Etto … Ore sanjou minna … adakah yang masih mengingat saya?
Ugh … saya tahu kalau saya memang sudah hiatus terlalu lama, dan hampir melupakan kewajiban saya untuk meng-update fic ini, hontou ni gomenasai minna-san! _
Dan karena semakin lama otak saya semakin dihantui oleh berbagai bayangan mengenai kelanjutan fic ini, akhirnya saya menyerah dan mulai mengetik kelanjutannya.
Mohon maaf bagi readertachi yang mungkin sudah menunggu lama kelanjutan fic ini. Saya juga ucapkan terimakasih untuk kalian yang bersedia mereview di chap sebelumnya.
Kikurocchi, Untitle lagi yang dah mau review di sini,Minori Hikaru, Sagita Naka, Ami, Tsurara Naohime, Reiya Hakagami, Chika Cyntia, Noira Hikari, Ryu, Untittle guest, El cierto neechama,(seseorang tanpa nama yang menyebut dirinya 'Ore'), UchiIsukeYamanaka, Rizta, Rere, Vaneela, Kezia, Kazia adelia, Arisa-yuki-kyutsa, Kaname, Pichi, NarutoisVIP, Pratiwirahim, Jejessy, Miyuki Hiruka, Nyanmaru, Miavita, Juwita Yamanaka, Eruna, Lady Spain, ,Evelyn, Ayabito, arigatougozaimasu minna-san, dan selamat membaca chap terbaru.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki terdengar menggema di koridor panjang kastil Yamanaka, dan dari suara hentakannya bisa diartikan kalau sang pemacu langkah sedang merasa kesal karena sesuatu, karena itu Shizune yang mendengar dan tahu siapa yang tengah menghentakkan kakinya dengan penuh emosi tentu saja langsung menghampiri pelakunya.
"Nona Muda, ada masalah apa lagi hari ini?" tanya Shizune yang sudah membuntuti majikannya dibelakang gadis itu.
"Aku kehilangan jejak!" jawab Ino singkat, bahkan sarat akan emosi di setiap katanya.
"Kehilangan jejak siapa Nona? Goblinkah? Bagaimana bisa sampai kehilangan jejak?" tanya Shizune beruntun. Rupanya dia khawatir jika Goblin kabur yang dia pikirkan itu akan berakibat buruk bagi dunia manusia, namun pikirannya itu ternyata harus dibuang jauh-jauh karena yang dimaksud majikannya itu bukanlah makhluk mengerikan seperti yang dia kira, meskipun sedikit ada benarnya juga.
"Ya, Goblin berwujud vampir tampan yang seharusnya sudah kuajak pulang hari ini!" kata Ino yang langsung membuyarkan bayangan mengerikan di pikiran Shizune, sementara Ino sendiri masih memacu langkahnya dengan kesal tanpa peduli ekspresi Shizune saat ini.
"Ah … calon korban lagi?" pikir Shizune sambil menepuk dahinya tak habis pikir.
"Padahal anda baru saja mengusir Tuan Muku beberapa hari yang lalu, dan sekarang anda sudah mulai mencari korban lagi?" protes Shizune meskipun dengan nada rendah untuk menjaga emosi majikannya.
"Muku itu sudah berlalu, dan sekarang aku harus segera mendapatkan yang lain, AKU INI TIDAK BISA HIDUP TANPA ADA PRIA TAMPAN DI SAMPINGKU!" seru Ino yang rupanya mulai frustasi karena belum juga mendapatkan korban baru, dia bahkan sampai berbalik ke arah Shizune hanya untuk menunjukkan betapa kesalnya dia saat ini, sedangkan Shizune tampak menghela nafas lelah menghadapi kebiasaan majikannya itu.
"Bukankah di dekat Nona masih ada Tuan Gaara?" keluh Shizune yang tanpa dia sadari telah membuat Ino terdiam.
"Dan saya yakin kalau ketampanan Tuan Gaara itu termasuk di atas standar anda, jadi kenapa -" ucapan Shizune terputus saat melihat ekspresi majikannya tak seperti biasanya ketika sedang membicarakan pemuda tampan.
"Gaara itu pengecualian!" kata Ino tegas, namun kemudian dia membalikkan badannya ketika melihat tatapan menyelidik dari Shizune.
"Apapun yang terjadi aku tak akan menjalin hubungan dengannya, dan kalau bisa … jangan sampai aku menyakiti yang satu itu." Shizune tertegun mendengar ucapan Ino yang tak biasa, sementara Ino sendiri kembali melangkah meninggalkan Shizune.
"Lagi pula dia bukan Vampir, rambutnya bukan raven, dan matanya tidak berwarna hitam!" kata Ino dari jauh yang membuat Shizune mulai berpikir apakah dia harus merasa lega atau kasihan pada Gaara. Memangnya salah Gaara kalau dia sudah terlihat tampan walaupun tidak memiliki ciri-ciri yang sudah ditetapkan Ino dalam mencari pacar?
Disclaimer:
Naruto Masashi Kishimoto
Story Line Black Pearl Exorcist Yuzumi Haruka
Artwork Yuzumi Haruka
Chapter IX
=Lover=
Shizune menatap tak percaya pada sosok majikannya yang baru saja terbangun dari tidurnya. Gadis itu tampak sangat berbeda dari sosoknya selama ini, terutama mata crimson dan wajah angkuhnya saat menatap tepat pada sepasang mata coklat madu milik Shizune.
"Omae wa dare?" tanya gadis itu dengan nada dingin yang membuat Shizune bergetar karena sakit di dadanya saat melihat perubahan besar majikannya.
"No … Nona Muda …" Shizune mengulurkan tangannya dengan ragu untuk menyentuh punggung tangan Ino, namun gadis itu menepiskankan tangan Shizune begitu saja hingga membuat Shizune tersentak.
"Jangan menyentuhku!" desis Ino sambil melirik tajam ke arah Shizune yang semakin tercekat.
Kini Ino menyentakkan selimut tebal yang semula menutup sebagian tubuhnya, kemudian turun dari ranjang dan berdiri sambil mengamati kedua tangannya dan menggerakkan jemarinya seolah mencoba merasakan keberadaan tubuhnya.
"Kheh!" Ino mendengus dan berseringai kemenangan saat dirinya benar-benar merasakan tubuhnya secara nyata saat ini.
