Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?

Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.

Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.


DARI BAGIAN DELAPAN

… "Naruto, aku menceritakan ini kepadamu bukan karena kau adalah Hokage," Shikamaru bicara, "tapi karena kau adalah sahabatku"

Seulas senyum puas melengkung di wajah Naruto. Pemuda itu mengangguk, lalu dengan tenang menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Nara Shikamaru. Perlahan, tabir akhirnya terkuak.

Cepat atau lambat, segalanya memang harus terbongkar.


.

#

.

Ujung Mimpi

©fariacchi

Sembilan: Sahabat

.

#

.


Temari duduk termenung di sofa kamar sewaannya. Gadis berkuncir empat itu mengamati sosok Haruno Sakura yang duduk di sampingnya, mencermati denyut nadi di pergelangan tangan dengan seksama.

"Nadimu sedikit lemah," Sakura bersuara ketika selesai dengan pemeriksaan fisiknya hari itu. "Tapi tidak masalah. Hanya butuh sedikit istirahat. Vitamin yang kuberikan tempo hari sudah dihabiskan?"

Temari mengangguk.

Senyum melengkung di bibir gadis berambut merah jambu yang memandang hangat itu. "Apa pagi hari masih terasa mual?" ia bertanya.

"Tidak setiap hari, kadang-kadang saja," Temari menjawab.

Sakura merogoh saku terusan merah tua yang dikenakannya. "Ini sedikit pereda mual. Boleh diminum setelah makan, tapi tidak perlu setiap hari." Gadis itu mengulurkan sebungkus pil berwarna hitam ke arah Temari.

"Terima kasih," Temari berujar.

Haruno Sakura mengangguk. Itu adalah hari ke sepuluh sejak Shikamaru dan Temari mengunjungi ruang kerjanya di Rumah Sakit Konoha. Sakura memutuskan lebih aman mengunjungi Temari daripada sebaliknya—karena akan lebih sedikit membangkitkan kecurigaan. Secara berkala, Sakura akan menjadwalkan untuk memeriksa kondisi gadis yang sedang hamil muda itu.

"Kemarin Ino menemuiku," Sakura berujar setelah diam merayapi mereka beberapa saat. Gadis itu mencatat ketika Temari sedikit membulatkan mata. "Kau bertemu dengannya?" ia bertanya.

Temari meremas tangannya sedikit. "Dua hari lalu," ia membenarkan, "Ino menolongku yang sedikit sakit ketika kami berpapasan di jalan."

Sakura memandangi Temari dengan mata hijau cemerlangnya yang serius. "Ino mengetahui kondisimu?" Tepatnya, itu lebih terdengar seperti pernyataan di telinga Temari.

Ingatan gadis berambut pirang itu kembali ke saat di mana Yamanaka Ino membawanya ke rumah keluarga Yamanaka untuk sedikit beristirahat dan obat ringan. Sayangnya, semua itu hanya berujung pada Ino yang bersikeras memeriksa Temari dengan chakra medisnya. Lalu gadis itu berakhir mengetahui segalanya.

Temari menghindari tatapan Sakura. "Ino melakukan pemeriksaan, dan entah bagaimana ia mengetahui kondisiku," Temari bicara. "Aku menolak menceritakan apa pun, dan hanya meminta Ino tidak membocorkan rahasia ini kepada siapa pun."

Sakura menggeser sedikit posisi duduknya. "Setelahnya ia menemuiku," ujar gadis itu menerawang. "Maaf, aku tidak bermaksud membocorkan kondisi kau dan Shikamaru, tapi kurasa Ino berhak tahu."

Temari tidak membalas.

"Temari-san, aku tidak berniat ikut campur dalam masalah pribadi kalian lebih dari kapasitasku sekarang. Namun secara personal, aku merasa tidak tahan dengan sikap kalian yang terus seperti ini." Sakura memandang Temari lekat-lekat. "Baik kau, maupun Shikamaru, kalian berdua hanya menyiksa diri dengan terus menyembunyikan hal ini. Aku tidak berkata bahwa kalian perlu memberitahu semua orang, tapi kalian memang perlu bicara dengan beberapa orang."

