisa kembali?" Harry tercekat pada pertanyaan Hermione yang terkesan ambigu. Tapi Harry tahu makna mana yang dimaksud. Ini tentang Draco. Baru Harry akan mulai menjawab, hermione kembali bicara. "Aku tidak tahu bagaimana kalian di masa lalu. Tapi saat ini, aku tahu ia tetap memiliki perasaan yang sama. Perasaan yang membuatmu bersikeras menolak kenyataan bahwa 'Draco' meninggal... Perasaan mu juga sama, aku tahu itu."

Harry membiarkan sahabat perempuannya itu mengambil nafas sejenak. Ia tahu Hermione belum selesai bicara. Jadi ia tak akan menyela, "Aku tahu, karena aku melihat keyakinan di matanya. Meskipun kau selalu menolaknya. Ia yakin suatu hari kau akan memaafkannya. Ia menjengukmu setiap pagi, saat kau belum terbangun. Terkadang ia datang di siang hari, namun hanya berani mengintip di balik pintu...Harry.. Aku tahu membohongimu itu benar-benar tindakan buruk..tapi.."

"Biarkan kami begini untuk sementara, Hermione.." Harry membiarkan senyum tipis terlukis di bibir. "Biarkan aku mengeja kesakitan ini terlebih dahulu.. Biarkan Draco.." ucap Harry semakin berat. Hermione dapat melihat kerinduan menggores sudut emerald Harry. Juga ketakutan. Itu yang baru Hermione sadari saat itu.

"Apa.. Kau takut Draco mengecewakanmu lagi, Harry?" emerald itu menyingkirkan pandangannya dari iris coklat Hermione yang terasa menghakimi.

"Aku hanya bingung, 'Mione.."

"Bingung kenapa? bingung akan perasaanmu Harry?" tanya Hermione lagi gemas. Harry diam tidak menjawabnya sama sekali.

"*Sight* Ya sudah itu terserah kau saja Harry, tapi kusarankan jangan terus-terusan seperti ini, ini hanya aka menyakiti kalian berdua," ucap Hermione, Harry tersenyum.

"Thanks 'Mione."

-o0o-

Ruang rawat Regulus, "Siri kapan aku pulang? aku bosan di sini," tanya Regulus.

Sirius yang sedang memainkan hp-nya segera saja menyimpannya kedalam saku celananya.

"Sabarlah Reggy, kau juga akan pulang setelah kondisi tubuhmu dinyatakan stabil," jawab Sirius mengusap pipi Regulus.

"Tapi aku sudah sehat dan kondisi tubuhku baik-baik saja Siri!" Ucap Regulus bersikeras.

"Love, dengarkan aku... aku ingin kau keluar dari rumah sakit ini setelah dinyatakan Stabil dan tidak apa-apa oleh tim medis. aku tidak mau terjadi hal yang buruk padamu Sweetheart," bujuk Sirius.

Regulus menghela napas dan mengeluarkannya perlahan, well mood-nya hari ini entah mengapa dia ingin bermanja pada kekasihnya itu.

"Baiklah, tapi Siri aku ingin makan apel. Bisa tolong kupaskan dan suapi aku?" pinta Regulus.

"Eh?" Sirius mengalurkan garis keheranan di dahinya. Tidak biasanya Regulus semanja ini. Jarang-jarang sekali. Tiga tahun yang lalu sebelum kejadian yang mengharuskan ia menghilang. Regulus juga seperti ini, tiba-tiba cemburu. Apa Regulus merasakan sesuatu? Semacam firasatkah?

"Baik...jangan menatapku seperti itu.." Regulus menghentikan tatapan mata memohonnya pada Sirius. Tatapan yang teramat jarang ia gunakan. Paling hanya tiga kali seumur hidupnya. Hari ini, saat ia cemburu tiga tahun yang lalu, dan saat ibunya nyaris menghapus nama Sirius dari silsilah Black.

Sirius mulai memilih setumpukan apel di atas keranjang buah, "Yang itu!" tunjuk Regulus yakin.

"Kau tidak mau yang ini? Lihat? Lebih merah.." Sirius mengambil kedua apel itu dan mengangsurkannya pada Regulus.

Pria bersurai panjang itu menggeleng yakin, "Yang di tangan kirimu, Siri. Aku tak mau yang lain," ujarnya datar dan mantap. Sirius hanya mengendikan bahu. Mulai mengupas, tidak mau memulai perdebatan juga. Mungkin ini pengaruh hormon hermaprodith yang tengah berkembang dalam tubuh adiknya. Sirius berharap tidak akan terjadi apa-apa pada Regulus.

"Jadi..?" Sirius sekali lagi mengernyit saat mendngar suara Regulus berbicara sambil mengunyah potongan apelnya. Regulus yang tindak-tanduknya begitu tertata? Berbicara sambil mengunyah? Kekagetan Sirius berhenti saat Regulus selesai menelan irisan apelnya.

"Kau ingin anak perempuan atau laki-laki, Siri?" ujar Regulus santai sambil mengunyah irisan berikutnya yang disodorkan Sirius.

"Hah?" Regulus mulai terkikik mendapati ekspresi Sirius yang tidak cool sama sekali.

"Kontrol sedikit perubahan wajahmu itu, Siri.. " Regulus benar-benar tertawa saat wajah Sirius makin keheranan akut.

"Kenapa? Kau takut?" ujar Regulus sambil meraih seiris apel yang Sirius anggurkan di jemari tangan kananya. Otomatis membuat ujung jari Sirius merasakan lembut bibir Regulus.

"Kau? Ah dasar...hmm...kalau di tanya seperti itu... aku ingin kedua love, aku ingin anak laki-laki dan juga anak perempuan," jawab Sirius sambil kembali memotong apelnya.

"Huh... pilih salah satu Siri~" ucap Regulus dengan nada manja yang kembali membuat Sirius keheranan.

"Ukh, anak laki-laki lucu...anak perempuan juga lucu love...aaahhh...apa tidak bisa keduanya saja love?" ucap Sirius bingung sambil menyuapkan apelnya lagi.

Regulus tersenyum, setelah mengunyah habis apelnya, "Dasar plin plan...hmm...Love apakah hubungan kita akan baik-baik saja ke depan nanti? Aku...aku takut...meski orang tua kita memang sudah tiada, tetap saja aku takut kalau aku berpisah atau dipaksa berpisah denganmu...aku takuuutt..." kata Regulus dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Sirius tercekat beberapa detik melihat ketakutan Regulus yang begitu kentara. Ketika kesadarannya kembali, Regulus sudah cepat-cepat menyeka air matanya dengan menggunakan punggung tangannya sendiri, "Maaf aku kelilipan.. yang barusan tidak usah dipikirkan.." Regulus buru-buru berbalik, menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.