"Akhirnya tubuh ini menjadi milikku!" desisnya dengan seringai yang semakin lebar dan kedua mata crimson yang bersinar menandakan kalau dirinya sudah menjadi seorang vampir secara utuh.
Sementara itu Shizune yang masih shock akan perubahan Ino, kini terdiam tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari majikannya yang sedang menikmati kebebasannya saat ini. Gadis itu tertawa bagaikan seorang psycho yang baru saja menghabisi mangsanya, dan dari situ Shizune baru teringat kalau majikannya saat ini bukan lagi seorang manusia, melainkan seorang vampir yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.
"Hei pelayan!"
Shizune tersentak saat mendengar teguran Ino yang kini sudah berada di depannya sambil menatapnya tajam, sementara dirinya hanya mampu terdiam menatap kedua crimson Ino yang menyala.
"Aku lapar, carikan aku darah segar!" kata Ino dengan nada dingin dan seringai menakutkan, namun benak Ino terusik saat merasakan keberadaan orang lain tak jauh dari kastil, orang itu baru saja berusaha untuk menerobos dinding pertahanan kastil meskipun usahanya gagal.
"Hm …" Ino kembali menunjukkan seringai berbahaya yang membuat bulu kuduk Shizune meremang.
"Sepertinya yang itu cukup untuk membasahi tenggorokanku khufufu …" Ino menjilat bibir atasnya membayangkan rasa darah dari calon mangsanya itu, sementara Shizune yang tahu siapa yang dimaksud majikannya itu langsung mencekal lengan Ino dan menatapnya dengan kedua mata yang membola tak percaya.
"Nona, jangan yang ini!" seru Shizune yang membuat seringai di bibir Ino lenyap, dan kembali melirik Shizune dengan tatapan tajam dan dingin.
"Memangnya kenapa? dia sendiri yang datang ke sini untuk dimangsa kan? Jadi biarkan saja dia masuk supaya aku bisa menyantapnya!" Ino menyentakkan lengannya hingga pegangan Shizune terlepas.
"Tapi Nona, BUKANKAH ANDA SENDIRI YANG MENGATAKAN KALAU TIDAK INGIN MENYAKITI YANG SATU ITU?!" Seru Shizune yang membuat Ino menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Shizune.
"Kau pikir aku ini siapa huh?" tanya Ino dengan nada dingin, sementara kedua matanya menyala kemerahan menandakan sebarapa terganggunya dia akan sikap Shizune padanya.
=BPEX=
Sasuke menatap hampa ke arah sisi ranjangnya yang kosong, padahal beberapa jam yang lalu di sana masih terisi oleh sosok gadis yang dicintainya yang secara ajaib masih bertahan hidup meskipun jantungnya telah tertembus dan hancur karena serangan kakaknya semalam.
Setelah cukup lama terdiam dalam posisi yang sama, pemuda itu menghela nafas berat sebelum kemudian merilekskan posisi kepalanya di atas bantal dan memejamkan matanya hingga pikirannya kembali memutar ingatan beberapa jam yang lalu.
"Tuan Sasuke, maaf saya harus membawa Nona Muda kembali ke dunia atas sekarang juga!" kata Shizune yang membuat Sasuke tercengang.
"Apa maksudmu? Dia bahkan belum sadar!" protes Sasuke sambil menghadang Shizune yang akan membawa pergi Ino.
"Saya mohon Tuan! Saya tahu anda menyayangi Nona, tapi … saat sadar nanti Nona Muda sudah bukan lagi pribadi yang anda kenal!" kata Shizune yang terlihat panik bercampur sedih karena harus memisahkan kedua majikannya.
"Apa maksudmu Shizune? Apa yang terjadi dengan Ino?!" buru Sasuke yang masih mempertahankan Ino dengan mendekap tubuh lemah itu.
"Tuan … Black Pearl telah tercabut dari tubuh Nona beserta jantungnya, itu artinya … sosok manusia Nona Muda … telah mati dan yang tersisa sekarang hanyalah sosok vampir Nona Muda." Shizune megakhiri penjelasannya dan menundukkan wajahnya tak berani menatap Sasuke yang kini terbelalak, bahkan dekapannya pada tubuh Ino pun mengendur seolah kesadaran Sasuke menghilang begitu saja ketika mendengar ucapan Shizune barusan.
"Ino … mati?" gumam Sasuke tak percaya.
"Maafkan saya Tuan, tapi mulai sekarang … mungkin anda tidak perlu lagi menemui Nona, karena Nona Muda yang mengikat anda sudah tidak ada." Kata Shizune berusaha terdengar tegas, padahal dia sendiri merasa tak tega jika harus memisahkan kedua majikannya itu, namun keadaan Ino sekarang sudah tidak memungkinkan untuk mereka tetap bersama.
"Anda bisa lihat sendiri kalau segel pengikat anda dengan Nona Muda telah lenyap saat ini." Shizune menunduk tak berani menatap Sasuke yang masih kebingungan, dan kini sedang menatap hampa pergelangan tangan Ino yang seharusnya ada segel gaib yang mengikat mereka, namun kini tanda itu sudah lenyap.
"Shizune, apa yang sebenarnya terjadi? Kau bahkan tak pernah menjelaskan padaku tentang rahasia Ino yang tidak kutahu, dan sekarang kau ingin memisahkannya dariku tanpa memberiku penjelasan apapun? Kau bahkan belum memberi tahuku dari mana asalnya energi yang digunakan Ino saat menjadi Exorcist!" sentak Sasuke yang merasa tak terima kalau Shizune membawa pergi Ino begitu saja, dan bahkan memintanya untuk tidak berhubungan lagi dengan gadis itu.
Sementara itu Shizune tampak ragu untuk menceritakan kebenarannya pada Sasuke, namun kemudian dia mendongak dan menatap langsung Sasuke yang masih butuh penjelasan darinya mengenai diri Ino yang belum dia ketahui.
"Baiklah Tuan, akan saya ceritakan semuanya. Tapi setelah itu izinkan saya untuk membawa Nona Muda pulang sesegera mungkin!" Shizune membungkuk sebagai rasa hormatnya pada Sasuke, kemudian kembali menegakkan tubuhnya untuk memulai penjelasannya.
