"Chan..yeol?"
Belum selesai terkejut oleh kehadiran Chanyeol, pria tinggi itu malah memperburuk degup jantung Baekhyun dengan memeluknya begitu erat.
"Ini sungguh kau.." Suara Chanyeol sedikit bergetar di dekat telinga Baekhyun. "Baekhyun-ku..ternyata masih hidup.."
Seolah ada tangan tak kasat mata meremas kuat jantungnya, Baekhyun seketika kesulitan bernapas. Untuk beberapa detik ia hanya terdiam dengan mata membeliak, tidak tahu harus berbuat apa.
"Ini bukan mimpi, kan? Katakan bahwa kau berada di hadapanku..adalah nyata."
Namun daripada membalas pelukan itu atau setidaknya merasa senang karena akhirnya bisa bertemu Chanyeol lagi, Baekhyun justru mendorong keras tubuh Chanyeol hingga terjatuh. Remaja itu bahkan berhasil membuat Chanyeol membeku dengan moncong senapan terarah ke kepalanya.
"Pergi." desis Baekhyun dengan intonasi dingin. "Menjauh dariku."
Tidak mengerti dengan situasi ini, Chanyeol pun mengernyit kebingungan. "Baekhyun-ah, apa kau lupa padaku? Ini aku, Park Chan—"
"Aku tahu siapa kau. Yang kuinginkan adalah kau menjauh dariku," Baekhyun mendorong senapannya semakin menempel ke dahi Chanyeol saat pria itu membuat sedikit pergerakan. "Atau kuledakkan kepalamu."
Chanyeol tak butuh waktu lama untuk menyadari ada yang aneh dengan sikap Baekhyun. Pasalnya remaja itu masih mengingat Chanyeol, tapi sorot matanya mencerminkan kebencian yang pekat. Itu terlihat sangat dingin, sampai Chanyeol ragu Baekhyun bercanda dengan ancamannya barusan. Jadi yang pria tinggi itu lakukan adalah bergeming di tempatnya, tanpa mengucapkan sepatah kata, bahkan ketika Baekhyun pergi dari sana.
Dalam hati Chanyeol putuskan untuk tidak pulang ke Seoul. Apa pun yang terjadi, ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya tidak ia ketahui selama sembilan tahun ini, tidak peduli sekali pun dirinya harus berkecimpung dalam dunia kelam itu lagi. Dan akan Chanyeol pastikan untuk mendengar semuanya langsung dari mulut Sangjoong—dalang di balik rencana busuk ini.
"Bersiaplah, Kim Sangjoong."
Kemudian jika waktunya tiba, akan Chanyeol buat Sangjoong membayar mahal semuanya karena telah menghancurkan hidupnya dan Baekhyun.
.
.
.
###
ORPHIC
Chapter 8 – Don't Mess Up with Me
Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
Support Casts: Kim Sangjoong, Park Haejin, Oh Sehun, Lee Yeonhee, Go Ahra, Do Kyungsoo, Lee Hyunwoo, Kang Daniel (Wanna One)
Genre : Romance, Drama, Crime/Action
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
###
.
.
.
"Apa?! Kau putuskan untuk tinggal di Haverhill? Kenapa?"
"Tidak apa-apa." Chanyeol menjawab tenang pertanyaan beruntun Ahra. "Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiranku dan sepertinya menghirup udara di tempat baru adalah pilihan yang tepat."
Ada sedikit jeda di seberang sana, Chanyeol tahu Ahra sedang mengerutkan dahinya.
"Tidak ada yang serius, Noona. Aku janji akan pulang segera setelah aku merasa baikan." Chanyeol meyakinkan sekali lagi.
"Tapi kau tidak pernah seperti sebelumnya. Kau yakin akan baik-baik saja?"
"Kau pikir aku bocah umur lima?"
"Lalu bagaimana dengan uang? Kau tidak bisa hidup di sana tanpa uang, bukan?"
"Aku bisa mencari pekerjaan di sini."
"Pekerjaan apa?" selidik Ahra.
"Apa pun boleh, kau tahu aku bisa menyesuaikan diri dengan cepat."
"Bukan itu maksudku, Chanyeol-ah." Ahra membuang napas kasar, sebelum melanjutkan, "Kau..tidak akan kembali bekerja di sana, kan? Kau sudah berjanji."
"Tentu saja tidak." Chanyeol dengan tegas menjawab. Ia tahu ia akan mendapat masalah jika tak langsung menjawab kecurigaan Ahra. "Tidak perlu khawatir, Noona. Aku akan baik-baik saja, kau bisa pegang kata-kataku."
