REMEMBER ME, HANA!
By
QiQi Airin
HunxHan
GS, Romance, Hurt
Disclaimer : semua tokoh milik orang tua mereka masing-masing. Sementara semua kejadian dalam cerita ini adalah murni hasil imajinajis saya :v
Happy Reading :D
_HunxHan_
Chapter 9
Preview : Sehun mendengus kesal. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas. Bagai dikejar setan ia berlari secepat kilat keluar dari mall dan tanpa pikir panjang langsung menyetop taxi. Sehun tak peduli berapa banyak uang yang harus ia keluarkan untuk membayar taxi nanti. Ia hanya ingin cepat sampai ke tempat Luhan berada.
_HunxHan_
Kyung Soo melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh. Ia lalu membereskan buku-bukunya yang tergeletak di atas meja, di antara tiga cup bubbeltea dan tiga piring kecil berisi cake coklat.
"Aku pulang duluan, ya," Kyung Soo mencomot gigitan terakhir cakenya.
Luhan dan Kris yang masih berkutat dengan buku masing-masing langsung menoleh.
"Kenapa cepat sekali? Kita masih belum selesai," ucap Luhan keberatan.
"Aku belum menyiapkan makan malam," Kyung Soo berdiri sambil menyambar tasnya.
"Kalau begitu aku juga pulang," Luhan ikut membereskan bukunya. Melihat itu, Kris langsung berniat menahan Luhan, namun ternyata Kyung Soo mendahuluinya.
"Jangan! Kalian berdua lanjutkan saja dulu," Kyung Soo menoleh pada Kris. "Kalau kemalaman, tolong antarkan Luhan pulang ya!" pintanya pada Kris. Kris langsung mengangguk setuju.
"Tidak apa! aku akan menelpon Sehun Oppa untuk menjemputku," Luhan mengambil ponselnya dari dalam tas. Sayangnya, ponselnya tak bisa menyala setelah beberapa kali ia menekan tombol daya. Luhan baru ingat kalau ia lupa mencharger baterai ponselnya yang tinggal setengah semalam.
"Aku akan menemanimu nanti," Kris menawarkan bantuannya saat melihat ponsel Luhan yang mati.
"Ya sudah, aku pulang duluan ya! Sampai besok!" Kyung Soo langsung beringsut tanpa menunggu respon Luhan atas tawaran Kris. Ia memang tak bisa berlama-lama lagi, walaupun merasa kasihan pada Luhan yang tinggal berdua dengan Kris.
Sampai di luar, Kyung Soo kembali menoleh ke kafe yang berdinding kaca, hingga ia bisa melihat Luhan dan Kris dengan jelas. Sebenarnya Kyung Soo ingin mengajak Luhan ke rumahnya, tapi tak enak dengan Kris. Apa aku hubungi Sehun Sunbae saja ya? Batin Kyung Soo bingung.
Dua orang di dalam itu tampak canggung. Kris seperti sedang berusaha mengajak Luhan ngomong, tapi Luhan hanya merespon seadanya. Kyung Soo tahu Luhan tidak mudah akrab dengan orang baru dan begitu cuek. Ia hanya bisa berharap Kris mampu mengatasi situasi itu.
Mata Kyung Soo membola saat tiba-tiba terlintas suatu ide yang menurutnya hebat. Kris dan Luhan sedang berdua. Mengingat kejadian di gedung olah raga waktu itu, rasanya kurang lengkap jika Sehun tak hadir di sini. Kyung Soo cekikikan sendiri. Sambil berpaling dan jalan pulang, ia mengetik sebuah pesan singkat untuk kakak angkat Luhan itu.
'Sunbae! Bagaimana ini? Luhan dan Kris sedang berduaan di kafe. Sepertinya Kris ingin menyatakan cinta pada adikmu. Kris itu tampan lho! Mungkin sebentar lagi kau akan punya dua adik.'
Kyung Soo terkekeh geli setelah membaca ulang pesan yang ia ketik. Dalam satu klikan, pesan itu pun meluncur ke penerimanya. "Sehun Sunbae pasti panik, hihihihii!"
Kyung Soo tetap memegang ponselnya. Ia yakin Sehun akan menelponnya langsung, karena ia sengaja tak menulis letak kafe tempat Kris dan Luhan berada.
Setelah berjalan sejauh seratus meter, ponselnya baru bergetar. Kyung Soo tersenyum. Tepat dugaan, walau agak lama dari prediksinya. Sehun pasti mencoba menghubungi Luhan terlebih dahulu.
"Yoboss—,"
"YAAAA! Di kafe mana Luhan sekarang?"
Kyung Soo refleks sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar teriakan Sehun. Ia tersenyum geli. Lagi-lagi tepat sasaran. Kyung Soo jadi ingin melihat wajah Sehun yang panik.
"Mereka ada di kafe Olivier (:v) dekat halte," jawab Kyung Soo menahan tawa.
"Kenapa kau meninggalkan Luhan?"
"Aku tidak bisa lama-lama. Lagipula Kris akan mengantarnya pulang nanti."
Beberapa detik lamanya Kyung Soo tak mendengar suara Sehun.
"Sunbae, kau harus segera datang. Jika tidak Kris akan mengantar Luhan pulang—,"
"Arasseo-arasseo!"
Sambungan terputus. Kyung Soo berdecak. "Apa-apaan! Kelihatan sekali marahnya," ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sambil menoleh ke belakang, Kyung Soo tersenyum geli. Kafe tempat Kris dan Luhan berada sudah tak tampak lagi, tapi ia penasaran apa yang akan terjadi nanti. Kyung Soo hanya bisa berharap semoga seniornya itu tidak melakukan hal nekat.
