Cast:
Oh Sehun (31thn)
Oh-Kim- Jongin (30thn)
Oh Haowen (4 thn)
Rated : K/T
note : Maaf jika ceritanya membosankan, kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri dan perbaikan saya dalam menulis. terimakasih banyak atas apresiasinya.
Happy Reading ^^
"Hunniee…. Sekarang saja! Ayo cepat!"
"Masih terlalu pagi, Bear. Jam 10 nanti kita ke sana, ya?"
"Kau tidak tahu… Sekarang pasti sudah buka."
"Jong-"
"Sehuuuuun~"
Beruangnya merengek berhasil membuat Sehun menghela napasnya panjang. Jonginnya keras kepala sekali.
Kau penasaran apa yang terjadi sekarang?
Jongin dan Sehun baru tidur sekitar jam 3 pagi dikarenakan nafsu Sehun yang membuncah bahkan hampir meledak. Ingat! Hampir meledak. Sehun dan Jongin hanya make out biasa tidak sampai making love. Dalam hati, Sehun memuji dirinya yang dapat menahan diri meski desahan Jongin juga tubuh montoknya memang menggoda.
Biasanya sehabis meladeni Sehun, Jongin pasti akan kelelahan apalagi di saat hamil begini. Jam tidurnya tidak menentu bisa-bisa Jongin tidur sampai lebih dari 7 jam tetapi sekarang jam digital di nakasnya masih menunjukan setengah 5 pagi dan Jongin sudah menggerakan tangan Sehun dengan brutal. Mau tidak mau Sehun harus membuka matanya dan langsung disambut rengekan manja Jongin.
Awalnya Sehun belum sadar sepenuhnya akan rengekan Jongin. Ia belum benar-benar menangkap apa yang Jongin ucapkan. Tapi akibat keanarkisan seorang Oh Jongin, Sehun bisa menyadari apa yang istrinya mau.
"Yasudah aku berangkat sendiri saja!" rajuk Jongin yang tidak mendapat respon sama sekali.
Pernyataan Jongin membuyarkan lamunan Sehun. Pria pucat bermarga Oh itu dengan gerakan secepat kilat langsung mengangkat tubuhnya menjauhi empuknya kasur untuk menarik pergelangan tangan seseorang yang sedang menyambar mantel hitam miliknya dengan tangan kirinya yang sudah siap memutar kenop pintu.
"Ish… Lepas!"
"Ini terlalu pagi untuk toko buku buka, Jongin," peringat Sehun untuk kesekian kalinya.
Ya, jadi inti keributan sepagi buta ini adalah Jongin yang ngotot ingin ke toko buku.
Coba katakan pada Sehun, adakah toko buku yang buka di jam setengah 5 pagi?
"Aku tidak percaya sebelum aku membuktikannya! Lepas, Hun!"
"No!"
"Iihhhh," gerakan lembut yang dianggap berontak bagi Jongin tidak berpengaruh apapun pada cengkraman di pergelangan tangannya.
"Tunggu jam 10 nanti aku temani," tegas Sehun sekali lagi. Sungguh Sehun kini kehabisan akal untuk membujuk beruangnya ini.
"Tidak mau, aku maunya sekarang!"
Dengusan kasar diikuti decakan berasal dari Sehun terdengar jelas memasuki gendang telinga Jongin. Mata Jongin menunjukan segalanya, Sehun segera menarik tubuh gempal nan montok Jongin ke dalam pelukannya.
"Hun-"
"Maaf maaf," Sehun kalap. Tangan besarnya mengelus punggung serta rambut belakang Jongin bergantian.
"Lepas! Hiks…" percuma. Jongin mendorong Sehun itu percuma. Tenaga Sehun kelewat besar untuk tubuhnya yang lemah ini.
"Maaf aku tidak bermaksu-"
"Lepas! Untuk apa kau memeluk hiks -ku? Hiks.. Lepas!" gerakan Jongin semakin kuat untuk lepas dari rengkuhan suami tampannya tapi tetap saja tidak membuahkan hasil.
