Polanya seperti ini; hati menjadi satu hal yang terkadang sulit untuk di kontrol bagaimana perjalanannya. Meski manusia memiliki peranan terbesar untuk mengendalikan, tapi terkadang akal sehat yang Tuhan beri secara sempurna kepada manusia tidak bisa dijadikan pegangan. Jangankan untuk memikirkan sesuatu hal yang memiliki kerasionalan tinggi, untuk membedakan mana percikan air surga dan sayatan pisau neraka saja mata manusia masihlah buta. Dan hati, kadang bekerja pada situasi seperti itu juga.
Baekhyun memiliki banyak pilihan untuk mundur dan melepas semua demi kehidupan yang lebih baik. Tidak ada kehidupan sebaik yang ia miliki sebelumnya. Tapi ketika takdir berkata jika Park Chanyeol sedang mengendalikan beberapa 'konsep' kehidupannya, Baekhyun hanya serupa manekin.
Telah banyak hal di masa lalu yang membuat Baekhyun harus meyerah untuk di sakiti hingga sempat merasa mati rasa. Chanyeol dan segala tindak-tanduknya yang kejam itu selalu menempatkan keinginannya sendiri pada baris pertama sedang pengelakan yang ingin Baekhyun suarakan hanya dahak tak terdengar. Itu terjadi cukup lama dan seharusnya akan timbul sebuah benci yang membesar. Tapi seperti ada keajaiban yang menyaring benci menjadi sesuatu yang manis, Baekhyun justru tertahan di labirin ini dengan hati yang ikhlas. Entah kenapa.
Seperti sekarang, dia mengubur diri di bawah selimut Chanyeol setelah bergelut dengan nafsu yang membuat tubuh lengket. Jangan ditanya bagaimana aroma tajam khas percintaan itu menguar, karena Baekhyun hanya peduli dengan hatinya yang merasa ini cukup membahagiakan.
"Kau tidak tidur?" suaranya serak Chanyeol menarik Baekhyun untuk kembali melirik sedikit ke atas lalu memeluk tubuh lelaki itu dengan sangat nyaman. "Masih ada waktu sekitar 4 jam untuk menjemput matahari."
"Belum mengantuk. Kau tidurlah. Besok harus bekerja."
Lalu rengkuhan itu kembali hadir memberi rasa nyaman yang mulai Baekhyun sukai.
"Chanyeol,"
"Hm?"
"Sebelum kau benar-benar tertidur, bisakah aku mengatakan sesuatu padamu?"
"Ya."
Baekhyun menimbang sebentar segala keinginan dan gejolak yang belakangan membuatnya risau. Bukan dalam konteks yang menjengkelkan, tapi lebih kepada sebuah pencapaian yang telah lama ingin Baekhyun selesaikan.
"Emm.." dia bergumam sebentar. "Tidak jadi."
"Hei," Chanyeol meraih dagu cantik Baekhyun dan memberinya tatapan jika tidak perlu ada keraguan di sana. Chanyeol tau Baekhyun masih menyimpan banyak ragu sedang sebenarnya Chanyeol tidak masalah jika Baekhyun ingin menyampaikannya. Kecuali pergi dari sisinya. "Katakan."
Baekhyun menarik selimut lebih tinggi hingga menyentuh dagunya. "Emm.. bolehkah aku melanjutkan kuliahku? Maksudku, well, setidaknya biarkan aku menyelesaikan apa yang sudah ku cita-citakan."
"Jadi itu yang ingin kau katakan?"
Anggukan kecil Baekhyun membuat Chanyeol ingin menggemas wanitu itu banyak-banyak. Apa susahnya mengatakan hal itu sedang Chanyeol dari awal sebenarnya sudah membuka lebar-lebar semua hal yang menyangkut kebutuhan Baekhyun, kecuali satu hal. Sekali lagi Chanyeol katakan jika satu hal itu adalah ketika Baekhyun berniat meninggalkannya.
"Aku akan menjadi seorang sarjana jika saja saat itu—"
Satu telunjuk menghentikan ucapan Baekhyun. Sebenarnya dalam hal ini tidak hanya Baekhyun yang merasa tersakiti dan di rugikan, Chanyeol juga merasakannya. Hanya saja Chanyeol memiliki konteks lain yang tidak bisa dimengerti dengan akal sehat.
"Kau bisa kuliah lagi. Besok, aku akan minta Kai untuk mengurus semua hal yang akan kau butuhkan selama melanjutkan kuliah. Sekarang mari kita tidur."
.
.
Chanyeol tidak berbohong. Dia meminta Kai secara langsung untuk mengurus beberapa keperluan Baekhyun di kampus yang menyangkut perihal kuliah. Tidak ada batasan yang berarti karena Baekhyun sudah berjanji tidak akan berniat kabur atau melakukan tindakan konyol lainnya yang bisa membuat emosi Chanyeol menggunung.
Tepat dua hari setelah Kai menyelesaikan urusan di bagian administrasi kampus, Baekhyun kembali menghirup udara kampus. Dia kembali bertemu dengan teman-temannya dan kembali bertegur sapa dengan beberapa buku usang di perpustakaan. Hutang Baekhyun dalam menyelesaikan kuliah hanya serupa tugas akhir. Dia harus menyelesaikannya sebelum deadline sidang yang di adakan tiap 3 bulan sekali itu di tutup.
