Chapter 9

"Badai yang mengamuk dibalik mataku, diam yang tersembunyi dalam suaraku, hanya dia yang tahu."

"Wonwoo-ya kau tidak apa-apa?!" Soonyoung langsung menerobos masuk begitu para polisi keluar. Dia teramat kaget ketika melihat darah merembes dileher temannya. "Astaga!" sapu tangan yang tergeletak dilantai diambil olehnya. Soonyoung buru-buru mengelap leher Wonwoo.

"Aku baik-baik saja." Jawab Wonwoo pelan. Maniknya melirik Mingyu yang membatu.

"Mingyu-ya cepat antar Wonwoo ke rumah." Ucap Soonyoung khawatir. Namun pemuda tinggi itu tetap bergeming. Matanya berkaca-kaca.

Wonwoo menggigit bibir bawahnya mengalihkan pandangan. Kepalanya pening. Apakah adik tirinya marah. Dia merutuki dirinya. sial, tentu saja.

"Aku akan pulang dengan penasihat Choi, Mingyu nanti menyusul."

"Tapi Mingyu—"

"Soonyoung, ayo." Wonwoo memotong, menarik tangan pemuda hamster. Manik matanya bertemu kilat dengan milik Mingyu. Saat itu, Wonwoo merasa ingin menangis.

"Eomma… eomma…" Mingyu terus terisak semenjak datang ke rumah sakit. Wonwoo yang duduk disampingnya membisu, kaget dan sangat terpukul. Matanya merah karena air mata yang tertahan. Menangis pun baginya terasa sulit.

Hatinya berkecamuk. Kenapa orang tuanya meninggalkan dirinya begitu cepat, kenapa ibu Mingyu yang jahat masih hidup. Wonwoo membenci kehidupannya, membenci takdir yang membuatnya seperti ini.

Tangannya bergetar karena terkepal begitu keras.

Dia muak dengan orang-orang disekitarnya yang gila harta. Orang-orang yang datang kesana berbisik-bisik mengenai warisan.

Dia adalah anak kandung ayahnya.

Kim Minjung yang hanya memanfaatkan sang ayah tak berhak mendapatkan sepeser pun.

Wonwoo ingin menyingkirkan orang-orang yang merasa bersyukur atas kematian ayahnya. Wonwoo harus mengenyahkan para sampah itu.

Wonwoo tak ingin pencapaian yang telah dibangun oleh ayahnya jatuh pada tangan nenek sihir itu.

Wanita yang telah merusak keluarganya.

Wanita yang telah memperlakukan dirinya dengan kejam.

Wanita yang telah membunuh ibunya.

Dia harus jadi ahli waris satu-satunya.

Sehingga pada malam itu, ia membuka pintu kamar Kim Minjung. Matanya yang merah menatap pada eksistensi Mingyu yang duduk tertidur disamping ibunya. Pupil hitam yang memancar tajam penuh rasa marah ditujukan pada sosok wanita yang tengah terbaring dengan napas yang begitu lemah menguap pada alat bantu pernapasannya.

Kim Minjung kini begitu tak berdaya.

Tak akan ada siraman air es mengguyur tubuh Wonwoo.

Tak akan ada memar karena bekas pukulan.

Tak akan ada lagi yang menyanyat hatinya karena perkataan yang menyakitkan.

Wonwoo berjalan perlahan mendekati, menjaga langkahnya agar tak menimbulkan bunyi.

Tangannya dengan gemetar menggapai alat pernapasan sang ibu tiri.

Peluh dingin mengucur diwajahnya.

Wonwoo baru saja mengangkat sedikit alat tersebut. Namun pintu kamar terbuka. Wonwoo menarik kembali tangannya. Sebuah panggilan membuat jantungnya merosot kaget.

"Wonwoo?"

Pemuda kurus itu duduk gelisah disofa ruang tengah. Sudah tengah malam namun Mingyu belum juga datang. Dia berkali-kali menghubunginya tetapi nihil respon.

'Mingyu cepat pulang, aku akan menjelaskan semuanya.'

Itu adalah pesan terakhir yang Wonwoo kirim. Dia menatap cemas telepon genggamnya, semua pesannya sudah diterima.

Apa Mingyu membencinya?

Apakah dia akan berhenti menjadi pelayannya?

Apa Mingyu akan pergi dari sisinya?

Suara gemuruh dari langit menghentikan lamunan Wonwoo. Pemuda itu semakin gelisah. Dia cemas jika Mingyu tidak akan pulang, dia tak ingin sendirian disaat cuaca seperti ini.

Wonwoo takut.

Hujan kemudian turun dengan cepat, Wonwoo dapat melihat tetesan air langit itu turun dengan deras melalui jendela.

Wonwoo memejamkan matanya, alisnya berkerut menahan putaran memori menyakitkan kala dirinya ditinggalkan diluar ditengah hujan. Sendirian, dengan angin kencang dan petir menggelegar, menahan dingin dan ketakutan.

