DISCLAIMER:
Masashi Kishimoto#1999
Tite Kubo#2001
AUTHOR:
Alp Arslan no Namikaze 2011
9th Chapter of Hunting of Soul Reaper:
"Ni no Sekai, Ni no No Ai : Two Fate!"
Naruto kukuh berdiri, dia belum menggerakkan tanganya sesenti pun menjauhi kulit leher Hitsugaya. Ichigo menggeram murka,
"APA-APAN KAU! LEPASKAN TOSH-!"
"-Jangan bergerak..."
DEEGH!
Ichigo merasakan detak jantungnya sekan meletup sekali.
Apa Ini?
Reiatsu macam apa ini?
Ichigo merinding.
.
.
"...kalau kalian bergerak...
...dia akan mati."
~~~~4LP~~~
Naruto berkata singkat, namun jelas ia tak main-main. Salah gerak sedikit saja Hitsugaya sadar nyawanya akan melayang. Dia hanya bisa menggertakkan gigi marah.
Dan dia benar-benar marah karena sadar akan sebuah hal.
Hewan laknat yang baru saja membunuh gadis tercintanya tengah duduk santai di atas bahu Naruto. Sang Rokudaime tak merespon banyak pada tatapan dingin Hitsugaya, ditempelkannya hiraishin kunai lebih dalam pada kulit lehernya, lalu bergumam,
"Aku hanya ingin tanya beberapa hal, dan tentunya butuh jawaban."
DEEGH!
Sekali lagi Ichigo menahan ludahnya tersangkut di tenggorokan.
A-Apa ITU?
Aura MACAM APA yang terasa dari sosoknya barusan itu apa-
"Pertanyaan pertama, dari mana kalau aku adalah Kyuubi, dan Kyuubi adalah aku?"
Hening.
Sebuah suara menginstruksi ide-ide yang serasa semakin berkecamuk di benak Ichigo hingga ia memalingkan badannya,
"Kami mohon maaf atas ketidaksopanan kami sebagai tamu, Kyuubi no Yoko. Kami hanya ingin datang menjemputmu kembali pulang, ke rumah." Suara berat itu terdengar, Yamamoto melanjutkan.
"Auramu, tingkah lakumu, pancaran reiatsumu, semua ruh dan jiwa Kyuubi ada padamu. Dan kami bisa melihatnya."
Naruto menatap tajam pada sosok tua Yamamoto, mata sanninnya berkilat-kilat.
Jelas dia sadar kalau kakek tua yang baru beradu pedang dengan Sasuke barusan ini bukanlah kakek tua sembarangan. Badan tinggi kekar, janggut putih panjang hingga perut dengan anyaman benang di sela-selanya , kepala yang plontos karena dimakan umur. Orang ini jelas mempunyai kekuatan di atas mereka Shinigami yang lain.
Namun yang seperti ini tak membuat Naruto berpaling pada Ichigo. Pemuda jabrik rambut oranye ini memang belum diliriknya sejak pertarungan mereka berdua di atas tadi, dan itu membuatnya bergeming.
Biarkanlah kalau orang tua ini memang sekuat itu, Sasuke pasti bisa mengatasinya. Namun...
...Lelaki jabrik ini...
Apa yang disembunyikannya? Pedang itu...
Naruto sungguh penasaran.
Hawa membunuh yang teramat santer, rasa sepi yang berkecamuk. Kegelapan yang sesaat tadi menyesakkan dada, bahkan melebih tekanan saat melawan Madara.
Siapa DIA?
Naruto nyaris tak habis pikir, mata sanninnya menatap tajam menyisiri tiap-tiap shinigami. Dan dalam diamnya baru terpikir ide baru sepanjang kalimat barusan.
"NARUTO-KUN!"
"Doishta? Kyuubi?"
"ORANG TUA INI SETAHUKU BERNAMA GENRYUUSAI SHIGEKUNI YAMAMOTO, UMURNYA SEDIKIT LEBIH MUDA DARIKU, DIA BERUMUR LEBIH 1000 TAHUN!"
Naruto mengrenyit,
"Begitukah?" Gumamnya lagi. Bijuu di bawahnya ini mengggeram. Naruto memejamkan matanya sejenak, mengalihkan perhatian Shinigami yang mematung.
"Sokka..."
"Pertanyaan kedua...
Jika kalian ingin menjemputku pulang, kenapa kalian ingin membunuhku...
...Shinigami?"
Belum ada jawaban hingga Ukitake mengangkat tangannya, ke dada.
"Kami mohon maaf atas kelancangan Hitsugaya Taichou telah menyerangmu barusan, kami sama sekali tidak ingin membunuhmu. Ia hanya sedikit shock karena ada masalah pribadi."
"Ho, orang ini?".
" Menyedihkan." Naruto mengerling pada Hitsugaya, lalu kembali pada Ukitake. Dalam dingin kunainya, ia merasakan leher Hitsugaya menegang.
Jelas, Shinigami di depannya ini sedang menahan amarahnya sangat.
"Lagipula kalau seandainya kalian hanya ingin menjemputku kenapa harus menghancurkan kekkai, membakar tanah dan pohon bahkan hingga lebur, lalu membantai sekian orang Shinobi kami? Kalian sungguh tak tahu sopan santun!" Gumam Naruto kembali, ketus. Ukitake terdiam sejenak, rambut putih pangjangnya sesaat memejamkan matanya.
Sabarlah sedikit, Toshiro!
" Sekali lagi kami mohon maaf, atas semua ini. Kami hanya ingin menjemputmu pulang, Kyuubi no Yoko. Tidakkah kau ingat betapa ritual ini teramat penting bagi kami semua, Shinigami? Tidakkah kau ingat bagaimana kau tinggal di Seiretei dulu? Tidakkah kau rindu pada rumahmu?"
Naruto terdiam menahan heran. Dia menangkap nada memohon dalam kata-kata yang terucap dalam kalimat Ukitake barusan. Rekan-rekannya pun tak ada yang menginterupsi. Meskipun dia tak pernah bertemu dengan Ukitake sebelumnya, sudah pasti perlakuan lembut semacam ini membuatnya sesaat bimbang. Naruto menepuk dahi Bijuunya,
"Hei, kenapa mereka jadi lunak begini, Kyuubi?"
"CIH! AKU TAK TAHU! KALAU KAU YANG SEJENIS DENGAN MEREKA SAJA TAK BISA MELIHAT MEREKA APALAGI AKU YANG HANYA PELIHARAAN MEREKA?"
Naruto mendecih,
"Dasar bodoh. Maksudku kenapa kepribadian mereka berubah begitu saja? Tak mungkin dia yang rambut putih itu langsung memohon hanya dengan kusebut kesalahan mereka? Pembunuhan sekian nyawa ini sudah cukup membuktikan kekejian mereka, Kitsune!
Lagipula apa maksudmu dengan sejenis? Jelas-jelas mereka itu-"
Dan seakan tersengat listrik bagian otaknya, Naruto merasa kaget setengah mati. Jelas ia telah melupakan sesuatu. Kalimatnya terpotong, ia tak jadi menyampaikannya.
"DOISHTA, NARUTO-KUN?"
Naruto mengangkat bahu, lalu tersenyum.
"Tidak ...
...Itu tidak penting."
Naruto menghela nafas, menghembuskannya lalu menarik pedang angin dari leher Hitsugaya. Kyoraku tercengang, Ukitake tak melanjutkan bicaranya. Naruto berbalik berjalan.
Ichigo memandangnya bingung pada Hitsugaya, lalu kian berpaling pada punggung Naruto yang menjauh.
"Hoi! Matte! Omae-!"
"-Aku tahu betul kalau kalian membutuhkan kekuatan Kyuubi demi kesenjangan hidup kalian. Sebaliknya pula, kalian akan hilang dari lembaran sejarah kalau tidak melaksanakan ritual itu. Kalian akan musnah.
...Aku turut berduka cita atas tewasnya dua rekan kalian, namun sekalipun kalian berupaya sekeras apapun...
...Kyuubi tidak akan pernah meninggalkan tubuhku ini."
Naruto berpaling sejenak, memamerkan mata sannin lalu menghempaskan energi alam yang membuat jantung setiap shinigami nyaris berhenti .
Bahkan Yamamoto sekalipun, orang yang pertama kali sadar kalau manusia di depannya ini adalah jelmaan rubah ekor sembilan, tak bisa menahan ketakjubannya sebagai Sotaichou. Dia nyaris berdecak. Ichigo masih linglung, tak mencerna banyak apa yang terjadi sebelum energi itu terhempas.
DAAASH!
.
.
.
DEEGH!
"M-Masaka...Kore...
Koitsu...-"
Byakuya tak melanjutkan kalimatnya. Ia tertunduk diam tatkala Ichigo berbalik, menyaksikan kakak iparnya tengah berkeringat sebesar butir jagung.
Dan itu membuatnya urung bertanya.
Ichigo menelan ludah.
Naruto memalingkan wajahnya seraya melirik sedetik pada para Shinigami, melanjutkan langkahnya seraya berkata,
"TIDAK AKAN PERNAH!"
Suasana senyap.
Sungguh senyap hingga Ichigo membalikkan pandangannya pada rekan-rekannya. Tinggal 7 orang. Yamamoto sungguh shock, ia mungkin sudah akan rubuh ke atas tanah kalau Kyoraku tidak menahan badan tuanya. Mata coklat Kakak iparnya meredup, tak mencerminkan sedikitpun kebanggan sebagai kepala keluarga Kuchiki. Ukitake berjalan ke depan, menepuk perlahan bahu kanan Hitsugaya. Hitsugaya tetap terdiam.
Komamura masih sibuk dengan seorang berponi di tempat tak jauh dari mereka. Sungguh brutal. Kenpachi pun tak kalah sangar dengan menampilkan rubuhnya sekian pohon karena pertarungannya di hutan.
Komamura dan Kenpachi mungkin bisa menyusul belakangan, tapi...
Ichigo menggenggam zanpakutounya erat-erat. Pandangannya seakan kabur tatkala berpaling ke depan. Sosok dengan ikat kepala, pupil kotak dan gulungan di balik punggung itu berubah.
Tepatnya berubah warna. Sekelilingnya berhenti tatkala suasana sekelilingnya bak menjadi potret hitam putih, berhenti.
Waktu seakan berhenti saat dirinya muncul.
