Title : Beside You
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Summary : "Kau ini siapa? Kenapa kau mengetahui segala hal tentang Sasuke?" "Kau tak tau? Apa kau tak menyadarinya?" Genre diubah, mind to RnR?
Pairing : Sasuke U. dan Sakura H. slight many pairing hahaha
Warning : OOC, Gaje, Garing, TIDAK ADA OC, (maaf baru dikasih tau) akan ada death chara. Bukannya ngga dikasih tau dari awal. Melainkan ingin bikin penasaran :D
Author Notes :
Chapter 9 come! TENONET-TONEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET :D
Maaf telat Update! Gomen-nasai! Maaf banget kali ini telatnya LEBIH keterlaluan huaaaa gomen! DX *nyembah-nyembah*
Chapter 8 kemarin katanya tidak jelas yaa? Huahuahua gomeeeen *nangis darah*
Semoga sekarang lebih jelas :D
Banyak misstypo pulaaaa… huaaaaaaa —pundung dipojokan—
Terima kasih pada yang sudah mereview.. Terus review yaaa…
Chapter 9 ini mogok sampai sebulan LEBIH *sweatdrop* GOMEN!
Mogoknya juga karena kepikiran beberapa ide fic yang terus menerus mengganggu otakku yang harusnya sudah ganti RAM.
Maaf juga kalau chapter 8 kemaren masih jelek dan kurang ngena, serta kurang bisa dimengerti
Maaf kalo ceritanya tambah garing dan gaje, dan maaf kalo masih ada typo. Saya adalah manusia yang tak luput dari typo dan teman-teman *readers bermunculan sweatdrop*
Yang penting bacalah Chapter 9 ini, kupersembahkan untuk kalian, special untuk para Senpai dan Readers! Semoga kalian puas! Yeaaaaaaaaaaah!
***000***
Sedikit sesak. Aku tak mengerti kenapa aku selalu merasa dadaku sesak ketika melihat Saku-chan berada sangat dekat dengan Gaara. Tapi tak apa. Aku senang bisa melihat senyum diwajah Saku-chan kembali mengembang.
.
Otaknya berfikir keras. Tiba-tiba saja pikirannya tersambung akan ucapan Sasuke tadi sore. Anikinya—itachi—kabur dari penjara. Dan tiba-tiba mata light turqoisenya Gaara membulat. Sedikitnya, kalau pemikirannya benar, maka Itachi lah yang harus ia hindari, yang harus ia jauhkan keberadaannya dari Sakura.
.
Dan gadis berambut merah muda itu tidak mencoba untuk mengusik kata-kata Hidan lebih jauh. Dan tak Sakura sadari, seseorang memerhatikan dirinya dari balik daun-daun dan dan ranting pohon yang terletak di samping jendela kamarnya. Senyum menyeringai tersengging dibibir tipisnya. Ia berbisik, "Tujuanku semakin dekat.."
.
.
BESIDE YOU
Chapter 10 : Yamada Nana
.
.
Seorang gadis asik berdiam diri dihalaman belakang rumahnya. Semilir angin sepoi-sepoi ikut menyejukkan tempat itu. Gadis berambut merah muda itu berdiri ditengah halamannya, sambil mencoba merasakan belaian angin yang lembut menerpa kulit putih pucatnya. Helaian rambutnya ikut bergerak, mengikuti arah gerak angin. Matanya terpejam lama, enggan meninggalkan kenikmatan belaian angin.
Seharusnya hari ini Sakura pulang ke Tokyo. Namun Kakashi mencegahnya dengan alasan untuk menjaga mansion Haruno, dari Hidan. Takut-takut, setelah 3 hari tempat itu ditempati Hidan, mansion ini malah berubah menjadi tempat main Hidan. Dan dengan itu, kakashi memaksa Sakura bolos. Sementara Gaara dan Sasuke, terpaksa bolos karena ingin menjaga si gadis beramata jade ini. Mana mau mereka mebiarkan gadis ini terluka lagi?
"Nona Sakura, tuan Hidan sudah datang."
