Hanya ucapan terimaksih,

Selebihnya Mey ga tau mau ngomong apa lagi…

Special thanks…

2Phoenix7

Aika Ray Kuroba

Aizawa Ayumu

Arlheaa

aya-na rifa'I

bl3achtou4ro

chappythesmartrabbit

EJEY series

Ichiruya Ruru Kuchiki

Jee-ya Zettyra

Lenalee Shihounin

master of bankai

Minami Kyookai

mio 'ichirugiran' kyo

ocha gledek

Rio-Lucario

ruki mikan head

Ruki Yagami

Sader 'Ichi' Safer

sava kaladze

SoraHinase

So-chand cii Mio imutZ

Thia2rh

Yanz Namiyukimi-chan

Yupi –AkaiYuki- Kurosaki

yuuna hihara

Yang pastinya di chap ini readers akan tau fic ini berakhir dengan Ichiruki atau Ichihime…

Tolong jangan terkejut ketika membaca chapter ini…

Gomennasai… end… semoga kalian suka…

Selamat membaca…

Prisoner of Love

Author : Meyrin Hawk

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Pairing : Ichigo K. x Rukia K.

Rate : T

Warning : OOC, Typo, etc.

Summary : Cinta… Cinta membuat Rukia meninggalkan Ichigo. Cinta juga membuat Inoue menutup mata terhadap perasaan Ichigo & Rukia. Cinta juga yang membuat Ichigo mengejar Rukia hingga ke Soul Society. Dan… cinta pula yang membuat seseorang dari masa lalu ingin merebut Rukia dari kehidupannya di Karakura & Soul Society.

Just litle memo from my first love one year a go…

Even thought my body will decay through time,

Even thought my soul vanished from this world,

But my love toward you will be never vanquish by any means…

Mey cuma sekedar mengenang aja kug, mungkin memo ini bisa jadi gambaran kecil tentang perasaan Ichiruki di fic yang Mey buat sekarang ini…

Chapter 9 : Surrender Love. Vanquish or vanish?

Orihime P.O.V

Kurosaki-kun baru saja keluar dari ruangan Yamamoto-taichou. Aku tidak tahu apa keperluannya, yang jelas Kurosaki-kun masih terlihat lemah dan sedih.

Semua terlihat begitu berat setelah semua peristiwa yang telah tejadi pada Kuchiki beberapa hari yang lalu. Selama ini Kurosaki-kun terbiasa melewati masalahnya bersama Kuchiki, karena… Kuchiki yang selalu menjadi penyemangat bagi Kurosaki-kun.

Tapi semua itu kelihatan sulit saat ini, terlebih lagi… Kuchiki tidak berada di sisi Kurosaki-kun sekarang.

Aku melihatnya malam itu. Kurosaki-kun membopong Kuchiki di punggungnya setelah kembali dari Hueco Mundo. Darah Khuchiki terus mengalir ke shihakusho Kuosaki-kun, bahkan air hujan yang mengguyurnya malam itu tak mampu menghilangkan bekas darah Kuchiki di shihakushonya.

Setelah malam itu… Kurosaki-kun tiada hentinya mengutuk serta memaki dirinya sendiri. Kurosaki-kun menyalahkan dirinya atas peristiwa yang menimpa Kuchiki.

Aku… sakit.

Memang sakit bila melihat Kurosaki-kun bersama Kuchiki. Tapi… rasanya jauh lebih sakit melihat Kurosaki-kun seperti ini.

Ini adalah kesalahanku.

Seharusnya aku tidak menghalangi perasaan Kuchiki terhadap Kurosaki-kun. Seharusnya aku segera meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Kuchiki begitu aku tiba di Soul Society.

Tapi kini… bahkan akau tidak tahu bagaimana caranya agar bisa meminta maaf pada Kuchiki. Setelah semua yang terjadi… tampaknya aku sudah terlambat untuk meminta maaf.

"Kurosaki-kun!"

Aku memanggilnya karena kulihat dia akan pergi.

Diliriknya aku. Ah, lagi-lagi mata sedih itu. Kelihatannya Kurosaki-kun masih terpukul atas peristiwa yang dialami Kuchiki.

"Ada apa?"

"Umm… Kurosaki-kun mau kemana?"

"Ke pemakaman. Ganju sudah menungguku."

"Bolehkah… aku ikut?"

Kurosaki-kun terdiam sejenak. Sepertinya dia sedang berpikir.

"Sebaiknya kau disini saja, Inoue. Aku tidak akan lama. Kau lebih di perlukan untuk menyembuhkan Renji dan yang lainnya disini."

"Umm… ya, aku mengerti."

Lagi-lagi suasana hening menghampiri kami.

"Aku baru menemui Yamamoto-taichou. Dua hari lagi kita akan kembali ke Karakura. Tolong beritahu Sado dan Ishida," kata Kurosaki-kun kemudian.

"Ano, Kurosaki-kun!"

Lagi-lagi aku menghentikan langkah Kurosaki-kun. Tatapan mata ambernya semakin membuatku salah tingkah.

"Umm… mm… aku tahu ini cukup berat bagimu, Kurosaki-kun. Tapi aku yakin… kau akan bisa melewatinya."

"Terimakasih, Inoue."

Hanya itu?

Hanya itu yang Kurosaki-kun katkan padaku?