Tidak perduli mau sebagaimana tidak terkontrolnya ekspresi wajah Sirius. Ia tidak mau melihatnya. Barusan itu memalukan sekali. Seorang Regulus Black nyaris menangis? Bodoh. Ini pasti karena hormon itu. Yakin Regulus dalam pikirannya sendiri. Hormon bodoh! Perasaan bodoh! Kenapa ia haru sampai menangis sih? Tidak lelaki sekali.

"Reggy.." Regulus berusaha meminimalisir bahunya yang tiba-tiba bergidik saat sentuhan jemari Sirius mengusap kepalanya. Lembut. Seperti hendak mengantar tidur.

"It's okay.. Tiga tahun sudah cukup.." Regulus dapat merasakan Sirius berbicara di dekat kepalanya. Ada hembusan nafas yang meniupi helai rambutnya yang tak tertutupi selimut.

"Tiga tahun sudah lebih dari cukup untuk berpisah denganmu. I never leave you anymore,love.." kemudian Regulus merasakan sebuah kecupan pada ubun-ubunnya.

Regulus hendak berbalik dan membalas ucapan Sirius, "Halo? Ya?"

Sayangnya terdahului sebuah telephon. Entah dari siapa. Nampaknya penting dan Sirius butuh privasi. Sampai begitu saja meninggalkannya sendiri. Regulus tersenyum kecut, "Mana yang tak akan meninggalkanku?" Regulus mengutuk hormon laknat ini yang sekarang membuatnya cemburu pada handphone Sirius. Bodoh! Maki Regulus dalam hati.

" ? ini saya Retsu... saya mohon maaf atas kelancangan saya mengganggu ketenangn ." ucap Retsu dari ujung telepon suaranya terkesan datar.

"Ya Retsu ada apa?"

"apakah anda masih menyimpan berkas kasus pembunuhan berantai sepuluh tahun yang lalu yang terjadi di sekitar pinggiran kota London?"

"Hmm...seingatku aku masih menyimpannya, ada masalah apa?" tanya Sirius sedikit curiga.

"Saya bisa meminjamnya? hanya untuk saya teliti Mr.Black dan ini sangat penting," jawab Retsu.

"Well meskipun aku tidak yakin ini salah satu bagian dari tugasmu... Tapi mungkin aku bisa membatu.. Hanya tinggal izin Dumbledo-"

"Tunggu dulu? Izin Dumbledore? Kenapa?" Sirius semakin merasakan kejanggalan. Terlebih nada suara Retsu berubah saat ia menyebut nama Dumbledore.

"Yeah.. Sedikit mengingatkan.. Aku sudah cukup lama bekerja sama dengan Dumbledore sebelum ORDE terbentuk.. Ia melindungi banyak informasi rahasia. Bahkan polisi pun tak tahu... ,maka pertimbangan Dumbledore adalah hal mutlak untuk mendapatkan berkas itu.." Sirius mendengar helaan nafas lelah.

"Begitukah...hmm...baiklah jika memang peraturannya seperti itu, saya mengerti...kalau begitu terima kasih atas waktu yang anda luangkan..." ucap Retsu sambil menutup teleponnya.

Sirius kembali ke sisi ranjang Regulus.

"Siapa Siri? apa ada masalah?" tanya Regulus cemas.

"Tenanglah love, tidak ada masalah, tadi hanya Retsu," jawab Sirius.

"Retsu? untuk apa dia menelponmu?" tanya Regulus, tersiran nada cemburu di kata-katanya.

"Entahlah.. Dia butuh berkas untuk pembunuhan berantai sepuluh tahun lalu.." Sirius menatap sisa irisan apel di piring kecil. Regulus tidak meneruskan makannya. Tidak berselera. Lagi.

'Ok..' batin Regulus. 'Belum hamil saja aku sudah terdengar seperti orang ngidam...' Regulus memainkan jari-jarinya. Sebenarnya ingin minta Sirius genggam. Tapi gengsi, mana sepertinya Sirius sedang banyak pikiran.

"Sirius.. Regulus.." keduanya berbalik menatap pintu kamar Regulus. Ada derit halus saat mereka menemukan siapa yang berdiri di balik pintu yang perlahan mulai terbuka itu.

"Harry.. Senang kau berkunjung.." Regulus tersenyum tulus melihat anak baptis kakaknya itu menghamprinya.

"Kuharap kita bisa keluar pada saat yang sama, uncle Reggy.." ucap Harry santai sambil mengambil tempat di sisi lain tempat tidur Regulus. Bersebrangan dengan Sirius.

"Kau akan langsung kembali ke gedung ORDE?" tanya Sirius sedikit dibisikan pada bagian orde. Seakan-akan takut sesuatu yang buruk akan terjadi jika ia mengikrarkan kata ORDE begitu bebas.

"Iya, aku harus segera menemui Dumbledore...katanya aku mendapatkan misi yang sangat penting bersama Blaise dan...Draco," jawab Harry.

"Misi? kau baru sehat Harry," Protes Regulus.

"Mau bagaimana lagi, ini tugas uncle Reggy," jawab Harry.

-o0o-

Mamoru Manor...

"Halo master... memiliki berkas itu, tapi dia mesti mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Dumbeldore terlebih dahulu," lapor Retsu dari telepon.

"Ck, ya sudah yang penting berkas itu kita dapatkan..." kata Akira.

"Baik master..."

"Ah bagaimana keadaan Yumi?"

"Dia baik-baik saja dan sepertinya dia merasa bosan."

"haah...dasar...ya sudah hati-hati."

Retsu menghela nafas. Semenyebalkan-menyebalkannya Akira, setidaknya ia masih berada di posisi di atas Retsu. Artinya, meskipun jika Akira membuat kekacauan dan ia terkena amukan dari ayah Akira. Setidaknya tuannya sendirilah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas dirinya. Daripada berpartner dengan Ken, Retsu lebih memilih bekerja sendiri. Ia hanya berharap anak itu baik-baik saja sekarang. Tidak melakukan kecerobohan yang berakibat fatal. Ingin tahu dimana dia sekarang? Sedang membntuti Flinch. Retsu sudah bilang untuk menggunakan penyamaran dan yang dilakukan Ken adalah memasang jenggot putih seperti milik dumbledore =.=a. Sudahlah. Suka-suka dia. Setidaknya Retsu tahu anak itu cukup cerdas untuk mempertahankan dirinya sendiri.

-o0o-

"Kau siap, tuan muda?" Draco seakan-akan ingin menyilet mulut Blaise saat itu juga.

"Jika untuk misi, tentu. Karena aku tak pernah gagal," Draco menyamankan duduknya di sofa tamu di ruangan dumbledore. Kakek tua itu sedang menjemput ke bawah seorang agen lagi yang akan menjalankan misi bersamanya dan Blaise.

"Aku yakin kau cukup cerdas untuk paham dengan apa yang kumaksud Draco.." membuang nafas. Draco tidak ingin menyulut pertengkaran dengan anggota timnya yang lain kali ini.

