Tittle : Matchmaking
Author : Lieya EL
Cast : Xi Luhan,
Oh Sehun
Byun Baekhyun
Kim Jongin
Wu Yifan
Lay
Suho, and other
Genre : Hurt comfort, Romance . . .?
Lenght : 8 / ?
Warning : This is yaoi boyxboy, jadi yang gak suka yaoi jangan sekali-kali membaca ini oke !
Luhan milik Sehun, Sehun milik Luhan, dan Hunhan adalah milik keluarganya, disini saya hanya meminjam Karakter keduanya saja, untuk selebihnya murni karangan saya semata.
.
IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ OKE ?!
DON'T BE PLAGIATOR OKE ?!
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
'Benarkah Sehun ingin membatalkan perjodohan ini ?'
'Apakah perjuangannya akhir-akhir ini akan sia-sia begitu saja?'
'Haruskah Luhan melepaskan Sehun ?'
'Haruskah Luhan membiarkan Sehun bahagia bersama Baekhyun?'
Satu minggu setelah kejadian itu, kini semuanya telah normal kembali. Namun kali ini Kai lebih sering berkunjung ke Apartemen Luhan dan Sehun. Hampir setiap pagi juga Kai lah yang menjemput dan mengantar Luhan ke sekolah. Luhan juga tak menolak perlakuan Kai tersebut. Menurut Kai, sekarang Luhan sudah mulai terbuka kepada Kai dan teman-temannya. Luhan juga tidak pernah berulah lagi semenjak kejadian di apartemennya itu. Bahkan Kai sampai terheran-heran, apakah saat sakit waktu itu Luhan jatuh dan kepalanya terbentur sesuatu, hingga kepribadiannya berubah seperti dulu kembali. Tapi yang jelas Kai sangat berterimakasih karena Tuhan telah mengembalikan sosok Luhan kembali, meskipun belum sepenuhnya.
Sehun, kepribadian namja itu tidak ada yang berubah, selalu datar. Namun ada satu hal yang mulai mengganjal di hatinya. Seperti saat Luhan dan teman-temannya tertawa bersama dikantin, Sehun merasa tak rela. Saat Kai yang datang setiap hari ke Apartemennya, mengantar dan menjemput Luhan, Sehun juga tak suka. Entah itu perasaan apa, Sehun tak bisa menjelaskannya sekarang. Yang jelas Sehun tak suka apabila Luhan bersama namja lain, tapi itu bukan rasa cemburu. Bukannya rasa cemburu itu akan muncul apabila sosok yang kau cintai berdekatan dengan orang lain ? Nah, sedangkan sosok yang di cintai Sehun adalah Baekhyun bukannya Luhan. Jadi itu bukan perasaan cemburu kan, itu hanya rasa tak suka saja.
Pemikiran yang bodoh !
.
.
.
"Anak-anak khusus kelas XII hari Jum'at besok hingga hari Minggu pelajaran diliburkan. Sebagai gantinya kita akan melakukan camping di hutan kota, sekalian untuk refreshing menuju ujian, bagaimana ?" Tanya Mrs. Jesica selaku wali kelas XII A bersemangat.
"Yeay." Seluruh siswa di kelas itupun bersorak gembira mendengar berita tersebut, melakukan refreshing sebelum ujian, bukanlah ide yang buruk kan. Setidaknya para siswa dapat mengistirahatkan otaknya untuk sementara agar tidak terlalu keras berfikir.
.
.
.
"Luhan." Yang di panggil pun mendongak.
"Hay, Suho." Sapanya. Luhan kembali merapikan barang-barang yang akan dibawanya saat camping, sebelum dimasukkan kedalam bus.
"Kudengar kau mengundur acara pertunanganmu dengan Sehun kemarin." Kata Suho menatap Luhan sedih.
Ya, benar. Hari minggu kemarin seharusnya pertunangan Sehun dan Luhan berlangsung. Namun itu semua tidak sesuai dengan rencana. Luhan tiba-tiba saja mengundur acara tersebut dengn sepihak. Tanpa membicarakannya dulu kepada kedua keluarga ataupun Sehun. Alasannya karena Luhan tidak ingin acara itu akan membebani mereka, karena 2 minggu lagi adalah ujian akhir sekolah dan Luhan tidak ingin acara tersebut mengganggu konsentrasi belajar mereka. Akan lebih baik apabila pertunangan itu dilakukan setelah ujian - fikir Luhan.