Ichigo menyadari kalau dirinya telah tertarik ke dimensi zanpakutou-nya. Ichigo melihat seorang lelaki berkaca mata hitam dengan rambut keriting panjang sepunggung hadir mendekatinya.
"Z-Zangetsu?"
Sosok yang dipanggil tak lantas diam, Zangetsu menjawab.
"Doishta, Ichigo? Kau takut? Memang sungguh luar biasa kuat orang ini."
Ichigo tertohok. Dia tahu kalau Zangetsu tak main-main mengatakannya, bukan bermaksud menghina memang, namun itu cukup menyadarkan dirinya akan lemahnya dirinya sekarang. Zangetsu berjalan mendekatinya, lalu berkata.
"Shinigami tidak hanya sosok pahlawan yang berjuang memberantas hollow. Mereka juga berjuang dengan mempertaruhkan segala yang dimiliki demi kehormatan dirinya sebagai Dewa Kematian. Menjadi Shinigami dengan sebuah tujuan, tidak lebih!
...Kau, Ichigo. Apa yang kau miliki sebagai sebuah identitas yang membuktikan dirimu sebagai seorang Shinigami?"
Ichigo sekali lagi merasakan sesuatu yang menyesakkan dada.
"...Bukankah kau adalah pemimpin untuk misi ini? Kenapa kau harus bimbang bersama teman-temanmu yang sekarang menjadi bawahanmu? Apa alasanmu untuk berada dalam kebimbangan saat mereka yang datang kesini dengan segenap impian dan prinsip pada diri mereka, mempercayakan segalanya padamu? Sedangkan kau nyaris jatuh?
Jawab pertanyaanku, ICHIGO!"
Ichigo tanpa sadar membulatkan kedua matanya, ia kian tertunduk.
Dan sungguh kaget saat ia melihat Zangetsu tengah duduk berlutut, menundukkan kepalanya tepat di depan kakinya.
"...Apapun akan kulakukan untuk membantumu...
...Master..."
Ichigo menghela nafas.
Dia benar.
Ichigo menyadari kalau semua yang dikatakan Zangetsu adalah benar.
Dia adalah pemimpin untuk misi ini. Apapun yang terjadi dia adalah orang yang paling bertanggung jawab. Malu mungkin dapat ditanggung bersama, namun rasa bersalah atas ketidakmampuan diri sendiri akan menjadi aib menyakitkan seumur hidup.
Dan kian sosok bidadari bermata violet itu muncul, menyinari otak penatnya selama beberapa saat.
Ichigo POV
FLASHBACK ON
Aku melangkah masuk ke rumah. Seperti biasa, sepi. Rumah keluarga Kuchiki siang ini serasa vila pribadi karena tak ada suara yang terdengar selain gemerisik ranting pohon di halaman yang disinggahi burung pipit.
Sepi. Sungguh sepi.
Aku menengadah ke atas, mencoba memperhatikannya untuk mengusir rasa sepi. Sial, Burung itu malah pergi begitu saja.
Ups, apa itu?
Kalau aku tidak salah, di paruhnya semacam tadi ada...-
"-Ranting."
Suara manis itu menginterupsi ideku . Aku berpaling ke kanan, dan kudapati gadis tercintaku tengah berjalan pelan, mendekatiku dengan anggunnya. Oh –T-U-H-A-N... Kimono putihnya... Rambut hitamnya...
Tanpa kudari wajahku sudah semerah udang. Rukia merangkulku, aku menyambutnya.
"Tumben kau pergi pulang cepat, apakah Nii-Sama tidak memanggilmu hari ini?" Katanya. Aku menunduk, memperhatikannya yang tengah berlabuh manja di dadaku. Dia menyebut kakaknya, aku menggeleng.
"Tidak, aku memang sepertinya tidak ada tugas hari ini. Aku baru datang dari barak divisi 10, Toshiro sepertinya sibuk sekali hingga aku harus membantunya mengatur arsip barusan."
"Hitsugaya Taichou?" Tanya Rukia. Aku mengangguk.
"Ya, dia bilang ada urusan penting hingga akhirnya aku dan Rangiku-San yang menggantikannya."
Sosok wanita muda dengan dada –maaf- terbesar di Soul Society ini kuyakini tengah muncul di kepala Rukia, Matsumoto Rangiku. Rukia mengerutkan kening, lalu menjauhkan dirinya dariku. Berpangku tangan pada pagar kebun.
"Mungkin ada urusan dengan Hinamori?"
"Ah,tidak juga. Setelah Toshiro meninggalkan kantor, Momo datang. Dan dia mengaku tak ada urusan apapun dengan Toshiro pagi ini. Ia malah pergi setelah membantu kami sebentar dan meninggalkan permen kacang."
Rukia tersenyum tipis,
"Makanan kesukaannya, ya?"
"Ya, tentu saja- Siapa lagi orang yang lebih dek-"
"Jadi mungkin saja rumor itu benar." Rukia memotong lagi kalimatku. Aku mendelik heran. Kubiarkan Rukia melanjutkan kalimatnya,
"Aku mendengar desas-desus kalau Hitsugaya Taichou sering mengunjungi markas Onmitsukido di divisi 2. Mungkin saja kejadian pagi tadi ada hubungannya." Sergahnya lagi. Hei-Hei... masih belum dapat menangkap kalimatnya.
"Hm, kau bahkan belum pernah dengar ya? Soifon Taichou sekarang jauh lebih lembut dan manis loh." Rukia melanjutkan, aku kian membulatkan kedua mata.
"Hei, Jangan bilang kalau mereka berdua...-
...-Apa?"
Rukia terkekeh kecil.
"Aku tak terlalu mengurusi sejauh itu. Kalau Matsumoto saja yang Si Ratu Gosip tak tahu banyak apalagi aku? Hahaha... Aku hanya bisa bersyukur karena tak lama lagi Urahara akan mempunyai adik ipar."
"Urahara-San..."
Aku tersenyum saja menyebutkan nama tokoh Soul Society itu.
"...Yah, mungkin saja. Aku pun turut bahagia kalau melihat mereka berdua. Jodoh memang tak ada yang tahu. ..."
Aku merapatkan diriku pada Rukia yang bertumpu tangan pada pagar. Dia tak melawan, kurengkuh dirinya dalam dari belakang punggung.
"Jangan bilang kalau itu seperti kau dan aku." Sergahnya. Aku menggaruk kepala tak gatal. Dia menoleh, lalu kami tertawa bareng.
Sejenak kami tertawa bersama, lalu terdiam. Aku mengusap belakang kepalanya seraya kukecup lembut.
"Hei, ngomong-ngomong kenapa rumah kita ini sepi sekali? Biasanya banyak mereka yang-"
"Aku yang menyuruh mereka pulang."
Lagi-lagi, dewi kematian berumur nyaris 100 tahun ini memotong kalimatku.
"...Mereka kupinta untuk bekerja cepat, lalu ya sudah. Hari ini cukup sampai disini."
Tidak biasanya...eh?
"Kenapa?"
Bukannya menjawab , Rukia malah tertawa. Dia menggeliat, memberontak dari rengkuhanku lalu berlari kecil, meninggalkanku kikuk.
"Hahaha... sudah kuduga kau akan menanyakannya...
...Kalau mau tahu, kejar aku dulu!"
Rukia sudah ngeloyor pergi. Larinya manja, menggoda. Aku jadi serba salah, kikuk.
Dari pada berdiri penasaran, lebih baik kukejar saja.
Lagipula...
Huph!
Sedetik kemudian aku sudah menangkap tangannya lagi, kutarik dalam pelukanku. Rukia meronta,
"Hei, sejak kapan kau-!"
"Sejak kapan kau melarangku menggunakan SHUNPO, heh?"
Kukunci langsung badannya hingga tak bisa banyak bergerak. Aku tertawa terbahak, Rukia cemberut.
"Hei...Hei... Jangan cemberut begitu. Midget." Godaku, kurenggangkan kuncianku dari tangannya. Mendengar ledekan usil itu Rukia kian memalingkan wajah, melipat tangan di dada.
"Dasar Jeruk Mesum!" Makinya. Aku kian melongo, lalu sergahku padanya,
"Hei, bukankah tadi yang minta kejar-kejaran itu kau, Rukia? Aku khan hanya mengikuti saja."
"Tapi kau curang."
"...Curang? Dimana?"
"Itu. Shunpo."
Aku tambah melongo lagi. Kudapati violet itu kian berpaling dengan cemberut, aku melengos. Kuletakkan kedua tanganku di depan dada.
"Iya...Iya... Aku menyerah.
...Terserah dirimu saja!"
Belum bergeming, Rukia akhirnya berbalik lalu merangkulku lagi dari depan.
Untuk entah yang keberapa kalinya aku kembali melongo.
"Kau senang khan, kita bisa bermesraan di mana pun kita mau. Bahkan tanpa ada Nii-Sama dan orang-orang yang biasa di sekitar kita dan akan menganggu. Bukankah begitu, Ichigo?"
.
.
.
Tiiiiing...
Serasa ada burung yang lewat lalu melemparkan kotorannya tepat di atas kepalaku.
"Ooh... H-hee.
...I-Iya..." Sergahku lagi. Entah kenapa wajahku kembali jadi semerah apel. Rukia cekikikan.
"...Lagipula aku mau mengatakan sesuatu, kusus untukmu, Ne."
Aku menundukkan kepalaku padanya, dan kulihat dia mendongak.
"Sesuatu? Sesuatu apa?"
Tangannya mengayun-ngayun, mengajak telingaku berbelok tajam ke bawah. Dan kurasakan telapak tangannya menyentuh ujung kupingku sebelum dia berbisik.
Dan dua detik kemudian, aku menarik kepalaku tak percaya. Pupil coklatku membulat hebat, mulutku menganga karena nyaris tak percaya pada kalimat barusan.
"So-...
So desu ka?"
Rukia hanya mengangguk malu-malu. Aku melompat.
Sungguh-sungguh melompat, aku kian kegirangan.
"Unohana Taichou yang memberitahuku jadi- KYAAA!"
Aku tak membiarkannya berkata-kata lagi. Kugendong dengan kedua tanganku ala bride style.Rukia meninju-ninju pundakku.
"BAKA Ichigo! BAKA! BAKA! Doish- !"
BRAK!
