"Apa dia menanggapi perasaanmu?"
Seonho memainkan jari-jarinya. "A– Aku tidak tahu. K– Kadang aku merasa dia memberikanku perhatian yang lebih padaku j– juga bersikap manis. T– Tapi aku masih belum yakin."
Saat itu juga Guanlin ingin menenggelamkan diri di lumpur panas bersamaan dengan perasaannya. Ia butuh kamarnya, ia butuh meditasi untuk menenangkan dirinya.
"Kita pulang sekarang."
.
.
.
Critical Beauty
Chapter 9
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T (M for future Chapter)
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
"Tch! Aku benar-benar tidak bisa konsentrasi."
Guanlin memandangi kertas yang penuh dengan coretan angka di depannya. Besok guru kimianya akan mengadakan kuis dan itu artinya dia harus mempelajari deretan rumus-rumus rumit lengkap dengan simbol-simbolnya. Tangannya mengusak surai hitamnya yang sudah berantakan, sedikit putus asa karena otaknya seperti tidak mau menerima kehadiran rumus-rumus yang ia pelajari.
Sebuah erangan frustasi terdengar di ruangan itu. Guanlin tampak menelungkupkan kepalanya di atas meja, mencoba menghilangkan bayangan seorang pria manis berpipi chubby yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya.
"Bodoh." Pria tampan itu tampak membentur-benturkan dahinya ke permukaan meja.
"Guanlin?"
Kegiatan–mari membenturkan dahi–yang sedang dilakukannya itu berhenti ketika sebuah suara masuk ke dalam telinganya. Sontak ia menolehkan kepalanya dan mendapati Minhyun tengah memandangnya aneh dengan sebuah nampan di tangannya.
"Chicken Nugget dan Hot Lime ?"
Guanlin segera membenarkan duduknya, kemudian menganggukkan kepala. Pria bermata sipit bergerak mendekati meja belajar kemudian meletakkan nampan yang dibawanya.
"Yang tadi itu apa?" Minhyun menggeser kursi ke sebelah Guanlin.
"Hum?" Mulut yang tengah penuh dengan nugget itu hanya mengeluarkan sebuah gumaman.
"Kepalamu, kenapa kau benturkan ke atas meja?"
Guanlin meneguk sedikit Hot Limenya. "Sedikit frustasi dengan rumus kimia."
Pria di sebelahnya tertawa pelan, permasalahan anak sekolah, pikirnya.
"Kurasa kau butuh konsentrasi lebih. Sebaiknya aku kembali ke kamarku."
"Hyung, aku butuh saran."
Sebelah alis Minhyun terangkat. "Saran? Tentang bagaimana menyelesaikan soal-soal itu?"
"Aish, bukan..."
"Lalu?"
"Masalah percintaan."
Seketika hening menyelimuti dua pemuda tampan yang saling bertatapan itu. Guanlin menatap penuh harap ke arah hyungnya, sedangkan yang ditatap tampak mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mencerna informasi yang baru saja diterima oleh otaknya.
Jujur saja Minhyun terkejut ketika sepupunya yang tampan itu ingin berkonsultasi masalah percintaan dengannya. Ini yang pertama kalinya selama Guanlin tinggal dengannya. Ia segera menegakkan duduknya, tatapannya berubah serius.
"Kau boleh cerita sekarang."
Pria di sebelahnya menghela napasnya pelan. "Jadi, aku sedang menyukai seseorang." Jemarinya memainkan pensil yang terletak di atas meja. "Tapi sepertinya dia sedang dekat dengan orang lain."
"Apa kau sudah tahu status hubungannya dengan orang itu?"
"Tidak. Dia hanya bilang sedang dekat." Helaan napas kembali meluncur dari bibirnya. "Aku bingung harus bersikap bagaimana."
Minhyun tampak mengangguk-nganggukkan kepalanya paham. "Bagaimana jika kau teus saja mendekatinya? Atau..." Ia menjeda sejenak kalimatnya.
"Kau nyatakan saja perasaanmu padanya."
"He?"
"Segera minta dia jadi kekasihmu."
"What?! Hyung, that's too soon!"
Guanlin kemudian meraih gelas hot limenya dan meneguk habis isinya yang sudah dingin, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering setelah mendengar pernyataan hyungnya barusan. Gila, pikirnya.
"Saat ini pilihanmu hanya ada dua. Membiarkan orang lain mendapatkannya, atau segera nyatakan perasaanmu dan dia jadi milikmu."
