"Apa kau berniat meninggalkanku?"
"Ahh Kai. Bukan begitu..."
"Kalau bukan begitu. Artinya kau ingin aku menyentuhmu lagi?"
Ya tuan muda! Ini pukul tiga dini hari dan kau kembali menyetubuhi Kyungsoo. Hanya berjarak satu jam setelah kegiatan malam kalian sebelumnya. Tidakkah dia sadar wajah Kyungsoo mulai pucat.
Lady Rose
(9th Chapter)
Present by RoséBear
Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Warning! Cerita ini ditujukan untuk dewasa. No Children -21. SMUT.
Responsible. GS. Chaptered.
Di pagi hari, Kai yang pertama terbangun. Pria tan bangkit, ia duduk membuat selimut putih yang kusut itu jatuh hingga ke pinggang. Ia memandang ke arah Kyungsoo yang masih terlelap seperti bayi mencari kehangatan. Pria itu merenggangkan tubuhnya. Dia menikmati kegiatan malam mereka, -very excited.
Beberapa kali dalam hitungan hari pandangan Kai terkadang menerawang ke belakang, tepat pada hari-hari yang telah dia lalui bersama Kyungsoo. Lelaki itu tersenyum, sangat tampan untuk ukuran seorang anak manusia. Jemarinya menyentuh punggung Kyungsoo yang membelakangi dirinya. Membuat sentakan pelan namun tidak membangunkan wanita itu. Kai menunduk, mengecup punggung belakang Kyungsoo cukup lama.
"Tidak pernah aku menginginkan seseorang seperti aku menginginkanmu."
Sebuah bisikan lembut yang membuat bibirnya menggetarkan tubuh polos Kyungsoo. Ia menarik selimut, membawa wanita itu kembali dalam bungkusan kain tebal nan hangat sebelum kemudian dia beranjak dari ranjang.
Hanya setengah jam saja Kai telah siap dengan pakaian yang rapi. Setelan kemeja putih dan juga celana dasar.
"Kau sudah bangun?" Kai menyadari pergerakan Kyungsoo. Wanita itu pasti merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Kai bisa pastikan itu saat Kyungsoo kesulitan untuk bangkit. Jadi ia mendekat dan membantu Kyungsoo duduk.
Walau setengah mengantuk, jemari Kyungsoo sudah terlatih. Ia meraih dasi Kai yang telah terlampir di kerah kemejanya. Sangat telaten membentuk ikatan dasi sementara pria itu hanya memperhatikan wajah Kyungsoo. Bagaimana rona merah alami muncul dengan tidak sopannya hingga ke pangkal hidung Kyungsoo. Bibir hati itu tidak tertutup sepenuhnya, sementara kedua tangannya bekerja dengan sangat baik pada ikatan dasi.
Kai sungguh kesulitan untuk menahan diri. Ia segera mencium Kyungsoo. Sebuah ciuman lembut ketika kedua tangannya berusaha menahan tubuh Kyungsoo agar tidak terjatuh ke ranjang namun tindakan Kai yang terlalu mendorong Kyungsoo perlahan membawa tubuh wanita itu kembali terbaring. Ia juga mulai merasakan tangan Kyungsoo yang tadi memegang kedua dasinya berubah menjadi genggaman kuat seolah dia berusaha bertahan agar tidak terperosok ke dalam lubang dalam.
Kai menghentikan ciumannya, menahan tubuh dengan kedua siku sementara tangannya merapikan helaian rambut Kyungsoo.
Lelaki itu kembali tersenyum, mengecup hidung perempuannya dan membawa bibir ke telinga Kyungsoo.
"Aku akan segera kembali," bisiknya parau. Ia bangkit serta membawa tubuh Kyungsoo agar kembali terduduk di ranjang.
"Kai!" panggil Kyungsoo menahan tangan pria itu membuat Kai menaikkan alisnya karena sedikit bingung dengan panggilan Kyungsoo.
"Bisakah kita bicara saat kau pulang?"
Kai memejamkan matanya. Kyungsoo yang sedang memohon seperti ini melunakkan hatinya. Kenapa dia begitu tega akan memaksakan kehendak pada wanita sepolos dan sebaik Kyungsoo. Apa dia akan diterima karena kekuasaan Kai? Ahh panti asuhan itu. Kyungsoo mengigit bibir bawahnya ragu sebelum dia berkata, "aku akan menunggumu pulang."
Sekali lagi dia tersenyum karena Kyungsoo, "Sebaiknya begitu. Jenny akan mengurusmu segera."
~ RoséBear~
To make a wish come true, you need to have a dream.
Ketika dia mendapat sebuah pengaruh yang menakjubkan dengan kehadiran Kyungsoo tepat di sebelahnya, maka Kai termasuk golongan lelaki yang sangat beruntung. Tapi tidak hanya itu, pada dasarnya dia juga telah menjaga Kyungsoo dengan sangat baik.
