Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : AU, typos, possibly OOC
Yelena Milanova = Hyuuga Hinata
Happy reading minna ^^
.
.
.
"Uchiha Sasuke?"
Hidan mengerutkan kening ketika Yelena menyebut nama itu. Yelena tak bisa memastikan, tapi sepertinya bagi Hidan, nama rekan Gaara itu bukanlah nama yang baru. Namun sepertinya gadis itu terpaksa harus kecewa karena Hidan tak memberinya keterangan yang ia mau. Lelaki itu malah bertopang siku, mengucap argumen yang sebetulnya tak terlampau perlu.
"Bukankah itu adalah nama rekan kerja kekasihmu? Jangan bilang kalau kau baru menyadari kalau dia juga berbahaya untuk rencana kita," komentarnya. Ada intonasi berbumbu kesal kala ia mengucap pronomina Gaara.
"Berbahaya? Kurasa polisi-polisi idealis seperti mereka takkan sanggup menjelaskan tentang apa yang kita lakukan," ujar Yelena, "aku hanya penasaran. Gaara bilang Sasukelah yang datang menemui Nona dan meminta beberapa keterangan darinya. Ada dua hal yang kucatat dari kejadian itu. Pertama, bagaimana caranya meloloskan diri dari Nona dan yang kedua, bagaimana mungkin ia mengarahkan Nona dan menuduhku sebagai Velikaya Kyazhna."
"Dengan kata lain kau mau bilang Uchiha Sasuke tahu sesuatu," pungkas Hidan.
Kali ini eskpresi Hidan terlihat begitu serius. Tepat seperti apa yang diharapkan Yelena setelah mengambil risiko dengan membocorkan apa yang dilakukan Gaara dan rekannya dalam mencari setiap preskripsi yang terendus. Gadis itu berani bertaruh, Hidan sedang memikirkan hal macam apa dalam diri Uchiha Sasuke hingga membuatnya mampu melakukan hal-hal adventius.
Ia harus tahu ... karena ia percaya Uchiha Sasuke tahu sesuatu.
Gaara pernah bercerita bahwa ia telah berbagi rahasia dengan rekannya. Sasuke seorang maniak sejarah Rusia, begitu katanya. Sasuke juga bersikeras memanggilnya Velikaya Kyazhna—baiklah, ini sedikit menjawab pertanyaan kedua. Dan jika Sasuke berada di pihak Klan Shovkovsky, semestinya Hidan juga mengenalnya. Atau bahkan Sasuke juga seharusnya tahu bahwa saat ini ia juga bekerja untuk Katyusha. Dengan fakta seperti ini, seharusnya ia ragu-ragu meski Gaara telah memberinya fakta yang sebenarnya.
Kecuali jika Uchiha Sasuke memang telah menyelidikinya lebih dulu.
"Dengar, Lyubimaya Moya. Aku tak yakin ini, tapi ... apa benar yang namanya Manipulator Waktu itu benar-benar ada?" Hidan terlihat ragu.
"Manipulator Waktu?" Yelena tertarik mendengar frasa itu. Sebuah frasa baru yang belum pernah ia tahu.
"Aku pernah mendengarnya beberapa kali. Manipulator Waktu yang terkadang disebut pula Pengguna Waktu adalah julukan bagi seseorang yang mampu memanipulasi seolah-olah waktu di sekeliling kita terhenti. Aku sendiri juga ragu-ragu jika ada yang punya kemampuan seperti itu. Pengguna Waktu hanya pernah disebut sekali dalam perkamen rahasia yang hanya bisa dibuka dengan mantra," Hidan menjelaskan.
Jika nama Pengguna Waktu hanya pernah disebut satu kali, itu berarti hanya ada dua opsi. Opsi pertama adalah Pengguna Waktu ini bukanlah sosok yang penting untuk dicatat dalam goresan histori. Opsi kedua adalah karena sosoknya yang terlampau jeli, bahkan sejarah pun tak mampu menuliskan namanya dengan presisi.
