Before…
"KYUHYUN DAN SUNGMIN PACARAN!"
Sontak seluruh penghuni mansion itu terbangus oleh teriakan Donghae dan Eunhyuk yang cukup keras. Apalagi ini tengah malam. Sudah pasti suara teriakan yang mungkin bisa membuat kaca biasa retak itu terdengar sampai ke dalam mansion.
Kyuhyun dan Sungmin juga menghentikan langkah mereka. Kyuhyun berdecak kesal. Padahal ia hanya diajak Sungmin jalan-jalan. Ia menerima karena memang insomnianya sedang kambuh. Sungmin sendiri menatap Kyuhyun. Yeoja itu sedikit merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Ayo pergi! Biar mereka disangka orang gila karena berteriak-teriak di malam hari seperti ini."
Sementara itu orang-orang mansion yang terbangun akibat teriakan Donghae dan Eunhyuk pun kembali melanjutkan tidur mereka karena hanya menganggap itu sebagai teriakan orang gila yang berkeliaran tengah malam, kecuali Leeteuk. Yeoja itu dengan mata yang sedikit terpejam berjalan menju balkon kamarnya. Ia berdecak ketika mendapati dua orang yang entah sedang melakukan apa di bawah.
"YA! IKAN DAN MONYET BODOH! JANGAN MELAKUKAN HAL TAK BERGUNA DI TENGAH MALAM SEPERTI INI!"
Sontak pasangan dua alam itu pun terkejut dan hanya mengangkat dua jari mereka sambil nyengir tak berdosa. Eunhyuk pun segera menarik lengan Donghae masuk ke dalam mansion.
*PERSONA*
PERSONA: The Locked Soul
Cast : All member Super Junior and other group...
Rating : T
Genre : Fantasy, romance, supernatural, adventure, action
Warning : Genderswitch! Death Chara! Typo masih ada di mana-mana..
Disclaimer : Fanfiction ini milik saya yang terinspirasi game PS1 Persona, anime Fullmetal alchemist, dan Shakugan No Shana. Agak mirip sihh, karena aku emang suka menggabung sebuah cerita satu dengan cerita lain sesuai dengan versiku sendiri. Jadi aku hanya mabil bagian yang penting. Mian, kalau ceritanya agak aneh, aku masih baru di FFN ^_^
Don't Like, Don't Read! Don't Bash!
Happy Reading –
Kyuhyun dan Sungmin masih berdiri di dekat pintu gerbang mansion. Bisa mereka tebak jika Donghae dan Eunhyuk telah pergi dari tempat mereka dan masuk ke dalam mansion. Yahh, tidak ada yang tahan dengan suara teriakan Leeteuk jika sudah marah seperti tadi. Kyuhyun menatap Sungmin dan menganggukkan kepala. Mereka pun lalu kembali masuk dengan langkah pelan, tak ingin diketahui oleh siapapun.
"Kyuhyun, apa kau yakin kita mencarinya tengah malam begini? Bahkan ini sangat gelap. Simbol itu juga memiliki pola yang tak beraturan," ujar Sungmin sambil mengeratkan pegangannya pada baju Kyuhyun.
"Itulah kenapa aku suruh kau mencharge ponsel hingga penuh. Lampu flash-nya sangat kita perlukan." Sungmin manggut-manggut saja. "Lagipula tidak hanya akan mencari simbol itu saja."
Yeoja itu mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Aku yakin pasti ada sesuatu yang tersembunyi," sahut namja itu.
Sungmin benar-benar tidak mengerti rencana Kyuhyun sekarang, namun yeoja itu percaya padanya. Ia yakin jika Kyuhyun memiliki akal yang cerdas.
Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan menghidupkan lampu flash. Sungmin juga ingin melakukan hal yang sama, tapi Kyuhyun melarang dengan alasan penghematan. Jika baterai ponselnya habis, mereka sudah ada cadangan.
Mereka berdua mengelilingi setiap sudut taman. Mencari di tempat-tempat yang jarang di lewati orang dan menajamkan pandangannya seolah sedang mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Pasti simbol tersebut dilindungi oleh Reigekon seperti yang ditemukan di Mokpo, atau bahkan di dasar kolam seperti yang mereka temui di Busan. Malah bisa jadi simbol tersebut tersembunyi di bawah lapisan tanah sehingga mereka harus menggalinya terlebih dahulu. Yahh, itu adalah kemungkinan yang cukup menyebalkan.
"Kita sudah berkeliling cukup lama di sini, Kyu. Kau tidak ingin mencarinya di dalam?" saran Sungmin yang tengah meregangkan tubuhnya yang pegal akibat terlalu sering membungkuk.
Tanpa banyak kata, Kyuhyun menyetujuinya. Akan tetapi jangan sampai hal yang mereka lakukan ini berhasil diketahui oleh Shindong ahjussi, apalagi Tuan Lee. Mereka harus memutar otak beberapa kali untuk memberi alasan yang logis.
Srett..
Sontak Kyuhyun dan Sungmin menghentikan langkah ketika melihat sesuatu yang baru saja lompat dari lantai atas. Mereka segera bersembunyi di balik air mancur sambil terus memperhatikan sosok yang amat mencurigakan itu. Tak lama sosok lain yang sama mencurigakannya turun dari balkon, namun gerakannya cukup kaku saat turun tadi.
Salah satu dari mereka itu menoleh ke kanan dan ke kiri sehingga Kyuhyun dan Sungmin dapat melihat wajahnya sekilas meskipun samar-samar. Dari postur tubuh, cara berjalan, cara berpakaian, dan potongan rambutnya, hanya satu hipotesa yang muncul di kepala mereka. Orang itu adalah orang yang sama dengan siapa yang hari ini seharian mengurung diri di dalam kamar.
"Heechul eonni?" Sungmin berkata pelan sambil menajamkan pandangannya. Sedangkan Kyuhyun hanya diam memperhatikan mereka.
"Lust! Di mana simbol itu?"
"Kau ikuti saja aku, Chullie. Hanya dengan simbol itu kita bisa menuju ke daerah inti."
Kyuhyun memberi isyarat pada Sungmin agar mengikuti mereka berdua. Usahakan agar tidak bersuara sepelan apapun, karena yang mereka ikuti ini adalah makhluk immortal yang tidak bisa ditebak apa tindakan mereka selanjutnya. Jujur saja ini adalah hal yang aneh jika Heechul bisa bersama dengan makhluk ini. Kyuhyun tidak ingin terus berpikir positif kalau sudah seperti ini. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.
Heechul dan Lust terus berjalan tanpa menyadari ada dua orang yang mengikuti mereka. Dengan santainya Lust berjalan memasuki gudang di belakang mansion, sementara Heechul terus memperhatikan keadaan sekitar. Pada dasarnya ia adalah orang yang was-was. Tak disangka Lust berhenti tiba-tiba tepat di depan pintu gudang.
"Heechul, kau kan sedang mengawasi agar kita tidak ketahuan. Lalu kenapa ada dua orang persona-users yang sedang mengikuti kita saat ini?" Lust sengaja mengeraskan suaranya.
'Sial!' batin Kyuhyun mengumpat kesal. Begitu juga dengan Sungmin yang semakin mengeratkan pegangannya pada baju yang Kyuhyun kenakan.
"Benarkah? Akan aku lihat."
Lust segera menghentikan pergerakan Heechul. "Tidak usah membuang waktu dengan mengurus mereka. Cukup kita beritahu jika seorang Kim Heechul telah melakukan sebuah pengkhianatan dengan bergabung dengan pion Mr. Kim."
Heechul memalingkan wajahnya. Suara Lust cukup keras. Mungkin dua orang yang dimaksudnya bisa mendengar, tapi itu bukan lagi menjadi urusannya. Dirinya sudah terlebih dahulu tergiur dengan kekuatan Tuhan yang dimaksud oleh Lust tadi.