Mengenai pekerjaannya, ketika pria itu tiba di kantor yang mana dia mendapati ruang kerjanya rapi namun di atas meja tersusun tumpukan dokumen yang harus dia periksa serta sebuah masalah yang membuatnya menghembuskan napas kasar. Ia telah mendapatkan ruang kerja yang nyaman dimana penataan furniture tepat pada posisi mereka masing-masing dengan semua kegunaannya.
Lelaki itu baru saja mulai membuka berkas pertama ketika pintu ruangan terbuka kemudian seorang wanita cantik masuk. Tatapan Kai menajam mengamati siapa yang telah duduk di depan meja kerjanya. Wanita cantik nan anggun namun tak terlalu bersahabat.
"Oh come on Baekhyun. Ada apa kau kemari sepagi ini?"
Itu sepupu jauhnya. Seorang dokter kejiwaan yang menurut Kai harus mengikuti kelas terapi seorang Psikolog. Sepertinya Baekhyun punya masalah kejiwaan sendiri.
"Berhentilah menatapku seperti itu. Kau sedang meledekku? Kenapa kau memanggilku kemari?" Kaki kanan bertumpu pada kaki kiri dan dengan gerakan yang anggun wanita itu tak melepaskan tatapan kesalnya pada Kai.
"Aku hanya ingin meminta tolong padamu Noona."
Dia telah berusaha bersikap sangat lembut pada saudara jauhnya ini.
"Apalagi? Bukankah kau sudah mendapatkan Chanyeol. Aku sudah memberikannya padamu." Kai sadar itu, Baekhyun pasti sangat marah saat ini. Tapi tidak akan berlangsung lama. Ia juga tahu betapa Baekhyun menyayanginya. Dia adalah saudara jauh yang butuh perhatian seorang kakak.
Sedetik lelaki itu tertawa. Inilah masalah yang dia temukan pagi ini, Chanyeol masuk ke ruang kerja Kai. Mengamuk dan berkata memilih berhenti. Saat Kai bertanya kenapa ternyata karena Baekhyun mengusirnya semalam. Sebuah pertengkaran suami istri akibat tekanan pekerjaan.
"Mengertilah Baek. Sejenak saja, proyek ini hampir berjalan baik."
Krak
Suara deritan kursi karena tiba-tiba Baekhyun berdiri membuat kursi yang ia duduki terpundur ke belakang. Telunjuk wanita itu mengarah pada wajah Kai membuat pria itu terkejut dan sedikit mundur. "Kau.. Berkata demikian karena masih bisa menikmati istrimu. Tapi brengsek itu? Dia pulang lalu langsung tidur. Dia tidak menyentuhku. Lebih menikmati gulingnya. Aku sedang mengandung anak kami dan aku sangat membutuhkannya saat ini."
Susah payah air ludah Kai melewati tenggorokkannya. Baiklah Park Chanyeol, sebagian salahmu tidak bisa mengatur waktu. Tapi Kai tetap menghela napas. Sebagian juga salahnya mempekerjakan Chanyeol begitu keras.
"Aku janji padamu Baek. Liburan tiga hari tiga malam ke Lyon."
Sejenak Baekhyun melirik Kai. Wanita itu tersenyum miring "Maaf Count. Aku punya jadwal yang padat tiga minggu ini."
"Setelah proyek ini selesai."
"Dua minggu?" Tawar Baekhyun pada Kai.
"Yak! Kau sedang memeras sepupumu sendiri?"
"Kalau begitu katakan pada sekretarismu jangan kembali ke rumah sebelum kau melepaskannya."
Kai terdiam beberapa saat. Dia masih membutuhkan Chanyeol, sebagian besar bantuan Chanyeol begitu berpengaruh. Seisi perusahaan sedang disibukkan oleh proyek ini. Tak mungkin dia kehilangan pria tinggi itu.
"Baiklah Baek!" Pada akhirnya Kai yang mengalah. Setelah proyek ini dia juga akan mencari asisten baru. Tidak mungkin mempekerjakan Chanyeol di posisi ini terus menerus.
"Aku boleh pulang ke rumah?"
Suara itu!? Kai menyipitkan matanya berpikir betapa bodohnya Chanyeol keluar begitu cepat dari tempat persembunyiannya. Tidak bisakah pria tinggi itu menunggu beberapa saat lagi setidaknya sampai Baekhyun keluar dari ruangan.
Pandangan Baekhyun tertuju pada pintu toilet di ruangan Kai. Ia mengerutkan dahi. "Kalian berdua tampak menyebalkan." Desis Baekhyun cukup jelas.
"Baek!"
Chanyeol segera berlari menghampiri Baekhyun. Memeluknya dari belakang. Lelaki itu menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Baekhyun. "Kumohon jangan mengabaikan aku."
Sementara Chanyeol sedang berusaha sendiri. Kai bangkit dari tempat duduknya. "Kalian bisa pakai ruanganku setengah hari ini. Aku harus pergi sekarang."
Hanya sepersekian detik setelah ditutup. Chanyeol membalik tubuh Baekhyun cepat.