"Ngomong-ngomong, jika orang itu benar-benar ada, aku akan lebih suka memanggilnya Manipulator Waktu ketimbang Pengguna Waktu. Toh, keahliannya memang hanya memanipulasi waktu, bukan menguasainya," ucap Hidan. Lelaki itu menyibakkan rambut keperakannya, menatap lekat-lekat pada sosok gadis yang membuatnya tergila-gila.
Kali ini Yelena setuju. Sesuai harapan awalnya, perbincangannya dengan Hidan memang memberinya cakrawala baru. Dan setelah ini, ia harus segera mencari tahu sebelum dirinya tertipu.
"Kelihatannya polisi bernama Sasuke itu menganggumu. Butuh bantuanku untuk melenyapkannya," bisik Hidan di telinga Yelena. Gadis itu bahkan bisa menebak, lelaki itu tengah menyeringai.
"Jangan menolakku lagi, Yelena."
Kecupan Hidan di bahunya hanya membuat Yelena tetap bergeming. Merasa tak mendapat penolakan, lelaki itu mengulurkan lengannya demi memeluk pinggang Yelena yang ramping. Gadis itu baru menolaknya dengan halus seolah enggan menerima sentuhan dari pria asing. Ya, pria selain Gaara hanya akan dianggapnya pria asing.
"Terima kasih, Dokter Hidan. Kurasa aku akan menyelidiki sendiri tentang Uchiha Sasuke," ucap Hinata. Gadis itu mengecup pipi kiri rekan kerjanya sebelum kembali berkata, "Pulanglah. Ranjang dan selimutmu sudah menunggu."
Hidan terkekeh pelan, "Suatu hari nanti, kaulah yang akan menghangatkan ranjangku, Yelena."
Yelena tak begitu tertarik menanggapi. Memberi tanggapan sama saja menahan lelaki itu dalam sebuah konversasi. Tentu saja ia takkan melakukannya karena Yelena sangat menginginkan Hidan untuk segera pergi. Dengan begitu, ia bisa leluasa mencari beberapa informasi. Jati diri ksatrianya dan Manipulator Waktu, itulah yang harus ia selidiki.
Memastikan Hidan sudah pulang, Yelena bergegas menuju filling cabinet demi menelusuri tiap lembaran perkamen. Ia memilih mencari keterangan terkait manusia yang dikata memiliki kemampuan transenden. Tak pernah terbayangkan olehnya seandainya Sasuke ternyata memang seseorang dengan kemampuan laten. Dalam sekejap pria berambut gelap itu bisa saja menjadi oponen.
Yelena merapal mantra dalam hati sembari menatap perkamen lusuh berwarna kecokelatan. Begitu lembaran itu menampakkan aksara cyrilic, matanya memindai cepat demi mencari frasa yang ia inginkan. Namun agaknya kali ini ia tak mendapat keberuntungan. Perkamen di tangannya tak berisi keterangan yang ia harapkan.
Tak ingin menyerah, Yelena menelusuri perkamen lain yang dimilikinya. Apa pun yang terjadi, ia harus berupaya menemukannya. Karena menemukan informasi terkait Manipulator Waktu adalah langkah antisipasi untuk menghadapinya.
.
.
.
Mengetahui Sasuke mampu mengendalikan waktu, terjebak pada sebuah ruangan yang mengingatkannya pada masa lalu, kemudian nyaris dibunuh dengan replika dirinya—sosok boneka berambut merah dan bermata hijau. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Gaara belum sempat mencernanya satu per satu. Lucunya, Gaara merasa ada beberapa fragmen yang seolah 'hilang' dari ingatannya tetapi kemudian semuanya kembali bermunculan hanya karena dirinya mengalami déjà vu.
Itu berarti, dirinya sendiri juga menyimpan informasi dan klu berharga andaikata ingatan itu mampu digali. Masalah utamanya, sulit baginya untuk mengingat-ingat sembari menghalau agresi. Boneka ini seolah dirancang untuk menghalanginya mereminisensi setiap memori. Dengan kata lain, mungkin saja master dari boneka ini tak menghendaki dirinya mati.
Hup!
