Oleh Sena Ayuki, tentang ORANGE:
Fiksi ini bagus. Ya, bagus. Sudah lama aku tidak merasakan sensasi ingin mereview seperti ini. Yang harus Frag-san tahu adalah aku menyukai tiap kata, kalimat, paragraf yang kau buat. Ini seperti membayangkan jemarimu menari di atas 'keyboard' dan menyalurkan semua imajinasimu dengan lancar.
Oh, begitu salutnya aku ketika di chapter tiga Naruto mengajari muridnya tentang 'jangan lakukan apa yang kau tidak suka pada orang lain'. Cara bernyanyi, bagaimana berinteraksi. Oh, sungguh mengharukan.
Ini seperti berjalan dengan berirama? Seirama? Bagaikan semuanya sudah punya porsi yang imbang. Dan juga aku pecinta fandom NaruHina.
Tolong jangan bosan, salahkan tulisanmu yang membuat jemariku jadi ikut menari untuk mengetik review setelah sekian lama.
Ini seperti kisah berat yang dibungkus ringan. Ditutupi dengan interaksi Naruto dan kelasnya.
Aku suka. Tolong jangan diubah lagi.
/
Warning: DEWASA! perselingkuhan. Konten seksual dan perkosaan. Jika kamu di bawah umur, ataupun tidak kuat dengan kekerasan, darah, tangisan, hal-hal menjijikkan dan menyedihkan, tidak suka SasuHina, sebaiknya lewati adegan setengah terakhir sampai habis chapter ini; adegan flashback "Senggama" Sasuke dan Hinata yang dibatasi tanda pagar.
Sekali lagi, tolong tidak menyerap isi dalam fanfiksi ini mentah-mentah. Seraplah yang baik-baik dari fanfiksi ini.
Naruto tidak tahu mana yang mati rasa.
Mungkin tubuh, pegal karena Hinata bersandar padanya; mungkin batin, lelah karena turut berduka atas sampah batin yang tak pernah Hinata kemukakan; atau bahkan keduanya, karena ia merana tak ingin memaknai kata-kata Hinata.
Ia pernah berdoa, menginginkan lagi satu masa saat bisa membelai Hinata yang terlelap dalam dekapannya. Namun bukan seperti ini: menangis sampai terkuras seluruh energi.
Sebelum Hinata terlelap, demi meredam tangis yang menyayat-nyayat gendang telinga, Naruto menggumam nada dan serangkai kata. Persetan ini sumbang atau tidak, asalkan Hinata beroleh istirahat yang ia butuhkan tanpa menggigil ketakutan. (1)
Naruto mengerling seberkas bayang yang jatuh di letter L koridor, entah sejak kapan ada di sana. Ia menekuk satu ujung bibir ke atas. "Di mana Himawari?"
Boruto menyeruak dari bayang-bayang. Matanya memincing tajam. Hidung kembang-kempis. Mulut mencebik dengan gigi bergemertakan. Kedua lengan terkepal di sisi tubuh.
"Ketiduran di sofa," seloroh Boruto, mendudukkan diri di depan sepasang orang tuanya.
Naruto mengelus punggung lengan Hinata ketika wanita itu tersentak kaget karena ia hendak bergerak. "Mau pulang sekarang? Ini sudah lewat jam macet, 'kan?"
Urat-urat pembuluh darah menegang di pelipis Boruto. "Kau tega membiarkan Himawari yang sudah capek dan Kaachan yang ... begitu, untuk pulang sekarang juga?"
"Tidak, tapi Tou-chan cuma ingin menepati janji." Naruto membuang napas berat, berusaha untuk tidak terpancing emosi Boruto. "Bagaimana kalau nanti Sasuke mencari kalian?"
"Kenapa tidak pikirkan itu sebelum menawarkan kami datang ke sini?" Boruto mengumbar tawa pongah.
"Karena tadi macet dan hujan—oh, masih—sangat deras." Naruto menengok ke pintu geser kaca, pada hujan di luar sana. Beralih memandang lagi Boruto. "Sekarang, kau mau bagaimana?"
Naruto mengimaji garis-garis latar kesuraman persis di belakangnya, lantaran Boruto tampak berpikir keras. Detik selanjutnya kembali memelotot.