"Yeah. Itu benar." Jawab Luhan lesu.
"Kenapa ?" tanya Suho. Sungguh ia bingung, bukankah sahabatnya itu sangat menyukai Sehun. Luhan sendiri yang bercerita kepada Suho satu minggu setelah Luhan dan Sehun tinggal bersama. Sejak saat itulah Luhan mulai terbuka kepada Suho, ia juga menceritakan apapun yang dialaminya kepada Suho. Suho adalah sahabat terbaik Luhan setelah Kai, Suho juga yang memberikan nasehat Luhan agar selalu memperjuangkan cintanya. Meskipun terkadang Suho sangat menyebalkan, menurut Luhan. Namun Suho adalah temannya yang paling setia, apapun yang Luhan lakukan, pasti Suho dan Kai akan selalu berada dibelakangnya. Suho sudah seperti sosok pengganti Mama untuk Luhan.
"Karena aku tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar kita. 2 Minggu lagi kita ujian Suho-ya." Kata Luhan. Dan aku juga ingin memastikan perasaanku - tambah Luhan dalam hati.
"Huh, baiklah." Ujar Suho akhirnya. Melihat kepribadian Luhan yang sudah mulai berubah lembut itu saja sudah membuat Suho bahagia, ia juga tidak mau menambah beban kepada Luhan terhadap pertanyaan-pertanyaannya. Yang harus Suho lakukan sekarang adalah mendukung apapun keputusan namja bermata rusa itu.
"Ayo kita berangkat." Ajak Luhan. Keduanya pun menaiki bus.
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
Bus yang membawa siswa kelas XII itu telah sampai di tempat tujuan, di sebuah hutan yang cukup luas di pinggiran kota Seoul ( ngasal ). Hutan ini terletak jauh dari pemukiman warga, meskipun demikian tetapi hutan ini sangat aman untuk tempat camp terbukti saat sekolah-sekolah lain yang juga melakukan camping disini beberapa saat lalu. Hutan ini juga sangat rindang dan sejuk, pemandangannya yang indah membuat suasana hati menjadi nyaman, sangat tepat untuk dijadikan tempat refreshing.
.
"Kali ini kita akan mengacak pembagian kelompok dari seluruh kelas. Kelas A dan B akan terbagi menjadi 10 kelompok" Ujar Mrs. Jesica, menjelaskan pembagian kelompok dalam satu tenda.
"Kelompok 1 : Suho, Ren, Chen dan Xiumin. Kelompok 2 : Lay, Taemin, Minho dan Suga. Kelompok 3 : J-Hope, Junkook, Jin dan Jimin. Kelompok 4 : Sehun, Kai, Bekhyun dan Luhan. Kelompok 5 : Luna, Krystal, Wendy dan Joy. Kelompok 6 : Rachel, . . . . dst." Mrs. Jesica membagi pembagian kelompok itu secara acak, entah takdir atau memang sudah terencanakan yang jelas sekarang Kai, Sehun, Baekhyun dan Luhan berada dalam satu kelompok yang sama.
Entah masalah apa yang akan terjadi nantinya.
.
Kini mereka telah berdiri menurut kelompoknya masing-masing. Suho kecewa tidak bisa satu kelompok dengan Luhan, Luhan mengerti dan melemparkan senyum hangatnya yang jarang ia tampilkan untuk Suho, seolah-olah mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Suho melepas tangan Luhan dengan tidak rela kemudian berjalan menuju kelopoknya dengan lesu.
Sehun, Kai, Baekhyun dan Luhan kini tengah berada di situasi yang canggung. Suasana begitu hening tanpa ada satu katapun yang terlontar diantara mereka. Hingga Kai yang tak tahan dengan situasi itupun memilih untuk memulai kegiatan membuat tendanya. Kai mengeluarkan kain tendanya, karena kesusahan membukanya sendiri ia memanggil Luhan agar membantunya.
"Luhan. Bisa kau pegang ini."Luhan mengangguk dan mengambil alih pekerjaan Kai. Sedangkan Kai sibuk memegangi ujung satunya.