Setelah semua yang kulakukan padanya dan Kuchiki, kenapa Kurosaki-kun tidak menyalahkanku juga? Kenapa Kurosaki-kun hanya tersenyum dan bershunpo entah kemana?

"Maafkan aku…"

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku ingin menahan air mataku, tapi tidak bisa…

Maafkan aku Kurosaki-kun…

Maafkan aku… Kuchiki….

Orihime P.O.V off…

mmmmm

Batu nisan dihadapan Ichigo masih terlihat basah bekas guyuran hujan tadi pagi. Sudah beberapa hari ini, hujan terus mengguyur Soul Society.

Hujan…

Tampaknya hujan selalu tahu bagaimana cara menempatkan dirinya di hati Ichigo. Hujan pasti selalu datang setiap kali Ichigo mengalami kepiluan.

Ichigo tersenyum pilu., diletakannya serangkaian bunga lili putih di batu nisan tersebut.

"Kau tahu? Seumur hidupku… aku tidak pernah memberi orang lain bunga selain ibuku. Entah kenpa… aku merasa berkewajiban memberikan bunga ini padamu…"

Ichigo kembali terdiam. Matanya tidak pernah lepas dari batu nisan tersebut.

"Pulanglah, Ichigo!" seru Ganju menepuk pundak Ichigo. "Kau sudah seperti orang gila, berbicara pada batu nisan."

"Biarkan aku disini sampai matahari terbenam. Setidaknya biarkan aku berterimakasih kepadanya dulu."

"Tch, berterima kasih? Kau berdiri lama disini sudah cukup baginya. Dia tidak akan hidup kembali, kecuali kau menemukan pecahan Hougyoku lainnya. Lagi pula… kenapa kau memberinya bunga lili putih?"

"Rukia suka bunga lili putih," ujar Ichigo berat.

Nama Rukia kembali mengingatkan Ichigo akan kepahitan tentang hujan. Ichigo ingat, ibunya dulu meninggal saat hari hujan. Hujan juga turun ketika Ichigo gagal menolong Rukia saat Renji dan Byakuya membawanya pulang untuk di eksekusi.

Dan… beberapa hari yang lalu, Ichigo membawa Rukia yang berlumuran darah dari Hueco Mundo ketika hujan sedang turun pula.

"Tenanglah, Ichigo. Semuanya akan baik-baik saja. Kau orang yang kuat."

"Aku tahu. Rukia sendiri yang bilang padaku waktu itu," kata Ichigo dengan nada membanggakan diri.

"Tch! Selalu saja gadis shinigami itu. Makanya cepat pulang. Dia tidak akan setuju bila melihatmu terus berdiri disini. Apa kau perlu Bonnie-chan untuk mengantarmu?"

"Cih! Aku bisa ber'shunpo sendiri, aku tidak mau menunggangi babi aneh itu," ejek Ichigo sebelum menghilang berkat shhunponya.

"Hei! Bonnie-chan tidak aneh, dia itu lucu!" teriak Ganju.

mmmmm

Ichigo menyelinap di salah satu ruang perawatan divisi 4. Ia ingat, beberapa hari yang lalu ia membopong Rukia kesana. Kulit putih Rukia semakin terlihat pucat karena kehabisan darah, nafas gadis itupun semakin terputus-putus. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia bershunpo secepat mungkin untuk tiba di Soul Society.

Dan sekarang… gadis mungil itu masih terbaring disana. Terbaring tidak sadarkan diri selama 4 hari. Unohana-taichou sudah bilang kalau luka Rukia telah menutup semua, hanya saja butuh waktu sedikit lama untuk menyembuhkan tenanganya

Ichigo mengeser pelan sebuah kursi agar mendekat ke ranjang Rukia. Ichigo tidak ingin ada yang tahu ia berada disana. Malam kemarin ia sudah ketahuan dan di usir oleh Unohana-taichou karena kehadirannya yang telah larut melewati jam besuk.

Tapi memang dasar keras kepala, Ichigo terus kembali walaupun selalu berakhir dengan pengusiran.

Namun sepertinya Unohana-taichou sudah menyerah malam ini. Kapten divisi 4 itu sudah tahu, usaha pengusirannya akan selalu menjadi sia-sia di tangan Ichigo.

Ichigo duduk di kursinya, digenggamnya erat tangan Rukia. Mata gadis itu masih terpejam. Ichigo jadi ingat, ia baru melamar Rukia beberapa hari yang lalu. Entah apa jawaban yang akan Rukia berikan ketika gadis itu sadar.

"Idiot! Darimana saja kau? Bukannya menungguiku, malah asyik keluyuran."

"Ru-kia? Kapan kau siuman?" Ichigo setengah tidak percaya.

"Tiga jam yang lalu. Aku juga sudah tidak tidur selama itu karena Unohana-taichou bilang kau akan datang kesini."

Ichigo tersenyum. Sungguh senang mendengar Rukia sudah bisa memarahinya.

"Aku dari makam Shiba Kaien. Kau… menungguku, Rukia?" goda Ichigo

"Ti-dak. Aku hanya tidak bisa tidur," sangkal Rukia dengan pipi memerah.

"Ya, ya, ya…"

"Jangan menggodaku terus, baka! Cepat kembali ke Kuchiki Mansion, kau harus istirahat."

"Aku akan tidur disini saja," Ichigo meletakkan kepalanya disisi ranjang Rukia tanpa mengubah posisi duduknya.