"Baekhyun!" itu Luhan, si cantik berdagu runcing yang selalu setia menjadi sahabat Baekhyun. Selain merindukan keadaan kampus, Baekhyun juga menyimpan rindu pada Luhan. "Astaga! Kau kemana saja?!"
"Bagaimana kabarmu, Lu?"
"Aku baik. Kau sendiri? Ceritakan padaku ada apa sebenarnya? Beberapa kali aku datang ke rumahmu tapi sepertinya sudah tak dihuni lagi."
Baekhyun mendesah sebentar. Ya, rumahnya sudah tak dihuni lagi karena sekarang Baekhyun tinggal di sebuah labirin.
"Baek?"
"Ya."
"Aku tau sesuatu yang tidak baik sudah terjadi. Jika kau masih menganggapku teman, jangan pernah memiliki rasa keberatan untuk bercerita padaku."
.
.
Ada yang bisa menjelaskan pada Baekhyun bagaimana cara kerja sebuah kehidupan? Atau setidaknya beritahu padanya mengapa jantungnya berdetak tidak konstan kala senyum tampan itu menghampirinya setiap hari? Baekhyun cukup amatiran untuk mengetahui apa itu jatuh cinta. Dia tak memiliki banyak pengalaman untuk mengartikan setiap getar kebahagiaan kala Chanyeol menggenggam tangannya atau mengecup puncak kepalanya.
Ini gila. Gila karena tidak seharusnya Baekhyun menantikan detak jantungnya yang tidak konstan itu. Semua menjadi candu kala sikap egois Chanyeol mulai terlarut dalam buai rasa perhatian yang selalu ditunjukkan. Seperti ketika Baekhyun terlarut dalam beberapa baris artikel untuk mendukung tugas akhirnya dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berpasrah pada rasa kantuk, Chanyeol datang dengan satu senyum hangat lalu membawa tubuh mungil itu berbaring diranjang.
Pernah juga suatu malam ketika Baekhyun baru menyelesaikan bagian akhir Bab 4 skripsinya, saat itu masih pukul 11 malam dan Baekhyun sama sekali belum merasakan kantuk. Baekhyun berencana akan memaksa untuk tidur sebelum akhirnya dia melihat Chanyeol masih berkutat dimeja kerjanya dengan kerutan tidak simetris.
"Minumlah." Baekhyun meletakkan secangkir teh hangat yang sebenarnya itu untuk dirinya sendiri. Tapi keadaan berubah saat Baekhyun memiliki belas kasih tersendiri untuk Chanyeol yang tampak kelelahan.
"Kau belum tidur?" Chanyeol menyambut teh hangat itu dengan senyum. "Terima kasih."
"Ada beberapa artikel yang harus ku terjemahkan tapi aku terlalu malas menyentuhnya. Kau sendiri? Sudah selesai?"
"Belum. Sedikit lagi."
"Mau ku buatkan makanan?"
"Tidak usah."
"Ya sudah kalau beg—" langkah Baekhyun terhenti ketika cengkeraman sehalus bulu itu melingkar di lengannya. Dan ketika dia memastikan atas dasar apa semua ini mendadak membuat darahnya berdesir, Baekhyun terpaku untuk suatu mata malaikat yang meluluhkan segala macam noda hitam dalam dirinya.
"Mau kemana? Bisa temani aku sebentar?" Seharusnya Baekhyun tidak menginjak harapan terlalu jauh jika pada kenyataannya dia kembali mendetakkan jantungnya untuk Chanyeol. Masih ada segelintir keraguan yang membuatnya terkadang segan untuk membuka hati meski beberapa kali Chanyeol berkata dengan lantang dalam tindakannya bagaimana sebuah cinta itu terungkap.
"A-aku mau tidur."
"Temani aku sebentar. Hanya 10 menit. Setelah itu kau bisa kembali ke kamarmu."
Ada secercah rasa lelah yang butuh pelepasan dari mata Chanyeol dan Baekhyun sangat menyadari hal itu. Entah seberapa berat urusan perusahaan hingga membuat Chanyeol harus memaksakan diri diluar kapasitas dirinya.
"Baiklah." Baekhyun mengambil satu kursi kosong di sisi lain meja kerja Chanyeol dan duduk di sampingnya. Dan, ya, semua menjadi semakin berdetak kencang kala Chanyeol merebahkan kepala di kaki Baekhyun. Posisi ini tidak begitu nyaman mengingat tubuh Chanyeol membungkuk terlalu dalam untuk menjangkau pangkuan kaki Baekhyun. Tapi Baekhyun bisa apa ketika Chanyeol berkata ingin berada pada posisi ini sebentar, dia hanya bisa memberi satu usakan lembut yang membuat Chanyeol semakin nyaman berada di sana.
.
.
"Kai, kau masih di rumah? Tidak ke kantor?"
Bukan hal yang wajar jika tepat pada pukul sepuluh siang, Kai duduk bersama kopinya di dapur. Kai adalah tangan kanan Chanyeol yang otomatis turut terlibat dalam setiap urusan Chanyeol. Tidak ada satu waktu yang bisa Kai ambil untuk duduk tenang ketika bos-nya itu memiliki segudang pertemuan dan jadwal rapat. Lagipula, ini masih hari di pertengahan minggu yang terjadwal banyak sekali kesibukan. Baekhyun tau hal itu.