Pria itu tampak menyedihkan, dia tidak bercukur padahal harus menemui banyak eksekutif yang bekerjasama dengan perusahaan mereka. Wajahnya ditumbuhi beberapa bentol kemerahan dan benar-benar tak terurus. "Pulanglah lebih awal. Aku akan membantu membersihkanmu." Hanya itu yang bisa Baekhyun janjikan untuk saat ini. Dia menjadi tidak tega saat memperhatikan dengan jelas penampilan Chanyeol, itu membuat runtuh pertahanan keegoisan yang Baekhyun punya.
~ RoséBear~
Sementara di bangunan megah itu, ketika beberapa tanaman berhasil mengakar dengan sangat baik. Di antara tanaman mawar, terdapat satu bunga matahari yang berhasil mendapatkan kenyamanan.
"Kyungsoo, apa kau mengingat bagaimana orangtuamu meninggal?"
"Apa maksudmu?"
Sungguh dia bukanlah mawar liar yang merambat di pagar ataupun tembok rumah. Dia tak memiliki banyak duri di batangnya, tiap kelopaknya tampak bergelung dibagian dalam dan begitu terlindungi. Dia telah berusaha keras agar bisa mekar dengan baik, menunggu badai agar bisa menatap dunia. Sudah seperti itu takdirnya.
"Orang tuaku meninggal karena kecelakaan."
Kyungsoo mengerjapkan mata. Setidaknya itu yang dikatakan detektif Han. Detektif kepolisian yang mengaku sebagai paman Kyungsoo. Pria tua itu juga yang membiayai kehidupan Kyungsoo selanjutnya dan menyarankan Kyungsoo tinggal di panti asuhan milik istri supir keluarganya. Ibu panti telah menerima kehadiran Kyungsoo, cerita yang diberitahukan detektif Han sama persis dengan ibu panti.
"Kau yakin?"
"Untuk apa kau bertanya Sehun?"
Kyungsoo hendak bangkit dari meja makan. Dia merasa muak dengan makan malam bersama Sehun. Ruangan ini begitu terang namun terdengar begitu sunyi. Hanya menyisahkan mereka berdua karena Kai tak kunjung pulang, sementara para pelayan lain sedang menikmati waktu makan malam mereka di ruangan terpisah.
"Aku memiliki beberapa informasi menarik tentang kematian orangtuamu."
Lelaki itu tidak menyerah untuk menarik perhatian Kyungsoo. Entah apa yang telah dia sembunyikan namun Kyungsoo terlihat gelisah. Pada akhirnya ia putuskan mengakhiri percakapan mereka.
"Sehun! Bisakah kita tidak membicarakan kematian orang tuaku saat makan malam?"
Kyungsoo berusaha menghindar. Ini pertama kalinya dia membahas kematian orang tuanya. Apalagi dengan orang asing. Detektif Han dan ibu panti saja tak pernah membahasnya. Kyungsoo diajarkan menerima keadaan, tidak menyakiti diri dan melanjutkan hidupnya. Anak itu telah tumbuh dengan sagat baik, percayalah dia bahkan tidak memahami situasi yang sebenarnya. Sementara sekarang seorang pemuda asing tiba-tiba saja menyusup ke dalam cerita kehidupan lama Kyungsoo dan megusiknya. Itu membuat perasaan wanita ini menjadi tidak tenang.
"Kenapa kau terus membahas keluargaku?"
Sehun hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kyungsoo. Perempuan itu mengakhiri makan malamnya. Ia beranjak dari tempat duduk, jalannya sedikit pincang karena masih merasakan nyeri akibat perbuatan Kai sepanjang malam.
Ahh lelaki itu, kenapa tak kunjung pulang serta tak menghubungi. Tidakkah dia tahu Kyungsoo membutuhkannya saat ini? Sepertinya berlindung di balik Kai adalah sesuatu yang sangat menenangkan untuk Kyungsoo. Hatinya perlahan menjadi begitu hangat setiap kali berada di sebelah Kai. Setiap kali mendengarkan pria tan itu bicara walau intonasinya terkadang melampaui ketenangan namun Kyungsoo merasakan kenyamanan.
"Do Kyungsoo. Sebenarnya malam itu kau melihat kejadian sebenarnya bukan? Orang tuamu dibunuh."
Langkah Kyungsoo berhenti di anak tangga pertama. "Tapi kenapa kau sendiri yang selamat?" Suara Sehun terdengar sambil lalu karena pria itu juga meninggalkan ruang makan. Tidak ada penjelasan lebih lanjut dimana kemudian Kyungsoo hanya memperhatikan punggung Sehun yang menghilang di balik pintu.
~ RoséBear~
Sepanjang malam perkataan Sehun terngiang dipikiran Kyungsoo. Benar saja, kenapa dia selamat? Benarkah orang tuanya meninggal karena kecelakaan tunggal atau dibunuh seperti ucapan Sehun? Kyungsoo tidak pernah membaca pemberitaan tentang keluarganya.
Berkali-kali dia mencoba mengingat tetap saja tidak bisa. Seingat Kyungsoo dia terbangun di ranjang rumah sakit. Ada ibu panti dan juga detektif Han saat itu.