"Yak! Kalian berdua, dari pada melamun seperti itu. Lebih baik kalian memasang pasaknya." Geram Kai melihat Sehun dan Baekhyun yang tak kujung membantu mereka.
Sehun dan Baekhyun pun segara memasang pasak di setiap sudut.
Tok
Tok
Tok
"Arght. . . !" Teriak Baekhyun kesakitan, saat tanpa sengaja palu yang digunakannya untuk memukul pasak mengenai ujung jarinya.
"Baek. Gwaenchana ?" Panik Sehun beringsut mendekati Baekhyun. Ia ambil alih tangan Baekhyun yang terluka, hingga mengeluarkan sedikit darah itu kemudian meniup-niupnya, Baekhyun hanya meringis kesakitan.
"Bertahanlah, aku akan mengambilkan obat untukmu." Kata Sehun kemudian berlari meninggalkan tempat itu untuk mengambil kotak P3K.
Kai yang melihat adegan tersebut hanya bisa mendengus sebal. Drama, dengusnya. Sedangkan Luhan kini menatap keduanya dengan sendu.
Sebegitu sayangnyakah Sehun kepada Baekhyun. Sedikit luka kecil di jari Baekhyun saja membuat Sehun panik seperti itu. Sedangkan kemarin disaat Luhan demam, ia tidak ada rasa peduli sedikitpun. Menyentuhnya saja tidak, apalagi perhatian seperti itu, sebenci itukah Sehun kepada Luhan.
Rasanya ingin sekali Luhan menangis kencang sekarang, meratapi nasibnya. Kenapa ia selalu kalah dengan Baekhyun, kenapa Baekhyun selalu mendapatkan apa yang Luhan inginkan. Kai yang tak tega melihat Luhan yang menahan tangisnyapun menghampiri Luhan. Kai menarik tangan Luhan meninggalkan tempat itu, membiarkan tendanya yang belum jadi itu runtuh begitu saja, meninggalkan Baekhyun yang tengah menatap kepergian mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.
Mengenai Baekhyun dan Luhan, mereka jarang bertatap muka selama beberapa hari ini. Baekhyun juga sudah tidak lagi mendekati Luhan seperti biasanya, mungkin itu juga karena nasehat Sehun yang mengatakan bahwa kecelakaan itu adalah takdir bukan kesalahan Baekhyun waktu itu membuat Baekhyun sadar bahwa ia tidak perlu lagi mengemis maaf kepada Luhan.
Sebenarnya Luhan masih merasa aneh, mengapa Baekhyun tidak mendekatinya seperti biasa. Tanpa diketahui Luhan, bahwa Sehunlah yang menyebabkan itu semua.
.
.
.
"Baek. Ulurkan tanganmu." Pinta Sehun yang kini sudah datang membawa kotak P3K di hadapan Baekhyun. Baekhyunpun segara mengulurkan tangan kirinya yang terluka tadi.
Sehun meneteskan obat merah ke jari Baekhyun, membuat Baekhyun meringis pelan saat rasa perih menjalari jarinya. Sehunpun meniupnya perlahan untuk menetralisir rasa perih di jari Baekhyun, setelah obat itu sedikit mengering Sehun menempelkan plester pembungkus luka di jari Baekhyun.
Terlalu lama terpaku dalam kegiatannya membuat Sehun tak menyadari bahwa kedua rekannya telah menghilang dari tempat itu.
'Kemana perginya Kai dan Luhan' batin Sehun.
"Baek, Kai dan Luhan kemana?"Tanya Sehun kepada Baekhyun yang kini tengah meniup jarinya yang terluka tadi. Meskipun sudah tertutup plester masih juga terasa perih.
"Aku tidak tau." Jawab Baekhyun sekenanya, tanpa menatap Sehun.
Baekhyun menggigit kecil ujung bibirnya, gelisah. Ini adalah kali pertama Baekhyun berbohong kepada Sehun. Kali ini saja biarkan Baekhyun egois, untuk bisa bersama Sehun lebih lama.
Sehun mendenguskan nafasnya kesal.