"Kau tidak boleh tidur seperti itu, bodoh! Unohana-taichou bilang kau sudah tidak tidur selama 2 hari karena menungguiku. Kau harus tidur sambil berbaring. Pulang… hei!"

Hup!

Ichigo naik keatas ranjang Rukia, berbaring tepat diatasnya. Hanya sikunya saja yang Ichigo pergunakan sebagai tumpuan agar tidak menhimpit Rukia.

"Apa yang kau lakukan ha?" marah Rukia dengan pipi semakin memerah.

"Berbaring," jelas Ichigo dengan wajah tanpa dosa. "Kau kan yang menyuruhku tadi?"

"Bukan disini, idiot! Beginikah sikapmu terhadap seorang pasien?"

"Ayolah, Rukia. Ranjang ini sudah cukup berlebih bagi orang seukuranmu. Kalau kau merasa sempit, kau tinggal pilih. Kau yang berbaring diatasku, atau aku yang berbaring diatasmu."

(Author : Sumpah! Mey ketawa waktu nulis bagian yang diatas. Mey ga nyangka bakalan buat karakter Ichigo semesum itu *mav buat Ichigo FC yah..*. Dialognya jauh lebih mirip Isshin ketimbang Ichigo)

"Mesum! Cepat turun dari ranjangku! Aku tidak ingin melihatmu!"

Rukia mencoba menggerakkan kakinya untuk menendang Ichigo, tapi dengan mudahnya laki-laki berambut jeruk itu mengunci kakinya. Rukia belum kehabisan akal, ia coba untuk meninju ataupun mendorong Ichigo, tapi lagi-lagi kedua tangannya berakhir dengan kuncian dari kedua tangan Ichigo.

Pipi Rukia kian merona merah. Setiap usaha perlawanan yang ia lancarkan malah membuatnya semakin terjepit.

"Sai!" Rukia mencoba mengeluarkan mantra kidou. Ichigo mencibir, kidou yang Rukia lancarkan sepertinya tidak berpengaruh apa-apa untuk diri Ichigo

"Tidak semudah itu mengusirku, Kuchiki Rukia. Kau lupa ya? Aku bisa menggunakan kidou juga."

"Apa maumu ha! Kenapa kau suka sekali memaksaku seperti ini?"

"Ini hukuman untukmu karena kau masih berhutang satu pengakuan padaku. Ingat?"

"Tidak ingat!" lawan Rukia. "Cepat menyingkir dari atasku!"

Rukia mencoba mendorong Ichigo sekuat tenaga. Namun tampaknya perlawanan Rukia hanya menghasilkan cibiran dari Ichigo.

"Percuma melawan. Kau pikir seberapa kuat tenagamu sekarang? Dalam keadaan sehat saja, aku jauh lebih kuat darimu. Menyerah sajalah. Aku yakin kau masih ingat dengan prmintaanku," saran Ichigo.

Melawan bukanlah jalan terbaik untuk saat ini. Rukia tahu ia malah akan semakin mendapat hukuman dari Ichigo bila melakukannya. Lagi pula tidak ada salahnya mengucapkan satu kalimat, kan setelah itu dia akan dibebaskan oleh Ichigo.

"Ck! Iya… kau tidak lemah," ujar Rukia bosan. Rasanya sudah berulang kali ia mengatakan hal itu didepan Ichigo.

"Bukan yang itu. Aku sudah mendengarnya terakhir kali. Yang lain…"

"Banyak sekali sih maumu. Memangnya apa lagi? Kau jauh berbeda dengan Kaien-dono?"

"Aku sudah tahu. Aku lebih tampan dan lebih hebat darinya, makanya aku bisa memenangkan hatimu."

"Tch! Siapa bilang kau memenangkan hatiku?"

"Ayolah, Rukia. Kau tahu apa yang ingin ku dengar. Atau…"

Ichigo mengambil posisi lebih rendah agar lebih dekat dengan telinga Rukia.

"Kau ingin aku melakukan hal serupa seperti malam saat aku hampir ketahuan oleh Byakuya."

"Heh! Kau pikir aku akan terjebak dengan cara yang sama ha!"

Rukia kesal. Mengapa laki-laki diatasnya sekarang selalu menggunakan cara licik sepeti untuk menekannya.

"Aku akan menghitung sampai tiga."

"Tidak akan mempan padaku!"

"Satu…" Ichigo mulai bergerak menuju leher Rukia.

"Jangan harap! Itu akan sia-sia!"

"Dua…"

"Berhenti main-main, Kurosaki."

Suara Rukia mulai terdengar gugup, membuat Ichigo semakin bersemangat mendesak Rukia. Bahkan Ichigo dengan sengaja menghembuskan nafasnya dengan kuat dileher Rukia.

"Tig-."

"Baik!"

Senyum kemenangan menghiasi bibir Ichigo. Akhirnya Rukia menyerah.

"Nah… ayo katakana, Nona Kuchiki."

"Aku… a-ku…" Rukia malu-malu menghindari tatapan Ichigo.

"Kau ingin mengaku cinta pada siapa? Tatap mataku!" kesal Ichigo.

"Iya! Aku mencintaimu. Puas?"

"Ck! Kalau mencintaiku, kenapa kau berteriak-teriak didepan mukaku! Ulangi!"

Rukia menggembungkan pipinya tanda tidak setuju.