Kyungsoo nekat turun ke bawah. Diluar sedikit gelap, apalagi saat melewati pintu keluar. Lorong yang terhubung dengan bangunan kedua tempat istirahat para pelayan termasuk pemuda Oh, lantainya sedikit licin karena hujan sempat mengguyur beberapa saat lalu. Kyungsoo menuju halaman pribadinya, aroma mawar akibat hujan menguar sedikit pekat. Dia bisa mencium aroma itu. Lalu di dekat sana Kyungsoo duduk di ayunan kayu. Dia bisa melihat beberapa penjaga masih berjaga tapi mereka sepertinya tidak menyadari keberadaan istri tuan besar mereka.
Malam itu ketika pikirannya masih disesakkan oleh perkataan Sehun beberapa jam lalu.
"Apa kau kesulitan tidur Kyungsoo?"
"Se-Sehun?" Kyungsoo terlonjak kaget. Ia menemukan pemuda itu berdiri di belakangnya.
"Tidak perlu berteriak. Kurasa Kai baru kembali, kau bisa membuatnya salah paham nanti."
Sehun Benar, suara mobil terdengar oleh telinga Kyungsoo. Sepertinya Kai telah kembali.
Sehun tidak hanya berdiri di belakang Kyungsoo, jemarinya menyentuh pundak wanita itu membuat ayunan itu mengayun Kyungsoo pelan.
On a Weagon bound the market
There's a calf with a mournful eye
High above him there's a swallow
Winging swiftly through the sky
How the winds are laughing
They laugh with all they might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summers night
Lagu itu membawa pikiran Kyungsoo kosong, dimana dia membiarkan tubuhnya sendiri mengayun pelan. Sendirian di bawah sana dengan hanya diterangi oleh lampu taman. Lama sampai lagu itu tak berlanjut. Kyungsoo tiba-tiba menyadari sesuatu, terdengar tidak asing. Tapi siapa orang yang pernah menyanyikan itu? Dia baru saja hendak bertanya namun sosok Sehun telah tidak ada. Tapi Kyungsoo yakin tadi Sehun kemari, menggerakkan ayunannya.
Ahh pemuda itu membuatnya frustasi.
Like the swallow has learned to fly.
'Kyungsoo~'
'Kyungsoo~'
'Anak manis. Berhentilah menangis. Ada aku...'
Suara-suara itu terus saja terngiang kemudian menghantui Kyungsoo membuat perempuan itu mengerang merasakan sakit di kepalanya. Tiba-tiba saja tetesan hujan menyadarkan Kyungsoo, semakin deras membuat ia berlari ke dalam. Berlindung ke lorong dan memasuki bangunan utama.
Setengah basah karena Kyungsoo sempat terpeleset dan itu membuat pakaiannya Kotor. Ia berlari tergesa menaiki tangga.
~ RoséBear~
Kai baru saja akan melepaskan pakaiannya, ia melihat Kyungsoo dari jendela kamar yang terbuka, di bawah sana Kai menyipitkan matanya agar bisa jelas melihat. Kyungsoo sedang berayun seorang diri? Baru saja pria itu berinisiatif akan turun namun kemudian diurungkan niat tersebut melihat Kyungsoo bangkit. Ia tahu Kyungsoo pasti akan segera kembali masuk ke dalam setelah menyadari hujan yang semakin deras. Ini sudah malam, terlalu larut dan lagi sepertinya akan terjadi badai. Wanita itu bisa masuk angin jika berlama-lama di luar.
Ia melepaskan kemeja, menelanjangi dadanya dan baru saja akan masuk ke kamar mandi saat tiba-tiba pintu kamar dibuka. Pria itu terlonjak kaget bukan karena pintu yang terbuka. Tapi Kyungsoo yang muncul langsung berlari menghampiri dan memeluk Kai erat.
Begitu kuat dorongannya hingga tubuh Kai terpundur selangkah. Ia tertahan oleh dinding. Tangan Kai terangkat ingin mendorong tubuh Kyungsoo tapi hatinya nenolak. Ia memeluk Kyungsoo posesif. "Sayang, kenapa?"
"Takut," samar tapi Kai bisa mendengar isakan Kyungsoo. Perempuan itu semakin menekan tubuhnya, memeluk Kai meminta agar tidak dilepaskan.
"Tidak! Kumohon jangan lepaskan!" Kai terperanjat karena Kyungsoo setengah berteriak. "Ba-ik. Aku tidak akan melepaskanmu." Kai mengusap punggung sempit Kyungsoo berkali-kali.
Cukup lama tapi Kyungsoo tak kunjung melepaskan pelukannya. Kai menunduk, mengecup leher Kyungsoo dan membisikkan kata-kata penenang di telinga Kyungsoo.
'Bukankah tadi kau baik-baik saja? Sebenarnya ada apa Kyungsoo?' Batin Kai menahan diri. Sayangnya pertanyaan di otaknya keluar begitu saja. Bibir Kai yang berada dekat telinga Kyungsoo membuat wanita itu mendengarkan dengan baik.
