Remake dari novel karya DIANA PALMER dengan judul BELOVED. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Namun demi kepentingan cerita, nama tempat, nama tokoh dan beberapa bahasa penuturan akan saya ubah. Semoga itu tidak merubah makna dari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.

Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.

Selamat menikmati…

.

.

.

.

.

BELOVED

(Remake story from Beloved – Diana Palmer)

.

.

DELAPAN

.

.

.

Keesokan harinya, ketika Sehun pergi bekerja dengan suasana hati yang tidak baik. Efek dari penyesalan semalam yang seolah tak berhenti menertawakannya. Lee Young Ae, sekretarisnya yang sudah setengah baya, mencegatnya di pintu masuk ruang kerja Sehun dengan sebuah pesan mendesak agar Sehun segera mengubungi kantor gubernur, setibanya di kantor. Sehun sudah menebak perihal apa yang ingin dibicarakan gubernur, dan ia mengerang dalam hati. Dia tahu cepat atau lambat Yunho akan menawarkan posisi jaksa agung padanya. Jung Yunho, gubernur yang sangat populer dan juga teman baik Sehun itu bukanlah orang yang mudah untuk dibantah. Sehun sangat mengenal karakter Yunho dengan baik. Dulu, dia dan Luhan pernah terlibat aktif dalam kampanyenya. Sehun kembali mengerang saat dia mengingat Luhan. Dia lebih memilih disuruh menghabiskan satu botol vodka, dibandingkan terus menerus dicekoki rasa bersalah.

"Hai, Tuan Jung," kata Sehun sesaat setelah sambungan telepon ke ruang kerja gubernur, terhubung. "Apa yang bisa kulakukan untukmu?"

"Kau sudah tahu apa yang aku inginkan, Sehun." jawab gubernur itu dengan nada kesal. "Mau atau tidak?"

"Aku perlu waktu kira-kira satu minggu untuk memikirkan hal itu," kata Sehun serius. "Itu bagian dari hidupku yang lalu dan aku belum merencanakan untuk kembali ke posisi itu. Aku tidak suka menjadi tontonan orang, dan aku dengar posisi sedang terbuka untuk jaksa agung di Busan; tempat lamaku."

Yunho tertawa kecil. "Kau cukup populer, dan kau juga seorang yang ahli. Tapi baiklah, pikirkanlah dulu. Aku tunggu sampai akhir bulan. Kau hanya punya waktu dua minggu. Setelah liburan, posisi jaksa agung akan kosong, dan aku harus menunjuk seseorang."

"Aku janji akan mengabarimu pada akhir bulan ini," Sehun meyakinkannya.

"Sekarang, untuk kabar yang lebih baik. Apakah kau akan datang ke pesta natal Kang Haneul?"

"Aku sangat ingin, tetapi saudara-saudaraku mengadakan pesta di Busan dan aku telah berjanji untuk datang."

"Itu bagus. Bagaimana kabar mereka?"

"Sedang putus asa." Sehun tertawa kecil. "Kris menelepon dua hari yang lalu dan mengabarkan bahwa Zitao sedang hamil. Sekarang ketiga adikku harus mencari korban lain yang dapat membuatkan mereka cookies setiap hari."

"Mengapa tidak menyewa tukang kue? Atau membelinya di toko?"

"Oh, mereka tidak suka cookies yang sudah dingin. Dan untuk menyewa tukang kue, itu benar-benar mustahil. Kau tahu, tak ada satu pun tukang kue yang akan tahan menghadapi Jongin." jelas Sehun singkat. Siapapun yang mengenal dekat keluarga Oh, pasti tahu bagaimana karakter bungsu di keluarga itu. Berbeda dengan keempat kakaknya, Jongin terkenal dengan temperamen yang mudah meledak. Sebelumnya sudah ada beberapa tukang masak yang mereka pekerjakan, dan tak ada satupun yang mampu bertahan dengan sikap pemarah Jongin dan tingkah usilnya.

"Bagaimana kabar Luhan?" tanya Yunho tiba-tiba. "Aku dengar pamerannya sukses luar biasa."

Kata-kata itu membuat Sehun tidak nyaman. Itu membuatnya mengingat kembali kesalahan-kesalahan yang dilakukannya pada Luhan. "Kurasa dia baik-baik saja," kata Sehun kaku.

"Err…maaf, aku lupa. Publisitas waktu itu pasti berat untuk kalian berdua. Padahal orang-orang tidak terlalu menganggapnya serius, tapi gosip terus berhembus tanpa henti. Oh, hal itu tentu saja tidak akan mempengaruhi kesempatan politikmu, jika itu alasan kau ragu menerima posisi yang kutawarkan."

"Bukan itu. aku akan bicara lagi denganmu segera, Yunho, dan terima kasih atas tawaranmu."