"Atau aku mulai menghitung lagi?"

"Iya… baik… Aku mencintaimu… Cukup kan?" ulang Rukia dengan intonasi yang jelas. Ia malas bila nanti Ichigo memaksanya lagi untuk menyebutkan hal yang sama berulang kali.

"Sekarang cepat turun dari ranjangku, mesum! Aku lelah, aku ingin istirahat."

"Turun?" lagi-lagi Ichigo tersenyum penuh arti.

"Kau pikir… setelah usahamu yang mencoba lari dariku sebelumnya, sekarang ini aku akan melepaskanmu begitu saja?"

"Cepat turun, mesum! Akan kubuat nii-sama mencincangmu besok kalau sekarang kau tidak turun."

Rukia terus mencoba mengeluarkan ancaman seseram mungkin, bahkan ia sudah mengeluarkan ancaman andalannya, yaitu nii-sama'nya. Namun tampaknya tidak berpengaruh apa-apa bagi Ichigo. Pemuda berambut jeruk itu masih asyik tersenyum memandangi wajah Rukia.

"Hei, Kurosaki Ichigo? Apakah nyawamu masih disini?" Rukia sedikit bingung menebak raut wajah yang tergambar di wajah Ichigo.

"Hukumanmu belum berakhir, Kuchiki," bisik Ichigo pelan.

Memang awalnya tatapan serta senyuman Ichigo terkesan hanya untuk menggoda atau sekedar bersikap usil. Tapi… lama kelamaan rasanya Rukia cukup sulit menggambarkan ekspresi apa yang dipancarkan mata Ichigo.

Mata Ichigo tidak pernah lepas memandanginya. Sepintas raut wajah Ichigo seperti sedang lengah dan terpesona, tapi begitu Rukia mencoba bergerak, tangan Ichigo masih terasa kuat mengunci geraknya.

"Ichi?"

"Shh..."

Wajah Ichigo bergerak pelan mendekati wajah Rukia, kemudian dilumatnya pelan bibir Rukia. Ichigo ingin membuat Rukia merasa senyaman mungkin. Ia masih ingat, dulu dia pernah membuat Rukia kesulitan bernafas karena ciumannya yang terlampau buru-buru.

"I-chi…"

"Shh… Tenanglah sedikit, Rukia…" Ichigo mempererat ciumannnya.

Ichigo sedang menginginkan Rukia. Itulah kesimpulan yang bisa Rukia ambil saat ini.

Rukia memang belum pernah melewatkan masa-masa dimana ia memiliki seorang kekasih, tapi bukan bearti Rukia terlampau polos untuk menyadari gerak-gerik seorang pria bila sedang menginginkannya.

Selama satu tahun belakangan ini Rukia telah mengenal serta menjumpai berbagai jenis karakter laki-laki yang melamarnya, hal itu sudah cukup membuat Rukia kenyang bercampur mual menghadapi tatapan menjijikan setiap laki-laki yang melamarnya.

Yah… bagaimanapun juga mereka tetap laki-laki. Seberapa pun besar kedudukan derajat kebangsawanan mereka, mereka pasti tetap ingin merasakan bagaiamna rasanya menyentuh seorang Kuchiki Rukia.

"Uum…uh… I-chi…go…" Rukia membuka matanya sedikit untuk sekedar melihat ekspresi wajah Ichigo.

Ichigo menciumnya dengan penuh cinta.

Ichigo memang bukanlah laki-laki dari kalangan bangsawan, namun setidakanya Ichigo tidak memiliki sikap menjijikan seperti mereka. Ichigo beribu-ribu kali lebih baik dari mereka, karena Ichigo menginginkannya dengan tulus.

Rukia tahu hanya Ichigo orang yang paling tepat untuk memilikinya. Rukia bersedia memberikan segalanya untuk Ichigo. Ya, hanya Ichigo.

Tapi…

Bukankah hal itu tidak boleh mereka lakukan?

TIDAK.

Rukia sadar, mereka memang tidak boleh melakukan hal ini. Tidak sekarang, tidak juga untuk nanti.

Terlalu banyak alasan untuk mengatakan tidak.

Bagaimana dengan Orihime? Gadis itu begitu mencintai Ichigo. Bukankah Rukia sudah bertekad melepaskan Ichigo untuk Orihime?

Lalu… bagaimana dengan mereka berdua? Mereka jelas jauh berbeda. Dari usia, sampai dunia tempat mereka bernaung juga berbeda.

Rukia harus menghentikan semua ini sebelum terlambat.

"Hmmp… hmp…" Rukia terus berusaha melepaskan diri dari ciuman Ichigo.

Pemuda itu masih mengunci kuat pergerakan Rukia. Jalan satu-satunya untuk membuat Ichigo sadar adalah Rukia terpaksa menggigit bibir Ichigo.

"Auw!" akhirnya ciuman Ichigo berhasil lepas.

Tapi sepertinya gerakan Rukia malah terkesan seperti tindakan untuk mencari oksigen, daripada penolakan terhadap Ichigo.

"I-chi-goo!"

Rukia memalingkan wajahnya agar Ichigo tidak bisa menciumnya lagi, tapi justru tindakan itu membuka jalan bagi Ichigo menyerang leher Rukia.

'Tidak, Ichigo. Kumohon sadarlah!' batin Rukia masih mencoba menolak Ichigo.