"Jongin dengarkan dulu, ak-"
"Kau tidak menyayangiku lagi hiks…"
Sudah. Jongin menangis sejadinya dalam pelukan tubuh tegap Sehun. Menumpahkan liquid berharganya yang mengalir membasahi pipi mulus bak bayinya. Menetes dan terusap piyama Sehun, membuat bahu kiri Sehun yang tertutupi piyamanya basah. Sehun sudah pasti merasakannya.
"Jongin… aku sangat menyayangimu, Astaga. Jangan pernah mengatakan itu tentang ku. Aku sayang- ah ani, aku cinta mati padamu. Maafkan aku," sesal Sehun melihat pujaannya menangis.
Dalam hati Sehun merutuki betapa bodoh dirinya. Belum sehari ia di rumah, masalah sudah muncul akibat ulahnya. Apalagi Jongin sampai menangis begini. Terkadang ia lupa diri, mood jongin pasti selalu berubah setiap saat juga keinginannya yang harus dituruti sebut saja jongin ngidam.
"Hiks pemb-bohong! Sh hiks…."
Pria manis dalam dekapannya masih berjuang untuk menjauhi tubuhnya. Namun, Sehun tanpa mengeluarkan tenaga yang banyak masih mempertahankan dekapannya. Tak membiarkan sang terkasih menjauh barang se-inchi pun. Lagipula perut Jongin sudah besar mana mungkin ia memeluknya dengan erat. Kasian baby di dalam sana.
"Kenapa, hm? Aku serius, Jongin," tanya Sehun lembut.
Sehun tau. Ia paham. Ia harus mengatur emosinya. Ini bawaan hamil. Sebenarnya ia paling anti disebut pembohong. Heol.
"Kalau hiks kau mencintaiku…" jeda jongin sengaja lalu mengangkat kepalanya. Netra coklatnya menatap telak lawannya, Sehun tidak tega. Mata itu berkaca-kaca, terkadang ada yang berhasil lolos mengalir membentuk sungai yang ditanggapi usapan ibu jari Sehun sebagai penghambat, "… kau-kau mau menemaniku hiks. Hanya menemani, Sehunghss hiks."
Ibu dari calon dua anak ini kembali menangis. Menenggelamkan wajahnya di leher dengan tangannya yang memeluk pinggang sang suami.
"Tapi kau tidak mau," gumam Jongin sebagai lanjutan di sela tangisannya.
Kecupan bertubi-tubi mendarat di pelipis serta kepala Jongin. Sehun terus-terusan menggumamkan maaf berharap itu mampu meredakan tangisan Jongin.
Ayolah, Sehun tahu Jongin tengah ngidam. Ia juga tau jongin sangat suka membaca. Tapi… tidak masuk akal toko buku buka jam segini, memang dipikir penjaganya tidak tidur apa? Lagipula mana ada orang membaca buku dan yang lebih aneh lagi membeli buku di pagi buta. Lebih baik menyelam kealam mimpi daripada harus melemburkan mata juga otak guna membaca beribu-ribu kata tentang apapun itu.
"Jam 10 saja ya?" Tanya Sehun hati-hati saat dirasa Jongin sudah mulai tenang.
Gelengan kepala kembali membuat Sehun mendengus. Namun, dengan perlahan. Ia tidak mau membuat beruangnya menangis lagi.
Adakah toko yang buka 24 jam dan menyediakan segalanya?
Sehun terus bertanya dalam benaknya.
Berpikir.
Berpikir.
Berpikir.
"-coba cari di online shop. Kalau di tokonya langsung sepertinya di sekitar sini tidak ada-"
Pria tampan itu mengernyitkan dahinya sembari mengusap lembut punggung Jongin saat teringat ucapan asistennya.
"Kau yakin? Aku pernah melihat case seperti itu. Coba cari di online shop. Kalau di tokonya langsung sepertinya di sekitar sini tidak ada, apalagi yang seperti itu harus costum tidak ada yang langsung jadi."
Tunggu! Kenapa Sehun jadi punya ingatan yang kuat?
Tapi terimakasih untuk siapapun yang sudah memasukan ocehan asistennya ke dalam benaknya.
"Bear, bagaimana kalau kita lihat buku di online shop saja?" usul Sehun. Sehun sangat optimis. Seakan ia telah mendapat jalan keluar dari semua masalah tidak besar ini.