Nyaris saja kapak milik boneka itu membuat tubuhnya terbelah. Profiler FSB itu menyeringai, puas mengetahui dirinya tak salah langkah. Membunuhnya bukanlah tugas dari si boneka berambut merah. Itu sebabnya ketika Gaara memutuskan untuk berdiam diri tanpa menghindari ayunan kapaknya, boneka itu sontak menghentikan serangan seolah tak ingin terjadi pertumpahan darah.
"Tepat seperti dugaanku. Master-mu hanya ingin aku kehilangan konsentrasi," gumam Gaara sembari menyeringai.
Crasshhh!
Dalam sekejap Gaara kembali terkesiap. Di depan matanya, belasan benang tak terlihat mencabik-cabik setiap inci dari tubuh boneka yang sebelumnya berdiri tegap. Jika semula Gaara mengira materi penyusun boneka itu adalah plastik, vinyl, ataupun kayu maka ia benar-benar salah tanggap.
Karena boneka itu terbuat dari jasad manusia berlapis lilin tebal.
Sontak hal itu membuat Gaara mundur beberapa langkah. Matanya mengenali warna merah pekat yang melekat pada setiap potongan tubuh boneka sebagai darah. Begitu pula dengan serat-serat kasar yang tampak pada bagian tubuh yang terbelah.
"Fokus, Gaara. Fokus."
Boneka sial yang mengganggunya telah pergi. Ia tak peduli jika master sang boneka masih mengawasi. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya ia mengingat semua hal yang pernah terjadi di sini. Ia yakin, tempat ini memiliki sebuah kata kunci. Gaara tertarik dengan kata-kata boneka yang sempat mengatakan bahwa Sir Shovkovsky sedang mencoba menulis takdirnya sendiri.
Lalu, apakah membiarkan putrinya memakan kepalanya sendiri dan mengelabuhi tim forensik juga menjadi bagian dari skenarionya yang mumpuni?
Langkah Gaara tergerak untuk mengeksplorasi. Ingatannya berupaya menggali konversasi macam apa yang pernah dilakukannya bersama Sir Shovkovsky. Dan sepertinya upayanya tak sia-sia manakala matanya mengamati ornamen yang mendekorasi. Jemarinya tergerak untuk meraba, seolah relief yang timbul pada pelat-pelat dinding itu mampu membawa evokasi.
"Suka seni arsitektur Rusia?" tanya Sir Shovkovsky.
Gaara ingat Sir Shovkovsky pernah bertanya demikian ketika ia tengah mengamati furniture yang ada di rumah Sir Shovkovsky. Detail dan ornamen dekorasinya begitu rumit sekaligus mengandung nilai seni yang tinggi. Agaknya Sir Shovkovsky adalah salah satu pelanggan tetap Theodore Alexander—satu-satunya perusahaan yang diberi lisensi untuk membuat replika koleksi istana di negeri ini. Kala itu ia hanya menganggukkan kepala sembari mengatakan bahwa sejak dulu bangsa Rusia memang memiliki kecintaan terhadap seni.
"Kalau begitu, kau juga pasti mengamati bahwa seni arsitektur di Rusia benar-benar berkesan mewah dan megah. Tidak jarang kau akan menemukan batu-batu permata menghiasi furniture-nya," kata Sir Shovkovsky.
Sekali lagi Gaara menganggukkan kepala, "Saya pernah melihat beberapa koleksi yang dimiliki The Hermitage Museum. Sulit untuk tidak mengakui, betapa besarnya bangsa Rusia di masa lalu."
Sir Shovkovsky terkekeh, "Jadi kau mau bilang kalau Rusia justru lebih maju pada masa-masa kekaisarannya? Kurasa ada yang harus dibenahi dari mindset-mu, Gaara."
"Maaf?"
"Hahaha ... aku tidak heran kalau kau berpikiran seperti itu. Tapi kurasa anak-anak muda sepertimu perlu melihat kembali penyebab Revolusi Bolshevik di masa lalu. Tahun 1908 untuk pertama kalinya kita dikalahkan bangsa Jepang hanya karena Tsar di masa itu benar-benar lemah," kata Sir Shovkovsky.