Merasa tak ada yang mencurigakan dari suara Chanyeol, Ahra mau tidak mau menghormati keputusannya. Well, ini memang sulit ia terima, tapi mungkin saja bisa menjadi pilihan yang tepat untuk memulihkan suasana hati Chanyeol. Walau bagaimanapun, tak ada yang lebih Ahra harapkan selain melihat Chanyeol tersenyum lagi.
"Baiklah." Ahra akhirnya memperbolehkan. "Tapi kau harus rajin memberi kabar, oke? Setidaknya aku harus tahu kau sehat-sehat saja di sana."
Chanyeol tersenyum tipis. "Aku mengerti. Kalau begitu, kututup dulu teleponnya ya?"
"Hm. Jaga dirimu, Chanyeol-ah."
Begitu sambungan telepon ditutup, Chanyeol menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Satu helaan napas panjang berhembus dari celah bibirnya. Ada perasaan buruk yang bercokol di hati Chanyeol karena telah berbohong pada Ahra, tapi di saat bersamaan ia belum bisa menceritakan hal yang dialaminya hari ini. Ahra pasti kaget dan kemungkinan besar akan langsung menyusulnya ke Boston. Chanyeol tidak berpikir itu ide yang bagus.
Untuk saat ini, Chanyeol harus mewaspadai hal-hal di sekelilingnya dan sebisa mungkin menjauhkan orang-orang terdekatnya dari Sangjoong. Apa pun yang terjadi, Chanyeol takkan membiarkan Sangjoong menyakiti mereka. Tidak setelah tahu bahwa pria paruh baya itu memanipulasi kematian Baekhyun dan merebut si mungil dari sisinya.
Mencoba memejamkan matanya, benak Chanyeol membawanya kembali pada kejadian tadi sore. Ketika onyx-nya bertemu manik hazel Baekhyun dan memeluknya begitu erat. Sampai detik ini Chanyeol masih sulit percaya bahwa Baekhyun ternyata masih hidup, bahkan sudah tumbuh menjadi seorang remaja. Namun hal yang belum Chanyeol mengerti adalah sikap dingin Baekhyun terhadapnya. Ia yakin ada sesuatu.
Membuka kembali matanya, kali ini benak Chanyeol melayang jauh pada ingatan lama, tepatnya letak markas para RENWICK di Mattapan. Sudah sebelas tahun Chanyeol tidak ke sana, ia harap letaknya masih sama. Karena jika memang benar, itu akan sangat membantu Chanyeol dalam mengawasi gerak-gerik Baekhyun. Yang perlu diwaspadainya adalah eksistensi RENWICK lain yang mendampingi Baekhyun, mengingat remaja itu baru terjun ke lapangan dua tahun yang lalu.
Bagaimana pun caranya, sekecil apa pun kesempatannya, Chanyeol takkan menyia-nyiakannya jika itu bisa membawa Baekhyun kembali padanya.
.
.
Ekor mata Haejin melirik ke arah pintu ketika itu dibuka seseorang dari luar. Sosok Baekhyun muncul di sana. Namun tidak seperti biasanya, remaja itu tak mengucapkan apa pun, malah melamun sambil berjalan melewatinya.
"Keir?" Suara Haejin sontak menghentikan langkah Baekhyun. Sedikit linglung, remaja itu menoleh pada Haejin. "Kenapa kau baru pulang?"
"O–oh..itu.." Baekhyun menggaruk pipinya yang Haejin yakin tidak gatal. "Tadi aku agak lapar, jadi aku mampir dulu ke kedai jajangmyeon. Maaf."
Menilik Baekhyun yang sedikit tergagap, Haejin kembali bertanya, "Apa misinya lancar?"
"Ya, lancar."
"Apa ada orang lain yang memergokimu?"
Berbeda dengan jawaban sebelumnya yang terkesan tegas, kali ini Baekhyun memberikan sedikit jeda sebelum menggelengkan kepalanya. "Boleh aku pergi ke kamarku sekarang?"
Haejin tak menjawab pertanyaan itu, alih-alih menatap Baekhyun dari bawah ke atas. Well, itu bukan hal yang aneh sebenarnya, Haejin memang terkadang suka melakukan itu pada Baekhyun untuk memastikan remaja itu tak terluka setelah menjalankan misi. Namun entah kenapa, kali ini itu membuat Baekhyun merasa gugup sampai ke titik ia menggigit bibir bawahnya tanpa sadar.