Kyuhyun terdiam. Ia seolah menjadi pihak yang patut disalahkan. Namja itu menundukkan kepala. Keinginannya untuk mencari simbol tak lagi ada. Sungmin yang juga mendengar ucapan Lust hanya bisa menghela napas berat. Ia ingin menangis. Bagaimana perasaan yang lain jika mereka mengetahui hal ini?
Dan pada akhirnya air mata itu keluar juga dari manik rubah milik Sungmin. Ia tidak menyangka Heechul bisa senekat ini. Dapat yeoja itu rasakan ibu jari seseorang yang mengusap lembut pipinya. Sungmin menatap Kyuhyun yang hanya menujukkan tatapan sendunya.
"Kenapa menangis, hmm?" tanyanya pelan.
Sungmin menggeleng lemah. "Aku hanya tidak bisa melihat teman kita pergi dengan cara seperti ini. Jika Heechul sudah melakukan niat itu, maka tidak akan ada yang bisa menghentikannya, kecuali Hankyung oppa. Tapi sayangnya dia..."
Kyuhyun menarik tubuh Sungmin ke dalam pelukannya. Yeoja itu tidak membalas, tapi ia merasa cukup nyaman dengan tubuh yang merengkuh dirinya ini.
"Maafkan aku. Seandainya jika aku tidak mengatakan hal yang bisa menyakiti Heechul noona waktu itu, maka ia tidak akan berbuat hal ini. Aku benar-benar minta maaf." Kentara sekali jika Kyuhyun mengatakannya dengan nada penuh penyesalan.
"Jika kata 'seandainya' dapat merubah keadaan di dunia ini, mungkin aku akan sangat mengagungkan kata itu," ujar Sungmin dingin. "Seharusnya kau katakan itu pada Heechul, Kyuhyun. Bukan padaku."
Sungmin mendorong pelan tubuh Kyuhyun. Namja itu hanya diam dengan sikap Sungmin. "Jadi, dalam hal ini aku benar-benar melakukan sebuah kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan." Ia tertenyum miris. Bahkan Sungmin pun menyalahkannya, bagaimana dengan yang lain?
"Heechul-ah! Kau bisa lihat sendiri kan? Bahkan mereka tengah bermesraan saat ini."
Sial! Mereka melupakan keberadaan Heechul dan Lust. Jelas saja, Kyuhyun maupun Sungmin mengira mereka berdua telah masuk ke dalam gudang itu. Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya erat. Yeoja itu – Lust – benar-benar iblis!
"Heechul noona, kumohon dengarkan aku kali ini. Aku benar-benar minta maaf. Kemarin aku begitu dipusingkan dengan berbagai masalah yang terjadi."
Heechul berdecih. "Memangnya siapa dirimu? Bahkan kita semua juga dibingungkan oleh hal yang sama." Yeoja itu melirik Sungmin yang menundukkan kepalanya. "Selamat. Aku cukup senang dengan berita yang diteriakkan Donghae dan Eunhyuk tadi," ujarnya penuh dengan makna.
"Itu sama sekali tidak benar, Eonni. Mereka tadi hanya salah paham. Aku tidak pacaran dengan Kyuhyun. Sama sekali tidak!" Kali ini Sungmin menjawab.
"Kalian ini kukuh sekali. Heechul tidak akan mengubah niatnya untuk bergabung bersama kami. Iya kan, Chullie?"
Heechul tak menjawab. Ia hanya menatap datar dua orang yang ada di depannya. "Ayo pergi. Aku muak berada di sini."
.
.
"Kau masih marah padaku, Noona?" Kyuhyun bertanya beberapa saat setelah kepergian Lust dan Heechul. Sungmin menggeleng, bahkan ia masih bisa tersenyum.
"Aku tidak marah padamu, Kyu. Tadi aku hanya memikirkan perasaan yang lain jika mereka mengetahui jika Heechul melakukan ini. Belum hilang duka yang Hankyung oppa berikan, sekarang muncul masalah yang tak kalah menyakitkan lagi."
Kyuhyun menghela napas berat. Ini benar-benar tidak ada di dalam pikirannya. Ucapannya sore kemarin benar-benar memiliki pengaruh yang besar. Benar ucapan Victoria kalau dirinya tidak bisa menganggap remeh apa itu cinta. Pantas saja orang-orang yang sama sepertinya dulu hanya mencegah tanpa bisa memusnahkan penyebab masalah yang ada. Karena mereka hanya memandang ke depan tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sampingnya untuk mendukungnya.
"Kau ingin melanjutkan ini, atau masuk ke kamar dan tidur?" tanya Kyuhyun yang melihat ponselnya yang sudah low-bat sejak tadi.
"Aku sudah tidak memiliki mood lagi. Kita hentikan saja." Sungmin berbalik. Pikirannya sedang butuh istirahat.
"Noona, bolehkah aku memelukmu lagi?" Langkah Sungmin terhenti. Yeoja itu kembali menatap Kyuhyun yang kini menundukkan kepalanya.
"Ke.. kenapa?"
"Aku... aku hanya merindukan eomma-ku."
Sungmin tersenyum lalu berjalan mendekati namja itu dan memeluknya. Kyuhyun membalas pelukan itu. Ia benar-benar merasa dipeluk oleh ibunya sendiri. Namja itu benar-benar merasa bersalah terhadap ibunya. Hanya saja Kyuhyun merasakan sesuatu yang aneh dengan pelukan ini. Jantungnya berdetak terlalu kencang. Namun tidak bisa dipungkiri jika posisi ini membuatnya sangat nyaman.
"Eomma pernah berkata padaku untuk tidak menyakiti seorang yeoja. Tapi aku melanggarnya. Karena itu pula keselamatan negeri ini terancam. Aku benar-benar merasa telah menyakiti eomma-ku sendiri, Noona. Eomma pasti kecewa padaku."
Sungmin tertegun. Namja ini... ia begitu menyayangi ibunya. Ia mencintai ibunya. Tapi kenapa Kyuhyun tidak bisa mencintai seorang yeoja selain ibunya? Dia hanya berusaha untuk tidak menyakiti hati seorang yeoja. Namun pada akirnya Kyuhyun melakukannya juga.
"Kalau kau merasa bersalah, kalau kau merasa eomma-mu kecewa, maka jangan ulangi lagi, Kyu. Jika ada yeoja yang mengatakan dia menyukaimu, kau harus menghargainya. Meskipun kau tidak memiliki perasaan yang sama, setidaknya yeoja tersebut merasa dihargai perasaannya."
Kyuhyun akhirnya bisa tersenyum lega. "Terima kasih, Noona. Aku akan selalu mengingatnya."
*PERSONA*
Keesokan harinya, Sungmin tampak baru keluar dari kamarnya. Padahal ini sudah pukul sepuluh pagi. Mungkin karena tidur pukul dua pagi itulah yang menyebabkan dirinya bangun terlambat. Yeoja itu lalu berjalan menuruni tangga. Hahh... sebenarnya di waktu seperti ini dirinya pasti tengah berada di sekolah. Masalah dengan orang-orang itu benar-benar menyusahkan.
Sungmin mengernyit ketika menyadari suasana mansion yang cukup sepi. Apakah mereka meninggalkannya sendirian untuk mencari daerah inti? Ia mendengus. Itu tidak mungkin. Sungmin penasaran, apakah di luar juga kosong?
"Oh!"
Yeoja itu akhirnya bisa bernapas lega setelah melihat yang lainnya tengah berkumpul di taman. Raut wajah mereka tampak serius. Kemungkinan sedang ada maslah besar kali ini. Ingatan Sungmin melayang pada kejadian semalam. Ia pun menghela napas berat.
"Pasti Heechul eonni," gumamnya. Sepertinya tidak ada pilihan lain, selain bergabung dengan mereka.
