"Silahkan masuk tuan."

Lampu kemerlap menyambut kedatangan sang tuan besar dengan tuan muda. Dengan memakai pakaian formal, dua pemuda melangkah masuk menuju ruang megah nan elit untuk sekedar dinner di malam natal. Sang bodyguard Cina tetap mengikuti di belakang, berjalan melangkah kemanapun sang tuan muda pergi. Seakan tak ingin lepas dari pemuda Yoo.

"Ah, terima kasih." Seonho tersenyum pada Guanlin. Pipinya sedikit bersemu.

"Tuan Kim, apakah anda telah yakin jika tempat ini aman untuk keadaan makan malam?" tanya Guanlin. Mata setajam belati menatap kearah manik-manik yang menempel pada dinding restoran.

Jaehwan tersenyum mendengar ucapan bodyguard Cina, "Aku sudah memastikannya. Tempat ini aman untuk keadaan Seonho. Ah, terima kasih karena telah berhati-hati menjaga Seonho."

"Ah, Guanlin memang sangat berhati-hati." ucap Seonho sembari menyunggingkan senyum manis. Jaehwan sedikit tertawa.

Pramusaji dengan pakaian formal datang membawakan wine di atas nampan coklat. Minuman itu di tuang kedalam gelas antik berwarna bening. Jaehwan mengambilnya lalu mengangkat keatas, "Cheers."

"Tunggu tuan." Guanlin kembali mencegah. Jaehwan sedikit heran, "Ada apa?"

Guanlin menatap sang pramusaji, "Coba kau cicipi."

Tentu saja sang pramusaji menatap terkejut Lai Guanlin. "Eh? Saya?"

Lai Guanlin tetaplah orang yang keras kepala. Ia tetap menyuruh pramusaji mencicipi minuman terlebih dulu. Pemuda berpakaian formal menatap Guanlin sekilas, lalu meminum wine pelan. Ia bereaksi biasa.

"Minumannya aman, tuan. Silahkan di nikmati." ucap Guanlin mempersilahkan.

Jaehwan yang melihat sikap over protektif Guanlin tersenyum. "Kau sungguh hati-hati Guanlin."

"Haha, dia memang sangat berhati-hati." timpal Seonho tertawa.

"Sepertinya kau sudah mulai menyukai Guanlin." ucap Jaehwan tersenyum memandang sang kekasih.

"A-ah, ya." jawab Seonho gugup. Pipi bersemu merah, jantung mulai berdetak sangat keras. Sedangkan sang tentara Cina hanya mengalihkan pandangan.

.

.

.

.

THE BODYGUARD FROM CINA

Main cast:

Lai Guanlin, Yoo Seonho, and other.

Disclaimer:

This is remake of 'The Bodyguard from Beijing'

Seluruh tokoh bukan milik saya. But story is mine.

Warn! Yaoi, Ooc, Typo, ParodyAU!

I hope you enjoy this story~

.

.

.

.

Kerlipan lampu di atas dinding membuat sebagian tempat lebih terlihat. Banyak pramusaji serta para pengunjung yang mundar-mandir dalam restoran. Woojin, Haknyeon, Jinyoung, Hyungseob, Jihoon, serta Daehwi tengah duduk di salah satu meja bundar. Terlihat dari raut wajah mereka yang tengah kebingungan.

"Apakah tidak apa-apa kita juga memesan makanan?" tanya Woojin. Merasa tak enak hati pada kekasih Seonho.

"Tidak apa-apa, lagipula tuan Kim sendiri yang bilang kalau kita boleh memesan apapun." Joo Haknyeon mulai angkat bicara. Ia tetap menatap beberapa menu yang tertera dalam buku.

Seorang pramusaji dengan setia masih berdiri di sebelah Haknyeon. Menunggu segerombolan manusia yang sedang sibuk memilih makanan. Dan pada akhirnya, semua makanan yang terdapat pada menu pun di pesan oleh Joo Haknyeon. Ya, dia memang tidak tahu malu. Sedangkan Woojin hanya menatap Haknyeon tajam.

