Disclaimer : Again and again, Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Sebelum pekerjaan menumpuk, author usahakan menulis chapter ini. Semoga memuaskan...
Selamat membaca ;-)
Chapter 9
NORMAL P.O.V.
"Selamat pagi Uchiha ..." sapa lelaki berambut merah itu
"Selamat pagi Namikaze Kyuubi. Ada urusan apa kau datang pagi ini ke tanah milik Uchiha" kata pria berambut raven dengan penuh penekanan pada kata 'tanah milik Uchiha'.
"Kurasa kau sudah bisa mengira jawaban atas kedatanganku. Kau adalah lelaki yang cerdas" kata pria berambut merah yang bernama Kyuubi itu dengan tenang.
Pria berambut raven, Sasuke, hanya menatapnya dengan datar. "Sedikit banyak aku tahu maksud kedatanganmu. Masuklah dan nyamankan dirimu di ruang keluarga. Aku harus mengurus sesuatu dengan pekerja villa ini" kata Sasuke kemudian mempersilahkan tamunya masuk dan membimbingnya ke ruang keluarga di villanya.
Tamunya pun mengikuti dengan sopan dibelakangnya. "Kenapa kita tidak berbicara di ruang kerjamu? Kurasa tempat sebesar ini pasti memiliki ruang keluarga. Apalagi kita akan berbicara urusan yang sedikit pribadi" kata Kyuubi setelah memasuki ruang keluarga di villa Sasuke.
"Aku tidak ingin memasuki ruang kerja itu sekarang, karena sebelum kedatanganmu aku mendapat tamu yang cukup menyebalkan. Lagi pula di sini tidak ada siapapun kecuali aku" jawab Sasuke santai.
"Aku harus melakukan panggilan. Tunggulah di sini sebentar" kata Sasuke lagi sambil meninggalkan Kyuubi di ruang keluarga itu.
End Of NORMAL P.O.V.
SASUKE P.O.V.
Aku segera pergi ke kamar untuk menelepon kepala pelayanku dari sana.
"Yamamoto" kataku setelah mendengar telepon di seberang diangkat.
"Ada apa tuan muda?" tanya Yamamoto di seberang telepon.
"Kerahkan seluruh pelayan dan penjaga untuk mencari Kitsune dan kabarkan keberadaannya segera setelah kalian menemukannya" perintahku pada Yamamoto.
"Baik tuan muda. Akan segera saya laksanakan" jawabnya tegas.
Ku tutup telepon itu dan aku segera bergegas menemui kakak Naru di ruang keluargaku. Saat aku akan menyapanya, dia tampak fokus pada sesuatu dan aku pun mengikuti arah pandangnya.
"Sedang apa kau di sini?!" katanya penuh amarah pada wanita yang barusan memasuki ruang keluargaku.
"K..k...ka...kak K...ky...kyuubi.." kata wanita itu terbata-bata, terkejut dan tampak ketakutan, sedangkan kyuubi hanya menatapnya dengan tajam dan bermusuhan. Hal tersebut membuatku berpikir tentang hubungan mereka.
Aku mengingat kembali cerita Naru tentang kehidupannya. Ayahnya, Kakaknya, pacarnya ah seharusnya mantan pacar Naru sangat berkeras tentang hal itu, lalu sahabatnya yang ... 'Oh! Sekarang aku tahu hubungan apa yang mereka miliki' batinku setelah aku berhasil mengurai masalah yang pelik ini.
"Oh! Jadi kau adalah si sahabat. Sekarang aku mengerti seluruh situasinya.." kataku menengahi situasi yang aneh ini. Kyuubi yang mendengar penuturanku langsung mengalihkan pandangannya padaku dengan penuh curiga.
"... akan kujelaskan nanti. Sekarang biarkan aku mengantar nona Haruno keluar dari villa ini, urusannya di sini sudah selesai." Kataku penuh penekanan sambil menatap wanita itu dengan dingin.
"t...ta..tapi Sasuke... aku..."
"Pulanglah Haruno! Aku ada urusan penting dengan Namikaze Kyuubi saat ini" kataku tegas dan jelas untuk mengusir wanita itu.
Aku pun menarik tangan wanita itu dengan kasar ke arah pintu keluar dan mengeluarkannya dari villa ku tanpa berkata apa-apa.
Segera aku kembali ke ruang keluarga dan di sana sudah menunggu Namikaze Kyuubi dengan tatapan yang garang meminta penjelasan dariku.