"Sungmin? Kau sudah bangun? Kami sedang merasa tidak baik. Aku yakin kau juga begitu." Shindong ahjussi menghela napas. "Heechul...-"
"Heechul eonni bergabung dengan Kim Young Min," potong Sungmin cepat. Sontak yang lain menatapnya heran.
"Kenapa kau bisa tahu, Eonni?" tanya Ryeowook.
"Bahkan kau saja baru datang," tambah Kangin.
Sungmin mengerutkan dahi. Seharusnya mereka mengetahui hal ini dari Kyuhyun. Apakah namja itu tidak mengatakan apapun mengenai dirinya? Yeoja itu mengalihkan pandangannya mencari sosok namja yang kemarin memeluknya, aiissh, membuat malu saja, namun sayangnya ia tidak dapat menemukannya.
"Di mana Kyuhyun?" tanya Sungmin.
Tiba-tiba Donghae berteriak dan menjentikkan jarinya. "Aku benar, kan? Kyuhyun dan Sungmin noona berpacaran! Bahkan mereka sudah saling mencari saja."
Sungmin menatapnya bingung. "Apanya yang saling mencari?"
Tuan Lee yang ternyata juga berada di sana terkekeh. "Kau tidak menyangkalnya, Sungmin?"
Yeoja itu mendengus. "Aku tidak memiliki hubungan seperti itu dengannya, Tuan Lee!" kesalnya.
"Tadi Kyuhyun memang sempat bergabung di sini, namun ia tiba-tiba menanyai keberadaanmu. Tentu saja kami tidak tahu. Setelah itu ia pergi ke bagian belakang mansion, entah untuk apa," jelas Leeteuk.
"Oh."
Berarti Kyuhyun tidak menceritakan apapun kepada mereka, batinnya menyimpulkan. Daripada disangka yang tidak-tidak lagi, lebih baik ia bergabung dengan mereka.
"Oh ya, Min. Kau sudah tahu tentang Heechul itu dari mana?" tanya Yesung. Yang lain sepertinya ingin tahu juga.
"Ahh, itu...-"
"Sudah pasti Kyuhyun yang memberitahu. Lewan pesan, mungkin," potong Donghae yang memberikan tatapan menggodanya pada Sungmin. Yeoja itu hanya memutar bola malas. Tapi ada untungnya juga Donghae menjawabnya terlebih dahulu. Kalau tidak dirinya pasti sudah ditanyai apa saja yang Kyuhyun dan dirinya semalam.
'Pantas saja namja itu pergi duluan,' ucap Sungmin dalam batinnya.
*PERSONA*
Huuaatttchiii! *efek sound gagal
Kyuhyun mengusap hidungnya yang agak gatal. Sepertinya orang-orang itu sedang membicarakannya. Ia hanya mendengus. Namja itu lalu membuka sebuah pintu di hadapannya. Pintu gudang. Yahh, dia hanya ingin memastikan jika simbol itu benar-benar berada di dalam sini.
Suasana di dalam benar-benar menyeramkan. Gelap dan penuh debu. Kyuhyun merubah sangkaannya terhadap bersin yang melandanya tadi. Bisa saja itu adalah debu yang beterbangan lalu keluar dari gudang. Tapi ia kembali berpikir di dalam sini hampir tidak ada ventilasi. Hahh, sudahlah. Tidak penting juga membahas tentang debu dan bersin.
"Apa yang bisa dicari di tempat yang seperti ini?" Namja itu mengeluarkan ponselnya utnuk penerangan. Kyuhyun memandang horor berbagai serangga yang merayap di dinding dan berjalan di lantai dengan rasa tidak berdosa. Ia menyimpulkan, serangga itu lebih berbahaya dari demon!
"Aisshh! Apakah Tuan Lee tidak menyewa pembantu untuk membersihkan semua ini?" keluhnya. Kyuhyun lalu menepuk keningnya, merasa bodoh. Tuan Lee memang tidak menyewa pembantu atau pun security di mansion ini. Tapi anehnya barang-barang di sini aman-aman saja.
Kyuhyun menghela napas berat. Jika saja seluruh tumpukan barang di gudang ini bisa ia pindahkan keluar dengan cara apapun tanpa menggunakan fisiknya, pasti ia akan langsung dikontrak untuk bermain film laga. Sayangnya itu hanya fantasi liarnya saja. Baiklah, daripada terus mengeluh, lebih baik mencari dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
Tanpa mempedulikan berbagai rintangan yang ada (baca: serangga), Kyuhyun terus mencari simbol itu. Di dinding, di bawah tumpukkan buku usang, di dalam lemari, di bawah meja, di daerah pojok, dan semua tepat telah ia telusuri. Sial! Jangan-jangan Lust hanya membodohinya kemarin.
Tatapan Kyuhyun tertuju pada sebuah buku yang agak menarik perhatiannya. Sebuah buku dengan judul "God's Fervency". Ia mengerutkan keningnya. Dengan ragu ia mengambil buku tersebut dan membuka halaman pertama. Karena cukup usang, jadi ini membuatnya kesulitan untuk membaca. Apalagi dengan penggunaan bahasa Inggris yang dicampur bahasa Yunani sedikit. Meskipun begitu, tetap saja ia tidak tahu maksudnya. Tapi tak apalah. Untuk koleksi buku anehnya.
"Huwaaaaa!" Brukk..
Kyuhyun mengelus pantatnya yang kesakitan akibat terjatuh. Ia meringis lalu beranjak berdiri meskipun agak susah awalnya. Namja itu memperhatikan keadaan sekelilingnya. Hey! Ini bukan gudang tadi! Keterkejutannya bertambah setelah ia menengok sesuatu yang tengah dipijaknya. Sebuah bidang datar berbentuk segi tujuh dengan garis yang menyatukan setiap titiknya membuat bidang tersebut tampak tidak memiliki pola yang beraturan. Tidak salah lagi... simbol inilah yang sedang ia cari.
Kyuhyun baru menyadari jika ini tampak seperti sebuah terowongan bawah tanah yang dibuat tanpa ada keterampilan arsitektur alias hanya digali saja. Hanya saja terowongan ini memiliki banyak sekali cabang. Tapi, untuk apa? Namja itu pun segera mengambil buku dan ponselnya yang ikut terjatuh. Sekarang yang lebih penting adalah memanjat ke atas menuju gudang dan memberitahu yang lain.
*PERSONA*
"Kyuhyun?"
Eunhyuk mengerutkan keningnya melihat penampilan Kyuhyun yang tampak seperti seorang... yah, gelandangan. Tidak mungkin kan jika namja itu habis memulung di tempat sampah? Lihat saja sebuah buku usang yang dibawanya. "Kau habis mengacak-acak tempat sampah?"
Sontak Kyuhyun menghentikan langkah dan menatap Eunhyuk bingung. "Huh?" yeoja itu hanya menunjuk badannya. Kyuhyun mengikuti ke mana arah jari itu. "Ahh... aku habis mencari bukuku yang hilang di bagian belakang. Sayangnya buku ini terselip di antar semak-semak. Kau tahukan, Noona, jika masuk ke dalam sana bisa membuat baju putih menjadi kotor. Apalagi aku sempat terjatuh di tanah yang tidak ada rumputnya."
Eunhyuk mengangguk-anggukkan kepalanya. Buku itu pasti penting sekali hingga namja ini mau saja mengorbankan kebersihan dirinya sendiri. "Kau harus mandi, Kyu."
Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenarnya aku juga belum mandi sejak tadi. Maka dari itu aku rela melakukan ini."
Enhyuk mendengus. "Kau jorok sekali! Bahkan ini hampir mendekati waktu makan siang!" omelnya. Namja itu hanya memberikan sign 'peace' lewat jarinya. Yeoja itu hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi.
Kyuhyun menghembuskan napas lega. Meskipun alasannya sedikit tidak logis, tapi Eunhyuk mau saja percaya dengan omongannya. Oh iya, tumben sekali noona yang satu itu tidak bersama dengan sang ikan, pujaan hatinya? Tidak mungkin kan pasangan beda alam itu tengah bertengkar? Bahkan tingkat ke-telenovela-an mereka itu di atas rata-rata.
