Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst

Rated: M

Pairing: SasuSaku, Onesided NaruSaku, and Other Pairing

Warning: AU, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, Labil, Karakterisasi berubah-ubah, kecepatan update per chapter sangat lama dan berbagai hal lain.

Inspired by manga Kimi No Sei

Naruto © Masashi Kishimoto


Kimi No Sei

Story by: Akina Takahashi

Chapter 9: Buried Love

"Sasuke—" Mata emerald Sakura menatap tajam mata onyx Sasuke. "Kenapa kau melakukan ini padaku?"

Sasuke menggenggam tangan kanan Sakura. Membimbingnya menuju ke dalam aula Konoha City Hall yang menjadi lokasi upacara pernikahan Naruto dan Hinata yang akan dilaksanakan satu jam lagi. Ia hanya terdiam sebelum akhirnya Sakura menyentak genggaman tangannya. "Hei jawab aku! Dasar brengsek!"

Mata hitam Sasuke mengamati gadis cantik yang ada di hadapannya gaun strapless selutut berwarna biru laut, sarung tangan putih sepanjang siku yang membuatnya semakin terlihat anggun. Bekas luka sayatan yang memenuhi lengan kirinya pun tidak terlihat karena tertutup oleh sarung tangan putih itu. Wajah cantik Sakura semakin terlihat manis dengan riasan tipis yang menghiasinya. Rambut panjangnya digelung ke atas, menyisakan poni dan sebagian rambut bagian didepannya menjuntai membingkai wajahnya. Tak sia-sia Sasuke menyeret paksa Sakura ke salon terdekat sebelum akhirnya membawa gadis itu menghadiri acara pernikahan Naruto. Sementara ia sendiri semakin terlihat tampan setelah mengenakan setelan jas berwarna hitam yang telah dibawanya sebelumnya. Yah, setidaknya ia pun ingin terlihat rapi di acara ini.

Sasuke menghela napas sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Sakura. "Aku ingin kau menyelesaikan semuanya. Disini. Sekarang."

"Cih." Sakura mendecih. "Aku tidak mengerti maksudmu. Menyelesaikan apa? Tidak ada yang perlu diselesaikan."

"Selesaikan perasaanmu pada orang yang bernama Naruto itu." Sasuke memaksa Sakura menatap wajahnya. "Katakan perasaanmu padanya."

Sakura menggigit bibir bawahnya. "Semuanya sudah terlambat— Sasuke."

"Setidaknya kau tidak perlu lagi memendam cinta sia-sia padanya." Jawaban Sasuke membuat bahu Sakura menegang.

"Lalu apa yang akan terjadi jika aku memberi tahu perasaanku padanya?" Tanya Sakura retoris. "Pernikahannya dengan Hinata akan hancur? Atau mungkin membuat Naruto merasa bersalah seumur hidup karena selama delapan tahun terakhir tidak menyadari perasaanku padanya?"

Sasuke tersentak mendengar perkataan Sakura. Benar juga apa yang dikatakan gadis itu.

"Ada kalanya sisi lain diriku mengatakan bahwa akan menyenangkan jika aku melihat Naruto menderita karena sudah membiarkanku menyimpan perasaan ini sendirian. Namun di sisi lain, aku sangat mencintainya sampai-sampai aku tidak kuat melihatnya menangis."

Belum sempat Sasuke menanggapi perkataan Sakura, Ino beserta kedua orang tua Naruto menghampiri mereka. "Forehead!"

"Ino—" Mata Sakura melebar ketika melihat kedua orang tua Naruto berada di belakang sahabatnya itu. "Kushina-sama— Minato-sama—"

"Yokatta, akhirnya kau datang juga Sakura-chan!" Kushina memeluk Sakura erat sementara Minato hanya tersenyum tipis. "Kami pikir kau tidak akan datang. Kami hampir saja menelepon polisi karena sudah beberapa hari ini kami tidak mendengar kabar darimu."

Sakura tersenyum berusaha menenangkan Kushina yang terlihat panik sebelumnya. "Aku hanya sedang sibuk mengerjakan penelitian di laboratorium anatomi sampai-sampai aku lupa membawa charger ponselku."