"Tapi aku tidak tau status hubungannya sekarang hyung. Bagaimana jika sejak awal mereka memang sepasang kekasih?"
"Setidaknya dia sudah tahu seperti apa perasaanmu padanya." Minhyun menepuk pelan pundaknya. "Semua keputusan pasti memiliki resikonya masing-masing. Kau tidak akan pernah tahu hasilnya jika tidak mencoba."
Pernyataan panjang itu tak mendapatkan respon apapun. Guanlin tampak diam, dahinya sedikit berkerut pertanda bahwa dia sedang berpikir. Pria sipit di sebelahnya tersenyum seraya berdiri dari kursinya.
"Aku akan kembali ke kamarku, jangan tidur terlalu larut." Ucapnya yang dibalas dengan anggukan dari Guanlin.
"Terimakasih hyung."
Senyum Minhyun kembali mengembang. "Anytime brother." Ia beranjak keluar dari kamar Guanlin dengan membawa nampan berisi gelas dan piring yang sudah kosong, kemudian mengucapkan selamat malam sebelum akhirnya menutup pintu.
Tinggallah Guanlin sendirian di kamarnya dengan lampu belajar yang masih menyala dan meja yang berantakan. Kata-kata Minhyun tadi masih terngiang-ngiang di benaknya, sedikit bingung dengan keputusan mana yang harus dia ambil. Jujur saja ia tidak rela jika sampai ada orang lain yang memiliki Seonho lebih dulu daripada dirinya, tapi dirasa terlalu cepat jika ia menyatakan perasaannya.
"Bagaimana jika orang itu sebenarnya adalah kekasihnya? Bisa saja dia sengaja tidak memberitahukan statusnya agar tidak membuat suasana jadi canggung."
Dahinya berkerut, memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja terjadi.
"Aish! Aku bisa gila jika terus seperti ini!" Guanlin mengusak rambutnya frustasi. "Sebaiknya aku tidur saja."
Tangannya bergerak membereskan buku-bukunya dan menatanya kembali di rak. Setelah memastikan semuanya tertata rapi, ia mematikan lampu belajarnya, kemudian beranjak menuju ranjang empuk kesayangannya.
Guanlin melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, netra gelapnya menatap lekat langit-langit kamarnya. Ia menghela napas pelan, senyuman manis itu tidak bisa hilang dari benaknya. Bayangan Seonho yang tertawa lengkap dengan pipi gembulnya membuat senyum Guanlin kembali mengembang.
"Hentikan Guanlin, bisa-bisa kau terlambat lagi akibat terlalu banyak memikirkannya."
Nyala terang lampu utama digantikan oleh nyala temaram yang berasal dari lampu tidur. Pria bersurai hitam itu menyamankan tubuhnya di atas ranjang, bersiap menyelam ke alam mimpi.
.
.
~Buttermints~
.
.
Hari itu Seonho sengaja datang pagi-pagi sekali ke sekolah, semalam ia sudah berjanji akan bertemu dengan Seungwoo sebelum kelas dimulai. Matanya mengedar ke sekeliling lapangan basket, sesekali terdengar helaan napas dari bibirnya karena orang yang dia tunggu tak kunjung datang.
"Ongie senang sekali membuatku menunggu." Bibirnya mulai mengerucut.
"Seonho!"
Seonho menolehkan kepalanya, dia bisa melihat Seungwoo yang tengah berlari menuju tribun tempat ia duduk saat ini. Tak sampai 2 menit, lelaki bersurai dark brown itu sudah duduk di sebelahnya.
"Harusnya aku tidak menyetujui usulanmu untuk bertemu di tribun." Tangannya bergerak mengipasi daerahn wajahnya yang berkeringat.
"Biar saja, hukuman untukmu karena kau terlambat."
"Salahkan Daniel yang menahanku untuk bangun pagi. Dia kembali menarikku ke dalam selimut saat aku akan pergi mandi dan–"
"Cukup, aku tidak mau mendengarkan kisah pagi harimu yang menggelikan itu." Seonho memalingkan wajahnya yang mulai memerah.
"Eyy... itu tandanya dia mencintaiku. Kau tidak tau saat bibirnya–"
"Stop! Ya tuhan Ong Seungwoo! Kau meracuni telingaku."