"Hehehe, selagi kita di traktir oleh tuan Kim. Kesempatan tidak akan datang dua kali." si pemuda Joo hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya lalu tertawa.

Jinyoung hanya menggelengkan kepala. Suhu tubuh Haknyeon berubah seketika melihat seorang pemuda dengan wajah yang sangat familiar. "G-guru Ung?!"

Lee Euiwoong namanya. Teman sekantor Seonho. Guru TK manis yang sangat menyayangi anak-anak. Bagaimana Haknyeon tak jatuh hati pada guru yang satu itu? Benar-benar membuat perasaan Haknyeon campur aduk di buat.

"Halo tuan Haknyeon, tuan Woojin, dan semuanya." dengan tutur ramah nan sopan, guru yang akrab di sapa Ung menebar senyum tipis. Namun mampu membuat Haknyeon kejang-kejang.

"Halo guru Ung. Sedang apa di sini?" tanya Woojin sembari tersenyum.

"Ah, aku habis makan malam dengan teman-teman ku." jawab guru Ung. Haknyeon makin terpesona.

Terlihat dari wajah Park Woojin yang tersenyum—lebih tepatnya menyeringai, "Guru Ung, apa kau pulang di jemput?"

"Tidak, sepertinya aku akan menaiki bus." jawab guru Ung sopan.

Seringai Woojin semakin melebar, memamerkan gigi gingsul yang terdapat dalam mulut. "Ah, kalau begitu biar Haknyeon saja yang mengantar. Tak baik malam-malam begini pulang sendirian."

Sedetik kemudian pemuda bernama lengkap Joo Haknyeon melotot. Menampakkan raut wajah takut-takut nan cemas. Mendadak ia seperti terkena serangan jantung, "A-AKU?!"

"Ah, tidak usah. Aku bisa naik bus—"

"Tidak, akan saya antar guru Ung pulang." ucap Haknyeon dengan wajah semerah tomat. Keringat mulai mengalir pelan dalam tubuh.

Euiwoong terlihat berpikir sejenak, "B-baiklah. Terima kasih."

Park Woojin menahan tawa, ia kemudian memukul punggung sang kawan yang sedang merona hebat. Terlihat dari siluet mata Haknyeon mengatakan 'Bajingan sialan kau, tapi terima kasih banyak.'

Haknyeon berjalan keluar dari restoran bersama guru Ung. Park Woojin dan Bae Jinyoung hanya tertawa pelan melihat reaksi si pemuda Joo. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Haknyeon dan guru Ung berjalan bersama.

"Lihat wajah paman Haknyeon. Seperti sedang menahan angin, pfttt—"

"Benar, ah kenapa pula wajahnya mirip babi—"

Percakapan dua pemuda berbeda umur itu berlanjut lama. Sepertinya Haknyeon sedang cegukan sekarang. Daehwi, Jihoon, serta Hyungseob hanya bisa menggelengkan kepala. "Sudahlah, kasihan Haknyeon." ucap Jihoon.

Jinyoung dan Woojin akhirnya berhenti berbicara. Sedikit mengusap air mata yang keluar dari pelupuk. Daehwi yang ingin melihat menu makanan seketika panik. Pandangannya mendadak gelap gulita. Tak bisa melihat apapun. Sebuah tangan besar menutup matanya. Pemuda cantik itu berteriak keras lalu menampar seorang pemuda.

PLAK

"Aduh, sakit Daehwi!"

Daehwi melebarkan mata. Sosok pemuda yang selalu ia nantikan kedatangannya tengah mengusap pipi pelan. Sudah 3 bulan lebih dan pemuda itu kembali muncul di hadapan matanya. "S-samuel?!"

Kim Samuel. Pemuda keturunan Amerika-Korea itu sedikit merengut kesal. Sepupu Jaehwan, dan playboy. "Hai cantik."