"Tidak."
"…."
Oke.
Sia-sia sudah.
Entah, jangan salahkan Sehun kalau tatapannya kini berubah drastic menjadi sangat datar. Melebihi kedataran setiap harinya. Rasanya seakan ia ditolak mentah-mentah rekan kerjanya setelah menyelesaikan presentasi yang bahkan dapat standing applause dari para audience.
"Ayo," Jongin berkata lirih.
Dengan ini, Sehun kembali menghela napasnya pasrah dan mengiyakan permintaan Jongin.
Sepasang kaki mungil namun panjang untuk anak seumurannya berjalan menuruni anak tangga. Celana piayama yang harusnya menutupi sehingga bagian lututnya beralih fungsi menjadi menutupi hingga betisnya. Akibatnya, celana dalam berwarna coklat itu mengintip untuk melihat indahnya dunia di pagi hari.
Seperti biasa, tempat pertama yang ditujunya pada pagi hari adalah dapur. Tetapi baru saja di pintu masuk dapur, ia langsung melenggang pergi saat tidak mendapati seorang pun di dalam sana. Langkahnya berlanjut menuju depan rumah. Membuka pintu utama yang sangat besar dibanding tubuhnya itu.
Cklek
Sangat mudah dibuka. Tandanya para asisten rumah sudah datang.
Hembusan angin menyapa wajah serta tubuh Haowen yang tidak tertutupi piyamanya-betis dan lengan-. Bibi Shin yang sibuk dengan selang juga tanaman hijau menjadi objek pertama yang dilihat Haowen. Setahu Haowen, itu namanya semak bulat. Ia sering melihat Bibi Shin mengguntingi daunnya yang menjalar melebihi daun lainnya yang rata di halaman belakang. Tapi entah mengapa sekarang ia ada di halaman depan.
Pinggang belakangnya tiba-tiba gatal. Maka Haowen menggarukinya untuk kenikmatan dirinya sendiri. Mata sipitnya masih menetralkan cahaya yang berusaha memasuki penglihatannya. Memfokuskan pandangannya. Mencari orang tuanya. Nihil.
"Bibi!" panggil Haowen membuat Bibi Shin menolehkan kepalanya.
"Ah? Tuan muda sudah bangun? Apa sudah sarapan?"
Wanita yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi itu tersenyum geli mendapati penampilan anak majikannya yang sungguh sangat menggemaskan. Meskipun muka bantalnya Nampak jelas juga piyamanya yang jauh dari kata rapih, Oh Haowen tetap berhasil mempertahankan reputasi ketampanan juga keimutannya.
Haowen menggeleng berulang kali membuat surai hitamnya yang acak-acakan ikutan bergerak menggemaskan, "Haowen, Bi. Jangan tuan muda, ish," pria yang tidak mau dipanggil tuan muda itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari menatap tajam Bibi Shin yang malah terkekeh, "Hao belum salapan. Daddy mommy mana?" lanjutnya tak melupakan kekesalannya.
"Tuan dan Nyonya Oh sudah tidak ada sejak tadi pagi, Tuan Muda. Sepertinya olahraga pagi," jawab wanita itu.
Haowen mendengus kesal, "Haowen bi! Haowen! Aishh," dengan begitu Haowen meninggalkan teras depan dan kembali pergi menuju dapur sembari menghentakkan kakinya kesal.
Ini masih pagi!
Masih jam-
Sebentar, Haowen harus melihat jam. Mata tajamnya menelusuri dinding dan mendapati benda kotak yang memiliki 2 jarum, sedang berdetak tepat di atas smart tv 65inch milik keluarganya.
9:01
Oke, itu menurut Haowen, entah menitnya benar atau tidak karena jarum panjangnya berada di tengah garis kecil kesatu dan kedua antara angka XII dan I.
Jangan kaget! Haowen sudah tahu angka romawi. Tepuk tangan untuk sang Daddy yang sangat berjasa dalam prosesnya juga sang Mommy yang berjasa dalam proses perhitungan jam.
Oh jangan dipikir Jongin dan Sehun yang menuntut Haowen untuk mempelajarinya. Haowen yang minta sendiri. Awalnya Haowen tidak tertarik tentang waktu, karena ia bisa langsung mengetahui jam berapa jika melihat jam digital di kamarnya juga di ruang tamu rumahnya.
