Disclaimer : dari dulu saya sudah bilang bahwa Bleach milik Kobo Tite seorang.

Warning : crack pairing, gender bender, OOC, gaje, garing.


Jyuushiro berlari keluar rumah dengan tergesa-gesa. Entah kemana tujuannya tetapi ia ingin segera sampai di suatu tempat. Tanpa memperdulikan sekelilingnya ia terus berlari. Napasnya tersenggal dan berkali-kali ia menabrak orang yang kebetulan melewatinya. Tapi ia mengabaikan teriakan marah mereka. Yang dia pikirkan hanya bisikan Shunsui sedari tadi masih terngiang di telinganya.

Sesuatu tengah terjadi pada Sousuke... Tidakkah kau ingin menemuinya, Jyuushiro?

"Jangan-jangan Sousuke-senpai kecelakaan... atau mabuk karena kecewa sama gue terus keracunan alkohol... atau malah berniat bunuh diri... "

Jyuushiro semakin panik dan mempercepat larinya. Dalam sekejap dia sampai di jalan raya yang terletak di tengah area Seireitei. Langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia segera menyadari bahwa dia sama sekali tidak tahu arah yang akan ditujunya.

"Kenapa gue lari tanpa bertanya dulu sama Kyouraku-senpai, gue kan nggak tahu rumah Sousuke-senpai. Aduh mana gue nyasar lagi," gumam Jyuushiro menyesali kebodohannya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya mulai berair dan ia merasa ingin menangis.

"Kalau sampai Sousuke-senpai kenapa-napa itu semua karena salah gue. Coba dulu gue mau jadi pacarnya."

Tiba-tiba ia merasa seseorang menepuk pundaknya dan seketika itu pula ia menoleh.

"Jyuu, ngapain loe di sini?"

"Gin! Untung gue ketemu lo! Gue kesasar tadi," jawab Jyuushiro dengan rasa penuh syukur.

"Emang loe mau kemana?"

"Gue mau ke rumah Sousuke-senpai. Loe tahu alamatnya nggak?"

"Tahu sih. Gue bisa ngantar loe. Tapi loe mau apa ke sana?"

"Gue nggak bisa ngomong banyak, Gin. Gue harus cepat sampai ke sana! Kumohon, jangan tanya mecam-macam, cukup antar gue sampai ke sana," kata Jyuushiro dengan wajah penuh kekhawatiran. Gin memandang sahabatnya sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.


Sousuke memandang keluar jendela kamarnya. Pemandangan sepetak taman kecil namun terawat terpampang di depannya. Dia menghela napas. Sejenak pandangannya kosong.

"Hayo! Lagi-lagi kakak melamun!" Teriakan seorang gadis kecil membuat Sousuke kaget.

"Rukia, loe ngagetin gue aja!" Sousuke berteriak marah kepada adik kecilnya.

"Habis dari tadi kakak bengong melulu. Mikir apa sih, kak?"

"Nggak, gue nggak mikir apa-apa," kilah Sousuke.

"Hm... jangan-jangan lagi mikirin cewek ya..." Rukia tersenyum jahil. "Nah lo, ngaku aja atau gue bilang ke ibu."

"Berani ngancam gue loe, sini gue bikin loe kapok!" Sousuke menjewer telinga Rukia.

"Aduh, sakit! Ibu tolong!" Rukia berteriak sekuatnya.

"Ayo, sesama saudara jangan bertengkar," suara lembut seorang perempuan menghentikan pertengkaran mereka berdua. Sousuke melepaskan tangannya dan Rukia segera berlari memeluk ibunya.

"Rukia yang mulai duluan," gerutu Sousuke.

"Habis dari tadi kakak aneh. Ibu kakak lagi mikirin cewek loh. Sekarang Sousuke punya pacar." Rukia berteriak sambil menjulurkan lidah ke arah Sousuke. Sousuke hendak mengejar tetapi Rukia berlindung di balik tubuh ibunya. Sang ibu tersenyum.

"Benar begitu, Sou? Kalau begitu kau harus memperkenalkan gadis itu pada ibu, kan."

"Bu-bukan. Aku belum punya pacar kok, Bu." Muka Sousuke bersemu merah.