Gaara hanya bisa mengiyakan. Ia pernah membaca analisis mengenai masalah itu di buku-buku pelajaran. Akan tetapi tetap saja kebesaran Rusia di masa lalu tak dapat dengan mudah terhapuskan.
"Di samping itu, Tsar dan para penghuni istana begitu tergila-gila pada kemewahan. The Winter Palace, Amber Room, dan Telur Feberge adalah contohnya. Memang benar sesuatu yang bernilai seni tinggi memang membutuhkan biaya yang sepadan. Tetapi dari sisi lain, kurasa kita patut mempertanyakan dari mana Tsar mendapatkan biaya untuk membayar segala kemewahan yang dimilikinya?"
Lagi-lagi Gaara hanya bisa mengiyakan dalam hati. Pun demikian, ia tak dapat menahan diri untuk mengomentari, "Sepertinya Sir Shovkovsky membenci keluarga Tsar."
"Begitulah," ia tergelak, lalu menyeruput kopinya, "yah, tapi lupakan saja. Toh,mereka sudahtidak penting. Keturunan-keturunannya pun sama saja. Lagi pula daripada memikirkan mereka, aku lebih cemas dengan keadaan sekarang ini. Kadang kala aku mengerti kenapa rakyat yang kecewa dengan kepemerintahannya mengatakan kalau pemerintah adalah pengkhianat rakyat."
Yah, barangkali itulah alasan kenapa Sir Shovkovsky mendirikan partai baru yang menjadi oposisi. Hanya itu yang ada di benaknya begitu mendengar brainstorming dari Sir Shovkovsky. Jika dipikir-pikir, ada kemungkinan perkataannya tersebut serba terarah, seolah ingin memberi indoktrinasi. Hanya saja untuk menuding Sir Shovkovsky telah mem-brainwashing pikirannya, rasanya tudingan jauh itu terlampau dini.
Anggapan gila, tanpa dasar yang pasti. Toh, jikalau itu memang terjadi, Gaara tak punya cara yang bagus untuk membuat ingatannya kembali tergali.
.
.
.
Ksatria dan sang putri
Jiwa-jiwa gelap dan para abdi
Di sana hadir pula seorang saksi
Membekukan waktu yang menyimpan memori
Pengguna Waktu yang abadi
Hidan benar. Informasi mengenai Sang Manipulator Waktu memang tak banyak diumbar. Tapi setidaknya Hinata mendapatkan ide yang bagus agar identitas diri Sasuke terkejar. Jika Sasuke adalah Manipulator Waktu, berarti ia akan hidup abadi seperti kata perkamen partikular.
Semalaman ia juga telah meretas data yang berkaitan dengan perjalanan hidup rekan kekasihnya. Uchiha Sasuke, 27 tahun, berasal dari Osaka. Setiap data yang diretasnya kurang lebih menampilkan informasi serupa. Agaknya Sasuke memang termasuk lihai dalam menyembunyikan data diri yang mereka punya.
"Dokter Milanova," Sakura sudah menyambutnya begitu ia menjejakkan kaki di areal rumah sakit.
"Hari ini kau bersemangat sekali, Sakura," Yelena mengumbar senyuman ke arah ko-asnya, "ada kencan nanti sore, ya?"
"Hhe? Bagaimana Dokter tahu?" Gadis itu sedikit tersipu-sipu.
"Ini kan hari sabtu. Wajar jika seorang gadis diajak kencan, bukan?" balas Yelena.
"Pacarku bilang ada film bagus. Tentang agen rahasia tapi ada romance-nya juga," Sakura terlihat bersemangat, "jadi, Dokter, boleh ya hari ini aku pulang lebih cepat. Hari iniii ... saja, ya? Pacarku jauh-jauh datang dari Novgorod. Aku merasa tidak enak kalau membiarkannya menunggu lama."
"Pacarmu datang dari Novgorod hanya untuk mengajakmu menonton film?" Yelena sedikit terkejut.
"Err ... ya tidak sih. Menonton film hanya bagian kecil dari kencan kami. Tapi ... masa aku harus merincinya sih, Dokter," semburat kemerahan di pipi Sakura kian menebal.