"Tak apa yang penting kau datang." Ino berusaha mencairkan suasana.

"Kushina dan Ino sangat mencemaskanmu." Minato akhirnya angkat bicara.

"Gomen—"

"Sudah-sudah." Kushina melepaskan pelukannya. Ia menatap Sasuke yang berdiri disamping Sakura. "Daripada itu— lebih baik kau kenalkan siapa pemuda tampan yang datang bersamamu ini Sakura."

"Ah— perkenalkan ini Uchiha Sasuke, dia—" belum sempat Sakura menyelesaikan perkataannya, Sasuke segera menambahkan. "Kekasih Sakura. Salam kenal." Sasuke menjabat tangan Kushina dan Minato.

"Whoa! Sakura kenapa kau tidak menceritakan jika kau mempunyai kekasih setampan ini?" Kushina terlihat sangat senang. Ino dan Sakura sempat bertatapan sesaat sebelum akhirnya Minato menarik lengan Kushina. "Kushina, sebaiknya kita menyapa Hiashi-san." Mata birunya mengamati Hyuuga Hiashi yang baru saja datang.

"Baiklah." Kushina mengangguk. "Sampai nanti ya Sasuke!"

.

.

.

.

.

Ino menggerutu kesal. "Apa sih yang ada di pikiranmu Sakura?" Ia mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai sambil melipat tangannya di depan dada. Gaun putih selutut tanpa lengan membuat penampilan si pirang ini semakin anggun dan cantik. "Kau membuatku hampir gila karena khawatir tahu!"

"Gomen ne Ino-pig."

"Huf, ya sudahlah." Ino membalas senyuman Sakura. Matanya melebar ketika ia melihat Sai berada di pintu masuk. "Aku akan menemui Sai dulu ya. Jaa naa Sakura!"

"Ya, sampai nanti Ino."

"Hhh... merepotkan..." Sakura bergumam sebelum akhirnya Sasuke memecah keheningan.

"Sebaiknya kau segera menyelesaikan semuanya."

"Apa memangnya yang harus kulakukan Sasuke?"

Sasuke hanya terdiam. Ia menarik Sakura ke dalam pelukannya. "Lakukan yang terbaik menurutmu." Bisiknya di telinga Sakura. "Aku akan menunggu disini."

Sakura menggigit bibir bawahnya dan bergumam pelan. "Arigatou" sebelum akhirnya berjalan menjauhi Sasuke.

"Hn..."

.

.

.


Kimi No Sei by Akina Takahashi

Published on fanfictiondotnet

Do not copy or publish it anywhere without Author's permission

Jangan menyalin dan atau mempublish sebagian ataupun seluruh karya ini tanpa seizin Author


.

.

.

"Sakura-chan—" Naruto terlihat kaget ketika Sakura tiba-tiba saja muncul di belakangnya. Saat ini ia sedang berada di ruang ganti dan sedang bersiap-siap untuk upacara pernikahannya yang akan segera dimulai.

"Hai, Naruto-niisama!" sapa Sakura riang. Ia menutup pintu di belakangnya. "Wah, kau tampan juga ya ternyata."

Naruto tidak bekata apa-apa.

"Ada yang salah, Naruto-niisama?" Suara Sakura mulai goyah. Ia menoleh ke arah cermin rias, dan melihat bayangan dirinya sendiri.

Sakura sudah sempat sedikit percaya diri tadi, namun sekarang ketika ia berhadapan dengan Naruto ia kehilangan semua kalimat yang sudah disiapkannya tadi. Sakura sadar dalam hatinya yang paling dalam ia masih belum mau kehilangan Naruto.

"Sakura-chan." Naruto tiba-tiba saja berdiri dari tempat duduknya dan berjalan tepat ke depan Sakura. Naruto berkata dengan nada serius. "Kenapa—" Ia menghela napas sesaat sebelum melanjutkan pertanyaannya kembali."—belakangan ini kau menghindariku?"