"Anda tentu sudah tahu mengenai status Nona sebagai seorang Half, saya sudah pernah menceritakan itu sebelumnya, dan mengenai energi tak lazim yang muncul saat kelahiran Nona Muda, saya juga sudah pernah menyinggungnya." Shizune menatap Sasuke yang tampak mengangguk samar meskipun perhatiannya dia pusatkan pada sosok Ino yang masih berbaring di sampingnya.
"Karena energi tak lazim yang dihasilkan itu sangat besar dan hampir menghancurkan seluruh isi kastil ini, maka Tuan Besar menyegelnya dengan Black Pearl yang ditanam tepat di jantung Nona Muda, lalu perlu anda ketahui kalau Black Pearl itu … hanya bisa digunakan jika benda magis itu mendapat jaminan berupa jiwa yang masih hidup."
Kali ini Sasuke mendongak menatap Shizune seolah ingin memastikan apa yang dia pikirkan tidak terjadi, namun rupanya apa yang dia pikirkan memang tepat seperti apa yang terjadi saat ini.
"Saat itu … Tuan Besar mengorbankan jiwa manusia Nona Muda sebagai jaminan Black Pearl untuk menyegel energi berlebihan itu."
=Flash back=
Shizune menatap Inoichi yang tampak kehabisan tenaga setelah berhasil menyegel energi tak lazim dari bayi mungil dalam dekapannya. Wanita elf itu tak bisa mencegah majikannya itu untuk menggunakan kekuatan Black Pearl pada sang bayi, karena dia tahu meskipun Black Pearl mampu menetralkan energi tak lazim itu, ada hal lain dari sang bayi yang dikorbankan agar Black Pearl bisa diaktifkan.
"Shizune," lirih Inoichi tanpa menatap Shizune yang berdiri tak jauh darinya.
"Ya Tuan Besar?" Shizune menegakkan punggungnya dan menunggu perintah tuannya.
"Jangan sampai Black Pearl terenggut dari tubuh anakku! Dia adalah seorang Half, tapi aku tak mau dia mengetahui kalau dirinya adalah Half dan sebisa mungkin aku ingin membesarkannya sebagai manusia." kini Inoichi berbalik menghadap Shizune dan mulai melanjutkan ucapannya. "Aku ingin … dia menjadi Exorcist sepertiku meskipun ... pada akhirnya dia tetap bergantung pada energi vampir yang dia miliki," kata Inoichi sambil menatap sendu pada wajah mungil putrinya.
"Sebagai elf klan Yamanaka, sebisa mungkin saya akan melaksanakan tugas saya dengan baik Tuan," kata Shizune sambil menunduk hormat.
"Namun kalau boleh saya bertanya … apa yang anda korbankan sebagai wadah Black Pearl di dalam tubuh Nona Muda, Tuan?"
Inoichi terdiam untuk beberapa saat sebelum menjawab dengan berat hati.
"Jantung … dari jiwa manusianya." Shizune tercekat saat ucapan sang majikan. Padahal baru saja pria itu berkata kalau dia ingin membesarkan putrinya sebagai manusia? tapi kenapa yang dikorbankan justru jiwa manusianya?
=end of flash back=
"Jadi kenapa … Yamanaka Inoichi justru mengorbankan jiwa manusia Ino, padahal dia sendiri tak ingin Ino tahu kalau dirinya seorang half?!" tanya Sasuke yang terdengar menahan emosinya.
"Dulu saya juga memiliki pertanyaan yang sama dengan anda Tuan, meskipun saya tak pernah melontarkan langsung pertanyaan itu pada Tuan Besar, namun saat ini saya sudah mengerti kenapa saat itu beliau memilih mengorbankan jiwa manusia Nona dari pada jiwa vampirnya." Shizune menatap wajah tidur Ino dengan lembut, sementara Sasuke tampak menunggu ucapan Shizune selanjutnya.
"Tuan besar … hanya tidak ingin kehilangan putri tercintanya," lanjut Shizune yang membuat Sasuke tertegun sambil memikirkan ucapan Shizune hingga dia mengerti dengan maksud perkataan wanita elf itu.
"Yamanaka Inoichi mengantisipasi keadaan seperti ini akan terjadi, ya kan?" Tanya Sasuke yang kini kembali menatap ke arah Ino yang masih belum sadarkan diri.
"Benar, Tuan Besar mengantisipasi jika Black Pearl terenggut dari tubuh Nona maka pada saat itu jantung yang hancur adalah jantung dari jiwa manusia Nona, kemudian jiwa vampirnya bisa menguasai tubuh itu dan beregenerasi secara cepat sehingga nyawa Nona tetap tertolong meskipun yang bertahan itu adalah sosok vampirnya, sedangkan sosok manusianya telah mati pada saat jantungnya hancur." Shizune menutup kalimat panjangnya, kemudian kembali menatap Sasuke untuk melihat bagaimana reaksi pemuda itu setelah tahu mengenai sejarah Black Pearl bisa berada di tubuh Ino.
"Lalu jika yang dikorbankan adalah jiwa vampirnya, dia akan langsung mati karena manusia tak akan bisa hidup tanpa jantung?" tanya Sasuke gamang.
"Benar Tuan, hal itu juga dikarenakan manusia tak mungkin bisa beregenerasi dengan luka separah itu, apa lagi dengan sumber kehidupannya yang dihancurkan, tak ada manusia yang bisa bertahan hidup."
Kini Sasuke tampak mengusap sisi kepala Ino sementara dahinya disatukan dengan milik gadis itu.
"Jadi Ino yang ini … bukan lagi Ino yang kukenal?" tanya Sasuke lagi tanpa berniat untuk menjauhkan diri dari Ino.
"Iya Tuan, jadi izinkan saya untuk segera membawa Nona kembali ke kastil kami!" Shizune sudah mulai melangkah untuk mengambil Ino dari dekapan Sasuke, namun langkahnya terhenti ketika Sasuke kembali menginterupsinya.
"Kau belum menjelaskan padaku tentang asal kekuatan Ino untuk merubah dirinya menjadi Exorcist!" lirih Sasuke tanpa memisahkan diri dari Ino. Sepertinya interupsinya saat ini sudah bukan karena rasa penasarannya, namun lebih karena dia masih ingin bersama Ino sedikit lebih lama.