Tawa Seungwoo meledak saat melihat wajah sahabatnya yang memerah seperti kepiting saus cabai. Menggoda Seonho adalah salah satu kegiatan yang masuk dalam daftar hobinya. Sahabatnya itu akan menampakkan ekspresi yang menggemaskan ketika ia mulai menggodanya, contohnya seperti sekarang.
"Kau itu masih umur berapa, ya tuhan."
"Aku sudah cukup legal untuk merasakan 'kehangatan' dari Daniel." Ia menaik-naikkan alisnya.
Bibir Seonho mengerucut, sedikit sebal karena Seungwoo tak kunjung menghentikan acara menggodanya. "Kalau kau tidak berhenti tertawa, aku batal cerita."
Seketika pria bersurai dark brown itu menghentikan tawanya. Seonho masih setia memandanginya dengan bibir yang mengerucut, tanda dia sedang sebal. Seungwoo lebih memilih untuk menghentikan kegiatan–mari menggoda Seonho–nya daripada harus batal mendengar cerita yang membuatnya penasaran sejak semalam.
"Oke. Aku akan duduk manis dan mendengarkan ceritamu."
"Janji?"
"Janji!" Sebelah tangannya terangkat layaknya orang yang sedang bersumpah.
Seonho berdehem sebelum akhirnya mulai bercerita. "Jadi begini, Guanlin datang ke rumahku kemarin lusa–"
"Dia datang ke rumahmu dan kau tidak memberitahu!– Hmfftt!" Ucapannya terhenti ketika sepasang tangan mendekap mulutnya.
"Jangan teriak-teriak eoh! Janji jangan histeris, baru akan kulepaskan tanganku."
Seongwoo langsung menganggukkan kepalanya dan bernapas lega ketika tangan Seonho sudah terlepas dari mulutnya.
"Oke, lanjutkan."
Seonho melanjutkan ceritanya yang tadi sempat terhenti. Seungwoo tampak duduk manis, mendengarkan sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya, sebelum akhirnya ia kembali berteriak ketika Seonho sampai di bagian Guanlin yang mengajaknya pergi.
"Tunggu! Dia mengajakmu kencan?!" Potong pria bermarga Ong.
"A- Aish! Bukan kencan, dia hanya mengajakku membeli kacamata baru. Uh... tapi setelah itu dia mengajakku makan es krim."
Seonho menutupi wajahnya yang mulai merona dengan sebelah tangannya, sedangkan orang yang ada di sebelahnya kini tengah menatapnya tidak percaya. Sahabatnya ini sungguh beruntung, hanya sekian kali mereka bertemu, lalu Guanlin langsung mengajaknya pergi berdua? Beruntung sekali dia, pikirnya.
"Seonho."
"A– Apa? Jangan menggodaku!"
Tiba-tiba kedua tangan yang menutupi wajah Seonho ditarik dan digenggam erat oleh Seungwoo.
"Kuucapkan selamat padamu! Ya tuhan, aku senang akhirnya cintamu terbalaskan!"
"T– Terbalaskan? Dia hanya mengajakku membeli kacamata eoh. Lagipula aku tidak yakin jika semua kebaikannya itu didasari oleh rasa suka." Seonho menarik tangannya, kemudian mulai memainkan jari-jarinya. "Guanlin hanya sedang menjalankan tanggung jawabnya, ingat itu."
"Tapi aku punya firasat jika dia juga menyukaimu."
"B– Berhenti menggodakuu!" Bibirnya kembali mengerucut dengan wajah yang merona.
"Aku tidak sedang menggodamu, aish! Aku .us, seratus persen."
"Itu tidak mungkin–"
"Ah kenapa kau tidak nyatakan saja perasaanmu padanya?"
"A– Apa? Kau gila?!"
Sungguh ia tidak tahu kemana arah pikiran Seungwoo. Bagaimana bisa ia menyuruhnya untuk menyatakan perasaannya kepada Guanlin, yang benar saja. Lagipula dia tidak tahu posisinya di mata Guanlin, bisa saja dia hanya menganggap Seonho sebagai teman, tidak lebih.
"Hei, kita tidak akan pernah tau jika tidak mencoba." Seungwoo menepuk-nepuk pelan pundah Seonho.
"A– Aku tidak yakin tentang hal itu."
"Cobalah untuk memikirkannya, jangan sia-siakan kesempatan ini. Tak selamanya kau bisa berada sedekat ini dengan Guanlin."