"Kuharap kau akan menerimanya. Aku memerlukan bantuanmu."

"Kau akan kukabari."

Sehun menyudahi pembicaraan dan menutup telepon, memandang keluar jendela sambil mengingat apa yang baru saja diketahuinya tentang Luhan secara mendadak. Kini dia merasakan sayatan tajam setiap kali membicarakan Luhan. Akan perlu waktu lama bagi Sehun untuk menerima maaf dari Luhan. Itupun jika Luhan mau memaafkannya.

Jika saja Sehun punya cara untuk bicara dengan Luhan, membujuknya untuk mendengarkannya. Sehun sudah mencoba menelepon Luhan pagi-pagi hari ini. Setelah mendengar suara Sehun, Luhan langsung menutup telepon, dan ketika Sehun mencoba lagi yang menjawab hanya suara yang memberitahukan bahwa telepon telah dialihkan. Sepertinya Luhan memblokir nomor ponselnya. Luhan tampak bertekad menghapus Sehun dari kehidupannya. Sehun merasa putus asa sehingga tidak tahu cara apa yang akan dicobanya.

Sehun lalu teringat pada Kwon Boa, temannya dan teman Luhan di masa lalu yang sama-sama menyukai opera dan sering menyaksikan bersama-sama. Mungkin saja, kata Sehun pada dirinya sendiri, dia bisa menggunakan hal ini untuk membuat Luhan mau bicara padanya.

.

.

Selesainya pameran membuat Luhan kini tak punya aktivitas apa-apa lagi untuk dikerjakan. Dia berkeliling dari toko ke toko dengan dekorasi warna-warni khas natal, melihat beberapa pasangan yang membawa anaknya, dan Luhan merasa kecemburuan yang tajam. Dia tidak akan mempunyai anak atau keluarga besar yang selalu diidamkannya. Dia akan hidup terus sampai mati.

Ketika dari sebuah toko mainan, dia melihat kereta-kereta listrik yang melalui bukit-bukit dan bangunan-bangunan kecil, Luhan bertanya-tanya bagaimana rasanya punya anak untuk dibelikan kereta-keretaan itu. Setetes air mata menuruni pipinya yang dingin. Tetapi ketika tetes air mata itu jatuh, dia merasakan rasa hangat yang tiba-tiba di punggungnya. Jantung Luhan meloncat bahkan sebelum dia menengok. Dia selalu tahu jika ada Sehun di sekitarnya. Hal itu semacam radar yang tidak diharapkan dan akhir-akhir ini rasanya semakin menyakitkan saja.

"Bagus, bukan?" tanya Sehun pelan. "Waktu aku masih kecil, ayahku membelikan kami satu set kereta listrik yang lebih sederhana dari itu. Kami sering duduk dan menjalankannya berjam-jam sampai malam, dan bangunan-bangunan kecil itu menyalakan lampu, kami membayangkan orang-orang yang kecil tinggal disana." Sehun menengok ke arah Luhan, dan tersenyum. Pria itu tampak gagah dengan jas kasmir berwarna abu-abu yang menutupi setelan warna biru di dalamnya. Dan dia masih menggunakan tangan palsu yang dibencinya.

"Bukankah ini agak di luar jalurmu?" tanya Luhan tegang.

"Aku suka toko mainan. Ternyata kau juga suka." Sehun mengamati wajah Luhan yang dipalingkan. Rambut Luhan yang berkilau diikat pita panjang hari ini dan dia mengenakan celana panjang berwarna cokelat, sedikit lebih muda dari warna rambutnya dan jas kulit panjang yang melapisi blus sutranya yang berwarna broken white.

"Mainan kan untuk anak-anak." kata Luhan dingin.

Sehun agak mengerutkan dahinya. "Kau tidak suka anak-anak?"

Luhan mengatupkan giginya dengan keras dan memandang mainan kereta-kereta itu. "Apa maksud kata-katamu?" tanyanya. "Aku tidak punya anak. Maaf, permisi…"

Sehun bergerak ke depan, menghalangi jalannya. "Apa Seunghyun tidak menginginkan keluarga?"

Pertanyaan yang terlalu vulgar dan mungkin juga bermaksud mengejek Luhan. Kakak tiri Seunghyun masih di rumah sakit dan belum membaik, dan dari apa yang diinformasikan Seunghyun, kakaknya mungkin tidak akan membaik. Sudah banyak kerusakan pada jantung Dong Gun. Seunghyun harus tetap berada di sana untuk menjaga Sekyung, wanita yang dicintainya, tetapi Sehun tidak tahu apa-apa tentang itu.

"Aku tidak pernah bertanya kepada Seunghyun bagaimana pendapatnya tentang anak-anak." jawab Luhan seenaknya.