_HunxHan_
"Huaahhh lelahnya," Kris menegakkan badannya yang terasa kaku. Bermenit-menit ia hanya membaca buku pelajaran, membuat matanya berputar. Sementara gadis yang duduk beberapa senti di sampingnya sama sekali tak bersuara, sejak Kyung Soo pergi. Padahal mereka sedang mengerjakan tugas kelompok, tapi sama sekali tak ada diskusi.
Kris melirik Luhan di sampingnya. Gadis itu tampak asyik mencoret-coret bukunya—itu yang terlihat oleh Kris. Beberapa kali Kris mencoba melihat apa yang sedang dilakukan Luhan, tapi gadis itu menutup sisi bukunya dengan buku lain, hingga menghalangi pandangan Kris.
"Boleh aku tahu kau sedang menulis apa?" Kris mencoba mencairkan suasana yang kaku itu. Luhan menoleh padanya. Tanpa diduga, Luhan menggeser buku yang menghalangi tadi dan menunjukkan 'kerjaannya' pada Kris.
Kris terpana. Ia pikir Luhan sedang menulis sesuatu, ternyata bukan. Sebuah kelopak bunga yang ia torehkan dengan pensil tampak indah.
"Bagus sekali. Itu sakura 'kan?" tanya Kris.
Luhan mengangguk. Ia kembali memandangi kelopak yang baru selesai ia gambar. Arsiran halus di beberapa bagian cukup membuat gambar itu hidup. Luhan tak tahu dimana sekarang kelopak yang tadi tak sengaja jatuh ke bahunya saat sedang berjalan. Kelopak sakura itu jatuh sendirian, lalu menghilang diterbangkan angin. Sungguh kasihan.
"Musim semi di Jepang saat ini pasti indah sekali," Kris mengambil ponselnya dari dalam tas, "walaupun di Korea juga banyak sakura," ucapnya sambil menggeser-geser touchscreen ponselnya. Ia menggeser duduknya lebih dekat ke samping Luhan dan memperlihatkan ponselnya, "aku selalu mengambil foto sakura setiap musim semi," ucapnya.
Luhan merasa sedikit tertarik. Ia pun menundukkan wajahnya agar lebih dekat ke layar ponsel milik Kris. Senyumnya mengambang. Foto-foto itu cukup indah. Semuanya sakura.
"Cantik sekali," kagum Luhan. Beberapa helai rambut jatuh melewati bahunya hingga menghalangi layar ponsel dan mengenai tangan Kris yang masih memegang ponsel. Luhan refleks menggeser dan menyematkan rambutnya ke balik telinga. Bibirnya masih tersenyum memandang foto bunga sakura di ponsel Kris. Tanpa minta izin pada Kris, tangannya menggeser layar ponsel untuk melihat foto selanjutnya.
Kris terpana memandang senyum itu. Bertahun-tahun lalu, dan senyumnya semakin indah. Kris serasa bernostalgia. Senyuman itu membawanya terbang ke beberapa tahun silam, saat mereka tertawa bersama, berlari dengan tangan saling menggenggam. Senyuman itu membuatnya tak ingin menahan beban perasaannya.
"Sakura memang sangat cantik," suara Kris pelan. Luhan tak menoleh. Ia tampak tak tertarik dengan ucapan Kris. "Tapi kaulah bunga yang paling cantik."
Tangan Luhan berhenti setelah menggeser slide selanjutnya. Bukan pujian Kris yang membuatnya berhenti, melainkan tampilan foto yang berbeda dari sebelumnya. Tak ada lagi foto sakura mekar yang masih ingin dilihatnya. Di hadapannya sekarang adalah foto dua orang bocah berdiri di depan boneka salju, dengan senyuman lebar. Luhan menelan ludah. Matanya terbelalak lebar. Dua bocah itu, lelaki dan perempuan. Mata Luhan bergantian menatap dua bocah itu. Bocah lelaki itu, walau sedikit berbeda, ia tahu itu Kris. Dan bocah perempuan itu.
Luhan semakin terbelalak. Jantungnya berdetak kencang. Wajah itu miliknya.
"Sesuai dengan namamu," ucapan Kris hanya jeda beberapa detik dari sebelumnya, seolah memberi ruang pada Luhan untuk kekagetannya. "Hana-yo!" dan saat itu juga, Luhan menoleh padanya, dengan seraut wajah terkejut.
Mata terbelalak itu sama sekali tak berkedip memandang wajah Kris. Masih dalam suasana terkejutnya itu, Luhan menggeser duduknya menjauhi namja yang juga masih menatapnya sayu.
Jangan pernah menoleh pada orang yang memanggilmu Hana, karena dia pasti orang jahat
Kalimat peringatan itu langsung berkelebat, berulang-ulang di pikirannya, seolah menyuruh Luhan untuk segera pergi. Tetapi, benarkah wajah tampan yang baru menyebut nama aslinya itu orang jahat? Siapa sebenarnya dia? Dan diri kecilnya yang tampak bahagia dengan bocah kecil di foto itu?
Jangan pernah menoleh pada orang yang memanggilmu Hana, karena dia pasti orang jahat
Suara itu tak henti berkelebat, seolah tak memberi kesempatan pada Luhan untuk berpikir positif sedikit saja. Suara itu seolah menegaskan siapapun orang yang menyebut nama Hana untuknya adalah orang jahat, walau orang itu tampak baik. Seperti Kris.