"Ichigo, berhenti!" jerit Rukia.

"Shh…"

Ichigo terlampau sibuk untuk mendengarkan suara penolakan Rukia.

"Ichigo! Berhenti! Aku tidak mau!" jerit Rukia lebih kuat.

Akhirnya Ichigo berhenti. Nafasnya masih terputus-putus. Walaupun tangannya tidak mengunci tangan Rukia lagi, namun matanya masih menatap Rukia penuh keinginan.

"Ichigo, aku-."

"Shh…" desis Ichigo menempelkan jari telunjuknya di bibir Rukia.

Cup!

Dikecupnya lembut bibir Rukia.

"Berhenti berfikir Rukia," bisik Ichigo.

"Ta-pi…"

Cup!

Lagi… Ichigo mengecup Rukia lagi.

"Berhenti menolakku Rukia. Jangan biarkan hatimu terus terpenjara, biarkan dia memilih apa yang dia inginkan…"

"Tidak, Ichigo. Kita tidak bisa melakukannya…"

Cup!

"Aku mencintaimu…" bisik Ichigo mencoba menghapus keraguan di hati Rukia. "Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu…"

Ichigo terus membisikan kata-kata cinta berulang-ulang di telinga Rukia. Ia ingin Rukia menyakini dirinya. Ia ingin Rukia menjadi miliknya.

"Aku ingin memilikimu, Rukia…"

Tangan Ichigo bergerak menangkup kedua tangan Rukia. Kali ini Ichigo tidak menguncinya, ia hanya menangkupnya. Mebiarkan hati Rukia merasa bebas tanpa paksaan lagi dari Ichigo.

"I…chi… go…"

"Aku mncintaimu…" bisik Ichigo terakhir kalinya sebelum menghapus jarak diantara mereka dengan sebuah ciuman lagi.

Ya…

Hati Rukia telah luluh…

Rukia membiarkan Ichigo memiliki seluruh jiwanya, cintanya, bahkan raganya…

Ichigo telah membuktikan segalanya. Berunglang kali sudah Rukia berusaha menepis perasaan cintanya, membunuh hatinya hingga membusuk. Tapi Ichigo selalu menjadi orang yang berhasil menghidupkan hati Rukia.

Rukia tidak bisa menyangkal lagi… Ichigo telah memilikinya sekarang.

Selagi mereka berdua asyik terbuai, ternyata diluar telah berdiri sosok Unohana Retsu. Kapten divisi 4 itu telah berdiri didepan pintu sejak lima menit yang lalu.

Malam ini ia sudah memiliki janji dengan Rukia. Ia berjanji menghilangkan bekas luka Rukia. Yah… tapi Unohana bersikap cukup bijak dengan membatlakan janjinya. Ia tahu, kedua remaja itu sedang bergejolak malam ini. Dan Unohana bukanlah tipe seperti Kuchiki Byakuya yang tanpa segan-segan akan mengusik kesenangan fuku-taichou divisi 13 tersebut.

"Unohana-taichou, saya membawa semua obat-obat yang anda minta."

Hanatarou datang sambil membawa sebuah kotak obat. Unohana tersenyum, ia berjalan menjauhi pintu kamar perawatan Rukia.

"Taichou, bukannya malam ini anda ingin menghilangkan bekas luka Rukia-sama?" tanya Hanatarou bingung.

"Besok saja. Kuchiki mungkin akan sedikit lelah malam ini."

"Lalu… apakah saya perlu menyuruh beberapa anggota divisi 4 untuk menjaga Rukia-sama? Saya yakin Kurosaki akan datang malam ini, itu akan membuat tidur Rukia-sama terganggu."

Unohana kembali tersenyum. Ia memberi isyarat agar Hanatarou segera mengikutinya.

"Biarkan saja Kurosaki. Anak nakal itu akan mendapat hukuman kalau ia tidak bergegas pergi besok pagi."

"Apakah Kurosaki sudah ada didalam?"

Lagi-lagi Unohana cuma tersenyum, Hanatarou hanya bisa mengikuti langkah Unohana dengan bingung.

Langkah Hanatarou terhnti sejenak. Sepertinya barusan ia mendengar suara Rukia yang menjeritkan nama Ichigo dengan pelan dari dalam ruang perawatan.

"Apa sebaiknya aku periksa saja ya?" gumam Hanatarou pada dirinya sendiri.

"Hanatarou!" panggil Unohana kembali mengingatkan Hanatarou kalau sang taichou sudah menunggunya. "Ayo! Tugasmu masih banyak."

"Ah, iya!" Hanatarou bergegas mengikuti langkah Unohana, melangkah menjauhi ruang perawatan Kuchiki Rukia.

mmmmm

Matahari bersinar cerah ketika Kuchiki Byakuya berseta rombongannya berjalan menelusuri koridor ruang perawatan divisi 4. Sepertinya hujan tidak lagi turun hari ini.

Pagi ini, Kuchiki Byakuya mendapat berita kesembuhan Rukia dari Unohana Retsu. Akhirnya sang kapten divisi 6 itu putuskan mengunjungi Rukia bersama Renji. Karena kebetulan bertemu Rangiku, Hitsugaya, dan Yumichika di tengah perjalanan, akhirnya mereka bertiga juga ikut mengunjungi Rukia.

Mereka tiba di kamar perawatan Rukia sekitar jam 8. Saat itu suasana masih sepi, tirai kamarnya saja belum di buka. Sepertinya Rukia masih tidur.