"Hhh" aku melepas napas lelah atas apa yang terjadi hari ini. 'Kenapa kejadiannya semakin rumit begini' batinku saat berjalan menuju sofa.
"Jadi... jelaskan saat ini juga apa hubunganmu dengan wanita jalang itu!" kata Kyuubi dengan penuh emosi saat aku baru mendudukkan diri di sofa.
"Dia adalah anak dari salah satu pelaku bisnis di Jepang. Kau juga tahu hal itu." kataku menjelaskan sesingkat-singkatnya pada Kyuubi.
"Aku sudah tahu informasi itu, tapi apa tepatnya yang dilakukannya di sini?" katanya meminta penjelasan lebih lanjut. Yang tentu saja hal itu sudah aku perhitungkan.
"Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia berada di sini. Dia selalu terobsesi padaku" kataku dengan lelah.
"Bukankah tempat ini seharusnya hanya untuk berlibur?" cecarnya lagi.
"Bukankah kau sendiri ada di sini?!" kataku membalikkan kata-katanya.
"Oh ayolah! Kau tahu apa yang ku maksud!"
"Yah... Aku sendiri tidak menyangka dia akan datang kemari. Jika bukan karena salah satu anggota keluarga yang tidak berguna, dia pasti tidak tahu aku ada di sini"
"Maksudmu?"
"Kakakku memberitahukannya di mana aku berada saat ini. Seperti yang kau tahu, dia sangat suka menggodaku" kataku sambil mengernyit mengingat kelakuan kakakku yang menyebalkan
"Ooh... aku mengerti" jawabnya kemudian menerima penjelasanku.
Aku hanya mengangkat alis mendengar pengertian dari cara bicaranya. Biasanya susah sekali membuat alasan pada Namikaze Kyuubi yang terkenal keras kepala dan tanpa ampun.
"Hey, aku tidak bisa mengatakan apapun jika itu menyangkut kakakmu" katanya lagi setelah melihat ekspresiku.
Akupun sedikit santai mendengar jawabannya. "Sekarang jelaskan tujuanmu kemari, Kyuubi" kataku kemudian dengan memanggil nama kecilnya.
"Bukankah kau sedikit-banyak sudah bisa menebak apa tujuanku kemari, Sasuke?" katanya mengingatkan akan argumenku saat bertemu dengannya tadi.
"Kurasa kau sedang mencari adikmu kemari, karena kau tak dapat menemukannya di manapun" kataku santai.
"dan..." katanya lagi. Memintaku untuk meneruskan penjelasanku.
"Kau datang ke tempat yang tepat, tapi di waktu yang salah" kataku menuruti permintaannya.
"Apa maksudmu! Apa yang kau lakukan pada adikku?!" jawabnya emosi sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Tenanglah Kyuubi" jawabku santai.
"Bagaimana aku bisa tenang jika aku belum bertemu dengan Naru!" bentaknya semakin emosi.
"Aku tidak melakukan apapun pada Naru dan dia saat ini masih berada di wilayah tanah pribadi milik Uchiha ini. Aku berani menjamin" kataku memberi jaminan pada Kyuubi.
"Brengsek kau Uchiha! Bagaimana bisa kau tidak mengabari kami jika kaulah orang yang bersamanya selama ini!" Kyuubi berteriak penuh emosi.
"Karena Naru tak ingin aku mengatakannya pada kalian. Bahkan aku harus berpura-pura tak mengenalnya agar dia mau bersamaku. Kau pikir itu mudah!" Kataku penuh penekanan menahan emosi.
"Tapi paling tidak kau bisa memberi kabar pada kami kalau kau telah bersamanya!" jawab Kyuubi masih dengan emosi meski tidak setinggi yang pertama.
"Lalu apa ...? Kau dan ayahmu pasti akan langsung kemari dan mengajaknya pulang dan Naru akan langsung membenciku karena itu!" kataku sambil menatap dingin Namikaze Kyuubi yang sedari tadi dikuasai emosi.
"Tak perlu membantah. Aku tahu bagaimana sifatmu dan ayahmu ..." kataku melanjutkan saat melihat Kyuubi akan membantah. Dia pun menurunkan tubuhnya untuk kembali duduk di sofa dan mulai menenangkan diri.
Kyuubi tampak memegang dahinya dan memijat-mijatnya pelan seperti orang yang sedang sakit kepala. "Kau mungkin benar..." katanya setelah beberapa saat. "... kami memang bukan orang yang sabar ..." lanjutnya lagi sambil mendesah lelah.