Namun, setelah Oh Kris, grandpanya kembali dari inggris untuk urusan bisnis dan membawa oleh-oleh jam dinding dengan angka romawi yang sangat asing bagi Haowen ditambah Haowen yang saat itu bertanya dan dijawab benda itu adalah jam, Haowen semakin bingung.
'Kenapa ada huruf I, X dan V di jam? Bukankah itu harusnya berada di alphabet bukan angka?' Sejak saat itu Haowen mulai belajar tentang angka romawi dan cara membaca jam pada kedua orang tuanya. Sempat diajari grandpanya, tetapi Haowen tidak bisa menangkap dengan cepat karena grandpanya menjelaskan terpotong-potong. Salahkan grandmanya yang terkadang menanyakan sesuatu pada grandpanya.
Untung saja Jongin dan Sehun cerdas bahkan pintar jadi bisa menjawab pertanyaan ajaib Haowen, seperti,
"Kenapa ada huruf I,X dan V di jam?"
"Kenapa hanya 3? Yang lainnya tidak."
"Kenapa bisa alphabet menjadi angka?"
"Siapa penemunya?"
"Bagaimana ceritanya?"
"Kenapa bisa dipakai sampai sekarang?"
"Kenapa Hao baru melihat?"
"Kenapa harus di letakkan di atas tv? Kenapa Hao tidak pernah melihat jam di kamar mandi?"
Puji Tuhan Sehun dan Jongin mampu menjawab meski terkadang harus menunda jawabannya untuk mencari tahu terlebih dahulu juga menjelaskan supaya mudah dipahami otak seusia Haowen, apalagi Sehun yang sering berbicara atau kita sebut mengoceh menggunakan kata-kata terlalu tinggi yang belum mampu dipahami Haowen.
Perlu diketahui Sehun dan Jongin dulunya rival dalam memperebutkan peringkat di kelas sejak JHS hingga SHS tetapi selalu Sehun yang lebih unggul. Oleh karena itu keduanya selalu mengusahakan yang terbaik untuk putranya.
Tapi siapa yang tahu takdir Tuhan? Yang dulunya rival sekarang menjadi partner.
Oke kembali ke Haowen.
Lelaki yang berumur menuju 5 tahun itu berjalan kembali menuju dapur. Tak dipungkiri lagi, perutnya sudah demo meminta makanan.
Namun, apa yang dia dapat? Sama seperti sebelumnya. Tidak ada siapa-siapa di sini.
Haowen mendengus sebal lalu kembali meninggalkan dapur untuk berkeliling mencari daddy dan mommynya sekalian Bibi Ahn. Barangkali bibi Shin salah.
Hari jumat.
Hari menuju kecerahan. Pemisah antara kesibukan dan kedamaian. Namun, butuh perjuangan untuk melewatinya. Siapapun yang ingin menuju weekend, harus merasakan dahulu kesibukkan atau yang biasanya tidak terlalu sibuk seperti hari sebelum jumat.
Itu terlihat di saat ini. Banyak pegawai kantoran dengan setelah kemeja dan jas formalnya berlalu lalang menuju tempatnya bekerja. Tidak hanya pegawai, pelajar dengan berbagai macam seragam khas sekolahnya pun sama sibuknya.
Dan itu semua tak luput dari pandangan mata Jongin meskipun ia berada di dalam mobil.
Apa perlu ku ceritakan apa yang terjadi diantara mereka berdua lagi?
Langsung intinya saja.
Setelah keduanya meninggalkan rumah tadi pagi, Jongin langsung menenetukan toko buku yang ingin ia kunjungi. Tadinya jalanan sangat sepi, mungkin ada beberapa kendaraan yang lewat tapi tidak seramai sekarang. Mobil Sehun bahkan sempat dihampiri polisi yang bertugas. Yah, Sehun sih jujur sedang meladeni istrinya yang sedang ngidam. Menunggu toko buku itu buka.
