Pedang Kusanagi

Signal internet di rumah mama saya menghilang selama tiga hari, kalau itu tidak terjadi saya sudah upload chapter ini beberapa hari yang lalu. -.-

Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto.


"I'm sorry, Gemma. But we can't live in the light all of the time. You have to take whatever light you can hold into the dark with you."
Libba Bray, A Great and Terrible Beauty.

"Sakura... makanlah sedikit," suara Mebuki terdengar dari luar kamar Sakura. Ia terdengar cemas dan tidak sabaran secara bersamaan. Namun Sakura tidak menjawab. Ia hanya menangis di atas kedua lututnya di dalam kamar yang sama sekali asing buatnya.

"Sakura, aku tahu ini semua adalah shock berat buatmu, tapi kamu dulu menerima berita ini dengan tenang. Kamu tidak pernah menanyakan apa yang terjadi dengan ayahmu sejak kamu kecil dulu," Mebuki jelaskan.

Hal ini bahkan makin membuat Sakura berat hati. Ia tidak mengerti dirinya yang dulu. Kenapa ia tidak pernah menanyakan kabar ayahnya? Apakah ia tidak peduli?

"Tou-san..." Sakura menangis tersedu-sedu.

Ia tahu dengan pasti bahwa Kizashi telah dieksekusi, menggantikan dirinya, alasan lain apalagi yang ayahnya miliki? Kizashi jelaslah bukan pembunuhnya karena Sakura ingat betul siapa yang bertanggung jawab atas kematian klan Uchiha. Sepertinya para Anbu dan ninja penyelidik telah menemukan suatu bukti yang memberatkan Sakura maupun ayahnya. Apakah Kizashi mempercayai bukti itu? Sakura merebahkan dirinya di atas kasurnya dan berteriak penuh rasa bersalah ke dalam bantalnya.

Ia tahu ia harus menodai kedua tangannya dengan darah dan menanggung dosa yang tidak termaafkan, ia rela demi Itachi, Sasuke dan Naruto. Alasannya ia belum juga mengambil nyawanya sendiri adalah karena ia masih ingin mencegah perang ninja keempat terjadi. Itu hanya bisa terjadi jika ia membunuh Tobi dan Kabuto. Tinggal dua nyawa lagi...

Dari luar terdengar suara nampan yang diletakkan di atas lantai dan langkah kaki yang menjauh. Sakura tidak mampu membisikkan kata maaf ke ibunya, mengetahui ia mencemaskan ibunya lebih lama lagi dengan tingkah lakunya.

'Sakura, Danzou telah mengirim seseorang untuk menyelidiki tempat kamu terjatuh di jurang. Aku sebenarnya tidak ingin membujukmu pergi malam ini namun aku bisa merasakan cakra Anbu itu sedang menjauh dari desa. Kalau ia menemukan pedang katana itu, mereka akan menemukan sidik jarimu dan darah semua orang yang telah kamu bunuh. Dan kamu akan diekseskusi...'

Sakura mencoba untuk mengangkat tubuhnya. Penglihatannya masih buyar akibat air matanya yang tak mampu ia hentikan.

"Tidak apa-apa Fu-chan... aku mampu pergi kok..." ujar Sakura dengan suara lemah.

Dengan suara gemetar, masih menangis pilu, ia mencoba menghapus air matanya dan bangkit sembari berjalan ke kamar mandinya. Setelah mencuci wajahnya, ia sudah merasa baikkan. Sakura berjalan lemah ke lemari bajunya untuk memakai pakaian shinobinya, namun dengan terkejut ia mendapati lemarinya hanya memiliki satu pakaian tempur yang lengkap.

"Seharusnya aku punya lebih banyak dari ini..." ujar Sakura heran.

Dengan menghela napas ia menutupi lemarinya. Ia tidak memiliki pilihan lain selain memakai pakaian shinobi satu-satunya.

"Fu-chan, apa kamu tahu kenapa Danzou mengirim orang ke tempat aku terjatuh? Kenapa ia begitu antusias menemukan petunjuk apapun sehubung denganku?"

'Sepertinya dia mencurigaimu. Aku bahkan akan bertaruh, dialah yang menemukan bukti yang memberatkan ayahnmu.'

Perkataan Fu-chan kembali membuat hati Sakura terasa seperti disayat pisau, namun kali ini ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis. Ini bukan waktu yang tepat, ia harus menemukan pedang katana-nya atau ia akan dieksekusi sebelum ia berhasil membunuh Tobi dan Kabuto.

"Bisakah kamu tunjukkan tempatnya Fu-chan?" Sakura membuka jendelanya. Untungnya malam ini langitnya dipenuhi awan, sehingga Sakura tidak bisa melihat bulannya.

'Aku bahkan bisa membawamu kesana,' ujar burung phoenix itu dengan bangga.