"Habis dari mana kau?"
Seorang yeoja memandang Kyuhyun dari atas hingga bawah. Kyuhyun sendiri hanya memutar bola matanya malas. "Sungmin noona, seharusnya kau membantuku tadi," keluh Kyuhyun dengan wajah lelah yang ia buat-buat.
"Bantu apa? Masalahnya pun aku tidak tahu."
Kyuhyun menoleh ke kiri, kanan, belakang, sedang memastikan agar tidak ada siapapun yang melihat mereka berdua. "Ayo, aku jelaskan di kamarku."
.
.
.
Sungmin duduk sambil menopang dagunya di atas meja dengan malas. Beberapa kali ia mendengus sebal. Namja Cho itu mandi terlalu lama seperti yeoja. Bahkan ia sendiri tidak selam itu, menurutnya. Pandangan Sungmin lalu tertuju pada buku usang di depannya. Buku itu sama sekali tidak menarik, kenapa pula Kyuhyun repot-repot memungutnya dari gudang? Tapi namja itu belum menceritakan apa yang ia temukan di gudang selain buku tersebut. Jadilah Sungmin rela menunggunya selesai mandi karena benar-benar penasaran.
Tak ingin berlarut dengan rasa malas, akhirnya Sungmin membuka buku itu juga. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik di dalamnya meskipun covernya tidak menarik sama sekali. Ketebalannya melebihi empat centimeter, entahlah, mungkin lima centi.
Di halaman pertama hanya berisi banyak tulisan. Malas ah.. lebih baik mencari gambar-gambar, jika ada. Tangan Sungmin terhenti pada halaman yang terdapat gambar tujuh orang beserta namanya. Pride, Gluttony, Greed, Envy, Wrath, Lust, dan Sloth. Yeoja itu tahu betul siapa mereka dan ia terus membalikkan lembar buku tersebut. Terdapat gambar-gambar yang ambigu. Namun yeoja itu yakin pasti hal penting yang terdapat dalam buku ini.
Hingga di halaman terakhir, tepatnya pada paragraf terakhir. 'So, how to get that God's fervency? I can't intensively to explain it here. Many people who will fall victim to. This world's balance also will be in to inclined postion. Please, you who become the owner of divine decree, you can do it. Save our world and don't do our fault like before in the future.'
"Signed, Lee Jin Ki. First owner of divine decree," ujar Sungmin membacakan nama yang mungkin saja adalah penulis buku usang itu. Kentara sekali dia menuliskannya dengan mengandalkan tangannya sendiri, begitu juga dengan gambar-gambar itu.
"Meskipun aku cukup bisa bahasa Inggris, aku benar-benar tidak tahu maksudnya. Tapi aku yakin jika ada maksud yang penting di dalamnya," gumamnya yakin.
"Owner of divine decree? Itu tampak misterius sekali."
Sungmin segera menoleh ke belakang dan mendapati Kyuhyun yang masih mengeringkan rambutnya. Namja itu tampak lebih segar dari yang tadi dengan kaos hijau lengan pendeknya dan celana jeans panjang.
"Kau tahu maksudnya?" Kyuhyun menggelengkan kepalanya.
"Memang apa artinya?"
Sungmin mendengus. "Bagaimana kau bisa mengatakan jika ini misterius tanpa tahu artinya?"
"Aku tidak tahu artinya, maka dari itu aku menganggapnya misterius," jawab Kyuhyun asal. Hey! Dia berkata jujur kan?
"Sang Pemilik Takdir, itu artinya."
Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Oh! Ia baru sadar sekarang. Berarti buku itu ada hubungannya dengan orang yang terikat oleh takdir seperti yang Victoria katakan. Haruskah ia kembali menemui yeoja nyentrik itu? Tapi bagaimana caranya? Bahkan di mansion ini tidak ada Violet Room, Fussion Room dan Ending Room. Ia saja bisa pergi ke sana hanya jika mendapat panggilan dari Victoria. Sepertinya ia memang harus bicara empat mata dengan Tuan Lee.
"Noona, Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Tapi, kita harus menemui Tuan Lee terlebih dahulu."
Sungmin mengerutkan keningnya. "Eoh? Apa itu penting sekali?"
"Ya, dan berjanjilah untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapapun."
Yeoja itu mengangguk. Pandangannya tertuju pada buku yang dipegangnya. "Bagaimana dengan buku ini?"
"Bawa saja."
.
.
.
"Jadi, apa yang kau ingin ketahui, Kyuhyun?" Tuan Lee bertanya sambil duduk di kursi mewahnya dan jangan lupakan jika di sana juga ada Victoria. Yahh, mereka sedang berada di Violet Room.
Jangan lupakan juga seorang yeoja yang pikirannya tengah berada pada arah yang tidak tentu, Sungmin. Dia merasa de javu saat pertama memasuki ruangan ini dan mendapat usiran dari Victoria. Apakah ia akan kembali melakukan hal itu padanya?
"Buku ini." Kyuhyun meletakkan buku itu di atas meja. "Aku temukan di dalam gudang sewaktu tengah mencari simbol yang anggota SDS buat."
Tuan Lee menatap buku itu sekilas. "Apa kau menemukannya? Simbol itu."
"Ya. Itu berada di bawah tanah. Karena suasana yang gelap aku jadi tidak bisa melihat jika ada lubang di lantai yang aku pijak. Simbol itu berada di dalam sebuah terowongan yang cukup terang karena ada penerangan berupa lampu minyak di bagian tepinya."
Tuan Lee menghela napas. "Buku itu dibuat oleh Lee Jin Ki, sang pemilik takdir yang pertama. Ia memberikan ini padaku dan berjanji akan menuliskan lanjutannya, yaitu cara mendapatkan kekuatan Tuhan. Aku menunggunya, tapi dia lebih dulu tewas di tangan Youngmin. Hebatnya dia masih sempat menulis di sebuah note kecil. 'Aku telah mencegahnya, Tuan Lee. Maaf, buku itu telah terbakar'."
Kyuhyun terdiam sejenak. Lalu ia kembali bertanya, "Bagaimana dengan generasi selanjutnya?"
"Aku juga memberikannya buku ini. Hal yang sama juga telah terjadi. Generasi kedua, yaitu Lee Tae Min, juga tewas setelah berhasil mencegah perbuatan Youngmin. Dan kau adalah generasi ketiga, Cho Kyu Hyun. Aku memiliki harapan yang besar padamu untuk mencari cara agar bisa mencegah Youngmin, dan tolong jangan ulangi kesalahan yang pernah dibuat oleh generasi sebelummu."
Victoria lalu berdehem. "Dan jangan abaikan pentingnya seorang 'Mate', Cho!"
Kyuhyun mendengus. "Bagaimana aku tahu jika dia itu mate-ku atau bukan?"
"Setelah kau berhasil menggunakan, Black Windy, seseorang yang berada di sampingmu itulah mate-mu," bisik Victoria agar Sungmin tidak bisa mendengarnya. Khusus untuk urusan 'Mate' ini, Sungmin tidak diijinkan untuk tahu yang sebenarnya, kecuali jika Sang Pemilik Takdir sendiri yang mengijinkan.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" tanya Sungmin sedikit kesal karena merasa diabaikan.
"Ahh, Sungminnie. Maaf kami terlalu sibuk dengan urusan pemilik takdir ini," ujar Tuan Lee. Sungmin mendengus. Bahkan dirinya saja duduk di sebelah Kyuhyun.
Tuan Lee pun menyuruh Victoria agar memberikan sebuah informasi pada Sungmin mengenai apa itu 'Sang Pemilik Takdir' dan siapa saja yang sempat menyandang nama tersebut. Awalnya penjelasan-penjelasan yang membosankan ia dapatkan, namun setelah menuju ke arah di mana pencegahan terhadap 'pengambilan kekuatan Tuhan' itu dapat dilakukan, raut wajahnya mulai serius.