"Kurasa jadwalku tidak begitu padat hari ini. Yah, kupikir kau boleh pulang lebih cepat. Siang nanti pun aku ada urusan di luar," kata Yelena.
"Terima kasih banyak, Dokter. Aku senang ... sekali," mata kehijauan milik Sakura berbinar-binar.
Mata hijau ... Gaara. Seharusnya hari ini mereka juga berkencan seperti pasangan lain pada umumnya.
"Eh? Dokter juga ada acara makan siang dengan polisi itu, ya? Tapi kok ... Dokter kelihatannya sedih?" komentar Sakura.
"Aku hanya iri, Sakura. Kekasihku sedang bertugas di luar kota," ujar Yelena, "ngomong-ngomong, apa menariknya film tentang agen rahasia?"
"Kehidupannya. Kehidupan seorang agen rahasia itu sangat seru. Banyak dari mereka yang identitasnya terpaksa 'dihilangkan' agar keluarga dan kolega mereka tidak terancam. Itu sebabnya agen rahasia di film-film biasanya tampil seorang diri, tanpa keluarga, menerima misi-misi berbahaya, semacamnyalah," ujar Sakura, "ya aku tidak tahu juga tentang kebenarannya. Namanya juga film. Kalau Dokter tertarik, coba saja bertanya pada pacar Dokter. Dia kan polisi. Mungkin dia lebih tahu bagaimana situasi sebenarnya."
Agen rahasia, dengan identitas yang terpaksa dihilangkan. Metode yang sama seperti yang pernah Neji gunakan dan metode yang sama juga mungkin digunakan Sasuke untuk menyempurnakan penyamaran. Jika memang demikian, rasanya memang akan sulit membuktikan Sasuke seorang Manipulator Waktu atau bukan.
Hyuuga Neji, kakaknya. Bahkan di usianya yang masih begitu belia sudah mampu merancang segalanya hingga nyaris sempurna. Kecemerlangan berpikirnya itulah yang membuatnya menjadi kakak sekaligus penjaga dirinya.
"Dokter Milanova, Anda sudah datang," seorang perawat menyapanya.
"Anastasia, selamat pagi," Yelena menyunggingkan senyum, "maaf, aku terlambat. Tapi kurasa aku belum terlambat untuk melalukan pengecekan pagi, kan?"
"Tentu, Dokter. Tentu. Lagi pula bukan itu maksud saya," ucap Anastasia, "Dokter Shino menunggu Anda di ruangannya."
Detik itu pula Yelena paham. Dokter Shino juga pasti ingin mempertanyakan mengenai kejadian semalam. Mengingat posisinya, bukan tak mungkin Dokter Shino memiliki detail informasi mengenai pertemuan Sasuke dan Katyusha yang terjadi diam-diam. Atau boleh jadi, agresi Katyusha semalam adalah bagian dari usul dokter yang selama ini lebih banyak diam?
Gawat. Sedikit banyak Dokter Shino pasti mencurigainya telah berpatgulipat. Yelena menarik napas sesaat. Mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa seorang Velikaya Kyazhna sepertinya terlahir dengan kepandaian mengolah kata dan merancang tipu muslihat.
"Selamat pagi, Dokter Shino," sapa Yelena, "kata Anastasia, Anda memanggil saya."
Dokter berkacamata bundar itu berhenti membaca jurnal. Fokus atensinya kini menempatkan Yelena sebagai figur sentral. Sampai detik ini, Yelena tak menemukan sesuatu yang janggal. Karena itu ia hanya menunggu atasannya tersebut mengurai lingual.
"Duduklah," kata Shino, "aku yakin kautahu apa yang ingin kubicarakan."
"Saya tahu dan saya punya penjelasannya," jawab Yelena tanpa ragu-ragu.
"Tidak. Aku tidak memanggilmu hanya untuk mempertanyakan kesetiaanmu. Polisi itu bisa saja menyebut namamu secara random agar dapat melarikan diri dari Nona Katyusha," ujar Shino, "kudengar kau cukup dekat dengan rekan kerjanya. Karena itu kupikir kaulah orang yang tepat untuk menyelidikinya."