Wonwoo menangis. Dia berteriak, menyumpahi Kim Minjung sekeras-kerasnya, menandingi bunyi derasnya butiran hujan yang jatuh ke permukaan bumi tanpa jeda. Semakin lama, Wonwoo mulai putus asa, dia berbalik. Berjalan mencari tempat berteduh sepertinya lebih baik daripada terus menangis mengenaskan disini.

Namun tiba-tiba seseorang membuka gerbang, berjalan mendekat dengan payung hitam besar diatas kepala mungilnya, dia menepuk pundak Wonwoo dari belakang.

"Hyung, ayo masuk ke rumah."

Wonwoo terdiam. Merasa tenang mendengar suaranya. Telapak tangan yang menyentuhnya tadi terasa begitu hangat. Tiba-tiba, Wonwoo memeluk Mingyu dengan erat. Sosok hangat yang mampu menghidupkan asa nya.

Dapat Mingyu rasakan tubuh kakaknya bergetar karena dingin dan takut. Ia membalas dekapan dengan satu tangan, mengusap punggung basah kuyup dengan lembut.

"Aku akan memelukmu, sampai pagi, sampai kau terbangun, sampai tubuhmu menjadi hangat."

Mata Wonwoo berair. Dari awal kedatangannya, Mingyu adalah anak yang baik, penurut juga penyayang. Mingyu benar-benar menganggap Wonwoo sebagai seorang kakak, yang harus dihormati, dijaga dan disayangi.

Sedangkan bagi Wonwoo, hatinya masih enggan mengakui Mingyu sebagai seorang adik. Bukan karena dirinya tak pernah tersentuh sama sekali oleh sikap Mingyu. Namun, setiap hatinya berkata bahwa Wonwoo menyayangi Mingyu, kepalanya akan berpikir tentang Kim Minjung—ibunya. Apa yang telah wanita itu perbuat pada keluarganya, dan bagaimana perlakuannya terhadap Wonwoo. Tapi saat hati Wonwoo berkata 'Aku membenci Mingyu', ia juga berpikir bahwa Mingyu tak pantas untuk dibenci, dia adalah anak yang baik, sangat baik.

Kilatan petir terlihat jelas dari jendela, seakan-akan garis bercahaya putih itu membelah langit yang kelabu.

Wonwoo menutup erat-erat sepasang mata dan telinganya ketika suara guntur yang menggelegar menyusul. Dadanya berdegup kencang.

"Mingyu!" dia berteriak cukup keras.

"Tuan!"

Wonwoo tertegun.

Apakah ini mimpi?

Pemuda itu merasakan tubuhnya dibawa kedalam sebuah dekapan.

Aroma yang ia kenal.

Kehangatan yang familiar.

"Mingyu…" bibirnya bergetar menahan tangis.

Wonwoo selalu yakin, Mingyu akan datang. Pelayannya itu pasti ada disampingnya, saat ia tertekan, saat ketakutan dan menangis.

Mingyu selalu ada disaat Wonwoo membutuhkan. Disaat ia butuh sebuah pelukan.

"Aku disini." Lalu dekapan itu semakin kuat.

Setelah Wonwoo berangsur tenang, Mingyu menjauhkan badannya. Matanya dengan lekat memindai sang tuan. Kemudian tanpa basa-basi, tubuh kurus itu digendong.

Wonwoo terbelalak, dia menatap Mingyu yang sedang fokus melihat jalan menaiki tangga tanpa bekedip. Ingin berkata sesuatu namun bingung.

Pintu kamarnya dibuka, Mingyu berjalan masuk lalu membaringkan Wonwoo dikasur besarnya.

Keduanya masih membisu.

Setelah itu, Mingyu berjalan mendekati lemari, membuka salah satu pintu dari kayu tersebut lalu mengambil baju tidur Wonwoo dan menutup kembali pintunya. Kemudian berjalan lagi menghampiri ranjang. Wonwoo memperhatikan setiap pergerakan Mingyu dengan jeli.

Dia sangat kebingungan. Apakah semuanya baik-baik saja. Tak adakah yang ingin Mingyu katakan.

Sang pelayan mengusap bekas luka dileher tuannya, keningnya mengerut khawatir. Luka itu diusap lagi dengan lembut sebelum tangannya beralih pada kemeja yang Wonwoo kenakan.

"M-mingyu…" pemuda itu memutuskan angkat suara disaat pelayannya kini tengah membukakan kancing kemejanya.

"Tuan benar-benar tak melakukan apapun saat aku pergi. Aku pikir setidaknya kau akan mengganti bajumu ini sendiri" kemeja ditanggalkan, Mingyu tersenyum "Ternyata kau tak bisa melakukan apapun tanpaku ya tuan."

"Iya!"

Mingyu terlonjak, kegiatannya terhenti.