"Apa Naru sudah menceritakan masalahnya padamu? Kau tadi menyebut Haruno 'si sahabat' " tanyanya setelah amarahnya mereda.
"Ya. Naru sedikit banyak bercerita tentang kejadian yang menimpanya sampai dia melarikan diri dari Konoha" jawabku tenang.
"Hal ini bermula dari ketidaksetujuanku akan hubungan Naru dengan pacarnya saat itu, sehingga ayah memikirkan pertunangan tanpa seijin Naru" cerita Kyuubi.
"Apa hanya karena pacar Naru saat itu tidak sesuai dengan kriteria keluargamu, maka kalian memutuskan untuk mempertunangkannya dengan lelaki lain?" tanyaku penasaran.
"Bukan itu masalahnya!" jawab Kyuubi mulai emosi lagi.
"Lalu..." kataku meminta penjelasan.
"Sebenarnya berulang kali aku melihat laki-laki itu berjalan dengan banyak wanita dan tampak bermanja. Di saat Naru sedang sibuk dengan skripsi dan pendaftaran S2nya, entah sudah berapa kali aku memergokinya sedang bersama wanita lain. Saat itu kupikir dia hanya sedang jalan-jalan dengan saudaranya atau mungkin teman, tapi saat aku melihatnya berciuman dengan wanita lain dan parahnya itu adalah Haruno, sahabat Naru, aku langsung mengatakan pada ayah bahwa laki-laki itu tidak pantas untuk Naru dan ayah bilang akan memikirkan cara untuk memisahkan mereka" lanjut Kyuubi lebih detail.
"Kenapa kau tidak bilang saja bahwa pacarnya adalah penghianat?" tanyaku penasaran.
"Naru tidak akan mau mendengar hal itu. Dia berpikir bahwa pacarnya adalah laki-laki paling gentleman yang mau mengerti keadaannya" jawab Kyuubi tampak frustasi. "Akupun tak menyangka ayahku menggunakan cara yang ekstrim sampai memaksanya menikah" lanjut Kyuubi tampak menyesal.
"Lalu alasan ayahmu memintaku agar menerima putrinya apakah hanya sebatas ingin memisahkan Naru dengan pacarnya? Tanyaku lagi.
"Tidak!" jawabnya tegas. Aku pun hanya menaikkan alis ku atas jawaban kyuubi itu.
"Ayahku berpikir untuk memperbaiki hubungan keluargaku dengan keluargamu yang sempat terputus karena keluarga Uchiha harus pindah ke Inggris saat itu. Dan karena kau saat ini sedang berusaha membangkitkan bisnis keluargamu lagi di Jepang, maka ayah menganggap itu sebagai kesempatan yang bagus." terang Kyuubi lebih lanjut.
Aku menganggukkan kepala tanda mengerti. "Kau tahu... saat aku menginterogasi Naru, aku sempat lega karena dia tidak membaca perjanjian pernikahan itu, jika tidak dia pasti sudah kabur dariku" kataku pada Kyuubi setelah beberapa saat yang sunyi.
Kriing...kriiing...kriing...
Aku mendengar bunyi telepon. Itu berarti ada kabar tentang Naru.
"Tunggu sebentar Kyuubi, kurasa ini tentang keberadaan adikmu" kataku pada pemuda yang duduk di depanku itu. Mendengar itu Kyuubi langsung menegakkan tubuhnya dan menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana Yamamoto?" tanyaku setelah mengangkat telepon.
"Kami menemukan nona Kitsune di hutan dalam keadaan tidak sadar tuan muda dan keningnya mengeluarkan darah lumayan banyak. Kami tidak tahu apa yang terjadi, tapi kami sudah menghubungi ambulans untuk datang secepatnya.
"Baiklah. Aku akan segera menyusul ke sana" jawabku sambil menutup telepon.
"Apa yang terjadi? Di mana Naru? Bagaimana keadaannya?" pertanyaan demi pertanyaan datang dari kakak yang sedang khawatir itu.
"Sayangnya kita harus segera ke rumah sakit. Naru ditemukan tidak sadarkan diri dan sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit pusat di Iwa" jawabku sambil berdiri dan bersiap akan keluar.
"Apa yang terjadi?!" tanya kyuubi frustasi.
"Jangan banyak bicara dan ikut aku!" perintahku dan Kyuubi pun mengikutiku dengan tergesa.