Suara pintu tertutup membuatnya tak bicara lagi. Kurebahkan dirinya di ranjang, mataku menatap dalam violet di depanku ini sambil menganyam jemari kirinya dengan jariku. Lembut , lentik.
"BAKA! Ichigo! Apa yang-!"
Bibirnya diam, tersegel.
Tersegel langsung dalam bibirku yang sudah mengecupnya, Rukia tak melawan. Dia balas mengecupku.
Hampir semenit, aku mengangkat wajahku dari dirinya. Panas, kusibakkan poni hitam yang menghalangi dahi putihnya.
"Kalau nanti semakin lama, aku sudah tak akan bisa begini lagi..
...Nyonya Kurosaki."
Wajah Rukia merona malu, dia berpaling. Jelas, wajahnya yang blushing tak mau diperlihatkan padaku.
"Dasar BODOH!" Erangnya. "Bahkan kau belum tahu jenis kelaminnya apa." Aku cekikikan. Kuambil nafas sebelum kuhembuskan di lehernya.
"...I Love You...
Mom..."
"Aishiteru...
...Otoosan..."
Ibu dan Ayah.
Hari dimana Aku memanggil Rukia dengan Ibu.
Dan Rukia memanggilku Ayah.
FLASHBACK OFF
Normal POV
Mata coklat Ichigo membayangkannya.
Hanya dia.
Seorang Shinigami yang menjadikan hidupnya kian berubah, selama ini, sekian tahun ini.
Seorang yang menunggunya.
Seorang yang mencintainya.
Ichigo menghela nafas seketika. Zangetsu mengangkat kepalanya, Ichigo tersenyum.
"Wakattemasu, Zangetsu Oo-San," Gumamnya. Zangetsu menyembunyikan senyumnya di balik kaca mata hitam, lalu katanya,
"Aku bersamamu,Ichigo."
Dan waktu serasa berjalan lagi. Ichigo memandang aneh pada Naruto. Dia masih berjalan santai tatkala Ichigo menyadari sesuatu.
Jaraknya serasa berbeda, apakah...
"Hei, Shinobi."
Naruto diam dalam langkahnya santai, tak menggubris sama sekali. Ichigo geram mendecih, dia mengangkat zanpakutou-nya ke depan lalu berteriak lagi.
"Aku tak perduli kau sekuat apa, seseram apa, namun aku tak punya pilihan lain selain menjemputmu pulang.
Aku tahu kau tak akan berhenti menolak, maka dari itu, kami tidak ada pilihan lain.
...Kami akan menjemputmu dengan paksa!"
Naruto menghentikan langkahnya kini. Kata-kata terakhir tadi serasa mengingatkannya pada pertempuran 5 tahun lalu, 1 melawan 6 orang PAIN. Dia tersenyum tipis, lalu berkata.
"Hm? So desu ka?"
"Hh, sudah kukatakan!
...Kau akan pulang, meninggalkan tubuh semumu itu dan kembali ke rumahmu di Soul Society, Kyuubi!" Ichigo mengatakannya dengan semangat. Kyoraku mengangkat topi jeraminya.
"Hm, Aku tak mau pergi jauh-jauh ke dunia manusia hanya untuk yang seperti ini. Misi harus selesai, Kurosaki." Tandas Byakuya. Ia melangkah ke sisi Ichigo. Selendang birunya terbentang di bawa angin.
"Sokka...
Lagipula bukankah kita ingin cepat pulang, Ukitake?"
Ukitake mengganti posisi Kyoraku membopong Yamamoto Genryuusai, menahan badan tua Sotaichou dengan badannya sendiri. Dia terdiam, matanya melirik pada Hitsugaya yang membelakanginya. Ukitake menunduk, menarik nafas dalam.
"So,
So desu yo! "
~~~~4LP~~~
Kakashi membulat kedua matanya. Katsuyu belum menyelesaikan kalimatnya saat Kakashi berteriak,
"Ima da, Minna –San!"
~~~~4LP~~~
Ichigo melihat suasana wajah Hitsugaya masih belum enak dilihat. Dia mengerling pada Yamamoto.
"Oi, Yama-Jii! Biarkan kami yang mengurus Siluman bandel ini. Kau sudah cukup umur, biarkan kami yang-"
"-Mulutmu itu harus lebih disekolahkan, Shinigami Daiko." Yamamoto mengumpat balik.
"Kalau kau bilang aku tak cukup kuat untuk mengangkat diriku sendiri ke medan perang, kau masih terlalu cepat 500 tahun untuk mengatakannya, Ichigo!"
Ichigo tak perduli. Dia berbalik pada Naruto yang masih bergeming.
"Doishta, Shinobi?
Kau takut, melawan kami yang baru saja menghabisi sekian puluh orang-orangmu itu? "
Naruto tak kian menjawab. Dia baru akan berpaling saat merasakan sekian tapak kaki mendarat di sekitarnya. Ichigo memaki,
"Hei, aku bertanya padamu. Apakah kau takut melawanku?"
Naruto membalikkan badannya penuh, lalu bergumam,
"Ya, kau seorang dengan membawa kehormatan dan nama Dewa Kematian telah menakutkanku. Bahkan dengan tiga dalam tubuhmu itu, aku sangat takut."
Dan sekali tadi Ichigo merasakan matanya membulat lagi, mendecih.
Tiga...
Orang ini...Jaraknya yang menjauh tadi...
Jangan-jangan...
Dia bisa melintasi dimensi zanpakutou?
.
.
BLAAAR!
Suara tanah yang entah keberapa kali hancur mengalihkan sejenak perhatian mereka. Lee melompat dari kepulan asap, mendarat di samping Naruto. Dia terengah-engah.
"Daijoka, Lee?"'
Lee mendecih. Mengatur nafasnya sebelum bergumam,
"Daijobu da... Aku hanya tak menyangka raksasa bermuka rubah itu bisa menahan seranganku berulang kali meski aku sudah membuka gerbang ke 5."
Naruto berpaling kembali pada Ichigo dan melihat sosok Shinigami berwajah hewan itu sedang berjalan pula ke belakangnya.
"...Namun aku sadar bahwa teman-temanku telah hadir di sini, siap berbagi rasa denganku, membantuku, mempertahankan desa kami dari tangan kotor siapapun." Naruto mengangkat tangannya seraya melanjutkan. Dia menatap tajam pada Ichigo,
"...Dan aku tak akan pernah menarik kata-kataku.
...Itulah Jalan Ninjaku!"
Suasana kian hening, Ichigo mengangkat kepalanya.
"Hn, sokka.
Kalau begitu buktikan berapa lama dirimu dalam tubuh manusia itu mampu bertahan, Kyuubi!
Ayo kita-"
SREEK!
Ichigo belum menyelesaikan kalimatnya saat Hitsugaya menengahi.
"Biarkan aku maju, Kurosaki!"
"Ck! BODOH! " Ichigo memaki, Hitsugaya tak perduli. Ia mengacungkan zanpakutounya ke depan, aura es murni muncul tepat saat Naruto dan Aliansi Konoha mempersiapkan kuda-kuda mereka.
"Naruto, mengapa-"
Sang Rokudaime mengangkat tangannya, mencegah Kiba yang baru akan maju. Kupingnya serasa semakin berisik dengan suara Guy yang bercampur dengan reruntuhan pohon yang menjadi-jadi,
"-Tahan."
"Naze, Naruto?"
Naruto tak menjawab. Di otaknya terbayang sesuatu yang sungguh di luar dugaan.
Ada apa ini?
Kenapa mereka malah berkelahi seperti itu?
Menunggu? Tunangan? Apa maksudnya?
"Hei, Kyuubi...?"
~~~~4LP~~~
"Kau BAHKAN tak bisa menyentuhnya sedikitpun, TOSHIRO!" Ichigo menjerit.
"Kau tahu bagaimana kekuatannya tadi, dia BUKAN manusia! Dan kalau kau masih mengedepankan dendammu aku tak akan segan untuk-"
"UNTUK APA? HA? UNTUK MENGHAJARKU? SHINIGAMI DAIKO SIALAN!"
"KAU BISA BERKATA SEPERTI ITU KARENA MASIH ADA RUKIA YANG MENUNGGUMU, KHAN? IYA? KAU PIKIR APA YANG TELAH MEMBUAT OTAKKU MAMPET SEPERTI INI, HA?
DIA! SILUMAN JAD*H PELIHARAAN ITU! DIA! TELAH MERENGGUT SOIFON DARIKU! TUNANGANKU!" Hitsugaya meneriaki Ichigo berapi-api. Si rambut oranye diam saja. Shinigami lainnya pun tak ada yang bersuara. Naruto mendengarnya, lalu mengerutkan keningnya kini.
Mereka bertengkar, eh?
Hitsugaya terengah-engah, mengatur nafasnya seraya berpikir.
Ichigo mengatakan hal itu karena khawatir, Hitsugaya tahu itu.
Ichigo adalah satu dari sekian butir orang yang paling memahaminya, dia tahu itu.
Namun kenapa Kapten divisi 10 ini meledakkan kemarahannya pada Ichigo?
Jelas, dendam karena kehilangan orang tercinta sudah membutakan sebagian hatinya. Hitsugaya menarik nafasnya lagi, air matanya tertahan mengalir. Ichigo tak banyak komentar, dia menggertakkan giginya sebelum merengkuh kerah haori Hitsugaya.
BUAAGH!
Sebuah tinju mendarat di bibir Hitsugaya mentah-mentah. Dia nyaris roboh, namun Ichigo menahan jatuh badannya. Menatap tajam si mata zamrud.
"KAU PIKIR SOIFON AKAN BAHAGIA JIKA KAU MENYUSULNYA SECEPAT ITU? HA? BODOH!
SOIFON GUGUR, DEMI KAU! TIDAK DEMI SIAPA-SIAPA LAGI SELAIN KAU, TOSHIRO! DIA INGIN KAU HIDUP, MENYELESAIKAN TUGAS INI HINGGA SELESAI. TIDAK DENGAN ACARA MATI KONYOL SEPERTI ITU BODOH!"
Bak tersadar dari mimpi, Hitsugaya tercengang mendengar kalimat Ichigo. Ichigo menghempaskan sosok bersayap naga es itu ke atas tanah dengan kasar.
BRAAK!