Sehun sempat tertidur dalam duduknya sedangkan Jongin keukeuh melwan kantuknya. Pria pucat itu beberapa kali melihat Jongin menguap tapi ia kembali mengerjapkan serta mengucek matanya membuatnya segar kembali.
Sempat melirik jam, masih ada waktu 10 menit lagi untuk toko itu buka. Sehun tahu karena jelas di depan tokonya terdapat papan iklan yang memaparkan jadwal buka-tutupnya toko beserta diskon dan promo lainnya.
Sembari menunggu 10 menit, ijinkan saya kembali menjelaskan.
Sehun tahu Jongin tengah mengidam. Tetapi ngidamnya aneh. Pria manis itu tiba-tiba ingin membaca buku dan membeli bukunya dari toko buku K3, toko buku dengan persediaan terlengkap di Seoul. Kenapa Sehun bilang aneh? Karena biasanya orang ngidam itu makanan atau minuman tetapi ini membaca.
Sehun bersyukur, sih. Dia berharap anaknya kelak akan suka membaca karena pada dasarnya Sehun sangat suka memberi buku pada Haowen dan kini nampaknya akan tertular pada adik Haowen. Ia ingin anaknya memiliki wawasan yang luas dan memiliki pikiran yang terbuka.
Apa saja hobinya asal ada karakter suka membaca tertanam dalam diri keluarganya. Sehun akan selalu mendukung hobi anaknya seperti Haowen, taekwondo. Ia jadi ingat dulu Jongin sangat tergila-gila pada Lee Daehoon, atlet Taekwondo yang kata Jongin tampan. Jongin bahkan selalu menonton pertandingan atlet tampan tersebut di GOR. Kecuali pertandingan di luar negeri, jauh di lubuk hati Jongin ingin menonton, tapi itu mustahil. Mungkin karena itu Haowen mencintai taekwondo dan tengah dipersiapkan menjadi atlet.
Tanpa sadar senyum mengambang pada wajah datar Sehun seolah tidak disiram dalam jangka waktu yang lama. Daddy itu penasaran anak keduanya akan mempunyai hobi apa. Sama dengan Haowen kah atau yang lainnya. Tapi Sehun mengira anak keduanya akan menjadi seorang pecinta buku itu artinya… penulis?
Tapi kalau begitu, siapa yang mau meneruskan perusahannya. Ck.
"-UUUUNNNN!"
Sehun tersentak lalu menoleh pada Jongin yang tengah merengut kesal. Kenapa istrinya ini bertambah manis, "Ah ne?"
"Aish! Kau melamunkan apa, sih?" oke Jongin sebal.
"Hng? Kenapa?" sepertinya Sehun belum sadar.
Poutan menjadi balasan atas pertanyaan tak bermutu –menurut Jongin- Sehun, "Yasudah aku sendiri saja!" kalimat ini lagi menjadi tanda Jongin meninggalkan Sehun.
Jongin keluar dari mobil lalu berjalan memasuki toko yang ternyata sudah buka. Sepertinya Jongin akan menjadi pengunjung pertama dan Sehun yang kedua.
Tak mau membiarkan Jongin sendirian, Sehun segera melajukan mobilnya memasuki area toko buku untuk memakirkan mobilnya lalu menyusul Jongin yang sudah masuk dan tampaknya tengah mencari buku.
TRING NG NG ng
Sehun kebingungan kala masuk ke dalam toko, luas dan penuh. Jangan anggap Sehun Noral, ia sering ke toko buku saat masih sekolah dan menjadi mahasiswa juga membelikan buku untuk Haowen, tapi tak pernah ke toko K3. Ia hanya membeli buku di toko yang dekat dengan rumah orang tuanya, rumahnya serta kantornya, lagipula toko di sana komplit tapi tidak sekomplit di sini.
Kalau begini, Sehun harus mencari Jongin di antara rak-rak berjejer menjulang itu yang mampu menutupi tubuh pria dewasa. Kira-kira 2m.
Ceo tampan itu hampir menyerah kala mendapati dinding di depannya yang artinya ia sudah berjalan hingga ke ujung toko. Namun, masih ada satu barisan rak lagi yang belum ia lihat. Mungkin Jonginnya di sana.
Ia berjalan ke sana.
Sayangnya.
Jongin tidak ada di sana.