Mata jade itu terbuka. Perlahan sakura melongok menatap jauh kearah gadis lain berambut hitam panjang, mengenakan seragam maid pendek. Sakura tersenyum kearahnya, sementara si gadis hanya menunduk patuh. "Baiklah, ayo temui paman Hidan, Kin.."
Yang dipanggil Kin hanya mengangguk. Sakura berjalan mendahului Kin. Kemudian Kin mengekor dibelakangnya, tetap menunduk dan memegangi kedua tangannya didepan, tanda kepatuhannya. Sakura sampai di ruang tamu rumahnya. Mata jadenya menatap kearah orang yang sedari tadi duduk gelisah disofa merah maroonnya. Disebelahnya duduk seorang wanita berambut hitam kebiruan, tampak tenang.
"Paman Hidan.." sapa Sakura. Sakura merasa ia harus bersikap biasa dan tak menaruh kecurigaan pada Hidan.
"Sakura.." sahut Hidan, lalu bangkit dari tempat duduknya, dan langsung memeluk gadis berambut pink itu. Hidan melepaskan pelukannya. Matanya menatap langsung kearah mata jade dihadapannya. "Kau sudah besar.. sudah berapa lama ya paman tak bertemu kamu?"
"Sudah sekitar 6 tahun, paman.." Sakura mencoba tersenyum menanggapi perlakuan ramah Hidan, walau dihatinya masih tersembunyi kecurigaan, sisa-sisa telepon Hidan semalam.
Sakura beralih menatap wanita yang dibawa Hidan. Seingat Sakura, pria paruh baya ini sudah memiliki seorang istri, tapi bukan gadis ini istrinya. Sakura tak ingat kalau istri Hidan berambut hitam kebiruan begitu. Hidan tersenyum—palsu. "Sakura, kenalkan dia asisten paman, Nana Yamada. Sakura ini Nana, Nana ini Sakura."
"Halo, Yamada-san.." sapa Sakura lembut. Sakura hanya tersenyum kearah wanita yang dipanggil Nana itu.
Nana balas tersenyum. "Haruno-san.."
"Ada perlu apa kemari, Paman? Setahuku disini tak ada lahan bisnis untuk bidang pekerjaan paman.." ucap Sakura, dengan senyuman malaikat khasnya.
Hidan lumayan terkejut dengan sentakan dari Sakura. Tangannya terkepal erat didepan. Bibirnya masih menyunggingkan senyum yang sama. "Paman justru sedang mengusahakannya.."
"Mengusahakan apa, paman?" Sakura masih dengan senyum yang sama, masih berusaha menjebak Hidan, mengorek keterangan darinya.
"Mengusahakan.. ya mencari. Apa lagi memangnya? Hahaha.." tawa grogi Hidan membuat Sakura semakin curiga.
Sakura tak tertipu. Dipicingkan mata jadenya kearah Nana. Wanita berpostur keibuan dengan rambut hitam yang dikepang menyamping, serta potongan rambut yang memamerkan dahi putihnya. Kulitnya puctih pucat. Matanya hitam kelam. Mengingatkan Sakura akan seseorang.
"Jadi, apa paman boleh menginap disini, Sakura-chan?" tanya Hidan, enggan dibacain lebih lama oleh Sakura.
"Boleh kok, paman." Sakura tersenyum, lalu kembali beralih menatap Hidan. "Kalian bisa menggunakan dua kamar dilantai 3 untuk 3 hari kedepan. Suigetsu akan membantu paman menemukan kamar tersebut."
Saat nama Suigetsu disebut, seorang pemuda berambut putih kebiruan langsung muncul di sebelah Kin. Cukup mengagetkan Hidan, tapi tidak Nana. Suigetsu membawakan dua buah tas yang dibawa Hidan dan Nana segera. Sakura tersenyum manis. "Jika ada apa-apa, bilang saja ya paman. Anggap saja rumah sendiri."
"Mari kuantar," ucap Suigetsu pelan dan kaku. Nana dan Hidan langsung mengikuti Suigetsu. Sementara tinggal Sakura dan Kin diruangan itu.