"Aku tidak salah 'kan?" Kris kembali bersuara melihat Luhan yang bungkam. "Hana! Kenapa kau melupakanku?" lelaki jangkung itu mencoba mendekati gadis yang ia panggil Hana, namun sayangnya gadis itu malah semakin mundur.
Luhan tak bisa bersuara, setidaknya untuk melarang Kris agar tak mendekatinya. Bibirnya hanya gemetar. Tenggorokannya tercekat. Nafasnya mulai tak terkendali. Wajah Kris membuatnya takut. Panggilan Kris membuat tubuhnya gemetar.
"Hana?" Kris tak menyerah. Ia sangat tak sabar ingin mendengar jawaban Luhan.
Posisi duduk Luhan sudah sampai di ujung bangku karena ia terus mundur. Ia nyaris jatuh, namun Kris cepat-cepat bangkit dan menarik tangannya. Posisi Luhan kini berdiri, dengan tangan Kris yang membekap kedua lengan atasnya.
"Lepaskan aku!" Luhan langsung mendorong tubuh Kris. Dengan tangan gemetar ia menyambar tasnya dan bersiap pergi. Luhan tak peduli lagi pada bukunya yang masih berserak di meja. Namun matanya tak sengaja bersirobok dengan layar ponsel Kris yang masih menyala. Gambar dua anak kecil yang tersenyum girang itu membuatnya tercekat.
Luhan terdiam. Tubuhnya tak bergerak. Hanya matanya yang menatap ponsel itu dengan bibir gemetar. Otaknya dipaksa memutar mencari memori yang sama dengan foto itu, padahal ia sebenarnya tak ingin. Dua anak kecil yang tersenyum itu.
"Tidak usah pedulikan mereka, cukup aku saja yang menjadi temanmu."
"Arigatou, Kurisu-kun! Kau baik sekali."
"Oi! Sudah kubilang namaku Kris. Ucapkan dengan benar!"
Luhan tersentak. Bagai tersadar dari mimpi, ia langsung mengalihkan pandangan dari ponsel itu. Gambar tak bergerak itu seolah sedang bicara. Luhan tahu suara-suara yang barusan ia dengar bukan berasal dari foto itu, tapi ia yakin suara itu milik dua bocah yang ada di foto.
"Kau yakin tak mengingatnya, Hana?" Kris menyambar ponselnya, bermaksud menunjukkannya kembali pada Luhan. Namun Luhan langsung menepis dengan tatapan tajamnya.
"Namaku Luhan! Kau salah orang!" tegasnya.
"Benarkah?" Kris tersenyum sinis. Tatapan tajam itu memang tampak tak sedang berbohong, namun ekspresi kaget yang luar biasa setelah melihat ponselnya meyakinkan Kris bahwa ia tak salah orang. "Kalau begitu bagaimana dengan ini?!" Kris memampang gambar ponselnya ke depan mata Luhan dengan gambar yang berbeda. Kali ini sekumpulan bocah yang berada dalam satu kelas, dengan posisi belajar mereka.
Luhan terperangah. Ada sekitar dua puluh anak, mereka semua tersenyum dengan berbagai pose. Luhan tak tahu apakah dirinya ada di dalam foto tersebut. Ia tak ingin mencari. Foto anak-anak itu sudah cukup membuatnya tak nyaman. Di matanya, senyuman-senyuman itu berubah menjadi seringaian.
"Pergi sana!"
"Kami tidak mau berteman dengan anak kotor!"
"Kau dari panti asuhan 'kan?!"
"Kami tahu kau tak punya ayah!"
Air mata Luhan menyeruak. Bocah-bocah dalam foto itu memberondongnya. Suara-suara itu hanya muncul, tanpa ada gambaran asli yang menjelaskan kejadian sebenarnya, membuat kepalanya terasa berputar. Luhan benar-benar tak ingat. Ia tak mau mengingat.
Namun Kris seolah tak peduli. Ia lagi-lagi mengganti gambar yang ia tampakkan, dan kini gambar kakek nenek yang sedang duduk di atas rerumputan. Tak berbeda dengan foto-foto sebelumnya, mereka juga tersenyum.
Luhan perlahan bergerak mundur. Wajah dua orang tua yang tersenyum itu lebih menakutkannya. Ia membekap kedua telinganya, takut jika suara-suara itu muncul lagi.
"Cuci yang bersih atau kau akan tidur kelaparan!"
"Kenapa lama sekali? Dasar tak becus!"
"Sudah kubilang jangan berteman dengan anak-anak di sini! Bikin malu saja!"
"Kau nangis sampai air matamu berganti darah pun ibumu tak akan datang!"
Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata terpejam. Suara pria wanita itu silih berganti menggema di kepalanya. Dengan nafas tersengal ia bergerak mundur, hingga punggungnya menabrak dinding kaca. Luhan tak bisa mundur lagi sekarang. Ia terisak sejadi-jadinya. Wajah dua orang tua itu masih melekat di pikirannya padahal ia hanya memandangnya sebentar. Dan suara-suara itu terus mengulang, berganti-ganti dengan suara anak-anak. Mereka semua membentak, mencaci. Hanya suara dari gambar pertama yang berkata lembut padanya. Suara Kris. Tapi. . .