Bagus, ini bahkan jauh daripada apa yang ia kehendaki. Kedua perannya—baik sebagai Velikaya Kyazhna maupun sebagai kaki tangan musuh—tak perlu diseparasi. Ia dapat dengan mudah menelusuri presumsi tanpa perlu sembunyi-sembunyi.
"Baiklah, saya akan menyelidikinya," ujar Yelena tanpa ragu-ragu.
"Kautahu apa yang harus kaulakukan. Jika dia bukan seseorang yang berguna bagi kita, aku mau kau segera melenyapkannya tanpa tersentuh pasal pembunuhan. Kau mengerti maksudku, Yelena?" tanya Shino.
"Saya mengerti," kata Yelena.
"Bagus. Kau boleh meninggalkan ruanganku sekarang," ucap Shino.
Yelena menganggukkan kepala, sedikit merendahkan kepala untuk membari penghormatan. Selanjutnya ia berbalik dan meninggalkan ruangan. Shino menyipitkan mata, memastikan bawahannya telah kembali bersiap melaksanakan tugas harian. Jemarinya menari dengan lihai di atas ponsel, menulis sebuah pesan.
Jangan biarkan Yelena lepas dari pengamatanmu, Hidan.
.
.
.
Sir Shovkovsky gemar meminum kopi meski tahu kandungan kafein di dalamnya akan membuat kinerja jantungnya kian mengalami dekadensi. Stoliditasnya ini semakin menguatkan keinginannya untuk bunuh diri—menulis takdirnya sendiri—seperti kata boneka tadi. Tetapi kasus ini akan tetap mengambang jika Gaara tak menemukan bukti. Sebuah surat wasiat atau semacamnya akan sangat diperlukan untuk mencapai kodeterminasi.
Jika Sir Shovkovsky berencana menulis takdirnya sendiri, maka seharusnya ada goresan pena berisi rangkaian verbal. Sebuah kisah yang seharusnya mampu membawanya pada titik proksimal. Mendadak Gaara teringat pada benang-benang tipis dan telepon yang beresiprokal. Sasuke! Apa Si Tuan Landak itu baik-baik saja usai berhadapan dengan poltergeist yang cukup letal?
"Ya ampun, ternyata kau ganas juga, Kepala Tomat."
Suara familiar-tapi-menyebalkan itu sudah pasti milik Si Tuan Landak. Cih, benar saja Gaara menebak. Di depan pintu muncul Sasuke dengan segala keangkuhannya yang kerap membuat Gaara muak. Tatapan matanya meroyak. Terfokus pada potongan tubuh boneka lilin yang tampak rerak.
"Bukan aku yang membunuhnya. Kurasa master-nya sendiri yang melakukannya," komentar Gaara, "dan jangan bertanya padaku siapa master-nya."
"Aku juga tidak akan menanyakannya. Jika teori konyolmu benar, maka telepon itulah pengendalinya. Aku sempat melihat benda itu bergerak memutar," tukas Sasuke.
"Kurasa aku sedikit mengerti sekarang," Gaara menarik napas lega.
"Tentu. Panda Tolol sepertimu tidak mungkin mengerti banyak hal," tukas Sasuke sinis.
"Tchyo za ga' lima, mu'dak!" dengus Gaara kesal, "Dengar baik-baik Landak Dungu-Brengsek-Hermafrodit! Sir Shovkovsky melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghambat kinerja jantungnya sendiri sebelum ia mati. Boneka sialan ini juga mengatakan bahwa di sinilah Sir Shovkovsky menulis takdirnya sendiri. Dan menurutku, semuanya mengarah pada tujuan bunuh diri."
"Jika itu konklusimu, kurasa semuanya terlalu rumit, Kepala Tomat. Jika memang Sir Shovkovsky melakukan aksi bunuh diri, maka akan lebih mudah jika ia membuat wasiat yang mengatakan kalau dialah yang menyuruh tim dokternya membunuh dirinya," sergah Sasuke.