"Betul kan, Bu. Kakak punya pacar. Ye.. kakak punya pacar!" Rukia semakin tertawa lebar. Sousuke berteriak marah. Sang ibu tertawa kecil melihat kelakuan anak-anaknya.

Sebuah ketukan terdengar dari pintu depan. Perhatian mereka bertiga beralih ke sana. Rukia segera menawarkan diri untuk membuka pintu dan berlari ke arah serambi depan. Sousuke dan ibunya mengikuti dari belakang.

"Ayah!" Rukia berteriak kegirangan.

Byakuya tersenyum melihat putri kecilnya. Ia segera memeluk Rukia untuk melepaskan rasa rindu setelah sekian lama berpisah. Rukia membalas pelukan ayahnya dengan erat. Setitik air mata membayang di sudut matanya.

"Rukia kangen sama ayah. Kenapa ayah nggak tinggal sama-sama Rukia lagi?" Rukia yang masih kecil tidak dapat memahami alasan perpisahan ayah dan ibunya. Byakuya memandang putrinya dengan sayu. Dia tidak mampu mengatakan hal yang sesungguhnya pada putrinya.

"Ayah tidak bisa, Rukia."

"Kenapa?" Rukia semakin mendesak ayahnya. Byakuya hanya menelan ludah.

"Byakuya-kun..." Suara lembut seorang wanita menarik perhatian Byakuya.

"Retsu..." Byakuya menatap wajah mantan istrinya. "Apa semua sehat-sehat saja?"

"Ya, semua sehat. Kulihat kau pun baik-baik saja. Ada angin apa yang menarikmu datang kemari?" Retsu berkata dengan tenang seolah menyembunyikan perasaannya di hadapan anak-anaknya.

"Ada yang harus kita bicarakan Retsu, mengenai kita," jawab Byakuya lirih.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kami semua baik-baik saja tanpa kehadiran ayah!" teriakan marah Sousuke memotong percakapan kedua orang tuanya.

"Sousuke..." Retsu berusaha menenangkan putranya. "Biarkan kami bicara, ya." Retsu segera mempersilakan Byakuya menuju ruang tamu. Sousuke memandang kepergian mereka dengan kesal. Tanap disadarinya Rukia yang semula hanya bengong menarik lengan bajunya.

"Kakak marah sama ayah?"

"Tentu saja!" dengus Sousuke kesal.

"Kenapa? Padahal ayah kan baik," tanya Rukia.

"Aku tak akan memaafkan orang yang telah membuat ibu menangis," gumam Sousuke. "Yuk, kita main di halaman saja," katanya sambil menggandeng tangan Rukia.

"Kenapa ayah nggak bisa tinggal sama-sama kita lagi? Kenapa kita nggak bisa kayak dulu lagi? Kan enak kalau tinggal berempat seperti dulu." Rukia jelas-jelas mengatakan kekecewaannya.

"Soalnya ayah dan ibu sudah bercerai."

"Kenapa harus bercerai? Ibu sama ayah marahan ya? Kan kalau marahan nggak baik."

Sousuke memandang ke arah adik kecilnya. Dia menghela napas panjang. "Sudahlah, Rukia-chan masih kecil, masih belum mengerti urusan orang dewasa," katanya.

Rukia masih ingin bertanya tetapi diurungkannya niat itu karena melihat wajah sedih kakaknya. Dialihkan pandangannya ke atas. Sesuatu yang bergerak di atas pohon menarik perhatiannya. Sebelum dia mengatakan sesuatu pada kakaknya, benda itu jatuh diringi teriakan.

KROSAK!!! BRUK!!! GYAAA!!!

Sousuke dan Rukia terperanjat. Mereka terlalu kaget untuk berkata-kata. Sedangkan kedua 'benda' itu mengeluarkan erangan sebelum akhirnya bertengkar.

"Kan sudah gue bilang dahannya nggak kuat. Kenapa loe nekat manjat sih!" Gin menggerutu sambil mengusap pantatnya.

"Habis yang ada cuma pohon itu," kata Jyuushiro sambil mengaduh kesakitan.

"Kan loe bisa masuk dari pintu depan."

"Kan sudah gue bilang, gue cuma mau ngintip keadaan Sousuke-senpai doang."

"Jyuushiro...Gin... Loe berdua ngapain?" Sousuke bertanya setelah sadar dari kekagetannya.