Kris kebingungan kali ini. Ia tak menyangka Luhan sampai menangis sesenggukan. Kepalanya terus menggeleng dengan mata terpejam. Kris tak tahu, ia tak mampu membaca keadaan gadis itu. Ia juga tak mengerti mengapa Luhan sampai ketakutan hanya melihat foto-foto yang ia tunjukkan. Kris hanya ingin memastikan Luhan mengingat dirinya. Hanya itu.
Pengunjung kafe yang tak terlalu ramai mulai memperhatikan keanehan dua siswa itu. Mungkin mereka menganggap kejadian itu hanyalah pertengkaran sepasang kekasih, dan itu hal biasa.
"Hana!" Kris mendekati Luhan yang masih pada posisi sama. Suaranya kali ini lebih lembut. Ia mencoba menyentuh gadis itu, namun Luhan mendadak membuka matanya, membuat Kris mengurungkan niatnya.
"Namaku Luhan! LUHAN!" gadis itu berteriak, setengah putus asa. Ia benci mendengar sebutan Hana keluar dari mulut namja itu. Hana hanya untuk mamaku.
"Kenapa kau masih menepisnya? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau pikir aku tak akan mengenalimu hanya karena kau mengganti namamu itu?" buru Kris dengan nada sengit. Ia merasa jengah dengan Luhan yang masih tak mau mengakui dirinya.
Luhan sesenggukan. Ia tak berniat menjawab lagi. Pikirannya kalut, benar-benar bingung. Antara ucapan Kris, suara-suara itu, suara dirinya sendiri, Luhan tak tahu mana yang benar saat ini. Ia tak ingin mencari suara-suara dari masa lalu itu. Alam bawah sadarnya selalu menolak saat Luhan ingin memastikan kebenaran satu suara saja. Benaknya takut. Semua bagian psikis dirinya melawan perintah otaknya untuk mengingat. Dan keadaan itu membuat fisik Luhan gemetar. Ia bahkan tak sanggup berdiri. Luhan hanya pasrah saat kakinya tak mampu lagi menopang berat badannya, hingga ia terduduk lemas.
Kris ternganga. Luhan tampak sangat menderita. Tangisnya membuat Kris tak berani berkata apa-apa lagi. Dirinya terlalu bersemangat 'menyadarkan' Luhan tanpa tahu bagaimana perasaan gadis itu, tanpa lebih dulu berpikir penyebab gadis itu tak ingin 'disadari'.
Kris menelan ludah. Orang-orang yang berada di kafe itu mulai berbisik-bisik melihatnya, namun Kris tak peduli. Ia berjongkok di depan Luhan, ingin menenangkannya. Tapi Luhan masih kalut dengan pikirannya sendiri. Matanya terpejam kuat dengan tangan yang masih menutupi kupingnya. Luhan masih menangis sesenggukan.
_HunxHan_
Sehun bergegas keluar begitu taxi yang membawanya sampai ke depan tempat tujuan. Matanya tak lepas dari gedung kafe saat tangannya membuka pintu mobil, dan pemandangan dari balik dinding kaca itu terlihat jelas olehnya. Luhan yang menjauhi Kris hingga terpojok di dinding sampai tersungkur pasrah, dan Kris yang sedang mendekatinya. Sehun tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi ia yakin ada yang tak beres.
"Tunggu sebentar, Pak!" seru Sehun pada supir taxi. Ia bergegas masuk kafe tanpa menutup pintu taxi. Secepat kilat ia menghampiri Luhan dan Kris.
Kris belum menyadari kehadiran Sehun, sampai kakak kelasnya itu menepuk pundaknya saat ia hampir menyentuh lengan Luhan. Kris menoleh. Ia kaget bukan kepalang dengan kehadiran Sehun yang tiba-tiba.
"Minggir kau!" Sehun menarik bahu Kris hingga tubuhnya terjengkang.
Mata Sehun terbelalak melihat kondisi adik angkatnya yang menangis tersedu, meringkuk dengan kedua tangan menutup telinga dan mata terpejam. Tubuhnya gemetar. Sesekali ia menggeleng, entah sedang menepis apa. Luhan tak melihat kehadiran Sehun. Gadis itu seolah disibukkan dengan pikirannya sendiri, yang membuatnya tampak putus asa.
Perlahan Sehun mengulur tangannya dan menyentuh pipi Luhan. Tubuh gadis itu mengejang karena sentuhannya, terkejut, dan langsung menggelengkan kepalanya lebih keras. Sehun pun terhenyak. Luhan benar-benar ketakutan, sampai menepis tangannya. Kondisi Luhan saat ini mengingatkannya kembali pada kejadian di taman malam itu, saat Luhan menghilang dan ia temukan dalam ketakutan yang sampai sekarang Sehun tak tahu penyebabnya.
"Luhan-ah!" tegur Sehun lembut.
Mendengar suara yang sangat ia kenal menyebut namanya itu, Luhan langsung membuka matanya. Isakannya semakin keras begitu wajah Sehun tampak jelas di matanya. Bibir gemetarnya terbata-bata ingin mengucapkan sesuatu.
"O-Oppa! Aku takut," air mata Luhan semakin deras. Kehadiran Sehun menghilangkan suara-suara yang meneror pikirannya, membuat Luhan sedikit lega. Tapi ketakutan itu masih membekas.
Mata Sehun membola. Ia tak salah mengira. Ucapan Luhan pun persis dengan malam itu. Sehun masih ingat jelas bagaimana tubuh Luhan yang gemetar dan wajahnya yang pucat.
Oppa, aku takut sekali.