"Bukankah kau seharusnya bertanya? Itu kan hal yang penting untuk dibicarakan sebelum dua orang saling membuat komitmen yang kuat."

'Apakah Sehun sengaja mencabik-cabik perasaannya?' pikir Luhan. Namun dia tidak akan membiarkannya kali ini. "Sehun, semua hal ini bukan urusanmu." Katanya dengan suara tercekat. "Sekarang, tolong biarkan aku pergi," kata Luhan gugup. "Aku harus berbelanja."

Tangan kanan Sehun dengan cepat memegang bahu Luhan dengan lembut, tapi Luhan menolaknya seolah Sehun seorang penderita penyakit menular yang berbahaya. "Jangan!" ucap Luhan tajam. "Jangan pernah lakukan itu!"

Sehun menarik tangannya, menunduk memandang wajah Luhan. Wajah wanita itu begitu pucat dan hampir tidak bisa bernapas.

"Tinggalkan saja aku sendiri, oke?" kata Luhan tegang dan pergi meninggalkan Sehun , menyelinap diantara keramaian orang-orang yang sedang berjalan di trotoar. Dia takkan menunjukkan kelemahannya di hadapan Sehun, lagi. Setiap kali Sehun menyentuhnya, dia merasakan getaran sampai ke ujung kakinya dan tidak dapat menyembunyikan hal itu. untung dia bisa pergi sebelum Sehun bisa memperhatikan bahwa bukan kebencian yang membuat Luhan pergi dari sisinya. Luhan hanya ingin menyelamatkan sedikit harga dirinya.

Sehun memandangnya pergi dengan kesedihan yang luar biasa. Semua bisa berbeda, pikirnya, seandainya dia tidak begitu mengkritik tanpa menanyakan terlebih dahulu cerita versi Luhan mengenai pernikahannya yang singkat. Sehun justru terus menghukum Luhan, dan menjauhinya selama bertahun-tahun. Bagaimana dia bisa berharap dapat kembali ke suasana ramah yang bisa Luhan berikan, dalam waktu singkat? Hal itu pasti memakan waktu lama, dan dari apa yang baru saja terjadi, sepertinya Sehun harus berusaha keras.

.

.

Luhan menganggap pertemuan mendadak dengan Sehun sebagai suatu kebetulan yang menyedihkan, dan suasana hatinya berubah membaik ketika dia mendapat telepon dari seorang teman lama yang menawarinya tiket menonton opera. Luhan menerima dengan senang hati, tentu saja. Sudah cukup lama dia tidak lagi menikmati hobinya yang satu ini.

Malam ini Luhan mengenakan gaun malam berwarna hitam dengan tali-tali dan ditutupi oleh selendang beludru di bahunya. Tidak tampak buruk untuk seorang gadis tua, katanya kepada diri sendiri. Luhan naik taksi ke pusat kota, karena mencari tempat parkir pada akhir pekan seperti ini akan terasa sulit.

Tempat duduk yang diberikan padanya cukup nyaman dan tepat untuk melihat hampir keseluruhan panggung. Luhan ingat malam-malam saat dia berada di tempat ini bersama Sehun, tetapi syukurlah, tempat duduk yang biasa dipesan Sehun, saat ini kosong. Jika Luhan tahu ada kemungkinan Sehun datang, dia tidak akan datang ke sini. Seingat Luhan, Sehun sudah menonton pertunjukan ini bersama Irene. Jadi tidak mungkin Sehun mau menontonnya lagi. Sehun bukanlah orang yang senang menyaksikan pertunjukkan yang sama lebih dari satu kali.

Lampu ruang pertunjukkan mulai dipadamkan. Tirai di panggung pun mulai dinaikkan. Orkestra mulai memainkan lagu pembuka. Luhan duduk santai, memangku tas kecilnya, dan tersenyum bersiap menikmati pertunjukkan itu.

Lalu tiba-tiba segalanya menjadi buruk. Ada gerakan di sisi sebelah kiri Luhan, dan ketika dia menengok, seorang pria yang mengenakan setelan berwarna gelap duduk tepat di sebelahnya. Pria itu Sehun.

Sehun melirik cepat sambil mengangguk singkat, lalu menengok kembali ke panggung.

Tangan Luhan meremas tas kecil yang berada di pangkuannya. Bahu Sehun mengenai bahunya ketika pria itu bergerak dan Luhan merasa sentuhan itu seperti api yang membakar seluruh tubuhnya. Tidak pernah seburuk ini sebelumnya. Luhan sudah sering berdekatan dengan Sehun, berbicara berdua, jalan berdampingan bahkan hingga duduk berdekatan yang memaksa terjadinya sentuhan-sentuhan fisik sekilas, namun tidak pernah terasa seperti saat ini. Terasa sakit akibat kerinduan yang berusaha Luhan tekan sekuat mungkin. Ingin rasanya dia menengok ke arah Sehun dan mencari bibir Sehun dengan bibirnya, ingin rasanya mendekatkan tubuhnya pada tubuh Sehun, dan merasakan pipi mereka saling menempel. Keinginan itu begitu mendalam sehingga Luhan gemetaran memikirkannya.