"Kau benar, aku tak bisa melakukan apapun tanpamu. Aku tak bisa mengganti bajuku, tak bisa mandi, tak bisa makan, bahkan berjalan ke kamar saja rasanya sulit!" mereka saling bertatapan, mata rubah Wonwoo yang begitu kuat mengarah lurus pada manik Mingyu yang membesar karena kaget.

"Maka dari itu, jangan pergi, jangan berani tinggalkan aku sendiri, aku bisa kelaparan, aku bisa membusuk, aku bisa mati!" dada Wonwoo naik turun karena deru napasnya.

"Aku bisa mati tanpamu." Volumenya perlahan menjadi pelan nyaris tak terdengar. Wonwoo menunduk meneteskan air matanya.

Lama, Mingyu diam. Ada sesuatu yang berdentum dalam hatinya.

Sesuatu yang membahagiakan.

Mingyu mendekatkan kepalanya, meraih wajah Wonwoo dengan kedua tangannya, membingkai muka pucat yang dibanjiri air mata tersebut.

Mingyu begitu terharu. Tuannya yang selalu berselimutkan ketegaran yang kuat didepan orang lain, bertopengkan keangkuhan. Padahal ia hanya sosok rapuh yang takut kesepian.

"Maafkan aku tuan, aku tadi pergi untuk memastikan sesuatu. Sungguh aku berjanji tak akan membiarkanmu sendiri lagi. Aku benar-benar minta maaf, aku—""

"Kau tak marah padaku?" Wonwoo memotong cepat.

"Marah?" Mingyu keheranan.

"Yang dikatakan Sekretaris Lee, Kau tak marah padaku? Tak meminta penjelasan apapun? Kau terlihat tidak baik-baik saja saat mendengar hal itu." Wonwoo tak mengerti dengan tingkah laku Mingyu saat ini. Bagaimana ia bersikap seolah tak terjadi apapun.

Jeda ini membuat Wonwoo kalut.

Detakan jantungnya bahkan terdengar saking sunyinya.

"Aku…" Mingyu melepaskan tangannya dari wajah Wonwoo, dia menggigit bibir bawahnya "tahu. Malam itu… di rumah sakit, aku tidak tidur."

Wonwoo tercenang. Dia tak percaya ini.

"Lalu kenapa kau tidak menghentikanku saat aku mencoba mengakhiri napas ibumu?"

"Karena aku percaya padamu. Aku tahu kau tak akan melakukan itu. Aku percaya pada hatimu." Jawab Mingyu lembut, air mata menetes melewati pipinya.

Wonwoo mengusap wajahnya. Ia menunduk.

Bagaimana Mingyu begitu yakin pada dirinya. Padahal sejak dulu Wonwoo tak pernah melakukan hal baik pada pemuda itu, ia hanya membalas setiap perbuatan Mingyu dengan sinis.

"Kau tak membunuh eomma tuan, aku tahu."

Wonwoo menatapnya lekat. Apa yang telah ia lakukan sehingga berhak menerima sosok Mingyu disampingnya.

"Kenapa…" Air mata Wonwoo menetes lagi, sorot mata Mingyu begitu hangat dan membuatnya tenang. "Kau tak pernah marah padaku Mingyu? Aku sudah memperlakukanmu dengan sangat tidak pantas. Kenapa?"

Mingyu meraih lagi wajah tersebut, wajah Wonwoo yang tanpa topeng apapun dihadapannya.

"Aku menyayangimu." Pemuda itu tersenyum dengan tulus. Wonwoo langsung memeluknya, menangis tersedu-sedu dibahunya yang lebar.

Dalam tangisnya Wonwoo berterimakasih kepada takdir. Tak semuanya kepedihan yang dikirimkan pada hidupnya. Setidaknya dalam langitnya yang kelam dan pilu ada satu bintang menggantung menerangi, meskipun tak seberapa, tapi cahayanya tak akan redup.

Bintang itu ada dalam dekapannya.

"Tuan tidak kedinginan?" Mingyu mendekapnya semakin erat, berusaha menutupi punggung telanjang itu dengan kedua lengannya.

"Tidak, aku ada dalam pelukanmu yang hangat." Wonwoo pun semakin melekat pada tubuh Mingyu, menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang pelayan.

Mingyu tersenyum, menampakkan gigi taringnya. Ia membawa Wonwoo berbaring, menaikkan selimut dengan satu tangannya.

"Aku akan memelukmu, sampai pagi, sampai kau terbangun, tuan."

TBC

/menjerit/ xD Aku minta maaf kalau ini kependekan, tapi aku berusaha untuk update secepat mungkin. Dan tak berhenti berterimakasih pada para readers yang mau membaca karya 'maksa' aku ini apalagi yang sempat meninggalkan review /bow/

Semoga tak ada halangan apapun jadi aku bisa tamatin Loyalty dengan cepat :D

Sekian. Sampai jumpa~

-Raa