Tangan tangan Jimin dengan lincah melipat pakaian Hoseok dan menempatkan pada tas ransel yang ia bawa dari rumah.
Hari ini Hoseok pulang dari rumah sakit. Dokter bilang keadaan kandungan wanita itu tak akan berakibat banyak pada kondisi tubuhnya. Asalkan Hoseok beristirahat dengan cukup dan minum vitamin yang di sarankan.
Jimin senang bukan main. Di sudah bisa melihat senyum cantik kakaknya, walau ia selalu merasa jika senyum tersebut sedikit di paksakan.
Tapi tak apa. Toh Hoseok berusaha mencoba. Walau sebenarnya Jimin sangat benci pada Hoseok yang sok kuat, tapi mau bagaimana lagi. Kakaknya memang seperti itu.
Sesekali Jimin melirik Hoseok yang tengah duduk di kursi rodanya. Mematai jalanan di balik jendela kamar inapnya yang berada di lantai 5. Tatapan matanya terlihat lebih berisi. Namun Jimin yakin jika tatapan itu masih sarat akan kegundahan.
Jimin tau banyak tentang kakaknya. Luar dan dalam. Hoseok tak akan bisa membohongi Jimin, begitupun sebaliknya.
Dalam hatinya Jimin selalu berdoa untuk kebaikan Hoseok. Jimin lelah melihat Hoseok yak berjiwa seperti ini.
Setelah semua pekerjaannya selesai Jimin melangkah kearah Hoseok yang masih tetap duduk di tempat yang sama.
Tangan Jimin membelai lembut kedua bahu Hoseok lalu melingkarkannya di leher sang kakak. Ia menyimpan wajahnya di ceruk leher wanita yang aslinya periang itu.
"Eonni memikirkan apa sih? Kau tak ingat apa kata dokter? Eonni jangan terlalu membebani pikiranmu."
"Tidak, Eonni hanya berpikir tentang Huimang."
"Huimang?" Jimin mengangkat kepalanya.
"Anakku. Harapan ku Jimin."
Mendengarnya Jimin kembali meneteskan air mata. Tapi buru buru ia hapus
"Kenapa yaa harapanku ini seolah di jatuhkan dengan kasar dari sang pencipta. Padahal ku yakin dia akan menjadi harapan yang mulia"
"Jangan bicara seperti itu. Dia akan menjadi kuat Eonni, seperti kau. Dia akan menjadi anak yang hebat seperti..."
Pernyataan Jimin menggantung. Ia salah mengambil kata kata.
"Namjoon."
"Eonni."
"Dia ayahnya Jimin. Mau bagaimanapun aku menolaknya, dia tetap ayah anakku. Tak pernah ada anak yang tak ingin tau ayahnya."
"Eonni dia ayahnya. Dan dia tak menginginkannya. Untuk apa lagi Eonni menangis. Disini ada aku. Yoongi sunbae, dan Darwin oppa. Tidakkah Eonni bahagia dengan itu?"
Hoseok menoleh kebelakang, kearah Jimin. Lalu menenggelamkan wajahnya pada pelukan adiknya. Adik yang kini telah tumbuh dewasa.
"Terimakasih. Jimin, kau adikku yang paling berharga."
.
.
.
Entah berapa lama Taehyung menangis di pelukan Seokjin. Matanya sudah memerah, belum lagi napasnya yang berantakan. Seokjin yang memeluk Taehyung pun sedikit khawatir dengan keadaan kekasihnya yang seperti ini.
Tak henti hentinya Seokjin mengelus sayang kepala Taehyung. Membisikkannya kata kata penenang pada gadis itu.
Seokjin telah menceritakan semuanya secara berurutan. Dari pertermuan terakhir Namjoon hingga ia yang menemukan Namjoon mabuk gila gilaan di kantornya sendiri.
Seokjin melihat dengan jelas bagaimana Namjoon menuangkan wine ke gelasnya. Walau nyatanya yang Seokjin lihat adalah kesepian dan rasa penyesalan yang mengisi gelas tersebut.
Seokjin bisa dengan jelas melihat betapa terpuruknya Namjoon dengan semua yang ia alami.
Tapi ini salah siapa? Seokjin ingin menampar Namjoon atas itu semua.
Tapi Taehyung. Gadis itu tak akan pernah bisa melihat Namjoon menderita.