Mata coklatnya memicing pedas pada Hitsugaya,
"Pikirkan lagi keputusanmu itu, sebagai seorang lelaki, sebagai seorang tunangan, sebagai seorang Kapten divisi 10, Junibantai no Taichou! Pikirkan lagi betapa berharganya nyawamu sekarang ini...
...Kalau kau bisa menjamin dirimu tidak akan menyesal dalam sisa hidupmu, maka aku tak melarangmu lagi...
Hitsugaya Taichou."
Hitsugaya tak urung langsung bangkit dari atas tanah. Dia berpikir, lalu menekukkan kakinya. Berdiri seraya menunduk, berpaling arah dari Ichigo
Hitsugaya terdiam, berpikir.
Detik-detik berlalu dalam diam. Baik pihak Shinigami maupun Shinobi belum menunjukkan niat bertarung. Hitsugaya menarik nafas. Mengangkat pedangnya, lalu bergumam.
"Maafkan aku... Kurosaki."
"Hn, merepotkan. Kau tahu pada siapa kau harus meminta maaf." Sergah Ichigo. Hitsugaya masih terdiam kaku hingga mulutnya kembali bersuara,
"Aku tahu mungkin aku bukan tandingan jelmaan rubah ekor 9 itu, namun aku mungkin punya sebuah permintaan..."
"Permintaan? Permintaan apa?"
Hitsugaya terdiam sesaat, mengatur kata-katanya.
"...Jika ada suatu waktu aku bisa memberikan tebasan terakhir...
...Aku mohon izin untuk melakukannya, Ichigo."
Ichigo terkekeh,
"Tentu saja, silahkan lakukan apa yang kau ma-"
Kalimat Ichigo terputus, bersamaan dengan bayangan kuning yang tanpa ampun menyambar dada Hitsugaya dengan putaran angin yang teramat dahsyat, menyisakan raut kecemasan luar biasa dari Ichigo dan keempat kapten lainnya,
"TOSHIRO!"
Dan si empunya nama hanya bisa mengerang, membelalakkan kedua mata zamrudnya sambil memuntahkan sepercik darah.
~~~~4LP~~~
"Hei, Kyuubi?"
"DOISHTA? NARUTO-KUN?"
"Aku heran melihat Shinigami itu,"
"BEGITUKAH? CK! APA PEDULIMU?" Kyuubi menyanggah. Naruto berdehem,
" Aku...
...Aku entah kenapa merasakan hal yang ganjal, Kyuubi."
"HN! GANJAL? MAKSUDMU? AKU MALAH SEMAKIN TIDAK MENGERTI. AKU SUDAH CERITAKAN SEMUA YANG KUTAHU, NAMUN DARI PERKATAANMU SEPERTINYA KAU LEBIH MENGENAL MEREKA DARI PADAKU, NARUTO-KUN!"
Naruto tak berkomentar,
"KAU MENDENGARKANKU, NARUTO-KUN?"
Tak ada respon, Kyuubi gerah.
"NARUTO-KUN!"
"Tidak..."
Firasat buruk lagi. Naruto entah kenapa jadi merasa aneh.
Percakapan mereka barusan...
Apakah mereka datang kesini tidak hanya untuk mengambil Kyuubi, eh?
"HUH? DOISHTA? PERASAANMU GUNCANG, EH?"
Naruto menghela nafasnya,
"Tidak..."
"HUH?"
"Tidak ada apa-apa... Aku hanya sedikit berpikir, dan kau belum mengatakan dalam ceritamu, Kyuubi...
...Apakah Shinigami mempunyai keluarga, di sana –maksudku- di Soul Society?"
"HUH? MANA KU TAHU SOAL ITU? AKU HANYA DIBANGKITKAN SAAT RITUAL TIBA 1000 TAHUN SEKALI, DAN SERATUS TAHUN SEKALI DI AWAL TAHUN GUNA MENYEMPURNAKAN ENERGI KEHIDUPAN MEREKA. SOAL KELUARGA SIH AKU TAK PERDULI.
ADA APA KAU MENANYAKANNYA, NARUTO-KUN?"
Dan sekali lagi Naruto hanya diam, dia tak menghiraukan pertanyaan Kyuubi. Naruto mendecih.
"Hn, ikue yo...
...Kyuubi."
Naruto melangkah maju sekali, lalu menapak keras.
Dan tak sampai sedetik berikutnya dia sudah mengarahkan Oodama Rasengan pada Hitsugaya, sasaran empuk.
Hitsugaya mengerang, sayap naganya sontak hancur bersamaan dengan daya dorong Oodama Rasengan yang serasa meremukkan dada. Mata zamrudnya membelalak, kaget.
Karena pastinya dia tak menyangka sedetikpun akan menerima serangan ini. Ichigo nyaris menjerit, lalu teriakannya mewakili kekhawatiran Kapten yang lain.
"TOSHIRO!"
Sementara Naruto, hanya diam dalam tenangnya. Sukses.
Bergerak menghindari Ryusenka di atas benteng, bergerak cepat ke belakang Hitsugaya lalu kembali berlanjut pada Oodama Rasengan yang kedua ini bermodalkan sebuah segel. Hiraishin fuuin yang sempat ia tempelkan di ujung pedang Hitsugaya.
Dan segel itu pula yang berakibat pada rasa sakit Toshiro Hitsugaya yang seakan tak berujung, dia tak mampu berteriak. Badannya terdorong menjauhi rekan-rekannya sesama Shinigami, membuat dirinya tak bisa didekati. Ichigo menggeram marah,
"Kisama!"
Ichigo melompat menyusul Naruto yang belum mencabut tangannya dari Hitsugaya, menyerangnya lantas dengan sebuah tebasan reiatsu hitam pekat.
"GETSUGA TENSHOU!"
.
JDAAR!
Kepulan asap menghilangkan pandangan bersamaan dengan letupan ledakan yang memancing shinobi merangsek maju. Seakan bisa membaca pikiran lawannya, Shino sudah melancarkan serangganya, menyerang Byakuya yang bertahan dengan senbonzakura. Untuk sekian kalinya Shinigami kembali terdesak, Kyoraku dan Ukitake dipaksakan untuk menghadapi serangan frontal.
"Lepaskan aku Ukitake!"
Panggilan dari Yamamoto membuat Ukitake melirik gurunya ini. Yamamoto berdiri tegak seraya melepaskan lagi zanpakutounya,
"Sukoshi, Genryuusai Sensei-!"
"Urusshai!" Yamamoto memaksakan dirinya untuk berontak dari Ukitake. Mencabut pedangnya,
Dan suasana seketika memanas.
"Jōkaku Enjō!"*
Dinding api luar biasa panas tercipta, membuat batas tebal membakar antara Shinobi dan Shinigami. Kelopak Sakura hangus berguguran bersamaan dengan gerombolan serangga yang terbakar karena lintasan api yang membara dahsyat di antara mereka.
Shinobi Konoha terkurung. Terpenjara dalam sebuah penjara api yang menutup jarak pandang mereka ke sekian arah berbentuk kubah. Nahas, Kiba dan Chouji yang baru akan membuka jalan menabrak dinding api itu, mendapati panas membakar lebih dari 300 derajat celcius pada sekujur tubuh sebelum jatuh berdebum di atas tanah.
"Daijoka, Kiba? Chouji?" Shino menghampiri. Shikamaru dan Sai turut duduk di samping mereka. Kiba menggeram bersama Akamaru,
"Ck! Kuso! Teknik apa ini!" Makinya. Shikamaru memegang bahu Chouji saat Chouji mengerang pada tangan kanannya yang serasa nyeri,
"UKH!"
"Daijobu desu ka, Chouji?"
Ninja penerus jurus rahasia klan Akimichi ini mengangkat kepalanya, menatap sahabatnya lalu berkata,
"Hn,tak apa! Hanya kupikir kalau ada Ino semua akan menjadi sedikit lebih ringan!"
"Biar kuperiksakan."
Sai meraba tangan kiri Chouji yang terasa menghangat, lalu merobek kain baju yang menutupnya dengan paksa.
SREET!
Sebercak pola terdapat di atas kulit Chouji. Luka bakar. Sai baru mengeluarkan obat pertolongan pertama saat Sasuke mencegahnya, melemparinya dengan botol kecil seukuran telapak tangan.
"Pakai ini!"
Sai menangkap botol salep tanpa label itu dengan tangan kirinya, matanya berputar pada Sasuke dengan wajah penuh tanya.
"Itu Salep khas Klan Hyuuga, Hinata memberikannya padaku sebelum berangkat. Mungkin salep milik ANBU berkhasiat, tapi soal pertolongan pertama, obat itu jauh lebih berguna. "
Sai mengangkat alis.
"Oh." Serunya pendek.
Sasuke tak menghiraukan komentar Sai. Matanya berpendar kembali pada kobaran api yang memenjara mereka. Panas. Keringatnya mulai menetes.
Penjara api...
Jurus macam apa ini? Orang tua tadi...
Sasuke mengingat kembali Yamamoto yang mencabut pedangnya dari sarung, mengibaskan kobaran api yang melintas tanah lalu melingkari mereka. Api ini seperti api yang dia rasakan dari aduan pedang di atas benteng barusan. Api sungguhan. Bukan genjutsu atau sekedar bahan bercahaya yang mampu meledak.
Api sungguhan yang menebarkan bunga bunga api yang panasnya terasa benar di kulit Sasuke.
Api ini hanya api jenis biasa yang setara dengan katon. Amaterasu bisa melahapnya dengan mudah, tapi...
...Menggunakan jurus itu pada keadaan seperti sekarang ini terlalu berbahaya. Sial!
Apa yang harus kulakukan, AH-!
Dan tiba-tiba Sasuke merasakan matanya membelalak.
C-CELAKA! Naruto!
"Kakashi Sensei, Naruto sendirian di luar penjara api ini sementara Shinigami itu tengah berkumpul di sana. Ini...-"
"Wakarimasta. Tenzo, kita serang bersamaan dengan elemen air milikmu, Shikamaru! Kau pimpin kawan-kawanmu langsung keluar dari penjara api ini bergitu ada celah!"
Shikamaru mengangguk.
"Hai!"
"YOSH!" Kakashi mengusap butir keringat yang muncul dari dahinya saat Yamato membentuk bunshin. Dua orang Yamato muncul, bersiap dengan segel yang melontarkan sebuah serangan,
"Suiton: Hahonryū!"
Semburan api hampir dua kali tinggi manusia muncul, Kakashi masuk ke dalam gelombang air, membentuk segel.