Shizune sendiri hanya bisa menahan rasa bersalahnya saat melihat betapa beratnya Sasuke untuk melepaskan Ino sampai dirinya harus menanyakan hal-hal yang seharusnya sudah dia tahu untuk mengulur waktu.
"Tuan …" Shizune hampir melewatkan nada parau saat dirinya mulai berucap, namun kemudian dia kembali menetralkan nada suaranya untuk melanjutkan ucapannya.
"Seperti yang anda ketahui kalau energi berlebih Nona telah disegel atau lebih tepatnya dinetralkan oleh Black Pearl di jantung Nona, namun bukan berarti Nona tak bisa menggunakan energi terpendam di dalam tubuhnya untuk melindungi diri. Saat itu Tuan Besar menemukan cara untuk memanfaatkan sedikit energi vampir Nona agar bisa digunakan tanpa membuat Nona lepas kontrol, Nona hanya perlu sedikit energi itu untuk menjadi Exorcist disamping menambah daya serangnya, hal itu juga menambah daya tahan tubuhnya juga memberinya kemampuan regenerasi yang cukup cepat sebagai manusia." Sasuke bergeming di tempatnya sambil masih berharap kalau ucapan Shizune belum selesai sehingga dia masih punya waktu untuk menyentuh Ino sedikit lebih lama, sementara itu Shizune yang melihat Sasuke tak menunjukkan reaksi apapun hanya bisa menghela nafas berat sambil memikirkan apa lagi yang bisa dia katakan agar Sasuke bisa melepaskan dekapannya pada Ino.
"Anda sendiri pernah merasakan adanya energi vampir yang besar saat anda tak sadarkan diri setelah dikalahkan oleh kelima Exorcist yang menentang Nona itu kan? Itu efek karena Nona Muda telah lepas kontrol sehingga hampir membangkitkan jiwa vampirnya karena emosi berlebih yang melandanya saat itu. Dan kejadian saat Nona mengalahkan pohon Almazero dulu juga karena efek yang sama seskipun kapasitas energinya tidak lebih besar dari pada saat melawan kelima Exorcist itu." Shizune kembali mengamati Sasuke yang masih diam tak merubah posisinya.
"Tuan … bisakah saya membawa Nona sekarang?" tanya Shizune ragu.
"Tolong … biarkan aku menikmati ini sebentar lagi!" lirih Sasuke yang tentu saja sarat akan permohonan, sehingga Shizune pun mau tak mau harus meluluskan permintaan Sasuke dan meninggalkan kedua majikannya itu sendiri untuk beberapa saat.
Sasuke kembali membuka matanya saat memori terakhir kebersamaannya dengan Ino mengusik pikirannya untuk beristirahat. Jelas saja dia merasa depresi karena dia kehilangan gadis itu tepat setelah mereka memantapkan hati lewat pertunangan, dan itu berakhir begitu saja tanpa bisa dia cegah.
"Bagaimana keadaannya saat ini?" gumam Sasuke yang kemudian meletakkan lengannya di atas dahinya.
"Lalu … kemana Aniki pergi setelah kejadian itu?" pikirnya saat tiba-tiba pikirannya tertuju pada Itachi.
=BPEX=
Gaara baru saja akan keluar dari area kastil Ino saat Shizune memanggilnya, dan dia pun kembali berbalik menatap sang elf.
"Shizune-san?" Gaara menatap bingung ke arah wanita elf didepannya yang kini tampak menunjukkan ekspresi yang tak ingin dia lihat, hingga membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Shizune-san, apa yang terjadi? Kenapa … aku tak bisa menembus pertahanan kastil?" tanya Gaara yang masih dibingungkan oleh reaksi lapisan pelindung yang biasanya bisa dia tembus dengan mudah, sementara itu Shizune tampak menghela nafas berat sebelum membuka suara.
"Tuan, sebaiknya … mulai sekarang anda menjauh dari Nona," kata Shizune yang membuat Gaara membulatkan matanya karena bukan itu hal yang ingin dia dengar dari wanita elf di depannya.
"K-kenapa? Apa yang terjadi Shizune-san? Apakah telah terjadi hal buruk di Ondergrondse?" tanya Gaara beruntun, namun Shizune malah menundukkan wajahnya tak berani menatap pemuda yang sedang bingung di depannya.
"Ini … mungkin lebih dari buruk," lirih Shizune yang membuat Gaara semakin penasaran.
"Alasan kenapa anda tak bisa menembus pertahanan kami adalah … karena energi anda saat ini sudah bertentangan dengan energi Nona Muda," kata Shizune yang membuat Gaara terhenyak.
"K-kenapa? Aku tidak merasa kalau energiku mengalami perubahan, seharusnya energiku tidak termasuk energi negatif yang bertentangan dengannya kan?" tanya Gaara yang meragukan ucapan Shizune.
"Anda … seharusnya juga bisa merasakannya kan Tuan? Energi Nona Muda yang berubah drastis, serta kapasitasnya yang berkali lipat lebih besar dari sebelumnya, juga adanya energi Ondergrondse yang tercampur di dalamnya?" Gaara terdiam saat mendengar ucapan Shizune barusan, dan dia pun ingat kalau dirinya juga merasakan energi yang lain dari biasanya di dalam kastil, namun dia masih bisa merasakan keberadaan Ino di sana, kemudian beberapa saat kemudian sebeslit kemungkinan muncul di dalam pikirannya.
"Tunggu, jangan bilang kalau … Black Pearl telah lenyap!" Gaara kembali membulatkan matanya saat melihat reaksi Shizune akan ucapannya barusan.
"Jadi … benar begitu?" tanya Gaara yang mulai mengerti dengan keadaan saat ini.
"Maka dari itu Tuan, mulai saat ini tolong jauhi Nona Muda, ini juga untuk kebaikan anda sendiri Tuan!" kata Shizune dengan penuh rasa hormat.
"Tidak bisa!" kata Gaara yang membuat Shizune membulatkan matanya tak percaya.
"Tuan, saat ini Nona Muda sudah menjadi seorang vanpir, dia bahkan ingin meminum darah anda beberapa saat lalu, anda hampir saja celaka jika insting vampirnya yang harus menjauhi sinar matahari tidak mencegahnya untuk turun langsung menemui anda, Nona Muda sudah bukan lagi teman anda yang peduli dengan keselamatan anda Tuan!" kata Shizune yang rupanya sudah mulai tak sabar dengan sikap Gaara yang mengabaikan peringatannya, namun ternyata penjelasannya barusan malah membuat benak Gaara kembali terlintas pemikiran yang berbahaya.