Dan Haejin menyadarinya, hanya saja ia tak menunjukkannya secara kentara.
"Ozul mencarimu." kata Haejin kemudian, sebelum menyesap kopinya.
"Ozul?"
"Ya, kurasa dia ingin membicarakan soal misi lusa."
Baekhyun terkejut mendengar itu. Sepertinya ia melewatkan sesuatu yang penting saat Haejin menjelaskan misi untuk lusa. "Aku akan pergi dengan Ozul? Bukan denganmu?"
"Kenapa? Ini tidak seperti Ozul tidak bisa membantumu, dia juga sudah berpengalaman."
"B–bukan begitu, hanya saja.." Baekhyun menelan paksa ludahnya, tampak enggan untuk melengkapi kalimatnya. "Tak bisakah kau pergi denganku, Rogue? Kau tidak punya misi kan lusa nanti?"
"Aku punya urusan lain, Keir. Berhentilah menjadi manja dan temui Ozul sekarang."
Diam-diam Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Sepertinya untuk misi yang satu ini ia tak punya pilihan lain selain pergi dengan Ozul.
"Baiklah." Baekhyun melangkah lesu menuju kamar Ozul, meninggalkan Haejin yang membuang kasar napasnya di belakang sana.
###
Matahari belum memunculkan sinarnya saat Chanyeol meninggalkan penginapan. Langit bahkan masih terlihat gelap untuk disebut subuh. Bisa Chanyeol hitung jari kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan, namun itu bukan masalah besar bagi pria bersurai ebony itu. Karena alasannya keluar sepagi itu adalah untuk pergi ke Mattapan—yang setahunya merupakan letak markas para RENWICK.
Sekarang terhitung empat puluh menit semenjak Chanyeol mengawasi gedung yang dulu pernah ia tinggali. Memang ada yang berbeda dengan penampilan gedung berlantai tiga itu, namun melihat beberapa wajah tak asing keluar-masuk gedung itu membuat Chanyeol yakin bahwa markas para RENWICK memang belum berubah.
Untuk saat ini, Chanyeol hanya akan menunggu Baekhyun keluar dari gedung itu. Ia pikir masuk ke sana tanpa memegang sebuah senjata atau setidaknya rencana yang matang, hanya akan mempersulit situasinya nanti. Alih-alih bertemu Baekhyun, yang ada Chanyeol malah diserbu oleh para RENWICK. Jadi menunggu untuk sementara waktu adalah pilihan yang bijak. Well, semoga saja rencana tidak matang ini bisa membantu Chanyeol bertemu dengan si mungil Baekhyun.
"Oh?" Chanyeol memicingkan matanya saat sosok yang ia tunggu akhirnya keluar dari gedung itu. Namun Baekhyun tidak sendiri, ada seorang pria tinggi bersurai dark brown di sampingnya. Itu Haejin. Tampak di sana Baekhyun bicara dengan Haejin, sebelum yang lebih tinggi mengulas senyum tipis dan mengusap puncak kepala yang lebih pendek.
"Sialan. Dia pikir siapa dirinya mengelus kepala Baekhyun sembarangan?" gerutu Chanyeol tanpa sadar. Tidak bisa dipungkiri ia tidak suka melihat pemandangan itu, terlebih karena Baekhyun membalas perlakuan Haejin dengan senyuman pula. Tapi untungnya itu tidak berlangsung lama. Haejin pergi meninggalkan Baekhyun tak lama kemudian.
Beranjak dari tempatnya, Chanyeol pikir ini adalah kesempatannya untuk bertemu Baekhyun. Selain ada banyak hal yang harus mereka bicarakan, Chanyeol juga ingin melepas rindunya pada si mungil. Pria bermarga Park itu sudah sedikit ini untuk keluar dari tempat persembunyiannya, namun kehadiran seorang pria berkacamata di dekat Baekhyun menghentikan pergerakan Chanyeol.
Chanyeol tidak begitu bisa melihat wajahnya dengan jelas karena pria berkacamata itu memakai masker. Namun entah kenapa Chanyeol merasa tidak asing dengan pria itu, seperti mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Apa ini hanya perasaanku saja?" gumam Chanyeol. Diperhatikannya kembali pria berkacamata itu dengan saksama, juga gerak-gerik Baekhyun yang tidak begitu banyak melakukan kontak mata dengan pria itu. Bagi yang tidak begitu mengenal Baekhyun, mungkin akan berpikir itu bukan hal yang aneh, tapi Chanyeol bisa tahu dengan sekali lihat bahwa si mungil tidak nyaman berada di dekat pria berkacamata itu. Dan selalu ada alasan di balik semuanya, hanya saja Chanyeol tidak yakin apa.