Lelaki berpipi chubby itu menggigit bibirnya, kata-kata Seungwoo ada benarnya juga. Tak selamanya ia bisa berdekatan dengan Guanlin, jika dia tidak segera bertindak, maka habis sudah kesempatannya untuk setidaknya bisa menyatakan perasaannya. Sebenarnya dia tidak menaruh harapan lebih. Bisa jujur tentang isi hatinya pada Guanlin saja dia sudah sangat bersyukur.
"Jadi... bagaimana?"
"Aku akan mengatakannya–"
"Nah! Begitu lebih baik. Aku yakin kau bisa mendapatkannya." Sebuah cengiran lebar tercetak jelas di wajah Seungwoo.
"T– Tapi tidak sekarang. Nanti, tunggu waktu yang tepat."
Seungwoo menghela napasnya. "Kau akan kehilangan kesempatan jika terlalu lama menunggu."
"Aku masih takut." Suaranya terdengar mencicit.
"Jangan takut. Jika dia berani mempermainkanmu, aku akan menugaskan daniel beserta gengnya untuk menghajar pria Cina itu." Seungwoo mengusak pelan surai gelap itu. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."
Bibir Seonho kembali membentuk sebuah senyuman. "Terimakasih Ong, kau yang terbaik."
Seungwoo tertawa renyah. "Santai sajaa! Kita sudah berteman sejak kecil, kau pikir aku mengikutimu sampai disini untuk apa he? Kau itu kan anak polos, juga sedikit bodoh, apalagi kau ini masih perawan, tidak baik meninggalkan bocah perawan sepertimu sendirian."
"Yaaa!"
Sebuah buku tebal berhasil menghantam lengan Seungwoo yang sedang tertawa terpingkal-pingkal..
"Ah! Sakit!"
"Rasakan itu." Ucap Seonho seraya memasukkan kembali bukunya ke dalam tas.
"Aaa~ anak perawan sungguh manis jika sedang kesal~"
"Yakk!"
Keributan itu terus berlanjut dan baru berhenti ketika siswa-siswa lain mulai memasuki area sekolah. Mereka lalu memutuskan untuk masuk ke kelas karena jam sudah menunjukkan pukul 6.45, tepat 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
.
.
~Buttermints~
.
.
Siang itu Guanlin kembali menunggu Seonho di halaman sekolah, mereka akan pergi mengambil kacamata yang kemarin dipesan. Netranya beberapa kali melirik jam tangannya, sudah 15 menit sejak bel pulang berbunyi, namun lelaki yang ditunggu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Niat hati ingin menghubungi Seonho, tapi dia lupa jika tidak memiliki satu pun kontaknya.
"Harusnya aku minta salah satu kontaknya kemarin." Pria tampan itu mulai merutuki kebodohannya sendiri.
"Guanlin!"
Seketika ia menolehkan kepalanya, iris gelapnya mendapati siswa berpipi chubby yang tengah berlari ke arahnya. Guratan kesal yang tadi bertengger di wajahnya langsung berganti dengan senyuman secerah mentari yang mampu melelehkan hati orang-orang yang melihatnya.
"Maaf membuatmu menunggu." Tubuhnya menunduk, berusaha menormalkan napasnya yang tidak beraturan. Kepalanya mendongak ketika sebuah tangan menyodorkan sapu tangan kepadanya. Sedetik kemudian pipinya merona saat matanya menangkap sosok Guanlin yang tengah tersenyum padanya, senyuman itu berhasil membuat hatinya menghangat.
"Lap dulu keringatmu."
"T– Terimakasih." Ia menerima sapu tangan itu, kemudian menyeka keringatnya. "Um... sapu tanganmu akan ku–"
"Bawa saja, kau tidak perlu mengembalikannya." Jawabnya cepat.
Sepasang mata bulat itu tampak mengerjap. "T– Tapi–."
"Kita pergi sekarang, Paman Park sudah menunggu."
Seonho kembali terkejut ketika sebelah tangannya tiba-tiba ditarik. Ia menatap punggung lebar milik orang yang berjalan di depannya, kemudian pandangannya turun ke arah tangannya yang kini digenggam oleh Guanlin. Kepalanya lalu menunduk, tidak berani menatap orang-orang di sekelilingnya yang tengah menatap mereka berdua.
BUGH–
"Ugh!" Pria manis itu mengaduh ketika hidungnya menabrak punggung tegap Guanlin yang berhenti tiba-tiba. Ia mengusap-ngusap pelan hidungnya.