Sungguh apapun yang terjadi memang salah Namjoon. Pantaslah Hoseok merasa di lukai dengan ucapan kakaknya itu. Taehyung pun mangakui kebejadtan Namjoon. Tapi melihat Namjoon yang seperti ini Taehyung juga tak tahan.
Namjoon telah bangun dan entah karena efek hangovernya atau bukan, pria itu hanya duduk bersandar di headbed nya sambil menatap kosong entah kemana.
Namjoon merasa bodoh bukan main. Ia dengan gegabahnya mengahapus segala kisahnya dengan Hoseok. Menjadikannya warna putih seperti awal. Tanpa ia sadari yang sebenarnya ia hapus adalah gambar yang telah selesai. Gambar mereka dan masa depannya.
Namjoon dengan segala kejeniusannya mendorong Hoseok keluar dari ruang lingkupnya. Walau ia tau jika gadis itu tak bersamanya akan membuat keduanya sama sama rusak.
Terbukti dari Hoseok yang terbaring lemah di rumah sakit dan dirinya yang frustasi tak bisa berbuat apa apa.
Jika Hoseok tak disini, Namjoon tak ubahnya hanya seonggok mayat yang masih bisa bernafas. Itu menyiksanya. Di mana hanya bisa menangis dan menyesali segala hal yang ia perbuat. Walau ia benci setenagah mati dirinya yang lemah. Terlebih karena menyadari kebrengsekannya pada Hoseok. Ia mau bunuh diri saja.
Sudah cukup tatapan kebencian yang Jimin berikan padanya. Ia tak mau melihat itu dari Hoseok.
Ia takut untuk mendekat. Ia akui bahkan Darwin lebih berhak untuk mendampingi Hoseok saat tiba hari persalinanya.
Tapi Namjoon tak rela. Ia ayahnya ia yang harus ada di sana.
Tapi lagi lagi sebuah pertanyaan melintas di benaknya.
'Apa ia pantas, setelah apa yang ia berikan pada Hoseok?'
"Oppa pantas." suara Taehyung yang bergetar menyadarkannya.
Di ambang pintu Taehyung dan Seokjin tengah berdiri. Taehyung berusaha melepaskan rangkulan Seokjin di bahunya. Ia lantas duduk di samping kakaknya tersebut.
"Oppa pantas. Oppa masih pantas mendapatkan kata maaf dengan segala rasa bersalah dan penyesalan yang oppa rasakan."
Tangan Namjoon mengusap sayang helaian rambut Taehyung. Lalu sekilas melirik Seokjin di sisi lain ranjangnya.
Adiknya beruntung. Memiliki Seokjin yang jelas jelas sangat menghargainya sebagai wanita. Mau bagaimana pun sikap Taehyung yang kekanakkan, aneh dan entah apa lagi. Seokjin tetap ada di sampingnya. Tersenyum walau kadang Taehyung menyebalkan.
Dengan sabar Seokjin tetap berusaha bersamanya. Apapun yang terjadi.
Namjoon lega menyadari itu. Taehyung sudah bisa memiliki lelaki yang bisa membuatnya bahagia. Tidak seperti dirinya.
"Aku bahagia kau bersama Seokjin. Dia laki laki yang baik" ucap Namjoon. Ia masih dengan setia menjamah kepala Taehyung " tidak seperti kakak, kakak mu ini brengsek"
"Kau memang brengsek. Syukurlah kau menyadarinya"
Biasanya Namjoon akan melempar Seokjin dengan bantal sofa kalau Seokjin mulai menjahilinya. Tapi ini tidak.
Namjoon malah terdiam lalu sejurus kemudian ia menetes di pipi pria tersebut. Membuat Taehyung ikut menangis dan mau tak mau mata Seokjin berubah jadi merah.
"Apa aku masih bisa mendapatkan Hoseok kembali dengan apa yang telah aku buat kepadanya?"
Seokjin mendekat kearah Namjoon dan menepuk bahunya keras
"Sadarlah bung, kau ayahnya. Sekeras apapun Hoseok atau Jimin menolah, kau tetap ayahnya."
"Tapi apa seorang ayah bertindak sepertiku?"
"Setiap orang punya kesalahan. Sekarang giliranmu yang memutuskan. Apa kau mau tetap seperti itu atau akan pergi kesana untuk mengakui kesalahanmu di depan Hoseok."