"Ah— tidak kok." Sakura sedikit tergagap. "Aku tidak menghindarimu. Beberapa hari ini aku hanya terlalu sibuk mengerjakan penelitianku sampai aku lupa segalanya." Ia sama sekali tidak mengira kalau Naruto akan menyadari tingkahnya yang agak aneh akhir-akhir ini. "Kau tahu kan kalau aku sudah terfokus pada satu hal aku akan melupakan segalanya hahaha." Ia tertawa hambar.

"Jujurlah, Sakura-chan." Naruto berujar. Sekarang ia terdengar lebih sedih. "Mendadak saja kau menghindariku. Aku tidak mengerti kenapa... Apa salahku, Sakura-chan?"

Sekarang Sakura jadi merasa agak bersalah karena ia telah berbohong tadi. Memang benar beberapa ini ia menyibukkan dirinya mengerjakan penelitian, namun itu bukan alasan utama mengapa ia menghindari Naruto. Ia mundur selangkah, merapat ke pintu. "A-aku..." Kalimatnya menggantung di udara.

Ingin rasanya Sakura berteriak pada Naruto sekarang. Namun entah kenapa tenggorokannya terasa tercekat dan ia tak bisa mengeluarkan apa yang ada di pikirannya sekarang.

"Sakura-chan..."

Perlahan, Sakura mengalihkan pandangannya dari jendela ke mata Naruto. Naruto kelihatan bersungguh-sungguh.

"Ne, Naruto-niisama... katakan padaku. Mengapa kau menolongku? Mengapa kau tidak membiarkanku mati tenggelam saja waktu itu." Suara Sakura sedikit bergetar. "Apakah... aku berarti bagimu?" tanya Sakura.

Naruto kelihatan bingung mendengar pertanyaan Sakura. Ia mundur, menatap Sakura dengan pandangan tidak percaya. "Tentu saja kau sangat berarti bagiku! Kau itu adik terbaik yang kumiliki Sakura-chan! Kau sangat penting bagiku!" Naruto terlihat sedih dan kecewa. "Lagipula apakah aku harus mempunyai alasan untuk menolong seorang gadis kecil yang hampir mati tenggelam di hadapanku? Manusia macam apa aku jika aku membiarkanmu mati waktu itu, Sakura-chan?"

Sakura tersentak. Ia tahu pertanyaannya berhasil menyinggung Naruto.

"Gomen, aku tidak bermaksud—"

"Aku mengerti Sakura-chan—" Naruto memotong perkataan Sakura. "Kau tidak bermaksud menyinggungku—"

Sakura dengan segera memotong perkataan Naruto. "Aku—" Napasnya terputus sesaat. "Aku hanya terlalu kaget ketika mendengar kau akan menikah."

"Eh?"

"Aku menghindarimu karena aku takut kehilanganmu!" Sakura sedikit berteriak kali ini. Tanpa sadar air mata mengalir di kedua belah pipinya. "Aku takut jika kau pergi maka aku akan kembali menyiksa diriku seperti dulu! Aku— aku takut jika kau tak ada maka aku akan kehilangan motivasiku untuk sembuh sepenuhnya."

"Sakura-chan—" Naruto memeluk erat Sakura yang masih terlihat kacau.

"Aku—" Sakura merasa napasnya tercekat.

Mencintaimu.

Aku mencintaimu Naruto!

Namun tak ada kata yang keluar dari mulutnya begitu bayangan pernikahan Naruto hancur karena pernyataan cintanya hari ini. Demi Tuhan! Ia tidak ingin melihat Naruto menderita. Ia tak ingin melihat Naruto hancur hanya karena keegoisannya. Sejak dulu ia tahu pemuda itu tidak akan pernah membalas cintanya. Ia tahu bahwa selamanya Naruto hanya akan menganggapnya seorang adik.

"Dengar, Sakura-chan." Naruto mengangkat dagu Sakura, memaksa mata emerald gadis itu untuk bertemu dengan mata ceruleannya. "Dengan siapapun aku menikah, aku akan tetap menyayangimu. Kau sangat berarti bagiku."

Sakura hanya terdiam. Air mata mengalir perlahan menuruni pipi putihnya. Naruto menghapus airmata gadis itu dengan ibu jarinya. "Kau itu kuat Sakura-chan! Kau harus melawan mental disorder-mu sendiri. Jangan jadikan aku alasan untuk sembuh. Jadikan dirimu sendiri sebagai alasan— sebagai motivasi bagimu."