Kin hanya berdiam diri, tetap memegangi kedua tangannya. Sakura tersenyum kearahnya. "Bilang pada Suigetsu, dan Anko ya, kalau dua orang itu wajib di 'perhatikan'.."
Kin mengangguk. Ia langsung menghilang, meninggalkan asap. Sakura hanya tetap diam disofa empuknya. Menunggu Kin kembali. Beberapa saat kemudian, gadis berambut hitam panjang itu sudah kembali. "Sudah, nona.."
Sakura bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu berjalan mendahului Kin, lagi. Ia berjalan menuju kolam renang dibelakang rumahnya, tempat tadi ia menyejukkan diri. "Hey Kin, ayo kita berenang!"
Kin hanya mengangguk. Mengiyakan ajakan tuannya.
.
***
.
Gaara keluar dari kamarnya. Ia masih mengantuk. Tangan kirinya menutupi mulutnya yang sedang menguap, sedangkan tangan kanannya masuk kedalam saku celana kremnya yang gombrang. Gaara bergerak kearah tangga, hendak menuruni tangga. Perutnya lapar, dan ia rasa, sepertinya dapur adalah tempat yang cocok untuknya saat ini.
Tepat diujung tangga yang satunya lagi, mata emerald Gaara menangkap sosok berambut putih, dengan dua orang mengekor dibelakangnya. Suigetsu. Gaara memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Lengan t-shirt putih yang ia kenakan, disingsingkan hingga tinggal tiga perempatnya. Gaara memperhatikan pria paruh baya berambut abu-abu dibelakang Suigetsu.
Lalu saat mereka berpapasan ditengah tangga, mata Gaara menatap kearah wanita berambut hitam yang sedari tadi hanya menunduk. Gaara terdiam. Terhenyak. Suigetsu dan kedua tamunya sudah mencapai lantai dua. Sementara Gaara masih terdiam ditangga. Otak Gaara terus menerus membuka memorinya. Ia pernah bertemu dengan wanita itu. Dengan cepat Gaara berlari menuruni tangga, mencari gadis yang harus ia lindungi. Gaara berlari seperti orang dikejar setan. Matanya dengan cepat mendapatkan sosok berambut pink dikoridor dekat dengan kolam renang.
Mata jadenya membulat. Rasa tak mau percaya menghampiri hatinya. Hati dan wajahnya memanas melihat pemandangan yang sungguh seumur-umur tak ingin Gaara lihat. Sakura dengan baju renangnya yang seperti atlet renang itu, basah kuyup. Rambut basahnya yang lalu disisir dengan tangan kebelakang. Memamerkan keningnya yang lebar. Dihadapannya berdiri sesosok pria, berambut raven, dengan kaus oblong biru muda berlengan pendek, serta celana hitam pendek. Sasuke mengecup kening Sakura lembut.
Hati Gaara seakan terbakar. Dalam hatinya meraung, menyuruh pemuda berambut merah ini memberi pelajaran pada Sasuke. Tapi tangan dan kakinya kaku. Enggan bergerak. Kedua mata jadenya masih saya menatap perlakuan romantis yang diberikan Sasuke pada Sakura. Sementara Sakura hanya malu-malu menanggapinya.
Si gadis berambut pink itu menyadari kedatangan Gaara. Ia tersenyum kearah Gaara yang masih terpaku. "Gaara-kun!"
Gaara tersentak. Ia enggan kesana. Ia enggan menjawab panggilan itu. Ia enggan tersenyum. Yang ia mau ia diperhatikan. Yang Gaara mau adalah menunjukan kemarahannya. Menunjukan rasa tidak sukanya. Yang ia mau adalah dirinya yang dicintai oleh gadis itu. Sejujurnya Gaara sangat mencintai Sakura melebihi apapun. Gaara mencintai Sakura melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Gadis itu adalah segalanya bagi Gaara.
Tapi langkah kakinya mematahkan semua keinginannya, demi satu keinginan terbesarnya. Membuat si gadis berambut pink itu tersenyum. Hanya itu. Gaara tak ingin apa-apa lagi. Baginya, asal Sakura tersenyum, maka dirinya sudah lebih dari bahagia. "Iya, Sakura?"