Rasanya seperti tusukan kecil mengenai satu sudut terdalam diri Temari. Diam-diam, Temari memahami apa yang dimaksud oleh gadis berambut merah jambu di depannya. Ia mengerti, namun ia tidak berani mengambil resiko untuk melakukan apa pun—tidak di tempat yang bukan wilayah familiar baginya seperti ini.

Sakura menghela nafas sedikit. "Aku mungkin tidak paham apa yang kalian lalui, tapi setidaknya aku masih memiliki kepekaan terhadap sesama perempuan." Sakura meraih tangan Temari dan meremasnya dengan lembut. "Temari-san, jangan menyiksa dirimu lebih dari ini."

Temari merasakan emosi mulai menumpuk di sudut matanya. Setiap kata yang terujar dari bibir gadis di depannya mengenai satu tempat yang tepat, mulai memojokkan dirinya pada realita yang selama ini ia coba untuk hindari.

"Kalian tidak harus berjuang sendiri. Kau, terutama, tidak harus memaksakan menahan segalanya sendiri. Apa yang sekarang terjadi bukanlah kesalahan yang perlu dihakimi. Apa yang kau rasakan, apa yang kau kandung," Sakura berhenti sejenak, "bukanlah dosa yang perlu ditutupi."

Temari memejamkan sepasang mata turquoise-nya.

Sakura diam sesaat sebelum kembali berujar dengan suara jernihnya, "Kalian tidak sendiri. Kalian memiliki banyak yang bisa diajak berbagi. Teman-teman—" Sakura meremas tangan gadis itu. "—juga keluarga."

Bayangan akan sosok pemuda berambut merah bata dan coklat tua begitu saja muncul di benak Temari. Ingatan akan desa berangin dan rumah sederhana yang berbau pasir juga menjadikan puncak emosi gadis itu berada di titik tertinggi. Kemudian sosok Nara Shikamaru menghias, dan segalanya seperti meleleh dalam kepasrahan abstrak.

Temari membiarkan dirinya terisak ketika Haruno Sakura mendekat dan memberikan sebuah pelukan tulus.

Hari itu, untuk pertama kalinya selama sebulan terakhir, Temari membiarkan air matanya mengalir di hadapan sosok selain seorang Nara Shikamaru.

.

#

.


Suasana rumah keluarga Nara tampak tidak begitu membaik sejak perbincangan canggung anggota keluarga yang terjadi sebulan lalu. Nara Yoshino tampak menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah, nyaris terang-terangan menjauhi sosok anak semata wayangnya yang dalam beberapa hari terakhir terlihat muram.

Itu adalah tengah hari yang sepi. Yoshino sibuk di dapur, sementara Shikaku memilih menenggelamkan diri dalam sebuah buku di ruang tamu. Kontras, Nara Shikamaru hanya duduk meluruskan kaki di serambi rumah besar bergaya tradisional itu. Sepasang mata hitamnya terpaku ke arah langit dan awan yang melayang tanpa suara.

Membisu, Shikamaru sudah memutuskan untuk mengabaikan kekakuan yang terjadi antara ia dan ibunya. Ketika fakta mengenai asal-usul ibunya begitu saja terkuak, Shikamaru merasa sang ibu menghindarinya. Tidak lagi terlihat marah seperti ketika insiden penolakan itu—lebih seperti sendu dan tampak merasa tidak enak. Apa pun, Shikamaru merasa semua di sekitarnya tampak kacau. Bahkan Nara Shikaku yang tidak berkomentar terlihat seperti orangtua tidak peduli yang hanya ingin tidak ingin ikut campur. Segalanya menyisakan Shikamaru yang merasa seperti orang payah yang memandang semua hal dengan negatif.