Sebenarnya tanpa harus berbohong sekalipun, Sehun akan tetap bersamamu Baek. Terbukti kan jika Sehun selalu memiliki waktu lebih bersamamu tidak dengan Luhan. Well, memang seperti itu sih sifat manusia. Selalu ingin lebih dan lebih. Selalu merasa kurang dan kurang.
.
.
.
"Menangislah."Kata Kai memecahkan keheningan.
Kai dan Luhan tengah berada di tepi danau dekat hutan sekarang. Entah mendapat ilham dari mana, hingga Kai menemukan tempat yang sebagus ini. Hamparan ilalang yang luas. Pohon-pohon yang tinggi, rindang, lebat menjulang. Bebatuan yang tertata rapi di pinggir danau. Menambah kesan asri di tempat ini.
Luhan menatap Kai penuh tanya.
"Aku tau kau ingin menangiskan ? maka menangislah. Disini tidak akan ada orang yang akan mendengarmu." Kata Kai sembari tersenyum tampan. Membuat Luhan mau tak mau menumpahkan seluruh perasaannya. Kai memang selalu tau perasaannya – fikir Luhan.
"Kai-ya, hiks." Tangis Luhan pecah saat menerjang tubuh Kai. Luhan menangis dengan kencang dipelukan Kai. Kai pun hanya bisa mengelus pelan punggung Luhan untuk menenangkan sahabatnya yang tengah lara hati itu.
"Menangislah Lu. Aku akan selalu disini untukmu."Tenang Kai sembari mengelus punggung namja rusa yang tengah bergetar hebat itu.
"Hiks mengapa ? mengapa mereka tak mengerti perasaanku ? hiks." Tanya Luhan pilu. Sekarang Luhan tak tanggung-tanggung lagi meluapkan seluruh perasaannya, tidak ada dua orang yang membuatnya merasa canggung lagi disini.
"Apa yang harus kulakukan agar Sehun mau melihatku, Kai? Aku sudah merubah pribadiku menjadi yang lebih baik agar dia mau melihatku, aku sudah melakukan segala cara agar Sehun nyaman denganku. Aku juga sudah menanyakan semua fakta tentang Sehun kepada Oh Ahjussi. Aku sudah bersusah payah untuk mempelajari apa yang Sehun suka bahkan yang tidak suka sekalipun. Aku sudah berusaha mendekatinya, tapi ia sama sekali tak menghiraukanku, Kai hiks. Aku mencintainya, tapi aku juga lelah jika diabaikan seperti ini, hiks. Aku harus bagaimana Kai ?" Kai menatap wajah Luhan yang kini bersimbah air mata di pelukannya.
'Ternyata benar, Sehunlah alasan Luhan merubah kepribadiannya kembali' – batin Kai.
Sungguh Kai sangat tak tega melihat kondisi Luhan yang sangat menyedihkan seperti ini. Entah mengapa akhir-akhir ini pria bermata rusa itu sering sekali menangis, mungkin alasan terkuatnya adalah Sehun. Sekarang tidak ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya seperti dulu, tidak ada lagi Luhan yang sombong dan semena-mena. Yang ada sekarang hanyalah sosok Xi Luhan yang rapuh dan perlu dijaga.
Memang Kai sangat mencintai sahabatnya itu selama ini, namun ia tak pernah sedikitpun berusaha untuk menyatakan perasaannya. Baginya kebahagiaan Luhan lebih penting dari pada perasaannya. Senyuman Luhan lebih berharga dari pada air matanya sendiri. Kai telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu menjaga dan menyayangi sahabatnya itu tanpa harus mendapatkan balasan apapun. Bukannya 'cinta tidak harus memiliki', menurut Kai kalimat itu cocok sekali untuknya, baginya melihat Luhan bahagia dan dapat tersenyum lepas bersama orang lain yang dicintainya, sudah membuatnya merasa bahagia.
Namun jika sosok yang dianggap Luhan sebagai sumber kebahagiaannya itu, kini menghancurkan perasaannya, membuatnya bersedih dan menangis seperti ini. Bisakah Kai melepas dan mempercayakan Luhan kepada Sehun yang jelas-jelas tidak mengharapkan kehadiran Luhan.
Sudah hampir dua jam kedua insan itu hanyut dalam perasaannya masing-masing. Luhan sudah menghentikan tangisannya sejak beberapa menit yang lalu. Kemeja yang dipakai Kai kini sudah kucal tak beraturan dan basah oleh air mata Luhan.