"Ya kau mesti tanggung jawab!" Boruto mendengkus. "Setidaknya, di rumah ini ada kamar tidur, 'kan? Biarkan Kaa-chan dan Himawari istirahat. Soal bagaimana besok dengan Sasuke Chichi-ue, aku akan bilang padanya. Selebihnya, itu urusanmu dengan Sasuke Chichi-ue."
Melihat ayahnya malah terkekeh pelan, kesewotan Boruto naik setingkat. "Apa sih kau malah tertawa, Tou-chan? Bagimu semua ini lucu, hah?!"
"Tidak, cuma ingat waktu Himawari marah padamu dan bilang kau control-freak." Mengetahui Boruto benar-benar akan murka, Naruto mengimbuh perlahan, "aku tahu selama ini aku bukan ayah yang baik, Boruto, tapi bukan berarti kau bisa main mengatur-ngatur segala sesuatu sesukamu."
Boruto membuang napas keras. "Itu datang darimu, yang mengatur segala sesuatu agar Himawari dan aku tidak tahu apa-apa. Jadi tidak usah sok menasihatiku!"
Naruto menghela napas panjang, memindahkan helaian rambut Hinata yang lagi-lagi terurai menutupi wajahnya. "Tolong bantu Tou-chan memindahkan Kaa-chan dan Himawari ke kamar."
"Tahan dulu! Kau pasti akan main lari, membiarkan kami—aku dan Himawari—tetap tidak mengerti." Boruto meninju bagian lengan sofa dengan tangan terkepal kuat. "Mau sampai kapan kau terus-terusan begitu—ttebasa?!"
Naruto menghindari pelototan Boruto. Mengatup bibir rapat-rapat.
"Kau main mengiyakan ketika diminta bercerai dari Kaa-chan, meninggalkan kami bertiga, pergi menghilang tidak tahu ke mana, datang lagi, pergi lagi!" desis Boruto. Telunjuk terangkat untuk menuding sang ayah. "Ada batasnya orang bisa seenak jidat datang dan pergi!"
Naruto tertawa letih. "Kaupikir Tou-chan akan pergi lagi setelah ini?"
"Ya, tidak ada jaminan kau akan tetap tinggal. Himawari bahkan sudah bilang, kalau kau pergi, dia juga akan ikut denganmu. Benar-benar keterlaluan!" Nada suara Boruto meninggi. "Inilah alasannya kenapa aku bilang, lebih baik tidak punya ayah, daripada punya ayah sepertimu!"
Naruto yang dulu, selalu mendapati dirinya remuk-redam mendengar kata-kata sarat kebencian itu. Dahulu, seorang balita kesayangannya bahkan bisa memaki-makinya tak pandang bulu.
Ironisnya, ketika sekarang bocah itu telah menjadi remaja, yang Naruto rasa hanya hampa.
Tersenyum dengan sorot mata datar, Naruto berujar, "Mungkin kau benar."
Boruto nyaris meninju sang ayah, dan pasti ia lakukan kalau tidak ada ibunya dalam pelukan pria itu.
"Kau juga sangat munafik, menggoda Kaa-chan ketika dia tertidur tiap pagi, tapi di depannya kau diam saja," ejek Boruto, menyeringai lebar.
"Ah ... jadi tiap pagi di kantor guru, langkah kaki yang kudengar, itu milikmu, ya?" Naruto meloloskan tawa pahit. "Dan ada di mana kau saat kekrisuhan antar-guru terjadi?"
"Baru mau masuk ke ruang guru saat para bibi membela Kaa-chan." Boruto meremas keras pinggiran sofa. "Dan kau gila, menggodanya di depan semua orang, malah mengacaukan rumah tangga Kaa-chan!"
Naruto menatap pada spasi kosong di dinding.
Boruto sekali lagi mengepalkan tangan kuat-kuat. "Aku benci Kaa-chan dihina-dina oleh semua wanita itu."
Naruto menyeringai kecil. "Selingkuhan Sasuke, maksudmu?"
Boruto menajamkan pandangan. "Yang salah itu mereka yang menghina."
Kali ini, Naruto menegakkan punggungnya, menatap Boruto lekat-lekat. "Ada yang sangat ingin Tou-chan tanyakan padamu. Boleh, tidak?"
"Tanya saja." Boruto mendengkus. "Mungkin kujawab, asalkan kalau aku bertanya balik, kau juga menjawab."