"Bagaiman-" perkataan Sakura terpotong ketika seluruh dirinya diselimuti cahaya yang begitu terang, sehingga ia terpaksa menutup kedua matanya. Setelah cahayanya menghilang Sakura mampu membuka matanya dan ia mendapati dirinya berada di dasar jurang yang dalam.

'Jika aku mampu mengendalikan waktu, aku juga bisa menggendalikan ruang,' Fushijou menjelaskan.

"Ini salah satu kemampuanmu?" tanya Sakura dengan rasa kagum sedikit.

'Hanya tiga selain memiliki cakra yang khusus. Yang pertama adalah mengendalikan ruang dan waktu. Kamu akan tahu dua kemampuan lainnya dalam waktu dekat.'

Kunoichi itu mengangkat wajahnya dan ia melihat ke atas. Langit terlihat gelap, namun tidak segelap sekeliling tempat Sakura berdiri. Ia mendesah kesal.

"Aku lupa bawa lampu senter," ia mengeluh.

'Tenang Sakura, gunakan cakramu dengan cakraku. Cakraku akan cukup terang untuk melihat sekelilingmu.'

Setelah berkata begitu, tangan kiri Sakura bersinar terang saat gadis itu mengalirkan cakranya, dengan mudah ia bisa melihat jalan di depannya.

"Arigatou Fu-chan."

Sakura berjalan ke depan, mendapati beberapa ranting pohon yang masih segar. Sepertinya ranting-ranting itu telah terjatuh bersamanya. Sakura melihat ke semua arah. Setelah sepuluh menit berlalu ia mulai ragu akan menemukan pedang itu sebelum Anbu suruhan Danzou muncul. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang bersinar ke arahnya. Sakura berlari ke arah sumber cahaya itu dan mendapati pantulan dirinya di sisi sebuah pedang katana.

"Ketemu..." ujar Sakura penuh syukur. Ia mengangkat pedangnya yang berlumuran darah dan lumpur dan memasukkannya kembali ke sarungnya.

Sakura memeluk pedangnya erat-erat saat Fenikkusu membawanya kembali ke kamarnya. Setelah ia menyembunyikan pedangnya di bawah kasur, Sakura menjatuhkan dirinya di atasnya dan menarik selimut sampai ke dagu.

"Aku harus mengubah pedang itu... Danzou bisa menggeledah kamarku kapan saja. Ia pasti akan mengenali pedang itu sebagai miliknya Itachi. Aku harus memodifikasikannya, sehingga tidak ada yang menghubungkan pedang itu dengan Itachi. Namun aku tidak tahu harus meminta siapa..." Sakura berkata kepada Fenikkusu.

'Aku tahu orang tepat yang bisa melakukan itu. Bukan di desa ini karena sepertinya kamu tidak suka dilihat oleh para penduduk yang lainnya. Orang yang kutahu pasti bisa mengubah pedangmu. Akan kubawakan kamu kepadanya besok.'

Sakura menguap sebelum mengucapkan terima kasih kepada temannya. Tidak lama kemudian ia pun tertidur pulas.

Esok harinya setelah memberitahu ibunya kalau ia merasa tidak enak badan dan ingin tidur sepanjang hari, Sakura mengunci kamarnya dan berpindah ruang dengan bantuan Fushijou. Setelah cahayanya pudar, Sakura mendapati dirinya di depan rumah sederhana di tepi persawahan. Kabut tebal terlihat di sekelilingnya dan Sakura menebak kalau ia sedang berada di dekat desa Kirigakure. Dengan pelan ia melangkah ke arah rumah itu dan mengetok pintunya. Ia sudah tahu sedikit tentang orang yang ingin ia temui dari informasi yang ia dapatkan dari burung phoenix-nya. Tidak lama kemudian pintunya terbuka sedikit dan Sakura melihat sepasang mata yang memandangnya dengan curiga melalui celahnya.

"Selamat siang, maaf mengganggu. Namaku Sakura. Anda tuan Hattori 'kan?" Sakura bertanya dengan ramah.

Orang itu membuka pintunya, dan melihat sekelilingnya bagai seperti menduga ada sebuah armada di sekitar rumahnya, namun ia mendapati Sakura telah datang sendirian.

"Mau apa Nona muda seperti Anda mengunjungi pria tua sepertiku?" tuan Hattori bertanya heran.

"Aku dengar dari... seoarang temanku kalau Anda adalah seorang pembuat pedang yang sangat handal. Leluhur Anda adalah orang yang membuat dan memperbaiki pedang ketujuh shinobi pemegang pedang legendaris "

"Siapa teman Anda?" Hattori tanya balik.

Sakura terlihat gugup sedikit sembari menggosokkan lengannya. "Anu, dia tidak ingin namanya disebut..."