"Tuan-tuan,maaf membuat anda menunggu.." wajah ramah Dumbledore muncul di depan pintu. Disusul sesosok pemuda lain yang memandang dingin ke arah keduanya. Well..untuk Blaise ada senyuman tipis yang terlampir. Untuk Draco mereka bertukar pandang beberapa detik saja sudah sesuatu yang patut disyukuri.

Kemudian Dumbledore menjelaskan semua hal tentang misi yang akan dilakukan oleh ketiga orang itu. setelah mendengarkan petunjuk dan penjelasan apa yang mereka harus lakukan mereka pergi dari gedung ORDE menuju lokasi.

-o0o-

Apartemen...

"Yumi waspadalah...semua senjatamu ada di tasmu," ucap Retsu di telepon.

Yumi tersenyum dan mengangguk meskipun dia tahu kalau Retsu tidak akan melihatnya. Lalu dia segera berangkat menggunakan sepeda motor hitamnya.

Harry membiarkan Blaise dengan segala keegoisan yang terencana duduk di belakang. Sementara Draco membiarkan dirinya menjadi supir kali ini. Well.. Tidak masalah selama yang disupirinya Harry. Yang bermasalah sekarang justru wajah pemuda berkacamata itu yang ditekuk melulu. Lebih memilih memandang jendela dan mengingat step-step yang diberikan Dumbledore dalam misi kali ini.

"Kode pesawatnya G-371... Jenis Cheesna... Sepertinya mereka memiliki mesin pengacau radar.." Blaise berbicara tanpa menunjukan gesture sedang berbicara dengan orang lain. Dua rekan timnya pun tak banyak bergeming. Hanya mencerna informasi yang diucapkan Blaise. Draco fokus pada jalanan yang semakin menjauh dari keramaian. Sementara Harry memperhatikan ruas kanan jalan. Ada beberapa gedung tua dan beberapa vila yang memiliki kebun lumayan luas. Ini memang sudah mendekati batas kota.

"Berapa lama lagi?" Harry tidak benar-benar bertanya. Draco hanya tersenyum sebagai tanggapan. Entahlah senang saja mendengar suara Harry dekat. Bodoh sekali perasaannya. Harry melirk kaca spion dan menemukan seringaian Draco disana.

"Sekitar enam menit lagi kita sampai," jawab Draco. Harry kembali memandang jalanan.

Dikursi belakang Blaise menggeleng-gelengkan kepalnya melihat dua sejoli yang ada didepannya itu, ketika Blaise melihat ke jalanan disamping kirinya, dia mengerutkan keningnya karena dia melihat seorang wanita melewati mobil mereka menggunakan motor sport hitam dengan kecepatan diatas ambang normal.

Yumi memacu motornya dengan sangat cepat, dia sudah tidak sabar untuk beraksi, well tidak ada misi selama satu minggu sudah membuatnya kesal. baginya sehari tanpa misi bagaikan sehari tanpa makan (?), misi yang besar maupun kecil sudah menjadi rutinitas wajib untuknya.

Setelah sampai di lokasi strategis yang dikatakan Retsu dia memarkir motornya di tempat yang sangat tersembunyi, setelah turun dia menutup motornya dengan kain hitam.

'Gedung tinggi yang tidak terpakai...huft... Are you ready Yumi?...Yes of course,' batinnya.

Setelah sampai di atap gedung dia segera menyiapkan SR25 miliknya, 'Mari berburu Honey~' gumam Yumi dalam hati sambil menyunggingkan senyum-seringai-di wajah cantiknya.

Yumi mengamati keadaan sekitar. Tidak terlalu menarik sebenarnya, dan untuk organisasi hitam sekelas Voldemort hanggar ini benar-benar seperti rongsokan. Yumi hanya bisa menunggu, Akira bilang ia hanya boleh muncul untuk membantu. Meskipun Yumi sendiri bisa melakukan penyergapan itu. Ia menarik nafas, lalu menghempaskannya. Hanggar itu tak memiliki tanda-tanda kehidupan.

Aneh. Bahkan yumi yakin ruangan-ruangan hanggar itu terlalu kecil untuk menyimpan pesawat pengiriman, "Mungkin mereka hanya akan mengirim sedikit" Yumi berpraduga.

Terserahlah, yang jelas ia akan menyelsaikan misi ini dengan gemilang seperti biasa.

-o0o-

"Ini aneh.." Blaise menggumam sendiri setelah enam menit berselang dan mereka belum juga sampai.

"Kau yakin kita tidak salah jalan Malfoy?" Harry yang bicara. Draco tau Harry berusaha keras menjaga jarak dengan dirinya. Itu menyakitkan. Tapi ia akan bertahan.

"Sedikit salah perhitungan, Harry.." Draco mengabaikan tatapan memprotes pria pemilik emerald itu.

"ini aneh.." gumam Blaise lagi sambil sibuk bergantian mengutak-atik i-phone dan netbook-nya.

"Tidak ada yang aneh disini Blaise selain Malfoy yang salah perkirakan waktu tempuh kita.."

Draco tidak menanggapi, Blaise juga. Hanya mengangsurkan i-phone-nya yang layarnya sekarang sudah penuh dengan foto-foto seperti hanggar pesawat tua.

"Ini gambar hanggar yang baru saja kudapat dari satelit milik ORDE" ada beberapa gambar yang menunjukan berbagai sisi. Yah.. Memang aneh, landasannya sudah tak memungkinkan untuk menerbangkan pesawat, dan perkiraan Dumbledore bahwa akan ada pengiriman besar-besaran terdengar seperti omong kosong.

"Severus bilang mereka memiliki pesawat yang tak terdeteksi.. Kalau begitu setidaknya mereka butuh buster dan parabola pemancar untuk mengacaukan sinyal radar milik pemerintah.." tutur Blaise keheranan sendiri.

"Mungkin mereka memiliki sebuah strategi agar tidak dicurigai oleh, kepolisian, CIA, FBI, dan ORDE..." analisis Draco.

"Bisa jadi, dan anehnya lagi kalau misi ini memang misi yang cukup besar, kenapa hanya kita bertiga yang dikirim?" gumam Blaise.

"agen yang lain sedang ada tugas Blaise," kata Harry.

Blaise terdiam tapi di dalam hatinya dia merasakan sebuah kejanggalan. Beberapa menit kemudian mereka tiba di hanggar tempat transaksi, mereka segera bersiap dan keluar dari mobil yang telah tersembunyi dengan baik.

"Ingat kita harus tetap waspada, jangan lengah sedikitpun," peringat Blaise yang kini menjadi pemimpin misi mereka.

Draco dan Harry mengangguk lalu mereka mulai memasuki Hanggar. Dari atap gedung Yumi melihat Trio ORDE yang memasuki Hangggar.

'Hmmm...jadi mereka yang dikirim untuk misi kali ini? Zabini, Malfoy, dan...Potter,' batin Yumi.