"Adil," puji Naruto dengan senyum kecil, yang pupus oleh raut serius. "Kau tahu kelakuan Sasuke: sering memainkan wanita, itu menyakiti ibumu, tapi kau diam saja?"
"Sasuke Chichi-ue ti-tidak pernah menyakiti Kaa-chan." Boruto memampang tampang jengah.
"Mungkin tidak di depanmu." Naruto mendelik. "Boruto, meskipun Tou-chan lama tidak bersamamu, tapi bukan berarti tidak mengerti kalau kau sedang berbohong."
"Apa pentingnya untukmu? Tidak usah sok tahu, kau tidak pernah bersamaku lama-lama!" Boruto balas menyalak. "Itu urusan—"
"—kau anaknya, dan sudah bukan bocah. Kau dari tadi ada di sini, masa tidak mengerti kenapa Kaa-chan sampai menangis begini?" potong Naruto tajam.
"Itu gara-gara kau!" Boruto melempar lengan ke samping dan terbuka. "Aku mendengar obrolan kalian dari sejak Kaa-chan tanya, yang mungkin sejak ulang tahun ketiga Himawari. Jangan mengelak!"
"Boruto, astaga," Naruto mulai berdecak, mengusap rambut Hinata yang mulai mengerang—mungkin terganggu perdebatan mereka, "kau berani bersumpah, di sekolah tidak pernah lihat ayah kebanggaanmu itu digandeng perempuan lain?
"Kau diam saja ketika para wanita itu mencaci-maki ibumu? Masa kau tidak mengerti, ibumu korban semua masalah ini, dan publik malah menghinanya karena cuma jadi wanita tapi bisanya hanya diam saja?!"
"Makanya kubilang, semua itu salahmu!" Boruto menatap Naruto dengan muak. "Kalau kau tidak meninggalkan Kaa-chan, kalian tidak bercerai, semua juga tahu tidak akan begini jadinya.
"Kalian berdua menolak memberitahuku dan Himawari apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tahu, diamnya Kaa-chan selama ini dibegitukan Sasuke Chichi-ue—"
"—diselingkuhi?" Naruto mendengus keras.
"—dan keluarga Uchiha, pasti ada kaitannya denganmu!" Boruto menuding sang ayah berkali-kali. "Dan tidak usah sok merasa paling suci, kau juga sama saja!
"Kenapa pula kau melakukan semua ini, kalau bukan karena kau mau mengajaknya selingkuh juga, hah?! Apa kau tidak berpikir kalau melakukan semua itu, sama saja malah akan bikin reputasi Kaa-chan tambah buruk di mata publik?!"
Naruto terperanjat. Napas tersendat; tenggorokan maupun kerongkongan seakan tersumbat, kendati air matanya tetap terpampat.
Boruto beranjak bangun dari tempat duduknya, menyambar kerah kemeja hitam Naruto.
Naruto menjaga agar Hinata tak terusik tidur pulasnya. Membiarkan Boruto mencengkeram kerah kemeja seakan ingin merobek, mengoyak-moyak kemeja sampai terserpih.
"Sudah kubilang, jangan pernah datang menginjakkan kaki ke rumah Uchiha lagi, tapi kau malah datang!" Boruto merendahkan suaranya, tapi tak menutupi nada amarah yang sekali ini tumpah-ruah. "Coba kau tidak datang di malam ulang tahunnya, Himawari tidak perlu lihat kau dilarang sekuriti untuk bertemu kami. Kaupikir bagaimana perasaan Himawari dan Kaa-chan mendapati kau diusir pergi?!"
Naruto terperangah. Melihat sorot mata Boruto, menelaah apa yang ada di balik semburan kata-kata dan amarah putranya, sesuatu dalam rongga dadanya berdentam keras. Tenggorokan terasa terbakar kala bergetar menarik napas.
Dampratan Boruto tergerit di sela-sela gigi yang bergemertak. "Kalau kau tidak pernah pergi, kau tidak perlu menanyakan kabarku dan Himawari sembunyi-sembunyi begini dari Kaa-chan!
"Kau tidak perlu memandang Kaa-chan seperti itu tiap dia datang terlalu pagi ke sekolah dan tertidur begitu! Kau tidak usah menghindari Kaa-chan setiap hari di sekolah, tidak akan ada yang memandang kau tercela tiap kau berbicara dengan Himawari!
