THE CLOCK TOWER

By PurpleliciousVioletta

.

Inspired of The Struggle Within: Clock Tower II

.

"Ah! Aku tidak tahu jika ini ada hubungannya atau tidak. Aku hanya penasaran ketika Okaa-chan histeris saat tanganku tergores pecahan piring saat aku membantu Okaa-chan di dapur," ucap Naruto membuka pembicaraan. Sejenak ia menatap Kushina setelahnya.

Minato tampak berpikir, "apa lukamu berdarah saat itu?"

"Iya. Tapi hanya sedikit. Lalu, aku mencuci lukaku di westafel, dan saat itulah Okaa-chan mulai menangis," jawab Naruto yakin.

Minato mengalihkan tatapannya pada Kushina yang terlihat semakin murung. "Mungkin karena itu ya?" gumamnya lirih.

Sasuke dapat mendengarkan ucapan Minato yang membuatnya semakin penasaran.

"Apa maksud Minato-san 'karena itu'?" tanya Sasuke.

Minato kembali menatap Naruto dan Sasuke bergantian.

"Sejak melihat kastil itu, aku langsung tertarik dan ingin membelinya. Kupikir, kastil seperti itu pasti sangat mahal dan belum tentu pemiliknya mau menjualnya. Lalu, aku iseng bertanya kepada pemiliknya. Dan ternyata, dia mau menjualnya. Harganya pun sangat murah," kisah Minato.

Ia menghentikan ceritanya saat seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka.

"Lalu, Otou-chan langsung membelinya?" tanya Naruto.

"Aku malah berpikir jika Dewi Fortuna sedang memihakku. Aku sama sekali tak curiga. Sampai saat penyerahan akta tanah dan bangunan itu, aku merasa ada yang salah dengan syarat yang diajukan pemilik sebelumnya," Minato menatap Kushina sejenak, "dia meminta darah kami beberapa tetes."

- Chapter IX -

"Bagaimana kabarmu hari ini, Ojou-sama?"

Wanita bersurai blonde itu menyentuh seprai putih yang begitu rapi menyelimuti spring bed besar diatas ranjang. Beberapa kali ia belai permukaannya sebelum akhirnya duduk di sudutnya.

"Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu. Kau malah pergi mengikuti pemuda Uchiha itu," ucapnya lagi.

Wanita yang dikenal dengan nama Tsunade itu menerawang keluar jendela berkusen kayu yang dicat coklat kental. Ia tetap diam seperti itu selama beberapa saat sebelum akhirnya memandang kearah meja rias dihadapannya.

"Walaupun kau tak mau menampakkan wujudmu didepanku saat ini, aku tahu kau ada disini. Mendengarkan aku bicara seperti ini kan?"

Hening.

Meskipun begitu, udara diruangan itu terasa benar-benar berat. Suhu terasa agak dingin walaupun saat ini adalah musim panas yang cukup membuat tubuh sangat gerah. Tsunade tidak mempedulikannya. Malah ia senang dengan keanehan di ruangan itu yang menandakan sang pemiliknya berada disitu bersamanya.

"Kau dan aku tahu persis, dia itu bukan Uchiha Izuna. Jadi, berhentilah mengejarnya," suaranya semakin sendu, "biarkan aku membawamu kembali, Ojou-sama. Semua ini kulakukan untuk dirimu."

Tsunade semakin merasakan seperti seseorang mendekatinya dan berdiri dihadapannya. Ia tak dapat melihatnya, tapi ia yakin seperti itu.

"Naa, Ojou-sama?"

.

"Darah?"

Naruto dan Sasuke hampir berteriak bersamaan. Karena kuatnya suara Naruto, beberapa orang yang ada di restoran itu menatap kearah mereka.

"Kenapa mereka meminta darah kalian? Kenapa kalian tidak menolak?" Naruto terlihat kesal dengan suara yang sedikit ditahan.

"Maa.. saat itu rasanya aku tidak bisa mengendalikan tubuhku, dan mengiyakan semua yang dia katakan. Ibumu pun juga begitu," jawab Minato gugup.