"Kau sedang apa disana?" Sakura mengerutkan dahi lebarnya.
"Tidak, hanya saja.." Gaara terdiam. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Lupakan saja."
"Loh?" Sakura menaikan sebelah alisnya, "Dasar. Aku yakin kau lupa dengan apa yang ingin kau ucapkan.."
Pemuda berambut raven disisi Sakura melayangkan deathglare kepada Gaara, namun tak digubris. Gaara meraih tangan mungil Sakura, mendekatkan bibirnya ketelinga Sakura. Membisikan kata-kata yang sepertinya enggan diperdengarkan pada pemuda raven itu. Mata emerald Sakura terbelalak kaget. Otaknya masih berusaha mencerna ucapan Gaara.
Pemuda dengan kanji ai pada dahinya itu berbalik, lalu pergi meninggalkan Sakura yang tercengang, dan Sasuke yang penasaran. "Apa yang diucapkan si gothic itu?"
Dari jauh Sasuke melihat kemunculan Anko yang dengan cepat berjalan mengikuti Gaara dibelakangnya. Bibir Gaara bergerak mengucapkan beberapa patah kata, dan gadis itu kembali menghilang. Sasuke bingung dengan keadaan yang tak ia kenali ini.
Sakura pun tak menjawab pertanyaan Sasuke. ia hanya terdiam, lalu menggeleng lemah. Ia tahu Gaara tak main-main dengan ucapannya. Gaara tak pernah ingkar, dan setiap apapun yang ia ucapkan, hampir semuanya tepat. Kemampuan menganalisis yang Gaara punya sangatlah hebat. Bahkan Sasori, kakak sepupu Gaara yang seorang detektif pun mengakuinya. "Ie."
'Jangan bersedih bila aku yang harus pergi.. aku tahu kau akan memilih Sasuke, aku tahu apa yang kau pikirkan, yang kau renungkan, yang kau lakukan.. aku mengetahuinya, hanya lewat matamu. Aku tak ingin air matamu mengalir karena 'ku, apalagi karena Sasuke. Kuharap kau menjaga air matamu, jangan sampai menetes dan habis..' bisikan Gaara terngiang di telinga Sakura.
Sakura berbalik, kembali berjalan menuju kolam renang, meninggalkan si pemuda stoic itu dengan sejuta pertanyaan menumpuk pada otaknya.
.
***
.
Dua hari semenjak kedatangan Hidan dan Nana di mansion itu, semuanya tampak berjalan normal. Kecurigaan Sakura pada kedua tamunya itu mulai menghilang. Anko dan Suigetsu juga melaporkan kalau keduanya tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan. Sakura mulai bosan. Ia sudah kangen sekolah rupanya. Kangen pada si bawel Ino, si tukang pamer Naruto, dan si dingin Sai. Ingin sekali Sakura bertemu mereka. Hanya saja Sakura masih menyimpan amanat Kakashi untuk berada dimansion itu sampai Hidan pergi. Yah, apa boleh buat.
Sakura mengunci diri di kamar, sementara yang lain makan malam bersama. Yang ingin Sakura lakukan saat ini hanya menangis. Mansion ini menyimpan begitu banyak ingatan tentang kedua orang tuanya. Bukan cengeng, tapi Sakura merasa sangat rindu. Kecelakaanlah yang memisahkan mereka itu terjadi 9 tahun yang lalu.
TOK! TOK! TOK!
Sakura terhenyak. kalau Kin, Suigetsu, atau Anko, pasti akan langsung masuk. Gaara dan Sasuke, selalu malas untuk menggedor pintu kamarnya. Dan Hidan pasti repot untuk mengurus segala urusannya. Dan tinggal satu kemungkinan. Sakura tak ingin buru-buru menuduh. "Siapa?"
"Ini Yamada. Bolehkah aku masuk?" tanya seseorang dibalik pintu dengan suara selembut beledu.
"Ya tentu." Tebakan jitu! Pikir gadis pinkish ini. Sakura beranjak dari kursinya disamping jendela, menuju pintu. Malam ini Sakura hanya mengenakan hot pants biru tua dengan kemeja gombrang yang tangannya dilipat hingga setengahnya, berwarna putih kebiruan.