"Takut," perempuan itu berkata sekali lagi.
"Maaf aku pulang larut malam. Aku tidak tahu apa yang terjadi Kyungsoo. Tapi apa kau mau masuk ke kamar mandi bersamaku?"
Kyungsoo terlihat berpikir sejenak, namun kemudian Kai merasakan Kyungsoo menganggukkan kepala. Tangannya segera memutar knop pintu kamar mandi. Berjalan mundur menuntun Kyungsoo untuk masuk.
"Mau menggosok punggungku?"
Kai menghela napasnya karena melihat Kyungsoo hanya diam di tempat. Namun pelukannya mengendur. Kai membawa Kyungsoo mundur, sedikit menunduk lalu terduduk di pinggir bathup. Lelaki itu berlutut tanpa melepaskan tangannya dari pundak Kyungsoo. "Kau baik-baik saja? Aku mandi sebentar saja. Kau tidak mau bergabung?"
"A-aku akan menggosok punggungmu Kai."
Pria tan tersenyum, menarik tengkuk Kyungsoo lalu mencium bibir hati itu dengan lembut. Tidak ada nafsu disana, benar-benar lembut. Dia merasakan Kyungsoo kekurangan napas, jadi Kai lepaskan tautan bibir mereka. Pria itu bangkit lalu menelanjangi dirinya. Ia juga melepaskan pakaian Kyungsoo. Menyiapkan air mandi beraroma coklat khas aroma Kai.
Kyungsoo duduk di belakang Kai, dengan sponge ia mulai menggosok punggung telanjang Kai.
"Apa yang kau kerjakan hari ini Kyungsoo?"
"A-aku?" Tanya Kyungsoo memastikan. Terdengar sedikit gugup. "Tidak banyak. Ravi mengajariku membuat cookies. Jenny mengajariku merias wajah." Dan mereka kemudian melakukannya dalam keheningan yang cukup panjang.
Tubuh telanjang Kyungsoo menggunakan bathrobe Kai yang kebesaran sementara pria itu hanya melilitkan handuk di pinggang. Jemarinya bertautan dan membawa Kyungsoo keluar dari kamar mandi.
Kai hanya mengenakan celana piyama lalu ia memasangkan atasan piyamanya pada tubuh Kyungsoo. Pria itu sedikit menunduk untuk mensejajarkan tinggi tubuh mereka. "Mau berbaring bersamaku? Bukankah tadi pagi kau bilang ingin mengatakan sesuatu."
Kai lalu menaiki ranjang. Ia menunggu Kyungsoo ikut naik dan perempuan itu segera beringsut dalam pelukan Kai. Menjatuhkan kepalanya berseder di dada telanjang Kai. Kyungsoo setengah memeluk pria itu. Sementara rambut setengah basahnya dibelai penuh sayang oleh jari-jari tangan Kai.
"Jadi? Apa yang ingin kau katakan?"
Kekesalan pria itu yang terpupuk tadi malam menguap begitu saja saat melihat Kyungsoo tiba-tiba memeluknya tadi. Ada sesuatu di dada Kai yang terasa sesak. "Kau memikirkan perkataanku? Aku melihatmu duduk sendirian di taman tadi. Apa kau takut padaku?"
Kai mendapati Kyungsoo mendongak. Ia tersenyum lalu mencium pucuk kepala Kyungsoo. Tapi Perempuan itu menggeleng. Tangannya tak melepaskan pelukannya pada perut berotot Kai.
"Lalu apa yang membuatmu takut Kyungsoo?"
"Se-sehun."
Degh
Dengan gerakan pelan Kai sedikit menunduk. Kyungsoo menatapnya. "Sayang, kau tidak menyukai Sehun bukan?"
Buru-buru Kyungsoo menggelengkan kepala. "Tidak."
"Dia juga tidak menyukaimu. Aku bisa percaya pada ucapan Sehun. Dia pria jujur. Jadi apa yang kau takutkan?" Dengan lembut Kai mencoba mencaritahu kebenaran dari cara pandang Kyungsoo.
"Kai."
"Ya sayang?"
Kyungsoo berusaha keras agar napasnya teratur saat ia bicara. "Kau tidak akan melepaskanku?"
Kai terdiam, ia memandang Kyungsoo yang masih menuntun jawaban. Kenapa Kyungsoo begitu takut. Apa Sehun benar-benar menakutkan?
"Apa Sehun mengancammu?"
"Tidak. Tapi... Kai," Kyungsoo menghela napasnya. "Malam ini kau mau bercinta denganku lagi?"
Alis Kai berkerut. Kenapa tiba-tiba Kyungsoo mengajaknya bercinta? Ini hampir sama seperti hari itu dimana Kyungsoo menyerahkan dirinya.
"Kai?" panggil Kyungsoo pelan. Tangannya mengelus punggung polos Kai membuat pria itu kembali sadar.