Trio ORDE bersembunyi di belakang peti tua yang berada tidak jauh dari tempat transaksi.

"Mereka datang...bersiaplah!" peringat Blaise yang sudh memegang pistol milkinya.

Namun sesuatu yang tak disangka terjadi. Tiba-tiba saja tanah di bawah kaki mereka berguncang. Para agen ORDE itu pun harus menghindari tumpukan peti kosong yang berjatuhan.

"Wow.." komentar Blaise setelah membawa dirinya menjauh dan mengikuti kedua rekannya bersembunyi di balik sebuah pesawat tua.

Guncangan itu juga cukup merepotkan Yumi yang berada di bagian atap hanggar tua itu, dan yeah..komentarnya sama seperti Blaise, "Wow."

Karena setelah guncangan itu terdengar derak lantai hanggar yang terbelah. Begitu pun dengan atap hanggar bagian tengah yang juga terbuka. Membawa sebuah mesin muncul. Dengan komputer induk yang nampak lumayan besar dan monitor yang menampilkan gambar peta dunia. Sebuah parabola muncul menjulang ke atas, hingga keluar dari bagian atap yang terbuka.

"AVR-62.." Blaise menggumam.

"Maksudmu?" Harry terdahului Draco untuk bertanya.

"Itu mesin buatan Rusia di akhir masa perang dingin. Belum sempat digunakan, belum sempat diujicobakan, bahkan belum sempat dipublikasikan," untuk sekali ini Harry tak keberatan berpandangan bingung bersama Draco.

"Jadi? Fungsinya?" Harry bertanya perlahan sambil mengikuti kedua temannya yang melangkah lebih dekat menuju mesin itu. Ada sepasukan pria berseragam putih dengan tubuh kekar dan wajah tidak menyenangkan menjaga mesin itu.

"Graaak.." suara derak lagi. Sepotong bagian lantai kembali naik dari bawah tanah, membawa seseorang yang Harry teramat kenal.

"Voldemort.." bisik Harry penuh benci. Draco menatapi emerald Harry yang kilaunya tersaputi benci.

"Jadi? Apa fungsi alat itu, Blaise?" Draco sengaja mengulang pertanyaan untuk mengembalikan fokus Harry.

"Mengacaukan radar setahuku, sebenarnya informasi yang dimiliki ORDE sangat terbatas mengenai alat ini. Bahkan ada yang mengatakan bahwa alat ini telah diujicobakan diam-diam dan gagal. Entah bagaimana Voldemort dapat memilikinya.." Blaise mulai terdegar seperti komputer data berjalan sekarang.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Blaise bertanya karena perkembangan situasi ini diluar rencana.

"Mereka pasti akan mendatangkan pesawat tanpa diketahui radar pemerintah. Kita tunggu pesawat klien mereka datang. Setelah itu kita sergap," Harry hanya diam mendengar intruksi Draco. Yah.. Meskipun Blaise tidak bilang, tapi sepertinya misi kali ini Draco yang memimpin.

Yumi menajamkan pandangan serta pendengarannya, kini dia sudah dalam posisi siap tempur, dan jantungnya pun seakan memompa darah lebih cepat, bukan karena takut... melainkan karena perasaan senang setelah seminggu hanya berdiam diri dan melakukan aktifitas 'orang normal'.

Tidak lama kemudian sebuah pesawat muncul dan mendarat di hanggar itu. Orang-orang yang mengenakan pakaian formal turun dari pesawat sambil menenteng enam buah koper yang berisi uang beratus-ratus juta.

"Selamat pagi ..." sapa Voldemort kepada kliennya.

"Pagi, Voldemort...barang yang kupesan sudah siapkan? dan aman?" tanya to the point.

"Tenang saja, semua sudah ku atur sedemikian rupa... dan aman," jawab Voldemort penuh keyakinan.

"Ssst...Blaise, serang sekarang atau tunggu sebentar lagi?" tanya Harry.

"Tunggu sebentar lagi, kita harus bergerak sesuai timming yang tepat. jangan buru-buru..." jawab Blaise.

"Baiklah Blaise," jawab Harry.

Diatap, Yumi Memerhatikan transaksi itu dengan cermat, tidak melewatkan sedetikpun.

-o0o-

"Kau yakin tak apa membiarkan Harry melakukan tugas secepat ini?" Lucius Malfoy duduk anggun dengan segala tata krama kebangsawanannya. Pertanyaannya barusan menyiratkan sebuah kalimat protes pada keputusan Dumbledore.

"Cepat atau lambat, mereka harus kembali berhadapan. Menundanya hanya akan membuang waktu. Percayalah, aku punya pertimbangan sendiri kali ini.." Dumbledore mendekati burung peliharaan kesayangannya.

"Aku lebih mengkhawatirkan kondisi psikologisnya. Terlebih dengan Draco yang ada di dekatnya.." Lucius menutup mata beberapa menit.

Lalu kembali menatap lurus ke depan, "Kau tidak lupa insiden tinjuan Harry pada Draco kan?" Dumbledore menatap wajah Lucius datar. Bukan ekspresi ramah yang begitu sering ia bagikan ke orang-orang.

"Percaya padaku.. Harry akan membutuhkan sekali pertarungan lagi untuk menyadari seberapa ia membenci Voldemort.." Lucius mengernyit tidak setuju. Namun membiarkan Dumbledore melanjutkan, "Lagipula... Draco sendirilah yang bersikeras mengambil tugas kali ini.."

Lalu ruangan itu hening. Sementara Lucius sibuk merangkai kata untuk memprotes kebijakan ini. Dumbledore menatapi burung Phoenixnya, seakan bicara lewat isyarat tatapan mata.

"Aku tahu resikonya.." gumam lelaki tua itu.

Akira menguping pembicaraan Lucius dan Dumbledore di kamarnya. Well, sesuai rencananya... tidak ada satupun anggota ORDE yang tahu di setiap ruangan bahkan koridor dipasang alat penyadap dan kamera pengawas oleh Retsu dan Ken... termasuk di Rumah sakit khusus ORDE.

"Hmm...Begitu ne...pintar..." Gumam Akira, lalu dia meliht layar yang memperlihatkan setiap ruangan di dalam Gedung itu-kecuali bilik wc-semua ruangan hanya memperlihatkan semua gerak-gerik anggota orde termauk ruangan khusus dia, Ken, Retsu dan Yumi-jika dia sudah berhasil bergabung-dia menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat ulah Ken yang sedari tadi kerjaannya hanya memilih-milih benda apa yang akan dia pakai ketika dia menyamar untuk mengikuti Flinch.

-o0o-

"Kalian siap?" tanya Blaise.

"Tentu, dari tadi aku juga sudah siap," kata Harry.

"Begitu pula aku Blaise," sambung Draco.

Yumi melihat kalau Trio ORDE sudah mulai bergerak, dia menyunggingkan sebuah senyuman.

