Pukul 11.48
Rumah Sakit Klinik No. 4
Kiev

Sudah agak licin ketika menyadari bahwa sedari tadi aku menggenggam tangannya. Pada akhirnya aku mengantar Sasuke ke Rumah Sakit Klinik No. 4, sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar di Kiev. Kaca spion mobil sudah retak saat mobil terlalu ke kanan dan dihajar oleh mobil lain. Yah, itu kecerobohanku karena mengendarai mobil seperti mengantar istri melahirkan.

Sasuke sudah berhenti mimisan setelah menghabiskan berlembar-lembar tisu. Dia diam tak berkata apa-apa, kemungkinan dia sendiri shocked atas apa yang terjadi. Matanya kosong, tidak seperti beberapa menit lalu seperti saat dia mengomel di bianglala.

Dan hujan pun turun...

•••
Dia Si Nomor 176
Event 9: 09 September 1996
•••

Dua buah mangkuk plastik mengetuk meja bundar kafetaria rumah sakit. Kiev sedang diguyur hujan ringan. Sensasi tanah basah yang ditimbulkan menyapa saraf olfaktori sangat menenangkan pikiranku yang sempat panik.

Aku memberikan jaketku pada Sasuke karena aku mengguyur lengan jaketnya dengan air kran untuk menghilangkan noda darahnya. Sasuke terlihat terlalu kontras dengan warna merahnya. Kulit putihnya malah terlihat seperti orang sakit dengan pakaian warna mencolok seperti itu. Ya, seperti orang sakit, karena aku tidak mau dia benar-benar sakit.

"Soal lebammu, Sasuke..." Aku memulai. Bila soal simptom, terutama sekali pada Sasuke, aku harus profesional. "Katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi padamu."

"Sudah kujelaskan tadi kalau mereka memukuliku. Apa kau tidak percaya?"

"Jelaskan sedetil-detilnya."

Sasuke adalah tentara. Selain harus tahan banting, ia biasa mendapat tatapan intimidasi dari kawan-kawannya di angkatan, tetapi tidak dengan seorang sipil sepertiku. Seorang dokter adalah tempat paling tepat untuk curhat bahkan ketika kau mengalami sakit kepala biasa, dan itulah yang sedang aku yakinkan pada Sasuke.

"Aku memaksa," tegasku.

"Baiklah..."

Sup krim di hadapan Sasuke masih mengepulkan asap beraroma ayam dan rosemary. Dia sudah mengeluh lapar sejak tadi tapi tak kunjung menyendok makanannya. Kedua telapak tangannya melingkari seluruh sisi mangkuk itu, mungkin dia kedinginan.

"Sebenarnya aku sudah lama tidak bercermin. Tapi aku bersumpah, pukulan itu tidak mengenai sudut bibir, tetapi di bawah tulang pipi," akunya.

"Atasanmu itu yang melakukannya?"

"Ya."

Sasuke diam sejenak. Ia mengambil sebuah sendok plastik dan menciduk sup krimnya, hanya separuh dari kapasitas sendok itu. Ditiupnya sebentar sup krimnya, lalu ia berkata, "Maaf aku sambil makan. Perutku lapar sekali."

Aku tak bisa menahan senyumanku. Sasuke tegas dan manis di saat yang sama. Bibirnya sedikit maju ketika ia mengusir panas dari makanannya. Dia lapar dan kedinginan, sebuah reaksi fisiologis yang normal.

Sejauh ini semua masih normal.

"Maaf, akan kulanjutkan," katanya lagi. "Bagaimana ya aku menjelaskannya?"

Ah, dia kebingungan sendiri. Sendok plastiknya diputar-putar di sup krim seperti sedang megaduk teh. Matanya tak fokus pada apapun.

"Ada beberapa lebam, tetapi aku tidak yakin apakah itu karena latihan atau... sakit," tambahnya.

"Habiskan dulu makananmu," tandasku.

Tak diragukan lagi bahwa sebenarnya Sasuke juga takut. Tidak, kami semua takut bila dia harus menjalani pengobatan yang menyakitkan lagi. Apa yang harus aku katakan pada keluarganya nanti?

Saat dia masih dirawat di rumah sakit, lebamnya hanya ada di kaki kiri dan tangan saja. Kali ini ada lagi memar di sudut bibir kiri. Sekilas memang mirip bekas tinju, tetapi aku telah hafal mati tentang lebam ──tuntutan seorang onkologis dan jam terbang yang meningkat akibat isu Chernobyl.

Baru kali ini sup krim jamur terasa hambar. Nafsu makan seperti lenyap begitu saja hanya karena melihat Sasuke yang lahap sekali menandaskan makanannya. Aku hanya bisa berpikir positif karena dia masih mau makan dengan baik.

"Kau tidak lapar?" tegurnya.

"Maaf, maaf. Kau cantik, sih. Aku sampai tidak bosan memandangimu."

Dan, ouch! Dia menendang tibia-ku...

•••

Sudah hampir satu jam aku menunggu hasil CBC Sasuke. Kali ini aku menariknya lagi, memaksanya untuk ikut denganku sama seperti di Seiklar Rope. Bedanya, Si Kapten sama sekali tidak menolak.

"Toilet?"

Di sini lebih private. Hubungan dokter-pasien adalah rahasia. Kalau pun bocor, hanya akan dibahas dalam sebuah studi kasus, presentasi dan artikel. Ditambah, aku bukan dokter di sini.

"Buka bajumu."