Sampai di mana simpul masalah ini terbentuk, sekarang? Shikamaru mencatat setidaknya sudah tiga orang yang mengetahui keadaan ia dan Temari—Kurenai, Sakura, dan Namikaze Naruto. Entah mengapa, ia merasa dalam waktu dekat jumlah itu akan bertambah.

Cepat atau lambat, jumlah itu memang harus bertambah.

Tapi mengenai keluarganya, Shikamaru memutuskan akan jadi yang terakhir. Setelah ia memantapkan langkah yang perlu diambil, mungkin ia baru akan bicara. Lagipula … tatapan orangtuanya seperti sudah mengetahui sesuatu. Shikamaru tidak terkejut, sebenarnya—intelegensi mengagumkan yang dimilikinya mungkin memang sesuatu yang diwariskan secara genetis. Namun selama tidak satu pun dari mereka bicara, Shikamaru memilih untuk bertahan diam.

Pikiran pemuda itu melayang kembali pada percakapan terakhirnya dengan Temari. Jauh di dalam hati, Shikamaru merasa menjadi begitu tidak berperasaan untuk benar-benar mengucapkan pertanyaan itu. Tapi itu faktanya. Baik ia maupun Temari, harus berhenti menghindar dari kenyataan.

Konoha, atau Suna?

Shikamaru tidak merasa ingin menjawabnya. Seperti ia tidak merasa ingin Temari benar-benar harus memutuskan hal itu. Mungkin ia memang egois—atau kekanak-kanakan? Bagaimana bisa ia tega menekan Temari untuk memilih sesuatu yang ia sendiri tidak bisa tentukan?

Shikamaru menghmbuskan nafas panjang. Sebenarnya, segala kerumitan yang dihadapinya saat ini memberi efek positif di sisi lain—berhasil menghentikan kecanduannya akan dua hal: kata 'merepotkan' dan rokok.

Sesungguhnya, kalau bisa, Shikamaru akan lebih memilih dua hal itu sepanjang hidupnya, daripada kerumitan sekali seumur hidup seperti sekarang ini.

Setelah itu, Shikamaru tenggelam dalam kehampaan yang memenuhi rongga dirinya. Di balik seluruh analisis, seluruh pikiran dingin dan seluruh rasionalitas yang bergema di otaknya, Shikamaru merasa kosong. Sesuatu tidak terasa pada tempatnya.

Shikamaru tidak mengerti, namun ia merasa getir jika mengingat seluruh dukungan yang sejauh ini didapatkannya. Ia tidak merasa pantas untuk semua itu.

Nara Yoshino diam-diam mengamati punggung putranya dari dapur dan kegiatan mencuci piring yang sejak tadi ditekurinya. Wanita paruh baya itu meremas spons basah di tangannya. Ia tahu sesuatu sudah terjadi. Ia tahu—itu insting wanita. Namun, kalau boleh, ia tidak ingin mengetahuinya. Ia setengah berharap bahwa putranya akan berhenti berkutat dengan sesuatu yang terlalu rumit. Tapi, insting wanita yang sama dengan tegas meragukan harapan itu.

Denting bel di pintu depan memutuskan pikiran Yoshino. Wanita itu melirik, menemukan suami dan anaknya tenggelam dalam kesibukan masing-masing—seperti tidak mendengar apa pun. Menghela nafasnya, Yoshino memutar tubuh dan beranjak menuju teras rumahnya.

"Iya, iya, sebentar—" wanita itu berujar ketika siapa pun yang menekan bel rumahnya terdengar tidak sabar.

Pintu membuka, menampakkan dua sosok muda yang berdiri dengan pandangan tidak seperti biasanya. "Selamat siang, Bibi," gadis berambut pirang panjang berujar hangat. Di sampingnya, tampak sosok pemuda bertubuh subur yang memberi salam dengan sopan.