Namjoon menunduk dalam. Ia menarik rambutnya frustasi.
"Oppa jangan seperti ini terus. Oppa yang diam hanya akan membuat Hoseok Eonni makin kecewa. Setidaknya temui dia atau Jimin."
"Aku takut Tae. Aku takut."
Mendengar penuturan Namjoon membuat Taehyung diam. Tapi tidak dengan Seokjin. Ia dengan kekuatan yang entah dari mana mencengkram kerah baju Namjoon.
"Kau, mana Namjoon yang aku kenal dulu. Ku akui kau memang bodoh dalam hal percintaan. Tapi ku mohon sobat. Ini masalah serius, kau akan kehilangan dua orang yang kau sayangi jika ini benar benar tak bisa kau selesaikan.
Siapa pun tak bisa menghalangi mu. Entah itu Jimin, aku, Hoseok bahkan kau sendiri pun tak akan bisa. Kau harus tetap menyelesaikan ini apapun yang terjadi."
Ia lalu menghempaskan tubuh Namjoon ke ranjang.
"Berpakaian lah. Ku antar kau kerumah Hoseok."
Maka dengan segera Seokjin menarik Taehyung untuk keluar. Meninggalkan Namjoon sendirian.
.
.
.
Jimin tak henti hentinya memberikan aura pembunuh di depan tiga orang ini. Bahkan Yoongi sama merindingnya dengan ketiga orang di hadapannya.
"Aku mohon Jimin. Kakakku hanya ingin bertemu dengan Hoseok Eonni. Kumohon beri dia kesempatan." Taehyung memelas di hadapan Jimin yang nyatanya tak bergeming sedikitpun.
"Berapa banyak lagi. Berapa banyak kesempatan yang harus kakakku berikan untuk kakakkmu itu hah?"
Taehyung terdiam lagi. Ia tau percis apa yang ada di otak Jimin. Mereka seumuran. Dan Taehyung begitu kagum pada Jimin yang mempunyai pendirian teguh di usia mereka.
Taehyung merasa minder sendiri dengan hal itu.
"Aku mengaku aku salah."
Namjoon tertunduk. Jimin merasa kasihan pada pria itu. Tapi mau bagaimana lagi. Dia sudah terlanjur sakit hati.
Kenyataannya memang Namjoon adalah ayah dari keponakkannya. Tapi egonya menutupi hati nurani Jimin. Ia seakan melupakan fakta bahwa Hoseok begitu mendambakan kehadiran Namjoon di depannya.
"Kau seharusnya mendengarkan perkataan terakhirku tempo hari Namjoon-ssi. Tetaplah pada pada apa yang kau pikirkan. Jangan merubahnya sedikit pun. Karena kenyataannya memang begitu. Yang kau pikirkan memang benar. Aku, aku yang kurang ajar. Yaaa aku memang kurang ajar dan tidak punya sopan santun pada yang lebih tua. Tapi jangan pernah menganggap kakakku jalang. Sekalipun jangan pernah."
Yoongi berusaha menenangkan Jimin. Tapi emosi gadis itu sudah naik ke ubun ubun.
"Karena sekali saja kau menganggapnya seperti itu maka tak akan ada hari esok untukmu."
Jimin berdiri dari duduknya. Seokjin mengangguk maklum, Taehyung merengut sedih. Dan Namjoon tak bisa berkata apa apa lagi.
Yoongi berusaha mengejar Jimin. Gadis itu sudah ada di pintu restoran yang mereka datangi. Lalu tangan putih Yoongi menariknya ke sebuah tempat.
Namjoon tetap diam. Semuanya terasa sangat jelas. Penolakan Jimin benar benar membuatnya putus asa.
Namjoon baru sadar pada apa yang telah ia lepaskan.
Tangan Hoseok, perhatian Hoseok, hati Hoseok. Namjoon ingin sekali seperti dulu. Ia rindu merasakan kehangatan yang selalu Hoseok tawarkan padanya. Yang ia buang begitu saja.
Hidupnya tanpa Hoseok bagaikan langit tanpa awan, yang akan terasa aneh dan menakutkan. Jika bulan punya bintang maka biarlah Namjoon sebagai langit memiliki Hoseok, awannya. Yang walau jauh di bawah sana, ia tetap mau menghiasi diri Namjoon yang kosong melompong.