Sial
Masa Jongin hilang di toko buku.
Mau tidak mau Sehun bertanya pada petugas penjaga toko.
"Ah pria yang hamil berkulit tan, bukan?" Tanya sang penjaga lelaki itu.
"Ne, kau melihatnya?"
"Aku lihat dia menuju lantai 2 begitu memasuki toko dan sepertinya belum turun karena aku tid-"
"Terimakasih!"
Dirasa cukup mendapat informasi dari penjangga yang Sehun simpulkan mempunyai pribadi cerewet, ia langsung mencari letak tangga. Sayangnya ia mendapati lift di seberang meja kasir, tepat di samping jendela depan. Tanpa berpikir panjang Sehun menggunakan lift yang ternyata tembus pandang itu, ia dapat melihat keluar jendela juga dalam toko. Dan ia baru menyadari bahwa toko ini memiliki 5 lantai.
What the-
Sehun sadar kan?
Pantas saja tadi pagi di dalam mobil tidak terkena cahaya matahari, ternyata cahayanya tertutupi gedung toko. Ck, ia mengakui toko buku K3 adalah yang terkomplit di Seoul.
Dan masalahnya sekarang. Jongin ada di lantai berapa.
Haowen menghampiri mommynya yang tampak sibuk dengan novelnya. Jongin tampak santai bersandar pada kursi yang menghadap langsung ke taman belakang. Ada segelas susu tinggal setengahnya terisi juga beberapa cemilan pedas di atas meja kecil berada di samping tempatnya duduk.
"Mom!" panggil Haowen hati-hati takut mengganggu Jongin.
Haowen sudah mendengar cerita dari daddynya. Intinya mommynya sedang ngidam, jadi Haowen harus menjaga mood mommy. Dan semenjak pulang dari toko buku, Jongin sibuk dengan bukunya. Biasanya jongin memang suka membaca buku, tapi tidak sampai segitunya. Haowen jadi penasaran.
Jongin mengalihkan atensinya dan memfokuskan pada putra sulungnya. Sempat ia menyelipkan pembatas pada bukunya sebelum menyuruh Haowen duduk di kursi satunya. Mereka duduk berdampingan dengan meja kecil sebagai pemisah.
Mata warisan daddynya memperhatikan Jongin yang tengah meneguk susunya. Tubuh mommynya semakin berubah, lebih berisi, apalagi pipi dan perutnya. Perutnya tampak membesar setiap harinya. Mood Jongin juga sering berubah-rubah. Tapi untungnya Haowen jarang menjadi tumbal hehe.
"Kenapa, hm?"
"Mommy sibuk?"
"Ani. Hao ingin sesuatu?" Haowen menggeleng.
Matanya kini beralih menuju novel yang Jongin baca tadi "Percy jackson and The Olympians: The Lightining Thief" seorang laki-laki berdiri di air atau laut -Haowen tidak tahu yang penting tempat yang ada airnya- membelakangi pembaca yang tengah mengenggam sesuatu panjang yang bercahaya putih layaknya petir dengan langit juga background dominan biru-hitamnya menarik perhatian Haowen.
"Huh? Buku apa itu, Mom?"
Jongin mengikuti arah pandangan Haowen, ia tersenyum kala mengetahuinya, "Ini novel."
"Novel?"
Haowen mulai bertanya maka Jongin harus menyiapkan kata sederhana agar Haowen dapat mengerti dengan mudah.
Jongin meneguk ludahnya lalu tersenyum, aura keibuannya tampak menguar dari tubuhnya walaupun tidak dapat dilihat. Namun, bisa dirasakan, "novel itu seperti dongeng. Isinya cerita tetapi lebih panjang ceritanya."
"Ohh… berarti mommy sedang baca dongeng?"
Jongin tersenyum semakin lebar menjadi tanggapan kepolosan Haowen, "Ne."
"Hao mau tahu… Celitakan, Mom!" Haowen antusias sekali.
"Baiklah… jadi ada seorang anak lelaki bernama Percy Jackson, yang ternyata adalah demigod. Manusia setengah dewa. Dimana ayahnya adalah dewa yang menikah dengan manusia biasa seperti kita-"
"Dewa?"