Yeoja itu lalu menatap Kyuhyun. "Jadi kau..." yang ditatap hanya mendengus. "Pantas saja kau yang paling gelisah di antara kita semua."
"Itu benar, Noona. Jadi tolong jangan beritahukan hal ini pada yang lain."
"Kenapa? Mereka berhak tahu. Kau juga akan butuh bantuan yang lainnya nanti."
"Sebaiknya kau ikuti saja kemauan Kyuhyun, Min. Terlalu berbahaya jika orang yang lain mengetahui siapa sebenarnya Kyuhyun itu," sahut Tuan Lee.
"Lalu kenapa aku malah diijinkan untuk tahu?"
Kyuhyun menghela napas. Ia menatap Victoria meminta persetujuan. Namja itu yakin jika Victoria tahu maksudnya membawa Sungmin ke mari itu apa. "Ini tentang apa itu yang disebut 'Mate', Min. Seorang pasangan yang menemaniku untuk menuntaskan segalanya. Di dunia ini tidak ada yang cukup dekat denganku selain diirimu."
"Ya, lalu?" Sungmin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
"Hmm, apa kau mau menjadi Mate-ku untuk sementara sampai aku menemukan Mate asliku?"
Sungmin mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Bukannya ia tidak mau membantu Kyuhyun, tapi ia cukup tahu apa itu arti 'sementara'. Dan pada saatnya nanti dirinya harus pergi. Seolah barang yang habis pakai lalu dibuang. Baiklah, itu berlebihan.
"Baiklah, jika aku memang cukup membantumu."
Tuan Lee melirik ke arah Victoria yang tersenyum tipis. Ia lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku rasa kalian berdua bisa keluar dari sini sekarang. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Victoria."
Kyuhyun dan Sungmin mengangguk. Dalam satu kedipan mata, di ruangan nyentrik ini hanya tinggal Victoria dan Tuan Lee. Yeoja itu berjalan ke depan dan duduk di tempat yang duduki Sungmin tadi.
"Jadi, apa rencanamu, Tuan?"
"Yahh, pencarian daerah inti, tentu saja. Aku akan memisahkan mereka lagi. Leeteuk, Ryeowook, dan Yesung akan pergi ke daerah Kunsan. Eunhyuk, Donghae, dan Kangin mendapat tugas di daerah Pyontsyana. Sementara Kyuhyun dan Sungmin aku biarkan mereka menyusuri tempat yang mereka anggap memiliki petunjuk yang penting."
"Kunsan dan Pontsyana. Benar juga. Sesuai dengan buku yang di tulis oleh Lee Jin Ki ini, hanya dua tempat itu yang belum mereka telusuri. Simbol-simbol itu harus segera mereka temukan."
"Oh iya, Vic. Yang Kyuhyun maksud 'Mate sementara', apa itu tidak apa-apa?"
"Tidak ada yang perlu diragukan, Tuan Lee. Dari pertama aku melihat Sungmin saat mencoba memasuki ruangan ini dulu, aku sudah tahu jika dia adalah seorang Mate."
Tuan Lee tertawa. Ia sudah yakin dengah hal ini. "Instingmu memang yang tertajam, Vic."
*PERSONA*
Eunhyuk, Donghae, dan Kangin secara bersamaan menghela napas terberat. Saat ini mereka berada di dalam kereta menuju Pyontsyana. Tuan Lee suka sekali memisahkan grup seperti ini Apalagi Kangin yang sedari tadi terus merutuk dalam batin. Kenapa juga ia harus disatukan dengan pasangan beda alam ini? Pasti hari-harinya penuh dengan derita.
"Ya! Bahkan di dalam kereta pun kalian masih sempat bermesraan," kesal Kangin. Itulah, baru saja dikhawatirkan, sekarang sudah menjadi kenyataan.
"Aissh, Hyung. Aku hanya ingin memeluk Hyukie-ku." Kangin mendengus kesal mendengar ucapan yang begitu menyebalkan itu.
Semnetara itu di lain tempat, tampak Yesung, Ryeowook, dan Leeteuk yang sedang membicarakan sesuatu yang penting di dalam kereta. Sangat bertolak belakang dengan yang di atas. Apalagi ada sang Leader yang berada di antara mereka.
"Jadi bagaimana, Eonni? Kita menginap di apartemen luas, mewah, tapi mahal atau luas, tidak terlalu mewah dengan harga standar?" tanya Ryeowook yang sejak tadi menimang-nimang apartemen mana yang akan mereka tinggali. Kali ini Tuan Lee tidak menyediakan tempat untuk mereka.
"Terserah kalian saja, selama yang membayar uang sewanya itu bukan aku," jawab Leeteuk yang memandang horor harga sewa apartemen yang menarik perhatiannya.
"Pilih apartemen yang biasa saja tapi mewah, Ryeowookie. Tentu saja harganya standar," saran Yesung sambil menunjuk gambar salah satu apartemen dari brosur yang dipegang Ryeowook.
Yeoja itu menganggukan kepala. "Benar juga. Kamarnya juga ada dua di sini."
"Kita bahkan hanya sebentar di Kunsan. Kenapa kalian repot sekali memilih tempat untuk kita tinggali? Apalagi nantinya kita juga jarang berada di dalam rumah," celetuk Leeteuk yang heran dengan Ryeowook yang repot sendiri.
"Setidaknya kita memiliki kenangan yang indah di sini, Noona."
"Ya, ya, ya... terserahlah. Aku ingin tidur saja." Leeteuk lalu menyandarkan kepalanya di jendela. Sementara Ryeowook juga telah meletakkan brosurnya dan beralih pada ponselnya. Yesung pun mulai sibuk dengan pikirannya sambil menatapi pemandangan di luar jendela.
.
.
Jika yang lain pergi ke luar kota, Kyuhyun dan Sungmin tidak seperti itu. Mereka malah memilih untuk memasuki gudang di bagian belakang mansion. Kyuhyun mengatakan jika ia telah menemukan simbolnya di bagian bawah gudang tersebut. Dan di sinilah mereka berdiri, di terowongan yang membentuk sudut lancip dan di tengahnya terdapat empat cabang. Bisa dikatakan siombol itu adalah tempat pertemuan antara enam jalan yang kemungkinan menunjukkan tempat yang berbeda itu.
Sungmin memandang berbagai jalan di hadapannya dengan tatapan datar. "Jadi, kita harus menelusuri cabang ini?" tanyanya.
Kyuhyun menggaruk tengkuknya. "Ahh, se.. sepertinya begitu."
Sungmin mendengus. "Kau ingin membuatku mati muda? Bagaimana jika ternyata jalan ini sama seperti panjangnya jarak antara Seoul dengan Ilsan?"
"Kalau begitu kita tidak perlu berjalan kaki," ujar Kyuhyun. Sungmin hanya mengerutkan keningnya. Namja itu memejamkan kedua matanya. Mungkinkah dia ingin memanggil personanya?
"PIERCEWIND!"
Persona hasil kombinasi dari Maria dan Gloomy yang belum sempat Kyuhyun gunakan waktu ia diculik waktu itu. Benar-benar bentuk yang aneh. Seorang pria kurus dan baju super ketat namun memiliki sayap yang semuanya berwarna campuran antara abu-abu dan merah.
"Kenapa kau malah mengeluarkan persona-mu? Kita bukan sedang melawan demon, Kyu."
"Kau salah, Noona. Piercewind-ku ini memliki kemampuan terbang yang cepat. Jadi, kita bisa gunakan di tempat ini."
"Tapi bagaimana jika penerangannya mati?"
Kyuhyun mengeratkan tas ransel yang ia bawa agar tidak terjatuh nanti. "Tidak akan. Malah nanti terowongan ini akan semakin terang."
"Huh?"