Ia membalik posisi mereka. Menjatuhkan Kyungsoo ke ranjang dan sedikit menindih wanita manis itu. Kyungsoo menjadi yang pertama, Perempuan itu mengangkat kepalanya, tangannya merambat ke tengkuk Kai mempertemukan keduabelah bibir mereka. Ia dengan gerakan yang tak terlalu terlatih berusaha menyampaikan perasaan pada Kai. Ciuman itu terlepas setelah sekian lama, kepala Kyungsoo kembali ke ranjang dan nafasnya mulai tersenggal. Buah dada yang naik turun dibalik piyama kebesaran milik Kai. "Aku tidak akan menggunakan pelindung lagi karena aku sudah melarangmu menelan pilnya mulai hari ini. Jadi kuharap kau tidak akan menyesali malam ini apapun yang terjadi Kyungsoo."
"Lakukanlah Kai."
Seperti mendapat sinyal. Lelaki itu mulai membuka satu persatu kancing piyama yang Kyungsoo gunakan. Tubuh wanita itu masih menyisahkan jejak percintaan panas mereka semalam. Kai sedikit mengernyit, apa dia harus menyakiti Kyungsoo. Bahkan selangkangan wanita ini pasti masih merasa nyeri. Dia memperlakukan Kyungsoo lebih kasar dari sebelumnya malam tadi.
"Kai," tapi panggilan Kyungsoo terdengar seperti ajakan bercinta yang penuh hasrat. Di telinga Kai, itu seperti desahan panjang saat mencapai puncak kenikmatan.
Pria itu terbangun, kesadarannya cepat kembali. Ia memeluk Kyungsoo begitu erat. Dirasakannya wanita itu merintih. Kai mengernyit mendengarnya, apa sesakit itu? Yah Kyungsoo pasti merasakan sakit luar biasa akibat seks marathon mereka dua malam ini. Ditariknya jemari Kyungsoo, pandangan pria itu tak lepas dari wajah damai Kyungsoo. Saat mengecup jemari itu barulah Kai sadari terdapat beberapa goresan luka di tangan Kyungsoo. Ada yang masih baru namun ada juga yang sudah mengering. Sebenarnya apa yang dikerjakan wanita ini saat Kai tak di rumah. Sebab ketika ia di rumah, pekerjaan Kyungsoo hanya melayani hasrat Kai.
~ RoséBear~
Dia seorang eksekutif, duduk dengan kemeja dan celana dasar. Dasi itu belum tersimpul, masih melingkar di lehernya. Menunggu Kyungsoo terbangun dan merapikan Kai. Sudah menjadi kebiasaan pagi mereka. Lelaki itu mengesap kopi paginya, sebuah pergerakan dari Kyungsoo menyadarkan Kai.
"Mandilah terlebih dahulu. Aku menunggumu."
Perempuan itu beranjak dari ranjang dengan menyeret selimut membuat Kai tertawa geli melihatnya. Sudah berkali-kali tubuh itu telanjang di bawah kukungannya tapi tetap saja merasa malu untuk diperlihatkan.
Hampir menyentuh setengah jam saat Kyungsoo keluar dengan rambut basah dan jubah mandi membungkus tubuhnya.
"Kemarilah Kyungsoo."
"Ya Kai."
Kyungsoo berjalan tertatih. Lama sekali agar ia bisa tiba di hadapan Kai.
Lelaki itu membuka pahanya, memberi instruksi agar Kyungsoo duduk di pangkuannya.
"Kau tampak muram? Apa kau menyesal dengan keputusanmu semalam?"
Ditariknya jemari Kyungsoo. Memberitahu wanita itu jika dia sadar akan luka-luka di jari Kyungsoo. Di atas meja telah tersedia beberapa plester.
"Aku akan bertanya beberapa hal. Kuharap kau mau memberi jawaban Kyungsoo," Dengan jari-jari di rekatkan plester-plester itu pada tangan Kyungsoo.
"Pertama, kapan kau mendapatkan luka sebanyak ini?" Pertanyaan itu membuat Kai melihat senyum Kyungsoo. Karena ia yakin luka itu bukan sisa dari kecelakaan tempo hari.
"Ini, ketika berkebun. Beberapa tanaman memiliki duri. "
"Kalau begitu berhati-hatilah. Jangan melukai jari indahmu Kyungsoo. Lalu, tentang Sehun. Kenapa kau takut padanya?"
Kai menggerakkan paha kanannya membuat tubuh Kyungsoo sedikit merapat. Reflek Perempuan itu mengalungkan lengannya ke keher Kai menghindar kejadian yang tak ia inginkan. Terjungkal ke belakang.
"Itu..."
Kai masih meenunggu walau Kyungsoo menjeda ucapannya. Pria itu memeluk pinggang Kyungsoo. Menyusupkan tangannya kebalik jubah mandi Kyungsoo. Kulit yang terasa begitu lembut seperti kulit bayi, aroma coklat yang menggoda lalu gerakan gelisah Kyungsoo karena Kai membelah kewanitaannya.
"I-itu... Aku tidak tahu Kaihhhh!" Kyungsoo mendesah di akhir ucapannya ketika pria itu terlalu menggoda.
"Jangan membuatku bingung Kyungsoo. Sehun adalah sahabatku. Sudah seperti saudara sendiri bagiku."