"Aish, mereka masuk." Chanyeol berdecak kesal saat tersadar Baekhyun dan pria berkacamata itu kembali masuk ke dalam gedung. Kalau sudah begini, tak ada yang bisa Chanyeol lakukan, selain mencari kesempatan lain untuk bertemu Baekhyun.
Tapi kapan?
Cukup lama Chanyeol berpikir, sebelum akhirnya satu nama terlintas dalam benaknya.
"Blue." Chanyeol menarik senyum miring. Ia tak berpikir dua kali untuk pergi dari sana.
Tanpa tahu pria berkacamata itu sedari tadi sudah menyadari kehadirannya.
.
.
Lucky Blue Smith. Pria berusia dua puluh tujuh tahun yang berprofesi sebagai model dan hacker ini adalah tujuan Chanyeol berikutnya. Tidak terlalu sulit untuk menemukan Blue karena pria itu benar-benar terkenal, Chanyeol bahkan bisa mendapat alamat apartemennya hanya dengan bertanya pada wanita random di jalan.
Singkat cerita, Chanyeol pernah menyelamatkan nyawa Blue dua belas tahun yang lalu dan pria itu berjanji akan membalas budi Chanyeol suatu hari nanti. Awalnya Chanyeol tak berminat menerima tawaran Blue, tapi sekarang coba lihat di mana ia berada? Sulit dipercaya Chanyeol mengambil tawaran itu sekarang.
"Well, well, coba lihat siapa yang datang berkunjung, hm? The famous Noir~"
Chanyeol merotasikan bola matanya karena ledekan Blue. Padahal mereka sudah lama tidak bertemu, tapi itu kalimat pertama yang keluar dari pria bersurai ash blonde itu?
"Kau akan mempersilakanku masuk atau tidak?"
Blue memasang raut terkejut yang dibuat-buat. "Aku tidak tahu RENWICK punya sopan santun juga? Atau ini efek karena kau sudah berhenti?"
"Berhenti bercanda atau aku akan mematahkan tanganmu."
Daripada merasa takut, Blue malah terbahak puas. "Baiklah, baiklah, silakan masuk, Tuan Noir."
Chanyeol memasang raut datar saat Blue lagi-lagi memanggilnya 'Noir'. Si pirang bahkan menggodanya dengan memasang pose pelayan yang menyambut majikannya pulang. "Berhenti memanggilku begitu, Blue, aku sudah tidak bekerja di sana lagi."
"Sejak dulu pun aku selalu memintamu untuk berhenti memanggilku 'Blue', tapi apa kau pernah menurut?" balas Blue, secara tidak langsung menolak memanggil Chanyeol dengan nama aslinya.
Si jangkung Park sendiri malas membahas ini lebih lanjut. Pikirnya, biarlah Blue memanggilnya 'Noir' atau apa pun, toh tujuannya datang ke sana bukan untuk memperdebatkan hal itu.
"Jadi, ada apa kau datang kemari?" tanya Blue kemudian. Ia mendorong rak buku di dekat TV yang Chanyeol yakini adalah pintu rahasia menuju ruang kerja sang hacker. "Aku tahu kau bukan tipe yang suka basa-basi, jadi kutebak ini hal yang urgent, bukan?"
Chanyeol tak merespon tebakan Blue. Atensinya justru bergerak memerhatikan seluk beluk ruang kerja Blue yang dipenuhi komputer dan alat elektronik lainnya. Sedikit banyak Chanyeol kagum pada Blue. Di balik daya tariknya sebagai salah satu model yang sedang naik daun, Blue justru berhasil mengelabui orang-orang dan menyembunyikan identitas aslinya yang seorang hacker kelas atas. Siapa yang menyangka pria di hadapannya ini masuk ke dalam daftar buronan CIA?
"Aku butuh batuanmu," ucap Chanyeol, fokus seutuhnya pada Blue yang duduk di sofa. "Beberapa—sebenarnya." koreksinya kemudian.
"Tentu, katakan saja."
"Pertama, aku ingin kau mencari tahu soal RENWICK baru yang bernama Keir. Dimulai dari kisah dia direkrut, keahliannya, sampai daftar klien yang ia tangani."