Persona Kyuhyun menjongkokkan badannya yang meskipun kurus, tetap saja ia sangat kuat. Tingginya saja melebihi terowongan ini hingga ia harus terus menunduk agar keplannya tidak menghantam dinding terowongan.
"Ayo, Noona! Pegangan yang kuat ya!"
Kyuhyun berdiri membelakangi personanya sambil mengangkat kedua tangannya dan Sungmin hanya mengikuti apa yang namja itu lakukan. Sebuah tangan yang cukup panjang memeluk keduanya. Sungmin mendelik ketakutan. Dengan cepat ia berpegangan pada tangan panjang itu. Namun tangan yang lain terulur di depannya. Sungmin menatap Kyuhyun penuh dengan tanda tanya.
"Pegang tanganku, Noona."
Tanpa banyak bertanya, Sungmin segera memegang erat tangan tersebut. Dan mereka pun segera melaju ke depan melewati cabang pertama dengan kecepatan yang mengalahkan jet sekalipun. Ternyata mereka terbang dengan bantuan persona jenis api-udara. Meskipun udara tidak cocok untuk Kyuhyun, tapi masih ada api yang menutupinya.
Sungmin berteriak cukup kencang. Sungguh, ini benar-benar cepat! Yeoja itu merasa mereka akan menabrak sesuatu jika mereka terus melaju dengan kecepatan ini. Sungmin juga semakin mengeratkan genggaman tangannya dengan Kyuhyun. Namun ternyata terowongan ini agak menyebalkan, seolah tidak memiliki ujung. Teriakan Sungmin perlahan menjadi pelan dan akhirnya hilang. Nampaknya ia mulai terbiasa dengan penerbangannya ini.
Sementara Kyuhyun menghela napasnya. Yeoja di sampingnya ini plin-plan ternyata. Tadi saja teriakannya hampir membuat telinganya hampir pecah, tapi sekarang... bahkan Sungmin terlihat menikmatinya. Melah ia mengayunkan tautan tangan mereka dengan riang sambil sesekali berseru, "HUUUUU!"
Tiittt... Tiittt... Tiittt...
Beberapa saat setelahnya, tiba-tiba bunyi jam tangan milik Kyuhyun dan Sungmin berbunyi, menandakan jika keberadaan demon telah terdeteksi. Bagaimana bisa ada demon di tempat ini? Apakah mereka sengaja mengirimnya untuk mencegah siapa saja yang akan masuk ke mari? Kyuhyun segera menghentikan personanya dan lebih memilih untuk berjalan diikuti dengan masuknya persona tersebut ke dalam tubuh Kyuhyun.
Dan benar saja! Dua demon dengan ukuran yang cukup besar berjalan di depan mereka. Daripada mengeluarkan persona, seperti biasa Sungmin lebih memilih untuk menggunakan pedang es-nya, begitu juga dengan Kyuhyun yang juga mengeluarkan pedang listriknya.
"Kyu, aku akan mengurus yang hijau dan kau yang merah, okay!"
Kyuhyun mengangguk. Sedangkan Sungmin segera berlari menerjang demon itu dari sisi kanan.
Suara teriakan mereka cukup terdengar nyaring saat menebaskan pedang masing-masing di tubuh demon. Ck! Ternyata demon ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan demon api yang pernah Kyuhyun dan Sungmin hadapi wakti menjalani latihan di markas di tengah hutan Ilsan dulu. Sayangnya sekarang mereka tidak bisa dengan leluasa memasuki kota Ilsan yang saat masih dikuasai oleh demon.
Hanya dengan beberapa kali tebasan, dua demon itu telah tumbang dan hancur menjadi debu-debu halus yang kini berserakan di bawah.
Kyuhyun mengerutkan keningnya ketika melihat pemandangan yang tak biasa ini. Di hadapan mereka terpampang jelas sebuah kaca yang menutup jalur terowongan ini. Namun hal anehnya yaitu apa yang ada di balik kaca tersebut.
"Bukankah itu ikan?" Sungmin menunjuk ikan yang tengah berenang santai. Tetapi sepertinya ikan tersebut menabrak sesuatu hingga terjatuh. Keduanya sontak berlari melihat ikan yang sepertinya habis terkena setrum listrik itu.
Dapat dilihat ada tali kecil di tengah kaca tersebut. Sepertinya tali ini menghubungkan antara sesuatu dengan sesuatu.
"Kyu, ada tangga!"
Namja itu menengok ke arah yang di tunjuk Sungmin. "Haruskah kita panjat?" Sungmin mengangguk.
.
.
Di sinilah mereka sekarang, sebuah pondok kecil di tepi pantai. Tangga itu yang membawa mereka ke mari. Kyuhyun dan Sungmin berjalan keluar dari pondok. Bisa mereka saksikan pemandangan matahari tenggelam dari pantai yang tenang ini. Sepertinya mereka tengah berada di daerah barat. Setidaknya hanya itu yang dapat mereka simpulkan saat ini.
"Sebaiknya kita mengisi perut dulu, Noona. Aku benar-benar lapar." Kyuhyun memegang perutnya yang di dalamnya sedang terjadi gempa (baca: bunyi orang lapar).
Sungmin menghelas napas. "Aku juga. Ayo cari restoran terdekat!"
*PERSONA*
Beberapa jam sebelumnya...
Dua orang yeoja yang sama-sama memiliki ciri fashion yang tidak bisa diremehkan berjalan memasuki sebuah tempat di mana di dalamnya duduk seseorang dengan arogan dan angkuh. Ia menatap salah satu yeoja yang tampak begitu gugup itu dengan seringaiannya.
"Siapa yang kau bawa ini, Lust?"
"Heechul, Kim Hee Chul. Salah satu dari persona-users yang ingin menjadi pionmu, Mr. Kim."
"Ahh, si pengguna api merah," gumamnya. "Baiklah, sebagai tes pertama agar kau bisa menjadi salah satu pionku, ada sebuah tugas yang harus kau selesaikan dengan baik. Kalau tidak, kau akan tahu akibatnya."
Heechul menelan ludahnya yang terasa susah. "Tes seperti apa, Mr.?"
"Membunuh Dia-yang-telah-terikat-oleh-takdir, Cho Kyu Hyun."
Lust menyeringai. Ia lalu melirik Heechul yang terdiam. Sepertinya ia sangat terkejut. "Cho.. Kyu.. Hyun?"
"Tepat sekali. Kau mengenalnya kan?" Heechul mengangguk lemah. "Bagus. Sebaiknya kalian lakukan sekarang."
Mereka berdua mengangguk lalu berbalik dan pergi dari tempat itu.
Bukan sesuatu yang sulit bagi Lust untuk mencari keberadaan persona-users itu. Aura merasa jelas terasa di dalam pernapasannya. Heechul masih bingung dengan hal ini. Haruskah ia melawan Kyuhyun? Dan juga tentang Dia-yang-terikat-oleh-takdir yang telah dijelaskan oleh Lust. Dua generasi sebelumnya tewas, bukan karena di bunuh oleh mereka, namun karena bunuh diri. Tentu saja Heechul sempat tidak percaya, tetapi ucapan Lust tampak begitu serius. Mau tak mau ia harus mempercayainya. Bukankah rasa saling percaya itu merupakan awal yang baik? Heechul menghela napas. Ia berpikir ini adalah pilihan yang tepat.
*PERSONA*
Setelah puas mengisi perut di restoran cepat saji di dekat pantai, Kyuhyun dan Sungmin yang tadinya memasang raut wajah lelah, sekarang kembali cerah. Makanan memang yang terbaik.
"Sekarang kita akan ke mana? Mau kembali ke pantai?"
Sungmin tampak menimang tawaran Kyuhyun. "Kata salah satu pelayan yang kita tanyai tadi, ini adalah Kunsan. Apa tidak sebaiknya kita pergi jalan-jalan dulu? Mungkin saja kita bertemu dengan Leeteuk eonni, Yesung oppa, dan Ryeowookie."