Sehun membalik badannya, menoleh pada Kris dengan tatapan tajam. Ia maju ke hadapan namja pirang itu. Wajahnya menyiratkan amarah besar.
"Apa yang kau lakukan padanya?!" bentak Sehun dengan nada tinggi.
Kris tak berkutik. Ia sendiri bingung karena merasa tak melakukan sesuatu yang salah, hingga membuat Luhan sampai ketakutan seperti itu.
"Siapa kau sebenarnya, hah?!" Sehun mengepalkan tangannya. Ia hampir meninju wajah Kris saat Luhan tiba-tiba menarik tangannya dari belakang. Sehun menoleh. Ia baru sadar ternyata para pengunjung kafe dan pelayan sedang mengerumuninya. Mungkin mereka mengira akan terjadi perkelahian dan bersiap untuk melerai.
"Oppa!" Luhan membekap lengan Sehun. Kakinya terasa sangat lemah. Perutnya terasa sakit saat ia memaksa berdiri untuk mencegah Sehun bertindak keras terhadap Kris. Ia pun menyenderkan kepalanya di bahu belakang Sehun. "Ayo pulang!" ucapnya sambil memejamkan mata.
Luhan tampak tak bertenaga. Sehun belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ia tak bisa memaksa keinginannya untuk mencari tahu sekarang, karena kondisi Luhan jauh lebih penting.
"Urusan kita belum selesai!" ucapnya pada Kris dengan nada mengancam.
Kris menatap nanar kepergian Sehun dan Luhan. 'Ayo pulang.' Kata itu berkelebat di pikirannya. Luhan sangat bergantung pada Sehun, membuatnya jengah. Kris pernah ada di posisi itu. Dan yang ia inginkan adalah merebutnya kembali. Kris tahu dirinya telah melakukan kesalahan, tapi ia tak pernah menyangka Luhan akan sampai melupakannya. Bahkan Luhan tak mengakui nama aslinya.
_HunxHan_
Sehun membiarkan Luhan terbaring membelakanginya. Gadis itu masih belum tenang. Ia masih terguguk di balik selimutnya.
Sehun duduk di tepi tempat tidur. Pelan tangannya membelai kepala Luhan, berharap gadis itu tenang. Untuk malam ini ia tak bisa bertanya apapun pada Luhan mengenai apa yang terjadi padanya dan Kris. Ekspresi Luhan dalam ketakutannya benar-benar mengganggu pikiran Sehun.
"Luhan-ah. . ." Sehun mencoba membuka percakapan, namun Luhan masih bersikap sama.
Sambil menghela nafas Sehun membuang pandang. Ia nyaris lupa, melupakan semua tentang Luhan sebelumnya, karena belakangan ini dirinya dan Luhan bahagia bersama. Sehun tak pernah lagi melihat wajah Luhan yang murung dalam diamnya. Gadis datar itu mulai sering bicara, tersenyum, bahkan tertawa.
Namun saat ini ia sadar bahwa semuanya tak sebahagia itu. Luhan masih memiliki masa lalu yang tak diingatnya, dan terkadang masa lalu itu menghampiri mengganggu hidupnya. Dan mungkin, Kris merupakan bagian dari masa lalu yang hilang itu.
Sehun berdiri. Ia mengacak rambutnya sambil masih memandang Luhan. Semua masalah tak akan selesai jika ia hanya memikirkannya. Namun sayangnya Sehun tak bisa berbuat apa-apa malam ini. Ia pun beranjak keluar dari kamar.
"Oppa!"
Panggilan lemah itu menghentikan langkah Sehun. Ia kembali menoleh. Luhan kini duduk dengan memeluk lututnya.
"Jangan tinggalkan aku!" pintanya.
Sehun tersenyum. Ia kembali menghampiri kasur dan duduk di samping Luhan. "Aku tak akan meninggalkanmu," ucapnya sambil menyisir pelan poni Luhan.
Bola mata Luhan berputar ke bawah, lalu berganti menatap jendela. Sebenarnya saat ini ia tak ingin memandang wajah siapapun, termasuk wajah Sehun. Setiap wajah yang ia pandang selalu memunculkan wajah-wajah dalam foto milik Kris yang ia lihat tadi, dan suara-suara itu pun ikut berkelebat. Tidak! Luhan menundukkan wajahnya dengan mata terpejam kuat, seolah sedang menghindari belaian Sehun pada kepalanya.
Sehun terhenyak mendapat perlakuan Luhan, tapi ia tidak marah. Sehun kembali mencoba dengan mendekatkan duduknya ke samping Luhan tepat, sementara tangannya menyelinap ke balik punggung Luhan dan berakhir merangkul gadis itu, menarik kepalanya agar jatuh ke pelukannya.
Luhan terisak. Ia tak menolak. Tak masalah Luhan tak ingin melihat wajah Sehun. Ia hanya harus memejamkan mata, dan menikmati rasa lega saat kepalanya menyentuh dada bidang Sehun.
"Aku tak tahu apa yang terjadi hingga membuatmu sangat sedih."
Luhan menggeleng. Salah. Bukan sedih yang ia rasakan sekarang, bukan sama sekali. Takut, shok, cemas. Kris yang menyibak tirai masa lalu membuat ketakutan Luhan yang selama ini terpendam muncul tak terkendali, bagai bendungan jebol yang menumpahkan air bah. Dan lelaki itu, Kris, merupakan bagian dari masa lalunya.
"Kris. . ." lirih Luhan terisak. "Mungkin dia temanku dulu."