Entah harus bersyukur atau kesal. Daehwi hanya menunduk menutupi rona merah yang mulai menjalar di seluruh pipi. Hyungseob dan Jihoon hanya menahan tawa.

Tiba-tiba pandangan Hyungseob bertemu dengan Woojin. Kedua mata bertemu dalam gemerlap lampu. Mengabaikan suara bising yang berasal dari mulut Daehwi serta Samuel. Hyungseob hanya tersenyum singkat, Woojin mulai gelagapan sendiri.

.

.

.

.

Perbincangan antar kekasih itu masih berlanjut. Jaehwan banyak bercerita tentang bisnis nya selama di Prancis. Seonho mendengar secara saksama, sedikit melirik ke arah belakang. Menatap sang bodyguard yang masih memalingkan pandangan.

"Seonho, kau ingin pesan apa?" tanya Jaehwan. Matanya masih melekat menatap daftar menu dalam buku.

Seonho terlihat sedang berpikir. Melihat secara serius, "Aku bingung."

Tuan besar tersenyum lembut menatap sang kekasih. Tangan kiri terangkat, sekedar untuk menyentuh tangan kanan Seonho yang berada di hadapan, "Ah, bagaimana kalau—"

Yoo Seonho terkejut. Tiba-tiba ia sedikit menyingkirkan tangan Jaehwan. Tuan Kim diam, ia terlihat bingung dengan reaksi Seonho. Sekilas, pemuda asal Cina menatap tautan tangan Seonho dan Jaehwan. Masih menempel. Seonho terlihat panik, ia melirik kearah Guanlin.

Manik kehitaman pun bertemu. Siluet mata seperti ingin menyampaikan sebuah perasaan yang terpendam. Sebuah ungkapan yang tertahan dalam diam. Guanlin segera memutus kontak mata mereka, lalu kembali menatap kearah lain.

Seonho semakin gugup di buat. Tangan sang kekasih masih menempel di atas telapak tangan kanan. Tuan muda yang masih memegang buku menu di tangan kiri pun menepuk pelan tangan Jaehwan. Menutup tautan tangan mereka dengan buku menu. Itu terjadi secara refleks.

"A-ah, a-aku—aku.."

Suara mulai tergagu. Buku menu kembali terangkat. Menutup wajah gugup dengan sempurna. Seonho berniat untuk membaca menu makanan, namun terlalu panik. Hatinya resah sekarang.

"Seonho?"

Tak ada sahutan dari sang empunya nama.

"Seonho?"

Menu di turunkan. Wajah gugup sangat kentara terlihat. Keringat mulai menuruni pelipis. "A-ano—pesan saja makanan pembuka."

.

.

.

.

Beberapa makanan berjejer rapih di atas meja berbalut kain putih. Berhiaskan lilin-lilin yang menyinari ruangan redup. Wewangian bunga serta dinginnya udara membuat suasana terasa nyaman. Untuk Jaehwan sendiri, makan malam bersama Seonho adalah kegiatan yang menyenangkan. Bisa melihat wajah manis sang kekasih serta lahapnya ia makan membuat pemuda Kim gemas sendiri.

Seonho melihat beberapa makanan. Ia terlihat tak nafsu, hanya mengaduk-aduk sebuah sup lalu meminum air putih. Jaehwan terlihat sangat menikmati pasta dengan campuran saus manis. Benar-benar lezat untuk sekedar mampir di lidah.

Mata bulat pemuda Yoo terkadang melirik ke belakang. Melihat sosok bodyguard yang masih mengalihkan pandangannya. Menatap ke belakang, tak menatap ke depan. Seonho hanya bisa menatap punggung lebar sang bodyguard.

Makanan telah di santap. Baik Seonho maupun Jaehwan tengah membersihkan diri masing-masing. "Bagaimana makanannya?"

Seonho terlihat gelagapan, "A-ah enak sekali."