"Kau tidak ingin kembali ke terowongan?"
"Nanti saja. Aku sedang malas melewati terowongan super panjang itu."
"Baiklah. Berhubung kita berdua tidak tahu mengenai daerah Kunsan, bagaimana kalau kita lakukan usulmu saja?" Sungmin mengangguk.
Kyuhyun dan Sungmin meninggalkan kawasan restoran dan mengambil sisi kanan. Entah tempat apa yang akan mereka temui nantinya. Kalau beruntung, mungkin mereka bisa bersenang-senang di sini.
Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Sungmin mengenai Kyuhyun. Yeoja itu meliriknya sekilas dan menimang, apakah hal itu perlu untuk ditanyakan? Tapi itu benar-benar penting!
"Kyuhyun..." Kyuhyun hanya berdehem. "Kau pernah mengatakan jika kau tidak ingin menyakiti seorang yeoja karena ibumu. Tapi, bagaimana dengan Pride, Envy, dan Lust? Apa kau tidak akan melawan mereka?"
Tetap pada langkahnya yang pelan, Kyuhyun menghela napas. "Aku akan melawan mereka, tapi tidak akan sampai membunuh mereka."
"Ahh.. bagaimana kalau mereka tetap tidak berhenti melawan meskipun telah dalam keadaan sekarat?"
"Sebenarnya ini berlaku untuk semuanya, Min. Tidak hanya yeoja, aku juga melakukan hal yang sama terhadap namja. Karena menurutku setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua. Dan untuk pertanyaanmu barusan, entahlah... aku juga tidak tahu jawabannya."
Sungmin mendengus. "Kau tidak memanggilku noona lagi, Kyu."
Kali ini Kyuhyun menghentikan langkahnya. Namja itu menatap Sungmin yang mengerjap. Beruntung mereka berdiri dekat dengan halte bus. Jadi Kyuhyun mengajak Sungmin untuk duduk sebentar. Kyuhyun kembali memandang Sungmin.
"Jika boleh jujur, aku tidak ingin menganggapmu sebagai seorang noona."
"Lalu?"
"Entahlah. Tapi, aku benar-benar berharap kau bukan Mate-ku yang sementara." Sungmin mengerutkan keningnya. "... tapi Mate-ku yang asli."
Deg!
Sungmin merasa detak jantungnya semakin kencang. Ia pun menarik napas berat. "Apa kau sedang menawariku untuk menjadi pacarmu?" tanya Sungmin dengan sedikit candaan, yang meskipun ia tahu itu tidaklah lucu. Terbukti dengan Kyuhyun yang kini masih terdiam.
"Maksudku... yahh, kau bisa melupakan hal yang aku katakan tadi."
Senyum miris tercipta di wajah Sungmin. Entah kenapa Yeoja itu berharap Kyuhyun benar-benar serius mengatakannya. Hey, ini gila. Ia tidak mungkin menyukai Kyuhyun kan? Ya, tidak mungkin. Sungguh jika Sungmin melakukannya, ia berpikir akan jauh lebih sakit jika Kyuhyun menemukan Mate aslinya.
"Lalu, bagaimana kau akan mencari mate-mu itu?" tanya Sungmin.
"Itu belum aku pikirkan. Biarkan semua mengalir begitu saja."
"Tapi Black Windy... kau harus menemukan mate-mu yang asli jika ingin bisa menggunakan kekuatanmu yang satu itu."
"Sudahlah, Min. Aku malas membicarakan hal itu." Sungmin mengangguk mengerti. Ia hanya menghela napas beratnya. "Ayo kita kembali ke terowongan."
Sungmin yang tadinya menundukkan kepala, mendongak memandang Kyuhyun sedikit kesal. "Kenapa secepat itu? Bahkan aku tidak bisa bernapas lega jika berada di dalam sana," keluhnya sambil mengembungkan pipi lucu.
Tangan Kyuhyun terulur untuk mencubit pipi itu. Sontak sang pemilik pipi merasa dijahati – Oke, itu berlebihan – menoleh ke samping dengan sebal. Sayangnya sang pelaku telah kabur terlebih dahulu.
"YAA! Jangan kabur kau!"
Sungmin ikut berlari mengejar Kyuhyun. Ternyata namja itu sengaja membuat mereka berlari seperti ini agar cepat sampai di pantai dan kembali menyusuri terowongan itu. Sungmin berdecak kesal. Dengan malas ia memasuki pondok yang cukup gelap tersebut di tambah dengan suasana malam hari. Untung saja di dalam terowongan masih ada penerangan.
"Jangan lakukan itu lagi, Kyu!" kesal Sungmin yang tetap saja masih mengembungkan pipinya.
Kyuhyun tertawa. "Suruh siapa kau sok imut begitu."
"Cih! Katakan saja kau iri denganku."
Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dengan cara yang sama seperti tadi. Menggunakan persona dengan kecepatan mengalahkan jet itu.
.
.
Kurang dari lima belas menit keduanya telah sampai di tempat yang memiliki simbol, alias mereka telah berada di bawah Mansion. Di saat tengah berunding arah mana yang harus mereka tuju, dua orang yang sangat mereka kenali tiba-tiba datang dari atas, Lust dan Heechul. Dua orang yeoja dengan pakaian hampir sama dan memandang mereka dingin.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang, Chullie." Lust berjalan mundur seolah memberi tempat pada Heechul. "Reigekon active!"
Kyuhyun dan Sungmin menatap bingung pada yeoja itu. Apa yang akan mereka lakukan di sini? "Mansion ini sejak dulu telah masuk dalam wilayah kekuasaan SDS. Jadi kita bisa bebas masuk ke mari kapan saja tanpa sepengetahuan Lee Soo Man sekalipun," jelas Lust.
Sungmin berjalan mendekati Heechul dengan wajah sedih. "Eonni, kenapa kau harus melakukan ini? Jangan hanya karena Kyuhyun mengatakan sesuatu yang menyakitimu, kau rela meninggalkan kebaikan dan beralih pada kejahatan."
Heechul melirik Sungmin sekilas. "Minggirlah, Sungmin. Kau bukan lawanku." Yeoja itu mendorong Sungmin cukup keras ke arah samping hingga ia terjatuh.
Kyuhyun mengeraskan raut wajahnya ketika melihat yeoja itu meringis kesakitan di tanah. Namun ia mencoba agar tidak mengeluarkan kata-kata yang pada ahkirnya akan semakin memperburuk keadaan. Dengan satu tarikan napas panjang, namja itu harus bisa meyakinkan Heechul agar ini semua salah.
"Noona, aku benar-benar minta maaf padamu. Tapi yang kau lakukan ini benar-benar salah. Hankyung hyung pasti kecewa padamu. Kau-"
"Jangan bawa nama Hankyung di saat seperti ini! Kau tidak apa-apa mengenai dirinya!" Heechul mengepalkan tangannya. "Aku tidak punya pilihan lain, Kyuhyun. Sesuai perintah Mr. Kim, aku akan melawan dan membunuhmu sekarang juga!"
Napas Kyuhyun tercekat. Begitu juga dengan Sungmin yang menatap Heechul tak percaya. Kyuhyun lalu melepaskan tas ranselnya. "Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mencoba untuk melawan. Kalau kau memang marah padaku, silahkan kau tuntaskan sekarang juga."
Ucapan Kyuhyun berhasil membuat Lust memandangnya tak percaya. 'Sial!' umpatnya dalam hati. Jika begini maka semua rencananya akan gagal total! Bagaimana jika Heechul benar-benar melawan Kyuhyun secara brutal hingga mati? Bisa dibakar habis oleh Mr. Kim dia.
Eh? Bukankah memang Mr. Kim yang menyuruh Heechul melakukannya? Ya, tapi tentu saja ada maksud lain di dalamnya, dan hanya Lust, Mr. Kim, dan Tuhan yang tahu.