Sasuke memunggungiku, melepas jaket dan kaos polonya, lalu meletakkan benda-benda itu di meja wastafel yang tidak terlalu basah. Tulang belikatnya bergoyang-goyang seiring gerakan tangannya yang kaku. Sungguh kulitnya benar-benar putih seperti orang Serbia, tetapi yang namanya tentara tidak pernah memiliki kulit mulus.

"Balikkan badanmu."

Dia pun berbalik, lagi-lagi dengan gerakan kaku. Tampak jelas ototnya yang sudah terlatih, terutama perutnya. Tidak, bukan itu yang aku perhatikan, tetapi ada 3 memar seukuran bola pingpong dan beberapa memar kecil yang tak terhitung. Tak hanya di perutnya, tapi juga di diafragma, dada dan bahu.

"Kapan kau mendapatkannya?"

"Tidak ingat."

Pandangan matanya terarah pada salah satu noda di tubuhnya. Dia seperti menyesali sesuatu padahal itu bukan kesalahannya. Semua ini adalah akibat jangka panjang dari butiran debu.

Debu radioaktif.

"Bagaimana menurutmu?"

Ia bertanya dengan lesu. Dia sudah tahu, sudah mengetahui kejanggalan pada tubuhnya. Harusnya aku menahannya untuk tetap di rumah sakit dan memaksanya untuk kemo. Harusnya aku tidak flu saat itu. Harusnya aku menahannya di apartemenku dan tidak mengizinkannya dinas lagi di Zyrtomyr. Harusnya...

Penyesalan selalu membuatku hampir gila!

"Kita lihat nanti hasil CBC-nya."

Lagi-lagi tanganku bergerak sendiri. Ada makhluk tak kasat mata yang mengangkat tanganku dan menempelkannya ke pipi Sasuke. Makhluk itu juga membuat ibu jariku mengusap kulitnya yang berdebu.

"Apa itu CBC?"

"Complete... blood count."

Aneh. Ada pantulan diriku di sana, di matanya. Bukan di irisnya yang sehitam onyx tetapi jauh melewati itu ─pupil, lalu aquaeus humor, lalu mencapai retina hingga ke saraf optiknya. Di pikirannya hanya ada aku dan di saat yang sama Sasuke mendominasi jalur impuls sarafku. Kami bertatapan agak lama.

Terlepas dari penyakitnya, ia masih sempurna.

Sasuke terkekeh sembari membereskan dirinya. Sunggingan senyum berat sebelahnya amat menawan, sekaligus berbahaya ──dia 'kan tentara jadi wajar saja. Sekilas dia tampak seperti Sasuke-ku yang dulu sering mengerjai teman-temannya.

"Ayo kita ke bagian lab. Jangan sampai aku mengalihkanmu dari kepanikanmu barusan."

•••

Sebenarnya untuk diagnosa kanker, terutama leukemia, dibutuhkan serangkaian tes. CBC hanya sebagai acuan awal, sebagai warning apakah langkah-langkah serius harus diambil atau tidak. Tentu saja CBC tidak hanya melihat jumlah sel darah dan platelet, tetapi juga jenis dan maturitasnya.

Hasil CBC Sasuke membuatku membeku. Jumlah leukositnya 11.000. Sebenarnya itu normal untuk beberapa orang, misal sedang demam atau infeksi.

"Bagaimana?"

Sekarang diam sebentar dan katakan diagnosa awal. Ini masih permulaan karena dia harus menjalani serangkaian tes lagi untuk memastikan apakah benar leukemia atau demam biasa. Lagi pula Sasuke memang agak demam.

"Sebenarnya jumlah leukositmu... agak banyak."

"Jadi aku benar-benar sakit?"

"Maafkan aku..."

Dia terdiam, ikut-ikutan membeku. Tapi beberapa saat kemudian, senyumnya terbit. Dia tidak menyeringai. Sasuke yang seperti inilah yang membuat ketentraman tersendiri. Senyum seseorang yang sedang berjuang melawan penyakitnya adalah bentuk kerja sama yang baik antara dokter dan pasiennya. Sebagai dokter aku menjadi semangat dan Sasuke sebagai pasien selalu berpikiran positif. Itu saja.

"Aku tidak mengerti. Kalau leukosit berguna untuk mempertahankan tubuh, jumlah yang agak banyak tadi harusnya tidak masalah, kan? Lagi pula mereka tidak perlu anggaran." Sasuke menanggapi hasil CBC-nya dengan sudut pandangnya sebagai tentara. Benar juga, leukosit itu seperti sebuah pasukan dalam tubuh.

"Dalam kasusmu ini leukositmu imatur. Mereka bukan tentara, tapi remaja labil yang suka tawuran. Percayalah, mereka memakan anggaran-mu." Dia malah tertawa geli mendengarnya. Sasuke sampai memegangi perutnya sendiri.

"Haha... kau bodoh tapi pintar. Aku sampai menangis," timpalnya.

"Jangan salahkan aku." Tak mungkin aku tidak ikut tertawa bersamanya. Beberapa pengunjung rumah sakit pun sampai memperhatikan kami. Mungkin harusnya kami masuk rumah sakit jiwa dan bukan rumah sakit biasa.

"Jadi... diagnosamu, dr. Namikaze? Positif atau negatif?"

"Kemungkinan positif."

Tak ada teriakan histeris seperti pasien kanker lainnya. Tak ada wajah murung. Tak ada ekspresi tertekan. Sasuke hanya tersenyum amat tipis. Kemudian dia berkata, "Ayo kita makan lagi. Aku masih lapar."

To be continued