"Suiton: Suiryūdan no Jutsu!"
SPLAASH!
Tekanan air membanjir, membentuk asap yang membuat mata Shikamaru sesaat perih, Dia membuka matanya, merasakan panas berkurang lalu meneriakkan instruksi.
Aliansi Konoha serempak melompat, berniat menembus dinding api yang serasa jebol. Kakashi menggengam tangannya, yakin akan berhasil. Peluru air dari Suiryudan no Jutsu yang didukung oleh Hahonryu adalah kombinasi air yang kuat, Katon seukuran dinding tanah dijamin akan terhalau dan padam. Kakashi tahu betul akan hal itu.
Dan Shikamaru pun meyakininya. Ia sudah sedikit lagi menyentuh batas asap saat tiba-tiba merasakan sesuatu yang menggelitik hidungnya, dan Ia tersentak!
Shikamaru mengerem lajunya semampu mungkin sembari membentuk segel kagemane di tangannya.
Berhasil, Shikamaru berhasil menghentikan langkah rekan-rekannya sesaat setelah dirinya mendarat.
Namun kenapa?
Wajah pucat Shikamaru pun belum bisa menjelaskan jawaban atas pertanyaan ini.
"D-Doishta, Shikamaru?" Seru Neji. Shikamaru tak kian menjawab, ia mengurungkan niatnya untuk melepas jurusnya hingga beberapa detik. Memancing penasaran Neji hingga kembali mengonsentrasikan Byakugannya.
Dan pupil berwarna putih itu menyesak hebat saat menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau melihatnya, Neji?"
Neji menanggapi pertanyaan Sasuke dengan mengangguk pelan. Sasuke berkoar,
"Minna, tenanglah dan perhatikan apa yang ada di depan kita sekarang."
Perkataan singkat yang seakan menyadarkan mereka, bahkan Kakashi.
Ilusi.
Sebuah kesimpulan satu-satunya yang patut diambil untuk menjelaskan secara singkat kejadian ini setelah Shikamaru usai melepas jurusnya. Mereka sadar merasakan celah yang ada karena tembakan Suiton berbarengan Yamato dan Kakashi, namun ternyata salah.
Karena Bahkan Sasuke yang mengaktifkan Sharingan pun baru menyadarinya belakangan berbarengan dengan Neji. Dinding itu sama sekali tak padam.
Dinding api yang memenjara mereka sama sekali tidak padam.
"M-...
...Mustahil.." Yamato berbisik dalam kesalnya hingga nyaris tak bersuara. Kakashi diam.
Yamato menggeram. Kobaran api yang menjilat-jilat kian menambah parah suasana emosi masing-masing Shinobi.
~~~~4LP~~~
Ichigo menghadang serangan pedang angin Naruto dengan sigap, membuat Rokudaime Hokage tak segan melanjutkan pertarungan. Pedang mereka kembali bertemu, membunyikan suara berdenting yang menarik pendengaran.
TRAAANG!
Naruto kembali bermanuver, Ichigo melayangkan pedangnya horizontal dan disambut Naruto dengan tebasan dari belakang punggung. Naruto dapat memandang mata coklat Ichigo yang menatapnya tajam. Naruto menghela nafas,
Ia berusaha merasakannya.
TRAAANG!
Suara berdenting lagi, kali ini karena Naruto menyabetkan pedang anginnya, di tahan tepat menyilang oeh Ichigo.
Naruto merasakannya.
Naruto merasakannya.
Dan dalam tarian pedang yang terjadi bak duet, Naruto dalam alam sadarnya bergumam dalam hati.
Shinigami...
Jika aku mampu mengatakannya, aku ingin jujur padamu.
Ada SESUATU yang kudapat dari pertarungan kita.
Mata coklatmu itu tajam, namun tidak mengungkapkan kebencian.
Gerakan pedangmu, tebasan katanamu, hingga getaran detak jantung kita mengisyaratkan sesuatu.
Aku yakin ada hawa PEMBUNUH dalam dirimu, namun entah kenapa aku menyadiri tidak di satu sisi yang lain. Ada SESUATU.
Sesuatu yang bahkan sekali lagi aku sangat ingin kukatakan jika aku mampu mengatakannya.
Tebasanmu sungguh kuat, namun yakinkah kau mau membunuhku dengan ini?
Tebasanmu sekarang ini berbeda dengan yang kita lakukan di atas benteng tadi.
Apa kau kehilangan?
Apa kau tak rela jika rekanmu terluka, tadi dua orang tewas dan sekarang ini kucederai di depan mata?
Aku tahu dan paham. Jika seorang rekan gugur dalam pertarungan, maka babak-babak selanjutnya akan menjadi babak balas dendam.
Dan babak ini sekarang kurasakan lebih dingin dari pada babak kita di atas benteng.
Apa kau marah?
Aku, entah kenapa merasakan keharusan untuk melawanmu.
Dan aku tak menyesal sudah menyisakan sedikit nafas bagi rekanmu yang berkekuatan es itu, karena tanpa itu mungkin aku akan mendapati jawaban buntu karena kau tak mau melawanku.
Jawaban buntu atas pertanyaanmu "Apakah kau takut melawanku?"
Namun bilamanapun keadaan hatimu yang tergoncang sekarang, aku tahu kalau aku tak bisa berkelas kasihan padamu.
Sedikitpun tidak.
Kau sudah melukai kawan-kawanku sesama Shinobi, mencabut nyawa mereka.
Kau sudah menghancurkan Desaku.
Kau sudah mengancam keberadaan penduduk desaku, menyakiti orang-orang yang mempercayaiku, mengakui keberadaanku.
Kau sudah membuat Kyuubi sedemikian bodoh karena menjadi alat untuk sumber kehidupan kalian,
Maka jawaban yang kulontarkan atas pertanyaan itu adalah;
"AKU TIDAK TAKUT UNTUK MELAWANMU, DEMI SEBUAH JAWABAN!"
Jawaban yang tidak mampu dijawab kecuali oleh dirimu, meskipun kau tidak akan pernah menjawabnya.
Jawaban yang tidak kan kau jawab, namun dapat kau berikan dengan tebasan pedangmu.
Dan satu alasan lagi kenapa aku merasa harus melawanmu,
Karena kau,
Telah membuat seorang,
Yang amat kucintai menungguku!
.
.
Sakura...
Flashback on
Naruto POV
Aku melompat-lompat mengitari pohon, dahan terakhir berderak karena kutapak dengan keras. Kiba, Shikamaru dan Sai berjalan mengiringiku. Suara Kiba menghentikanku.
"Matte , Naruto!"
SET! SET!
Kami berempat mendarat di dua dahan pohon berukuran besar yang berbeda letaknya. Kiba dan Akamaru mengendus-ngendus seraya menatap lurus ke arah tujuan kami, Kami bertiga diam memperhatikan.
Dan beberapa detik kemudian dia berpaling padaku.
"Sudah dekat ya?" Sergahku. Dia mengangguk mengiyakan.
"Yo."
"Sekarang apa rencanamu, Kapten?"
Tak lantas kujawab. Aku berjongkok, menggigit ujung jariku hingga berdarah, merapal segel lalu menapakkannya ke atas tanah.
"Kuchiyose no Jutsu!"
BOOF!
Seekor katak dengan tas punggung berukuran genggaman tangan muncul di depan kami. Ketiga rekanku kaget, Gamakisuke mengangkat tangannya, menyapaku.
"Hoi! Ohaiyo gozaimasu, Naruto-Kun!"
"Naruto, Nani ga kore?" Shikamaru menundukkan kepala pada Gamakisuke, mata onyx-nya penasaran. Aku mendongak padanya, belum sempat menjawab saat katak yang baru kupanggil keburu menyela.
"Namaku Gamakisuke, katak khusus pengirim pesan dari Myobokuzan, salam kenal!"
Aku mengedipkan mata pada Shikamaru, kupikir itu semua sudah jelas. Kuambil gulungan dan tinta dari tas punggungnya, menuliskan beberapa kalimat, menggulungnya lalu memasukkannya kembali.
"Sampaikan ke Baa-Chan, ya. Aku akan tiba 20 detik setelah kau sampai. Ok?"
Gamakisuke mengangkat tangannya menyanggupi, "Yo, kau tenang saja. Ada pesan lain?
Dan pertanyaan terakhir itu membuatku mendelik,
"Eh-ya...Sebenarnya sih ada, tapi mungkin lain kali saja... hehe..." Aku sibuk menggaruk kepalaku tak gatal. Gamakisuke berkacak pinggang, lalu katanya,
"Hei, kau ini terlalu meremehkanku. Aku bisa membawa sebanyak apapun pesan sekaligus, apa kau belum tahu?"
Kalimatnya barusan membuatku kikuk,
"Eh? Sungguhkah?"
"Yeah, so desu ka."
Gamakisuke mengatupkan tangannya, memanggil lagi selembar kertas kosong dan sebuah kuas tinta. Aku terhenyak, lalu tersenyum.
Sepertinya Kami-Sama memihakku kali ini.
Aku berpaling pada kertas, meraih kuas lalu menuliskan sesuatu di sana. Senyumku kian merekah bersamaan dengan gulungan putih yang kumasukkan kembali ke dalam tas. Benar, kertasku yang pertama masih ada di sana.
Gamakisuke mengerutkan kening,
"He? Yang ini di..."
Aku mengangguk riang, "Ya, rumah sakit. Kau duduk saja di ruang resepsionis dan katakan pada perawat yang berjaga di sana kalau kau mencari dia."
"Yang namanya ada di kertas ini?" Gamakisuke kembali bertanya memastikan. Aku mengangguk mantap.
"YOSH! Sokattebayo!" Seruku. Gamakisuke terkekeh, lalu mengangkat jempolnya lagi padaku.
"Ok, surat siap diantar. Jaa Naruto-Kun!"
Aku menanggapi jempolnya dengan ibu jariku.
"Jaa, Gamakisuke-San!"
BOFF!
Suara itu mengiringi asap yang melenyapkan Gamakisuke dari pandangan. Tinggal tugasku kini menghadapi pertanyaan menyelidik penuh curiga yang akan datang dari mereka bertiga, pasti.