KLEK!
Pintu pun terbuka. Tampak Nana dengan rok hitam 7/8, dan kemeja putih lengkap dengan rompi berwarna abu-abu. Rambutnya masih seperti biasa, dikepang menyamping. Sakura agak terkejut dengan kedatangan Nana. "Ada ap—"
"Bisa ikut denganku?" tanya Nana cepat, memotong ucapan Sakura yang nampaknya sudah ditebak duluan oleh Nana.
"Ada perlu apa?" tanya Sakura, penuh dengan unsur kecurigaan.
"Ini tentang Sasuke.."
Mendengar nama itu terucap, segala kecurigaan yang tadi muncul mendadak sirna. Sakura dengan cepat berubah pikiran dan menyanggupi ajakan Nana. "Oke. Sebentar aku—"
"Tak usah, hanya sebentar kok.." ucap Nana, disertai senyuman yang amat manis, amat merayu—amat palsu. Dan parahnya Sakura tak menyadari kepalsuan itu.
Sakura terdiam. Sebelum beberapa saat kemudian ia mengangguk, tanpa perlawanan mengikuti Nana berjalan keluar mansion. Entah karena apa, sepertinya nama 'Sasuke' sudah memantrai Sakura untuk menghilangkan segala kecurigaannya pada Nana.
.
***
.
Gaara meletakkan sendok dan garpunya menyilang. "Aku selesai."
Tampak Sasuke dan Hidan tak terganggu dengan ucapan Gaara. Mereka masih asik dengan hidangan penutupnya. Gaara melirik Anko yang sedari tadi berdiri di pojok ruangan. "Mana Sakura dan Kin?"
Anko terdiam. Terhenyak. "Saya tidak tahu, tuan. Sejak sore saya tak melihat Kin."
Gaara menatap Anko lebih dalam. "Lalu Sakura?"
Pundak Anko berkeringat. Ia sadar telah melakukan kesalahan. "Maaf tuan.."
"Bukan 'maaf' yang kubutuhkan. Katakan sejujurnya dimana Sakura?" Gaara menyentaknya pelan. Hidan dan Sasuke berhenti melakukan aktivitasnya, dan malah memperhatikan pemandangan dihadapannya.
Anko masih terdiam. Sasuke berdiri, dan lalu segera berlari keluar dari ruang makan. Gaara tak memperdulikan Sasuke. Suigetsu, tanpa disuruh, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia segera menahan apa pun yang akan dilakukan Hidan, termasuk bergerak barang sejengkal dari kursi makannya.
"JAWAB!!" sentak Gaara keras. Ia kesal karena tak kunjung mendapat jawaban dari Anko.
"Nona Sakura menyuruh saya meninggalkannya dikamarnya, untuk menenangkan diri," jawab Anko gelagapan. Ia masih menunduk. Seluruh badannya gemetaran hebat.
Gaara melunak. Ia lalu beralih, tak lagi menatap Anko. "Oke."
Derap langkah kaki menuruni tangga. "Gaara!!"
Gaara menoleh, menatap orang yang memanggilnya. Sasuke berdiri di ujung meja makan, bersimbah keringat. "Sakura tak ada dikamarnya! Begitu pula dengan Yamada!"
Mata jade Gaara membulat besar. "Anko, geledah mansion ini!"
Anko mengangguk, lalu menghilang menyisakan asap dipojokan. Sasuke sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi ponsel sang gadis berambut pink itu. Gaara beralih melirik Hidan dengan deathglarenya. Hidan bergidik ngeri. "Sui, kau jaga 'dia', jangan terlepas sedikitpun dari pengelihatanmu."
Suigetsu mengangguk patuh. Sementara Hidan langsung mematung, ngeri akan suasana yang dibuat oleh partnernya. "Er, Gaara, aku tak ada hubungannya. Aku hanya—"
"CUKUP!" bentak Gaara, tanpa menoleh. "Aku sudah tahu semuanya, sebelum kau mengucapkannya!"