Sakura terdiam sesaat. Ia menghapus sisa-sisa air matanya.

"Aku akan berusaha." Ia memaksakan dirinya tersenyum. "Terima kasih atas nasihatnya Naruto-niisama." Ia membungkukkan badannya memberi hormat pada Naruto.

"Sakura-chan— kau tidak perlu membungkuk serendah itu padaku." Naruto terlihat salah tingkah. "Ah iya— ayah dan ibu tadi mencarimu."

"Ya, aku tadi sudah bertemu dengan mereka." Sakura tersenyum lebar. "Ah, mungkin setelah ini aku akan kembali sibuk dengan penelitianku, jadi mungkin aku tidak bisa terus berada di rumah— kau tidak perlu lagi khawatir padaku." Sakura melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar. "Semoga kau bahagia!"

"BLAM"

Dan beberapa saat kemudian pintu tertutup.

Pada akhirnya aku tidak dapat mengatakan perasaanku pada Naruto.

Tapi mungkin ini yang terbaik.

Mungkin memendam perasaan ini sendiri adalah yang terbaik.

.

.

.

Sakura mengamati Sasuke yang masih berdiri menunggunya di aula. Gadis itu menatap sendu sang Uchiha sebelum melangkahkan kakinya menjauhi punggung pemuda itu yang membelakanginya.

Gomen ne Sasuke-kun—

Jangan menungguku lagi.

Kau berhak mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik daripada aku.

.

.

.

Sakura melangkahkan kakinya tak tentu arah. Beberapa kali ia nyaris terjatuh karena tersandung. Pikirannya hampa. Ia melamun hingga akhirnya lamunannya terhenti ketika mendengar gemericik aliran air di depannya.

Ah...

Aku ingat tempat ini...

Entah karena kebetulan atau apa, ia kini telah sampai di pinggir sungai kecil tempatnya nyaris tenggelam dulu. Ya, keputusan Naruto untuk menikah di Konoha secara tidak langsung membuat Sakura kembali ke tempat asalnya itu.

Sakura berjongkok sambil menyentuhkan jarinya yang masih berbalut sarung tangan ke atas permukaan air. Membuat riak-riak kecil disana.

Mata hijaunya menutup perlahan.

"Haruno Sakura, kau menyebalkan."

"Sebaiknya kau mati saja."

Sakura kembali membuka kedua matanya. Kata-kata itu masih saja terngiang-ngiang di kepalanya. Dengan kesal ia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

Entah apa yang menguasai pikirannya saat itu, tiba-tiba saja kakinya melangkah ke sungai di hadapannya.

"BYUUR"

Dan kejadian tragis sepuluh tahun lalu kembali terjadi. Sakura menjatuhkan dirinya ke dalam sungai. Tanpa ada gerakan yang berarti, ia membiarkan tubuhnya hanyut terbawa arus sungai yang terlihat tenang. Toh, ia memang tidak bisa berenang. Jadi kali ini mungkin percobaan bunuh dirinya akan berhasil setelah berkali-kali gagal sebelumnya.

Ia merasa sesak luar biasa. Air mulai memasuki paru-parunya.

"SAKURA!"

Sakura membuka matanya, ia melihat bayangan seseorang di atas permukaan air. Wajah seseorang itu terlihat panik.

Naruto?

Bukan—

Bukan Naruto...

Lalu siapa?

"BYUUR"

Sosok itu segera menyusul dirinya yang berada nyaris di dasar sungai. Pemuda itu dengan segera menarik gaunnya yang tersangkut bebatuan di dasar sungai lalu berenang keatas berusaha menarik tubuhnya ke permukaan.

"Bertahanlah!" Samar-samar Sakura melihat bayangan berambut hitam berada diatasnya. Mata onyx itu... Sakura sangat mengenalnya.

Sasuke-kun...

Sasuke memompa dada Sakura dengan kedua tangannya. Berusaha mengeluarkan air yang sempat memasuki saluran pernapasan gadis itu.