"Dengar.." Blaise memulai pemaparan rencananya. "Kita jelas kalah jumlah, jadi penyergapan kita akan berbeda dengan penyergapan yang lain.." Harry sedikit bergeser dari posisi dirinya sekarang. Ia dan Blaise berjongkok. Sementara Draco berdiri di atasnya. Mereka menemukan sebuah rungan penyimpanan alat-alat kebersihan yang tak terpakai-dan yang terpenting tak terkunci- untuk bersembunyi.

Selain mereka membutuhkan seseorang untuk mengawasi, ruangan ini pun tak cukup besar untuk mereka bertiga berjongkok, "Kau lihat di ujung tangga tadi ada generator, Harry? Aku mau kau bergerak ke sana secepat mungkin. Draco akan membuat semacam kegaduhan di luar hanggar, jadi setelah ini kuharap kau tidak keberatan untuk melewati jendela fentilasi.." Blaise menunjuk jendela kecil yang berada di atas kepalanya. Harry tahu betul Draco maju selangkah untuk memperhatikan jendela itu lebih dekat. Harry mengutuki debar jantungnya yang berlari liar di saat yang tidak tepat. Namun satu tahun lebih menjadi anggota ORDE cukup untuk membuat Harry meminimalisir gradasi merah tak perlu di pipinya.

"Sementara aku akan mencari ke mana kabel-kabel listrik mesin AVR-62 itu berujung... dan menemukan pembangkit tenaganya. Aku akan mengambil plutoloumeincis.. Sejenis bahan tambang murni untuk tenaga nuklir yang jika aku tidak salah baca adalah bahan pembangkit daya mesin itu. Sudah begitu? Kita pergi dari sini. Draco, kuminta kau pastikan mobil kita berada cukup dekat dari tempat ini untuk melarikan diri. Tanpa mesin itu, radar pemrintah akan dengan mudah menemukan letak tempat ini, dan sebuah pesawat dari negara asing pasti akan mengundang banyak kampiun polisi.. Jelas? Kita lakukan seteliti mungkin," itulah hebatnya otak Blaise, tanpa perlu peluru jika semua berjalan sesuai rencana. Mereka tak perlu berhadapan langsung dengan musuh. Ketiganya saling berpandangan dan mengangguk. Tanpa banyak bicara Harry dan Draco bertukar posisi. Harry menjadi mata yang mengawasi situasi di luar ruang 'janitor' itu. Sekilas ia melihat Draco tengah berusaha menggapai jendela ventilasi yang lumayan tinggi itu.

Tempat Voldemort,

"Sir... aku merasa ada yang aneh di sini," ucap salah satu anak buah Voldemort.

"Aneh bagaimana?"

"Aku merasakan ada yang sedang mengwasi kita si.,"

"Kalau begitu periksa seluruh ruangan ini, SEGERA!" perintah Voldemort.

Setelah itu anak buah Voldemort berpencar ke seluruh ruangan itu.

"Gawat! anak buah Voldemort mulai menyadari kehadiran kita," kata Harry.

"Shit! Kalau begitu siapkan senjata! Harry segera naik ke jendela ventilasi itu!" perintah Blaise.

Yumi melihat seseorang mendekat ke arah Trio ORDE tersebut dan dengan sigap menembaknya di bagian kepala.

Beberapa anak buah Voldemort menyebrang ke segala penjuru hanggar. mengobrak - abrik banyak sudut yang memungkinkan dijadikan persembunyian.

"Ada sesuatu Mr. Voldemort?" pria necis berambut klimis itu menghentikn kesibukannya menghitung kotak-kotak sabun yang menjadi objek transaksi mereka kali ini.

"Hanya memastikan tak ada pengganggu di sekitar sini.." Voldemort secara naluriah memang pernyeringai licik yang teramat baik. bahkan membuat manik mata hitam milik Yumi yang menangkapnya beraksi kecil. membualat sedikit, "Dia mengerikan, ,gumam Yumi dalam hati.

Beberapa pria berbadan angker itu berjalan semakin mendekat, mendekat ke ruang 'janitor' tempat trio ORDE masih berada di dalam sana. Dengan menggenggam senapannya, salah satunya berjalan semakin dekat.

"Hei!" Voldemort memanggil, suaranya menggema ke seluruh sisi hanggar tua.

"Mereka butuh bantuan untuk mengangkut ini ke pesawat."

Maka lelaki itu mengurungkan niat memutar knop pintu, membuat emerald Harry menutup lega beberapa detik.

"Ayo! Draco.. cepatlah... kau ini lambat sekali?" omel Harry, yang langsung berhadiah glare dari Draco.

"Hmmm...bagaimana kalau aku membantai mereka? Tapi... kalau bosnya hidup kan ga masalah shishishi..." gumam Yumi disertai kekehan.

Yumi mulai menembaki anak buah orang yang menjadi klien Voldemort.

"Ah kalau aku punya bazoka aku tembak deh pesawatnya... aku tembak bannya saja ne...tidak...itu salah...ck mendokusai..." gumam Yumi yang masih saja menembaki anak buah klien Voldemort.

"Blaise apa ada agen ORDE selain kita di sekitar sini?" tanya Harry.

"Sepengetahuanku tidak ada Harry, aku juga bingung," jawab Blaise.

"Perubahan rencana kawan-kawan...kita semua masuk ke lubang ventilasi ini," ucap Draco di setujui oleh Blaise.

"Kau lebih dulu Harry,"Kata Blaise.

"Sir tempat ini tidak aman, lebih baik anda pergi dari tempat ini." ucap anak buah Voldemort.

Lalu Voldemort pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa uang hasil transaksi sementara kliennya ditinggal begitu saja tanpa bisa kabur bersama dengan anak buah-anak buah Voldemort yang sedari tadi kebingungn siapa yang menembaki mereka.

"Lebih baik kita keluar!" Draco tiba-tiba menjadi pemimpin instruksi. Harry menuruti dan membuka pintu. Menghindar dari beberapa tembakan. Melihat Voldemort yang tengah menaiki sebuah mobil jeep tua di luar hanggar.

"Blaise!" Seseorang anak buah Voldemort nyaris menembak Blaise di depan mata Harry. Sebuah tembakan terdengar mencekik tenggorokan Harry. Namun, bukan Blaise yang tumbang, justru pengawal itu yang terjatuh, tak lagi sadarkan diri. Mungkin mati.

"Harry!" baku tembak itu ternyata tak begitu dihiraukan oleh Harry. Ia hanya terus berlari menuju ke arah lelaki yang menghancurkan hidupnya. Harry sesekali menembaki pengawal Voldemort yang tersisa dan menghalangi jalan kabur tuannya. harry sama sekali mengabaikan bagian belakang. Nyaris sebuah peluru menembus mantel coklat yang dikenakannya jika Draco tak melumpuhkan si penembak itu lebih dulu.