"Tidak, Nona."
"Eoh? Ada masalah?"
"Tidak, Nona. Semua baik. Hanya saja..."
Oh, Baekhyun tidak terlalu suka jika ada yang menggantuk nada bicara seperti itu.
"Hanya saja?"
"Tuan Chanyeol.."
"Ada apa dengan Chanyeol?"
.
.
Sebenarnya Baekhyun berencana untuk ke perpustakaan kampus meminjam beberapa litelatur dari kakak angkatannya dulu, tapi ketika Kai berkata Chanyeol sedang meringkuk tidak enak badan di kamarnya, Baekhyun membatalkan semua rencananya. Dia datang dengan langkah banyak-banyak menuju kamar Chanyeol dan membuka pintu kamar Chanyeol yang mewah itu dengan sekali sentak.
Mulanya Baekhyun ingin memberi sedikit ceramah kepada Chanyeol kenapa membiarkan suhu kamar diatur sedemikian rendah sedang tubuhnya demam. Tapi ketika melihat seraut wajah tampan tapi pucat sedang membenamkan diri di bawah selimut tebal, Baekhyun urung mengeluarkan ceramahnya.
Disentuhnya puncak kepala Chanyeol dan dia merasa suhu tubuh Chanyeol tidak main-main. Dia juga melihat beberapa obat tergeletak di atas anakas dalam keadaan rapi. Baekhyun berani bertaruh jika Chanyeol belum menyentuh obat itu sama sekali.
"Ke dokter, ya?" Baekhyun mengusak rambut berantakan Chanyeol saat lelaki itu tersadar. "Tubuhmu demam tinggi."
"Tidak usah." Suaranya terdengar parau dan sesekali mengeluarkan suara batuk yang mencekik. "Aku baik."
"Baik apanya?" Nada Baekhyun naik satu oktaf ketika bantahanlah yang ia dapat. "Chanyeol, kau demam. Suhu tubuhmu tinggi dan aku takut terjadi apa-apa denganmu." Tapi dia kembali melemah mengingat keadaan Chanyeol yang membuatnya tidak tega untuk menyalak.
"Tidak." mungkin sewaktu masih dalam kandungan, ibu Chanyeol memiliki keinginan untuk memakan batu dan imbasnya adalah Chanyeol yang sangat keras kepala.
"Ke dokter. Sekarang. Aku akan menemanimu. Tidak ada bantahan apalagi penolakan. Ini perintah, dari Byun Baekhyun. Dan kau," Baekhyun menyentil lembut ujung hidung si lelaki pucat, "harus patuh!"
.
Tubuh Chanyeol yang terlampau tinggi dan besar membuat Baekhyun sedikit kelimpungan jika harus memapahnya seorang diri. Untuk itu, dia memanggil Kai dan beberapa pion hitam lainnya untuk membantu mengangkat tubuh lemah si lelaki demam yang masih menolak untuk ke dokter.
Meski dalam keadaan lemah dan tak berdaya seperti ini, Chanyeol sempat memulai debat dengan Baekhyun yang terlalu pemaksa. Dia mempermasalahkan banyak hal yang dilakukan Baekhyun karena menggunakan paksaan untuk membawanya ke dokter. Padahal ini hanya demam, tapi menurut Chanyeol terlalu berlebihan jika harus dibawa ke dokter.
Dan semakin berlebihan ketika sampai di UGD, Baekhyun meminta satu kursi roda sebagai pijakan Chanyeol yang sudah terlampau lemah.
"Masih mengelak kau tidak apa? Bahkan duduk di kursi roda saja rasanya kau butuh banyak tenaga." Gerutu Baekhyun sambil mendorong Chanyeol menuju ruang pemeriksaan.
Setibanya ditempat pemeriksaan, Chanyeol segera mendapat pertolongan dari seorang dokter juga beberapa perawat. Dia sudah tak mampu mengelak karena benar-benar tak ada tenaga untuk melakukannya. Kepasrahannya sudah ia serahkan ketika salah satu bagian lengannya di tusuk oleh sebuah jarum dan beberapa mili darahnya telah diambil.
Chanyeol masih sadar meski tubuhnya tumbang. Dia hanya tidak bisa bergerak banyak karena tubuhnya merasa sangat lelah tapi beberapa inderanya masih bisa berfungsi dengan benar. Termasuk telinganya yang sempat mendengar jika seorang perawat memekik terkejut kala ada tubuh lain yang tiba-tiba tumbang di kursi tunggu.
.
Beberapa saat lalu Baekhyun masih bisa mengingat bagaimana dia mengomel pada si lelaki demam yang keras kepala. Tapi setelah itu, ia merasa seperti kesadarannya terangkat entah kemana dan dia tak lagi memiliki tenaga untuk mengingat apa yang terjadi. Hanya sebuah lorong gelap yang melumpuhkan kedua kakinya dan seakan semua menjadi lenyap dalam waktu sepersekian detik.
"Sudah sadar, Nona?"
Masih terasa sedikit pusing tapi Baekhyun bisa mengendalikan keadaannya. Matanya berkedip lemah sekejap sebelum akhirnya ia sadar jika yang nampak di matanya untuk pertama kali adalah lelaki yang duduk di kursi roda dengan wajah kaku.