"Justru itu terlalu sederhana," sanggah Gaara, "jika melihat preferensinya terhadap seni, kurasa Sir Shovkovsky menyukai hal-hal yang rumit." Gaara menunjuk ornamen-ornamen penghias pelat-pelat kayu.
"Tapi jika dilihat dari lukisannya, kurasa ia tidak menganut aliran abstrak," Sasuke masih berusaha menyanggah.
"Rumit tak selalu berarti abstrak, Jabrik Dungu," pungkas Gaara setengah mengejek, "kurasa kitalah yang terlalu dangkal mengartikan lukisannya."
"Gah, The Da Vinci Code ternyata sudah benar-benar meracuni otak udangmu," ejek Sasuke, "dan sialnya, teori bodohmu itu juga sudah meracuni otak jeniusku."
"Otakmu itu kosong, makanya aku memberimu pengetahuan baru. Jadi siapa yang sebenarnya lebih tolol? Aku atau kau?" ejek Gaara.
"Tentu saja kau, Panda Dungu," balas Sasuke tak mau kalah, "hentikan seringai konyolmu itu, Panda. Sekarang giliranmu mendengarkan aku. Aku tak peduli dengan segala teorimu tentang seni. Saat kaupergi tadi, aku mengamati gerak pada putaran telepon ini. Berkali-kali putarannya hanya menunjuk pada angka 0 dan angka 1."
"Ya ampun, aku benci bilangan biner," keluh Gaara.
"Sudah kuduga," ejek Sasuke, "menurutku, ini bukan telepon tetapi mesin penyandi atau bahkan komputer mini. Menyambungkan dengan asumsi yang kaukatakan tadi, kurasa tujuan Sir Shovkovsky berkali-kali menelepon ke sini adalah untuk meng-update data baru, memberikan perintah pada poltergeist, boneka ini ataupun makhluk-makhluk yang sudah dan yang akan kita hadapi, atau menuliskan takdirnya seperti katamu tadi."
Teknologi di masa kini berpadu dengan kerumitan mantra yang menjadi bentuk lain dari password yang kerap digunakan. Kombinasi yang cerdas, rumit, sekaligus memberi proteksi mumpuni agar segala hal terjadi sesuai yang diharapkan. Dalam hal ini Gaara semakin yakin bahwa Sir Shovkovsky memang mencintai segala kerumitan. Karena dibutuhkan lebih dari sekadar kejeniusan untuk membongkar setiap preskripsi yang ia berikan.
Baiklah, semuanya terdengar masuk akal. Ternyata Si Landak Dungu ini cukup pintar dalam menarik akar kausal. Ah, rasanya Gaara melupakan satu hal. Menghentikan waktu ... bukankah itu kemampuan yang cukup genial?
"Kurasa aku lupa bertanya padamu, Jabrik. Kemampuanmu itu ... siapa kau sebenarnya?" ucap Gaara.
"Namaku Uchiha Sasuke dan aku adalah Manipulator Waktu. Kemampuanku kurang lebih sama seperti orang-orang yang memiliki sixth sense," jelas Sasuke, "jika kau mau bertanya soal keberpihakanku, aku berada dalam posisi netral. Tugasku hanya menonton dan memastikan kalian tidak merusak tatanan hidup normal."
Sekarang Gaara mengerti mengapa Sasuke begitu gemar mempelajari sejarah negeri ini. Rupanya ia ikut mengambil peran dalam sejarah yang berepetisi. Hanya saja, pengakuan posisi netralnya justru membawa ambivalensi. Jauh di sudut hati Gaara meneriakkan sebuah aversi. Di sisi lain, untuk menuding Sasuke berpretensi rasanya Gaara juga tak punya bukti.
"Velikaya Kyazhna memberimu beberapa mantra, kan? Gunakanlah. Kuharap ada mantra yang bisa membuka salah satu pesan yang ditinggalkan," kata Sasuke.