"Awasi langkahmu Harry!" teriak Draco saat mereka kini disudutkan oleh sebuah lingkaran sekitar tujuh orang penembak jitu yang siap menghabisi mereka.

"Sekarang bagaimana kita keluar dari kepungan ini?' Harry berusaha tak memikirkan rasa risih saat punggung mereka bersentuhan untuk menjaga jarak dengan lawan. meskipun keduanya memegang senjata api, tetap saja pelurunya tak cukup banyak untuk menembaki tujuh orang itu satu persatu.

"Pikirkan olehmu! Bukankah kau anak James Potter?!" seru Draco emosi sambil menangkis serangan tinju dan tendang satu-lawan satu dari dari mereka.

Harry menembak seorang yang membawa pedang panjang runcing yang hampir mensuk rusuk Draco.

"Ouh? dan apa itu artinya aku lebih pandai dari anak Lucius Malfoy?" setelah kalimat terakhir Harry, keduanya berhenti saling berbasa-basi. pistol dihemat, dan mereka mengalahkan ketujuh orang itu dengan satu peluru dan tangan kosong, plus sedikit perdebatan. Tetapi baru tiga orang yang mereka kalahkan empat orang lainnya sudah terkapar terkena peluru Yumi.

Setelah menenangkan diri mereka Blaise mendekati Draco dan Harry.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Blaise.

"Ya kami baik-baik saja,." Jawab Draco dan Harry hanya mengangguk.

Mereka melihat sekeliling mereka, semua anak buah Voldemort dan juga kliennya tidak ada yang selamat, hanya menyisakan sang klien.

"Semuanya...tewas...sebenarnya siapa sniper itu? aku yakin kalau di ORDE tidak ada satupun sniper yang sehebat ini...semua tembakannya tepat di bagian-bagian vital..." kata Blaise.

"Iya, aku pikir juga begitu. ORDE tidak ada sniper sehandal ini," kata Harry.

"Lebih baik kita tangkap Klien itu dulu," kata Draco disetujui Harry dan Blaise.

Mendengar itu -klien-berlari, berusaha menyelamatkan diri. Pada saat trio itu akan mengejarnya, klien itu terjatuh dan berteriak sambil memegang kakinya. Trio itu memandangnya heran.

"Baka! Berani kabur huh?" sebuah suara wanita terengar dari arah belakang mereka.

Otomatis Blaise, Harry, dan Draco membalikan tubuh mereka dan melihat seorang gadis berambut hitam panjang yang dikucir kuda, baju ketat berwarna hitam, di tangan kanannya ada pistol laras pendek dan dipunggungnya terkait sebuah pistol laras panjang berwarna hitam.

Gadis itu mendekati sang klien, "Tuan anda ditangkap," ucap gadis itu sambil memborgol kedua tangan laki-laki itu. Blaise melangkah maju terlebih dahulu dianatara dua rekannya yang lain. Ia menatap tajam gadis itu tanpa sedetikpun berkedip.

"Siapa kau?" Blaise memandang tidak suka gadis itu. Ia tidak suka pembantaian semacam begini. Hanya karena kau bisa membunuh penjahat, bukan berarti semua penjahat harus dibunuh. Ia tidak suka cara yang membabibuta semacam begini. dan terlebih setelah ini bagaimana ORDE mempertanggungjawabkan para tersangka yang seharusnya dapat dimintai kesaksian oleh kepolisian London? Gadis ini jelas bukan orang ORDE.

"Siapa kau?!" bentak Blaise sekali lagi mengulang pertanyaan. Gadis itu mendorong tubuh klien Voldemort itu ke arah Blaise. Dengan sigap lelaki berkulit hitam berperawakan tinggi itu menangkapnya. Kemudian menyorongkan lagi lelaki yang sudah tak berdaya itu pada Draco yang ada di belakangnya.

"Kenapa kau membentakku? Aku baru saja menyelamatkan nyawamu dan kedua orang tema-"

"Kau baru saja ikut campur dalam hal yang tidak perlu, nona.." ujar Blaise memotong dengan datar. Harry menatap Blaise yang sepertinya termat kesal rencana sempurnanya dihancurleburkan begitu saja.

"Aku hanya bala bantuan yang dikirim seseorang," jawab gadis itu tanpa benar-benar mejawab pertanyaan sebenarnya.

"Kau..." Blaise maju beberapa langkah dengan pandangan mengintimidasi yang kentara. Gadis itu tidak menutup mata atau gerntar menghadapi ancaman nyata di depan matanya. Ia justru balas memandang Blaise tepat pada korneanya. Berjinjit sedikit agar kalah tinggi tak begitu berjarak. Walau tidak begitu berhasil juga.

"Sudahlah Blaise.." Harry maju melerai. Tidak akan bagus jika terjadi pertengkaaran tidak perlu diantara keduanya.

"Bagaimanapun gadis ini menyelamatkan nyawa kita yang terdesak beberapa kali Blaise, dan kupikir Dumbledore akan menyukai jika kita membawa pulang seorang snipper yang handal.." Harry beraksi dengan cengiran khasnya yang melelehkan kebekuan hati siapapun. Bahkan sedetik gadis itu terlihat terpesona dengan kilau emerald Harry. Blaise membuang nafas setengah dongkol lalu berbalik menjauh dari ketiga orang itu. Lebih memilih meneliti mesin AVR-62 yang melegenda itu. Mesin yang selalu menjadi perbincangan baik FBI,CIA, juga ORDE. Juga organisasi mata-mata lainnya.

"Jadi? Boleh aku minta namamu supaya aku tidak perlu menuliskan kata 'gadis itu' di laporanku nanti.." Harry berusaha bersikap diplomatis, dan sepertinya sedikit berhasil, gadis itu mulai menampakan senyum untuk membalas keramahan Harry.

"Yumi, dari Jepang. Jika kau mau tahu kenapa aku bisa ada disni? Aku Cuma seorang snipper yang dibayar untuk membantu kalian. Aku juga tidak akan mengatakan siapa yang menyuruhku, jadi jangan tanya aku darimana aku tahu tentang misi kalian ini," gadis itu jadi sedikit lebih terbuka saat memandang kilau mata Harry. Setidaknya Draco terlalu sibuk dengan klien voldemort yang masih terus berontak hendak melarikan diri. Jadi, pangeran Malfoy tidak punya cukup waktu untuk cemburu.

"Hmm.." Harry menggumam. Berisyarat dengan Draco lalu lelaki itu membawa keluar hanggar terlebih dahulu klien itu. Mereka harus meninggalkan klien itu disini dan menghubungi kepolisian London. Urusan tangkap menangkap dan hukum menghukum sebenarnya bukan perkara yang harus ditangani ORDE. ORDE dibentuk untuk mengumpulkan bukti agar para penjahat bisa diadili. ORDE dibentuk untuk mengatasi hal-hal yang diluar kendali kepolisian Inggris. ORDE hanya akan bertarung jika benar-benar dibutuhkan.