"Eh, anu, Sousuke-senpai gue..." Gin berkata dengan terbata-bata.

"Se-senpai baik-baik saja? Nggak kenapa-napa kan? Nggak kecelakaan kan? Nggak bunuh diri kan?" Jyuushiro segera melontarkan deretan pertanyaan pada Sousuke.

"Bunuh diri? Kenapa gue mau bunuh diri?" Sousuke semakin bingung.

"Eh, tapi, kata Kyouraku-senpai..." Jyuushiro segera menyadari kesalahannya. Dia menundukkan wajahnya yang mulai memerah.

"Tuh, kan Jyuu... Gue bilang juga apa..." Gin menyikut rusuk jyuushiro.

Rukia memandang kedua 'tamunya' lekat-lekat. Kemudian perhatiannya teralih ke arah kakaknya. Lama dipandanginya Jyuushiro dan kakaknya seakan ingin menilai mereka berdua. Mulutnya menyunggingkan senyum lebar. Dia segera berlari ke arah rumah sambil berteriak.

"Ibu! Pacar kakak datang! Ibu sini deh!"

Sousuke berteriak sambil mengejar adiknya. Wajah Jyuushiro semakin memerah. Kegaduhan di halaman rumah menarik perhatian Retsu dan Byakuya. Mereka berdua keluar menuju sumber keributan.

"Rukia, Sousuke ada apa?" Retsu bertanya sambil melongokkan kepalanya ke arah halaman.

"Ibu, pacar kakak datang! Lihat deh, orangnya cantik ya," teriak Rukia sambil menarik-narik lengan ibunya.

"Rukia diam!" Sousuke berusaha menghentikan teriakan adiknya. Mukanya merah padam menahan malu.

"Yamamoto Jyuushiro dan Gin Ichimaru? Kenapa kalian ada di sini?" Byakuya bertanya dengan heran.

"Kenapa Byakuya-sensei ada di rumah Sousuke-senpai?" Gin dan Jyuushiro bertanya bersamaan.

"Emm... karena dia ayahku," jawab Sousuke. Jyuushiro dan Gin terperanjat.

"Wah, jadi ini pacar Sousuke? Ayo masuk." Retsu tersenyum dan mempersilakan mereka berdua masuk ke dalam rumah.

"Bukan, ibu. Jyuu bukan pacarku. Dia tunangan Shunsui." Sousuke berusaha memberi penjelasan pada ibunya.

"Oh ya, sayang sekali. Padahal ibu senang kalau kamu punya pacar secantik ini," kata Retsu sedikit kecewa.

"Sudah, ibu dan ayah masuk saja," kata Sousuke sambil berusaha mengusir kedua orang tuanya.

"Iya, iya, ibu masuk." Retsu melangkah sambil menggandeng Rukia dan Byakuya.

"Kakak namanya Gin ya, ikut Rukia masuk saja, yuk," kata Rukia sambil menarik lengan Gin. Setelah masuk ke dalam rumah mereka bertiga segera menempatkan diri di balik pintu geser sambil memicingkan mata. Gin dengan heran ikut menempatkan diri di samping Rukia.

"Kalian semua mau apa?"

"Sst! Diam dulu kita mau ngintip kak Sou pacaran," bisik Rukia sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya. Gin hanya menggelengkan kepala. Keluarga Sousuke-senpai nggak beres semua, batinnya.


"Lama sekali! Sebenarnya Jyuu pergi kemana?" Hitsugaya menggerutu dengan tak sabar. "Shunsui bukannya kamu tahu dia kemana?"

"Sabar dulu paman," kata Shunsui dengan tenangnya.

"Iya, pa. Jyuu pasti baik-baik saja kok," kata Momo berusaha menenangkan suaminya.

"Tapi ini sudah terlalu lama. Jangan-jangan Jyuu kecelakaan di jalan! Shunsui sebaiknya loe katakan dimana Jyuu sebenarnya!"

"Iya, iya paman. Saya antar deh." Dengan enggan Shunsui beranjak diikuti Hitsugaya dan Momo.


A/N:Akhirnya fic ini sampai pada puncaknya. Rencananya fic ini bakal kelar dalam dua chapter mendatang. Ok, Riview ya!