Sebelah alis Blue terangkat tinggi mendengar permintaan pertama Chanyeol. "RENWICK? Kupikir kau sudah tak berurusan lagi dengan mereka?"
"Aku terpaksa," Rahang Chanyeol mengeras sesaat. "Karena mereka telah mengambil orang yang kusayangi."
Blue tak mengatakan apa pun. Ia cukup peka ketika menangkap sorot dendam dalam obsidian Chanyeol. Seolah itu mengatakan bahwa orang yang Chanyeol sayangi adalah RENWICK yang dipanggil 'Keir' itu.
"Oke, ada yang lainnya?"
"Ya. Aku butuh senjata."
"Itu mudah, kau mau model apa?" Blue memencet sesuatu di ponselnya dan tak lama kemudian lukisan besar di dinding dalam ruangan itu bergeser, memperlihatkan berbagai macam senjata milik sang hacker; dimulai dari deretan pisau, pistol, sampai senapan. "Pilih saja tiga yang kau inginkan selagi aku mengorek informasi tentang si Keir ini."
Chanyeol tersenyum puas. Keputusannya untuk meminta bantuan Blue ternyata sangat tepat.
###
Baekhyun menghembuskan napas panjang saat pandangannya berlabuh pada Hotel Grand Ambassador Boston. Bangunan tinggi dengan tiga puluh lantai itu merupakan salah satu hotel elit di Boston yang sering ditinggali orang-orang dari kalangan atas. Salah satunya adalah David Bennett. Dia dikenal sebagai pengusaha paling sukses dan paling berpengaruh di Amerika. Banyak sekali pengusaha yang iri pada David, termasuk klien Baekhyun kali ini.
Namun satu yang tak diketahui siapa pun bahwa David adalah seorang gay. David juga memiliki fetish aneh di mana ia cenderung lebih tertarik pada pria yang suka mengenakan pakaian wanita. Dan itu adalah alasan kenapa Baekhyun berpenampilan seperti wanita malam ini; rambut blonde panjang terurai dan dress merah di atas lutut.
Menatap pintu masuk hotel di hadapannya, Baekhyun pun tanpa ragu melangkah masuk. Tujuan pertamanya adalah bar hotel. Menurut informasi dari Haejin, di sana-lah David sering menghabiskan waktunya. Yang perlu Baekhyun lakukan cukup duduk manis di meja bar, memainkan pinggiran gelas tequila-nya sambil sesekali mencuri pandang ke arah David.
"One tequila, please."
Selagi menunggu bartender membuatkan minumannya, Baekhyun mengedarkan atensinya ke sekeliling. Tampak suasana di dalam bar hotel cukup ramai malam ini. Mungkin itu karena ada acara khusus di ball room hotel, yang mana situasi itu sangat menguntungkan Baekhyun. Karena di saat orang-orang sedang sibuk berpesta, kecil kemungkinan aksi Baekhyun membunuh David Bennett tertangkap, sehingga ia bisa keluar dari hotel dengan tenang.
"Kau sudah melihat target?" Sebuah suara berat terdengar dari earphone nirkabel di telinga kiri Baekhyun. Itu suara Ozul—partnernya malam ini.
"Belum." Baekhyun menjawab lirih. Diam-diam maniknya melirik pria berkacamata dalam balutan kemeja hitam yang baru masuk ke dalam bar. "Kau mau aku berkeliling?"
"Tidak. Diam di tempatmu. Akan kuberi tahu kalau target sudah datang."
Baekhyun berdehem sebagai respon. Ia menyesap tequila-nya sedikit, sekedar untuk menenangkan detak jantungnya di dalam sana. Well, tak bisa dipungkiri Baekhyun cukup gugup malam ini. Bukan karena ia akan menggoda pria terkaya di Amerika, melainkan karena Ozul tengah mengawasi gerak-geriknya.
Semenjak disekap sembilan tahun yang lalu, Baekhyun kerap dibayangi ketakutan setiap kali bertemu Ozul. Sorot dingin yang diperlihatkan pria itu, juga segala macam siksaan fisik yang dulu pria itu berikan; Baekhyun masih ingat detailnya. Itu sebabnya ia sering kali merasa takut dan tidak nyaman jika berada di dekat Ozul, terlebih jika mereka dipasangkan dalam suatu misi. Termasuk malam ini. Sebisa mungkin Baekhyun menuruti semua perintah Ozul agar tak berakhir dengan membuat kesalahan sekecil apa pun.
"Target sudah datang. Mulai jalankan misi."