"Hei, Naruto! Aku tahu ini tak penting, tapi mungkinkah untukmu sekedar menjelaskan pada kami apa tujuanmu melakukan itu tadi?" Shikamaru menyergah lantas, asap rokoknya terhembus –entah sejak kapan dia menyalakannya- . Aku berdiri lalu mengadap mereka, namun sungguh di luar dugaanku. Sai sudah menepuk bahu Shikamaru keras-keras.
"Hahaha! Kau ini bagaimana! Masa kau tidak tahu kejadian seminggu lalu saat Naruto pulang misi bersama Neji, Tenten dan Shino? Hahaha!"
Shikamaru mengerutkan kening, berpandangan dengan Kiba yang juga memasang pose berpikir, mereka menerawang.
Seminggu lalu...
.
.
TING!
Dan serentak dua orang itu menepuk kepalan tangan kanannya pada telapak kiri yang terbuka. Mulut mereka terbuka membulat, penuh.
"Oooh.. YANG ITU!"
Aku menatap mereka dengan deathglare. Kiba tak acuh pada ekspresiku, dia menidurkan diri di atas Akamaru. Shikamaru kian sibuk dengan rokoknya.
"Hei, kau ini sebegitu khawatirnya. Sebegitu sulitkah jadi jounin tertampan di Konoha no Sato?" Kiba kian mendelik tajam ke arahnya.
"Urusshai! Aku hanya sudah bosan tertimpa tinju Sakura-Chan hanya gara-gara dikerumuni gadis-gadis desa, apakah salah?" Aku membela diri. Shikamaru berkomentar,
"Ck, sudah kuduga. Wanita itu merepotkan, mendokusai!"
Aku berpaling padanya lalu kusikut pelan badannya.
"Ck, dusta kau! Semua tahu kau juga diperebutkan Temari dan Ino Khan? Cepatlah ambil salah satu, kalau tidak kau dibilang Yaoi lo! Hahaha!" Aku tertawa terbahak-bahak. Shikamaru Sweatdrop,
"M-Maksudmu apa...hei-!"
Aku tak memperdulikan tanggapan Shikmaru kemudian, langsung berpaling pada Kiba. "Kau juga Kiba, cepatlah ambil Hinata sebelum dia disikat orang lain... Hihihihi..."
"Hei, Kisama..."
Kiba hanya mengumpat, namun aku tahu dirinya pasti juga memikirkan hal itu. Shikamaru sih tak usah dikhawatirkan, dia pasti dapat. Tapi kalau Kiba sih itu dia yang kukhawatirkan. Kau tahu, kabur dari Hinata bukanlah hal mudah.
Kiba mengangkat tangannya lalu mengibas,
"Kau ini menaruhku dalam kubangan lumpur gula. Tahu sendiri dia cinta mati padamu, mana mungkin segampang itu membuatnya bertekuk lutut," Sergahnya kian. Dia membenarkan posisi baringnya jadi duduk. Lalu menatapku serius,
"Sudahlah, tak usah bicarakan hal itu lagi. Toh aku muak mendengarnya. Sekarang tolong jelaskan pada kami apa hubungan katak tadi dengan 20 detik yang kau bilang barusan!"
"Heihei... santailah... Aku khan belum bergerak sedikitpun. Iya-iya, maafkan aku." Kutaruh kedua tanganku di depan dada, membela diri. Aku mengeluarkan sebuah gulungan dari saku belakang, membukanya di depan mereka.
"Kore, Tolong tuliskan nama kalian di atas gulungan ini. Sai, pinjam kuasmu sebentar, ya."
Pemuda emo ini mengerutkan kening, namun tak berani protes.
"Hai."
Untunglah, Kiba dan Shikamaru pun tak banyak bicara. Sai menorehkan namanya terakhir di barisan paling samping, lalu mengembalikan gulungan itu padaku.
"YOSH! Tunggu sebentar di sini ya!"
"Hoi, m-matte, Naruto!"
SET!
Aku tak mendengar lagi suara mereka karena aku telah lenyap, berjongkok merapal tangan dengan segel sebelum meninggalkan gerutuan Kiba.
"Cih, orang itu...
Shikamaru, kau punya ide apa tentang ini?"
Shikamaru tak menjawab, ia malah melirik Sai dengan tatapan mengharapkan jawaban. Sai tersenyum simpul lalu berkata,
"Yaa...Mungkin dia akan menggunakan gyakku kuchiyo-!"
BOOF!
"...se..."
Sebuah bunyi asap menjawab pertanyaan Kiba. Di depan mereka kini tak lagi kawasan hutan, namun meja Hokage.
Dan Godaime Hokage sedang duduk manis dengan Shizune-San yang berdiri di sampingnya.
Aku?
Jelas, aku sedang duduk setengah jongkok dengan sebelah telapak tangan di atas lantai. Beberapa saat aku terdiam lalu berdiri tegak.
"Itadaima , Baa-Chan!" Lalu terkekeh meringkik. Shizune-San menahan tawanya dengan tangan di depan mulut, Baa-Chan melirikku. Dia menghela nafas lalu berkata,
"Misi selesai, kalian boleh istirahat...
...Dan Kau Naruto, aku harap kau tetap di sini."
Aku mengangkat alis. Mata shappire yang memancarkan rasa riang barusan lantas berubah tajam.
"Wakattatebayo..."
~~~~4LP~~~
END of Naruto POV
NORMAL POV
Di rumah sakit Konoha...
Seorang kunoichi berambut warna bak gulali kapas dengan map berisi data-data pasien terampit di ketiaknya membaca sebentar kalimat-kalimat yang tertera di secarik kertas kecil. Sesaat berlanjut, mata emeraldnya membulat tajam lalu beredar pada katak mungil yang duduk santai di depannya.
"Doishta, Sakura-San?"
Sebuah suara memanggilnya, namun terlambat sudah. Si pemilik nama itu sudah keburu pergi, lari.
"S-Sakura-San!"
~~~~4LP~~~
"Oh-eh, t-tunggu Godaime Sama... T-Tapi kami...bukankah..." Kiba gelagapan. Percaya atau tidak, dia ingin mendengar kata-kata Tsunade barusan. Sai santai saja karena dia sudah biasa dengan keadaan seperti ini. Tsunade menguap malas.
"Dasar bodoh, kalau kubilang misi selesai ya selesai. Kurang apa lagi? Tak ada khan?"
Ditanya seperti itu, Kiba hanya bisa diam. Tsunade mengibaskan tangannya,
"Ya, silahkan kalian pergi meninggalkan ruangan. Dan kau, Naruto. Tetap di sini."
Shikamaru pergi mengiringi Kiba yang berjalan keluar dengan Akamaru. Sai menepuk bahu Naruto dari belakang, lalu berjalan meninggalkannya.
Suara pintu tertutup membuat suasana hening, lalu kian pecah dengan suara manis Tsunade.
"Jadi...
...Bagaimana?"
Naruto mengangkat kepalanya,
"Ya aku sudah menyempurnakannya. Seperti yang kau lihat sendiri." Gumamnya. Naruto mengeluarkan Hiraishin Kunai-nya. Memamerkannya pada Tsunade,
"Tapi mungkin untuk tahap-tahap perapalan segel dengan tangan aku masih butuh sedikit polesan. Jumlah pasukan musuh ada nyaris tepat 1000. Aku sempat menghitungnya karena sempat kugabungkan dengan tajuu kage bunshin. Masalahnya sih, kaki kanan dan tangan kiriku sempat terkilir. untungnya tidak parah." Sergahnya lagi. Shizune tercengang,
S-Seribu kugutsu...? Naruto...?
...Sendiri?
"Lalu bagaimana dengan Goile?"
"Yah, dia cukup kuat, paling tidak dia tidak sekuat Raikage yang bahkan dengan rasenshuriken kulitnya tak tembus sama sekali. Sebuah Rasengan cukup untuk menghabisinya. Begitu saja...
...Namun aku sangat berterima kasih, Baa-Chan. Karena dengan misi ini, aku bisa mengetahui sampai mana batasku!" Naruto tersenyum senang.
"Arigatou, Baa-Chan!"
Tsunade tersenyum mendengarkan penjelasan Naruto, dia membuka matanya lalu bergumam,
"Yah, kau mungkin sudah bisa menggunakannya, tapi tetap saja kalau belum sempurna ya belum. Tidak bisa dibilang sudah, setelah ini kau istirahatlah. Dan secepatnya kembali berlatih guna menyempurnakannya jurusmu itu."
Naruto terkekeh.
"Hihihi.... Baa-Chan tenang saja. Tiga bulan itu waktu yang bahkan lebih cukup dari sekedar menyempurnakan jurus." Dia mengangkat jempolnya ke atas. "Believe it!"
Tukasan terakhir senada sok berbahasa inggris ini membuat Tsunade menghela nafas lagi, kali ini malas. Kembali ditatapnya shappire penuh rasa damai ini dengan deathglare.
"Huh, ingat itu baik-baik,
Hanya tiga bulan. Tak lebih!"
"Iya-iya Baa-Chan tenang saja." Naruto berbalik badan. Berniat berjalan sebelum melirik tipis Tsunade dengan ekor matanya,
"Aku akan mendapatkan jurus yang lebih dahsyat dari ini, bahkan hanya dalam waktu tiga bulan. Baa-Chan silahkan duduk dan lihat aku saja..
...Dan aku berharap Baa-Chan tidak mengingkari hasil perkumpulan para petinggi yang sudah diputuskan sebulan lalu, Godaime Hokage."
Naruto berjalan meninggalkan mereka berdua, baru akan menyentuh gagang saat tiba-tiba pintu kantor Hokage terbuka dengan keras,
BRAK!
Dan Shizune menelan ludah, Tsunade melengos.
Seorang gadis setinggi 165 senti berumur 20 tahun yang baru saja melakukannya. Menarik, bahwa hanya dengan perbuatannya barusan, sudah cukup membuat Hidung Naruto nyaris terasa patah.
Namun sang gadis tanpa sadar celingukan, hanya menatap sosok guru besar dan seniornya yang ada di dalam.
"Hoi, doishta, Sakura? Kau ini memang tak cukup sekali diberitahu ya soal masuk kantor dengan istilah ketuk pintu?"
"Ah, eh, S-Shishou. Maafkan aku , maksudku- aku minta- eh- bukan- Naruto- aku– dia-bukan-rindu-iya- Aku-...!"