"Apa yang dia katakan tentang darah kalian?" tanya Sasuke tenang.

"Dia tidak mengatakan apapun. Tapi, sejak kami tinggal disana, kejadian-kejadian aneh pun mulai terjadi."

"Contohnya?" Naruto tampak begitu serius.

"Seperti.. setiap malam, selalu ada yang mengetuk pintu depan atau pintu kamar. Ketukan pertama tidak ada siapa-siapa. Setelah aku menutup kembali pintunya, ketukan pintu kembali terdengar. Berulang kali terus seperti itu sepanjang malam, sampai aku tak bisa tidur."

"Lalu, bagaimana? Apa Otou-chan dan Okaa-chan tahu pelakunya?" tanya Naruto saat Minato berhenti bicara sebentar.

"Ya. Di malam ketiga, kami baru mengetahuinya," jawab minato.

"Siapa?"

Minato menghela napasnya, "Ojou-sama."

Sasuke tak terlalu terkejut. Ia sudah menduganya jika Hyuuga Hinata mungkin pelakunya.

"Aku sangat terkejut saat melihatnya. Penampilannya sebenarnya tidak menakutkan. Hanya saja, kami tidak biasa dengan hal seperti itu. Setiap Ojou-sama muncul, dia seperti berteriak kepada kami. Tapi tak ada suara apapun darinya yang terdengar," lanjut Minato.

Naruto dan Sasuke tidak mengatakan apapun. Membayangkan apa yang pernah dialami pasangan itu memang cukup rumit. Orang awam pun pasti takut jika mengalami hal seperti itu.

"Keesokan harinya, aku langsung bicara pada Tsunade. Kau tahu apa yang dia ucapkan saat itu?"

"Apa?" tanya Naruto –yang juga mewakili rasa penasaran Sasuke.

"Awalnya memang terdengar aneh. Dia bilang, sejak darah kami menyentuh kastil, hidup kami selamanya milik Ojou-sama, sampai beliau melepaskan kami. Kami sudah terkurung di Konoha. Dan, tentang kemunculan Ojou-sama di depan kami, itu pertanda jika beliau sudah memilih kami untuk melakukan persembahan," jawab Minato. Ia sempat mengalihkan pandangannya dari Naruto yang menatapnya tak percaya.

"Persembahan? Apa yang kalian lakukan?" tanya Sasuke.

Sementara Naruto tiba-tiba mengalihkan tatapannya pada Kushina. Kushina yang sempat balik menatap Naruto, langsung menghindari saling tatap dengan putranya itu. "Jangan-jangan.. ini ada kaitannya dengan penyakit Okaa-chan?" ucap Naruto dengan suara tertahan.

Sasuke langsung menatap kearah Kushina setelah Naruto bicara. Sementara wanita yang mereka tatap masih membuang tatapannya dengan mereka.

"Mungkin saja," jawab Minato ragu.

"Apa yang kalian lakukan tentang persembahan itu?" Sasuke mengulang pertanyaannya lagi.

Kali ini Minato ikut mengalihkan tatapannya dari Sasuke dan Naruto. Beberapa saat lalu ia memang yakin akan mengatakannya kepada dua pemuda itu. Namun, saat melihat Kushina yang duduk disebelahnya, ia mulai ragu.

"Ada apa, Otou-chan? Katakan pada kami yang sebenarnya!" desak Naruto.

"Apa dengan memberikan darah kalian?" terka Sasuke.

Seketika kedua pasangan itu menunduk. Sasuke pun semakin yakin jika ucapannya kemungkinan besar benar.

Naruto memandang dengan tatapan tak percaya kearah kedua orang tuanya yang masih menunduk. "Jadi.. penyakit anemia Okaa-chan.. karena kalian memberikan darah kalian untuk persembahan?"

Minato mengangguk pelan sebelum menatap Sasuke dan Naruto lagi. "Ya. Tapi, hanya ibumu yang melakukannya, Naruto. Aku tidak. Tsunade bilang, darah Kushina lebih cocok. Tapi, aku tetap tidak bisa lepas dari kutukan ini," jawab Minato.