Segera setelah suara Ozul menyentakkan Baekhyun dari lamunannya, laki-laki berusia tujuh belas tahun itu pun cepat-cepat memfokuskan diri untuk bersiap menjalankan misi mereka. Diambilnya gelas tequila itu, lalu menyilangkan kakinya sembari menyelipkan anak wig ke belakang telinga. Sesekali Baekhyun melirik David yang berdiri tak jauh dari tempatnya dan melempar senyum tipis ketika pandangan mereka bertemu.
Tidak membutuhkan banyak waktu untuk David menghampiri Baekhyun. Pria berusia empat puluh lima tahun itu bahkan duduk di samping Baekhyun tanpa diminta, lengkap dengan kurva menggoda di sudut bibirnya.
"Sedang menunggu teman kencan?" tanya David basa-basi.
"Tidak juga, hanya ingin keluar dari pesta itu dan melepas penat di kepala."
"Seorang diri?"
"Apa itu salah?"
David terkekeh kecil. "Tidak, tentu saja tidak." Ia mengulurkan tangannya pada Baekhyun, bermaksud berkenalan dengan si cantik berambut blonde. "Keberatan jika aku membantu pemuda cantik ini mengurangi kepenatannya?"
Baekhyun tidak langsung menjawabnya, alih-alih menatap David selama beberapa detik, seolah sedang memikirkan tawaran pria itu. Dalam hati Baekhyun memuji gaydar pengusaha kaya itu. Padahal mereka belum satu menit bertemu, tapi ia bisa langsung tahu bahwa Baekhyun adalah seorang laki-laki.
"Tentu," Baekhyun mengiyakan sambil tersenyum, kemudian menyambut uluran tangan David.
"Senang bertemu denganmu, namaku David Bennett. Mungkin kau sudah tahu?"
"Sebenarnya belum, aku berasal dari Cina. Namaku Lu Jianyi."
David manggut-manggut. "Sekarang aku mengerti dari mana aksen itu berasal."
Baekhyun terkekeh lucu. "Apa itu sangat kentara?"
"Tidak 'sangat', tapi menurutku itu tetap manis." Wajah David bergerak ke telinga Baekhyun dan berbisik di sana, "Dan kurasa akan jauh lebih manis jika aku mendengarnya di kamarku. Di sini cukup bising."
Berpura-pura tersipu malu, Baekhyun pun membalas dengan bisikan pula, "Kurasa juga begitu."
Merasa mendapat respon positif, David pun langsung menggenggam tangan Baekhyun, menuntun si mungil menuju kamarnya di lantai sembilan. Remaja itu sama sekali tak menyadari kehadiran seseorang yang sedari tadi memerhatikannya dari balik dinding lobi dengan raut dingin.
.
.
Lenguhan yang bersahutan dengan napas berat terdengar memenuhi kamar bernomor tiga-nol-satu. Terlihat di satu-satunya ranjang dalam kamar temaram itu, sepasang adam saling menumpahkan kenikmatan melalui cumbuan sang dominan pada leher yang lebih muda.
"Kau manis sekali, Babe. Like honey in a bottle of tequila."
"Dan kau menyukainya?"
"Siapa yang tidak?"
"Mnghh.."
David pikir ia sudah menguasai laki-laki mungil itu ketika lenguhan manja itu kembali terdengar, namun ia salah besar. Karena sebenarnya Baekhyun tidak benar-benar menikmati kegiatan intim mereka, hanya berpura-pura. Selagi David sibuk menyentuh tubuhnya, Baekhyun justru tengah bersiap menjalankan misinya.
Satu tusukan di leher pasti cukup—batin Baekhyun.
Diposisikannya kaki kirinya menempel pada punggung David, dengan tangan kiri merambat ke balik dress-nya untuk mengambil pisau lipat di sana.
TING TONG!
Namun aksi Baekhyun terhenti ketika seseorang memencet bel pintu kamar tiga-nol-satu.
"Siapa itu?" tanya Baekhyun, sedikit awas. Segera ia urungkan niatannya dan beralih menoleh ke arah pintu.
"Abaikan saja, Babe. Jangan biarkan orang asing mengganggu kita." sahut David tak acuh. Agak tidak sabaran ia menarik retsleting dress Baekhyun dan mengecup tulang selangkanya hingga itu meninggalkan jejak kemerahan.
"Akh! Jangan meninggalkan kissmark, Dave!" seru Baekhyun, sedikit tersentak oleh aksi David. Namun seolah tuli, pria paruh baya itu malah semakin gencar mengecup bahu si mungil.