"Ino? Chouji?" Yoshino memandang heran. Bukan seperti dua anak muda itu jarang mengunjungi rumahnya, namun ekspresi mereka yang membuat Yoshino tertegun. Meski mencoba tampak ceria seperti biasanya, Yoshino tidak gagal menangkap pandangan serius di dua pasang mata itu. Dua sosok itu tampak berpandangan dan saling mengangguk tipis.

Yamanaka Ino memandang Yoshino dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. "Maaf, Bibi," ia bicara lambat, "kami harus meminjam Shikamaru sebentar—"

Nara Yoshino tahu—instingnya memang tidak salah. Meski ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, ia bisa menduga sesuatu memang sedang terjadi. Dan wanita berambut hitam itu hanya mengangguk dan memberikan senyum hambar ke arah dua sosok di depannya sebagai jawaban.

.

#

.


Akimichi Chouji menelan ludah. Pemuda berambut coklat pudar itu tidak yakin harus melakukan apa. Ragu antara menghentikan gadis berambut pirang panjang yang tampak marah, atau turut memojokkan pemuda berambut hitam yang tampak terpekur tanpa ekspresi. Pada akhirnya, Chouji memilih diam untuk sementara.

"Teganya kau menutupi semua ini dariku dan Chouji!" terdengar nada tinggi dari Yamanaka Ino yang memandangi sosok diam di depannya.

Tidak ada jawaban. Nara Shikamaru hanya terpaku, duduk di atas sebuah batu besar dan membiarkan mata pekatnya memandangi rerumputan suram yang tertimpa cahaya matahari senja.

Tempat itu adalah sudut sempit di sisi perbukitan Desa Konoha. Tidak jauh dari sana, angin menggoyangkan rumput panjang yang menghiasi batu-batu nisan. Dulu, tiga sosok itu pernah berdiri di tempat yang sama, mengujarkan sumpah tanpa suara untuk membalaskan kematian sensei mereka. Dan sekarang, tiga sosok itu berdiri di tempat yang sama, mengawasi keretakan di antara mereka dengan khawatir—setidaknya itu berlaku untuk Yamanaka Ino dan Akimichi Chouji.

Mata aqua Ino berkilat dipenuhi emosi—kemarahan, kekecewaan, ketidakpercayaan, segalanya bercampur menjadi sesuatu yang membuat Shikamaru mengambang dalam keraguan. Pemuda itu tidak bergerak, tidak menjawab, tidak memandang—sejak dua sahabatnya membawa dirinya untuk berakhir di tempat itu.

"Kenapa? Shikamaru?" isak tangis itu akhirnya terdengar juga.

Kedua pemuda yang terdiam mendengar jelas suara itu. Mereka memahami karakter gadis itu, dan pada titik tersebut, tidak berniat menghentikan air matanya. Segalanya hanya terasa sesuai pada tempatnya.

Kenapa?

Shikamaru juga ingin menanyakan itu. Kenapa tidak satu orang pun menyalahkan dirinya atas kekacauan ini? Tidak Temari, tidak Kurenai, tidak Sakura, tidak Naruto—tidak juga Ino atau Chouji. Tidak satu pun.

Shikamaru tidak mengerti. Mengapa semua orang berusaha membantunya, dan tidak sedikit pun menyalahkan dirinya? Semua kekacauan ini adalah akibat tindakan naifnya—emosi sesaatnya. Tapi bahkan Temari tidak melintaskan satu kemarahan pun dalam sikapnya.

Kenapa?

"Ino—" Chouji bersuara. Pemuda itu telah terdiam untuk waktu yang cukup, merasakan emosi menguar di antara mereka.