Kalimat tak jelas karena gugup, gerakan badan menjadi aneh karena canggung, ekspresi kian seribu kata terhenti dengan telunjuk Tsunade yang mengarah ke arah dinding di balik pintu, membuatnya berputar 160 derajat dari tempat dia berdiri.
Disana?
Naruto sedang terduduk, darah segar mengucur dari hidungnya. Ia mimisan dengan rasa nyeri menyakitkan menjalar dari wajah ke seluruh tubuh. Kedua tangannya di taruh di depan wajahnya tepat dimana darah mengalir. Dia mengaduh,
"Aduh...
A-Aduh... Aduduh..."
SIIING...
.
.
.
.
.
.
.
.
Selang lima detik, dan-
"AAAAAAA! NARUTO- DAIJOB- EH-AH GOMEN- AH- AKU- MAAF- EH- AH!" Sakura tak tahu lagi mau mengatakan apa, dia memegang kepalanya sebentar dengan kedua tangan dan raut wajah cemas. Lalu berpaling pada Tsunade, yang dilirik hanya meneguk gelas tehnya lagi.
"A, S-Shisou! Maaf, aku-kami pamit dulu!"
Dan tak sampai terhitung waktu lama sebelum Tsunade sukses menaruh gelasnya kembali di atas meja. Shizune menahan laju keringatnya lagi sebelum bergumam,
"Apa tak apa membiarkan mereka seperti itu, Tsunade-Sama?"
Tsunade bangkit dari duduknya memandang langit yang masih cerah dengan corak biru lembut menutupinya, lalu tersenyum simpul.
"Tak apa,
...Toh, aku yakin mereka tak akan pernah berpisah, selamanya."
~~~~4LP~~~
Sakura menyelesaikan usapan obat pada hidung Naruto, tangannya berniat untuk menempelkan perban sebelum tangan Naruto menghentikannya. Sudah menjelang siang hingga tak ada yang berkunjung ke kantor Hokage, dan Sakura beruntung. Tak ada Jounin maupun ANBU yang melihatnya mengobati hidung Naruto hasil perbuatannya ini.
"Sudah, cukup. Tak usah diperban begitu, nanti wajahku jadi jelek lagi. " Katanya. Sakura menmbulatkan mulutnya manja. Naruto tertawa saja, telunjuknya memastikan tulang hidungnya utuh. Sakura hanya bisa manyun menyesali perbuatannya. Hei, siapa suruh kau main dobrak pintu itu Sakura?
"Naruto..."
Pada akhirnya pun Sakura tak bisa menahan dirinya lagi, mulutnya bergerak memanggil nama kekasihnya itu. Naruto berpaling, telunjuknya masih memegangi ujung hidungnya.
"...Itu...Sakit sekali ya...
...Aku-..."
"Ck! Sudahlah! Kubilang cukup ya cukup. Kurasa aku tak usah mengulanginya lagi, bukankah begitu?" Tukas Naruto, Tangannya mengibas lalu berdiri.
Dan sekejap kemudian dia terduduk lagi. Naruto mengaduh,
"A-Aduuh...
Aduduh..."
Sakura menggenggam erat sapu tangannya, "Tuh, khan. Masih sakit. Biarkan kuperban, ya?"
Kali ini Naruto tak berani membantah. Sial, batinnya. Sarapan tadi pagi saja belum benar malah sudah dapat bogem mentah. Benar-benar sial.
Benarkah?
Benarkah Naruto menyesali tabrakan maut ini karenaterjadi setelah kepulangannya dari misi setelah hanya menyantap onigiri saja pagi tagi?
Benarkan Naruto melarang Sakura membalut hidungnya karena takut wajahnya jelek?
Tidak juga, karena sesungguhnya yang membuat Naruto enggan untuk melakukannya karena wajah Sakura jadi amat keruh dipandang, membuat Naruto semakin tak enak hati.
Jelas, Sakura amat menyesal. Sekali lagi amat menyesal, hanya karena kalimat yang bertuliskan, "Sakura-Chan, aku sudah pulang dari misi. Kita ketemu di kantor Hokage ya?". Dia meninggalkan kantor rumah sakit masih dengan map data pasien di ketiaknya, jas putih yang belum dilepas, dan yang paling parah, ia nyaris meremukkan hidung kekasihnya.
SREET! SREET!
"Naah, sudah selesai." Tukasnya riang. Ada sedikit kegembiraan di sana. Karena paling tidak, rasa bersalahnya sudah sedikit terobati. Naruto menyentuh ujung hidungnya lagi.
Hei, entah kenapa Naruto merasa jauh lebih baik.
"Naruto," Panggil Sakura. Sang pemilik Shappire berpaling, dan entah angin apa yang bertiup, membuat pandangan mereka kian menyatu, hangat.
Dan kehangatan itu membuat Naruto memberanikan dirinya untuk tersenyum manis, lalu menawarkan tangan pada Sakura.
Tanpa menghiraukan panggilan yang belum dijawab pun,Sakura tersenyum hangat pula mengiringi telapaknya yang mendarat di atas tangan Naruto. Naruto mengajak Sakura bangkit berdiri seraya mendekatkan wajah mereka berdua. Sakura mengikuti, wajahnya mengikuti arah gerak kepala Naruto.
Dan bibirnya merasakan kecupan manis disana. Naruto melumat lembut bibir Sakura yang merona. Sakura diam, membiarkan keduanya mampu menghayati hangat cinta dan lembut hati pasangannya. Semenit berlalu, Naruto menarik perlahan bibirnya dari Sakura. Menempelkan dahinya yang masih tertutup Itai ate pada dahi lebar Sakura perlahan.
Mereka berdua cekikikan bareng. Naruto mengamit tangan Sakura, mengajaknya beranjak. Mereka berjalan mengitari gang Kantor Hokage. Sedetik kemudian Sakura tersadar, dia menghentikan langkah. Membuat Naruto menatapnya heran.
"Doishta, Sakura-Chan?"
Sakura celingukan kanan kiri, lalu berakhir pada genggaman tangan mereka. Naruto mengerutkan kening.
"Eh, Naruto. Masa kita berjalan dengan bergandengan tangan seperti ini?"
Naruto menoleh, memasang pose seakan berpikir, lalu menjawab riang.
"Hei, tentu tidak. Kau ingin sesuatu yang berbeda, khan? "
"Sesuatu yang beda..."
Sakura belum menyadari jawaban itu saat Naruto sudah memindahkan telapak tangan ke belakang punggungnya, seirama dengan tangan sebelah kiri yang mengangkat kedua betisnya ke atas, membuat Sakura terbaring di atas sepasang lengan kekar Naruto. Sakura menjerit.
"KYAAA-! Baka! Omae-!"
SEET!
Dan Sakura tak mampu kian menyelesaikan kalimatnya. Di hadapan matanya tak lagi ada dinding gang kantor Hokage. Malah sebaliknya, Sakura melihat Kantor Shisou-nya itu ada sekian ratus meter di bawahnya.
Karena mereka kini ada di atas tebing Hokage, tepat di atas pahatan Yondaime.Sakura masih merasa terhipnotis sampai Naruto mengendurkan kekuatan otot tangannya, membiarkan Sakura turun dan berdiri di sampingnya.
Dan seperti sudah diduga, Naruto cengengesan melihat Sakura yang kian kikuk.
"Hihihi... Ada apa? Kau kaget, ya?"
Sakura menoleh pada shappire yang memanggilnya. Dia melangkah sekali ke depan Naruto, membela diri,
"Ah, T-Tidak. Aku tidak kaget kok, hanya..."
Sakura menyisakan akhir kalimatnya dengan nada panjang, membuat Naruto semakin semangat untuk iseng. Naruto merangkul Sakura dari belakang, menggelayutkan dirinya hingga memaksa kepala Sakura untuk bersandar di dadanya.
"...Hanya... apaa...?"
"...Hanya...
...Kagum...mungkin?"
Dan pasti, Naruto merasakan dirinya blushing mendengar pujian semacam itu. Sakura teringkih, menggeliat melepaskan diri dari rangkulan Naruto sedetik berikutnya. Membuat putra Namikaze ini cemberut.
"Hei, kita sudah hampir seminggu tak bertemu. Kau tak rindu, Ne?"
"Rindu? Tidak juga, haruskah?" Sakura menaruh telunjuknya di depan bibir. Naruto jengah, lalu menaruh tangan di atas dagu, bertumpu pada pagar.
"Ck, terserah apa kata orang. Tapi tetap saja kau harus rindu." Sergahnya. Sakura tertawa, lalu balas merangkul Naruto yang mulai cemberut.
"Hei, hei. Aku bercanda kok. Sejak kapan aku akan berpaling darimu, Kiroi Senko?"
Naruto tak menjawab, ia hanya tersenyum ringan mendengarnya. Raut kesalnya hilang saat Sakura memutar bola matanya,
"Eeng... jadi..."
"Ya?"
"Boleh kutahu jurus apa tadi?" Sakura bertanya. Naruto berbalik badan, membiarkan Sakura menjauh selangkah darinya sebelum mengeluarkan hiraishin kunai.
"Kore ga Hiraishin kunai de arimasu. " Dia mengendikkan bahu, "Senjata baru."
"Ho." Tanggap Sakura pendek. "Jadi dengan senjata itu kita berpindah tempat barusan?"
Naruto menggeleng, "Tidak. Lebih tepatnya karena ini." Naruto menunjuk pada tulisan mantra khusus di gagang kunainya. "Aku memasang mantra ghaib itu tepat di sana, dan aku bisa berpindah tempat ke manapun aku mau selama ada lambang ini tertempel di tempat itu."
Sakura berpaling pada arah yang di isyaratkan. Mereka berdua mendekati pagar, dan dengan jelas Sakura bisa melihat lambang segel disana.
"Wow." Sakura membulatkan kedua matanya, "Sugoi... Lalu bagaimana kau menempelkan mantra itu?"
"Oh , aku membuatnya dengan aliran chakraku. Lihat,"
Naruto mengonsentrasikan chakra di telapaknya hingga muncul sebuah lambang, lalu menghilangkannya sekali tiup. Naruto membiarkan Sakura menatapnya, lalu menggumamkan kalimat yang membuat Sakura mengangkat alis.
"Ini jurus warisan ayah."
"Eh? Bagaimana bisa?"
"Mudah saja. Ada arsip khusus di ruangan rahasia mendiang Sandaime, aku pinjam saja pada Baa-Chan."