Sehun diam. Ia tak terkejut mendengarnya. Dari kemunculan Kris yang tiba-tiba di Everland malam itu, Sehun sudah bisa menduga lelaki jangkung yang sempat ia anggap remeh itu bukan sembarangan mendekati Luhan.
"Mereka semua menghinaku," Luhan melanjutkan ucapannya.
"Mereka?" ulang Sehun.
"Teman-teman sekolahku dulu."
Sehun melepas pelukannya. Terangnya lampu tak memberi cahaya pada wajah gadis tertunduk itu. Luhan masih tak menatapnya. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri setelah Sehun melepas pelukannya.
"Kau ingat semua?" tanya Sehun dengan mata melebar. Terkejut pastinya, mengingat Oh Hyuk pernah mengatakan bahwa Luhan menganggap hilang ingatan yang pernah ia alami adalah memori yang sengaja terlupa. Dan Luhan tak mungkin akan ingat jika tak ada pemicunya.
Sehun mengepalkan tangannya. Ia mulai bisa menebak sekarang. Lelaki dari masa lalu Luhan, Kris, sengaja membawa Luhan kembali ke memori yang telah hilang itu. Sehun belum tahu apa tujuan khusus Kris, namun dugaan yang paling kuat adalah Kris dan Luhan mungkin memiliki hubungan spesial dulu, dan Kris menginginkan hubungan itu kembali.
"Aku tidak ingat," Luhan menjawab setelah jeda panjangnya. "Aku hanya mendengar suara mereka, kakek, nenek, dan Kris juga."
Sehun semakin terperangah hingga memunculkan kerutan tipis di dahinya. Dua orang yang disebut Luhan tak pernah ia dengar sebelumnya. Sehun mendengus menyadari ketidaktahuannya tentang Luhan dibanding lelaki bernama Kris itu. Sepertinya Kris memang sangat mengenal Luhan.
"Luhan-ah!" Sehun mencengkram kuat lengan Luhan. "Jangan kau ingat lagi," tegasnya. "Mereka hanya masa lalu. Jangan kau ingat jika itu menyakiti hatimu," sebelah tangannya meraih dagu Luhan, memaksa gadis itu untuk melihat matanya. "Kau tak perlu lagi mengingat masa lalu, karena kau sudah memiliki masa depan. Kau sudah memiliki aku di sisimu."
Kali ini Luhan tak bisa lagi menghindar. Ucapan Sehun cukup menyembuhkan lukanya, membuat suara-suara itu menjadi samar. Ia pun menatap mata teduh Sehun. Perlahan senyumnya mulai tersimpul. Sehun benar. Jika ia sudah memiliki masa depan, kenapa ia harus takut pada masa lalunya?
"Oppa. . ." Luhan mengulur tangannya, meraih pipi Sehun dan mengusapnya lembut. "Terimakasih! Kau tak akan meninggalkanku 'kan?"
Sehun tersenyum. Ia menarik pelan sebelah tangan Luhan dari pipinya dan mengecup telapaknya lembut. Sebelah tangannya yang lain menghapus sisa-sisa air mata di bawah kelopak mata gadis itu. "Aku tak akan meninggalkanmu. Tak akan pernah," kemantapannya itu berhasil menghilangkan rasa takut dalam hati Luhan.
_HunxHan_
Dengan nafas tersengal dan keringat bercucuran, Luhan berusaha merangkak ke bawah tempat tidurnya, dalam kamarnya yang gelap. Suara di luar sana membuatnya merinding ketakutan. Ibunya yang berteriak meronta-ronta, sementara Luhan hanya bisa bersembunyi. Tak lama kemudian teriakan ibunya hilang, berganti dengan suara pintu kamarnya yang dibuka.
Dari posisinya, Luhan hanya bisa melihat sepasang kaki yang sedang melangkah pelan, menyusuri ruang kamarnya. Luhan membekap mulutnya agar tak mengeluarkan suara sekecil apapun.
Sepasang kaki itu berhenti tepat di depan tempat tidur. Jantung Luhan berdetak semakin cepat. Ia memejamkan mata sambil menahan isakannya, dan hanya bisa berharap pemilik kaki itu tak menemukannya.
Tiba-tiba saja, seseorang menarik tubuhnya dan memaksanya keluar dari bawah kolong. Luhan tersentak kuat. Ia meronta-ronta saat tangan itu menariknya. Luhan terus meneriakkan nama Miwa, berharap sang ibu yang tak ia ketahui bagaimana kondisinya saat ini akan datang menolongnya.
Namun sayangnya, sang ibu tak kunjung muncul.
Luhan tak menyerah. Sekuat tenaga ia menendang-nendang tubuh yang sedang mencengkramnya. Usahanya berhasil. Luhan berhasil terlepas dari cengkraman tubuh itu. Tapi hanya beberapa saat, karena pemilik tubuh itu kembali bangkit dan menghampirinya.
Luhan bergerak mundur. Tubuh itu, tidak jelas itu siapa. Wajahnya tertutup bayang hitam, tak mengeluarkan suara sedikitpun, membuat Luhan ketakutan. Posisinya yang jauh dari pintu membuat Luhan tak bisa lari keluar. Satu-satunya celah yang memberinya harapan adalah jendela kamarnya yang terbuka. Tanpa buang waktu lagi, Luhan segera berlari menuju jendela yang hanya terletak beberapa meter darinya. Ia bersiap meloncat keluar, tak peduli di lantai berapa kamarnya berada, saat tiba-tiba tangannya lebih dulu ditarik dari belakang.