"Aku dimana?"
"Menurutmu?"
"Kau..bagaimana hasil pemeriksaanmu, Chanyeol?"
"Masih sempat menanyakan keadaanku sedang dirimu tumbang seperti ini?"
"Aku kenapa?" dia meminta penjelasan pada tangannya yang sudah tersambung oleh selang infus.
"Kau tiba-tiba tidak sadar. Sebentar lagi hasil pemeriksaanmu akan keluar."
"Kau bagaimana?"
Chanyeol menyodorkan tangannya yang juga tersambung selang infus. "Hanya demam biasa dan cairan infus sudah membuatku lebih baik."
Baru saja Chanyeol akan mengomel karena keadaan Baekhyun, dokter datang bersama selembar kertas dan senyum yang hangat.
"Bagaimana, dok?"
Dokter itu hanya tersenyum kecil dan memberikan lembaran itu pada Chanyeol.
"Kurangi kegiatan yang melelahkan, banyaklah makan sayur, dan jangan lakukan perjalanan jauh."
Baekhyun hanya mengernyit heran. Jenis penyakit seperti apa yang membuatnya harus makan sayur dan tidak boleh melakukan perjalanan jauh. Sejauh ini Baekhyun tidak merasakan hal aneh pada dirinya, meski hanya cepat lelah dan terkadang mengalami mual, dia tidak mengalami hal aneh lainnya.
"Setelah ini mungkin Anda akan mengalami rasa mual yang sedikit berlebihan. Tapi itu wajar karena usianya masih sangat muda."
"Dokter, katakan ada apa sebenarnya?"
"Selamat, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua."
.
.
Hamil.
Bayi.
Dua kata itu terus terngiang di benak Baekhyun selama perjalanan pulang. Rasanya terlalu sulit menerima kenyataan jika dalam rahimnya sedang tumbuh satu nyawa. Ini terlalu mendadak bahkan Baekhyun tidak memiliki persiapan lahir maupun batin.
Menjadi seorang ibu tanpa sebuah pernikahan, hal itu yang cukup mengganggu. Dia tidak terikat dalam suatu hubungan apapun yang membuatnya harus merasa bahagia menyambut kehadiran sang jabang bayi.
Jika ada orang yang bisa ia tunjuk siapa gerangan yang menjadi ayah biologis anak dalam kandungannya, semua hanya tertuju pada lelaki yang duduk di samping Baekhyun. Tapi, bagaimana semua harus dijelaskan jika sepulang dari rumah sakit, Chanyeol justru membisu. Lelaki itu tak memiliki kata yang lebih baik untuk menenangkan, terlebih ketika Baekhyun memberikan satu tatapan meminta solusi, Chanyeol tetap diam.
Apa Chanyeol tidak mengharapkannya?
Apa Chanyeol akan meminta untuk menggugurkan kandungan ini?
Demi apapun juga jika pertanyaan kedua itu benar-benar menjadi keinginan Chanyeol setelah ini, Baekhyun dengan keras akan menolak. Dia akan mengorbankan semuanya demi anak dalam kandungannya yang juga berhak untuk hidup.
"Jika kau tidak menginginkannya, biarkan dia tumbuh dan aku akan menjaganya." Baekhyun bersuara untuk pertama kali ketika malam menyapa dan Chanyeol masih dalam diamannya. "Aku tidak akan memaksamu untuk bertanggung jawab."
Telapak tangannya sedikit basah mengingat betapa sulitnya menerima keadaan ini. Baekhyun mati-matian untuk tidak menangis atau agar dia tidak terlihat mengemis tanggung jawab. Dia tau, Chanyeol bukan orang yang bisa merelakan harga dirinya untuk hal diluar kendalinya apalagi terhadap nyawa suci dalam kandungan Baekhyun.
"Aku akan bekerja untuk anakku. Aku akan menghidupinya dengan keringat dan usahaku sendiri." Baekhyun mengelus lembut perutnya yang belum tampak membesar dan membatin pada anak dalam kandungannya untuk tidak perlu khawatir tentang kehidupan selanjutnya. "Setidaknya biarkan aku di sini sampai beberapa bulan hingga anakku lahir—"
"Anakmu?"
Chanyeol memulai dengan wajah dinginnya yang terpatri sangat angkuh.
"Y-ya. A-anakku?"
"Bukankah aku ayahnya? Kenapa hanya menyebutnya sebagai anakmu saja sedang aku adalah ayah biologisnya." Sebentar, apa artinya ini? "Baekhyun," Chanyeol mendekat dan turut mengusakkan tangannya pada perut Baekhyun. Gerakan tangan Chanyeol masih sangat kaku tapi terlihat sebuah usaha untuk memberikan usakan sehalus mungkin. Atau artikan saja ia tidak ingin menyakiti setiap jengkal perut Baekhyun yang sedang melindungi anak dalam kandungan itu, "aku akan bertanggung jawab. Dia anakku juga, dan aku tidak akan lari kemana-mana. Aku akan bertanggung jawab penuh padamu juga pada anak kita."