TING TONG! TING TONG! TING TONG!
Sementara bel kembali dipecet seseorang, Baekhyun pun segera memutar otaknya. Siapa pun yang berdiri di luar kamar itu, Baekhyun tak bisa membiarkannya memergoki aksinya membunuh David. Ia harus mengusir orang itu terlebih dahulu.
"Dave, tunggu dulu." Baekhyun mendorong pelan bahu David untuk menghentikan kegiatannya. "Apa tidak sebaiknya kau cek dulu? Siapa tahu penting?"
"Tidak ada yang lebih penting daripada kegiatan kita—"
"Tapi aku tidak suka diganggu begini. Bisakah kau cek sebentar? Hm?" Baekhyun mengeluarkan puppy-eyes andalannya agar David luluh. Dan itu berhasil. Cara itu selalu berhasil pada targetnya, bahkan kurang dari lima detik.
"Ck! Baiklah." David terpaksa mengalah. Ia mengecup pipi Baekhyun sekilas, sebelum beranjak menuju pintu. "Aku segera kembali, Baby~"
"Hm~"
Dalam langkahnya, mulut David tak henti merutuk siapa pun orang yang berdiri di depan kamarnya saat ini. Ia bersumpah akan langsung menyemprot orang itu jika ternyata itu hanya salah satu anak buahnya atau tamu tidak penting.
"Siapa?" tanya David dengan intonasi datar melalui intercom.
"Room service."
"The fuck?" Terlanjur jengkel, David pun tanpa pikir panjang membuka pintu kamarnya. Ia sudah sedikit ini untuk meluncurkan sumpah serapah, namun yang terjadi berikutnya justru di luar yang ia bayangkan. Seorang pria tiba-tiba saja menodongkan pistol ke kepalanya dan dalam sekejap mata—
DOR!
Timah panas itu menembus tengkorak David, membuat pria itu ambruk seketika.
Baekhyun yang dikagetkan oleh suara pistol itu, cepat-cepat menghampiri pintu. Tapi belum sempat Baekhyun tiba di sana, kehadiran sesosok tinggi bersurai ebony sontak mengentikan langkahnya. Sosok yang menghantui pikirannya semenjak dua hari yang lalu. Sosok yang Baekhyun benci dan tak ingin ia temui lagi.
Ya, itu adalah Park Chanyeol, memegang sebuah pistol Canik TP9 di tangannya.
"Apa yang—" Suara Baekhyun tersendat kala maniknya menangkap David tergeletak di lantai, dengan kepala bersimbah darah. "Yak, kau sudah gila?"
Chanyeol tak memberikan jawaban berarti, alih-alih ia melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di tubuh Baekhyun yang agak terbuka. Mengabaikan si mungil yang melotot terkejut, Chanyeol langsung saja menarik tangan Baekhyun untuk keluar dari sana.
"A–apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
"Anak buah Bennett akan segera datang. Kita bicara di luar saja."
"Tidak! Lepaskan tanganmu dariku, brengsek!"
"MENYEBAR! CARI DI SETIAP SUDUT!"
Mendengar seruan anak buah David di dekat lift, Chanyeol lantas segera menarik tangan Baekhyun menuju pintu darurat. Sebisa mungkin ia bergerak cepat menuruni tangga, tanpa sedikit pun melonggarkan genggamannya di tangan Baekhyun.
Sementara di sisi lain, Baekhyun merasa seperti orang bodoh. Padahal ia tahu pria yang menarik tangannya adalah Park Chanyeol, namun bukannya menghempaskan tangan Chanyeol atau mengeluarkan pisaunya, ia justru pasrah dibawa entah ke mana oleh Chanyeol.
Dan yang lebih anehnya lagi, jantung Baekhyun malah dibuat berdebar kencang—tanpa alasan yang jelas. Manik hazel-nya bahkan enggan melirik objek lain, selain punggung lebar pria itu. Sensasi ini sama persis dengan ketika mereka bertemu lagi setelah sembilan tahun lamanya.
Perasaan apa ini?
CKLEK!
GREP!
Bersamaan dengan suara pintu darurat yang tiba-tiba dibuka dan seseorang menahan cepat tangan Baekhyun yang bebas, Chanyeol refleks membalikkan badan, lalu memusatkan target moncong pistolnya pada orang itu.