Hattori menyilangkan lengannya. "Teman Nona sangat jeli sekali, sebenarnya aku tidak ingin ditemukan lagi. Para shinobi pemegang pedang legendaris bukan lagi shinobi yang menyandang nama dan kemampuan mereka dengan bangga dan mengharumkan nama desa Kirigakure, namun mereka sudah berubah menjadi monster dan pengkhianat desa. Jika Nona ingin meminta bantuanku, selain membayar harga yang akut tetapkan, Nona harus berjanji untuk tidak memberitahu letak tempat tinggalku ke siapapun, katakan itu juga kepada teman Nona."

"Setuju, dia - maksudku kami, juga tidak ingin ada yang tahu kami kesini..." ujar Sakura jujur.

Sepertinya perkataannya dipercayai Hattori karena ia tersenyum, kemudian mengambil kursi dan mempersilahkan Sakura duduk di teras depan rumahnya. Setelah menawarkan minuman yang ditolak dengan ramah oleh Sakura, ia menanyakan jasa apa yang Sakura inginkan darinya. Kunoichi itu mengembil pedang katana Itachi dari kain putih yang membungkusnya dan mengeluarkan pedang itu dari sarungnya. Sakura telah membersihkannya, sehingga darah dan lumpur sudah tidak terlihat lagi.

Hattori mengambil pedangnya dari tangan Sakura dan mengangkatnya. Ia menyentuh ujungnya dengan jarinya.

"Pedang yang tajam sekali, bahannya sangat bagus. Sayangnya pedang ini memiliki sejarah yang menyedihkan," ia tertawa setelah melihat raut wajah Sakura yang gugup dan menambahkan. "Tenang, aku tidak tahu apa yang pernah terjadi dengan pedang ini, aku hanya bisa merasakan hawa yang mengelilinginya. Aku juga tidak akan bertanya kenapa pedang ini sangat membuatmu sedih."

Sakura menghela napas setelah mendengar penjelasan Hattori.

"Jadi... Nona ingin aku memodifasikannya?" tanya Hattori.

"Iya, ubah bentuk luarnya. Aku... ingin pedang yang tidak mengingatkanku akan masa laluku. Tolong..." ujar Sakura setengah memohon.

"Kenapa tidak membeli pedang baru?" tanya Hattori heran.

Sakura menundukkan kepalanya. Ia pun telah menanyakan hal itu kepada dirinya. Kenapa ia tidak membuang pedang ini jauh-jauh dan mendapat yang baru saja? Kenapa juga harus ia memiliki pedang, selama ini ia bertahan tanpa bantuan pedang apapun. Namun Sakura telah menemukan dua alasan, yang pertama adalah karena pedang ini adalah satu-satunya hal selain pakaiannya yang ia bawa dari masanya. Pedang ini juga adalah satu-satunya hal yang selalu akan mengingatkannya akan dosanya, sehingga ia akan selalu ingat apa yang telah ia lakukan. Alasan kedua adalah...

"Aku membutuhkan pedang ini untuk menyelesaikan tiga urusan," jawab Sakura dengan pandangan serius.

Hattori sedikit terkejut mendengar jawaban Sakura. Ia tidak bertanya selanjutnya dan menyuruh Sakura menunggu sampai pekerjaannya selesai. Dengan pedang katana Itachi, ia kembali masuk ke rumah. Tidak lama kemudian, suara seperti besi dipukul dan api besar bisa terdengar dari belakang rumahnya.

'Tobi dan Kabuto hanyalah dua orang Sakura...'

Aku tahu Fu-chan...

'Kau adalah urusan yang ketiga?' Fenikkusu terdengar sedih untuk pertama kalinya.

Aku tahu aku tidak bisa bertahan lama, mengingat apa yang sudah aku lakukan dan apa yang sudah terjadi kepada Tou-san. Beban ini terlalu berat untuk dipikul.

'Kau tahu apa yang terjadi kalau kamu melakukan itu? Kalau kamu pergi dengan masih begitu banyak keinginan yang belum terkabul?'

Sakura tidak menjawab, sang burung phoenix melanjutkan.

'Kau akan menjadi bagian dari sang Fenikkusu. Cakramu dan jiwamu akan menyatu denganku sampai kita menemukan orang yang pantas yang bisa mengabulkan permohonan kita. Ini bisa memakan waktu bertahun-tahun. Yang kamu miliki setelah bergabung hanyalah kesadaran dan ingatanmu semasa kamu hidup. Kamu tidak akan mampu pergi ke akhirat bertemu dengan orang-orang yang kamu sayangi.'

Sakura terdiam. Apakah menjadi Fenikkusu itu lebih baik daripada menjalani hidup menanggung rasa bersalah yang dalam?

'Kamu masih muda, pikirkanlah. Aku bisa kasih tahu sekarang kalau menjadi burung phoenix juga bukan kehidupan yang menyenangkan.'