Hidan terdiam. Tubuhnya gemetaran. Gaara berdiri, menghampiri Sasuke. "Anikimu—"
"Ya aku tau. Ini adalah perbuatannya," ucap Sasuke tanpa menoleh.
Gaara segera meraih telepon rumah terdekat. Namun telepon itu tak mengeluarkan nada sambungnya. Gaara perlahan melirik kearah Sasuke yang ternyata memperhatikan geraknya. Wajahnya seperti meminta jawaban atas hal yang dilakukan Gaara. "Dia memutuskan saluran telepon."
Segumpal asap muncul di pojok tempat Anko tadi menghilang. "Tuan, saya tak menemukan nona Sakura maupun nona Yamada, disekitar mansion ini. Namun.."
"Namun?" Gaara menatap Kin dengan penuh rasa penasaran.
"Saya hanya menemukan jasad Kin mengambang di tengah kolam renang.." suara Anko parau, seperti menahan tangis.
Gaara terdiam. Nafasnya terasa berat, menyadari kalau lawannya tak selunak sebelumnya. Sasuke baru tersadar kalau Anikinya sudah lebih diatas gila. Frustasi, Sasuke menggebrak meja makan, membuat Hidan terlonjak kaget. Tatapan Sasuke menjurus kepada Hidan. "Kau.. akan rasakan akibatnya.."
.
***
.
Sepanjang perjalanan, Nana terus menyerocos tentang segala hal tentang Sasuke. Hal-hal yang mungkin Sasuke tutupi, kini telah Sakura ketahui. Sakura mulai menaruh curiga lagi. Rupanya 'mantranya' telah pudar. Kecurigaan kembali muncul.
"Kau ini siapa? Kenapa kau mengetahui segala hal tentang Sasuke?" ucap Sakura, setelah seluruh kecurigaannya memuncak.
Sakura segera berbalik, namun dengan cepat tangan pucat dan dingin itu mencegah gadis bermata jade ini untuk kabur. Dan usaha terakhir Sakura, dengan keras ia berteriak, "TOLOOOOOOOOOOONG!!!!!!"
.
***
.
Suasana hening di ruang keluarga mansion ini sangat mencekam. Terutama bagi Hidan, rasanya tempat ini sudah menjadi neraka dunia baginya. Gaara dan Sasuke duduk di kursi yang berjauhan. Ponsel milik Gaara, Sasuke, dan Hidan dikumpulkan di meja yang sengaja diletakkan di tengah-tengah mereka.
TRING!!
Ponsel Sasuke berdering keras, menandakan pesan masuk. Gaara dan Sasuke saling menatap. Lalu dengan cepat keduanya berlari kearah meja, tempat ponsel itu diletakkan. Gaara mendapatkan ponselnya terlebih dulu, lalu membuka pesannya.
From : Sakura H.
SINAR TERANG REMBULAN,
TERPANTUL DENGAN JELAS DISINI,
TERSIMPAN INDAH DAN TAKUT,
KUPIKIR INI TEMPAT YANG COCOK.
I-LOVE-YOU
Sasuke merebut ponselnya segera, lalu membaca pesannya. Tanda tanya besar mengelilingi kepalanya. Apa maksud Sakura dengan pesan ini? Kalimat puisi ini, apa maksudnya? Seperti bukan Sakura..
Hati Gaara mencelos. Ia merasa harapannya sudah pudar. Dadanya terasa sangat panas. Dan segala prasangka buruk muncul dipikirannya. Namun ia segera mengenyahkannya, mengingat situasi kali ini, bukanlah situasi tenang yang bisa dipakai untuk bermesraan. Mendadak otaknya kembali bekerja. Ia tak lagi memikirkan masalah 'hati.'Gaara meraih pulpen dan kertas yang diletakkan tak jauh dari ponsel-ponsel tadi ditaruh. Dengan cepat Gaara menuliskan kembali pesan yang dikirim oleh Sakura. Ini bukan puisi biasa, melainkan sebuah teka-teki yang harus dipecahkan.
"Aku sudah mengerti. Seseorang menculik Sakura, dan menempatkan sungai ditengah padang bunga lavender sebagai tempatnya." Gaara tersenyum menyeringai.