"Masuklah."
Guanlin melepaskan gandengannya kemudian masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Seonho yang masuk setelahnya. Setelah memastikan tida ada yang tertinggal, mobil Toyota SUV putih itu pun meluncur meninggalkan area sekolah.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke optik tempat mereka memesan kacamata, hanya sekitar 20 menit dari 101 International School. Mobil yang mereka tumpangi tampak menepi di tempat parkir yang disediakan oleh pihak toko. Seonho dan Guanlin tampak turun dari mobil secara bersamaan kemudian masuk ke dalam toko, dengan tangan Seonho yang digandeng oleh Guanlin.
'Uff... tenanglah Seonho, jangan sampai kau salah tingkah.'
Guanlin terlihat sedang bicara dengan salah satu pelayan toko seraya menunjukkan bukti pemesanan padanya, sementara Seonho sedang berusaha untuk menormalkan detak jantungnya dan mengontrol rona merah di wajahnya yang sangat kentara.
"Seonho, coba dulu kacamatamu."
Tubuhnya sedikit tersentak, kaget dengan suara berat Guanlin yang memasuki telinganya.
"U– Uhm" Ia merogoh kotak lensnya di dalam tas dan meletakkannya di atas etalase. Setelah membersihkan tangannya dengan tisu basah, ia mulai melepaskan lensnya perlahan dan menyimpannya ke dalam kotak lens. Matanya tampak mengerjap ketika sepasang lensnya sudah terlepas, pandangannya menjadi buram.
Peka dengan keadaan Seonho yang tidak bisa melihat dengan benar, Guanlin dengan sigap memakaikan kacamata padanya. Pria manis itu tampak kembali mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk ke matanya.
"Bagaimana?"
"Wah! Seperti kacamataku yang sebelumnya." Senyuman lebar tercetak jelas di wajah Seonho yang tengah mengedarkan pandangannya. "Terimakasih." Lanjutnya seraya mengalihkan pandangannya ke wajah Guanlin.
"Sama-sama."
Pria bersurai gelap itu membalas senyuman Seonho. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka berdua segera beranjak dari tempat itu menuju mobil yang terparkir di sebelah toko.
"Ah, apa aku boleh minta nomor teleponmu?"
"Hum? N– Nomor telepon?" Guanlin tampak menganggukkan kepalanya. "Uh, b– boleh saja."
Tanpa menunggu lama, pria tinggi itu segera menyodorkan ponselnya pada Seonho. Tangan Seonho sedikit bergetar ketika menerimanya, bagaimana bisa ia gugup hanya karena Guanlin yang meminta nomornya, batinnya. Setelah selesai mengetikkan sederet nomor, jarinya menekan tombol dial dan tak lama terdengar dering ponsel yang berada di kantong Seonho.
"Sudah..." Ujarnya seraya menyerahkan kembali ponsel itu kepada si empunya yang kini tengah tersenyum lebar.
"Terimakasih." Guanlin kembali menyimpan ponselnya ke dalam kantong. " Ah, kau tampak semakin manis dengan kacamata itu." Ucap Guanlin sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
Seonho hanya berharap Guanlin tidak melihat rona merah yang mulai menjalar ke telinganya ketika dirinya naik ke dalam mobil dan bergabung dengan Guanlin yang sudah menunggunya di dalam sana.
.
.
~Buttermints~
.
.
Setelah acara membeli kacamata yang dilakukan selama dua hari bertrut-turut itu, mereka berdua kembali jarang bertemu. Seonho tengah sibuk dengan jam tambahan pelajaran yang baru saja dimulai, begitu juga dengan Guanlin. Menjadi siswa kelas tiga memang sedikit menyenangkan karena materi yang dipelajari tidak sebanyak ketika berada di kelas satu dan dua, namun adanya jam tambahan di sore hari membuat siswa-siswa tersebut jenuh.
Adanya jam tambahan itu membuat Guanlin dan Seonho jarang bertemu. Terkadang mereka tidak sengaja bertemu di kantin kemudian makan bersama, namun momen itu selalu digagalkan oleh teman-teman Guanlin yang selalu menggoda mereka berdua hingga membuat kulit wajah Seonho serupa dengan buah cherry yang sudah matang, lalu ia akan segera pindah ke tempat Seungwoo untuk menyembunyikan rasa malunya karena digoda.