"Jadi begitu? Dia menginginkan darahku ya?" gumam Gaara dengan seringai tipis yang dia sembunyikan di balik tangannya, dan itu membuat Shizune bergindik ngeri karena memikirkan hal mengerikan apa yang ada di benak Gaara saat ini.
"Kalau begitu aku akan menemuinya malam ini," kata Gaara yang membuat Shizune tercekat.
"Shizune-san, tolong singkirkan lapisan pelindung itu agar aku bisa masuk nanti malam!" kata Gaara sebelum pergi meninggalkan Shizune yang terdiam menatap kepergian Gaara.
"Aaah … Kenapa laki-laki di sekitar Nona Muda semuanya keras kepala?" gumam Shizune yang rupanya mulai lelah dengan sikap para lelaki di sekitar Ino.
=BPEX=
Malam itu, Ino tampak bermalasan di sofa panjangnya sambil memain-mainkan gelas berisi cairan merah yang menggantung pasrah di sela jemarinya. Sesekali dia menyesap cairan merah itu sebelum kemudian kembali memainkannya seolah tak puas dengan rasa yang dia sesap.
"Bosaaaaan …" gumam Ino yang kini membiarkan gelas di tangannya jatuh ke lantai hingga cairan merah di dalamnya berceceran menodai lantai marmer di bawah sofa, sementara dirinya tergolek pasrah di atas sofa berwarna merah marun itu.
Sebenarnya dia bisa saja mencari mangsa ke tengah kota, mengingat malam itu cukup sunyi dan memungkinkan dirinya untuk berburu malam itu, namun tubuh vampirnya yang baru saja bangkit itu sepertinya belum cukup kuat untuk beraktivitas. Setidaknya dia harus meneguk darah yang berkualitas untuk menambah energi kehidupannya sebagai vampir, namun seharian ini dia hanya bisa meminum darah steril yang disediakan Shizune, dan itu belum cukup memberinya energi untuk beraktivitas di malam hari.
"Hm … kalau saja pelayan itu membawakan manusia yang masih hidup ke hadapanku, aku pasti tak akan selemah ini. Setidaknya darah yang masih hangat lebih bisa memulihkan tenagaku dari pada darah yang sudah diawetkan seperti ini!" gumam Ino sambil memain-mainkan jarinya pada kumbangan darah yang baru saja dia tumpahkan.
Kedua mata crimson gadis itu kini meririk ke arah luar balkon yang menyajikan pemandangan langit malam tanpa bulan, cukup lama dia terdiam seolah mencoba merangkai memori yang samar-samar melintas di pikirannya, namun akhirnya dia menyerah karena tak berhasil menemukan apa yang dia cari.
Angin malam mulai berhembus perlahan menyibakkan tirai transparan yang menggantung di sisi kanan dan kiri jendela besar yang terbuka, perlahan gadis itu mulai menutup mata crimsonnya dan terbuai oleh sapuan lembut sang angin yang terasa begitu nyaman, namun itu tak berlangsung lama karena dia kembali membuka matanya ketika merasakan keberadaan seseorang. Senyum tipis terkembang di bibir sang Yamanaka ketika melihat seberkas warna merah yang sesekali tersamarkan oleh kibaran tirai transparan di sisi jendela, gadis itu menjilat bibirnya sekilas saat membayangkan warna merah itu sebagai darah segar yang berkualitas.
"Hm … apa yang sedang dilakukan seorang Exorcist di kamarku?" gumam Ino yang masih belum membuka matanya secara penuh.
"Jadi kau tahu kalau aku Excorcist huh?" sosok itu mulai mendekat ke arah Ino yang belum merubah posisinya.
"Hmh, kau meremehkanku Tuan Exorcist?" tanya Ino sambil kembali menutup matanya karena sapuan angin yang lembut kembali membuatnya terbuai.
"Namaku Gaara, setidaknya kau harus tahu namaku." Gaara membisikkan namanya tepat di telinga Ino, dan membuatnya terdengar begitu lembut ketika dia mengatakannya.
Saat ini pemuda itu berada di atas sang gadis Yamanaka, namun tak menindihnya, hanya memerangkap tubuh kecil itu dalam jangkauannya.
"Hm … apakah sang Exorcist ini sedang mencoba merayuku?" tanya Ino yang kemudian membuka matanya untuk bertemu langsung dengan kedua mata jade milik Gaara.
"Benar, aku sedang merayumu, jadi …" Gaara menjumput sedikit helaian rambut Ino dan kemudian mengecupnya dengan hikmat. "Apakah kau tergoda dengan rayuanku?" gumam pemuda itu yang kembali menatap kedua mata crimson gadis di bawahnya, sementara gadis itu tampak menyunggingkan seringai tipisnya saat mendengar pertanyaan pemuda di atasnya.
"Aku sangat tergoda, bahkan sebelum kau mencoba merayuku," kata Ino yang kini mulai melingkarkan lengannya di leher Gaara.
"Kau tahu? Seorang manusia menggoda vampir yang sedang lapar itu adalah kesalahan besar," lirih Ino sambil menarik tubuh Gaara mendekat padanya dan mulai menyesap aroma manis dari leher Gaara. Tentu saja aroma manis itu berasal dari darah pemuda itu, dan sungguh aroma inilah yang dia inginkan sejak tadi.
"Aku tahu, tapi itu tak kuanggap sebagai kesalahan." Gaara membalas ucapan Ino sambil membawa tubuh gadis itu untuk bangkit duduk dan menempatkannya di pangkuannya.
"Hoo … kau cukup berani rupanya," gumam Ino sambil masih menyesap aroma nikmat di leher Gaara. Jemarinya kini menelisip ke sela rambut merah pemuda itu semetara lengannya mendekap erat tubuh Gaara.
"Kau suka aromanya?" tanya Gaara yang rupanya tahu apa maksud dari tindakan Ino saat ini. Caranya menghirup dalam-dalam lehernya yang terbuka, dan dekapannya yang terkesan posessif itu menjelaskan seberapa inginnya gadis itu untuk menghisap darahnya saat itu juga.
"Sepertinya kau memang berencana untuk meyerahkan diri padaku ya?" tanya Ino tanpa merubah posisinya.
