Title : After I Let You Go
Genre : Romance, Spice of Life, Hurt, BxB
Rating : NC
Length : 8 Chapters + Prologue + Epilogue
Cast : Choi Seungcheol, Yoon Jeonghan, Lee Jihoon (genderswitch)
[DISCLAIMER]
Seluruh cast di fanfiksi ini benar-benar ada dan sejujurnya melanggar aturan FFN. Namun Pitik tetap menggunakan namanya sebagai bahan imajinasi. Alur cerita memang milik Pitik, namun karakter mereka sesungguhnya adalah milik mereka sendiri. Maafkan Pitik, FictionPress!
Chapter 8: Reachable Exile
Beberapa waktu berlalu. Jeonghan sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di Daegu. Ia tengah hamil muda, hampir menginjak 3 bulan. Perutnya belum terlalu besar dan ia masih mampu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka, ia dan calon bayinya.
Dia laki-laki, seorang dominan, begitu kata dokter saat Jeonghan melakukan check-up kedua kalinya. Ia memang jarang memeriksakan kandungannya ke dokter. Hanya beberapa kali, bila ia sedang tidak sibuk.
Pria carrier itu mengambil beberapa pekerjaan paruh waktu. Mulai pagi ia akan pergi ke kedai makan untuk mengambil daftar belanjaan lalu pergi ke pasar untuk membeli seluruh kebutuhan mereka. Pemilik kedai sangat baik padanya. Biasanya mereka akan memberi sarapan sebagai bonus. Mereka bilang Jeonghan harus makan yang banyak demi bayinya.
Jeonghan sendiri terbiasa melewatkan acara sarapan dulu. Namun semenjak memiliki bayi, ia seakan tidak bisa menjalani hari tanpa menikmati makanan ketika pagi. Terkadang ia mengingat Seungcheol di saat-saat seperti ini.
Siangnya, ia membantu pegawai penginapan untuk merapikan kamar dan mencuci seprai. Jeonghan mendapatkan upah yang lumayan karena pekerjaan ini, walaupun tidak sebesar saat bekerja di klub malam dulu.
Ia menempati sebuah indekos di dekat kedai makan. Biaya sewa yang murah membuatnya memilih untuk tinggal di sana. Jeonghan juga mendapatkan banyak bantuan dari tetangganya.
Anak laki-laki pemilik kedai makan, Lee Seokmin biasanya selalu menjadi bulan-bulanan penghuni kos. Dia sering disuruh mengganti lampu yang rusak atau membetulkan atap bocor. Bila terjadi kerusakan pipa air atau listrik, dia juga yang mengurusnya.
Seokmin cukup tampan dan ceria. Banyak orang yang menyukainya, termasuk Jeonghan. Bukan menyukai dalam artian ingin menjadi kekasihnya. Toh, ia sudah menjalin hubungan dengan salah satu pegawai penginapan. Hong Jisoo namanya.
Mereka sering menghabiskan waktu berdua ketika Jeonghan sedang mencuci seprai di lavatory. Tak jarang Jeonghan menegur mereka berdua karena membiarkan orang hamil bekerja sendirian. Pada akhirnya, mereka yang akan mencuci seprai sementara Jeonghan bersantai di luar, memandangi pemandangan di belakang hotel.
Ya, Jeonghan sangat menikmati kehidupan barunya. Tidak sesulit yang ia bayangkan. Walau begitu, ia masih tetap mengingat Chungha, teman baik yang ia tinggalkan di Seoul. Entah bagaimana kabar wanita itu sekarang. Anaknya tumbuh dengan baik di Daegu dan ia tidak merasa kesulitan sama sekali.
Ia akan pulang ke indekos sore hari, saat mataharinya sudah mulai terbenam. Sesampainya di kamar, Jeonghan akan membersihkan dirinya kemudian istirahat. Kamarnya tidak terlalu berantakan karena seharian penghuninya akan berada di luar.
Suatu malam, sepertinya sudah sangat larut, Jeonghan terbangun dari tidurnya. Ia merasa sangat ingin memakan cupcake. Itu bukan makanan yang aneh namun masalahnya adalah tidak ada yang akan menjajakan cupcake selarut ini. Tidak akan ada di sekitar indekosnya.
Ada perasaan kecewa yang menjalari hatinya. Mungkin ini keinginan dari anak di dalam perutnya. Sang ibu sangat ingin meminta maaf bila anak ini sudah lahir, maaf karena tidak bisa memenuhi keinginannya.
Malam itu Jeonghan tidak bisa tidur. Di benaknya hanya terlintas cupcake dan krim manis rasa vanilajuga buah ceri di atasnya. Jeonghan– atau mungkin jabang bayinya– sangat menginginkan yang seperti itu.