Sakura membulatkan mulutnya. Naruto tersenyum, dia melempar shappire-nya menyusuri kotak-kotak kecil di bawah kaki mereka. Hari sudah semakin siang dan penduduk Konoha juga serasa sibuk. Naruto memicing, melihat Ayame berlari-lari dengan plastik sayur. Ingat perutnya belum menyantap kalori dengan benar, terbayang di otaknya semangkuk Ramen Ichiraku. Naruto tersenyum tipis, lalu berpaling pada Sakura. Menatapnya beberapa detik sebelum menyadari bidadarinya ini memerah mukanya.
"H-Hei, Daijobu, Naruto?"
"Tak apa. " Sekian kalinya Naruto tertawa lagi, "Aku hanya ingin mengatakan kau terlalu cantik sekali dengan seragam rumah sakit itu. Nanti aku kerepotan lagi menjagamu."
Sakura blushing. Dia mendekati Naruto, mengecup pipi Naruto lalu merangkulnya manja.
"Ah, kau ini cemburuan, ya?"
"Ck! Sudah kubilang, khan? Aku benci melihat pemuda-pemuda brengsek yang memandangmu seperti anjing liar begitu. Kalau sudah lupa martabat jouninku ini mungkin kau sudah tahu apa yang akan terjadi. Rasenganku lapar."
"Hihihi... Kau ini! Kau pikir aku juga senang melihatmu? Jangan salahkan aku meninjumu terakhir kali itu."
" Makanya aku datang tak lewat gerbang desa." Naruto mengedipkan matanya sekali, "Kau lihat sendiri, khan. Bagaimana jurusku tadi?"
"Ya, kau hebat." Tandas Sakura."Sungguh mengagumkan."
Mereka berdua terdiam sekian detik. Naruto memberanikan untuk menarik pinggang Sakura merapat pada tubuhnya. Sakura menanggapi dengan menempelkan kepalanya pada bahu Naruto, membiarkan detak jantung mereka kini yang berkata-kata. Naruto menarik nafasnya sekali,
"Hei, aku membawamu ke sini karena ingin mengatakan sesuatu, Ne." Tangannya membelai pelan rambut Sakura.
"Apa?"
"Sepertinya sudah waktunya..."
"Apa-?"
Naruto melepaskan diri dari Sakura mendadak, membuatnya kaget. Dia lantas membungkukkan badannya hingga tiba dalam posisi setengah jongkok bertumpu pada lutut. Tangan kanannya entah sejak kapan sudah menawarkan sebuah kotak merah beludru pada Sakura, membuat bidadari emerald itu sontak menutup mulut dengan tangannya.
CKLEK!
Dan dalam sekali hentakan, sebuah cincin bermata delima merah menyala terlihat di mata Sakura. Naruto masih membungkuk, saat Sakura gelagapan,
"N-Naruto, kau tidak- Ah, Maksudku bukan- tapi-!"
"Bersediakah kau menemaniku...?"
Panggilan dari sosok yang mendongak tepat di depan kakinya ini membuat Sakura membatu.
"Haruno Sakura..."
Sungguh Sakura ingin mendengarnya lagi...
"Bersediakah kau hidup bersamaku, mengarungi bahtera kehidupan, berbagi suka dan duka, menghirup udara bumi dan sepinya akhirat, sehidup semati, merubah marga menjadi seorang Namikaze, tinggal dalam rumah kecil sederhana seorang Uzumaki Naruto...?"
Sungguh Sakura tak ingin mendengar kalimat itu berhenti...
"...Menjadi ibu dari anak-anakku..."
Tolong ulangi sekali lagi...
"Bersediakah kau menikah denganku...
...Haruno Sakura...?"
Belum ada kalimat lagi yang terucap saat bunga musim semi ini tersenyum lembut , segera merangkul hangat Naruto dalam isak tangis yang mengiringi eratnya pelukan mereka berdua.
"Aku bersedia..."
11 April
Konoha no Sato
~~~~4LP~~~
Naruto tanpa sadar tersenyum sendiri, dalam tarian pedangnya ia menyabetkan sekali mantap.
TRAANG!
Dan seketika itu pula Ichigo merasakan beban yang ditahan pedangnya seakan bertambah. Ia sedetik mengerutkan kening, lalu tersenyum remeh. Senyuman itu membuat Naruto kian waspada,
Ichigo menarik laju pedangnya, membiarkan jarak antara dirinya dan Naruto bertambah. Naruto belum berniat mengejar saat terdengar suara,
"Hado no. 4 ...
...Byakurai!"*
Ck!
Naruto merasakan adanya aliran chakra bergerak dengan cepatnya dari arah belakang kanan, memaksanya menghindar tepat saat aliran biru bergemericik bak listrik menyetrum segaris lurus. Dia belum sempat bernafas saat aliran listrik itu tiba-tiba berganda dalam sebuah serangan beruntun, membuatnya menghindar beberapa kali sebelum melompat ke sembarang arah.
Berjarak 50 meter dari tempatnya semula, Disana Ichigo sedang berdiri. Lengah.
Dan sosok Shinigami Daiko ini menyempatkan diri untuk mendengarkan hembusan angin berbau tajamnya pedang seirama dengan detak jantungnya yang berderum keras, sebelum sebuah suara lain datang mengusik gendang telinganya.
Suara dentingan pedang.
Ichigo selamat. Kyoraku berdiri tepat di belakangnya. Dua goloknya menahan laju pedang angin Naruto.
"K-Kyoraku-San...?"
"Daijoka, Ichigo-Kun?"
Dan Sang Shinigami Daiko mengangguk, membiarkan Kyoraku sibuk dengan Naruto sekarang. Ichigo melompat menghindari mereka saat Kyoraku melonggarkan gagang zanpakutou-nya sebelah kanan, membulatkan kedua mata Naruto dengan sebuah telapak tangan yang terbuka tepat di depan dadanya.
"Hadō no. 32...
... Ōkasen!"*
CIH!
Naruto menghindari serangan laser kuning terang langsung menyorot ke arahnya. Dia menghindar, sekali lagi tanpa terlihat.
Naruto menapak di lahan kosong berjarak 50 meter dari mereka. Ichigo, Byakuya dan Kyoraku berdiri dalam sebuah formasi. Naruto dalam hatinya bernafas lega.
Sepertinya mereka belum bisa membaca lingkungan sekitar. Aku beruntung,
paling tidak strategiku berhasil.
Wilayah ini masih tertutup seribu kunai. Dan pastinya wilayah teritorial ini akan menjadi wilayah mematikan bagi siapapun yang bertemu dengan generasi kedua, Konoha no Kiroi Senko.
Sosok yang mampu mencabut 1000 nyawa dalam satu menit. Sendirian.
Namun Tuhan berkehendak lain. Raga sanninnya menangkap keganjalan dalam aliran chakra kawan-kawannya, dan spontan pemandangan yang mengganggu konsentrasinya pun terlihat di depan matanya.
Naruto melihat kobaran api mengerangkeng aliansi shinobi Konoha. Matanya buram karena terbagi dengan musuh berjarak 5 senti di depannya dan tersilaukan dengan panas api yang sungguh terasa. Katsuyu menggeliat di bahunya,
"Naruto-Kun, Kakashi-San dan yang lainnnya-!"
"Ya, aku tahu!" Tukas Naruto ketus, "Masuk kedalam, Katsuyu!"
"Wakarimasta!"
Naruto menggertakkan giginya, Katsuyu baru masuk sempurna ke dalam kantong jubah baju Naruto saat dia memaki.
"Ck, licik! Kalian apakan teman-temanku, Shinigami!"
Tak ada jawaban, Naruto mendecih. Sedetik ia lengah.
Hanya sedetik.
Benar-benar hanya sedetik.
Namun ternyata sedetik itu berakibat fatal. Naruto belum sempat bernafas usai mengucap tatkala pedang sepanjang 65 meter terjun ke atas kepalanya, membuatnya menghindar cepat ke arah ikatan rantai teranyam dengan chakra kuning, membantingnya keras ke atas tanah. Naruto mengerang pada sosok berambut putih panjang yang menarik rantai itu untuk yang kedua kali, membuatnya melayang sesaat ke udara. Ukitake merapal kembali rentetan serangan berikutnya,
"Bakudo no. 61...
... Rikujōkōrō!"*
Dan sekali lagi Naruto merasakan kalut karena goyangnya aliran chakra rekan-rekannya. Dia tak sempat menghindar saat 6 buah pilar kuning mengikatnya dari sekian arah yang berbeda-beda. Naruto kaku.
YOSH! Berhasil!
Ukitake mengerling senyum dalam hati. Byakuya dan Kyoraku sudah melompat ke dua arah, Naruto tak bergeming, hanya ekor matanya yang berontak.
Terikat.
3 penjuru.
"Hadō no. 63...
....Raikōhō!"*
"Hadō no. 88...
...Hiryugekizokushintenraiho!"*
Aliran energi menyerupai halilintar berwarna kuning menghantam dari atas kiri, bersamaan dengan meriam energi kebiruan yang melesat dahsyat dari belakang kanan punggung Naruto.
Sedangkan Ichigo?
Dia menarik kekuatan Yin ke wajahnya hingga membentuk topeng bercorak putih kekuningan hingga memanggil sosok lain dalam dirinya, memberikan kekuatan lebih sebelum melesakkan kekuatan tebasan yang membelalakkan mata sannin Naruto.
"GETSUGA TENSHOU!"
.
.
.
BLAAARR!
~~~TBC~~~
VOCAB:
Jōkaku Enjō : Benteng Api
Byakurai : Petir Putih
Ōkasen :Cahaya Api Kuning
Rikujōkōrō :6 Balok Penjara Cahaya
Raikōhō : Raungan Petir Menghanguskan
Hiryugekizokushintenraiho :Meriam- Getaran Petir, Pendobrak Langit, Naga Terbang.
AAAAAARRRRGHHH! LAMBAT LAGI!
Ah, emang rada banyak alasan. Fuuh, sekali lagi, gomen-gomen... Ane harap reader dan senpai semua sudi memaafkan diriku yang khilaf ini. XDXD.
Aah... seminggu ngetik, Hyourogan sih lumayan masih ada, tapi...
Minta lagi, ya (^_^) hehe...
Langsung PAKET TIKI Dipencet (^0^)...
V
V
V
V
V