"Hik, Kai-ya bajumu kotor, hik." Gumam Luhan sesenggukan saat mendapati karyanya yang terpampang di kemeja Kai.
"Ini semua karena siapa coba ?" Tanya Kai berpura-pura marah. Lucu sekali melihat wajah sembab Luhan yang berurai air mata itu, apalagi melihatnya merasa bersalah seperti ini. Sifat jahil Kai pun tiba-tiba muncul.
"Hik, Mianhae, hk." Lirih Luhan menundukkan wajahnya menyesal. Ia tidak menyangka bahwa air matanya akan keluar sebanyak itu dan membuat kemeja Kai menjadi kotor. Well, selama beberapa tahun ini Luhan jarang sekali mengucapkan kata maaf, karena rasa benci telah menutupi hatinya. Dan sekarang kata itu akhirnya keluar dari bibirnya untuk pertama kali, dan ia mengatakkannya setelah menangis hampir dua jam. Apakah sifat asli Luhan sedah kembali sepenuhnya ?
"Haha, kau lucu sekali, Lu." Tawa Kai kemudian mencubit pipi Luhan gemas.
"Hik, aku sudah memaafkanmu, hik tenang saja hik, hk. Hahaha." Kata Kai sembari menirukan gaya bicara Luhan yang sesenggukan. Hal tersebut membuat Luhan mendengus sebal, rupanya si namja tan itu tengah menjahilinya sekarang.
Awas kau ! batin Luhan. Ia sudah bersiap-siap untuk menjitak kepala Kai, kalau saja si namja tan itu tidak seenak jidatnya menggenggam tangannya dan membawanya mendekati danau pasti Luhan sudah berhasil menjitak kepala itu.
Keberuntungan berada di pihakmu Kai.
"Lihatlah, bukankah pemandangan disini sangatlah indah." Gumam Kai sembari mengamati keadaan sekitar.
"Hem. Ya, sangat indah dan menyejukkan" Sahut Luhan, ia memejamkan matanya sembari menghirup dalam udara disekitar.
"Luhan" Panggil Kai lembut hingga membuat Luhan membuka matanya kembali. Luhanpun menoleh kearah Kai.
"Jika kau ingin menangis, menangislah. Jika kau ingin bercerita, berceritalah. Jika kau ingin meluapkan seluruh isi hatimu, luapkanlah. Aku akan selalu berada disini, disampingmu. Aku berjanji, aku akan selalu ada untukmu. Bukankah itu gunanya sahabat. Aku akan selalu ada untuk kau jadikan tempat berbagi jangan sekali-kali kau berani memendam perasaanmu sendiri lagi, Arra ?" Kata Kai sembari menangkup pipi chubby Luhan. Melihat sorot ketulusan dari mata Kai membuat Luhan sangat terharu, ia juga merasa bersalah bahwa selama ini ia telah menyia-nyiakan dan mengacuhkan keberadaan sahabat kecilnya itu.
"Ne. Gomawo Kai." Ujar Luhan tersenyum tulus.
.
Sedangkan dari balik pohon cemara yang cukup besar, nampak sosok namja tampan yang tengah mengepalkan tangannya kuat, rahangnya mengeras, dan tatapannyapun sudah berkilat-kilat menahan amarah. Ia memukul batang pohon itu menggunakan tangannya yang mengepal untuk meluapkan emosinya, hingga meninggalkan bercak merah di tangannya. Setelah itu ia berlalu meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
.
.
.
"Sehun. Dari mana saja kau ? Mrs. Jesica mencarimu untuk membicarakan mengenai jurit malam yang akan dilakukan nanti, ia menunggumu di tenda guru." Ujar Suho, saat melihat Sehun yang baru saja muncul di area perkemahan. Sehun membalas perkataan Suho dengan sebuah anggukan, mengabaikan untuk menjawab pertanyaan Suho. Sungguh tidak sopan.
Suho yang hafal dengan kelakuan namja albino itupun hanya mengedikkan bahunya acuh, namun ada satu hal yang berhasil membuat matanya membulat seketika.