Mungkin ini jawaban dari semua doa Baekhyun untuk keluluhan hati Chanyeol. Mungkin juga ini adalah langkah awal dimana Baekhyun akan bertemu pada suatu kebahagiaan dan menghilangkan semua kepedihannya. Diam-diam Baekhyun berterima kasih pada si kecil dalam perutnya yang membawa perubahan besar. Berkat kehadirannya dalam kandungan Baekhyun, segala sesuatu mendadak terasa lebih ringan dan tak akan ada lagi kesusahan yang membelit.
"Pegang janjiku, aku akan mempertanggung jawabkanmu dan menikahimu."
.
.
Semua berjalan seimbang ketika sebelumnya ada sebuah badai menggelayut seakan tidak ingin terlepas dan sekarang giliran pelangi yang mengikuti. Ada banyak hal yang tidak bisa dicerna dengan logika karena hati sedang berkuasa. Tapi semua bisa dirasakan bagaimana efeknya terlebih ketika ketulusan menjalar dan sambutan kebahagiaan mulai menghapus kesedihan.
Chanyeol membuktikan ucapannya. Dia bertanggungjawab atas kehamilan Baekhyun, terbukti dengan pemenuhan semua kebutuhan seorang ibu hamil tanpa ada satu hal kecil yang terlewatkan. Susu, makanan, dan semua hal-hal yang Baekhyun butuhkan Chanyeol berikan dengan kualitas terbaik. Chanyeol juga membatasi beberapa ruang gerak Baekhyun di luar rumah. Tidak boleh kemana-mana kecuali urusan kampus dan itupun harus dengan izin Chanyeol.
"Kyungsoo,"
"Ya, Nona?"
"Mau belanja?"
"Iya, Nona."
"Boleh aku ikut?"
.
"Nona, bagaimana jika Tuan Chanyeol tau Anda keluar tanpa izin?" itu pertanyaan kesekian kali selama perjalanan ke rumah hingga ke supermarket. Kyungsoo tidak ingin berhadapan dengan amukan Chanyeol karena membawa si nona manis kesayangan majikannya itu turut serta berbelanja ke supermarket.
"Tenang saja. Chanyeol urusanku." Dan Baekhyun senantiasa menjawab dengan nada ringan. "Oke, mari berbelanja."
Baekhyun memulai semuanya dari konter sayur-sayuran dan daging segar. Dia memilih beberapa brokoli hijau segar juga wortel dan daging sapi berkualitas karena terlintas dibenaknya untuk membuat suatu eksperimen baru yang sehat. Kyungsoo yang mengikuti tidak banyak protes karena pilihan nona manis kesayangan Chanyeol ini sudah sesuai dengan standarnya.
Memasuki konter buah, Baekhyun mengambil beberapa mangga juga semangka untuk ia racik sebagai salad. Tak tertinggal juga pisang kuning sehat kesukaan Chanyeol yang rencana ingin ia buat sebagai campuran kue.
Selera berbelanja Baekhyun menjadi-jadi, mungkin karena ini bawaan bayi dalam kandungannya yang seakan memicu semangat untuk berbelanja. Tapi biarlah, toh semua ini bukan hanya bentuk kepuasan karena memang dilakukan sebagai pemenuh kebutuhan di rumah.
Melangkah pada barisan baju bayi lucu, Baekhyun berhenti sebentar. Dia memandangi deretan baju-baju mungil dan membayangkan jika nanti baju-baju ini bisa dikenakan oleh anaknya.
"Soo, lihat, baju ini sangat menggemaskan." Kata Baekhyun sambil menunjukkan baju untuk bayi perempuan. "Apa aku harus membelinya juga?"
"Terserah, Nona. Tapi saran saya jangan dulu, karena kita belum tau jenis kelamin anak dalam kandungan Nona."
"Ah, kau benar juga." Dengan sedikit berat hati Baekhyun kembali meletakkan baju itu pada tempatnya.
Baekhyun memeriksa kembali daftar barang yang akan ia beli dan hanya tersisa sabun mandi yang belum ia pilih. Baru saja Baekhyun akan beranjak menuju rak-rak yang menyuguhkan berbagai macam perlatan mandi tapi dia harus dipaksa berhenti oleh seseorang yang mencengkeram tangannya.
"Hai, sayang. Masih ingat dengan ayah?"
Keterkejutan Baekhyun menjalar hingga ia lupa bagaimana cara untuk mengatur napas secara normal. Tapi sejauh ini dia berusaha untuk kuat meski sebenarnya ada rasa takut berlebih yang tengah menghantui. Dia tak gentar oleh tatapan intimidasi ayahnya yang seakan menceritakan jika setelah ini akan ada keburukan yang kembali menyapa. Tapi mengingat sekarang dia bersama Chanyeol dan ayahnya tidak pernah memiliki keberanian yang cukup untuk melawan Chanyeol, Baekhyun berusaha tidak terlihat lemah.
"Apa kabar? Sepertinya kau sudah menikmati menjadi orang kaya."
"Kau mau apa?!" geram Baekhyun.
"Tuan, apa yang kau lakukan pada Nona Baekhyun!" Kyungsoo berusaha melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangan Baekhyun tapi apa daya dia sudah lebih dulu tersungkur karena di dorong oleh ayah Baekhyun.
"Tak ku sangka kau akan sebodoh ini, Baekhyun! Buka matamu! Kenapa kau mau dipelihara oleh siluman seperti Park itu?!"