"Kau terlihat gugup, Seonho." ucap Jaehwan. Menatap manik mata sang kekasih.

Seonho semakin gugup di buat. Ia mulai berkeringat, "Ah aku ingin pergi ke toilet."

Pemuda manis bak anak ayam itu bangkit dari kursi. Berjalan keluar dari ruang makan. Jaehwan yang berniat ingin menyusul pun tak jadi. Karena sang bodyguard sudah berjalan di belakang Seonho. Sang pemilik perusahaan kembali duduk. Lalu termenung.

Guanlin berjalan tegap di belakang Seonho. Mata belati itu hanya mengarah pada punggung Yoo Seonho. Menatap dan mengikuti kemana ia pergi. Pengawal asal Cina berhenti di depan toilet. Menunggu sang tuan muda dengan urusannya.

"KYAAAA!"

Mata belati itu melebar. Indra pendengarannya menangkap sebuah suara teriakan dari dalam toilet. Lai Guanlin mendobrak pintu paksa. Lalu menatap seorang pria terduduk lemas di atas lantai.

"Guanlin, bantu aku membangunkannya."

Seonho menarik tangan Guanlin perlahan. Pemuda Cina itu terkejut. Sedikit melirik pada tuan manis yang masih berjongkok. "Ah, baik."

Guanlin kemudian membantu pemuda itu bangkit bersama Seonho. "Ah teman laki-lakimu sangat baik. Terima kasih."

Wajah Seonho perlahan merona ketika mendengar ucapan 'Teman laki-laki'. Sedangkan Guanlin hanya menatap datar lalu membukakan pintu.

Keduanya berjalan dalam diam. Degupan dalam hati semakin membara. Seonho berjalan lebih cepat. Tak ingin pria di belakang mendengar kegugupannya. Berjalan di ruang utama restoran dengan banyaknya lampu bercahaya redup serta sedikit ramai suara pengunjung membuat mata tajam Guanlin waspada.

.

.

.

.

Jaehwan masih termenung di ruang makan. Manik mata kehitaman menatap kearah depan. Masih terdiam dalam keheningan ruangan.

"Paman Jaehwan, apakah sudah selesai makan malamnya?" Jinyoung menepuk pundak sang pengusaha. Membuat sang empu nya pundak sedikit terkejut.

"Ah Jinyoung, tentu saja sudah." pria bernama Kim Jaehwan segera tersenyum. Lalu menatap Seonho serta Guanlin yang baru tiba.

Pemuda manis itu kembali duduk manis di kursi. Sang bodyguard tetap setia berdiri di belakangnya. Jaehwan masih menatap, kemudian berdiri menghampiri Seonho.

"Seonho, aku harus pergi karena ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan. Ah, jika sudah selesai mungkin aku akan berkunjung kerumah mu nanti." ucap Jaehwan.

Seonho pun tersenyum, "Baiklah."

Perlahan, wajah sang pengusaha maju. Semakin maju, lalu mengecup pipi gembul Seonho. Pemuda Yoo terlihat gugup sangat, ia kalang kabut sekarang. Wajahnya memanas dan merah padam. Kemudian sedikit melirik sang bodyguard yang masih menatap.

Guanlin melihatnya.

"Guanlin, kemari lah." titah Jaehwan.

Yoo Seonho semakin berdebar. Tentara berkebangsaan Cina berdiri di sebelah Seonho. Suhu dalam ruangan mendadak menjadi panas. Padahal sedang musim dingin di luar sana. Seonho hanya bisa menunduk.

"Besok adalah sidang untuk Minhyun. Itu berarti pekerjaanmu sebagai pengawal pribadi Seonho telah selesai." ucap Jaehwan.

Guanlin masih menatap wajah sang presdir dengan datar. Tak mengeluarkan satu ekspresi apapun. Jaehwan memberikan tangan kanan nya, hendak bersalaman dengan pria Cina. Guanlin menyambut tangan itu. Kedua tangan pun bertautan dengan jelas di depan mata Seonho.