"Sehun ! Tanganmu terluka." Pekik Suho saat cairan merah menetes dan merembas dari jari jari Sehun.
"Tidak apa-apa. Aku akan mengobatinya nanti." Kata Sehun datar kemudian berlalu dari hadapan Suho, meninggalkan Suho yang terbengong-bengong dengan tingkah laku Sehun tersebut, apakah namja albino itu tidak merasakan sakit - batinnya.
.
.
.
"Aish ! kenapa sih mereka menyuruhku mencari kayu bakar, bukankah ada banyak anak di sana kenapa harus aku, huh." Keluh namja berlesung pipi itu yang kini tengah memunguti ranting-ranting pohon di pinggiran hutan.
Wush. . .
Wush. . .
"Kya !" Pekik Lay-namja itu saat angin dingin menerpa tengkuknya. Seperti ada seseorang yang sengaja meniup-niupnya, namun saat Lay membalikkan badannya menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan untuk melihat keadaan sekitarnya, tapi ia tidak menemukan siapapun. Lay memegangi leher bagian belakangnya yang kini mulai merinding.
Ini baru jam 12 siang, adakah hantu yang berkeliaran disiang bolong seperti ini-batin namja itu risau. Dengan segera ia memunguti ranting pohon itu kembali kemudian meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat.
Sedangkan dari balik pohon yang tak jauh dari sana, ada sosok tegap yang tengah mengamati gerak gerik namja berlesung pipi itu, sembari terkikik geli.
"Dasar bodoh ! " umpatnya geli.
.
.
"Yifan-ssi kau dari mana ?" Tanya Mrs. Jesica yang melihat Yifan duduk disampingnya bergabung bersama guru-guru lain. "Aku tidak melihatmu dari tadi."
"Mian, Mrs. Aku tidak sengaja tersesat di hutan, setelah memasang kotak rahasia tadi. Aku sempat lupa arah, makanya aku terlambat sampai sini." Jelas Yifan .
"Eoh, Baiklah. Ini kau pasti belum makan siang kan." Kata Mrs. Jesica kemudian menyodorkan kotak makan siang untuk Yifan. Yifanpun menerimanya sembari melontarkan senyum tampannya kepada sosok Yeoja cantik itu.
"Terimakasih." Ujarnya.
.
.
Sehun berjalan dengan lesu meninggalkan pekarangan tenda para guru, setelah membicarakan perihal jurit malam, ah bukan jurit malam tetapi jelajah malam yang akan dilakukan nanti, Sehun memutuskan kembali ketenda untuk mengobati lukanya. Cairan kental berwarna merah itupun sudah mulai mengering di tangan Sehun.
"Astaga Sehunnie ! Apa yang terjadi padamu." Jerit Baekhyun saat mendapati Sehun tengah mengobati lukanya di dalam tenda.
"Sini biar aku yang mengobatinya." Tawar Baekhyun namun Sehun menggelengkan kepalanya. "tidak perlu"
Luhan dan Kai yang baru saja datangpun dibuat bingung oleh Baekhyun yang berdiri membelakanginya tepat di tengah tenda menutupi pemandangan yang berada didalamnya.
'Ada apa ini ?'
Luhan yang penasaranpun sedikit menggeser tubuh Baekhyun untuk melihat apa yang tengah Baekhyun perhatikan saat ini.
Betapa terkejutnya Luhan saat melihat noda darah yang menempel di beberapa kapas terurai didalam tenda. Pandangannya ia arahkan kepada sang pelaku yang kini tengah mengobati luka ditanggannya dengan ogah-ogahan. Seolah-olah tangannya tidak merasakan perih sama sekali, Sehun mengusap luka ditangannya dengan kasar.
Rupanya Baekhyun sedari tadi terpaku, melihat kelakuan Sehun yang jarang sekali ia tampilkan. Apakah Sehun tengah kesal sekarang - Batinnya, tapi kenapa?.
Luhanpun mendekati Sehun sekarang. Tangannya dengan lembut Luhan mencekal pergelangan tangan Sehun, menghentikan aksinya yang mengobati lukanya dengan kasar itu. Luhan mengambil alih kapas yang berada ditangan kiri Sehun kemudian menggantikan tugasnya untuk membersihkan luka-luka itu.