"Maafkan aku Kai. Hah!" tangan Kyungsoo mencengkram pundak Kai. Terasa panas di bagian selatan tubuhnya. "Berputarlah menghadapku." Perintah Kai mutlak. Ia menyarankan tubuh Kyungsoo untuk sedikit tegak lalu duduk berpangku tetap pada paha kanannya. Lutut Kai menekan kewanitaan Kyungsoo. Akhh wanita itu merasakan siksaan mendalam karena ditekan. Namun Kai tak memasukkan apapun. Itu menyiksanya. "Ahhhhhh!"
"Wow!" Hanya itu yang Kai rasakan saat melihat ekspresi Kyungsoo.
"Aku ingin kau jujur mengenai Sehun. Katakan padaku Kyungsoo."
"Dia,"
Kaki Kyungsoo sedikit terangkat kala Kai membuat pahanya semakin menekan selangkangan Kyungsoo. Ia menggigit bibir bawahnya, Kai tahu bagaimana cara menekan seseorang. Jubah mandi ini mulai berantakan kala Kai menghujaminya dengan cumbuan yang begitu intim.
"Dia apa Kyungsoo?"
Tak hanya ayunan pada paha. Namun juga jemarinya mulai memilin puting buah dada Kyungsoo. Oh pria ini, dia tidak seberengsek itu. Tapi otaknya tak bisa berpikir baik. Tak ada titik terang saat memikirkan Kyungsoo dan Sehun? Jika keduanya tak saling memiliki perasaan yang sama lalu apa masalahnya?
"Maafkan aku Kai. Tidak ada. Hnghhh."
Kecipak saliva mengikuti kecupan-kecupan yang Kai coba tinggalkan pada leher Kyungsoo.
Knock knock
Kai mengghentikan aktivitasnya menyadari suara ketukan pintu kamar. Siapa yang dengan beraninya mengacaukan aktivitas pagi seorang tuan muda sepertinya.
Ketukan itu tak kunjung berhenti bahkan saat Kai ingin kembali menyentuh Kyungsoo. Lelaki itu sedikit mengernyit kesal, ia turunkan Kyungsoo berpindah pada sofa lalu melangkah kasar akan membuka pintu.
"Ya Kai! Kau belum bersiap? Bukankah Sudah kukirim surel kepadamu tentang rencana hari ini?"
Suara pekikan Chanyeol bisa merusak pendengaran Kai. Ia hampir saja terdorong ke belakang saat Chanyeol memukul dadanya, tapi tangannya berhasil tertahan di daun pintu yang setengah tertutup.
"Yak Hyung! Tunggulah di bawah. Kita bicara sembari sarapan!"
Chanyeol menatap Kai tajam. Ia menyelidik memperhatikan penampilan pria yang beberapa tahun lebih muda ini. "Sekarang!" Tanpa penolakan ia tarik Kai paksa. Meninggalkan Kyungsoo yang masih terdiam di kamar.
~ RoséBear~
Kyungsoo menyusul beberapa menit kemudian. Hanya ada Kai dan Chanyeol saja. Kedua pria itu tampak memiliki obrolan pekerjaan. Suasana cukup ramai dengan kedatangan Chanyeol. Namun tidak ada seseorang yang biasanya menatap Kyungsoo dengan mata sipitnya yang tajam. Sehun. Tak terlihat pria itu ikut bergabung seingatnya, Sehun punya komunikasi kerja yang baik dengan istri Chanyeol.
"Kai, aku pikir akan baik-baik saja. Bukankah proyek ini sangat berarti untukmu?"
Pria itu hanya terdiam. Sudah satu jam dia berdebat dengan Chanyeol di ruang makan. Hanya sebuah masalah kecil, Kai tak mau meninggalkan Kyungsoo karena alasannya sendiri. Pria itu menjadi super protective. Dan di hadapan keduanya, Chanyeol menatap masam Kai. Pagi-pagi sekali dia berangkat ke mension Kai berharap perjalanan bisnis akan berlangsung cepat hari ini.
"Kai. Hanya untuk dua malam tiga hari saja. Busan tidak bisa membuatmu pulang pergi seakan kau pergi ke minimarket di ujung jalan."
"Kyungsoo, kau harus ikut denganku!"
Chanyeol berkedip beberapa kali karena Kai mengabaikan ucapannya. "Yaishh bocah idiot ini!" gumamnya mulai kesal.
"Aku meninggalkan Baekhyun juga. Tidakkah kau mengerti siapa yang memilih proyek ini dari awal. Ayo akhiri dengan segera."
"Kyungsoo! Kau harus dengarkan aku..."
Satu kali lagi Kai mengabaikan Chanyeol. Semua menjadi sulit karena kondisi Kyungsoo tak terlalu baik untuk melakukan perjalanan. Semua karena sex marathon mereka telah meninggalkan rasa nyeri luar biasa di sekujur tubuh Kyungsoo.
"Dia mendengarkanmu Kai dan bisakah kau mendengarkanaku?"