"Terima kasih sudah menjaga Seonho untuk dua bulan ini." ucap Jaehwan tersenyum.

"Itu sudah kewajibanku tuan Kim." ucap Guanlin. Sedikit melirik kearah pemuda yang tengah menatapnya.

Seonho menatap sendu kedua tautan tangan yang perlahan terlepas. Besok adalah hari persidangan. Itu artinya Guanlin akan segera pulang ke Cina. Bukankah ini yang selalu di tunggu-tunggu oleh Seonho sejak awal? Tapi kenapa, kenapa sekarang ia merasa sesak?

.

.

.

.

Mobil hitam berjalan pesat di jalan raya. Rembulan sedang menunjukkan pancaran sinar yang menerangi malam. Salju turun secara perlahan, membuat buliran putih berterbangan bebas di udara. Seonho yang duduk di kursi belakang hanya mampu menoleh kearah kaca. Menatap sosok tegap yang tengah menyetir mobil.

Hanya ada 4 orang di dalam mobil. Guanlin menyetir dengan tenang di depan. Sedangkan Seonho duduh bersama Jinyoung dan Jihoon di belakang. Semuanya hanya diam. Hanya terdengar suara dengkuran dari mulut Jihoon. Pemuda manis itu dengan lelap tertidur dengan menyenderkan kepalanya pada pundak Jinyoung.

Seonho masih menatap jalanan sepi dari kaca. Wajah manisnya terlihat lesu sangat. Perlahan kepalanya menoleh, menatap kearah depan. Menatap sosok pengawal Cina yang masih fokus menyetir. Ia tersenyum lembut.

Guanlin yang masih fokus menyetir pun menatap lurus kearah jalanan. Semakin sepi dan gelap. Bulan masih Setia menemani untuk menyinari. Mata tajam Guanlin melirik kearah kaca, menatap tuan muda yang tersenyum melihatnya. Kedua mata kembali di pertemukan. Seonho yang sadar segera mengalihkan pandangan, sama dengan Guanlin. Mereka terlihat sangat salah tingkah sekarang.

Dan tanpa mereka sadari pula, Bae Jinyoung melihat interaksi dua pemuda tadi sembari tersenyum.

.

.

.

.

Mobil berwarna hitam berjalan tenang di keheningan malam. Woojin menyetir sembari menahan degupan keras dalam dada. Hanya ada dirinya dengan Hyungseob sekarang. Pemuda manis itu tertidur di kursi sebelahnya. Terkadang, pemuda bergigi gingsul itu melirik malu-malu pada tuan muda Ahn. Lalu wajahnya kembali merona.

Alasan mengapa dirinya hanya berdua dengan Hyungseob sekarang karena dengan secara mendadak Samuel menculik Daehwi dan berkata akan melakukan kencan. Alhasil hanya ada dirinya dan Hyungseob sekarang.

Woojin terlihat tenang, namun dalam hati ia berteriak.

'Tuhan, jika ini mimpi. Tolong jangan bangunkan Aku.'

Pemuda Park berusaha untuk fokus menyetir. Ia berusaha menetralkan degupan dalam dada.

TUK

Jantung Woojin serasa mau keluar. Kepala Hyungseob tiba-tiba bersender pada pundak kokohnya. Pemuda manis itu masih tertidur lelap. Woojin serasa ingin mati.

Yang ada di pikiran Woojin sekarang hanyalah Hyungseob. Jalanan semakin lama semakin terlihat sepi. Pemuda Ahn masih menyenderkan kepalanya. Sebuah senyuman mulai keluar dari bibir Woojin. Ia senang.

"Setidaknya, Aku bisa menjadi senderanmu ketika lelah walau tak bisa memilikimu, Ahn Hyungseob."

.

.

.

.