Deg
Kenapa perasaan senang ini tiba-tiba muncul, saat melihat Luhan yang kini meniup lukanya dan mengobatinya dengan hati-hati. Kenapa saat tangan mungil Luhan menyentuh pergelangan tangannya, jantungnya berdetak tak karuan. Kenapa hatinya terasa menghangat saat melihat wajah teduh Luhan. Kenapa ? Perasaan apa ini ?.
Yeah, tanyakan saja kepada yang Kuasa Sehunnie.
Melihat pemandangan yang menyakitkan didepannya, mau tak mau membuat Kai dan Baekhyun meninggalkan tenda itu. Melihat orang yang kau sayangi bersama orang lain pasti hatimu akan terasa sakitkan, dan yeah itulah yang Baekhyun dan Kai rasakan.
.
Selesai membersihkan dan mengoleskan obat di luka Sehun, Luhanpun membalut luka ditangan Sehun menggunakan perban, dengan hati-hati ia mulai melilitkan kain putih itu ketangan Sehun. Sehun sempat terpesona dengan perlakuan Luhan, belum pernah ia melihat perlakuan Luhan yang selembut ini sebelumnya, apakah mungkin ini sifat asli Luhan yang sebenarnya - batinnya.
"Jha. Selesai." Luhan tersenyum senang dengan karyanya. Senyuman yang terpatri diwajah Luhan saat ini mengingatkan Sehun dengan kejadian beberapa menit yang lalu, saat Sehun tanpa sengaja melihat adegan dimana Kai menyentuh pipi Luhan, dan juga Luhan yang melontarkan senyum yang sama persis seperti yang ia lakukan sekarang kepada Kai.
Tiba-tiba rasa tak suka membuncah di hati Sehun. Ia pun beranjak meninggalkan Luhan tanpa sepatah kata apapun, tidak ada kata terimakasih ataupun sejenisnya untuk menghargai perlakuan Luhan. Luhan hanya mampu tersenyum miris dan menatap punggung Sehun yang meninggalkannya dengan sendu.
Sebesar apapun aku berharap, sekuat apapun aku berusaha. Aku tetap sulit untuk menyentuh hatimu.
Haruskah aku melepasmu?
Harusnya kalian mendapatkan jawabannya di chapter depan. . .
.
.
Hellow guys~
Sesuai janji Lieya fast Update, kan #CivokReaders :*
Sepertinya Chap 8-10 Lieya hanya bisa ngasih segini deh, gak bisa banyak-banyak :(. Buat yang mau protes karena tulisan yang Lieya buat Cuma sedikit, silahkan menulis keluh kesah kalian di kolom review, Lieya bakalan terima apapun komentar kalian, kecuali bashing tentunya -_-. Hey, next chap bakalan ada anu loh #smirky. Tapi maaf kalau adegannya kurang hot dan terkesan biasa, doh Lieya gk bakat sih buat adegan yang seperti ituhh #gigitlulu. Crackpair kayanya bakalan Lieya ubah deh, sumpah Lieya susah dapet feel Krisho :( kayanya lebih asyik kalau Taoho haha moment mereka juga banyak sepertinya. :v
Buat yang menerka-nerka Luhan mempunyai penyakit parah, selamat kalian semua salah besar, hihi :D. Luhan gak sakit parah kok, daya tubuhnya aja yang lemah, mudah sakit, tidak tahan udara dingin, dsb lah. waks~ pokoknya Luhan itu sebenarnya adalah sosok yang rapuh, gitu ajalah. Chap-chap depan pasti bakalan absurd dan maaf apabila tidak sesuai dengan harapan kalian ( Lieya kan tidak tau apa yang kalian harapkan, yang jelas akhirnya hunhan gitu aja kn :p ) Jadi siapin kantong plastik jika mau muntah karena bosan, sediain tisyu jika ada yang ingin menangis ( Lieya sih yakin kalian nangis bukan karena cerita yang Lieya buat mengharukan, tapi karena tulisan yang Lieya tulis itu ancur menyedihkan, waks~ ). Tapi tak apalah masih ada yang mau baca ada udah untung, haha. :v
Gomawo readersnim udah mau baca #hug :D
See you in the next chap~
R
E
V
I
E
W
?