Ino mengangkat wajahnya, tidak berusaha menutupi air mata yang mengalir di pipinya. Gadis itu memandang Shikamaru, kekecewaan terpancar dari suaranya ketika ia bicara, "Bahkan Sakura bisa mengetahui semuanya lebih dulu—" Ino mengepalkan tangannya. "Apa kau tidak percaya pada kami?!" Nada itu berganti menjadi kemarahan.

Shikamaru tidak menjawab. Ia membiarkan telinganya merekam nada kemarahan yang dilontarkan dua sahabatnya. Jauh di dalam hati, ia menginginkan nada itu lebih banyak. Shikamaru melupakan logikanya, melupakan pikiran-pikirannya. Kali ini ia membiarkan keegoisan mengambil alih dirinya.

Lebih baik jika seseorang memarahinya—menyalahkan dirinya.

"Shikamaru! Jawab aku!" Ino bergerak mendekat, mencengkram pakaian hitam Shikamaru dan menyentak pemuda itu. "Apa kau sudah lupa padaku dan Chouji?" Ino meninggikan suaranya. "Memangnya kenapa jika aku sudah menikah, jika Chouji akan bertunangan?! Kita sudah bersama sejak kecil, dan teganya kau melakukan ini semua pada kami!" Antara jeritan dan isak tangis berbaur dengan ganjil.

"Ino, hentikan—" Chouji berujar—meski gerak-geriknya tidak sepenuhnya menunjukkan apa yang diucapkannya.

"Diam, Chouji! Biar Shikamaru tahu bahwa ia sudah bersikap keterlaluan!" Ino menoleh memandang tajam Chouji, lalu mengembalikan pandangan ke arah Shikamaru. Tangan gadis itu menyentak tubuh Shikamaru lagi. "Shikamaru! Kenapa kau jadi seperti ini?! Kau sama sekali tidak bersikap seperti dirimu!"

Shikamaru merasakan gumpalan di hatinya. Kemarahan itu membuatnya merasa lebih baik. Benar, ia pantas mendapatkan semua ini. Semua ini adalah salahnya.

Lalu kata-kata mengalir keluar bahkan sebelum Shikamaru sempat memikirkannya, "Ini bukan urusan kalian."

Hanya berupa ucapan pelan, namun cukup untuk membuat dua sosok di depan Shikamaru terpaku. Chouji membulatkan matanya. Ino menggigit bibirnya, membiarkan setetes lagi air mata jatuh dari pipinya. Dan semuanya hening.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Shikamaru.

"Ino—" Chouji memandang peristiwa itu dengan tidak percaya. Namun pemuda itu terpaku, membiarkan punggung Ino yang bergerak karena nafas berat tetap pada tempatnya, membiarkan Shikamaru diam menolehkan wajahnya ke satu sisi yang tertunduk.

Nara Shikamaru merasakan nyeri di sisi pipinya, namun ia merasa baik. Itulah yang dibutuhkannya. Sebuah tamparan yang menghempaskannya dalam realita. Sebuah nyeri yang mengingatkan dirinya atas kesalahan yang sudah dilakukannya.

Tapi kenapa kegetiran di hatinya tidak juga hilang?

"Sampai kapan kau mau melarikan diri?" Ino bicara, nyaris tidak mengenali suaranya sendiri. Segalanya terjadi tanpa sempat dipikirkan—tangannya yang bergerak, bibirnya yang bersuara. Ino tidak paham, namun ia tidak menahan semua itu.

Chouji terdiam. Dalam pantulan matanya, Shikamaru masih tidak bergerak. Namun pemuda itu bisa menangkap gerak keterkejutan yang tanpa sadar muncul ketika suara Ino bergema di tempat itu.

"Kau boleh saja tidak bercerita, kau boleh saja melupakan kami," Ino melanjutkan, "tapi kami tidak akan membiarkanmu menyakiti diri sendiri."

Shikamaru terdiam. Melarikan diri? Menyakiti diri? Apa itu yang sudah dilakukannya?