TBC

Balasan review chapter sebelumnya:

ererigado: Weh langsung gercep ya xD hohoho~ terima kasih sudah membaca :))

Ellegisnt: Guanlin udah siapin hati kok xD Hehe maapkan abang Minhyun :'v terima kasih sudah membaca :))

Re-Panda68: Hehe bisa dibaca di chapter sebelumnya~ wkwk terima Kasih sudah membaca :))

whatgus: Gak boleh dibawa pulang, nanti digebuk Seonho xD Huhu moment SamHwi sama HakWoong akan saya buat di chapter selanjutnya xD terima kasih sudah membaca :))

janicekim: Hehe, saya akan bertanggung jawab atas efek gak bisa berenti senyum dengan membuat moment GuanHo di chapter depan xD terima kasih sudah membaca :))

kkamo: Dibalik sosoknya yang kejam, adakalanya seorang Ibu akan selalu memperhatikan anak-anaknya /plak. Terima kasih sudah membaca :))

skarayums: Wkwk eta keterangan~ /plak. Bapak Jae sabar ya, banyak yang mau engkau putus sama Seonho xD terima kasih sudah membaca :))

Yaoi and Yuri Lovers: Maklum, mamah Minhyun belum gajian jadi belum bisa beli daging banyak-banyak xD /plak. Terima kasih sudah membaca :))

Cheshire Oh: Guanlin lebih suka modus dibanding gombal soalnya wkwk. Terima kasih sudah membaca :))

Erumin Smith: Rasanya sakit liat doi kencan ama cowok lain-Guanlin, bodyguard ganteng. Wkwk terima Kasih sudah membaca :))

kim naya: Hehe nanti Seonho bakal punya Guanlin kok xD terima kasih sudah membaca :))

ShintaWu: Wkwk Jaehwan beli pakan lele di Prancis. Beli di pasar senin gak level soalnya:(( /digampar. Terima kasih sudah membaca :))

soonyounghearteu: Hehe Jihoon harus banyak-banyak sabar buat deketin Baejin xD terima kasih sudah membaca :))

Rina Putry299: Hehe, terima kasih sudah membaca :))

Wonhee park: Hehe terima kasih sudah membaca :))

daebaektaeluv: Seonho pusing milih yang mana wkwk, terima kasih sudah membaca :))

TaeTae-Track: Hehe nantikan undangan GuanHo resmi xD terima kasih sudah membaca :))

soint0you: Hehe keluarga bahagia ala minHyunbin xD terima kasih sudah membaca :))

Guesschu: Hehe padahal sudah diusahakan tidak terlalu mendetail adegannya :" huehue iya masih lama :" hehe biar ucul Baejin masih kecil :'v Terima kasih sudah membaca :))

Terima kasih sudah membaca :))

seoldier: Hehe mungkin karena saya suka adegan gore kali ya, jadi banyak adegan gore disini—ya walaupun belum bagus-bagus amat saya nulisnya wkwk. Hehe, saya suka bayangin sendiri kalo Guan jadi tentara xD terima kasih sudah membaca :))

anisafransiskaa: Hehe saya cuma mencari crackpair antimainstream xD hehe terima kasih sudah membaca :))

Uma Exo L317: Hehe terima kasih atas sarannya, dan terima kasih sudah membaca :))

fujoshi.reply1997: Haha terima kasih xD Terima kasih sudah membaca :))

kimmphi95: Hehe, terima kasih sudah membaca :))

kfcfmd: Terima kasih sudah membaca :))

vanillacake123: Hoho xD terima kasih sudah membaca :))

Mandoo: Terima kasih sudah membaca :))

A/N:

Hehe, maaf saya update telat TvT lagi banyak tugas juga, tapi akhirnya hari ini saya bisa up wkwk. Setelah saya survey /eak. Banyak yang menunggu adegan M. Kalian semua mesum :v /ditimpuk batu. Hehe, untuk moment SamHwi dan HakWoong akan saya perbanyak di chapter selanjutnya.

Terima kasih yang sudah memfollow, favorite, dan review fanfiksi ini :))

-levieren225