Naruto semakin terperanjat saat mendengar jawaban Minato. Sementara Sasuke melihat kearah Kushina. Ia tidak terlalu mengerti, tapi ia tahu bagaimana perasaan Kushina menghadapi situasi saat ini.

"Kenapa kalian mau melakukannya?" tanya Naruto setengah berteriak, "apa tidak ada cara lain untuk menghindarinya?"

Keempatnya kemudiam diam. Semuanya saling menghindari bertatapan langsung satu sama lain. Bahkan tiga cangkir teh dan secangkir kopi yang semula panas, kini sudah beranjak dingin. Uap-uap yang semula mengepul dari atas masing-masing cair tidak terlihat lagi.

"Tsunade tidak pernah bicara tentang persembahan kepada kami. Bahkan penjelasan tentang kutukan ini pun tidak," kata Sasuke yang mencoba memulai kembali pembicaraan mereka.

"Kami yang meminta Tsunade untuk tidak menceritakannya pada kalian," sahut Kushina tiba-tiba.

"Okaa-chan?"

Kushina kali ini tersenyum kepada Naruto. "Maaf, Naruto, sudah membuatmu khawatir," ucapnya kemudian.

"Tentang kutukan itu sendiri, Tsunade pernah mengatakan, 'setetes darah saja, cukup untuk membuatnya seperti Kushina-san dan Minato-san.' Apa maksudnya memang seperti itu –hidup kalian akan abadi, sampai Hinata mencabut kutukan itu dari kalian?" tanya Sasuke.

"Ya, seperti itu," jawab Minato.

"Jadi, karena darah Naruto pernah jatuh di kastil itu, maka ia sudah terkena kutukan tanpa ia sadari?" tanya Sasuke meminta jawaban pasti.

Kushina mengangguk, "makanya, aku sempat syok saat itu," ia menatap Naruto lekat, "melakukan persembahan ini pun kami terpaksa, Naruto. Jika kami tidak melakukannya, di seluruh tubuh kami terasa seperti ada sesuatu yang bergerak. Benda itu terus bergerak dan rasanya sangat gatal."

"Pernah sekali kami tidak menyerahkan darah Kushina, akibatnya.. bisa membuat kami sampai gila karena saking gatalnya," jawab Minato dengan raut wajah yang tak biasa.

"Bukan ruam atau alergi?" tanya Sasuke memastikan.

"Bukan. Dokter mendiagnosis kami terkena penyakit yang lebih dikenal dengan nama morgellons," kali ini yang menjawab Kushina.

"Morgellons?" ulang Naruto heran.

"Itu penyakit kulit yang masih misterius, Naruto. Penderitanya mengatakan seperti ada parasit yang terus bergerak dibawah kulit mereka," jawab Sasuke menjelaskan.

"Ha?" Naruto masih tampak belum mengerti.

"Sebagian dokter menganggap penderitanya mengalami penyakit kejiwaan. Bisa dikatakan, penderitanya dianggap gila," jelas Sasuke lagi.

"Seperti yang dikatakan Sasuke-kun, Naruto. Bahkan ibumu sempat dianggap gila oleh sebagian dokter di Konoha," Minato ikut memperjelas.

"Jadi, sekarang kalian bagaimana?" Naruto terlihat khawatir.

"Sekarang tidak apa-apa. Selama kami rutin memberikan persembahan kepada Ojou-sama, penyakit seperti itu tidak akan mengusik kami lagi," jawab Minato sambil tersenyum –meyakinkan Naruto agar tidak perlu khawatir.

Naruto tampak menghela napasnya lega setelah mendengar jawaban Minato. Ia mengambil secangkir teh yang kini tak hangat lagi dari atas meja dan meminumnya beberapa teguk.

"Jadi.. Naruto.." Kushina terlihat ragu, "tentang persembahan itu.. Tsunade memintamu melakukannya juga."

.