"Maaf, aku tak bisa berbuat apa apa lagi." ucap Seokjin. Ia berusaha menguatkan hati sahabatnya ini. Walau ia yakin tak akan banyak membantu.
"Dari awal ini memang salah ku"
"Setidaknya oppa sudah berani mengakui kesalahanmu."
Cling
"Namjoon-ssi. Ku izinkan kau. Hanya sekali"
Jimin berdiri di sana.
.
.
.
"Kau mau membawaku kemana oppa?"
"Kesebuah tempat. Kuharap kau menyukainya."
Hoseok mengangguk kecil di kursi rodanya. Ia tersenyum lembut pada setiap orang yang menyapanya selama Darwin mendorong kursi rodanya entah kemana.
Sebuah selimut menyelimuti kaki Hoseok dari udara sore yang menghembuskan angin yang cukup membuat menggigil.
"Apa kau merasa lebih baik akhir akhir ini."
Darwin menghentikan laju kakinya di sebuah taman yang mungkin jaraknya hanya seratus meter dari kediaman Hoseok.
"Lebih baik. Mual ku sudah semakin berkurang. Nafsu makan ku juga bertambah "
"Haah syukurlah."
Hening sejenak. Keduanya memiliki sesuatu untuk di pikirkan.
Berkali kali Darwin melirik ponselnya yang ia letakkan begitu saja di atas bangku taman. Menunggu Jimin memberikannya kode supaya meninggalkan Hoseok.
Sedangkan Hoseok sendiri masih menggantungkan pembicaraannya.
"Namjoon. Bagaimana keadaannya sekarang"
Tiba tiba sebuah balok kayu menghantam ulu hati wanita muda tersebut.
"Ah aku tak tau."
Darwin melirik pada Hoseok yang masih enggan menatapnya. Gadis ini tak pernah berubah. Apapun yang ia tanggung tak akan pernah menghilangkan binar di wajahnya.
Seakan ia di lahirkan hanya untuk menjadi orang paling bahagia di dunia, mau bagaimana pun keadaannya.
Hoseok tetap bersinar, layaknya bunga yang baru mekar.
"Hoseok, maaf sebelumnya. Tapi bagaimana dengan anakmu?"
Darwin manatap dalam ke mata wanita tersebut. Ia hanya ingin memastikan sekali lagi sebelum benar benar me nyerahkan pada orang yang lebih berhak.
Toh Darwin pun tak bisa mengenyahkan keinginannya untuk memiliki Hoseok. Tapi ia tak bisa egois. Ia lebih baik mundur teratur jika memang benar Hoseok masih berharap pada Namjoon.
"Aku akan merawatnya dengan tanganku sendiri. Dengan atau tanpa Namjoon sekali pun"
"Walau ada seseorang yang bersedia menemanimu?"
Hoseok tersenyum sekali lagi. Tak ada penolakan, hanya saja Darwin cukup tau diri. Ia mengangguk lalu tersenyum lembut membalas Hoseok. Tangannya merasakan ponsel di genggamannya bergetar.
"Kau haus, aku akan belikan minumannya dulu."
Hoseok tersenyum sedikit banyak merasa bersalah dengan Darwin. Tapi mau bagai mana lagi. Perasaannya tak bisa di bohongi.
Saat pikirannya dipenuhi rasa bersalah pada Darwin, Sebuah tangan tiba tiba mengelus bahunya. Rasanya familiar, seperti sentuhan seseorang yang begitu sangat ia hapal.
Tangan itu.
"Maafkan aku."
Suara itu. Suara serak nan berat itu. Hoseok mengingatnya. Dengan sangat jelas.
Setitik air mata jatuh ketika lagi lagi kata maaf itu menyapa pendengarannya.
"Moonie?"
Tangan itu turun kelehernya. Memeluknya seperti Jimin memeluk Hoseok waktu itu.
Namjoon menghujani kepala Hoseok dengan kecupan kecupan penuh cinta. Tapi Hoseok tetap diam tak berkutik. Antara senang dan sesak.
Namjoon kembali, tapi kenapa rasanya terlamabat untuk ia bersama Hoseok.
Ada sesuatu yang menghalangi Hoseok untuk membalas perlakuan Namjoon.
"Maafkan aku baby... Maafkan aku."
Hoseok tetap diam. Matanya terpejam merasakan tangan tangan Namjoon yang membelai rambutnya. Hangatnya masih sama. Tapi sebuah lubang kecil juga masih menganga di hatinya.