"Benar, memang itu tujuanku." Ino mengendurkan dekapannya dan kembali menatap mata Gaara begitu mendengar jawaban pemuda itu.
"Kau … apa kau memiliki hubungan khusus dengan sosok manusiaku?" tanya Ino dengan tatapan datar. Berbeda dengan tatapannya beberapa saat lalu yang tampak menggoda dan penuh percaya diri.
"Kenapa? kau penasaran dengan hubungan antara kita sebelum ini?" Gaara balas bertanya.
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!" kata Ino yang kemudian turun dari pangkuan Gaara, dan berdiri membelakangi pemuda itu.
Hilang sudah hasratnya untuk menancapkan taringnya di leher Gaara dan menyesap darahnya hingga tak bersisa, sementara Gaara tampak terdiam beberapa saat sambil menatap punggung Ino.
"Ino, minumlah darahku jika kau menginginkannya!" kata Gaara yang membuat Ino kembali berbalik menatapnya.
"Aku serius kali ini," lanjut pemuda itu saat melihat tatapan dingin Gadis di depannya.
Ino tampak terdiam beberapa saat seolah mencoba mencari kebohongan dari tatapan Gaara, namun dia sama sekali tak menemukan kebohongan atau keraguan di sana. Pemuda itu benar-benar serius mengorbankan dirinya, tapi kenapa? itulah yang Ino pikirkan saat ini.
Setelah beberapa saat , gadis itu mulai mengulurkan tangannya untuk mengusap sebelah pipi pemuda di depannya, dan terdiam menelisik kedalaman mata Gaara sambil memikirkan sesuatu.
"Apa kau yakin?" tanya Ino yang entah kenapa terdengar sarat akan keraguan meskipun ekspresinya datar dan tatapannya kosong, sementara Gaara tertawa kecil saat mendengar pertanyaan Ino barusan.
"Kenapa? apa kau ragu akan keputusanku, atau kau ragu untuk membunuhku?" tanya Gaara main-main, sementara Ino langsung memberinya tatapan dingin, dan tangannya yang tadi menyentuh pipi Gaara kini kembali diturunkan.
"Aku hanya sempat berpikir kalau mungkin saja kau cukup berguna jika kujadikan sebagai pengawalku," kata Ino yang kini menatap datar ke arah Gaara.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak menjadikanku sama seperti dirimu saja?" kini Ino tak mau terkejut dengan ucapan Gaara dan memilih untuk tetap memberinya tatapan datar seolah tak terpengaruh dengan kata-kata pemuda itu.
"Jadi sejak awal kau memang benar-benar bermaksud untuk itu huh?" tanya Ino yang hanya dibalas dengan senyum tipis oleh Gaara.
"Gaara," sebut Ino yang membuat perhatian Gaara kembali terfokus padanya. "Kuharap kau tidak akan menyesal." Ino kembali duduk di pangkuan Gaara sementara tangannya mulai mengusap rahang hingga leher pemuda itu dengan lembut.
"Aku tak akan menyesal," gumam Gaara yang membiarkan Ino menyentuhnya, dan menghirup perpotongan lehernya dengan hikmat.
Tubuh Ino mulai menekan tubuh Gaara dan memaksa pemuda itu untuk berbaring di atas sofa merah marunnya, sedangkan Gaara yang mengikuti insting kini mulai memejamkan matanya ketika Ino semakin merapatkan tubuhnya hingga Gaara merasakan sapuan lembut di bibirnya.
Gaara membuka sedikit matanya untuk memastikan apa yang dia rasakan saat ini, dan kejadiannya memang seperti yang dia perkirakan.
"Ah … jadi seperti ini rasa bibir Ino?" pikir Gaara yang kembali memejamkan matanya dan menikmati lembutnya bibir gadis yang selama ini dia cintai.
Sementara itu Ino mulai melumat bibir Gaara sebagai permulaan sebelum meminum darah pemuda itu, rasanya memang belum lengkap jika dirinya tak melakukan sesuatu pada Gaara sebelum menyesap manisnya darah pemuda berambut merah di bawahnya, dan dia pun memutuskan untuk bermain sebentar degannya.
Ino mulai membuka satu-persatu kancing kemeja Gaara, sementara bibirnya menelusuri setiap inci tubuh Gaara yang mulai terekspos. Gaara sendiri kesulitan menahan desahannya ketika jemari Ino menyentuhnya dengan lembut sementara bibirnya membuat kissmark di seluruh bagian sensitif tubuhnya.
Bagaimana dia bisa tahu bagian sensitif tubuhnya? Padahal itu pertama kalinya Ino menyentuh dirinya. Itulah yang Gaara pikirkan selama Ino menjelajahi tubuhnya.
Gaara menggeram frustasi saat Ino menggodanya dengan meghisap bagian di bawah perutnya, nyaris sampai di tempat paling sensitif miliknya, sedangkan gadis itu malah berseringai tipis sambil memain-mainkan resleting celana Gaara tanpa berniat membukanya saat itu, padahal sesuatu di baliknya sudah mulai mencari perhatian.
"Apakah kau menikmatinya?" tanya Ino dengan nada menggoda, sementara Gaara hanya bisa membuka sedikit matanya untuk melihat Ino yang kini kembali melumat bibirnya. Gaara pun membalas ciuman Ino dan melumatnya lebih kasar sebagai balasan karena gadis itu sudah menggodanya, dan membuat tubuhnya lebih dari panas untuk melakukan hal yang lebih pada gadis itu.
"SIAL! SIAL! SIAL! Aku akan mengutukmu karena sudah membuatku segila ini Ino!" batin Gaara sambil masih melumat bibir Ino lebih dalam dan lebih kasar, bahkan kedua tangannya mencengkram erat belakang kepala Ino untuk lebih merapat padanya.
"Brengsek! Perempuan SIAL! Bahkan setelah kau menjadi vampir, kau tetap membuatku tak bisa berpaling darimu, padahal selama ini kau tak pernah menganggapku sebagai lelaki yang pantas untuk berada di sisimu!" Gaara masih terlarut dalam pikirannya sendiri, sementara Ino mulai melebarkan jarak mereka.
"Hm ... aku benar-benar akan menjadikanmu seorang vampir kalau reaksimu seperti ini Gaara-kun," lirih Ino di depan bibir Gaara yang basah karena aktivitas mereka barusan.