"Ya ampun… Rukia-chan. Sudah jam segini belum bangun juga," ujar Rangiku membuka tirai jendela, memperlihatkan sosok Rukia yang masih tidur dibawah selimut.

Byakuya meneliti postur tubuh Rukia. Dari ujung kaki hingga kepala, rasanya sangat jauh berbeda. Bentuk tubuh Rukia yang sekarang rasanya lebih besar dan berotot, lebih cenderung mirip laki-laki ketimbang seorang gadis.

Apakah mungkin Rukia tumbuh dalam waktu semalam?

(Tentunya tidak)

"Orange?" Byakuya melihat sedikit warna orange di ujung kepala Rukia.

"I-chigo!" seru Renji.

Mata Byakuya menyipit tajam, reiatsunya berubah drastis. Tangannya langsung siap menggengam gagang Senbonzakura. Sepertinya akan ada orang yang dikuliti pagi ini.

"Abarai, cepat usir Kurosaki dari sana," perintah Byakuya.

Mengusir Ichigo? Tentunya itu adalah suatu kesenangan bagi Renji. Bagaimanpun juga makhluk orange itu tetap rivalnya, walaupun kemarin mereka sudah berbaikan. Tanpa segan-segan Renji mendekati ranjang Rukia.

"Tunggu!" cegah Hitsugaya sebelum Renji sempat menyentuh selimut Rukia.

Hitsugaya berjalan ke bagian ujung ranjang. Ia sedikit membungkuk ketika memungut sesuatu berwarna hitam di lantai.

"Lihat! Kosode hitam (bagian atas pakaian shinigami/shihakusho). Aku rasa kita akan tahu apa yang akan kita lihat kalau Abarai jadi membuka selimutnya."

"Ichigo…!" geram Renji.

Ichigo masih setengah mengantuk ketika mendengar suara ribut-ribut di tempatnya. Dengan malas pemuda berambut orange itu membuka sleimutnya. Ia ingin tahu, apa yang sudah mengganggu tidurnya.

"Tidurmu nyenyak, Kurosaki Ichigo?"

Suara dingin bercampur sinis menyadarkan Ichigo kalau ia sedang dalam masalah besar.

Ichigo sudah tertangkap basah. Pagi-pagi Byakuya sudah melihatnya berada di ranjang Rukia, dan ia hanya memakai hakama hitamnya, sedangkan kosode hitamnya masih beretengger manis di tangan Hitsugaya. Bisa saja Byakuya akan mengulitinya dengan Senbonzakura sebentar lagi.

"Huwaaaa! Byaku-."

Bruaak!

Ichigo telah terguling ke lantai duluan sebelum sempat mengekspresikan rasa terkejutnya.

Rukia yang merasakan Ichigo terjatuh dari ranjang, langsung ikut-ikutan keluar dari selimut tanpa tahu ada orang lain disana.

"Ichigo, ada apa?" tanya Rukia sedikit mengantuk.

"Wah… Rukia-chan, sepertinya kau dan Kurosaki mengalami malam yang cukup panas," ujar Rangiku selalu ceplas ceplos.

Rukia melirik Rangiku. Disamping fuku-taichou divisi 10 itu ada juga sang taichou yang melempar kosode hitam kembali ke lantai, tidak jauh dari mereka berdua ada juga Renji, Byakuya, serta Yumichika yang menemani.

Melihat tatapan angker milik nii-samanya membuat Rukia tahu bahwa ada sesuatu yang salah, tapi Rukia belum tahu itu apa.

"Kuchiki, pagi-pagi harus melihat hal yang seperti ini. Benar-benar pemandangan yang tidak indah," Yumichika mengibaskan alisnya.

Rukia melirik Ichigo yang masih duduk di lantai, menggaruk-garuk kepalanya dengan salah tingkah. Sepertinya Rukia mulai menyadari kesalahannya begitu melihat Ichigo yang bertelanjang dada.

Tapi… Rasanya ada yang jauh lebih fatal.

Kini Rukia melirik dirinya sendiri. Rukia terkejut. Ia tidak jauh berbeda dengan Ichigo. Bahkan terlihat lebih parah.

Ichigo memang sedang bertelanjang dada, tapi setidaknya makhluk orange itu beruntung karena hakama hitamnya msih melekat dibadannya. Sedangkan Rukia, bahkan Rukia tidak bisa menemukan dimana yukata tidur yang ia pakai tadi malam. Yukatanya telah lenyap dari tubuhnya, beruntung Rukia masih memiliki selimut yang membelitnya hingga menutupi ketelanjangannya.

'Aku… dan Ichigo… Dan disini ada…' Rukia kembali melirik Byakuya.

"Nii-sama!" jerit Rukia cepat-cepat bersembunyi di balik selimut.

Sungguh Rukia sangat malu. Rasanya ia ingin lantai kamar perawatannya terbuka agar bisa menelannya hingga tidak terlihat oleh siapapun.

"Cepat perbaiki pakaian kalian. Jangan sampai aku melihat hal ini lagi."

Byakuya meninggalkan kamar perawatan bersama rombongannya. Walaupun marah, ia coba untuk menutupinya. Belum waktunya bagi Byakuya mencincang makhluk orange tersebut. Bagaimanapun juga Byakuya harus mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang.