"Kau mengetahuinya dari mana?" tanya Sasuke bingung.
"'Sinar terang rembulan, terpantul dengan jelas disini, tersimpan indah dan takut, kupikir ini tempat yang cocok'.." Gaara tersenyum, lalu mata jadenya menatap langsung kedalam bola mata hitam Sasuke. "Sinar atau cahaya akan terpantul dengan jelas di atas air. Berarti tempat ini berhubungan dengan air. Boleh lah aku menebak kalau sungai kecil di padang bunga lavender adalah pilihan pertamaku. Lalu 'tersimpan indah dan takut', aku dan orang-orang kebanyakan akan menyebut sungai itu indah, tapi tidak bagi Sakura yang sudah mengalami pengalaman buruk disana. Sakura merasa takut, ia merasa sungai ittu sangat menyeramkan, bukan? Siapapun yang menculik Sakura, merasa tempat itu cocok karena kita bertiga memulai semuanya dari sana, bukan?"
Sasuke tersenyum. Gaara melempar keratas putihnya begitu saja kelantai. Pemuda berambut raven ini lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kau benar juga.."
"Tapi tentang kalimat yang terpisah, aku benar-benar tak punya pencerahan," ucap Gaara, sedikit gusar.
"Justru aku sudah memecahkan masalah kalimat terpisah ini." Gaara segera menatap Sasuke, ia benar-benar tak menyangka kalau Sasuke dapat memecahkan teka-teki yang tak dapat ia pecahkan. Ia sadar kalau selama ini, ia benar-benar meremehkan Sasuke.
"'I LOVE YOU' disini bukan artinya 'aku mencintaimu', Gaara. Ini adalah inisial.." ucap Sasuke.
Gaara menoleh, menatap bingung kearah pria yang meraih peringkat pertama di SMA Konoha ini. "Inisial?"
Sasuke merebut pulpen yang dipegang Gaara, lalu menuliskan dengan persis kalimat yang tertera pada pesan itu. "Kau sadar ada strip yang menggantikan spasi pada kalimat ini kan? Ganjil, bukan?"
"Hm," dehem Gaara, menandakan ia mengerti.
"Coba kau coret kata 'LOVE' yang berada ditengah-tengah tanda strip itu." Sasuke menyerahkan pulpen itu kembali pada Gaara, membiarkan Gaara mennyelesaikan petunjuknya. Gaara segera melakukan apa yang Sasuke perintahkan itu. "Apa 'yang' tersisa?"
"I dan You? You? Hem, you (baca : yu)?.. 'U' (baca : yu)?.." Gaara mengkerutkan dahinya. Beberapa detik kemudian mata jade itu melirik tepat kepada si pemuda raven. "I.U? Itachi Uchiha?"
Sasuke tersenyum. "Tidakkah semuanya sudah jelas? Teka-teki ini sudah terpecahkan, Gaara.."
Gaara tersenyum. Merasa ada sesuatu di lubuk hatinya yang perlahan menerima keberadaan rival beratnya. "Ya, sudah terpecahkan.."
Sasuke melirik Suigetsu. "Sui, kupercayakan mansion ini, dan tua bangka ini padamu, sampai kami kembali.. sementara Anko, kau ikut dengan kami.."
Anko dan Suigetsu hanya mengangguk patuh. Sasuke berjalan menuju pintu keluar mansion ini. "Ayo Gaara, kita temui 'putri' kita.."
Gaara, diikuti Anko segera berlari mengejar Sasuke. Gaara tersenyum. Dalam hatinya, ia mulai merelakan sang gadis. Dan semua pengorbanannya ini akan dibayar dengan senyuman manis Sakura. Tak perduli ia harus berkorban apa pun, agar sang gadis tetap tersenyum.
.
TO BE CONTINUED
Chapter 10 : Choise and Promise
"Tidak.. kumohon.. bukan ini yang kuinginkan.. bukan seperti ini pilihanku.."
"Ini.. sudah.. seharusnya.. terjadi.."
"Ya. Bukan seperti ini caranya.."
"Sudahlah.. Aku yang.. memilih.. seperti ini.."