"Apa kau benar-benar memikirkan konsekuensi menceraikan Kaa-chan, pisah dari kami berdua, juga kembali lagi seolah tidak ada apa-apa yang terjadi?!"
Boruto tersengal. Hanya keajaiban, mungkin keletihan dalam batas keterlaluan saja yang menyebabkan ibundanya tak terbangun karena mendamprat sang ayah.
"Maaf," lirih Naruto seraya menundukkan kepala.
"Omong maaf saja mudah! Semua orang juga bisa!" Boruto menarik kemeja ayahnya lebih keras, agar tatapannya dibalas. "Bagaimana kau mempertangguungjawabkan semua ini?!"
Naruto masih bergeming, walau tercekat melihat tatapan Boruto.
Tidak ada yang bisa membuatnya merasa lebih buruk, selain kenyataan, bahwa boleh saja ia bisa jadi orang tua yang baik di sekolah untuk murid-murid, tapi tidak pernah untuk anak-anaknya sendiri.
"Tou-chan, aku sudah bukan bocah." Boruto menatapnya lekat-lekat, berusaha menahan panas sendiri di matanya. "Katakan, aku tumbuh dengan baik, 'kan?"
Naruto mengangguk dalam-dalam, menghela napas berat. "Iya." Dan Tou-chan bangga padamu, tapi apa kau mau mendengar itu?
"Kenapa tidak pernah mau cerita ada apa sebenarnya?" Volume suara Boruto perlahan menurun. "Apa kau sebegitu meremehkanku dan menganggapku masih anak-anak, jadi tidak mungkin mengerti apa yang terjadi?"
Naruto menunduk sekilas. "Bagaimana bisa Tou-chan memberitahumu, kalau Tou-chan saja juga tidak mengerti?"
Boruto mendecih. "Setidaknya kau bisa memberitahu kami apa yang terjadi pada kalian. Bagaimana bisa, kapan, dan kenapa Kaa-chan diculik? Apa yang terjadi di antara waktu itu, sampai kemudian kau dibuang ke jalanan?"
Tak ada jawaban.
"Kenapa Tou-chan dan Kaa-chan tidak apa-apa kalau kami baik-baik saja?" Boruto mendesah, frustrasi karena Naruto malah menundukkan kepala. "Kenapa mesti segala hal ditutup-tutupi?"
Cengkeraman pada kerah kemeja hitam pun mengendur. Begitu pula nada dan volume suara.
Beberapa lama tiada suara, hingga Boruto meninju keras punggung sang ayah. Pahit dan benci karena tidak mengerti, parau berkata, "Jelas Tou-chan dan Kaa-chan tidak baik-baik saja."
Boruto mengantukkan kepala ke bahu ayahnya.
Naruto kehilangan satuan waktu akan berapa lama Boruto dalam posisi seperti itu, ceceran detik yang ia lewatkan untuk mengumpulkan keberanian—merengkuh semua yang pernah ia miliki, tanpa takut disentak lagi.
"Maaf," kata Naruto pelan, bersungguh-sungguh. Satu tangan terlepas dari Hinata, kemudian mendarat di pundak putranya.
"Tidak dimaafkan," gumam Boruto yang dimaksudkan untuk penuh dendam, walau siapa pun yang mendengar juga tahu suara parau akan membuat hati siapa pun remuk redam.
Nihil reaksi penolakan, Naruto memberanikan diri mengusap-usap pundak sang anak.
Sepasang mata biru membulat. Takjub karena tidak datang pula sentakan berakarkan dendam maupun amarah berkepanjangan, sampai ke tahap Naruto tidak bisa mendefinisi apa itu kebahagiaan.
Wajarkah merasa bahagia sampai sangat sakit rasanya?
"Iya, melepaskan Kaa-chan, kau dan Himawari, memang salah Tou-chan. Tidak apa-apa kau tidak memaafkan Tou-chan," aku Naruto, bara menyala-nyala terasa di dadanya ketika berkata, "tapi, tolong kau coba mengerti, kenapa Kaa-chan menangis seperti ini. Karena sebenarnya, Tou-chan juga tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi."
Boruto berdecih, letih. "Tidak perlu kausuruh juga aku akan melakukannya."
Perlahan-lahan senyuman terbit di wajah Naruto. "Terima kasih sudah menjaga Himawari dan Kaa-chan selama ini, Boruto."