End Of SASUKE P.O.V.
NORMAL P.O.V.
Rumah Sakit Pusat di Iwa
Mereka sampai di rumah sakit hampir bersamaan dengan ambulans Naru dan bergegas mengikuti brankar yang membawa Naru sampai di depan pintu UGD.
"Maaf, sebaiknya kalian menunggu di luar" langkah mereka dihentikan oleh suster yang kemudian menutup pintu UGD setelah Naru yang tidak sadar di bawa masuk ke dalam.
Waktu terasa sangat lambat saat mereka menunggu dokter selesai memeriksa keadaan Naru. Lima belas menit kemudian seorang suster keluar dari ruang UGD. Melihat itu Kyuubi yang sedari tadi harap-harap cemas langsung menghampiri sang perawat.
"Bagaimana keadaan adik saya suster?" tanyanya dengan tergesa begitu dekat dengan perawat itu.
"Apakah anda wali dari pasien yang barusan masuk?" kata perawat itu balik bertanya.
"Benar suster, saya kakaknya" jawab Kyuubi dengan sangat khawatir.
"Jangan terlalu khawatir tuan, dokter saat ini masih memeriksa kondisi pasien. Tapi saya perlu bantuan tuan untuk segera mendaftarkan adik tuan sehingga data dari pasien jelas dan kami bisa memproses lebih lanjut" terang perawat itu menenangkan.
"Baiklah suster, terima kasih atas informasinya" kata Kyuubi lagi.
Sang perawat pun kembali ke dalam UGD untuk melanjutkan tugasnya. Sasuke yang saat itu memperhatikan interaksi Kyuubi dan perawat itu mendekat ke arah Kyuubi untuk meminta informasi.
"Bagaimana Kyuu?" tanya Sasuke dengan khawatir.
"Sas, aku harus mengurus data diri Naru, tapi otakku terasa kosong" jawab Kyuubi sambil terus melihat ke arah pintu UGD.
"Biar aku yang urus. Kau di sini saja menunggu Naru selesai di periksa" kata Sasuke yang langsung beranjak menuju tempat pendaftaran. "Ah, aku sebaiknya juga menghubungi paman Minato karena keadaan semakin tak terkendali" bisik Sasuke pada dirinya sendiri.
End of NORMAL P.O.V.
SASUKE P.O.V.
Aku berjalan dengan langkah lebar menuju tampat pendaftaran. Aku ingin segera menyelesaikan urusan yang sepele ini dan kembali ke UGD untuk mengetahui keadaan Naru.
"Permisi, saya ingin mendaftarkan pasien atas nama Namikaze Naru" kataku begitu sampai di depan loket pendaftaran.
"Apakah anda wali sahnya?" tanya petugas loket itu.
"Saya adalah tunangannya. Kakaknya saat ini sedang menunggu di depan UGD, jadi saya menggantikannya untuk mendaftar" kataku memberi keterangan.
"Baiklah. Bisakah anda memberi keterangan detail mengenai pasien?" tanya petugas tersebut.
"Namanya Namikaze Naru, usianya 22 tahun, tingginya 160 cm dan berat badannya 45 Kg, dan dia berasal dari Konoha, putri Namikaze Minato" jawabku sambil mengingat-ingat biodata Naru yang diberikan padaku oleh paman Minato.
"Baiklah. Saya rasa data itu cukup untuk saat ini. Kamar apa yang anda inginkan untuk nona Namikaze setelah dia keluar dari UGD?" tanya petugas itu lagi.
"Berikan kamar terbaikmu. VVIP akan lebih baik" jawabku.
"Baiklah. Akan segera kami persiapkan kamar untuk nona Namikaze di ruang VVIP. Silahkan tanda tangan di sini sebagai bukti" kata petugas itu lagi mengakhiri pendaftaran.
Aku segera menandatangani berkas itu dan bergegas kembali ke ruang UGD. Di sana aku melihat Kyuubi masih tampak sangat khawatir. Tampaknya dokter belum selesai memeriksa keadaan Naru.
Saat aku mendekat ke arah Kyuubi, aku dapat melihat pintu UGD mulai terbuka dan Kyuubi serta merta berdiri dan setengah berlari menghampiri dokter yang keluar. Aku pun mengikuti Kyuubi, namun dengan langkah lebih tenang meskipun hatiku merasa khawatir.
"Bagaimana keadaan adik saya dokter?" tanyanya denga tergesa.