Sakura terdiam seribu bahasa sebelum menanyakan sebuah pertanyaan yang penting.

Kau juga dulu... seorang manusia...?

Di dalam hatinya, Sakura bisa merasakan senyum misterius Fenikkusu.

'Kalau Itachi, aku yakin bisa mengubah pikiranmu. Cepat temukan dia Sakura...'

Tunggu! Masih banyak yang ingin aku tanyakan! Sakura memohon saat merasakan Fushijou menyembunyikan dirinya di bayang-bayang relung hatinya yang terdalam. Ia terkadang-kadang melakukan hal itu dan Sakura tidak akan mampu berbicara dengannya sampai burung itu keluar. Alasan ia melakukannya, Sakura tidak tahu.

Sakura sekarang tertinggal sendiri, menunggu pedangnya selesai diubah. Sakura menyangga kepalanya dan memikirkan hal-hal selanjutnya yang harus ia lakukan.

Ia ingin bertemu Itachi, ingin sekali. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan memiliki kesempatan bertemu Itachi setelah ia meninggal dalam pertarungannya melawan Sasuke. Sakura masih ingat betapa ia menangis tersedu-sedu di samping jenazah Itachi di dalam hujan sambil memeluknya erat-erat.

Di masanya Sakura, ia telah jatuh cinta kedapa Itachi dan ia merasa bahwa Itachi juga menyukainya. Apakah Itachi di masa ini juga akan menyukainya? Mengingat kematian akan ayahnya, Sakura sadar bahwa telah terjadi beberapa perubahan akibat perbuatannya di masa lalu.

Aku harus siap siaga mulai sekarang, siapa tahu ada beberapa perubahan drastis lainnya. Hal pertama yang akan kulakukan besok adalah pergi ke Tsunade dan bertanya apa aku bisa kerja kembali di rumah sakit. Oh ya, ketemu Kakashi-sensei juga... entah kenapa aku rindu mendengar lelucon sensei. Terakhir kali aku melihatnya adalah saat ia diculik Obito ke dimensi yang jauh. Aku heran kenapa ia tidak mengunjungiku di rumah sakit ya...? Ino juga tidak datang... Kalau dipikir-pikir yang mengunjungiku hanyalah Neji, Kiba, Shino dan Hinata. Mungkin yang lainnya datang saat aku lagi tertidur, atau mereka sedang menjalankan misi. Tapi biasanya Ino akan meninggalkan bunga di kamarku. Naruto juga, tidak pernah menggodaku sekalipun, dia bersikap sedikit beda dengan Naruto yang kukenal. Sikapnya kepadaku seperti sikapnya terhadap Gaara, seperti bersahabat dan penuh pengertian, namun belum dekat karena tidak cukup lama mengenalnya.

Sakura menghembuskan napas panjang.

Sebaiknya aku kembali menjalankan misi bersama timku, itu lebih baik daripada bermuram durja dan menangis di kamarku.

Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan Hattori keluar dengan senyum puas. Kedua tangannya membawa sesuatu yang panjang yang dibalut kain putih yang Sakura bawa sebelumnya.

"Sudah selesai, pedangnya sekarang berbeda sekali. Aku bahkan sudah mengasahnya, pedang ini sungguh salah satu karyaku yang paling kubanggakan."

Sakura melepaskan kain yang membalutnya. Ia terdiam seribu bahasa karena ia pernah melihat pedang ini beberapa kali, namun bukan di tangan Itachi. Di masanya, pedang ini hampir membunuhnya sekali sebelum ia diselamatkan oleh Yamato-sensei. Pedang ini telah menyerang Naruto sering kali, pedang ini telah mencoba melukai Itachi beberapa kali. Pedang ini dulu miliknya seseorang yang pernah ia cintai sepenuh hati.

"Aku juga menemukan salah satu keahlian bahannya, pedang ini bisa menghantarkan listrik dengan sangat baik," ujar Hattori puas.

Sakura menyentuh ganggangnya yang berwarna putih dengan garis hitam tebal di tengahnya. Ia tidak tahu apakah ini takdir atau lelucon Kami-sama sampai pedang ini sekarang menjadi miliknya.

"Biasanya setiap pedang memiliki nama tersendiri. Apakah pedang ini juga mempunyai nama?" tanya Hattori dengan penuh rasa ingin tahu.

Sakura mengeluarkan pedang itu dari sarungnya dan mengangkatnya tinggi sembari memperhatikannya dari ganggang sampai ujungnya.

"Kusanagi," jawab Sakura. "Nama pedang ini adalah Kusanagi."


Sekedar informasi yang "random" sekali. Tonton honest trailers dan "everything wrong with -" Saya tertawa terbahak-bahak nonton video-video itu di youtube.