Ino mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Itu tadi untuk Temari-san—" ujarnya. Ia menangkap gerakan tipis dari bahu Shikamaru. "Kau tidak hanya menyakiti dirimu sendiri, tapi juga orang yang seharusnya kau lindungi. Ini bukan dirimu. Aku tidak mengenalimu, Shikamaru."

Pada titik itu, Shikamaru mengangkat wajahnya.

Akhirnya, tiga pasang mata bertemu di satu titik. Shikamaru menemukan garis kelembutan perlahan muncul di tarikan wajah Ino dan Chouji.

Kemudian, satu tangan Shikamaru bergerak menutupi wajah, menahan kehangatan aneh yang seperti menjalari tubuhnya. "Maaf—" ia bergumam pelan.

Selanjutnya, yang dirasakan Shikamaru adalah pelukan erat dari Yamanaka Ino, dan sentuhan Akimichi Chouji di bahunya.

Senja tidak menangkap suara dari tiga sosok itu selain isak tangis tipis yang meluncur dari bibir Ino. Namun kelegaan melingkupi mereka dengan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Begitu saja, Nara Shikamaru merasa seperti aroma tembakau menguar di sekitar mereka—seolah sosok Sarutobi Asuma sedang tersenyum mengawasi segalanya. Kemudian dalam beberapa saat, Shikamaru menjulurkan tangan untuk membalas sentuhan dua sahabat yang mengalirinya dengan sebuah perasaan hangat.

.

#

.


Malam berbintang sama sekali tidak memantul di bola mata hitam Nara Shikamaru. Pemuda itu terpekur menerawangkan pandangan pada kedua kakinya yang menapak jalan berbatu. Kursi kayu, sebuah lampu jalan, dan toko kelontong sunyi adalah sudut kota Konoha di mana Shikamaru memilih untuk menyendiri.

Pemuda itu tidak lagi bisa memahami dirinya, hatinya, atau suasana di sekitarnya. Segalanya seperti mengambang. Shikamaru tidak bisa lagi merasakan nyeri di sisi pipinya karena tamparan Yamanaka Ino, namun jauh di sudut hati, pemuda itu masih merasakan jejaknya—tamparan realita.

Langkah kaki yang berhenti tak jauh dari tubuhnya yang terduduk nyaris tidak disadari oleh Shikamaru. Begitu saja, pemuda itu membiarkan beberapa detik berlalu sebelum benar-benar menyadari sejulur lengan yang menyodorkan sekaleng kopi dingin.

Shikamaru mengangkat wajahnya. "—Neji?" ia bergumam nyaris tanpa suara.

Entah sejak kapan, di depannya berdiri sosok pemuda berambut coklat panjang, dengan pakaian putih susu dan sepasang mata perak keunguan yang memandang lurus. Shikamaru tanpa sadar meraih kaleng kopi yang diarahkan padanya.

Hyuuga Neji tidak menunggu persetujuan sebelum mendudukkan dirinya di samping Shikamaru. Jounin berkulit pucat itu menggoyangkan perlahan kaleng kopi miliknya. Tanpa bicara, pemuda itu hanya mengamati toko kelontong di seberang kursi mereka.

Shikamaru tidak mengerti mengapa suaranya adalah yang memecahkan keheningan lebih dulu. "Aku merasa seperti sedang mencari sesuatu untuk disalahkan," ujarnya.

Neji tidak melirik. Membuka kaleng kopinya, ia meneguk sedikit cairan kehitaman itu. Malam yang sudah larut membuat sunyi meresapi sekitar mereka, dan jari-jari Shikamaru yang menekan kaleng kopi di tangannya begitu jelas terdengar.

"Segala yang terjadi adalah salahku. Tapi tak satu orang pun menyalahkanku. Aku berusaha mendinginkan kepala dan menyusun segalanya, namun selalu runtuh sebelum sempat memahami bentuknya." Shikamaru terpekur memandangi kaleng di tangannya. "Rasanya seperti terseret ke dalam pusaran yang tidak kupahami. Semakin aku mengira sudah keluar, ternyata semakin dalam aku tenggelam."