"Yumi...maaf.." bisik Harry dan kemudian sebuah suara tembakan teredam sedikit menyakiti telinga Harry. Sigap ia menangkap tubuh Yumi yang jatuh terkulai.

"Kau tahu, kau juga berbakat jadi snipper Blaise.." ucap Harry. Sebuah peluru bius tepat mengenai leher Yumi.

"Kau yakin hendak membawanya ke ORDE, Harry? Dia cuma anak kecil yang bisa menembak. Dia tidak punya taste keadilan," Blaise memutar matanya ke arah mayat-mayat para pengikut Voldemort yang bergelimpangan.

"Setidaknya yang aku tahu Blaise. Dia ada di pihak kita.." ucap Harry sambil memapah keluar tubuh gadis itu. Wajahnya Asia. Mengingatkan Harry pada Akira.

"Tapi dia benar-benar snipper yang hebat kan Blaise?" Blaise tidak menanggapi. Di kedua tangannya berisi sebuah kotak berpendar hijau. Mungkin itu yang dimaksud plutolenium oleh Blaise.

"Tenanglah.. Kau bisa menjalankan rencana briliantmu yang lain, di misi berikutnya.." ujar Harry berusaha menghilangkan saraf tegang di wajah Blaise. Mereka bisa melihat dari kejauhan Draco menyusul setelah membuat pingsan klien Voldemort, dan mmm.. Kalau Harry tak salah lihat tadi diikatkan di kaki pesawat. Terserah Draco sajalah. Intinya misi kali ini selesai. Meskipun Harry tak sempat berhadapan dengan Voldemort.

"Lihat sisi positifnya? Kita cepat pulang, Blaise. Ayolah.. Jangan merengut begitu.." Draco diam saja mendengarkan Harry yang masih terus membujuk Blaise. Akhirnya mereka sampai di mobil mereka. Harry menaruh badan Yumi di kursi belakang.

"Hei! Aku tidak mau duduk dibelakang bersama dia.." protes Blaise.

"Tidak masalah, aku juga malas bersebelahan dengan Malfoy..." ujar Harry sarkatis.

Blaise memandang Draco yang menampilkan raut wajah sedih. Blaise-yang sudah menaruh plutonium-nya di bagasi-mengacak rambutnya frustasi. Mana mungkin ia merusak satu-satunya kesempatan Draco untuk bisa dekat kembali dengan Harry?

"Baiklah.. Aku dibelakang," ujar Blaise menyerobot duduk sebelum sempat Harry masuk. Harry memandangi Blaise dengan keheranan yang begitu kenatara. Tapi malas berkomentar, akhirnya ia terima saja duduk kembali di depan bersama Malfoy. dan...sialnya detak jantungnya kembali bereaksi saat jemari keduanya tak sengaja bersentuhan saat hendak men-loock sabuk pengaman mereka. Terlebih Malfoy junior itu tersenyum dengan begitu rupawan, harry susah payah mengeluarkan dengusan kesal.

"Ayolah jalan kalian berdua.. Jangan bermesraan seperti itu di dekat orang yang tak punya pacar!" ujar Blaise yang masih separuh kesal.

"Aku bukan pacarnya! dan kami tidak bermesraan!" jerit Harry panik, tidak suka dengan penarikan kesimpulan Blaise.

"Aha? dan kalau begitu jelaskan mengapa pipimu memerah?" Blaise berucap sambil menatap kembali komputernya.

"Heh.." Harry hanya mendengus pasrah dan membuang muka keluar jendela. Sementara draco menahan seringaiannya sebisa mungkin ketika mendapati yang dikatakan Blaise benar. Wajah Harry memerah.

-o0o-

Markas ORDE, Yumi dibaringkan di sofa ruangan anggota muda.

"Harry siapa gadis ini?" tanya Hermione.

"Sia Snipper yang membantu misi kami 'Mione," jawab Harry.

"Snipper? bukankah ORDE tidak memiliki seorang Snipper?" tanya Ron.

"Well, dia seorang Snipper Freelance mungkin...tapi entah siapa yang menyewa. dan kupikir lebih baik dia dibawa ke sini dan bergabung dengan kita, karena di ORDE kan belum ada satupun snipper," jawab Harry.

Blaise dan Draco duduk di sofa sudut ruangan itu. Beberapa menit kemudian Yumi bangun, "Ini dimana? apa yang kalin lakukan?" tanya Yumi kesal.

"Sorry tapi karena kamu belum resmi menjadi anggota ORDE kamu mesti dibius dulu," kata Harry.

"CK! gara-gara kalian motorku tertinggal disana! lagi pula seharusnya kau tanya dulu kepadaku," kata Yumi kesal.

Ketika Harry akan menjawabnya, muncul Retsu dengan wajah yang tidak tertebak. Yumi menatapnya dan dia segera saja memasang wajah datar.

"Kukira kau tidak akan melakukannya secara berlebihan seperti itu! padahal cukup menembak bagian kakinya saja! tidak perlu sampai seperti itu! cih, baka! bagaimana pun kau adalah anggota, tepatnya Calon anggota Mamoru!" ucap Retsu dengan amarah disetiap kata-katanya.

Yumi berdiri, "Neeee... aku mengerti itu...tapi ketika ditelepon dan diminta bantuan, tidak disebutkan detailnya! siapa, klienku, dan apa aku harus menangkap mereka dalam keadan 'bernyawa' atau hanya 'tubuh tanpa nyawa'! aku hanya diminta untuk membantu mereka saja, aku hanya berusaha tidak membongkar identitasku...aku..a-aku minta maaf kakak," jawab Yumi menundukan kepalanya dan memainkan kedua jari telunjuknya.

"*Sigh*...Siapa yang mengirim perintah itu padamu?" tanya Retsu.

"Si hijau bodoh alias Ken!" jawab Yumi.

Retsu menggelengkan kepalanya, "Lain kali konfirmasi padaku atau master mengerti!"

"Ne... wakarimashita kakak," jawabnya sedikit menyunggingkan senyuman.

"Kakak?" Hermione menatapi gadis itu bergantian dengan Retsu. Ok, kakaknya bisa membunuh orang dengan dua potong pedang kecil dan sekarang adiknya seorang snipper handal? Mereka mengerikan... Hermione batinnya ribut sendiri.

"Jadi? Kau calon anggota klan Mamoru? Well.. Artinya Akira pasti tidak akan keberatan jika aku memintamu menjadi anggota ORDE?" Harry bergumam sendiri. Ada seringai bahagia yang tak dimengerti para anggota ORDE lainnya.

"Harry.. Aku tidak suka mengganggu kesenanganmu. Tapi kita masih butuh izin Dumbledore.." Blaise mengingatkan. Pria itu membiarkan manik mata hitamnya yang masih memasang tatapan tak suka bertumpuk dengan sipit-khas asia- milik yumi.