"Adik anda baik-baik saja. Lukanya tidak terlalu parah dan sepertinya hanya luka luar saja. Daerah tulang kering bagian bawah mengalami memar, mungkin dia terantuk sesuatu hingga terjatuh dan membenturkan kepalanya dengan benda tumpul. Kita perlu melakukan pemeriksaan lebih jauh tentang keadaannya saat dia sadar nanti. Kami masih belum tahu dampak dari benturan yang dialaminya" jelas dokter tersebut panjang lebar.
"Apakah anda sudah mendaftarkan adik anda?" tanya dokter itu memastikan.
"Saya sudah mendaftarkannya dokter" kataku menyambung sebelum Kyuubi menjawab.
"Baguslah. Berarti pasien bisa segera dipindah ke ruang rawat. Kami akan memantau keadaannya, jangan terlalu khawatir" kata dokter itu sambil berlalu, mungkin untuk memeriksa kondisi pasien lain.
"Kyuu, sebaiknya kau menghubungi paman Minato atau dia akan sangat khawatir" kataku pada Kyuubi setelah beberapa saat.
"Ayah tidak tahu aku berada di sini? Ayah tidak tahu aku datang ke tanah pribadi milikmu! Oh, Tuhan. Bagaimana caraku menjelaskan padanya tentang keadaan Naru?!"
Dia menjerit frustasi.
"Tenanglah Kyuu" kataku menenangkan. "Sebaiknya kita ke kamar Naru dan melihat keadaannya. Kita akan memikirkan alasan yang tepat untuk paman Minato di sana" lanjutku sambil mengajak Kyuubi ke kamar rawat Naru.
Kamar rawat Naru sangat besar. Di sana terdapat tempat tidur untuk penjaga, sofa panjang, ruang tamu lengkap denga tv, ruang makan, serta kamar mandi yang cukup luas. Kamar rawat ini terasa seperti paviliun untuk rekreasi bersama keluarga bukannya untuk orang sakit. Tapi tampaknya Kyuubi tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Dia langsung melihat keadaan Naru begitu memasuki ruang rawat tersebut.
Keadaan Naru cukup memprihatinkan. Luka dikepalanya di perban hingga menutupi seluruh dahinya. Tangannya di pasangi selang infus karena dia tidak sadarkan diri dan juga monitor detak jantung di sampingnya yang menandakan jantungnya masih berfungsi. Naru hanya tergeletak di sana tak berdaya. Aku hanya bisa berharap dia segera tersadar dari tidurnya.
Aku keluar dari kamar itu untuk meninggalkan kakak-beradik itu berdua dan karena aku tidak tega melihat kondisi Naru saat ini. Setelah agak jauh dari kamar itu, aku mengeluarkan ponselku dan menekan beberapa nomor yang cukup aku kenal dan kemudian menekan tombol telepon. Aku menunggu sesaat sampai telepon tersebut tersambung.
"Halo..."
End Of SASUKE P.O.V.
NARU P.O.V.
"Di mana ini? Kenapa begitu gelap dan dingin?" kataku pada diri sendiri. Kulihat sekeliling, tapi yang terlihat hanya kegelapan yang pekat.
"Di mana aku sebenarnya?! Kenapa tidak ada seorang pun di sini?!" aku mulai berteriak dengan frustasi.
Tiba-tiba aku melihat sebuah cahaya kecil dan berjalan mendekatinya. Dalam cahaya itu aku melihat sosok seorang yang tinggi dan berambut gelap dengan gaya rambut sedikit eksentrik, seperti pantat ayam. Sosok yang tiba-tiba membuatku merasa rindu. Aku mendekat dan semakin mendekat pada sosok itu.
"Sasuke!" aku berseru memanggil sosok yang membelakangiku, tapi dia sama sekali tidak menengok atau bahkan menghiraukan panggilanku. Aku berlari agar semakin dekat dengannya, tapi yang kulihat membuat hatiku terasa di tikam belati.
Saat berada dekat dengannya, aku melihatnya sedang memeluk wanita lain. Wanita yang seharusnya menjadi kawan dekatku. "Sakura.." bisikku.
Aku melihat Sasuke memutar kepalanya ke arahku dan kulihat dia hanya tersenyum meremehkan bersamaan dengan itu aku juga melihat Sakura tersenyum mengejek ke arahku.