Sasuke benar. Salah satu tujuan Yelena memberinya mantra adalah mengurai setiap preskripsi yang belum terbongkar. Ia meraih telepon itu dari tangan Sasuke, menatap setiap benang-benang tipis yang melintar. Gaara mengucap sebuah mantra dalam hati, lalu pandangannya tertuju pada satu unilinear. Sebuah benang tipis tampak menampilkan cahaya yang berpendar.
Semakin jauh ... dan semakin jelas. Pandangan matanya seolah tak lagi terganjal batas. Dengan sendirinya matanya tergerak mengobservasi sementara pikirannya berupaya menemukan konformitas. Hanya saja, segala hal yang dijumpainya justru merupakan polaritas.
"Panda! Hey, apa sih yang kaulihat?"
Sayup-sayup Gaara mendengar suara rekannya. Namun lidahnya terasa kelu, tak sanggup walau hanya untuk mengucap satu kata. Sasuke pasti takkan tahu, bahwa apa yang dilihatnya adalah inversi dari segala hal yang diyakininya.
Karena Velikaya Kyazhna seharusnya tak mendapat tempat di dunia.
.
.
.
TBC
.
.
Thank's to :Freeya Lawliet, Bocah namikaze *maaf baru diupdate orz*, Nara Kazuki, Ryu Lawliet, Yamanaka Emo, R *gomen gomen orz. Mungkin deskrip saya yang terlalu ribet sehingga sulit dipahami, ya? Soal glosarium, saya mendapatkannya sewaktu blogwalking, buka KBBI atau baca fic orang lain*, Kertas Biru, ditimerita2, thelittlething, Daiyaki Aoi, Thi3x Noir, uchihyuu nagisa, Miya-hime Nakashinki, Amenyx *sama-sama ^^ anou, kalo bisa manggilnya jangan senpai, ya. Di FFn, saya masih bocah ingusan lho. Kalo sekarang, siapa yang jahat hayoo #geplaked*, Michelle Aoki, Schein Mond, moi *fufufu~~ sepertinya moi-san satu pemikiran dengan saya #geplaked. Toh, di sini Yelena emang terpaksa 'ngorbanin' orang lain demi keselamatannya sendiri #sigh*, adeanawinchester *Gpp kok. Selamat berjuang dengan serangkaian try out dan pemantapan, ya #plakk. Soal boneka, bukan Sasori kok ^^ Bonekanya terinspirasi dari House of Wax*, Ritard. S. Quint, Bonbon 0330, Czhewasastoic *Habis yang namanya hantu-hantuan identiknya sama Halloween ^^*, hinata lover *makasih ^^ panggilnya Nera ato Zuri aja, ya ^^*, dan Hyuu Hikari
Seperti biasa, yang login balasannya via PM, ya ^^
Entah berapa lama fic ini sudah seperti anak tiri. Bukan hanya karena kemarin saya ikut bantu-bantu di IFA, tapi karena fokus menulis saya sedang saya berikan untuk fic lain. Bicara soal IFA, terima kasih banyak untuk siapa saja yang telah menominasikan fic ini sampai-sampai fic ini menembus tahap polling dari 3 kategori (M-Rated, Horror, dan Western). Sungguh, saya merasa diapresiasi sekaligus merasa bersalah karena sedikit menganaktirikan fic ini ^^v
Chapter kali ini memang lebih banyak berisi kontinuasi dari chapter kemarin. Singkatnya, Yelena bebas untuk menyelidiki Sasuke sementara ia sendiri juga diselidiki Hidan. Sementara Gaara diombang-ambing status ksatria atau bukan. Dan Sasuke ... saya lebih suka mempertahankannya sebagai pihak netral, setidaknya untuk sekarang ini.
Seperti yang pernah saya katakan di facebook, bulan Desember ini adalah bulan saya mengupdate X. Saya bahkan berharap fic ini bisa saya selesaikan sebelum tahun berganti ^^
Dan seperti biasa, feedback dari readertachi selalu saya nanti. Review kalianlah yang membuat saya semakin merasa bersalah jika lagi-lagi saya menelantarkan fic ini orz. Jadi berikanlah saya cambukan, tabokan, cubitan, dan pujian (kalau ada) di kotak review yang masih sangat luas.
спасибо
