Selamat menikmati..
Terlihat Naruto sibuk dengan sebuah pena dan dua kertas kecil di tangannya. Ia begitu teliti dan rapi kali ini agar si penerima pesan dapat membacanya dengan jelas.
Selesai dengan dua kertas kecil ia meletakkan penanya asal dan segera berdiri menghampiri jendela yang sudah siap dua butung pengantar jasa surat penting dan kilat.
'Yang satu untuk Hinata ini aku berangkatkan sekarang.' Dalam hati Naruto bergumam.
Sambil memasukkan kertas dalam kotak berukuran sangat kecil di salah satu kaki burung itu dan burung itu segera terbang.
"Gomen ne.. kamu tunggu di sini sampai teman mu itu kembali membawa pesan balasannya.. tak lama hanya tiga jam.. ok?"
Tak menyadari ada Shikamaru yang bersandar pada pintu Naruto terus mengajak burung yang tinggal satu itu berbicara.
"Kamu akan ke Gaara, semisal waktu yang ku tentukan habis dan teman mu tak kembali. Ja-"
"Aku tahu kau aneh Naruto, tapi aku rasa kali ini kau mulai agak.. yah begitu.." Potong Shikamaru dengan wajah tanpa bersalahnya setelah mengatakan kalimatnya.
"Hei.. sejak kapan di situ Shika?! Kau membuatku kaget."
Naruto tak peduli kalimat Shikamaru yang tahu ia hanya terkejut saat berbicara seeius dengan burung.
"Kau benar-benar aneh empat hari belakangan ini, Naruto. Apa kau sadar?" Tanya Shikamaru dengan tenang sambil berjalan ke kursi yang tersedia di ruangan itu.
"Oh.. aku rasa aku menyadarinya Shika. Tunggu kenapa kau berleha-leha setelah masuk begitu saja. Biasanya kau akan masuk membawa setumpuk masalah." Naruto malah menggerutu dan mendudukkan diri juga.
"Tidak.. kali ini aku ingin tahu jelas sumber keanehan mu yang akut ini." Tanggap Shikamaru singkat.
"Haaah.. kau itu sudah tahu kenapa masih penasaran saja."
"Aku butuh kepastian bukan di gantung seperti ini atas sikapmu."
Shikamaru sepertinya ingin menghibur tapi jika dengan wajah datarnya dan kata-kata seperti itu membuat Naruto mengernyit jijik.
"Kau yang lebih aneh Shikamaru?!"
"Okay-okay.." Mengangkat satu tangan tanda menyerah dan memangku kepalanya.
Naruto mendengus.
"Hyuuga Hinata. Berubah." Dua kata yang Shikamaru ucapkan. Ralat, tiga kata yang begitu mendeskripsikan bagaimana keadaan begitu aneh pada Naruto.
"Kau tahu.." Ucap Natuto pasrah.
"Aku selalu tahu, dan kau sangat terlambat." Tersenyum miring Shikamaru.
"Aku tahu. Dan aku juga tidak bisa mengontrolnya. Perasaan aneh, sesak, dan sakit ini begitu menyiksa. Harusnya dia pagi ini telah tiba tapi ini sudah sore dan dia belum menampakkan diri di perbatasan Suna dan Konoha."
"Aku juga tahu dua hal yang kau fikirkan. Hal positifnya kau selalu meyakinkan diri jika 'dia' masih sibuk di sana dan hal negatifnya kau juga tak bisa menyingkirkan fikiran tentang 'dia' mungkin tak akan kembali ke Konoha."
Dengan tenang Shikamaru berkata memandang raut lesu Naruto.
"Kau tahu. Mungkin aku iuga akan gila." Pelan Naruto berkata.
"Kau memang sudah gila. Sebentar lagi upacara pernikahan mu. Dan 4 hari ini kau sudah tak memusingkanku dengan ocehanmu tentang Sakura."
Ucap Shikamaru sedikit frustasi dengan menggeram saat menyebut nama 'Sakura'.
"Benarkah?!"
Seakan tak percaya Naruto berfikir ulang. Merestart dari awal kejadian ini. Awal mula saat Hinata datang ke hadapannya.
"Kau seakan tak memiliki sesuatu yang penting juga menunggu kabarmu. Sakura dia cemas. Perubahan Hinata juga sudah tersengar oleh Sakura."
Yang Shikamaru lihat selanjutnya adalah Naruto yang bertambah tegang dengan satu butir keringat mengalir di pelipisnya.
Bukan apa-apa. Shikamaru hanya ingin mengingatkan Naruto bahwa Naruto memiliki jalan yang harus ditempuh karena pilihan Naruto sendiri. Bukan juga Shikamaru melarang Naruto untuk tak memikirkan jalur yang berbeda.
Tapi ini semua memang salah obsesi.
Hanya obsesi.
Burung elang hitam dengan mata hitam legam pula. Menghampiri Hinata yang sedang menikmati kunjungannya ke Oase.
Hinata mendekat pada salah satu pohon rindang dan burung itu berpindah pangku pada tangan Hinata.
Segera Hinata membuka kotak kecil di kaki burung itu dan mengambil suratnya.
Hinata tersenyum bergumam 'arigatou' dan mengulurkan tangannya dan burung langsung kembali ke asalnya.
'Tunggu sebentar.'
Isi surat itu begitu singkat tapi membuat sulung Hyuuga itu merekahkan senyuman manisnya.
Hinata benar-benar senang padahal 'dia' hanya perlu berkata seperti itu dalam fikiran'nya' jadi Hinata sudah pasti mengetahui apa yang ingin di sampaikannya.