"Kupikir Harry benar.." Draco dengan sepotong kalimat tak tuntas berhasil menyabet seluruh perhatian mereka yang ada di ruangan itu.

"Kelemahan ORDE salah satunya tidak memiliki snipper. Meskipun aku tahu setiap anggota ORDE bisa menembak dengan sangat baik dengan kualitas jauh di atas rata-rata. Tapi Blaise, Harry, dan aku sudah menyaksikan bagaimana peluru Yumi mengenai semua sasaran titik vital, dan kupikir untuk masalah Mr. Dumbledore.. Aku dan ayahku bisa mengurusnya.." ruangan itu senyap. Mendengarkan penuturan lumayan panjang dari seorang Draco Malfoy jelas bukan suatu kewajaran, dan yang lebih menghenyakan lagi jawaban Harry berikutnya.

"Aku sendiri yang akan membujuk Dumbledore, Malfoy.." Sinis betul. Sarkatis yang tiada tanding. Setelah itu tungkai Harry membawanya pergi keluar ruangan. Tidak menggebrak pintu namun membiarkannya terbuka begitu saja. Seperti berharap ada yang mengejar. Anggaplah Draco yang menangkap harapan itu. Karena pemuda pirang itu yang kemudian mengejar langkah Harry.

"Dua orang itu... Kekasih ya?" celetuk Yumi tidak penting dan hanya ditanggapi tatapan tajam dari Retsu. "Apa? Aku salah bicara?"

-o0o-

"Harry!" tangan pucat milik Draco berhasil menangkap tangan Harry. Jarak menggantung dianatar mereka, Harry menghempaskan genggaman Draco. Menatapnya tajam tanpa berkata apa-apa. Tapi tidak buru-buru melanjutkan langkah. Ingin tahu apa yang pangeran Malfoy muda ini hendak utarakan.

"Kau tidak bisa seenaknya seperti itu, Harry.." Draco berusaha sebisa mungkin agar nada yang keluar tak menghakimi. Tak berkesan menggurui. Tapi diamnya Harry tidak sama sekali menunjukan pertanda baik. "Ingat? Kau sudah melanggar peraturan ORDE dan membuatmu jatuh dalam perangkap Voldemort?" Harry mendiamkan saja Draco bicara. Tak memberi tanggapan. Tapi tidak sepenuhnya mengabaikan.

"Misi kali ini seharusnya menjadi ajang tes mental, apa kau sadar?" Harry mengernyit sebagai tanggapan atas kalimat Draco yang ini.

"Dumbledore ingin menguji apakah fakta bahwa kau masih hidup akan mengguncangnya, atau setidaknya mengagetkannya. Itu akan baik untuk menghilangkan fokus Voldemort dalam mengawasi Severus.." rasanya ada yang salah. Sejak kapan Draco Malfoy mau bersusah payah menjelaskan banyak hal pada seseorang..? dan sejak kapan Harry bisa menjadi pendengar yang baik saat ada orang lain yang membuktikan bahwa ia salah? Harry benci bahwa apa yang ia yakini salah. Itu sebabnya memaafkan Malfoy menjadi suatu perkara yang begitu susah. Sekarang sekali lagi lelaki pirang ini menamparnya dengan fakta lain yang terlewat logikanya. Harry memang lebih suka beraksi lebih dulu baru fikirkan akibat kemudian. Khas potter. Mungkin itu sebabnya ayahnya begitu berkawan akrab dengan masalah, dan menurun padanya.

"Kedua, ini ujicoba mental juga untukmu. Apakah kau..Harry Potter akan belajar dari kasus sbelumnya dan menyergap Voldemort lebih tenang? Tidak dikuasai emosi dan dendam yang membuatmu melakukan banyak kecerobohan?" Harry terdiam benar-benar untuk kalimat terakhir. Menyimak. Draco benar. Ia nyaris membuat dirinya celaka lagi, dengan tanpa perhitungan mengejar Voldemort semenatara para anak buah penjahat itu mengepungnya. Semenatara yang ada di kepalanya hanya balas dendam. "Asal kau tahu.. Yumi sebenarnya pengganggu dalam rencana ini.. Dumbledore sudah memperhitungkan bahwa Blaise yang akan menyusun rencana, dan yang dibutuhkan ketua kita itu hanya kau yang mengikuti alur permainan Blaise tanpa terpancing emosi. Tapi apa? Rencana Blaise berantakan karena Yumi bukan?" Draco melangkah mendekat. Harry tak begitu memperhatikan karena sibuk mencerna kalimat per kalimat yang Draco uraikan.

"Jangan gegabah lagi, Harry.." tinggi mereka yang lumayan berjarak membuat Draco yang menang beberapa senti lebih tinggi menghapus jarak. Mengecup kening si kacamata bulat dengan lembut. Lalu pergi begitu saja. Menghilang dari pandangan Harry yang terpana akan kejadian cepat barusan.

Ia mengerti, sangat mengerti. Jika kali ini ia yang bersikeras meminta Yumi bergabung hasilnya akan nihil. Meskipun Yumi berbakat dan anggota klan Mamoru. Dumbledore tidak pernah suka rencanya diobrak-abrik orang. Maka wajar jika Yumi tak akan mudah diterima. Harry hanya besar mulut barusan. Ia cukup sadar diri bahwa ia sudah cukup sering melakukan hal-hal gegabah sejauh karirnya di ORDE.

"Bodoh.." Harry tersenyum satire. Menatapi lorong lengang yang baru saja dilalui Draco. Harry mengerti semuanya. Bahkan ia mengerti bagaimana pengaruh keluarga Malfoy akan jauh lebih membantu untuk membawa Yumi masuk daripada kengototan Harry.

Sungguh, Harry benar-benar mengerti. Hanya satu yang tidak Harry mengerti. Kecupan Draco yang masih terasa sama. Menghangatkan, dan kebiasaan buruk Draco.

"Selalu meninggalkanku tertinggal bersama sisa-sisa kehangatan... Dasar licik..." bibirnya menyungging senyum, namun emerald Harry merapuh jarak pandangnya. Diganggu butir-butiran asin yang kemudian merangkak di pipinya.

TBC

A/N :

Astia Aoi: Halooooo….akhirnya chapter delapan kelar juga….maaf kalau masih ada kesalahan T^T…yups, muncul lagi OC baru hehehe, Yumi awalnya mau aku buat jadi tokoh jahat, tapi aku berubah pikiran. Manis juga kalau aku jadikan Yumi adik dari salah satu Klan Mamoru. Aku share ff chap ini lagi-lagi tanpa ada catatan Author Raya . *maaf Aya…* karena aku ga mau ganggu ujian dia. Mungkin menyusul di chap depan.

Akhir kata terima kasih sudah mengikuti ff kami, dan mohon REVIEW kalian….