Tapi hanya dengan membayangkan makanan itu, tidak akan ada yang namanya keajaiban. Maka dari itu ia mengambil tas kecilnya– yang berisikan dompet serta ponsel– dan berjalan keluar kamar. Ia tidak tahu ke mana tujuan langkahnya, tapi ia tetap ingin keluar, menyusuri kompleks penduduk sambil berharap siapa tahu ada toko yang terbuka.
Kakinya melangkah dengan pelan. Beban di perutnya membuat kedua tungkai itu tidak bisa bergerak dengan cepat. Semua pertokoan di wilayah itu sudah tutup. Itu membuat perasaan kecewa yang dirasakannya semakin besar. Jeonghan menyesal telah menaruh harapan dalam kemustahilan.
Langkahnya berhenti di pinggir jalan. Ia menunduk dan melihat bayangannya sendiri yang tercipta oleh lampu jalan. Tapi sedetik kemudian ia menyadari sesuatu yang aneh.
Bayangannya tidak sendiri, ada bayangan tinggi lain– selain milik lampu jalan, tentu saja.
Sontak ia memalingkan wajahnya ke belakang. Ada seseorang di sana, berdiri tak jauh di belakangnya. Wajahnya tampak gelap karena ia tengah membelakangi sinar lampu. Jeonghan tidak bisa mengenalinya.
Seharusnya ia merasa ketakutan karena situasi ini. Ada seseorang yang mengikutinya di malam yang selarut ini. Ditambah lagi ia sedang hamil. Bila orang itu adalah perampok, maka ia bisa habis di tempat.
Tapi kakinya malah melangkah maju, semakin dekat dengan sosok itu. Tidak ada keraguan di sana, malahan secercah harapan terbentuk di hatinya.
Bodoh memang berharap orang itu akan berada di Daegu. Laki-laki itu bahkan tidak mencarinya sama sekali selepas membuat bayi ini ada. Tapi selama dunia ini masih ada, semuanya mungkin. Dan Jeonghan berharap kalau sosok yang ia tuju sekarang adalah–
"Seungcheol," kenalnya.
Pria di hadapannya sekarang itu benar-benar Seungcheol, seseorang yang ia harapkan. Entah apa tujuannya berada di tempat ini dan dari mana ia bisa mengetahuinya.
"Aku hampir gila karena mencarimu," ujarnya.
Jeonghan tidak bisa berkata-kata. Ada banyak yang ingin ia sampaikan namun tidak ada yang dapat tersusun dan siap untuk dilontarkan.
"Kenapa kau berkeliaran di luar selarut ini? Apa bayimu menginginkan sesuatu?"
Pria carrier itu masih terdiam di tempat. Ia tidak tahu perasaan apa yang sedang hinggap di hatinya sekarang. Apakah itu senang, sedih, gembira, terkejut, atau bingung?
"Yoon Jeonghan," panggil laki-laki itu. Ia meraih kedua pundaknya, berusaha menyadarkan carrier-nya dari lamunan.
"Katakan padaku ini bukan mimpi," lirihnya pelan. Hanya kalimat itu yang mampu terucap oleh bibirnya.
Tangan Seungcheol yang berada di atas pundaknya perlahan bergerak naik, menelusup ke sela-sela surai pirang pudarnya. Ia mengambil satu langkah semakin dekat dan menempelkan bibirnya di dahi sang carrier, mengecupnya singkat.
Setelah kecupan itu, Jeonghan tidak bisa menahan air matanya untuk mengalir. Katakanlah ia cengeng, namun menangis adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang. Pertanyaan-pertanyaan Seungcheol sebelum ini sangat membuatnya tersentuh sekaligus lega.
Seungcheol baru saja memperhatikan bayi dalam kandunganya.
"Apa kau ingin membeli sesuatu?" tanyanya sambil menatap lurus mata carrier itu.
"Kau akan membantuku mencarinya?" balas Jeonghan dengan tatapan sembab.
Dominan di hadapannya itu tersenyum, lengkap dengan lesung pipit yang dirindukan Jeonghan. Ia mengelus puncak kepala pria carrier itu pelan seakan Jeonghan adalah anak kecil yang sedang merajuk.
"Aku akan membelikan apapun untuk calon bayiku."
Butuh waktu lama bagi Seungcheol sampai akhirnya kata-kata itu bisa meluncur dari bibirnya. Memiliki partner seks bagi Seungcheol hanya untuk penyaluran nafsunya saja. Ia tidak menyangka seorang bayi akan muncul sebagai buahnya. Dan mengabaikan perasaan Jeonghan merupakan kesalahan terbesar yang ia lakukan.