"Aku sudah membukanya lebar-lebar untuk tau jika kau jauh lebih hina dari iblis!"
"Tck!" Pergelangan tangan Baekhyun di cengkeram lebih keras hingga rasanya sebentar lagi akan ada remahan dari tulang pergelangan tangan Baekhyun. "Dengar, kau hanya belum tau bagaimana buruknya seorang siluman daripada iblis. Ku sarankan kau untuk tidak terlalu percaya dengan kebaikan lelaki itu! Dia hanya memanfaatkanmu untuk menambah kekayaannya. Setelah dia mendapatkannya, kau akan dibuang ke neraka!"
"Jaga ucapanmu!" peduli setan dengan tata krama pada orang tua jika orang yang seharusnya ia sebut sebagai panutan justru membuatnya terpuruk sejauh ini.
"Baekhyun, kau masih terlalu polos untuk tau bagaimana orang kaya membodohi gadis miskin sepertimu! Kau pikir untuk apa Park Chanyeol menyekapmu mati-matian jika tidak ada maksud lain yang ingin ia ambil darimu!"
"Lepaskan Nona Baekhyun! Security! Security! Tolong! Tolong!"
Lelaki itu kemudian pergi dengan langkah lebar-lebar sebelum security datang dan meninggalkan Baekhyun yang sudah jatuh lemas. Cengkeraman pada pergelangan tangannya masih terasa nyeri, tapi lebih dari itu ia merasa perutnya mendapat gejolak yang lebih parah hingga ia merintih kesakitan.
.
.
.
Baru saja Baekhyun mengucap syukur pada kebahagiaan yang bersambut, tapi dia kembali dihadapkan pada sebuah kemelut yang membuatnya goyah. Dia berusaha melerai jauh-jauh pikiran buruk yang sempat menyapa. Dia tidak ingin meletakkan keraguan setelah Chanyeol mengucap sebuah tanggungjawab penuh ketulusan.
Tapi semua yang ayahnya katakan kala itu tak ayal membuat Baekhyun kembali memutar waktu. Bagaimana dia bisa disini dan bagaimana Chanyeol mempertaruhkan semuanya agar Baekhyun tidak pergi. Satu yang masih Baekhyun pertanyakan, apa yang Chanyeol inginkan darinya? Baekhyun bukan keturunan ningrat yang memiliki harta melimpah untuk direbut. Dia hanya gadis miskin yang memiliki penderitaan atas kebusukan ayah juga neneknya yang berniat menjualnya. Lalu apalagi?
"Hei, kau baik?" Baekhyun memaksa sebuah senyum ketika malam hari Chanyeol menyapa sepulang bekerja. "Wajahmu pucat."
"Sudah pulang? Mau ku siapkan air hangat?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Ada apa? Kenapa kau mendadak murung?"
"Tidak, aku baik. Hanya sedikit tidak enak badan."
"Mau ke dokter?"
"Tidak usah." Kejadian tadi siang di supermarket Baekhyun simpan rapat-rapat. Bahkan ia juga memberi peringatan pada Kyungsoo agar tidak bercerita pada siapapun untuk menghindari amukan Chanyeol. Sudah tau, kan, bagaimana Chanyeol jika berurusan dengan emosinya? "Mau ku siapkan air hangat untuk mandi?"
"Hm. Ya. Boleh."
Baekhyun menerima jas dan dasi Chanyeol yang sudah terlepas dari lilitan di leher. "Chanyeol,"
"Ya?"
"Malam ini aku boleh tidur dikamarmu?"
"Hm?"
"Sepertinya yang didalam perut sedang merindukan ayahnya."
.
.
Seminggu setelah kejadian di supermarket, Baekhyun berhasil mereda ketidaknyamanan hatinya. Sugesti dirinya mengajarkan jika ayahnya hanya membual dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sejauh ini Chanyeol berlaku sangat wajar meski pertanyaan mengapa keberadaannya di sisi Chanyeol mendapat pertahanan yang berlebih. Baekhyun menyimpan tanda tanya besar untuk hal itu dan dia benar-benar ingin mengetahui alasannya.
Beberapa kali ia mencoba untuk bertanya, tapi langkah yang terbuat hanya serupa cicitan tak berarti. Terkadang ia menggebu untuk membulatkan tekad, tapi tak jarang juga semua kalah oleh rasa aneh dalam dirinya. Tapi sekali lagi, jika ditelisik lebih jauh bagaimana Chanyeol memberi perhatian dan perlakuan istimewa padanya, tidak mungkin terselip niat jahat dalam hati lelaki itu. Baekhyun mulai meyakini ini semua hanya akal-akalan ayahnya saja agar Baekhyun lepas dari Chanyeol dan—well, dia bertemu kerakusan ayah dan neneknya.
Baekhyun memulai harinya dengan segelas susu untuk ibu hamil dan makanan sehat. Dia tidak lagi memikirkan ucapan ayahnya dan memilih fokus untuk perkembangan janinnya.
"Kai? Chanyeol mana?" Baekhyun menelisik ke sekitar Kai dan tidak ada Chanyeol di sana. Sudah menjadi hal wajar jika Kai tidak akan pernah berada pada radius lebih dari 5 meter dari Chanyeol jika jam kerja masih berlaku.