Setelah itu akan ada dua orang yang mengamuk di kantin. Seungwoo yang akan adu mulut dengan Daehwi dan Jihoon karena ia menganggap bahwa mereka berdua telah membully sahabatnya, tak lupa dengan keikutsertaan Samuel, Jinyoung, dan Daniel yang berusaha melerai kekasih-kekasih mereka. Lalu di sisi lain ada Guanlin yang akan memberikan deathglare menakutkan pada teman-temannya.
Namun di balik intensitas pertemuan mereka yang sedikit, hampir setiap hari mereka saling berkirim pesan dan juga chatting. Hal itu membuat hubungan mereka semakin dekat dari hari ke hari dan Guanlin semakin yakin dengan perasaannya.
.
.
~Buttermints~
.
.
DRRT–
Sebuah ponsel berwarna hitam terlihat bergetar di atas sebuah meja kasir, ID bernama 'Guanlin' beserta deretan nomor telepon muncul di layar. Seonho yang baru saja selesai melayani pelanggan bergegas mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama yang tertera di layarnya.
"Halo?"
"Ah, Hai, ini aku."
Seonho segera menjauhkan ponselnya dari telinga dan membaca tulisan yang tertera di layar ponselnya. 'Guanlin? Tumben sekali dia menelpon, biasanya tidak pernah.'
Wajahnya seketika berubah jadi panik. Meskipun ia sering chatting dengan Guanlin, tapi ia tetap merasa gugup jika sudah berbicara langsung dengannya, apalagi secara personal.
"Seonho? Kau masih disana?"
"A– Ah maaf barusan ada pelanggan." Bohongnya.
"Kau sedang di Paperplanes? Ah maaf jika aku mengganggumu."
"Tak apa! Aku hanya menggantikan Minki-hyung sebentar." Jawabnya cepat.
"Syukurlah. Apa sore ini kita bisa bertemu?"
"B– Bertemu?" Rasa gugup itu kembali datang.
"Sore ini jam 5 di Beans and Cream, meja nomor 17, tempatnya tidak jauh dari Paperplanes"
'Beans and Cream? Ah, cafe milik Jonghyun-hyung.' Ujarnya dalam hati, matanya melirik ke arah jam yang terletak di atas pintu masuk. 'Jam 3.45, masih ada banyak waktu untuk bersiap. Ah, tapi sore ini Seungwoo bilang akan datang ke rumah.' Dia tampak menimbang-nimbang sebentar. 'Aku bilang jujur saja pada Ongie sebentarlagi, dia pasti mengerti.'
"Sebenarnya nanti aku ada janji. Tapi tak apa, aku tetap akan datang nanti."
"Hum? Apa benar tidak apa-apa? Jika memang tidak bisa, kita ganti besok"
"Jangan! Um, besok aku harus membantu Minki -hyung sampai sore."
"Baiklah, kalau memang tak apa, kita bertemu hari ini."
"Jadi, jam 5 di Beans and Cream, meja nomor 17."
Guanlin tersenyum di seberang sana. "Good. Sampai bertemu disana."
"O– Oke."
Setelah itu sambungan telepon terputus, tubuh Seonho seketika merosot ke lantai, kaki-kakinya seakan berubah menjadi seperti jelly. Kemudian terdengar suara pekikan tertahan di sana, beruntung saat itu toko sedang tidak ada pelanggan, jadi tidak akan ada yang mengernyitkan dahinya karena mendengar suara-suara aneh.
KLING–
Seonho segera menghentikan acara memekiknya dan berdiri secepat kilat begitu mendengar bel berbunyi, namun sedetik kemudian bibirnya mengerucut ketika tahu siapa yang datang.
"Kenapa wajahmu jelek begitu?" Minki tertawa melihat Seonho yang tengah mengerucutkan bibirnya, tangannya memutar papan bertuliskan 'Open' menjadi 'Close'.
"Hum? Tokonya tutup sekarang hyung?"
Pria cantik itu mengangguk. "Aku ada janji dengan teman-temanku sore ini, jadi tokonya tutup lebih awal."
'Kebetulan sekali.' Ucapnya dalam hati.
"Apa hyung akan kembali ke rumah?"
"Umm... kurasa tidak. Aku akan berangkat dari sini. Kenapa?"