"Tidak... tidakk... Tidaaakkkkkkk!" aku berteriak sekuat tenaga untuk menyangkal pemandangan menyakitkan yang terpampang dihadapanku. Aku berbalik dan berlari... berlari... dan berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari hal yang menyakitkan itu, tapi anehnya mereka seperti mengikutiku kemanapun aku berlari.
"Hentikan!" teriakku pada bayangan-bayangan menyakitkan itu.
Akhirnya mereka menghilang, meninggalkanku dalam kegelapan dan kesepian.
"Bagaimana bisa setiap orang yang kucintai menyakitiku dan meremukkan hatiku" bisikku lirih.
"Lebih baik aku melupakan semua ini... lebih baik aku tidak ingat apa yang terjadi padaku. Dengan begitu aku akan tetap bahagia tanpa mengalami ini semua... lebih baik aku tetap berada di sini, jadi aku tidak akan mengalami kejadian yang menyakitkan" bisikku dengan terisak. Dan aku mulai menutup mata untuk menghilangkan bayang-bayang yang telah meremukkan hatiku.
'begini lebih baik... begini lebih baik...' pikirku sambil meringkuk dalam kegelapan yang tiada akhir.
End Of NARU P.O.V.
Sementara itu di Konoha, kediaman Namikaze.
"Kemana Kyuubi menghilang hingga semalam ini, bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi" gerutu seorang wanita dengan rambut merah menyala.
"Tenanglah Kushina, Kyuubi sudah biasa pergi jauh dari rumah, bahkan sampai berhari-hari. Kenapa harus mencemaskannya, dia sudah dewasa" kata Minato menenangkan pada wanita yang ternyata bernama Kushina itu.
"Walau begitu dia tidak pernah pergi tanpa pamit, apalagi sekarang Naru juga belum ketemu. Aku tidak bisa kehilangan Kyuubi juga" kata Kushina dengan cemas.
"Tenanglah, dia mungkin pergi mencari adiknya. Bukankah itu prioritasnya sekarang?" kata Minato menerangkan.
"Tetap saja aku cemas. Entah kenapa perasaanku saat ini sangat tidak enak. Apakah terjadi sesuatu pada salah satu anak kita?" kata Kushina semakin cemas.
"Hentikan prasangkamu itu. Jangan sampai hal itu menjadi kenyataan. Kita berdoa saja agar mereka berdua dalam keadaan yang baik" jawab Minato sedikit jengkel dengan kekhawatiran Istrinya yang semakin menambah beban kekhawatirannya sendiri.
"Jika Kyuubi masih belum memberi kabar besok, aku akan melacak ponselnya. Jadi tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa pada anak-anak kita" kata Minato lagi untuk meredakan kecemasan istri tercintanya itu.
Kring...Kring...Kring...
Terdengar suara telepon berdering dan Minato tampak mencari benda yang mengeluarkan suara tersebut. Setelah benda itu berada di genggamannya, dia tampak mengerutkan dahi saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan sedikit ragu dia menerima telepon tersebut.
"Halo..."
Bersambung...
Hope you like the story readers...
Karena author tidak sempat menjawab satu persatu review reader, maka jawabannya akan author jawab di sini...
Byakuren Hikaru83 : Bisa iya... bisa tidak... tetep ikuti ceritaku ya... thanks for your review
Rin SafOnyx : Ini sudah lanjut ya... thanks untuk reviewnya
Kaname : Maaf ya atas keterlambatannya... eike sibuk cyin, tapi tetep eike usahain buat update kok... :D Thanks for your review
Lusy922 : Wew... reviewnya panjang bener... hehehe... baca ceritanya sampai selesai ya, ntar kan tahu ceritanya... Thanks for your review
Zehakazama : Kyaaa... makasih pujiannya ya.. :D (happy banget nie... hehehe...). Ini dah aku update dan usahain secepatnya. Thanks banget udah ngefav and review fic q..
Rose namikaze : ini sudah lanjut... thanks reviewnya.. :)
Jasmine DaisynoYuki : Kyaa... makasih ya antusiasnya... ikuti terus ceritanya... terima kasih reviewnya
Sunrisehime : I am sorry to tell you, but I dont have any intention right now to make her pregnant. Follow the story to know the continuation... thanks a lot for your review
Uzumaki Prince Dobe-Nii : ini sudah lanjut
Guest : pasti berakhir, tapi tidak sekarang Terima kasih reviewnya...
Aiko Vallery : ini sudah dilanjut ya... thanks for your review...