"Dingin?" bisik Sehun.

Wajah Luhan menegang. "Tidak sama sekali," katanya sambil merapikan letak selendang beludrunya.

Tangan kanan Sehun, pelan-pelan diletakkan di belakang tempat duduk Luhan, dan tetap berada di sana. Luhan membeku di tempatnya, hampir tidak berani bergerak dan bernapas. Persis seperti sore itu di depan toko mainan. Apakah Sehun tahu betapa menyiksa bagi Luhan untuk berdekatan dengannya? Mungkin saja pria itu tahu. Ini cara baru yang ditemukan Sehun untuk membuat Luhan membayar atas segala hal yang menurut Sehun dilakukan Luhan, begitu pikir Luhan. Luhan memejamkan mata dan mengerang dalam hati.

Meskipun sangat indah, pertunjukkan opera itu dilupakannya. Dia merasa sangat menderita sehingga cuma bisa duduk dengan kaku dan tidak mendengar apa-apa. Apa yang dipikirkannya hanya bagaimana caranya melarikan diri. Luhan mulai bangkit dari tempat duduknya dan tangan Sehun yang besar menangkap bahunya dengan agak terlalu keras.

"Tetaplah di tempatmu," ucap Sehun kasar, menebak bahwa Luhan akan melarikan diri.

Luhan ragu-ragu, tapi hanya sejenak. Dia sangat ingin kabur kali ini. "Aku harus pergi ke toilet, kalau kau tak keberatan," bisik Luhan di telingan Sehun.

"Oh." Sehun menghela napas dengan berat dan melepaskan tangannya, membiarkan Luhan berjalan di depannya. Luhan minta maaf sepanjang jalan kepada para penonton yang dilaluinya. Ketika tiba di lorong, dia merasa aman. Dia tidak melihat ke belakang dan dengan perasaan senang berjalan tergesa-gesa keluar teater dan menuju lobi. Mudah baginya memanggil taksi pada jam-jam begini. Luhan menghela napas lega sesaat setelah berada di dalam taksi. Dia berhasil. Sekarang dia aman.

.

Luhan pulang ke rumah dengan perasaan yang lebih sedih dari biasanya. Sesampainya di rumah, Luhan langsung mengganti pakaiannya dengan gaun tidur dan melapisinya mantel tipis dari sutra, serta membiarkan rambutnya terurai. Dia menghembuskan napas panjang. Luhan tidak bisa menyalahkan Boa atas kejadian tadi. Bagaimana pun, baik dia maupun Boa tidak bisa menyangka Sehun akan menonton opera yang sama untuk kedua kalinya, terlebih pada malam ini. Sungguh di luar kebiasaan dari seorang Oh Sehun. tepi nasib memang kejam. Luhan sangat ingin menonton pertunjukkan itu, namun kehadiran Sehun telah menggagalkan rencananya.

Luhan sedang duduk di ruang tamu sambil minum kopi ketika tiba-tiba mendengar bel pintu berbunyi. Mungkin saja Seunghyun, pikirnya. Luhan belum mendengar kabar dari Seunghyun hari ini, dan mungkin pria itu mampir untuk bercerita tentang Dong Gun. Luhan pun berjalan ke pintu depan dan membukanya tanpa berpikir. Dan di sanalah Sehun, berdiri dengan ekspresi marah.

Luhan mencoba menutup pintu, tetapi sebelah kaki Sehun yang kuat sudah melangkah ke dalam sebelum Luhan sempat bergerak. Sehun masuk dan menutup pintu di belakangnya.

"Well, masuklah kalau begitu," kata Luhan pendek, matanya yang hitam berkilau dengan emosi tidak senang sambil merapatkan mantel tidurnya.

Sehun menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Dia tidak pernah melihat Luhan mengenakan pakaian selain pakaian formal, sebelumnya. Mantel tidur yang berwarna putih itu semakin mempertegas kulit putih Luhan yang terlihat halus dan lembut jika disentuh. Mantel itu tertutup cukup rapat untuk menyembunyikan payudaranya yang kenyal, namun Sehun menyadari itu. dengan rambut yang terurai indah di atas bahu, Luhan benar-benar menjadi sosok yang sangat menggairahkan bagi pria. Terutama bagi Sehun malam ini.

"Mengapa kau pergi begitu saja?" tanya Sehun lembut.

Wajah Luhan memerah. "Aku tidak menduga kau akan ada di sana," katanya, terdengar hampir seperti tuduhan. "Kau sudah menonton pertunjukkan itu."