"1"

"2"

"3"

Tiga kali ia memompa masih belum ada reaksi yang berarti dari Sakura. Dengan cepat ia memutuskan untuk melakukan CPR. Ia menaikkan kepala gadis itu, menegakkan dagunya kemudian membuka mulutnya. Dengan segera ia memberikan pernapasan buatan pada Sakura. Sesaat ketika bibirnya bertemu dengan bibir pucat Sakura ia merasakan getaran-getaran aneh di hatinya. Sungguh ia tidak ingin kehilangan gadis ini sekarang.

Ia sama sekali tidak berbohong ketika mengatakan bahwa ia mencintai gadis ini sepenuh hati. Cinta pertamanya yang sempat hilang akibat kesalahannya dulu.

"Jangan pergi Sakura! Kumohon kembalilah." Dengan panik ia memompa kembali dada gadis itu.

"UHUK" Sakura terbatuk.

Sepertinya kali ini doanya terkabul. Sasuke biasanya tidak begitu peduli pada Kami-sama. Namun untuk kali ini saja ia merasa sangat bersyukur karena telah mengembalikan Sakura padanya.

"Yokatta" Sasuke memeluk erat tubuh Sakura yang basah kuyup. Angin musim gugur membuatnya sedikit bergidik karena kondisinya saat ini pun sama dengan Sakura.

"Sasuke—"

"Diamlah. Jangan bicara dulu." Dengan sigap ia mengangkat tubuh Sakura secara bridal style. Dan membawanya pergi menuju ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.

Sakura kembali menutup matanya. Rasa kantuk yang sangat hebat tiba-tiba saja menguasai dirinya dan membiarkannya jatuh ke dalam kegelapan tak berdasar.

.

.

.


Kimi No Sei


.

.

"Ugh." Sakura memijat keningnya yang terasa pening. Matanya menangkap sinar matahari yang mengintip malu-malu dari balik tirai putih yang menutupi jendela. Ia mendudukkan dirinya berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

Pernikahan Naruto

Pengakuan cinta yang tak berhasil

Hingga akhirnya usaha bunuh dirinya yang entah keberapa kalinya.

Hahaha

Sakura tertawa miris. Betapa Kami-sama sangat tidak mengizinkannya untuk pergi dari dunia ini.

Ia mengamati keadaan sekelilingnya. Sedikit kaget ketika ia menyadari gaun birunya telah berganti dengan kemeja putih berlengan panjang yang kebesaran. Dan parahnya ia tak mengenakan apapun selain kemeja putih itu. Ia menarik selimut putih yang ia kenakan sebelumnya hingga ke dada. Matanya kembali mengamati keadaan sekitarnya.

Kamar ini... bukan kamarnya. Ranjang berwarna putih yang ia tempati berderit ketika sosok di sebelahnya membuka mata onyxnya. Sasuke yang saat ini hanya mengenakan celana training panjang berwarna hitam menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.

"Ohayou, Sasuke." Sapanya riang seolah tak ada kejadian apa-apa sebelumnya.

Sasuke menyibak selimut yang dikenakan Sakura. Ia mendudukkan dirinya menatap gadis itu. Membiarkan Sakura melihat tubuh sixpack-nya yang tidak tertutup apapun. "Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu lagi?" terdengar geraman pelan dari suara beratnya. "Aku menyuruhmu untuk menyelesaikan semuanya bukan untuk membunuh dirimu sendiri."

"Aku tidak memintamu untuk menolongku." Sakura memalingkan wajahnya menatap jendela. "Lagipula kau berhak mendapatkan pendamping yang lebih layak daripada aku. Aku tidak ingin kau terikat denganku hanya karena kau merasa bertanggung jawab padaku."

"Berhenti bicara bodoh seperti itu, Haruno Sakura!" Sasuke mencengkram kedua bahu Sakura. "Kau—kau tidak tahu—" napasnya terputus-putus. "Jika kau mati aku—aku—tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."

Sakura melepaskan cengkraman Sasuke dari bahunya. "Tidak perlu merasa bersalah Sasuke. Ini memang keinginanku sendiri. Tak ada hubungannya dengan kesalahanmu dulu."

"Sebaiknya kau mati saja."