Partner seksnya sudah jatuh cinta. Carrier itu juga merelakan jiwa raganya untuk anak mereka. Walaupun Seungcheol mungkin tidak akan menerima anak itu, ia tetap hidup dan menjaganya dengan sepenuh hati. Perutnya tampak semakin berisi sekarang.
Seungcheol tidak tahu bagaimana kehidupan Jeonghan selepas ia membiarkannya pergi begitu saja. Tapi ia cukup bisa menjaga dirinya dengan baik melihat pipi carrier itu tidak sekurus miliknya. Laki-laki itu tidak pernah mengurus dirinya dengan baik. Tidak akan bisa di tengah dilema besar yang melanda hatinya.
Satu hal yang ia syukuri sekarang adalah bahwa semuanya masih bisa diperbaiki. Akan memakan waktu bagi Jihoon untuk memaafkan perbuatannya. Namun, yang terpenting sekarang, ia harus menjaga buah hatinya. Anak itu memang hasil dari ketidakpedulian. Tapi ia tetap anaknya, darah dagingnya juga.
Seungcheol juga ingin melindungi bayi itu dengan ibunya, Yoon Jeonghan. Bersama-sama.
"Kembalilah ke Seoul–," bujuk Seungcheol.
"–dan tinggallah bersamaku."
"Aku tidak ingin kehamilanku menjadi beban bagimu. Jangan membujukku hanya karena merasa bertanggung jawab," tepis Jeonghan yang tidak ingin terlarut dalam suasana.
"Menikahlah denganku."
"Jangan memaksakan dirimu!"
"Menikahlah denganku setelah anak itu lahir," tegas Seungcheol.
Namun sang carrier malah terdiam dan memalingkan wajahnya. Pembicaraan ini membuat keinginan makan cupcake-nya lenyap. Ia tidak ingin dikasihani. Dibanding menikah dengan Seungcheol atas dasar paksaan, lebih baik ia membesarkan bayinya seorang diri.
"Apakah bayi itu seorang laki-laki?" tanya Seungcheol mengubah topiknya.
Jeonghan baru saja ingin berlalu meninggalkan Seungcheol, tapi laki-laki itu malah membuatnya berhenti sejenak.
"Seorang dominan," balas Jeonghan. Walaupun ia menolak menikahinya, setidaknya sang ayah pantas untuk mengetahui hal ini.
"Sunwoo," cetus Seungcheol tak lama kemudian.
Jeonghan masih memalingkan wajahnya. Ia tidak berminat menatap mata Seungcheol saat ini. Tapi tubuhnya masih membeku di tempat, seakan menunggu laki-laki itu menjelaskan cetusan satu kata barusan.
"Aku hanya ingin menyumbang saran untuk namanya nanti."
Carrier itu sekali lagi menangis dalam diam, menyembunyikannya dalam keheningan agar Seungcheol tidak menyadarinya.
"Aku akan mengingatnya."
.
.
.
Lee Jihoon bisa menandai tanggal ini sebagai hari paling bersejarah dalam hidupnya. Ia sudah lulus dari kampusnya dan mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan sebelum ini. Hal yang membuatnya bersejarah adalah bahwa ini hari pernikahannya.
Bersama Kwon Soonyoung.
Mungkin dua tahun lebih telah berlalu semenjak pernyataan suka laki-laki itu. Memang sulit untuk berbaikan dengan sumber rasa jengkelnya. Tapi Soonyoung selalu memiliki cara untuk menyiasati amarahnya.
Dengan melempar sindiran misalnya. Berbeda dengan Seungcheol yang langsung bersikap seolah tidak terjadi apapun dan minta maaf, Kwon Soonyoung sedikit lebih unik. Ia akan langsung mengoreksi apa yang salah dan mencoba mengungkapkannya.
Itu membuat Jihoon merasa sedikit lebih lega. Setidaknya tidak ada rahasia di antara mereka. Soonyoung selalu memperhatikannya setiap saat. Tidak ada celah untuk bersembunyi.
Senyumannya kembali muncul, meninggalkan kenangan bersama Seungcheol di masa lalu. Mungkin jalan hidupnya memang bersama dengan laki-laki sipit yang gemar membuatnya emosi ini.
Hari itu pemberkatan mereka. Gadis itu tampak canti mengenakan gaun pengantinnya. Ayahnya merangkul lengannya erat seakan belum rela untuk melepas putrinya. Beliau memang sempat ingin menolak Soonyoung karena wajahnya tidak meyakinkan. Tapi melihat Jihoon sendiri yang datang dan membujuknya untuk bertemu laki-laki itu, ia mulai menaruh kepercayaan padanya.