Uchiha Izuna dapat melihat jelas wajah Hinata yang lebam dibawah temaramnya cahaya bulan. Padahal Hinata berulang kali mengalihkan wajahnya dari pemuda itu. Sejak mereka bertemu di tempat itu, gadis itu sama sekali tidak bicara. Ia hanya duduk beralaskan rerumputan pendek di tepian danau kecil itu.

Hinata kembali teringat saat Tsunade pertama kali mengajaknya ke tempat itu dan bertemu Izuna. Dan kian hari, ia juga semakin dekat dengan pemuda itu karena Tsunade yang memperkenalkan mereka.

Uchiha Izuna tiba-tiba beranjak dari duduknya di samping Hinata dan berjalan menuju tepi danau. Di malam hari, dibawah cahaya bulan musim panas, danau berair biru jernih itu terlihat begitu cantik dengan pantulan-pantulan cahaya putih kebiruan. Kejernihan air danau itu pun semakin terlihat jelas.

Izuna belum puas dengan suguhan alam dihadapannya. Ia meraup air danau itu dengan kedua telapak tangannya. Sensasi dingin dan segar pun merasuk melalui kedua tangannya.

"Hinata, kemarilah."

Hinata menatap punggung Izuna lekat. Gadis itu bangkit dari duduknya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya. Ia dapat melihat pantulan wajah Izuna yang meliuk-liuk dipermukaan air.

Izuna mengisyaratkan Hinata untuk ikut berjongkok disampingnya. Setelah Hinata berjongkok disebelahnya, Izuna mengeluarkan sebuah kain kecil dari balik kimononya. Ia melipat kain itu hingga berbentuk persegi panjang dan mencelupkannya kedalam air danau.

Hinata hanya menatap pantulan wajah Izuna yang semakin samar.

"Boleh kulihat wajahmu?"

Hinata pun sontak menatap Izuna yang tengah menaatpnya. Pemuda itu tersenyum lembut. Sesaat kemudian ia kembali memalingkan wajahnya dari Izuna.

Hinata tak kunjung menjawab. Ia tak ingin melihat wajahnya yang masih lebam karena terlalu banyak menangis.

"Izuna-kun tidak akan suka meliha–"

"Aku suka," potong Izuna, "bagaimana pun penampilan Hinata, aku suka."

Hinata tercekat. Ucapan Izuna tak mampu lagi menahannya memalingkan wajah dari pemuda bermarga Uchiha itu.

"Tapi aku tidak suka jika Hinata menyimpan kesedihan sendiri."

Izuna tersenyum, kemudian ia menyentuh dagu Hinata. "Maaf, aku lancang," ucapnya.

Hinata yang sebelumnya masih disesakkan oleh kesedihan, kini perasaannya mulai tak menentu. Jantungnya sampai berdegup kencang saat Izuna menyentuhnya.

Namun, dalam jarak sedekat itu, Hinata dapat melihat kelereng onyx Izuna yang pekat. Ia seperti terhisap kedalam kegelapannya saat menatap lekat kelereng mata Izuna.

"Izuna-kun.."

Izuna dapat mendengar Hinata menggumamkan namanya. Ia pun kembali tersenyum dan mengusap perlahan wajah Hinata dengan kainnya tadi.

Hinata merasakan wajahnya begitu dingin saat Izuna mengusap wajahnya. Sontak membuatnya terkejut dan menggeser wajahnya refleks.

"Ah, maaf," ucap Izuna merasa bersalah. Ia langsung menarik tangannya dari wajah Hinata.

Hinata malah terkikik.

"Dingin sekali!" ucap gadis itu.

Izuna ikut tertawa melihat Hinata. "Aku kira, Hinata marah padaku," ucap Izuna disela tawanya.

"Tidak. Aku hanya terkejut. Dingin sekali!" sahut Hinata. Ia mencelupkan sebelah tangannya kedalam air danau itu, kemudian menempelkan tangannya yang basah dan dingin ke pipi Izuna. "Dingin kan?" katanya sambil tersenyum.