Luhan pasrah. Ia hanya bisa memejamkan mata saat tangannya ditarik, membuatnya terjatuh dari jendela. Luhan tak tahu apa yang diinginkan orang itu, dan ia sama sekali tak bisa melihat wajahnya.
"Luhan-ah!"
Secercah harapan menyinari lubuk Luhan saat mendengar suara yang sangat ia kenali itu.
"Luhan-ah!"
"Haahh?!" Luhan membuka mata dengan tarikan nafas kencang. Sehun menatapnya cemas sambil mengusap keringat di dahinya.
Luhan mengatur pernafasannya yang menyesakkan dada. Mimpi itu lagi. Padahal sudah lama Luhan tak menyaksikan mimpi aneh itu. Dan kali ini, mimpi itu datang walaupun lampu kamarnya menyala.
"Tidurlah lagi. Sekarang masih terlalu malam," Sehun berbisik.
Luhan mengangguk pelan. Setidaknya malam ini ia tak merasakan kepanikan yang luar biasa setelah mimpi itu datang, karena ada Sehun di sisinya. Luhan kembali terpejam, sementara tangan Sehun masih mengelus dahinya.
Mimpi aneh itu. Luhan tak tahu bagaimana ia bisa mendapat mimpi seperti itu. Seorang pria yang mencoba menangkapnya, dalam kamarnya sendiri. Tempat dan kejadiannya selalu sama, dan Luhan pun tak bisa melihat wajah pria dalam mimpinya itu.
Sehun sama sekali tak terpejam semenjak ia berada di kamar Luhan. Ia terus memandangi gadis yang terbaring di sampingnya, sampai tiba-tiba tubuh gadis itu mengejang dalam mata meremnya. Tangannya menggapai-gapai, bahkan kakinya sampai menendang tubuh Sehun. Mulutnya bergerak-gerak menggumamkan sesuatu. Luhan seperti sedang meminta tolong.
Adegan itu persis dengan kejadian beberapa bulan lalu, saat Luhan baru tinggal di rumah Sehun. Saat ini, mungkin Luhan bermimpi buruk karena kejadian dengan Kris tadi.
Mata terpejam itu tampak damai sekarang. Sehun tersenyum. Ia hanya bisa berharap agar Luhan tak bermimpi buruk lagi.
_HunxHan_
Istirahat sekolah, Sehun langsung keluar kelas. Panggilan Joon Myeon bahkan tak didengarnya. Sehun benar-benar tak seperti biasa hari ini. Dan gadis di belakangnya itu—Joon Myeon melirik ke belakang, pun tak menunjukkan keramahan seperti biasa. Hanya wajah murung yang tampak.
"Apa yang terjadi dengan kau dan Sehun?" Joon Myeon memutar kursinya menghadap Baek Hyun.
Baek Hyun tergagap, kaget dengan pertanyaan Joon Myeon yang tiba-tiba. Teman yang paling mengerti perasaannya itu selalu bisa menebak keadaan. Ia lalu buang pandang.
"Tidak ada," jawabnya.
Joon Myeon meringis. "Kau pikir aku tidak tahu! Apa jangan-jangan kau sudah mengakui perasaanmu?"
Baek Hyun langsung menatap tajam Joon Myeon. "Ya!" bentaknya sambil menggebrak meja. "Kau berisik sekali!" Baek Hyun pun pergi keluar kelas meninggalkannya.
Joon Myeon hanya bisa menatap heran kepergian gadis itu. Dari ekspresinya yang berlebihan, Joon Myeon tahu tebakannya benar. Dan melihat sikap Sehun dan Baek Hyun, ia yakin semuanya tak berjalan mulus.
Tak perlu sampai ke kelas Luhan, karena Sehun berpapasan dengan sosok yang ia cari di tengah tangga menuju lantai tiga, dengan posisi Sehun turun ke bawah dan Kris naik ke atas. Tampaknya Kris juga berniat menemuinya.
"Ha—Luhan tidak masuk. Apa dia sakit?" Kris memulai percakapan tanpa sapaan.
Sehun memicingkan mata, memandangnya sinis. "Benar. Kau yang menyakitinya," jawab Sehun datar. Ia turun tiga anak tangga lagi hingga posisinya sejajar dengan Kris. "Kalau kau bermaksud membuat Luhan ingat padamu, maka jangan buang-buang tenagamu. Luhan tak akan mengingatmu!"
Kris menangkap cepat telunjuk Sehun yang menyudut-nyudut dadanya dan menghempaskannya seperti membuang sampah. Ia maju selangkah lagi. Tubuhnya yang lebih tinggi dari Sehun membuatnya bisa mencakar-cakar kepala itu dengan mudah, jika nanti ia kehilangan kesabaran.
"Kau tahu apa tentang Luhan?" pertanyaan Kris bernada menantang, menegaskan pada Sehun bahwa dirinyalah yang paling tahu tentang gadis itu.
"Aku tahu segalanya tentang Luhan, karena dia adalah adikku. Adik yang sangat kucintai. Dan kau," Sehun mengarahkan telunjuknya ke depan mata Kris, "tidak ada hubungan apa-apa dengan Luhan. Jadi jauhi dia dan jadilah junior yang baik!" Sehun membalikkan tubuhnya dan kembali menaiki tangga.
"Kau tak tahu apa-apa tentang Luhan!" Kris berteriak saat Sehun sampai ke atas. Ucapan Sehun membuatnya cukup emosi. Dan saat dirinya bergejolak ingin memberi pelajaran fisik pada pria itu, Sehun tahu-tahu sudah berada di atas.