"Iya, yang menguasai dan mengatur kehidupan."
"Hng?"
"Itu tergantung kepercayaan dan keyakinan pengikutnya."
Haowen mengangkat satu alisnya bingung, "Lalu?" mungkin seiring berjalannya cerita, Haowen akan mengerti dengan sendirinya.
"Percy awalnya tidak tahu ia seorang demigod dan tidak percaya adanya dewa. Namun, ternyata ayahnya lah yang seorang dewa. Ada peristiwa penting yaitu perang bendera, adat yang biasa dilakukan untuk menyambut pekamah baru, saat itu ia masih awam. Di pertistiwa itu juga Ia diakui ayahnya yaitu Poseidon sebagai putranya. Seorang demigod memiliki kekuatan tergantung orang tuanya, kalau percy punya kekuatan jika ada di sekitar air. Kekuatannya pun dicari dan biasanya muncul saat waktu yang tepat."
"Ahh, jadi Pelcy itu anaknya Pose-Pose- apa?"
"Poseidon." Ulang Jongin lembut.
"Pose and done?" Haowen tidak yakin.
"Huh? Pose and done? Apa-apaan itu kkkk. coba ikuti, Po-"
"Po"
"-Sei"
"Sey"
"Don"
"Don?"
"Ne, Poseidon."
"Poseidon?"
"Heem. Poseidon, penguasa lautan, dewa gempa bumi dan kuda."
"Ahh. Jadi Poseidon yang menguasai lautan? Lalu percy anaknya penguasa lautan?" Jongin hanya mengangguk menanggapi.
"Lalu?"
"Hao tertarik, huh?"
"Ne, darimana asalnya Poseidon itu, Mom?"
"Dewa Poseidon itu memiliki ayah bernama Kronos. Dewa juga punya saudara kandung yaitu Dewa Zeus, penguasa langit, dewa petir. Dan Dewa Hades penguasa bawah tanah. Itu menurut mitologi Yunani."
"Wahh.. lalu apakah Hao demigod juga, Mom?"
Jongin mengernyitkan dahinya, "Hm?"
"Mommy kan manusia, daddy kan dewa. Berarti Hao demigod."
"Huh? Daddy dewa?"
"Ne! banyak yang bilang daddy seperti dewa."
"Hng?"
"Hao seling dengal ada yang bilang Daddy tampan sepelti dewa. Apa daddy dewa ketampanan? Penguasa ketampanan?"
Mungkin ini akibatnya masih balita sudah banyak pengetahuan.
"Tentu saja. Daddy adalah dewa ketampanan!"
Entah Sehun muncul darimana. Ia tiba-tiba ada di belakang Jongin saja. Memasukkan kedua tangan ke celana kainnya.
"Benalkah! Hao sehalusnya memiliki kekuatan! Ayo dad! Belikan kekuatan daddy pada Hao!"
Haowen beranjak dari duduknya dan langsung berlari untuk memeluk kaki Sehun meminta gendong.
"Kajja! Mari kita cari kekuatanmu putra tampanku! Dan tinggalkan manusia biasa seperti mommy ini, kita akan kembali untuk melindungi mommy."
"LET'S GOOOOO!"
Sehun dan Haowen pergi meninggalkan Jongin yang terpaku. Mengapa anak dan suaminya yang menjadi aneh astaga. Dan lagi mana ada apa tadi-Dewa Ketampanan? Heol.
"Aku berharap daddy mu adalah Zeus agar kau over power tidak tanggung seperti percy," mohon jongin sembari mengusap lembut perut besarnya, "aku serius, ayahmu harusnya Zeus bukan Sehun."
.
.
.
TBC/END?
Terimakasih sudah membaca.
RnR jangan lupa karena itu merupakan bentuk apresiasi anda terhadap karya saya yang tak seberapa ini. juga dengan itu saya mampu melanjutkan dan semangat dalam menulis. terimakasih.
saya sangat senang membaca comment/review dari kakak2 karena ga tahu kenapa itu sering buat saya senyum2 sendiri dan sering saya ulang buat baca2 comment juga reviewnya aaa terimakasih banyak atas apresiasinya. juga yang vote dan like my story, terimakasih banyak. love ya hehe