"Lakukan saja kalau itu membuatmu senang!" kata Gaara sambil berseringai tipis seolah menantang ucapan Ino barusan.
"Baiklah, tapi kuberi tahu kau satu hal …" ino mulai mendekatkan bibirnya di leher Gaara, bersiap untuk menancapkan taringnya di sana. "Kau akan kehilangan kekuatanmu sebagai Exorcist saat kau menjadi vampir nanti." Gaara membelalakkan matanya, namun tak sempat melawan saat Ino sudah menancapkan taring di lehernya, dia pun hanya bisa memekik tertahan saat merasakan perih dan panas di leher yang kini sedang dihisap oleh Ino. Dia memang tidak tahu konsekuensi apa yang akan menantinya saat dia memutuskan untuk menjadi seorang vampir, namun melihat Ino tak lagi menganggapnya sebagai orang yang tak ingin dia sentuh, membuatnya tak lagi memikirkan konsekuensi apapun.
Ino meneguk darah Gaara dengan cepat seolah menunjukkan betapa hausnya dia akan darah segar. Kedua lengannya mendekap erat tubuh Gaara sambil memperdalam hujaman taringnya di leher pemuda itu, Gaara sendiri hanya bisa terdiam mendengar suara tegukan yang entah kenapa terdengar begitu jelas, sementara tubuhnya terasa semakin lemas dan bahkan warna kulitnya pun memucat menandakan bahwa dirinya sudah hampir kehabisan darah.
Ino yang merasa tubuh Gaara melemas kini menghentikan aktivitasnya dan menatap Gaara yang terlihat pucat namun masih berusaha untuk tetap sadar.
"Gaara-kun?" pangggil Ino pelan, sementara Gaara hanya menggulirkan matanya untuk menatap Ino sebagai tanda kalau dia masih hidup.
Melihat ketidak berdayaan Gaara, Ino segera menggigit lengannya sendiri dan menghisap darah miliknya, kemudian meraup bibir Gaara untuk meminumkan darah di mulutnya pada Gaara yang sekarat. Beberapa kali Ino melakukan hal yang sama untuk memastikan darahnya benar-benar ditelan oleh Gaara, sementara Gaara yang tak biasa merasakan darah beberapa kali menolak cairan itu masuk ke tenggorokannya, namun karena Ino melakukannya berkali-kali mau tak mau ada beberapa teguk yang berhasil melewati tenggorokannya.
Setelah yakin Gaara telah meminum darahnya, Ino menatap pemuda itu sambil menanti reaksinya setelah darah itu mulai tersebar di seluruh tubuhnya.
Beberapa saat kemudian tubuh Gaara menegang, sementara kedua mata jade Gaara terbuka lebar. Dia merasakan panas di sekujur tubuhnya seolah terbakar hidup-hidup, erangan kesakitanpun mulai terdengar, sementara Ino yang tadi berada di atas Gaara kini berdiri di sisi sofa sambil masih menatap Gaara yang tampak menderita di sana.
Shizune yang mendengar suara teriakan Gaara langsung berlari menuju kamar Ino sambil berharap tak terjadi hal buruk pada pemuda itu, namun saat dia sampai di kamar majikannya itu, dia tak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat Gaara yang terbaring tak berdaya di sofa, sementara Ino yang mendengar suara pintu terbuka kini menatap Shizune tanpa ekspresi.
"No … Nona … jangan-jangan anda …" Shizune tak berani melanjutkan ucapannya saat melihat seringai di bibir Ino, sedangkan kedua matanya berkilat merah seperti ruby, namun terlihat mengerikan di mata Shizune.
"Ara Maid-san ka? Kenapa kau begitu terkejut?" tanya Ino tanpa merasa bersalah, padahal di depan matanya saat ini Gaara tengah terbaring tak berdaya dengan tubuh sepucat mayat.
"Nona-"
"Tenang saja!" Ino memotong ucapan Shizune dan mulai melangkah menjauhi sofa."Aku tidak membunuhnya, hanya saja … dia akan terbangun sebagai makhluk lain nantinya," kata Ino yang kini berdiri di depan almari besar yang belum sempat dia buka sejak tadi.
Mendengar ucapan Ino, Shizune pun menyadari sesuatu. Gaara memang tampak pucat seperti mayat, namun dia masih merasakan hawa kehidupan di dalamnya, meskipun energinya sudah bercampur dengan sesuatu yang lain.
"Jadi anda … merubahnya menjadi vampir?" lirih Shizune yang sedikit lega karena Gaara masih hidup, namun ada rasa iba karena pada akhirnya pemuda itu tetap harus mengorbankan diri demi Ino.
"Dia sendiri yang menginginkannya." Ino menggendikkan bahunya dan menjawab sekenanya seolah itu hal yang wajar.
"Ah, ada hal yang ingin kutanyakan padamu." Ino menyandarkan punggungnya di pintu almari yang urung dia buka dan kini menatap Shizune.
"Apa hubungan Gaara dengan sosok manusiaku?" tanya Ino kemudian, sementara Shizune tampak melebarkan matanya sesaat sebelum kemudian kembali normal.
"Tuan Gaara adalah orang yang penting bagi anda," jawab Shizune yang membuat sebelah alis Ino terangkat. Memang itu bukanlah jawaban yang memuaskannya, namun entah kenapa dia terlalu malas untuk mengetahuinya lebih detil karena sejak awal Shizune sudah tak berniat menegaskannya.
"Kheh, jawaban klise!" dengus Ino yang kini kembali menghadap almari dan mulai membukanya, bermaksud mencarikan selimut untuk Gaara, namun gerakannya terhenti saat mendapati jajaran pakaian pria tergantung rapi di dalamnya, dan aroma familiarpun mengusik indra penciumannya.
Shizune yang masih berdiri di ambang pintu kini terdiam saat melihat Ino terpaku di tempatnya sambil menatap isi almari di depannya.
"Itu pakaian Tuan Sasuke," batin Shizune yang sepertinya lupa untuk membereskannya tadi pagi. Seharusnya dia sudah menyingkirkan semua benda milik Sasuke agar tak terjadi kekacauan, tapi pada akhirnya dia justru tak sempat melakukan tugasnya itu karena shock akan perubahan Ino, bahkan dia lebih shock karena Ino tak memanggil namanya seperti biasa dan malah memanggilnya dengan sebutan pelayan.