Hinata tahu persis. 'Dia' ingin menghibur Hinata dan sebuah janji kepastian datang bersamaan.
Jadi Hinata benar-benar senang.
"Hinata cepat kesini.." Teriak Temari di dekat jembatan.
Mereka sedang ada di Oase. Tempat terkenal yang ada di Suna. Tempat yang menakjubkan di tengah gurun pasir.
"Ne Hinata. Pesan dari siapa? Padahal tiga jam lalu sudah menerima pesan benarkan, Gaara.. waah Hinata benar-binar orang sibuk ya dan di sini untuk liburan.. benarkaaaan?!"
Temari menggoda Hinata yang pasti Hinata memerah setelah mendengar gumaman Gaara yang setuju.
"S-seseorang yang p-penting."
Hinata kembali mendudukkan diri di pinggir jembatan dan memasukkan kedua kakinya ke air yang begitu jernih, biru, dan dingin.
"Waah penting yah tapi kita melupakan sesuatu yang penting juga. Sebentar aku akan mengambil minuman. Tunggu ya.."
Dengan cepat Temari berdiri dan melangkahkan kakinya menjauhi duo pendiam.
Posisi duduk mereka berjajar rapat karena ulah Temari yang memaksa. Berurut Dari Hinata, Temari, Gaara.
Dan sekarang tinggal Hinata dan Gaara yang berjarak satu lengan.
Mereka sedang berlibur sejenak dengan bujukan dari Temari. Mungkin tidak perlu bujukan.
Hinata menerima karena memang Hinata ingin mengunjungi Oase dan Gaara yang menerima dangan mudah karena Hinata ikut. Juga Kankurou yang tidak ikut karena dia sedang perjalanan misi.
Ingin memecah keheningan tetapi Gaara didahului oleh burung cokelat yang mendekat ke arahnya dan Gaara segera mengulurkan tanggannya.
Gaara menolehkan kepalanya pada Hinata dan ditanggapi raut bingung.
"Bukan pesanmu lagi?" Tanya Gaara.
"K-kan mendekati G-Gaara-kun." Jawab refleks Hinata.
Setelah itu dengan cepat Gaara membuka pesannya.
'Apakah Hinata masih di sana? Dia belum menyelesaikan misi? Kenapa belum sampai di Konoha?'
Melirikkan ekor matanya pada Hinata yang terlihat tak ingin tahu sama sekali padanya jadi Gaara kembali memfokuskan dirinya seraya berdiri dan memindahkan burung pada dahan pohon.
Naruto itu memang berisik. Tapi setahunya Naruto tak pernah berisik karena gadis yang sedang asik menggoyangkan kaki di pinggir jembatan itu.
Dan setahunya lagi malah Naruto tak pernah membicarakan gadis itu menyinggung sedikit saja tidak pernah terdengar olehnya.
Tapi sekarang lihatlah. Bahkan tanpa basa basi dan tiga pertanyaan tentang satu orang saja.
Gaara mengerutkan kening. Berfikir keras. Sebelum menjawab dengan tepat pesannya ini.
Ingat Hinata menerima dua pesan berbeda dalam selang waktu yang tidak bisa dikatakan lama.
Gaara tertarik pada Hinata. Jangan salahkan matanya yang selalu mengikuti gerak gerik Hinata. Sekarang pun ia melihat Hinata tersenyum sambil menerima minuman dari Temari dan bercakap-cakap. Ah senyumnya.
Kembali Gaara memfokuskan diri dengan membalik tubuhnya.
Hinata menerima surat pertama dari burung coklat. Gaara melirik pada burung yang bertengger manis pada dahan pohon menunggu tugasnya 'coklat' yang sama.
Dan Hinata berekspresi datar dan terkesan dingin setelah membaca pesan pertamanya. Juga tak berniat membalas pesan itu.
Berbanding terbalik dengan pesan ke dua. Hinata terihat antusias sekali dan bukan burung itu yang menghampiri Hinata tapi Hinata yang menghampiri burung itu di pohon rindang dengan berlari kecil.
Pengantar jasa yang tida sopan pikir Gaara. Tapi Gaara ingat warna burung itu 'hitam legam'.
Dan raut Hinata yang 'wow' untuk di pandang menandakan semuanya.
Ah. Jangan lupakan fakta sudah empat hari Hinata di sini. Bukan apa-apa, Gaara malah senang kalau Hinata selamanya di Suna. Tapi bukankah untuk misi mudah mengantarkan undangan, empat hari adalah waktu yang sudah dikatakan lama. Dan sepertinya Hinata juga belum ada tanda-tanda akan segera kembali.
'Hinata belum ingin kembali ke Konoha' Kesimpulan yang Gaara ambil. Gaara memakai kata 'bukan' karena Gaara belum yakin kata 'tidak' akan melengkapi kalimat itu.
Gaara tak menuliskan kalimat itu pada kertas balasan. Dan Gaara menyeringai.
Burung sudah pergi membawa pesan balasan dan tinggal Gaara yang menikmati kebersamaannya dengan Hinata. (Tidak sesuai realita) yang nyatanya dengan kakaknya juga.
'Hn.'
Singkat.
Padat.
Satu kata.
Ambigu.
Menambah kepusingan Naruto dengan segala urusannya sebagai Hokage.
"Aaaaaarrrgggghhhh menyebalkan.. Gaaarrraaaaa awas saja nanti kau.. Hentikan Shikamaru. Hentikan membawa masalah dalam ruangan ini."
Naruto emosi.
Shikamaru mendelik.
Gaara menyeringai.
Gomen ne minna terlalu lama up nya.. semoga menghibur..