Izuna terlonjak sambil menggenggam tangan Hinata yang basah. Kemudian terpaku saat menyadari jarak mereka yang begitu dekat.

Hembusan angin malam itu tidak terlalu kuat. Namun, cukup mampu untuk menerbangkan dedaunan yang gugur dari pohonnya. Kedua muda-mudi di tepian danau itu pun tak merasakan hembusan angin yang membawa sedikit rasa sejuk. Izuna bahkan merasakan hembusan napasnya terasa berat dan hangat.

Semakin lama ia menatap jauh kedalam amethyst milik gadis dihadapannya, semakin lupa pula ia tentang perbedaan status mereka. Jarak diantara mereka kian menipis. Seakan keduanya adalah dua kutub magnet yang berbeda yang saling tarik menarik.

Pun ciuman hangat menghapus jarak diantara mereka. Baik Hinata maupun Izuna telah hanyut dalam kehangatan mereka yang telah berpadu. Harapan untuk waktu yang berhenti pun muncul dari hati kecil keduanya.

Namun, Izuna segera sadar dan menarik wajahnya dari ciuman mereka. Ia langsung mengalihkan tatapannya dari Hinata. Sebelah tangannya berusaha menutupi wajahnya yang kian terasa hangat. "Maaf, aku khilaf," ucapnya kemudian.

Hinata pun ikut mengalihkan wajahnya juga. Kedua tangannya mengepal diatas lututnya yang bersimpuh.

"Uh-hum."

Keduanya menjadi salah tingkah beberapa saat, sebelum Izuna mengajak Hinata mengakhiri pertemuan mereka malam itu.

Tak terlalu jauh dari rimbunan pepohonan yang berjarak beberapa meter dari tempat Izuna dam Hinata, tanpa mereka sadari seorang pria tengah mengintai mereka.

Dari cara berpakaiannya, pria itu kemungkinan berasal dari daerah Oto. Ia hanya berdiri disitu sambil memperhatikan kedua muda-mudi tadi.

"Bagaimana ya reaksi Orochimaru-sama jika mengetahuinya?"

Ia menyeringai, kemudian tertawa aneh sebelum meninggalkan tempat itu.

.

Sasuke dan Naruto masih tak percaya apa yang baru saja diucapkan Kushina. Meminta Naruto ikut melakukannya –menyerahkan darah pemuda itu untuk Hyuuga Hinata?

Uchiha Sasuke semakin dibuat pusing memikirkan rumitnya masalah yang menimpa sekeluarga Namikaze itu. Meskipun begitu, niat untuk menyerah sama sekali tidak ada. Bisa-bisa dia benar-benar jadi gila hanya dengan memikirkannya.

"H-hei, k-kenapa aku juga?"

Tentu saja Naruto juga tak ingin melakukannya. Ia tak mau menjadi domba ternak seperti ayah dan ibunya karena kutukan itu. Namun, jika menolak pun tampaknya akan menjadi rumit.

"Bagaimana ini, Sasuke?" ucapnya tampak frustrasi, "apa yang harus kulakukan?"

"Aku tidak tahu, Naruto," ucap Sasuke lirih.

Jawaban Sasuke terdengar begitu putus asa bagi Naruto, sekonyong-konyong membuat pemuda itu menarik kerah baju Sasuke.

"Kau kan pria jenius! Apa kau tidak bisa memikirkannya, ha?" seru Naruto.

Sasuke pun langsung melepaskan cengkeraman Naruto pada kerah bajunya. "Aku sedang memikirkannya, Teme! Tenanglah sebentar!" hardik Sasuke.

Pertikaian mereka pun kembali menarik perhatian semua orang. Naruto perlahan melonggarkan cengkeramanannya dari kerah baju Sasuke. Ia sempat menatap hampir seluruh mata yang memandang kearahnya sebelum tenang dan kembali duduk.

"Naruto," suara Kushina terdenagr cemas, "kau tidak apa-apa?"

Naruto mengangguk. "Maaf. Aku kelepasan," jawabnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku hanya –"

"Sudahlah, Naruto," potong Sasuke, "aku mengerti."