"Aku juga ada janji dengan temanku di cafe sekitar sini. Berhubung hyung tidak pulang, aku akan mandi disini saja." Ia sengaja tidak mengatakan lokasinya, Minki bisa heboh jika tau Seonho akan pergi dengan orang lain selain Seungwoo.
"Ah begitu..." Kepalanya kembali mengangguk. "Pastikan semua terkunci ketika kau berangkat."
"Serahkan saja padaku hehe..." Seonho tersenyum lebar.
"Kau bawa baju ganti kan?" Tanyanya yang dijawab dengan sebuah anggukan pada Seonho
"Ada di belakang."
"Baiklah, ini kuncinya. Ingat pastikan semuanya aman sebelum pergi." Minki menyodorkan kunci yang langsung diterima oleh Seonho.
"Ayey captain!"
.
.
~Buttermints~
.
.
Seorang pemuda tampan tengah memperhatikan bayangannya di cermin. Kaos hitam dengan kemeja lengan pendek bermotif kotak-kotak biru-hitam yang sedikit bigsize sebagai outernya, dipadukan dengan skinny jeans hitam dan sneakers berwarna putih. Surai hitamnya sudah ditata sedemikian rupa, membuat penampilannya semakin sempurna.
Ia tersenyum puas, matanya kemudian beralih ke sebuah buket bunga berukuran sedang yang berisi 99 Red Rose. Yap! Hari ini Guanlin berencana untuk menyatakan cintanya pada Seonho, setelah berpikir dan meyakinkan diri selama kurang lebih 2 minggu. Apapun keputusan Seonho nanti, dia akan mencoba menerimanya, setidaknya dia sudah berusaha kan?
"Woah... kau terlihat tampan."
Kepalanya menoleh ke arah Minhyun yang kini tengah bersandar di ambang pintu dengan tangan yang dilipat di depan dada.
Guanlin tertawa pelan. "Terimakasih hyung hehe. Kau akan berangkat sekarang?"
"Yap, kekasih dan juga teman-temanku sudah menunggu. Kau bawa mobil sendiri?"
Pria berdarah Cina itu menganggukkan kepalanya. "Aku juga akan berangkat sekarang."
"Kalau begitu kita turun bersama, ayo." Ucap pria sipit itu seraya melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Guanlin.
Guanlin segera meraih buket bunganya di atas meja, kemudian menyusul hyungnya yang sudah turun lebih dulu. Minhyun yang sudah berada di luar rumah tampak menunggu adik sepupunya yang menyusul keluar tak lama setelahnya.
"Tidak ada yang tertinggal?" Ucap Minhyun seraya mengunci pintu.
"Kurasa tidak."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Aku berangkat dulu." Minhyun beranjak menuju Audi A5 Coupe hitamnya yang terparkir rapi di halaman rumah.
"Kau juga hati-hati hyung. Sampaikan salamku pada kekasihmu."
"Secepatnya akan kubawa dia kemari." Minhyun tertawa renyah. "Semoga berhasil."
Guanlin menyunggingkan senyumnya seraya melambaikan sebelah tangannya pada Minhyun sebelum akhirnya mobil hitam itu meluncur meninggalkan halaman. Ia menghela napasnya pelan ketika kaki-kakinya berjalan mendekati mobil Porsche 911 Turbo S berwarna hitam, jujur ia merasa sangat gugup.
Ia segera memasuki mobil dan meletakkan buket bunganya di jok yang berada di sebelahnya dengan hati-hati. Lagi-lagi suara helaan napas lolos dari bibirnya, ia memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya menghidupkan mesin mobilnya.
"Kau bisa melakukannya Guanlin."
Mobil itu kemudian bergerak meninggalkan halaman rumah tepat setelah Guanlin mengucapkan kalimat untuk menyemangati dirinya sendiri.
.
.
~Buttermints~
.
.
Suasana di sebuah cafe dengan papan bertuliskan Beans and Cream terlihat sedikit ramai. Kursi di bagian dalam cafe tampak dipenuhi oleh orang-orang yang tengah menikmati kudapan sorenya, sementara suasana halaman belakang cafe tampak sedikit lebih lengang. Beberapa meja dan kursi untuk pengunjung tampak ditata sedemikian rupa di sebuah taman terbuka berukuran sedang. Suasananya sangat cocok untuk menikmati suasana sore hari ditemani dengan segelas kopi hangat dan sepiring pastry atau cake.