Masih sakit yang ia rasakan. Rasa rindunya kalah besar dengan sakit yang ia derita. Ucapan Namjoon saat itu seolah menari nari di pelupuk matanya. Terngiang ngiang ditelinganya.
"Aku tau aku tak pantas kau maafkan. Perkataanku terlalu menyakitimu hmmm?"
"Namjoon aku..."
"Tak apa. Kau pukul saja aku sekalian. Aku pantas mendapatkannya. Aku bersalah Hoseok aku bersalah."
Namjoon pindah ke depan Hoseok. Ia berlutut di sana, menggenggam tangan dingin Hoseok. Berharap dengan melihatnya lebih jelas Hoseok bisa mengerti penyesalannya.
"Bisakah kau kembali padaku?"
Hoseok terdiam. Namjoon pun demikian.
Wajah datar Hoseok mengatakan semuanya. Lebih jelas dari kata verbal mengenai perpisahan. Namjoon tau ini akan segera berakhir tapi ia tak sanggup Hoseok pergi lagi. Dia tak akan pernah membiarkan Hoseok mengatakan perpisahan mereka.
"Pegang tanganku sekali lagi. Kumohon"
Hoseok menggeleng pelan. Ia mengingat kata kata Jimin tentang yang namanya ketegaran. Jika memang Hoseok tak pantas untuk Namjoon maka ia seharusnya memang tak pernah ada di samping pria itu, dan membiarkan Namjoon mendapatkan yang lebih baik dari dirinya.
"Kau terlalu jauh Namjoon. Terlalu tinggi untuk ku gapai."
"Jika kau merasa aku terlalu jauh maka izinkan aku mendekat. Jika terlalu tinggi, izinkan aku untuk merendah. Tapi tolong bantu aku. Bantu aku untuk mendekat kearahmu. Jangan hanya diam seperti ini. Kumohon"
"Kau yang mendorongku Namjoon. Kau, kau yang membuat semuanya menjadi rumit."
Namjoon menangis lagi. Ia menunduk di dalam pangkuan Hoseok. Ia sudah tak bisa berbuat apa apa lagi.
Hoseok yang melihatnya pun tak bisa menahan airmata. Maka ia menumpukan kepalanya di atas kepala Namjoon. Mereka menangis bersama. Menangisi ketololan cinta keduanya.
"Maaf Namjoon, maafkan aku. Aku..."
Hold me tight part 2 end.
Yoyoyo gengs. Aku balik. Makasih Mitakun yang sudah mempost ffku sebagai penebusan dosanya.
Satu judul lagi end nih
Maunya kelanjutan kapel ini gimana. Pintu saran selalu terbuka. Saran yaaa bukan requesan
Itu Hoseok nya kira kira minta maaf knapa yaaa? Penasaran.? Sama aku juga.
Jadi di tunggu aja emmm mood ku balik lagi. Nanti aku lanjut kkkkk.
Byee
Note/ mymate jinvnya apa sudah cukup? Maaf karena yang kmaren mreka ngga muncul
Balasan reviews
ddllddll1996
Weeeh kayanya kamu harus nunggu end chapter kalo mau Yoonmin resmi. Di tunggu yaaa
Paling darwin yang terluka. Gpp yaaa
Nam0SuPD
Silahkan siksa Namjoon sesukanya. Aku rela kok. Emang kali kali perlu di kasih pelajaran.
Park RinHyun-Uchiha
Yoongi gitu karena Jimin nya di buat nangis sama Namjoon. Tapi ini namseok lho kak bukan Namjin kkkkk
rarra
Yaaaa sudahlah kamu tungguin aja okeeeee ;)
Zahara Jo
Aku ngga jahat mate ngga jahat. Jangan mojok terus nanti di kira kotoraan
Stupefy-Jin
Udah ku buat kesiksa tuh Namjoon nya kagin, gmana apa yang kurang.
Berhenti tabokkin aku. Tabokin Namjoon aja. Sono
ayuya24
Maafkan cba aja jawabannya lebih jelas.
Itu kan Darwin nya lagi cekup bulanan di rumah sakit. Ketemu Hoseok terus di anterin ke dokterkandungan beb
JirinHope
Jangan berpikiran negatif bae. Namjoon emang brengsek. Tapu Hoseok cuman buat Namjoon. Ok ok ok