Naruto menatap Sasuke sejenak sebelum keduanya saling berjabat tangan. Untung saja keduanya sudah mengenal watak masing-masing. Jika tidak, pertikaian mereka mungkin tidak akan selesai hanya dengan ucapan.

"Kurasa, masalahnya ada pada Tsunade," ucap Sasuke kemudian. Ketiga orang yang ia kenal itupun begitu seksama menantikan pemikiran Sasuke selanjutnya.

"Aku juga berpikir seperti itu," sahut Minato, "yang ingin kudiskusikan dengan kalian sebelumnya pun sebenarnya tentang Tsunade."

"Oh, iya! Tentang ucapan Otou-chan tadi pagi juga. Otou-chan bertanya padaku, apa aku melihat sesuatu yang aneh pada Tsunade kan?" tanya Naruto memastikan.

"Memangnya, Minato-san melihat keanehan apa pada Tsunade?" Sasuke ikut bertanya.

"Dua malam lalu, aku melihatnya pergi terburu-buru kearah dapur saat tengah malam. Aku hanya iseng dan penasaran apa yang dia lakukan saat tengah malam seperti itu. Tapi, saat aku mengintip dari pintu dapur, aku melihat Tsunade seperti sedang kesakitan. Tubuhnya terlihat penuh dengan keriput. Namun, setelah beberapa saat, semua kulitnya yang keriput itu mengelupas," kisah Minato.

"Mengelupas? Yang benar saja!" timpal Naruto kemudian.

"Aku pun bingung harus menghadapi Tsunade bagaimana. Tentang siapa dia sebenarnya pun aku tak tahu. Tak ada sedikitpun petunjuk yang dapat membuktikan identitasnya," Sasuke menatap nanar kearah cangkir tehnya, "semalam aku bermimpi –ah, sebenarnya akhir-akhir ini aku sering bermimpi aneh.

Semalam aku bermimpi tentang Tsunade. Dalam mimpiku itu, aku berada disebuah lapangan eksekusi. Aku tidak begitu yakin jika itu benar, tapi suasana saat itu seperti di zaman abad pertengahan. Lalu, Tsunade melakukan seppuku."

Sekeluarga Namikaze itu diam. Setelah Sasuke selesai bicara, tidak ada yang menyahut.

"Jaa, jika Tsunade melakukan seppuku, kemungkinan untuk hidup, nol kan? Jadi, Tsunade yang saat ini siapa?" Naruto mulai bersuara.

"Itu yang selalu aku pikirkan. Dalam mimpiku, jelas-jelas aku melihat Tsunade tewas didepan mataku. Tsunade saat ini pun mengaku jika dia bukanlah hantu," ucap Sasuke lagi. Semuanya kembali memutar otak memikirkan siapa sebenarnya Tsunade.

"Mungkin saja dia dibangkitkan lagi," ujar Naruto.

"Dibangkitkan lagi? Oleh siapa?" sahut Minato.

Sasuke masih diam memikirkan. Sementara Naruto kembali menjawab. "Orochimaru, mungkin. Kami belum mendapatkan informasi yang jelas tentang Orochimaru," jawabnya.

"Orochimaru-san sudah meninggal setahun yang lalu, Naruto. Kami bahkan menghadiri upacara pemakamannya," sahut Kushina.

Sasuke dan Naruto terperanjat. Identitas Tsunade pun semakin menjadi rumit untuk diungkap.

"Lalu, siapa Tsunade saat ini sebenarnya?"

.

つずく

.


Yoh, akhirnya update lagi, setelah beberapa hari kena sindrom males update #ditendang. Chapter depan udah mulai klimaks lho, tapi belum tau berapa chapter lagi ending nya, hoho.. pokoknya sabar aja ya, Author usahain tiap minggu update kok..

Makasih banyak yang udah review atau baca fic ngaret ini *telat*

yang mau chapter depan review lagi ya, biar Author ini jadi tambah semangat! \cao/