"Kau yang tak tahu!" Sehun langsung menoleh. "Kau bahkan tak tahu Luhan telah melupakanmu. Bukan kau saja, tapi semua orang-orang yang dianggapnya tak penting. Dan kau salah satunya."
Kris mengepal tinjunya. Ia menarik nafas berat. Darahnya berdesir naik ke ubun-ubun, menandakan emosinya yang memuncak. Ia bersiap menghajar Sehun saat lelaki itu kembali turun menghampirinya, namun beberapa siswa yang berlalu lalang membuatnya harus menahan amarahnya.
"Seharusnya kau evaluasi dirimu sendiri. Apa yang telah kau lakukan pada Luhan hingga membuatnya melupakanmu?" nada bicara Sehun tak sesengit tadi. Kali ini ia bicara untuk memberi nasihat pada Kris, bukan sebagai saingan. "Kalau dulu kau memang akrab dengannya, kenapa Luhan sampai menganggapmu tak penting?!" Sehun berbalik. Usai bicara, Kris tampak termenung dalam diamnya. Sehun tak tahu apakah lelaki jangkung itu menerima ucapannya, atau malah sedang menahan amarah.
"Apapun itu," Sehun menghentikan langkahnya di anak tangga teratas. Ia berujar tanpa menoleh. "Aku tak akan melakukan apa yang telah kau perbuat pada Luhan. Jadi mulai sekarang cukup jauhi dia dan jangan coba mengembalikan jati dirimu atau siapapun dari masa lalunya."
Sehun menyudahi ucapannya dan berjalan kembali menuju kelas. Senyuman kecil tersimpul di bibirnya. Kris yang tak berkutik saat terakhir membuatnya senang. Sehun sengaja tak memberitahukan Kris perihal ingatan Luhan yang memang telah terhapus. Dan sebenarnya, Sehun juga tak tahu pasti apakah Kris termasuk dari 'mereka' yang disebut Luhan telah menghinanya. Namun, mengingat Luhan yang sama sekali menolak ingatan yang diberikan Kris, Sehun bisa mengambil kesimpulan bahwa Kris telah melakukan sesuatu yang buruk pada adiknya, sesuatu yang membuat Luhan tak ingin mengingatnya.
Kris menelan ludah. Bungkam, dengan amarah yang siap meledak. Kris memang tak bisa mengelak dari perkataan Sehun, karena memang itu kebenarannya. Kris telah melakukan kesalahan, tapi ia tak menyangka Luhan akan menganggapnya sebagai masa lalu tak penting.
Kris memang telah melakukan kesalahan seperti yang dikatakan Sehun, tapi apakah seniornya itu tahu mengapa ia melakukan kesalahan? Kris tersenyum sinis. Senior yang sok dewasa itu pasti akan melakukan kesalahan sepertinya jika mengetahui kebenarannya.
Dengan langkah gontai ia menuruni tangga. Kakinya bahkan tak mendarat mulus saat ia menapak anak tangga paling bawah, hingga membuatnya nyaris jatuh jika seseorang yang tiba-tiba datang dan menahannya tidak datang.
"Kau tidak apa-apa?"
Suara perempuan. Kris menoleh. Gadis itu menatapnya khawatir, namun Kris malah menyeringai senang.
"Byun Baek Hae!"
Rasa khawatir Baek Hae berubah menjadi rasa heran. Kris seperti sedang mabuk. Wajahnya tersenyum tak jelas. Dan baru kali ini ia menyapa Baek Hae duluan, bahkan menyebut nama lengkapnya.
"Kau habis terbentur?"
"Kau tidak suka pada Luhan 'kan?"
Baek Hae mengangkat alisnya. Ia tak tahu kemana arah pertanyaan Kris sebenarnya.
"Kau ingin sesuatu yang menghebohkan?" tanya Kris lagi sebelum Baek Hae sempat menjawab pertanyaannya.
Baek Hae tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan wajah penasaran. Jika menyangkut Luhan, gadis yang paling ia benci, asalkan bisa membuat gadis itu tampak hina Baek Hae akan melakukan segalanya.
TO BE CONTINUED . . .
Annyeonghasseoooo :D
Lama tak jumpa *kabuuurrrr :v
Maaf beribu-ribu maaf Qi2 telat lagi updatenya *telat banget kali -_-
Berhubung Qi2 sedang menghadapi problem kehidupan (huueekkkss)
Dan mohon maaf lagi karena kali ini Qi2 nggak balesin review ya :'( Qi2 ucapin terimakasih aja buat kak ramyoon, oh luhan, yousee, ElisYe Het, mydeer, chaa, misslah, SH94LH7, sherly Oh, Luharnshi, Juna Oh, nurhun12495, Yuanita, syielhunna, cheery, ohjasmine12, intan, auliaMRQ, sweety, HunHanCherry1220, Akashi Ryuuna, anggrek hitam, Rara, Agassi9, Oh Hee Ra, , LeeEunKi.
Qi2 ucapkan selamat datang juga buat readers baru :D mudah-mudahan suka sama ffnya :D dan terimakasih yang udah follow ples favoritin.
Mudah-mudahan untuk update chap depannya Qi2 nggak ngilang lagi :v Qi2 akan selalu berusaha untuk tetap cepat update :D Mohon maklumi keterbatasan Qi2 sebagai manusia biasa :'( :v