"Ya. Bersama Irene," Sehun sengaja menambahkan, sambil memperhatikan wajah Luhan dengan cermat.

Luhan memalingkan wajah. Sehun tampak begitu tampan mengenakan jas gelap, pikir Luhan sedih. Rambut Sehun yang hitam dan lebat itu agak basah, seolah mendung yang sedang mengancam sudah menurunkan sedikit hujannya. Matanya yang gelap mengamati dengan tajam, sangat mengganggu Luhan. Dia tidak pernah memandang Luhan dengan cari ini sebelumnya, seperti binatang buas terhadap mangsanya. Hal itu membuat Luhan gugup.

"Kau mau kopi?" kata Luhan memecah kesunyian yang menegangkan itu.

"Mau kalau kau tidak menaruh arsenik di dalamnya."

Luhan memandangnya jengah. "Jangan memancingku."

Dia mengajak Sehun masuk ke dapur, mengambil sebuah cangkir dan menuangkan kopi untuk pria itu. dia tidak menawarkan krim atau gula, karena tahu Sehun tidak menyukai keduanya tercampur di dalam kopinya.

Sehun membalik sebuah kursi dan duduk mengapir kursi itu sebelum mengambil kopi yang disodorkan Luhan dan meminumnya. Lalu menatap Luhan yang terlihat bingung. "Ada apa?" tanya Sehun.

Luhan mengangkat bahu acuh dan mengambil cangkirnya sendiri. "Dulu kau benci mengenakan itu." Luhan menunjuk tangan palsu Sehun dengan dagunya.

"Aku lebih benci dikasihani. Ini terlihat cukup asli untuk mencegah orang-orang melihat terus."

"Ya." kata Luhan. "Memang terlihat asli."

Sehun meminum kopinya. "Meski tidak terasa asli," bisiknya tanpa emosi. Lalu dia mendongak untuk memandangi wajah Luhan yang memerah karena paham akan sindiran mesum dalam kata-katanya tadi. "Luar biasa, wajahmu masih memerah seperti itu, dalam usiamu," kata Sehun.

Tidak begitu luar biasa kalau saja Sehun tahu betapa Luhan masih sangat polos untuk usianya yang sudah dewasa, tetapi dia tidak akan membagi rahasia paling pribadinya kepada musuh. Sehun mengira dia dan Seunghyun adalah sepasang kekasih, dan Luhan akan tetap membiarkan Sehun menduga seperti itu. Tetapi sindiran dengan alasan dia menggunakan tangan palsu cukup memalukan dan mengesalkan. Luhan tidak suka jika Sehun mengetahui dirinya cemburu pada siapa pun partner sex-nya. Dia harus menyembunyikan itu dari Sehun.

"Aku tidak peduli bagaimana rasanya, atau terhadap siapa," kata Luhan kaku. "Sesungguhnya, aku tidak tertarik dengan kehidupan pribadimu. Tidak lagi, Sehun."

Sehun menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Ya, aku tahu." Dia menghabiskan kpoinya dalam dua kali teguk. "Aku merindukanmu," katanya singkat. "Segalanya tidak sama lagi."

Jantung Luhan seolah melompat tapi dia tidak mengangkat wajahnya sehingga Sehun tidak dapat melihat betapa gembiranya Luhan mendengar perkataan Sehun itu. "Kita dulu teman. Aku yakin banyak teman-temanmu yang lain. Termasuk Irene." ucap Luhan lrih, mengalihkan rasa gembiranya.

Sehun menarik napas lagi dengan keras. "Aku tidak menyadari betapa kau dan Irene saling tidak menyukai."

"Apa bedanya setelah kau tahu?" Luhan memandangnya sambil tersenyum mengejek. "Aku bukan bagian dari hdiupmu."

"Dulu ya," balas Sehun tenang. "Aku tidak menyadari betapa kau merupakan bagian dalam hidupku, hingga kini dan sudah terlambat."

"Beberapa hal memang lebih baik ditinggalkan saja," kata Luhan menghindari. "Mau tambah kopinya?"

Sehun menggeleng. "Kopi membuatku terjaga. Yunho menelepon dan menawariku posisi jaksa agung," katanya. "Aku punya waktu dua minggu untuk memikirkannya."

"Kau dulu seorang jaksa agung yang hebat," Luhan mengingat-ingat. "Kau melakukan banyak pengesahan yang baik melalui majelis umum."

Sehun tersnyum sedikit, sambil memperhatikan cangkir kopinya sendiri. "Hidupku dulu menjadi tontonan orang-orang. Aku tidak suka itu."

"Itu resiko dari sesuatu yang baik."

Sehun memandang Luhan lekat-lekat. "Ceritakan apa yang terjadi pada malam mereka membawamu ke rumah sakit."

Luhan mengangkat bahu. "Aku minum dan mabuk."