"K–kau?" Bola mata Chanyeol membeliak sempurna saat obsidiannya bertemu onyx sosok tak asing itu. Untuk beberapa detik, Chanyeol pikir ada salah dengan penglihatannya, tapi retinanya tetap menampilkan orang yang sama. Itu memang dia. "Oh..Sehun?"
Tak mengindahkan Chanyeol yang belum bangun dari keterkejutannya, pria berkacamata yang tak lain adalah Sehun atau Ozul itu, malah turut mengarahkan moncong pistol miliknya ke kepala Chanyeol. "Lepaskan dia."
Berusaha kembali fokus, Chanyeol mengeratkan genggamannya pada tangan Baekhyun. "Tidak." jawabnya lugas.
Sadar Chanyeol sama keras kepala dengan dirinya, Sehun pun menggeser pistolnya sedikit ke bawah. Targetnya kini adalah Baekhyun. "Aku tidak suka mengulangi perintahku." desisnya sambil menempelkan ujung pistol itu ke kepala Baekhyun. "Lepaskan dia."
Chanyeol tak bisa melakukan apa-apa jika Baekhyun menjadi sasaran dari jarak sedekat ini, terutama ketika si pengancam memegang sebuah pistol. Entah kenapa, Chanyeol merasa Sehun akan benar-benar menembak kepala Baekhyun jika ia nekat membelot sedikit saja.
"Sialan," Lamat-lamat Chanyeol mengertakkan gigi. Suka tidak suka, ia terpaksa melepaskan tangan Baekhyun dan mengambil sedikit jarak dengan mereka.
Begitu Sehun membawa pergi Baekhyun, detik itulah Chanyeol bersumpah akan membunuh Oh Sehun jika mereka bertemu lagi.
.
.
PLAK!
Satu pukulan mendarat telak di wajah Baekhyun begitu Sehun melempar pisau lipat milik si mungil. Tak dipedulikannya rintihan kecil yang keluar dari celah bibir tipis itu, Sehun masih saja memasang raut kesal.
"Kau bahkan membawa senjata bersamamu, tapi kau tidak punya nyali untuk menggunakannya pada Park Chanyeol? Cih!" cibir Sehun. Baekhyun tak merespon, hanya mampu mengertakkan gigi. "Belum cukupkah semua yang kukatakan padamu tentang pria itu? Apa perlu kutegaskan lagi dengan cara lain?" ancamnya.
"M–maaf.." cicit Baekhyun. Sekelebat memori penyiksaan yang dulu Sehun lakukan padanya tiba-tiba terbayang lagi, membuat wajahnya berubah pucat. "A–aku janji takkan melakukan kesalahan lagi, sungguh.."
Sehun mendelik Baekhyun. Hell, tentu saja ia tak percaya begitu saja. Sudah setahun Sehun mengintai kehidupan Chanyeol dan Baekhyun, tidak mungkin remaja bermata sipit itu takkan melakukan kesalahan yang sama. Meski sudah dicuci otak dan disiksa secara fisik, Sehun yakin Baekhyun tanpa sadar masih menyimpan secuil belas kasih pada Chanyeol.
"Biarkan dia bertemu dengan Park Chanyeol."
Suara dari belakang itu sontak mengalihkan atensi Sehun dan Baekhyun. Itu suara Sangjoong. Pria paruh baya itu menghampiri dua anak buahnya yang memperlihatkan ekspresi yang berbeda. Baekhyun yang mengerjap kaget, sementara Sehun menunjukkan raut protes.
"Tapi, Tuan Kim—"
"Tidak apa," Sangjoong memotong ucapan Sehun. Tatapannya yang terkesan tenang dan dingin itu memandang lurus manik hazel Baekhyun. "Aku ingin memastikan kepada siapa loyalitasnya berpihak. Kita atau Park Chanyeol."
Dalam satu nanodetik, bola mata Baekhyun membeliak sempurna. Lamat-lamat bisa ia rasakan firasat tak mengenakkan muncul dalam hatinya, seolah akan terjadi hal buruk ketika Sangjoong memperbolehkannya menemui Chanyeol.
Hal yang sangat buruk.
TBC
Akan ada waktu untuk flashback gimana Baekhyun bisa selamat dari kecelakaan kereta itu ya, pasti saya selipkan kalo momennya pas. Lalu untuk next chapter, berhubung saya ada banyak kerjaan real-life yang harus dibereskan dalam waktu dekat, saya akan apdet lagi pas ultah PCY nanti. So, harap sabar menunggu dan jangan lupa review sebelum klik tombol close~
PS. Next chapter ada ENSI lho~