Setelah Byakuya keluar, Ichigo berdiri menghampiri ranjang Rukia. Ia sedang menunggui Rukia keluar dari dalam selimut.

"Oi, keluarlah! Mereka sudah pergi."

"…"

"Ck! Buat apa kau bersembunyi, semuanya sudah terjadi. Memberi penjelasan pada mereka juga sudah tidak ada gunanya. Apa kau ingin aku ikut masuk kedalam selimut?"

"Idiot!"

Rukia keluar dari selimutnya dengan perasaan kesal bercampur malu.

"Kenapa kau tidak malu sedikitpun ha? Kau enak, anggota keluargamu tidak melihat tadi. Sementara aku, nii-sama melihatku!"

Ichigo duduk di sisi ranjang. Dipasangkannya yukata Rukia dipundak Rukia, agar pundak itu tidak terbuka lagi. Ia tahu omelan Rukia barusan hanya dipergunakan untuk menutupi rasa malunya terhadap Ichigo. Sungguh sangat gemas melihat Rukia yang seperti ini.

"Heh, baka! Jangan senyum-sen…"

Cup!

Kecupan singkat di bibir Rukia dari Ichigo mampu membuat Rukia berhenti mengomel.

"Dari pada terus mengomel, lebih baik kita mengenang kejadian tadi malam. Bukankah sangat indah? Benar begitu kan, Kurosaki Rukia?" goda Ichigo.

Mata Rukia membias malu. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk menolak pesona seorang Kurosaki Ichigo.

"Lagi pula… kalau seandainya ayahku ikut melihat kita tadi pagi, aku rasa dia akan melompat-lompat kegirangan."

Ya, Ichigo berkata benar. Apapun yang terjadi antara dirinya dengan Ichigo, tidak akan menjadi masalah bagi Ichigo dan keluarganya. Keluarga Ichigo selalu saja mendukung apapun tindakan Ichigo, walaupun itu tindakan gila sekalipun.

"Dasar baka. Cepat pakai kosode'mu sana, aku tidak ingin bertambah lagi orang yang melihat kita seperti ini."

"Hmm… baiklah. Kali ini aku harus menurut padamu, Kurosaki Rukia."

Ichigo berdiri dari ranjang, memungut kosodenya yang terakhir kalinya ia buang dilantai untuk ia pakai sekarang.

"Heh, Ichigo… aku ini Kuchiki Rukia. Berhentilah memanggilku Kurosaki Rukia."

"Oh, ya? Kuchiki Rukia? Tapi kulihat kau sudah memakai cincin milik Nyonya Kurosaki."

Rukia sedikit melirik cincin yang melingkar di jarinya, Ichigo memang sudah memakaikan cincin mendiang ibunya di jari Rukia tadi malam.

"Huh! Kau memang tidak pernah mau kalah denganku."

Ichigo tersenyum. Ia kembali memasang kosodenya dengan rapi, mata Ichigo sesekali melirik Rukia yang juga memasang yukatanya.

"Berhenti mlirikku seperti itu! Aku tahu pikiran mesum seperti apa yang sekarang sedang terlintas dikepalamu," omel Rukia agar Ichigo berhenti melirik ke arahnya.

"Buat apa aku memikirkannya kalau aku sendiri bisa melakukannya," ujar Ichigo tersenyum lebar.

Bug!

Rukia melempar bantal kearah Ichigo. Ichigo tertawa ringan.

"Mesum! Pakai saja bajumu dengan benar!"

"Iya…" jawab Ichigo patuh membalikkan badannya sambil terus tersenyum.

Setelah memakai kosodenya dengan rapi, dihampirinya Rukia, serta dikecupnya lembut kening Rukia.

"Aku janji, setelah ini kita akan bersama lagi."

"Memangnya apa yang akan kau lakukan?"

"Masih rahasia… Tunggu beritanya langsung dari Yamamoto-taichou saja ya."

Ichigo mengacak-acak pelan rambut Rukia. Tindakan yang dulunya sering dilakukan Kaien untuk Rukia, kini dilakukan oleh Ichigo.

'Ya. Selamat tinggal Kaien-dono, aku akan menyimpam memorimu sebagai orang yang pernah kugagumi selama hidupku,' batin Rukia tersenyum mengamati wajah bahagia dihadapannya.

"Istirahatlah yang cukup siang ini. Malam nanti aku akan mengunjungimu lagi. Pastikan kau berdandan cantik untukku."

Pipi Rukia kembali merona merah, sedari tadi jeruk itu tidak pernah berhenti menggodanya.

"Dasar baka! Akan kukunci pintu dan jendela rapat-rapat agar kau tidak bisa masuk."

"Hmm… begitu ya?" Ichigo perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia. "Kau lupa satu hal Kurosaki Rukia, aku selalu bisa mendapatkanmu."

Wajah Ichigo semakin lama semakin mendekat, mendekat, dan mendekat… Rukia makin tersipu malu.

"Da-sar idiot!"

Rukia mendorong Ichigo sebelum berhasil bergerak lebih jauh.

"Huh…! Tidak mau dicium ya? Kalau begitu malam nanti aku harus mendapatkan lebih," ujar Ichigo tersenyum usil.

"Berhenti menggodaku! Dasar mesum!"

Ichigo cuma tersenyum meninggalkan kamar perawatan Rukia. Rasanya ia sudah cukup puas menggoda Rukia habis-habisan pagi ini.