"Dan pistol itu?"

"Karena tikus." Luhan melihat ke arah lemari es. "Tikus itu ada di bawah sana, aku bisa mendengarnya. Dia tidak bisa ditangkap dengan perangkap dan dia sudah kebal. Ketika aku mabuk, aku memutuskan untuk menembaknya seperti Wesley Gibson di film Wanted. Tapi aku tidak berhasil."

Sehun tertawa kecil. "Sudah kuduga. Kau bukan orang yang akan bunuh diri."

"Kau satu-satunya orang yang berpikir begitu. Bahkan dokter Shim tidak percaya padaku. Dia ingin aku diterapi," kata Luhan dengan nada mengejek.

"Orang-orang berpesta dengan berita itu. Kurasa Irene punya andil dalam memanas-manasi ceritanya."

Luhan menengok, terkejut. "Kau tahu?"

"Aku baru tahu setelah dia bercerita, waktu itu sudah terlambat untuk melakukan apa-apa. Gosip sudah tersebar dengan cepat." kata Sehun pelan. "Aku tak tahu berapa banyak orang yang percaya cerita yang disebarkan oleh Irene dan sepupunya itu."

Luhan bersandar di kursinya dan menatap Sehun datar. "Bahwa aku melakukannya karena cinta padamu?" katanya perlahan sambil tersenyum misterius. "Kau melukaiku dengan menuduhku membunuh suamiku," katanya datar. "Aku memang berusaha terlalu keras dan menjadi depresi lalu melakukan sesuatu yang bodoh. Tetapi aku berharap kau tidak percaya aku akan duduk menangis setiap malam sambil minum minuman keras karena cinta yang tidak dibalas olehmu!"

Nada suara Luhan memukul Sehun sampai dasar hatinya. Dia bangkit perlahan dari duduknya dan matanya mnyipit saat menatap Luhan.

Luhan berada dalam keadaan tidak menguntungkan. Dia hanya pernah melihat Sehun kehilangan kesabarannya sekali. Dia tidak pernah melupakan saat itu dan tak ingin mengulanginya.

"Sudah larut," kata Luhan cepat. "Aku ingin tidur."

"Apakah kau benar-benar ingin tidur?" pandangan Sehun diarahkan perlahan ke tubuh Luhan saat mengatakan itu, suaranya begitu sensual sehingga telapak kaki luhan yang tidak beralas kaki itu merinding. Luhan tidak mempercayai pandangan itu. dia mencoba melewati Sehun tetapi sebelah tangannya tiba-tiba dicekal oleh tangan Sehun yang berotot. Sehun bergerak mendekat, mengangkat tangan Luhan dan menyelipkannya pada kelepak jasnya yang berbahan lembut, sehingga Luhan dapat merasakan tubuh Sehun di balik kemeja katunnya yang tipis. Luhan dapat merasakan betapa kokohnya dada Sehun yang bidang itu, debar jantung Sehun yang cepat, dan napasnya yang terasa di dekat rambutnya. Luhan tidak pernah sedekat ini dengan Sehun. dia merasa semua indranya yang telah mati, kini kembali hidup dengan segera dan meledak-ledak karena sensai fisk yang mendebarkan. Luhan seketika merasa takut.

"Sehun, lepaskan!" kata Luhan dengan suara parau dan terburu-buru.

Sehun tidak melepaskannya. Dia tidak bisa melakukan itu. merasakan Luhan dalam pelukannya melampaui semua angan-angannya. Wanita itu terasa lembut dan hangat dengan wangi yang seperti bunga. Sehun menikmati semua itu dan merasakan Luhan mulai gemetar. Sehun menyadari getaran itu. Tangannya melepaskan tangan Luhan dan berganti meraih tengkuk Luhan, kemudian meremasnya lembut. Luhan merasa tidak berdaya. Sementara Sehun berjuang untuk mengontrol dirinya. Dia tidak boleh melakukannya sekarang. Ini terlalu cepat. Sangat terlalu cepat.

Napas Sehun semakin cepat. Luhan dapat mendengarnya, merasakannya. Pipinya ditempelkan pada pipi Luhan dengan kasar, seolah dia begitu ingin merasakan tekstur kulit Luhan. Cambang Sehun yang pendek agak menusuk-nusuk, tetapi hal itu malah lebih sensual buakn menganggu.

Jantung Luhan terpacu cepat seperti halnya jantung Sehun. Dia ingin mundur, ingin lari, tetapi tangan Sehun yang mencekalnya tanpa ampun itu tidak akan melepaskannya. Malah, tangan itu semakin erat menggenggamnya dan membelai rambutnya yang panjang.

Luhan tidak lagi melindungi dirinya. Sehun merasakan penyerahan diri Luhan dan tubuhnya menegang. Luhan merasakan bibir Sehun sangat dekat dengan bibirnya, dapat merasakan napasnya ketika Sehun membuka bibirnya.