"Kyuhyun! Apa kau sudah gila?!" seru Sungmin yang lalu beranjak berdiri. Namun tidak mendapat tanggapan dari Kyuhyun.
Heechul mulai memanggil persona api merahnya dan Kyuhyun juga mengeluarkan persona listrik birunya, tapi bisa dipastikan jika ia tidak akan menggunakannya. Tidak sekalipun.
"Baik. Persiapkan dirimu, Kyuhyun. FIREBLAST!"
Kyuhyun memejamkan matanya ketika ia melihat percikan api yang besar di telapak tangan persona milik Heechul. Ia cukup tahu jika Fireblast bisa menciptakan sebuah ledakan api yang cukup besar. Namja itu tetap bergeming meskipun api itu demakin dekat dengannya.
DUUARRR!
Sontak Sungmin berteriak ketika ledakan itu tepat mengenai persona Kyuhyun. Tentu saja itu memiliki pengaruh yang sama pada si persona-users sendiri.
"Uhuk.. uhuk.." Kyuhyun jatuh terduduk di tanah dengan satu tangan memegang dadanya yang terasa sakit sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk menopang tubuhnya. Ia merasakan seseorang yang merangkul tubuhnya dan membantunya untuk berdiri. Itu Sungmin.
"Eonni! Tolong berhentilah.. Kyuhyun.. dia bahkan merasa sangat bersalah padamu waktu itu."
Sayangnya itu sama sekali tidak berpengaruh pada Heechul. Pengaruh yang Lust berikan pada Heechul benar-benar telah meracuninya hingga tampak tidak ada penawarnya. Kembali yeoja itu menyiapkan serangan lanjutan terhadap Kyuhyun.
"FLAME NEEDLE!"
Muncul kumpulan percik api di udara. Perlahan api-api itu berubah menjadi kumpulan jarum api. Sementara Lust semakin mengepalkan tangannya. Jika saja bisa, ia pasti telah mengumpat tidak jelas sekarang juga. Dia begitu khawatir, bagaimana jika Heechul benar-benar berhasil?
Jarum-jarum api itu segera meluncur ke tempat Sungmin dan Kyuhyun berdiri. Heechul menyeringai puas. "Matilah kalian berdua!"
Lust menggeram marah. 'Kau yang harusnya mati, Kim Hee Chul!' batinnya.
DUARR! DUARR! DUARRR!
Ledakan-ledakan yang diciptakan oleh jarum-jarum api itu cukup besar. Heechul menyunggingkan senyum jahatnya. Mereka berdua pasti telah mati. Debu-debu yang memenuhi pandangannya perlahan menghilang menampakkan sebuah perisai besar dan cukup tebal yang terbuat dari es.
Perlahan perisai tersebut menghilang. Terlihat Sungmin dengan tangan yang mengepal erat dan pandangan mematikan itu tengah menatap Heechul.
"Jika kau ingin membunuh Kyuhyun, hadapi aku dulu, Kim Hee Chul!" Bahkan kini yeoja itu telah menghilangkan sikap formalnya terhadap Heechul. "CHILL!"
Tiba-tiba turun beberapa bongkahan es dari atas dan menimpa persona api Heechul. Yeoja itu merasakan tubuhnya melemah. Di belakang Sungmin tampak Kyuhyun yang kembali menunjukkan ekspresi tegasnya. Sebenarnya api memiliki pengaruh yang sedikit padanya. Hanya saja tadi ia terlalu kaget dengan ledakan api yang ditimbulkan hingga debu banyak yang masuk ke dalam sistem pernapasannya.
"ICE STORM!"
Badai es tercipta. Heechul mundur beberapa langkah. Anak kecil pun tahu jika sebuah api kecil akan mati hanya dengan sebuah tiupan. Apalagi dengan sebuah badai es seperti ini? Tidak ada pilihan lain bagi Heechul selain menutup kedua matanya dan menerima takdir ini.
'Hankyung, maafkan aku. Tapi kita akan segera bertemu.'
Lust menyeringai puas melihat Heechul yang tergeletak lemah di tanah akibat badai es besar yang menerpanya "Mission clear. Reigekon non-active!" Setelah itu ia segera pergi dari tempat tersebut selagi mereka masih sibuk dengan mayat Heechul.
Tapi Kyuhyun melihat seringaian itu, dari awal namja itu sudah yakin jika mereka tidak akan menerima Heechul semudah itu. Dapat ia lihat Sungmin yang jatuh terduduk sambil memandang Heechul sedih. Ia benar-benar menyesal. Mau bagaimana lagi? Jika tidak segera dihentikan, Heechul akan semakin gencar melakukan serangan-serangannya terhadap Kyuhyun.
Persona api milik Heechul hancur menjadi debu, begitu juga dengan pemiliknya. Hankyung masih beruntung karena ia mendapat serangan bukan pada personanya, tapi pada tubuhnya langsung, dan itu menyebabkan tubuhnya tetap utuh meskipun penuh dengan darah. Tapi Heechul, tubuhnya hancur menjadi debu.
Sungmin dan Kyuhyun hanya menatap debu-debu itu dengan perasaan campur aduk. Satu lagi teman mereka yang telah kembali pada Tuhan. Kyuhyun merangkul Sungmin dan mengajaknya ke atas untuk kembali ke Mansion dan memberitahukan kejadian ini pada Tuan Lee dan Shindong ahjussi.
*PERSONA*
"Heechul... yahh, aku mengerti."
Tuan Lee beranjak dari tempatnya dan menepuk pundak Sungmin pelan. Namja paruh baya itu tahu benar bagaimana sedihnya perasaan Sungmin. Yeoja itu benar-benar terpuruk dengan mengetahui jika seorang teman tewas di tangannya sendiri.
"Untuk selanjutnya, kalian harus berusaha saling menjaga diri. Kau juga, Kyuhyun..." Kyuhyun pun mendongak menatap Tuan Lee. "Tidak seharusnya kau diam saat mendapat perlawanan seperti itu. Kau membuat Sungmin melakukan hal yang tidak diinginkannya, membunuh teman sendiri."
Kyuhyun hanya bisa mengangguk lemah. Ia juga tidak ingin membunuh teman sendiri, namun jika membuat orang lain untuk melakukannya, rasa bersalahnya menjadi semakin besar.
"Istirahatlah di mansion ini. Besok kalian boleh pergi," ujar Tuan Lee meninggalkan Free Room itu. Kyuhyun dan Sungmin pun menangguk.
"Maafkan aku, Noona. Aku tidak bermaksud membuatmu melakukan hal itu."
Sungmin tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Kyu. Yang penting kau selamat. Oh iya, mulai sekarang kau bisa memanggil namaku. Anggap saja kita ini memiliki usia yang sama."
"Terima kasih, Lee Sung Min."
Kyuhyun tiba-tiba menarik dagu Sungmin. Yeoja itu cukup terkejut, namun ia tidak sempat melakukan apa-apa. Sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya. Ia baru sadar apa yang Kyuhyun lakukan ini, tapi entah kenapa tubuhnya tidak mampu untuk menolak.
Tak lama, Kyuhyun menjauhkan wajahnya dari Sungmin. Namja itu tersenyum.
"Aku telah memutuskan untuk tidak mencari Mate asliku, Min."
Sungmin yang masih tidak mengerti maksud Kyuhyun hanya mampu terdiam sambil melihat punggung namja itu pergi meninggalkannya. Bahkan bibir itu masih jelas terasa di bibirnya.
.
.
.
To Be Continue
Updateeeeee kilaatt!
Mungkin akan ada FF baru nanti. Tetap dengan cast dan genre yang sama. Bedanya hanya di rating. Taulah maksudnya.
Okelah... Seperti biasa kalau udah baca bisa tinggalin jejak di kotak review. Gomawo buat yang udah memberikan suaranya di chapter sebelumnya ^^
.
KAMSAHMNIDA ^^ *Bow