Kalau Kwon Soonyoung bisa membuat anaknya yakin untuk menikahinya, maka ia pasti bisa meyakinkan ayahnya untuk menerimanya sebagai menantu.
"Setelah ini, aku tidak akan tinggal di rumah lagi," bisik Jihoon pada ayahnya.
"Aku akan sering mengunjungimu agar kau mengingat rumah lamamu," balas ayahnya.
Jihoon tertawa kecil, namun ia menaruh buket bunga di depan bibirnya untuk menutupi hal itu. Ayahnya menggoyangkan tangannya sedetik kemudian, menyuruh putrinya itu fokus kembali pada upacara pemberkatannya.
Gadis itu berjalan menghampiri calon suaminya yang sudah menunggu di depan altar. Mereka menjalani upacara sakral itu dengan bertukar cincin juga ciuman. Membuat semua orang yang hadir di sana menatap iri akan keromantisan pasangan ini.
Selepas pemberkatan, mereka mengadakan resepsi di taman dan mengundang teman serta kerabat mereka. Jihoon agak kelelahan karena harus mengenakan heels selama pesta. Jadi seusai jamuan itu, ia langsung melepas sepatunya dan duduk di kursi tamu sambil memijat pelipisnya.
Soonyoung tengah asyik bercengkrama dengan teman lamanya. Jihoon tidak marah karena suaminya mengabaikannya. Ia malah bersyukur Soonyoung tidak ada di sampingnya sekarang. Karena celotehan laki-laki itu akan membuatnya jengkel dan semakin lelah.
"Jihoon-ah," panggil seseorang tiba-tiba menghampirinya dan berdiri di hadapannya.
Sejenak, gadis itu ingin sekali mengumpat. Namun ini adalah hari bahagianya, ia harus menelan umpatan itu kembali. Apalagi karena yang menghampirinya sekarang adalah tamu spesial.
"Seungcheol," pekik Jihoon girang.
Gadis itu juga mengundang mantannya. Sesuatu seperti ini sangat perlu. Jihoon menganggapnya sebagai balas dendam terselubung karena pria itu pernah mengkhianatinya.
"Kau datang sendirian?" tanya Jihoon lagi. Ia tidak bermaksud menyudutkan mantan kekasihnya, tapi memang begitu keadaannya sekarang.
"Aih…" Perlahan Seungcheol mengusap tengkuknya canggung, "Aku belum berani mengajaknya."
Jihoon memajukan bibirnya pelan, sedikit kecewa.
"Padahal aku ingin melihat seseorang beruntung lainnya yang menjadi kekasihmu," ungkapnya blak-blakan.
Seungcheol terkekeh pelan. Gadis itu benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata sekarang.
"Dia bukan kekasihku," ralat Seungcheol.
Jihoon terbelalak sejenak. Ia sebenarnya agak penasaran dengan keadaan mantannya sekarang. Bila bukan kekasih, lalu apa status mereka?
"Kau tampak cantik dengan gaun pengantin," puji Seungcheol kemudian, mengalihkan topik pembicaraan mereka, "Andai saja aku yang berdiri di depan altar tadi."
"Jangan harap kau bisa menggantikanku," sela Soonyoung tiba-tiba merangkul bahu pria itu.
"Aku hanya sedang memujinya. Lagipula kalian barusan menikah," bela Seungcheol.
Soonyoung terkekeh pelan.
"Ingat saat kau bilang akan mengirimkan undangan pernikahan ke depan rumahku? Aku yang lebih dulu melakukannya," bangga Soonyoung ikut-ikutan menyindir Seungcheol.
Pria itu merasa terintimidasi di antara pasangan baru ini.
"Aku tidak pernah bilang kapan akan mengirimnya," kelit Seungcheol. Ia bahkan tidak tahu kapan akan mencetak undangannya.
Teman lamanya itu menatapnya tajam. Ia juga mengacungkan telunjuknya ke hadapan wajahnya.
"Aku menunggu," ujarnya.
Tiba-tiba Jihoon berdiri dari kursinya dan meraih tangan Seungcheol, menggenggamnya erat.
"Kami akan menunggunya," timpal gadis itu.
Seungcheol tersenyum lebar. Ia menghela nafasnya sejenak sebelum memberikan pernyataan resmi tentang apa yang sedang pasangan baru ini tunggu sekarang.
"Aku harus bicara padanya terlebih dahulu."
.
.
.
To be continued
Tinggal epilog hehe