Belum lama Ichigo pergi, Rukia mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.

"Apalagi, jeruk? Aku mau isti-… Inoue?"

Ternyata yang masuk ke kamar Rukia adalah Inoue Orihime.

"Ma-af. Kau ingin istirahat ya, Kuchiki? Kalau begitu aku kelu-."

"Tunggu, Inoue! Masuklah…"

Walau agak takut-takut, Orihime menuruti permintaan Rukia. Keduanya masih terdiam dalam suasana yang canggung. Tidak ada yang berani memulai bicara lebih dulu.

"Umm… begini…" keduanya bicara secara serentak.

Orihime semakin salah tingkah, sementara Rukia langsung tertawa pelan.

"Aku ingin minta maaf padamu, Inoue."

"Tung-gu, Kuchiki! Seharusnya aku yang mengata-."

"Kau tidak perlu ikut-ikutan merasa bersalah, Inoue. Aku tahu… aku sudah merebut Ichigo darimu."

"Bukan begitu, Kuchiki… Aku tidak merasa kau merebut Kurosaki-kun."

"Aku tahu, Inoue," Rukia menoleh kejendela luar.

"Seharusnya kau yang memiliki Ichigo. Kau jauh lebih lama mengenal dan menyukai Ichigo. Sementara aku… Aku hanya orang baru yang tiba-tiba hadir dan melibatkan Ichigo dalam bahaya."

Rukia mengambil nafas sejenak, setelah itu ia kembali menoleh ke Orihime.

"Kau mau memaafkanku kan, Inoue?"

Orihime terdiam. Laki-laki yang dicintainya memang tidak salah memilih, Kuchiki Rukia memang perempuan yang paling tepat untuk mendampingi Kuosaki Ichigo. Pikir Orihime saat itu.

Akhirnya Orihime tersenyum, tangannya langsung menggenggam tangan Rukia.

"Kuchiki akan kumaafkan asal Kuchiki memaafkanku juga. Dan… Kuchiki harus berjanji satu hal padaku."

"Janji?"

Orihime mengangguk. "Berjanjilah setelah ini Kuchiki tidak akan meninggalkan Kurosaki-kun lagi. Janji?"

Rukia menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum. "Ya, aku janji."

Akhirnya dua sahabat ikut kembali terikat menjadi sahabat yang lebih akrab dari sebelumnya. Ikatan persahabatan mereka dulu memang hampir rusak karena sedikit masalah, tapi kini semuanya sudah terajut kembali seperti sedia kala.

Rukia merasakan kebahagiaan yang menumpuk di hatinya.

Dulu takdir memang sudah bersikap kejam padanya. Tapi kini takdir sudah memberi balasan atas setiap penderitaan serta kekejaman yang pernah Rukia rasakan dulu.

Rukia bukan hanya diberi kesempatan untuk memiliki hidupnya kembali, akan tetapi Rukia juga telah diberi kesempatan untuk bersama Ichigo. Sama persis dengan impiannya selama ini…

To be continued…

Jiaaaah! Ini serasa fic hentai!

Yah, bagaimana?

Apakah readers jadi membunuh Mey? *Mey harap tidak*

Karena dirumah pasti sudah menanti adek Mey yang siap membunuh Mey… u_u

Fic ini menjadi bagian terpanjang dari semua chapter di Prisoner of Love *tapi ga tau ya, kalau ternyata nanti chap 10 lebih panjang lagi*…

Sigh…

Sebenarnya Mey berfikir ada bagian di chap ini yang sedikit aneh…

Ketika Ichigo mendesak Rukia diruang perawatan divisi 4…

Pemikirannya cuma sederhana, Ichigo menginginkan Rukia, dan Rukia berusaha menolaknya…

Jadi Mey berusaha semaksimal mungkin menyusun ceritanya hingga tidak berbenturan atau sampai memasuki lemon/ Mature content. (yah… walaupun ga bisa dipungkiri Mey juga sedikit penyuka lemon Ichiruki, karena bisa dilihat beberapa koleksi fic favorite Mey adalah lemon Ichiruki berbahasa Inggris) *plakk! Author ketahuan mesum, wkwkwk…*

Tapi kenapa ketika Mey membaca ulang bagiannya, ceritanya terasa seperti bukan buatan Mey… Aneh bukan?

Yah, Mey cuma bisa berharap readers menyukainya dan tidak merasakan hal aneh seperti yang Mey rasakan sekarang…

Tapi ada yang Mey suka disini *selain romance Ichiruki'nya*

Mey suka dibagian kemunculan Unohana Retsu. Sifat bijaknya emang masih ada, tapi rupanya Unohana bisa usil juga ngerjain Ichigo ampe ketangkap basah ma Byakuya…

Maf ya Ichi…

Maaf buat readers yang merasa Mey sedikit lama *emang lama deh* mengupdate fic ini, chap ini sebenernya dah lama selese diketik, tapi karena banyaknya kesibukan membuat Mey ga punya cukup waktu untuk mempublishnya… belum lagi waktu itu chapter 9 ini sempat terhapus ma Mey *hhe… gomen*

Sekarang Mey bisa dengan bangga ikut meneriakan "Kibarkan bendera IchiRuki!"

Ayeee!

Fight fight fight! Fire!

Oiya, Fic'nya belum tamat kug…

So…

I need review more…