"Jangan…." suara Luhan yang pelan sehingga nyaris tidak terdengar.

"Sudah terlambat," kata Sehun kasar. "Ini sudah terlambat bertahun-tahun. Ya Tuhan, Luhan, berikan bibirmu kepadaku!"

Luhan mendengar suara serak dan lembut dalam ketidaksadarannya. Tangannya yang gemetar mencoba mendorong dada Sehun. Tetapi seperti kata Sehun, sudah terlambat.

Sehun mendekatkan kepalanya hanya beberapa sentimeter dengan Luhan, dan bibirnya yang keras dan panas bergerak di atas bibir Luhan yang terbuka. Bibir Sehun menjelajah dan meminta. Ada keraguan sesaat, hampir seperti shock, saat getar-getar listrik yang sensual melanda mereka. Sehun merasa bibir Luhan bergetar, dia menikmati dan mengecap bibir itu.

Sehun mengerang, bibirnya terus menjelajah bibir Luhan. Tangannya memeluk tubuh Luhan, tangan kirinya yang menggunakan tangan palsu menahan pinggang Luhandengan erat, sementara tangan kanannya membelai lembut leher Luhan menelusuri penuh sensualitas.

Luhan menegang merasakan kekuatan penuh dari bibir Sehun, merasakan ciuman yang sudah diimpikannya bertahun-tahun tiba-tiba menjadi kenyataan. Aromanya seperti kopi. Bibir Sehun menuntut, dan terus bergerak sensual pada bibirnya. Luhan tidak memprotes. Perlahan Luhan menyandarkan diri pada Sehun, menikmati beberapa detik paling menyenangkan dalam hidupnya seolah tak pernah berharap akan merasakan sesuatu yang begitu mendalam lagi.

Respon Luhan mengejutkan Sehun, karena tidak seperti seorang wanita yang berpengalaman. Dia membiar kan Sehun menciumnya, menyandar manja padanya, bahkan tampak menikmati hasrat Sehun yang liar; tetapi wanita itu tidak membalas sedikit pun. Seolah dia tidak tahu bagaimana cara merespon.

Sehun mundur perlahan. Matanya yang gelap dan tajam menatap Luhan dengan kesombongan sensual yang lebih dari sekedar ingin tahu. Inilah Sehun yang tak pernah dikenal Luhan. Pria penuh hasrat yang ahli tentang wanita. Hal itu terlihat nyata bahkan hanya dari cumbuan singkat yang tidak berlanjut ini. Luhan takut karena dia tidak memiliki pertahanan atas hasrat Sehun, dan ketakutan itu membuatnya mendorong dada Sehun.

Sehun melepaskannya tiba-tiba. Luhan bergerak mundur, wajahnya merah seperti sedang demam atau malu. Dia bersandar pada tepi meja makan.

Sehun memandangnya dengan penuh gairah, matanya tertuju pada bagian tubuh Luhan yang menunjukkan gairah dalam diri Luhan, puting yang menegang tegak di balik gaun tidurnya yang tipis. sehun tidak pernah bermimpi dia dan Luhan akan menyalakan api gairah sedasyat ini. Dalam tahun-tahun persahabatan mereka, Sehun tidak pernah mendekati Luhan secara fisik. Dan malam ini, Sehun merasa seolah dirinya tenggelam dalam lautan gairah yang menyesakkan.

Luhan berjalan ke pintu belakang dan membukanya dengan tenang. Dia masih tampak luar biasa cantik dengan bibirnya yang membengkak akibat ulang Sehun. bahkan lebih cantik karena Luhan pun sedang menahan gairahnya sendiri.

Sehun mengerti keinginan wanita itu, tetapi dia berhenti di depan pintu yang terbuka dan memandang ke arah Luhan yang memalingkan muka. Luhan tampak sangat bingung untuk ukuran seorang wanita yang pernah memiliki kekasih. Sehun tiba-tiba merasa dirinya siap berperang dan cemburu dengan pria paling penting dalam hidup Luhan.

"Seunghyun sungguh beruntung," katanya kasar dan sinis. "Apakah ini yang dia dapatkan setiap kalian berkencan?"

Mata Luhan yang terbakar amarah mengarah pada Sehun. "Keluar kau dari sini!" Luhan berusaha mengatakan itu melalui tenggorokannya yang tercekat. Dia menarik mantel tidurnya semakin rapat dan mencengkramnya di atas tenggorokannya. "Pergi. Pergi saja. Tolong pergi!" ucap Luhan gusar.