"Dia sudah pergi, Sakura."
It is final chapter.
***
Minna- XDXDXDXDXDXDXDXD
Saya baru dapat ide ;D yah, sepertinya chapter depan adalah final chapnya. Ahaha :D
Mau balas review sebentar..
Naru-mania : Sankyuuu sudah review.. woalaaaaaaaaaaaaaah benerkan kata saya? telat lebih dari sebulan malah *ditendang Naru-mania* pokoknya sudah update nih :D review lagi ya? review mu sangat berarti bagikuu nyoooooo :))
ai_l0vers : Sankyuuuuuu udah review fic abal saya lagi :D Sasori dan Hidan? nah loh, kenapa ya? *plak!* coba sekrol-sekrol keatas, apa ada jawabannya? hehehe reviewmu sangat berarti kalau review lagi *plak!* pokoknya review lagi ya ya ya?
Shiroi Yuri : ah kau ini. Hidan? O.o aku ogah ah masukin lagi *plak!* tuh udah dimasukin lagi kan? rasakan kau, sekarang kuberi chap panjang lagi hahahah. final chap nanti aku beri kau 3100 words hahaha *evil laugh* review lagi ya? kalau kau wajib review fic ku! *nodongin pistol*
Amethyst is Aprhodite : Ameeeeeee akhirnya kau review juga fic ku! dasar kouhai pelupa hahahah *plak!* review lagi yaaaaaa
Riscle-coe : ya ya dia memang jahat *dibakar Itachi fc* bah dasar hahaha oke lah. review lagi?
KuroShiro6yh : Itachi nyooo yang berdesis hehehe :D siapa apanya? O.o udah ngga dimasukin lagi tuh? puas kau? puas? *nangis dipojokan sambil nonjokin boneka Karin-ditendang Karin* review lagi?
Key Ichi Aroora 231132 : Key-saaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan ehehehehe ini udah banyakkah deskripnya? sankyuuu sudah review 3 chap sekaligus*bungkuk-bungkuk* review lagi?
Nakamura Kumiko-chan : uwoooooo mereka memang romantis /// woa? penasaran? sankyuuuuu wakakakakak Gaasaku? O.o okelah dipikir-pikir lagi... review lagi yaaaaa?
Haruchi Nigiyama : Sankyuuuuuuuuuuuu uwooo malu di puji-puji hahaha :D ini sudah update :) review lagi?
Sevachi 'Ryuuki J' : uwooooo fic Kika-senpai masih lebih bagus nyooooo :D yang ngintip yang ngintip? tanya authornya.. -lo authornya bodo!- oh gapapa.. maaf juga saya telat update *available for tabocked* review lagi?
Ninja-Edit : woalaaaaaa Sankyuuuuuuuuuu malu jadinya.. ehehe *idung manjang kaya pinokio* sankyuuu loh, benar-benar sankyuu hahaha :D bukan itu tujuannya.. masih tersembunyi. baca final chap saja, disitu semua pertanyaan akan terjawab. gomen sudah merepotkan, baca fic abal begini. sankyuuuuuuu. review lagi?
Hikari 'Sakura' Sakuragi : iya nih dalam bahaya DX gimana dong gimana dong? *plak* hoalaaaaaaaa hahahah review lagi?
Fujimoto Izumi : anda BAIK sekali! sankyuuuuu XD woh woh woh? iya benar Itachi! XD hoh? masih tersembunyi di final chap tuh hehehe *plak!* loh kok ga boleh buka? kenapa? *plak!* sankyuuu sudah review. review lagi?
Minaaaaa-saaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan arigatoooo sudah review!!!
maaf kelamaan update! review lagi ya, mina-saaaan *puppy eyes
Maaf updatenya lamaa :(( saya baru kelar Ujian Tengah Semester, dan baru diperbolehkan menyentuh laptop mungil, pacar saya yang tercinta ini.. *halah
Gomeeeeen se-gomen-gomennyaaaaa!
Kalau mau sih salahkan mama saya saja ahahay *ditabok ibu kartini karena ngga menghargai mama*
Pokoknya review yaaaaaa? *puppy eyes*