Shizune yang tak tahu harus berbuat apa, kini hanya memandangi majikannya dengan tatapan khawatir, sedangkan Ino saat ini tengah mengambil sebuah kemeja dari dalam almari, dan dengan ragu mendekatkan kain itu di depan hidungnya untuk menghirup aroma familiar yang menguar dari sana.
"Hutan pinus," lirih Ino entah sadar atau tidak, sedangkan Shizune sendiri tak tahu bagaimana ekspresi majikannya itu saat ini, karena Ino tengah membelakanginya dan tak bergerak sedikitpun dari sana. Jujur itu bukanlah reaksi yang dia bayangkan terjadi kalau Ino sampai menemukan barang milik Sasuke di kamarnya.
"Ini bukan milik Gaara kan?" tanya Ino yang Shizune asumsikan ditujukan padanya, karena hanya dirinyalah yang ada di sana untuk mendengarkan pertanyaan itu.
"Itu … memang bukan milik Tuan Gaara, Nona." Shizune menjawabnya dengan ragu, sementara Ino masih berdiri di tempatnya seolah sedang memikirkan sesuatu, namun beberapa saat kemudian Shizune dibuat speachless saat melihat Ino melepas gaunnya begitu saja dan memakai kemeja yang baru dia temukan, lalu berjalan melewati Shizune yang masih terdiam di depan pintu dan menghilang di dalam kegelapan lorong koridor kastilnya.
Shizune yang sempat melihat ekspresi Ino saat melewatinya tadi kini menatap kosong ke arah koridor gelap di mana Ino menghilang.
"Nona … akankah kau mengingatnya?" batin Shizune yang tentu berharap majikannya kembali seperti dulu.
Ino berjalan menyusuri koridor kastil dengan tatapan kosong, bahkan dia tak berpikir kemana dia akan pergi dan hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Dia tak mengerti kenapa dadanya terasa sakit saat menghirup aroma pine dari baju yang dia kenakan, dia bahkan tak bisa mendefinisikan perasaan yang dia rasakan saat ini. Entah itu sedih, marah, atau semacam kerinduan, dia tidak tahu pasti tapi entah kenapa dia hanya ingin aroma itu dekat dengannya sehingga dia langsung mengenakan kemeja itu bahkan tanpa memakai apapun di baliknya.
Setelah beberapa saat berjalan tak tentu arah, akhirnya Ino terhenti di sebuah gazebo di pinggir danau buatan di belakang kastil. Gadis itu menatap sekelilingnya seolah sedang mengingat-ingat hal apa yang pernah terjadi di sana sampai dirinya tak sadar sudah melangkahkan kaki ke tempat itu, namun memorinya tak mau merangkai apapun yang pernah terjadi di sana. Seperti saat dia mencoba mengingat sesuatu ketika dia menatap ke luar balkon kamarnya, dan berakhir tak mendapati apapun.
Ino kesal sendiri karena perasaannya seolah mempermainkan dirinya, dia tak ingin dibayangi memori-memori tentang sosok manusianya, namun jauh di dalan dirinya ada sesuatu yang memicu dirinya untuk mencari tahu tentang dia sebelum ini.
"Damn you human!" kesalnya sambil menghantamkan dahinya pada pilar gazebo. Darah mulai mengalir dari luka hantaman di dahinya, sementara tubuhnya kini merosot terduduk di lantai marmer di bawahnya.
"Ino!"
Ino tersentak saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya, namun dia tak mendapati siapapun di sekitarnya.
"Ino!"
Lagi, Ino mendengar suara yang sama memanggilnya namun saat dia melihat sekitarnya, lagi-lagi hanya kekosongan yang dia dapat.
"Siapa?! Tunjukkan dirimu!" seru Ino yang kini berlari ke pinggir danau sambil kebingungan mencari siapapun pemilik suara itu.
"Sasu … apakah kau … mencintaiku?"
Kini Ino jatuh terduduk di rerumputan sambil memegangi kepalanya, sementara kedua mata crimsonnya menyala kemerahan dan otaknya mencoba memproses apa yang baru saja terlintas dalam pikirannya.
"Sasu … dare?" gumam Ino yang merasa tak pernah mengenal nama itu, namun entah kenapa nama itu bisa terlintas dalam pikirannya saat ini.
"Aku mencintaimu Ino …"
Suara yang sama kembali terngiang, dan bahkan lebih jelas dari yang tasi, namun Ino masih kesulitan untuk mencari siapa pemilik suara itu.
"Atashi … mo … Sasuke …"
"Sa … Sasuke?" lirih Ino memastikan, namun memorinya masih tak mampu merangkai seperti apa sosok Sasuke yang nama dan suaranya tergiang di dalam pikirannya.
"Sasuke?" lirihnya lagi, sebelum kedua matanya terpejam dan menghapus segala serpihan memori yang sempat terlintas di dalam pikirannya.
.
.
.
.
TBC
Gomen minna, atas lamanya apdetan fic ini, n sekalinya apdet malah se dark ini. maaf kalau chap ini mengecewakan dan malah banyak adegan gaaino dari pada sasuino.
Yaah memang waktunya untuk adegan ini sih sebenerenya, udah lama juga saya rencanakan untuk menulis scene ini.
Gimanapun juga Gaara perlu dapet peran penting di sini, dan inilah yang terpikir hehehe
Untuk Promise, kayaknya author ini perlu membaca ulang dari awal sebelum melanjutkan, tapi udah ada sedikit plotnya kok. Yah semoga aja bisa segera menulisnya dan apdet tak lama lagi.
Untuk yang sudah menunggu lama, maafkan saya yang tak becus sebagai author ini _
Dan kalau masih ada yang sudi membaca dan mereview fic ini, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya.
Ah ya, dan mungkin chap depan saya akan mengganti nama akun saya di ffn, jadi kalau ada Black Pearl Exorcist dengan nama author lain itu nggak masalah, itu masih saya.
Dan seperti biasa sebagai penutup, silahkan menikmati chap baru ini, RnR jika berkenan
*Salam Cute*
Rasanya sudah lama sekali saya nggak menulis kalimat terakhir seperti ini, hisashiburi …
Saa minna, tadaima! ^_^