"Hyung kenapa kau cerewet sekali!"
Brak
"Apa masalahnya jika Kyungsoo kita tinggalkan? Aku pun meninggalkan Baekhyun, bahkan setelah pertengkaran tempo hari," Suara Chanyeol sedikit pelan dibagian akhir. Tapi Kai tampak tidak peduli, ia memalingkan wajahnya. "Kau tidak meninggalkan Baekhyun. Bukankah tadi kau bilang mereka ditugaskan ke pelabuhan untuk beberapa hari karena bencana alam." Yeah Baekhyun sebagai psikiater sangat dibutuhkan, lalu Sehun juga ikut membantu. Tadi malam benar-benar terjadi badai dan badai tadi malam di pelabuhan menyisahkan bencana. Apalagi jarak ke rumah sakit cukup jauh dengan korban yang banyak. Jadi beberapa dokter ditugaskan menangani masalah itu, termasuk dari departemen psikiatri.
"Kai, aku akan menunggumu pulang," Kyungsoo menggenggam jemari kiri Kai dengan kedua tangan mungilnya. Perempuan itu tersenyum lembut.
Tanpa disadari tangan Kai yang bebas mengelus pelan rambut Kyungsoo. Ia menghela napasnya sejenak sebelumnya menyetujui rencana Chanyeol.
"Baiklah."
Semudah itu dia mengalah setelah perdebatan panjang mereka.
~ RoséBear~
Terlepas dari apapun itu, Kyungsoo sedikit panik ditinggalkan Kai. Malam-malamnya akan jadi seperti apa? Dia telah berlindung di balik kekuasaan Kai.
Baru saja beberapa jam sejak kepergian Kai, perempuan itu duduk di taman belakangnya. Ravi menghampiri memberikan sebuah amplop coklat kepada Kyungsoo. Sebuah surat? Siapa yang mengiriminya surat ini? Namun jika Kyungsoo bertanya, Ravi sudah tentu akan menyarankan untuk membuang benda itu jika mencurigakan. Sedikit ragu ia membukanya setelah kepergian Ravi.
Kyungsoo duduk di ayunan, amplop itu cukup tebal.
'Pembunuhan satu keluarga, polisi masih mendalami kasus.
'Satu keluarga, supir serta pembantu rumah di bunuh.'
'Hingga saat ini, polisi masih mendalami kasus tersebut dengan memeriksa closed circuit television (CCTV)...'
Kyungsoo mengernyit membaca beberapa artikel lama. Matanya menyipit, gambar pada artikel di guntingan koran itu sangatlah buram. Sulit bagi Kyungsoo melihat photo aslinya. Tiba-tiba sakit menyerang di bagian belakang kepalanya.
Mata Kyungsoo berkabut, ia mengeram kesulitan. Tangannya mengeluarkan semua isi amplop. Berita ini dimuat duapuluh tahun lalu.
'Pembunuhan keluarga Do seorang pengusaha properti diduga murni kasus perampokan disertai pembunuhan.'
Kyungsoo mengernyit, sebuah photo lama. Photo sebuah keluarga.
"Nona kau baik-baik saja?" Jenny berlari kecil menghampiri Kyungsoo.
Mendengar suara Jenny, Kyungsoo panik. Ia memasukkan kembali kertas-kertas itu lalu menyembunyikannya ke belakang. "Aku baik-baik saja. Sepertinya aku ingin berkunjung ke panti asuhan."
"Mau kutemani?" Jenny menawarkan diri. Ia ingat pesan Kai untuk menjaga Kyungsoo apalagi kondisi Nona manisnya sedang tidak terlalu baik.
"Tidak, besok aku akan pergi sendiri. Jangan beritahu Kai, kumohon."
Dia sedikit keras kepala. Jenny tak bisa nenolak permohonan Kyungsoo kala perempuan itu memelas dengan mukanya yang polos. Kyungsoo nonanya yang berharga dan baik hati, jadi gadis itu hanya menganggukkan menyetujui lagian hanya pergi ke panti asuhan. Masih ada supir yang akan memgantarnya, Jenny tidak perlu khawatir, bukankah panti Asuhan adalah rumah Kyungsoo juga? Mereka keluarganya. Begitulah yang Kyungsoo ceritakan hari itu pada Jenny setelah Kai menarik panti asuhan ke dalam tanggungan perusahaan.
To be continue...
Well, tidakkah ini begitu cepat? Owhh maafkan aku atas sebuah kesalahan besar di chapter sebelumnya. Terima kasih banyak telah mengingatkan dan aku akan berusaha mengingatnya setiap kali menulis di kemudian hari.
Please correct me if you find some typo and mistake in my stories.
Jadi mari kita bersenang-senang bersama!
Preview Chapter 10
'Teman rahasia?'
'Kelas bunga matahari?'
'Bunga matahari?'
"Kau akan pulang? Pakai apa?" -Chanyeol
"Kereta terakhir dari Busan menuju Seoul!"-Kai
Thank You.
.
RoséBear
[170917.Like the swallow has learned to fly –Donna_Donna_Song]