Ia menutup matanya perlahan. "Yah, walaupun sedikit banyak kata-katamu dulu sempat mempengaruhiku juga."

"Sakura—" Sasuke tiba-tiba saja memeluk gadis itu. Menenggelamkan kepalanya di pertemuan leher dan bahunya. "Tak bisakah kita mulai semuanya dari awal lagi? Tak bisakah kita lupakan semua yang pernah terjadi?" bisiknya sendu.

Mata hijau Sakura membelalak. "Sasuke—" Ia berusaha melepaskan pelukan Sasuke namun usahanya itu sia-sia belaka. Pemuda itu masih memeluknya erat. Sesaat kemudian Sakura merasakan kemejanya basah. Sasuke menangis tanpa suara di dalam pelukannya.

Sakura terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Baiklah kalau begitu." Sasuke melepaskan pelukannya. Matanya menatap mata emerald Sakura. "Buat aku lupa..."

Ia mendekatkan wajahnya pada Sasuke hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Bantu aku melupakan Naruto." Kedua tangan gadis itu memeluk leher Sasuke memaksanya untuk menatap wajahnya. "Bantu aku melupakan rasa benciku padamu dulu." Sakura kini mengecup rahang dan pipi Sasuke. "Cintai aku—" sebelum akhirnya bibirnya menemukan bibir tipis milik sang Uchiha dan melumatnya pelan. "Bercintalah denganku— sekarang... Sasuke-kun—"

Seketika mata onyx Sasuke membulat.

Ini tidak boleh!

Ini tidak benar!

"Kumohon..."

Kami-sama! Apa yang harus kulakukan?

-TSUZUKU-


Halo semua! Terima kasih sudah mau mengikuti kisah drama yang ga selesai-selesai ini #plak. Saya minta maaf sama readers yang sudah menunggu lama. Saya tahu saya ga bisa beralasan karena alasan saya memang basi banget. Tapi ini jujur lho, saya sangat sibuk di dunia nyata sampai-sampai saya tidak bisa main-main di dunia fanfiksi.

Saya memutuskan untuk menaikkan rating fanfiksi ini karena konflik yang ada akan semakin berat. Mungkin akan ada lime bahkan lemon di chapter-chapter selanjutnya. Dimohon bagi yang belum cukup umur untuk menskip adegan tersebut ya.

Oke deh selanjutnya kita ke sesi tanya jawab!


Q/A Section

Q: Akina gendernya apa? umur berapa?

A: Loh emangnya ga kelihatan ya dari gaya tulisan saya yang mellow ga jelas ini hahaha. Saya cewek tulen kok. Umur hmm... jawab ga ya? Haha pokoknya saya sudah menyelesaikan studi saya di universitas.

Q: Pengen ada scene sakura berubah jadi masochist tapi diliat sama sasuke.

A: Tenang aja itu bakalan ada kok :) tapi di chapter berapanya itu masih belum saya pikirkan

Q: Endingnya tinggal berapa chapter lagi?

A: Berapa ya? Mungkin sekitar dua atau tiga chapter lagi cerita galau ini tamat.

Q: Perasaan sasuke ke sakura sekarang2 itu nyata atau hanya menebus rasa penyesalannya semata?

A: Nyata kok. Sasuke emang beneran cinta sama Sakura.

Q: Aku jadi serem sama Sakura, kapan dia sembuh?

A: Butuh waktu supaya Sakura bisa normal kaya waktu dia SMP dulu. Silakan ditunggu di chapter-chapter berikutnya ya!

Q: Bikin Sakura lebih stress lgi dong yah misalnya diacara pernikahan naruhina dia betbuat sesuatu diluar akal gitu hahaha

A: Waduh, Sakura terlalu sayang sama Naruto jadinya dia ga tega buat menghancurkan pernikahan mereka.

Oke deh sekian dari saya!

Semoga kalian puas ya!

Silakan tunggu kelanjutan chapter berikutnya!

Saran dan kritik kalian selalu menjadi motivasi terbesar saya untuk mengupdate. Jadi mohon masukannya ya teman-teman! Flame pun saya terima dengan senang hati kok asalkan logis dan masuk akal.

Terima kasih sudah mau membaca!

With Love,

Akina Takahashi