"Tuan Chanyeol masih di kantor. Saya diminta mengambil beberapa berkas yang tertinggal di ruang kerja Tuan Chanyeol." Setelah membungkuk hormat pada Baekhyun, Kai segera masuk ke ruang kerja Chanyeol dan tak lama kemudian dia keluar dengan beberapa berkas ditangannya.
Mungkin itu berkas penting yang harus segera di bawa ke meja kerja Chanyeol di kantor karena Kai nampak terburu-buru hingga ia mengabaikan panggilan Kyungsoo yang baru saja selesai memasak. Kai bahkan lupa menutup pintu ruang kerja Chanyeol dan ketika Baekhyun mendekat, meja kerja Chanyeol nampak berantakan. Tidak tau seberapa penting berkas itu, tapi tidak seharusnya Kai membuat meja kerja Chanyeol nampak seperti daratan yang terkena puting beliung.
Baekhyun merapikan beberapa lembar kertas yang tampak berserakan di atas meja dan menatanya hingga kembali terlihat rapi. Jika dillihat seberapa rumit grafik yang tercetak dalam kertas-kertas itu, Baekhyun berani bertaruh kalau pekerjaan Chanyeol tidak semuda yang ia bayangkan. Ya, dia seorang pemimpin perusahaan yang biasa dinilai orang sebagai jabatan paling tinggi dengan pekerjaan tidak berat. Tapi sebenarnya semua itu hanya anggapan sepihak karena kenyataannya, Chanyeol menyumbang banyak pikirannya agar tidak terjadi hal-hal buruk pada perusahaan yang ia pimpin.
Ruang kerja Chanyeol tertata sangat sederhana. Hanya ada meja besar dengan kursi kerja empuk dan tidak banyak ornamen-ornamen berbau seni yang terpampang. Disudut ruangan bahkan hanya ada satu lemari kecil dengan hiasan di atasnya sebuah bingkai foto.
Foto itu menampakkan seorang anak laki-laki yang Baekhyun yakini jika itu adalah foto masa kecil Chanyeol. Wajahnya tidak menimbulkan banyak perubahan hingga sekali lihat, orang bisa berkata jika itu Chanyeol. Lalu ada sebuah album foto yang terletak di rak terbuka lemari itu yang menarik perhatian Baekhyun.
Yang pertama terlihat masih foto masa kecil Chanyeol yang tampak menggemaskan. Chanyeol memiliki rambut hitam lebat yang sampai sekarang masih menjadi ciri khasnya. Dihalaman selanjutnya masih menampakkan foto Chanyeol yang beranjak dewasa. Ketampanannya tidak perlu diragukan lagi karena sepertinya Tuhan begitu sempurna memahat bentuk fisik Chanyeol.
Diam-diam Baekhyun mengulum senyum melihat bagaimana masa kecil Chanyeol. Tapi semua berubah ketika menginjak bagian akhir album foto yang menampakkan seorang wanita sedang duduk dengan senyum mengembang. Ini bukan tentang sebuah kecemburuan karena ada wanita lain dalam album foto Chanyeol, melainkan sebuah wajah yang Baekhyun kenal jelas siapa pemiliknya.
Dengan tangan sedikit bergetar Baekhyun mengambil foto itu dan memandang lekat-lekat. Keberaniannya tidak begitu banyak ketika dia harus memanggil memori dimana ada satu wajah yang selalu ia ingat sebagai seorang ibu.
Sama, tidak ada yang berbeda. Bahkan dari senyum foto itu Baekhyun yakin ia mengenalnya.
Baekhyun ingat jika ia menyimpan satu foto usang di rumahnya sebagai satu-satunya kenangan akan sang ibu. Selama ini Baekhyun mengenal ibunya dari cerita nenek jika wanita yang melahirkan Baekhyun itu meninggal sesaat setelah Baekhyun terlahir. Seingat Baekhyun juga, nenek pernah bercerita jika ibu Baekhyun hanya gadis biasa dengan keberuntungan yang pas-pasan. Lalu apa artinya ini? Bagaimana bisa foto ini seakan menampakkan jika wanita yang Baekhyun kenang sebagai sosok ibu terlihat jauh dari kata pas-pasan.
Semua semakin tak terartikan, terlebih ketika Baekhyun melihat ada sebentuk tulisan,
Aku mencintaimu, ibu –Park Chanyeol.
Ibu?
.
.
Tepat pukul dua siang Baekhyun menginjakkan kaki ke sebuah gedung pencakar langit dipusat kota. Dia sedang diburu oleh sebuah penjelasan tentang selembar foto yang ia temukan. Chanyeol harus menjelaskan semua ini dengan sejelas-jelasnya agar Baekhyun bisa tau tindakan apa yang harus ia ambil.
Meski benih telah tertanam dan cinta telah menggenang, Baekhyun tetap menginginkan penjelasan mengapa foto ibunya ada di album foto Chanyeol. Jika benar yang selama ini ayah dan neneknya katakan tentang masa lalu hitam ibunya...tidak, Baekhyun tidak ingin memiliki pikiran itu. Dia berusaha tenang meski sedikit bergetar ketika dia tiba di depan pintu ruangan Chanyeol.
Baekhyun akan mengetuk,
"...aku ayahnya, aku yang berhak atas segalanya yang menjadi milik Baekhyun."