Hening.

Neji tahu, ia mengenal Shikamaru. Bukan seperti pemuda itu menceritakan sesuatu yang dimengerti Neji, namun Neji paham bahwa Shikamaru sedang kehilangan pijakan akibat sesuatu. Mereka berdua mungkin bukan seperti sahabat dekat, namun keduanya saling mengakui suatu kesamaan pola berpikir—dan itu mengikat mereka tanpa sadar.

Kalau Shikamaru tidak berniat bercerita, maka Neji tidak akan bertanya. Analogi-analogi yang diungkapkan pemuda itu bukan sesuatu yang perlu Neji cerna dan tebak artinya.

Neji tahu, maka ia hanya diam mendengarkan.

"Aku tidak tahu lagi," Shikamaru melanjutkan dengan datar, "ke mana takdir berniat membawaku."

Tegukan Neji terhenti. Jounin berambut coklat panjang itu mengangkat kepalanya untuk menemukan bintang yang menghampar di langit cerah Konoha. Mungkin Neji tidak tahu apa yang sedang dihadapi Shikamaru, namun pemuda itu mengetahui satu-satunya hal yang bisa ia katakan dengan yakin.

"Seseorang yang sudah mengubah hidupku pernah mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan," Neji memulai, memandang bintang yang tampak terang di atasnya. "Takdir bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan. Takdir adalah sesuatu yang bisa diubah."

Jeda.

Neji melanjutkan, "Takdir bukanlah sesuatu yang akan membawa langkah kita—takdir adalah sesuatu yang kita bawa, untuk kita temukan akhirnya."

Takdir. Shikamaru tidak tahu bagaimana ia bisa berujung mengeluarkan kata abstrak itu, namun kata-kata Neji seperti menusuk sesuatu di sudut dirinya.

Neji memberi jeda lagi, menurunkan pandangan dan menatap lekat Shikamaru yang masih menekuri jalan di bawahnya. "Tidak cukup hanya dengan berusaha," Neji berujar jernih. "Kadang kau juga perlu melawannya."

Satu kata terakhir seperti menyentak Shikamaru. Tidak ada nyeri di pipinya, namun Nara Shikamaru merasa seperti baru saja tertampar sadar untuk kedua kalinya dalam hari ini.

.

#

.


.

Bersambung

.


Catatan Faria:

Setting senja yang sama dengan yang sempat tergambar pada animasi Naruto Shippuuden episode 82 (第十班, Team Ten). Setting malam harinya adalah yang sama dengan ketika Naruto menangis setelah menerima kabar kematian Jiraiya (dengan kenangan es krim potong dan Iruka yang muncul).

Ngomong-ngomong kenapa Neji? Mungkin pertemuan mereka di chapter ini hanya tidak sengaja. Namun bagi saya, Neji adalah salah satu sosok yang bisa dengan mudah memahami Shikamaru. Kejeniusan mereka, saling mengisi satu sama lain. Kesan itu saya temukan sejak pertama melihat kerjasama mereka dalam tim untuk membawa kembali Sasuke ke Konoha (masa genin). Well, saya merasa bahwa Neji, dan Sakura, meski berbeda dari Ino dan Chouji, punya peran penting dalam perjalanan hidup Shikamaru.

Bagaimanapun, saya sangat enjoy menulis chapter kali ini. Persahabatan antara rookie nine + Tim Neji memang sesuatu yang luar biasa berkesan dari anime/manga Naruto :)

… tapi tetap saja, tolong biarkan saya tenggelam dan tidak menerima kenyataan akan kematian Neji di canon. Ukh—*ambil tissue*. Terima kasih sudah membaca. Dan maaf karena saya belum sempat membalas seluruh review yang masuk.

.

~fariacchi – 140301~