Seorang pria dengan kaos longgar berwarna pink tampak duduk manis di salah satu kursi yang disediakan di sana. Sesekali pipi chubbynya tampak sengaja digembungkan seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar cafe, berharap menemukan sosok yang sedang ia tunggu.
Jari tangannya membuka kunci ponselnya dan melihat ke layar homescreennya. "Jam 4.47, kenapa dia belum datang?" Gumamnya. "Aish! Masih 13 menit lagi Yoo Seonho, kau saja yang datang terlalu cepat." Ia mulai mengomeli dirinya sendiri.
"Seonho? Kau disini juga?"
Kepalanya menoleh, seketika kedua matanya membola. "M– Minki-hyung?"
"Woah, kebetulan sekali." Minki tersenyum lebar. "Aku bisa tahu siapa yang akan bertemu denganmu."
"H– Hyung sedang apa di sini?"
"Tentu saja untuk bertemu dengan Jonghyunnie." Tangannya segera mengamit lengan Jonghyun yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Ah, Jonghyun-hyung." Seonho segera berdiri dan membungkukkan badannya.
"Wah Seonho! Lama tidak bertemu." Pria itu tampak tersenyum lebar.
"Seonho? Dia disini?"
Seketika Seonho menoleh ke asal suara yang sangat familiar di telinganya. Matanya kembali melebar ketika tahu siapa yang datang. "Minhyun-hyung!" Pekiknya senang. Bagaimana tidak, sejak Seonho lulus dari Junior High School ia jarang bertemu dengan teman Minki-hyung yang diberi predikat sebagai hyung kesayangan olehnya. Detik itu juga Seonho langsung memeluk Minhyun yang hanya tertawa melihat tingkahnya.
"Aish. Seonho, dia datang dengan kekasihnya, jangan sembarangan memeluk kekasih orang." Minki menjitak pelan kepala Seonho.
"Aduh! Ishh!" Seonho memandang Minki sebal, kemudian pandangannya langsung kembali pada Minhyun yang masih setia dipeluknya. "Kekasih? Mana kekasihmu hyung?"
"Ah, Hyunbin masih ke kamar mandi sebentar. Nanti kukenalkan dia padamu." Minhyun menepuk-nepuk kepala Seonho pelan.
Seonho mengangguk-nganggukkan kepalanya, kemudian kembali memeluk erat hyung kesayangannya itu. "Aku merindukanmu hyung!" Pekik Seonho yang dibalas dengan tawa oleh Minhyun.
Mereka kemudian memutuskan untuk duduk di meja yang berada tepat di sebelah meja Seonho. Pria berpipi chubby itu duduk di sebelah Minhyun dan kembali menempelinya, sedikit melepas rindu dengan hyung kesayangannya sambil menunggu kedatangan Guanlin.
Tak jauh dari sana, seorang pria tampan dengan sebuah buket bunga di tangannya tampak memperhatikan mereka dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan, dia sudah memperhatikan Seonho dan yang lainnya sejak tadi. Dengan tergesa ia mengambil ponsel di kantongnya, dan mendial nomor seseorang.
"Halo hyung, kau dimana sekarang?"
"Aku ada di cafe Beans and Cream. Ada apa hm?"
Pria itu tampak menahan napasnya. "A– Apa kekasihmu sudah datang?"
"Um? Ya, dia sudah disini, bersama teman-temanku juga. Hahaha jangan begitu Seonho-ya, aigoo."
Seketika tangannya meremat kuat buket bunga yang sedang ia pegang. "Baiklah hyung, kututup dulu." Sambungan itu kemudian diputus secara sepihak.
Harusnya ia tidak melakukan semua ini, sebesar apapun cintanya pada pria manis itu, ia tetap tidak boleh melakukannya. Sekali lagi matanya menatap ke arah sekelompok pemuda itu, sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari sana.
.
.
TBC
.
.
Ini panjang banget, hampir 4k, maafkan aku yang terlalu semangat nulis *bow*, kuharap readernim nggak bosen bacanya.
By the way aptop aku udah sembuh dan data-datanya semua selamat yeyy! *sujud syukur*. Betapa senangnya hatiku bisa kembali nulis dengan leluasa XD.
Terimakasih bagi yang udah sabar menunggu dan baca ff ini.
Terimakasih juga bagi readernim yang udah follow, favorite, dan yang setia ngereview, terimakasih banyakk!
Akhir kata, jangan lupa review yaa~
Love
~Buttermints~