"Bermimpilah sepuasmu, Byun Taekwon. Kau bebas bermimpi apapun tapi kenyataan tidak akan berpihak padamu."
"Oh ya? Kau kira seberapa kuat dirimu, Park Chanyeol? Menurut hukum, Baekhyun masih menjadi tanggungjawabku dan semua urusan yang mengatasnamakan Baekhyun, menjadi urusanku juga."
"Menggelikan orang sepertimu berbicara tentang tanggungjawab!"
"Terserah apa katamu! Yang jelas, akulah yang berhak mengurus warisan dari istriku untuk Baekhyun. Kau hanya orang lain yang tidak perlu ikut campur sejauh ini!"
"Ya! Memang yang berhak mengatur semua urusan itu karena Baekhyun anak kandungmu! Tapi aku, aku akan menikahi Baekhyun secepat mungkin dan kau tidak akan bisa menggunakan hakmu itu lagi! Aku akan mengambil alih semua warisan Baekhyun karena aku walinya yang sah!"
"Warisan?" Chanyeol yang semula berapi-api menjadi serupa bekuan es yang tak memiliki arti ketika pintu ruangannya terbuka. Manik matanya bertemu dengan wajah sendu Baekhyun yang sudah memerah dengan segala kemarahan di sana. "Sekarang aku tau mengapa kau mempertahankanku sejauh ini."
"Dengar, ini tidak seperti yang kau kira. Aku bisa jelaskan."
"Oh ya?" satu tetesan air mata Baekhyun membuat Chanyeol merasa sangat buruk. "Tapi aku sudah terlanjur mendengar semua yang terucap dari mulutmu."
"Bukan seperti itu, Baek. Aku—"
"Terima kasih karena telah membuat aku yakin jika kau satu-satunya yang bisa ku percaya setelah aku dibuang oleh ayah dan nenekku!" Baekhyun menatap tajam pada ayahnya yang sedari tadi hanya tersenyum senang seakan permaianan ini dialah satu-satunya pemenang. "Kau hanya ingin warisanku saja, kan? Kau bisa mengambilnya. Tidak perlu mengorbankan diri untuk menikahi wanita sepertiku."
"Baekhyun, ku mohon.."
"LEPAS!" cengkeraman tangan Chanyeol di lengan ringkih itu Baekhyun sentak sekeras mungkin. Hatinya telah menemui kata final ketika bumi tak memberinya lagi kesempatan untuk berpijak pada kepercayaan. Dia hancur, remuk, dan mungkin sebentar lagi akan menjadi debu tak berarti. "Kau bisa memilikinya, semua yang ingin kau kuasai! Aku tidak akan menuntut apa-apa. Tapi satu hal yang perlu kau ingat, kau tidak lagi memiliki kepercayaanku meski seberapa banyak omong kosong yang ingin kau jelaskan!"
"Baekhyun!"
Mungkin lebih baik Baekhyun hidup dalam keburukan dirinya daripada menjadi permaianan kotor sebuah warisan. Dia masih belum bisa mencerna secara benar bagaimana bisa Chanyeol menjadikannya sebagai tameng untuk mendapat warisan. Entah seberapa banyak warisan yang diam-diam ditinggalkan ibunya hingga ada manusia-manusia hina yang rela mengorbankan orang lain untuk kesenangan mereka.
Baekhyun butuh waktu. Baekhyun juga ingin mengutuk segala macam kerja takdir yang tak pernah adil padanya. Kenapa semua ini bisa terjadi ketika Baekhyun mulai menitih banyak cinta pada lelaki itu?
.
.
.
TBC
.
.
Langsung saja ya konfirmasinya.
Cerita ini saya buat karena saya sangat terinspirasi oleh cerita Hunjustforhan. Kenal, kan? Author kece yang tulisannya sangat membahana dan ceritanya selalu bikin nangis-nangis panas T.T
Saya sangat ingin mendapatkan feel tiap ceritanya sehingga ketika stuck ide, saya akan baca cerita dia. Mungkin karena itu banyak yang mengira cerita ini memiliki alur yang sama, untuk itu saya minta maaf. Saya berharap tidak ada yang salah sangka dan salah pengertian. Maaf juga karena baru disini saya bisa konfirmasinya. Maaf ya T.T
Ini bukan remake. Saya ingin membuatnya dengan versi saya sendiri dengan plot-plot yang sudah saya rancang sampai end nanti. Jauh-jauh hari sebelum cerita ini terbit, saya juga sudah meminta izin pada yang bersangkutan untuk menginspirasi tulisannya dan bersyukur karena Hunjustforhan (saya gak tau nama aslinya) sangat baik memberi saya izin untuk terinspirasi.
Kedepannya saya akan lebih memperhatikan lagi apa-apa yang akan saya tulis dan berjanji akan jauh lebih baik dari tulisan-tulisan saya sebelumnya. Maaf jika selama ini ada yang terganggu dengan cerita ini baik dari segi bahasa, alur, juga penyampaian yang sudah menyinggung siapa saja. Sekali lagi maaf : )
Akhir kata, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih pada semua readers yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca, mereview dan mengoreksi semua kesalahan saya. Sekali lagi terima kasih : )
AI LOP YU :*