Sehun berjalan melewati Luhan, ragu-ragu ketika sampai di depan pintu, tetapi Luhan menutup pintu setelah dia keluar dan menguncinya. Luhan kembali ke dapur dan berjalan melewati lorong menuju kamarnya, lalu barulah dia menangis. Dia terlalu terguncang untuk mencoba mencari tahu apa motif Sehun di balik ciumannya yang penuh gairah itu. tapi Luhan tahu, pastilah itu salah satu cara baru Sehun balas dendam atas kematian Donghae. Sehun tidak akan bisa melukainya lagi, Luhan bersumpah. Dia hanya berharap seandainya tadi dia tidak terlalu bodoh membiarkan Sehun menyentuhnya sejak awal.

.

Sehun berdiri di dekat mobilnya, membiarkan hujan menghapuskan panas yang menjalar di seluruh tubuhnya. Dia gemetar sambil menempelkan dahinya pada atap mobil yang dingin dan bersyukur karena berhasil keluar dari rumah Luhan sebelum melakukan sesuatu yang lebih bodoh dari yang sudah dilakukannya.

Luhan sudah menyerahkan dirinya. Sehun bisa saja memilikinya. Dia hampir saja tidak mampu menahan dirinya. Kesadaran yang luar biasa, mengingat seorang wanita yang dibencinya bertahun-tahun bisa membangkitkan gairahnya dengan cepat dan menjalar dalam dirinya. Bahkan Seolhyun tidak pernah mempengaruhi gairahnya sekuat itu.

Sehun tidak benar-benar bermaksud menyentuhnya. Tetapi tubuh Luhan yang luar biasa indah itu, dibungkus mantel tipis dan pakaian tidur yang feminim telah membuatnya sangat bergairah. Dia masih dapat merasakan bagaimana bibir Luhan yang lembut dan manis di bibirnya sendiri, dia masih dapat merasakan tubuh Luhan yang ditekankan pada tubuhnya. Semua itu hampir membunuhnya!

Sehun mengepalkan tangannya dan mencoba bernapas pelan hingga dirinya lebih santai. Setidaknya Luhan tidak melihatnya tidak berdaya seperti saat ini. Jika Luhan tahu betapa rapuhnya dia, Luhan mungkin ingin melakukan sedikit balas dendam. Dia tidak akan menyalahkannya, tetapi harga dirinya tidak akan membiarkan itu terjadi. Luhan bisa saja memutuskan untuk merayunya dan kemudian membiarkannya merana. Itu akan menjadi balas dendam paling kejam, karena dia tahu Luhan adalah kekasih Choi Seunghyun. Dia mula membayangkan Luhan menceritakan pada Seunghyun semua yang dilakukan Sehun padanya dan menertawakannya, mengingat betapa mudahnya Luhan telah menaklukkannya. Seunghyun adalah kekasih Luhan. Kekasih Luhan. Ya Tuhan, pikiran itu membuat Sehun mual!

Sehun bisa mengerti mengapa Seunghyun selalu berada di sekitar Luhan. Kini dia merasa sedih mengingat dia bisa saja menghalangi Seunghyun mendekati Luhan bertahun-tahun yang lalu. Seandainya dia tidak begitu buta dan berprasangka. Luhan bisa dimilikinya. Tetapi sebaliknya, kini wanita itu milik Seunghyun, dan dia hanya bisa menerima kebencian Luhan atas perlakuannya selama ini pada Luhan. Sehun tidak bisa membayangkan Luhan masih mencintainya.

Akhirnya Sehun masuk ke mobilnya dan menyetir dengan marah. Persetan dengan Luhan yang membuatnya kehilangan kontrol, pikirnya, tidak ingin mengingat bahwa dialah yang memulai semuanya. Dan persetan dengan dirinya sendiri yang membiarkan Luhan melakukannya! Sehun kembali menyalahkan Luhan atas kekacauan yang dia rasakan.

.

.

.

.

HUNHAN

.

.

.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya

.

.

.

Cuap-cuap gak penting:

Oke. Ini lama up date, dan saya baru sadar setelah bocah rataku nan mesum (read: ohshehoon) yang nagih dan bilang, "ini udah seminggu loh."… oh God, sudah selama itukah. Maaf yaa…

.

Buat yang nanya ini happy ending gak? Tenang aja, saya gak suka misahin Hunhan di epep. Terlalu kejam rasanya kalau di dunia imajinasi yang seharusnya penuh bunga-bunga ini, Hunhan harus kembali ternistakan. LDR itu perih jendral.

.

Next,

Buat semua reader, baik yang nge-review atau yang nyumput kolong kasur, makasih banyak masih sudi ngebaca ni epep remake.. *bow

Buat guest yang nge-review pake nama jimjom, thanks a lot..akhirnya ada yang sadar klo thor itu udah om-om. Bhaks

Buat JunaOh : kak Juna, aku padamu. *kecupbasah

.

Sorry for typo yang bertebaran kayak bulu ketek rontok