"Aku menjaga mereka baik-baik bukan buat kausakiti lagi begitu kembali." Boruto mendengus, kali ini ia menepis belaian sang ayah pada kepalanya.
Naruto menatapnya dalam-dalam. "Tou-chan janji, tidak akan lagi."
Boruto mengangkat kepala, memutar bola mata. "Sudahlah, aku muak dengan janji."
Naruto menghela napas, tapi ia tak lagi menanggapi. Kini mengamati ekspresi Boruto, menatap Hinata. Sama-sama wanita yang paling mereka sayang, meski bentuk dan rasa cinta mereka berbeda makna.
"Kalau nanti ada waktunya, kau sudah mengerti semuanya," Boruto mengunci tatapan mematikan pada ayahnya, "berjanjilah kau akan menceritakan segalanya pada kami bertiga."
Sebelum Naruto sempat mengangguk dan mengiyakan, Boruto malah berdecak keras. mengibaskan tangan dan mengatakan, "Lupakan yang barusan kukatakan!"
Boruto melanjutkan dengan cercaan, membeberkan rentetan kisah lama.
Seorang ayah yang tidak pernah menepati janji. Akan ada di rumah saat anaknya ulang tahun, tapi malah kerja lembur dan tak pulang sampai esok hari.
Ayah yang janji pulang tujuh malam, tapi sampai pagi dan matahari terik lagi, belum juga kembali.
Tak pelak tentang janji akan memberikan mereka susu berbotol-botol, makanan kesukaan mereka, melukis bersama, juga perang bola salju, bahkan semua itu terlupakan.
Naruto terkekeh mendengar omelan pelan Boruto, berbicara searah dengannya dan Hinata.
Boruto meraih tangan Hinata, mengenggamnya erat-erat. Tangan lembut yang selalu melingkupinya dengan kasih sayang. "Tou-chan, di mana kamar tidurnya?"
"Di lantai dua, pintu kedua setelah naik tangga."
"Oke—ttebasa," Boruto menggulung lengan seragamnya, "bagaimana bisa kita membawa Kaa-chan—"
Remaja lelaki itu terbelalak tatkala ayahnya mengubah posisi, dengan ringan menggendong ibunya begitu saja.
"Maaf, Boruto, tolong kaubenarkan posisi Kaa-chan." Naruto menaikkan posisi Hinata, mengeratkan kedua lengan di badan sang wanita. Merasa janggal tatkala menyadari bobot Hinata keterlaluan ringan untuk normal kesehatan yang bisa ia terima.
Boruto mendengkus-dengkus. Menyingkirkan rambut dari wajah sang ibunda, memastikan kepala bersandar ke dada dan kedua lengan terkalung di leher ayahnya.
"Kau jalan duluan," Naruto menghirup napas dalam, "nanti tolong bukakan pintu kamarnya."
"Tsk. Iya, iya. Bawel sekali sih kau." Boruto melangkah lebih dulu, diekori Naruto yang menggendong Hinata.
Boruto tak menoleh meskipun langkah sang ayah sempat terhenti di dekat sofa, menatapi Himawari yang terbaring dan mendengkur lembut. Memeluk bantal sofa. Berlapiskan blazer kelas Hebi dan Stands Proud.
"Tou-chan, ini kamarnya dikunci, tidak?" tanya Boruto, setibanya di lantai dua dan di depan pintu kamar yang tertutup.
"Tidak, kok, masuk saja." Naruto memperbaiki posisi Hinata dalam dekapannya lagi, baru menaiki satu demi satu anak tangga.
Boruto menekan gagang, mendorong pintu terbuka sambil menoleh ke belakang. Memutar bola mata dan menahan senyuman mendapati ayahnya berhati-hati menaiki tangga.
Ia mengerti. Bukan hanya karena tidak ingin ibunya terjatuh, tapi tidak ingin terbangun juga.
Mungkin selain dirinya dan Himawari, memang hanya ayahnya itu yang entah bagaimana bisa paham bahwa ibu mereka selalu kurang tidur di rumah. Menyiapkan perbekalan dan sarapan mereka, kemudian berangkat terlalu pagi.
Boruto melenggang masuk. Kamar tidur itu gelap, terpaksa ia meraba-raba dinding sekitar pintu mencari saklar. Begitu menemukan ia bergegas menekan. Sedikit takjub dengan dekorasi di dalamnya.
Sinar terang menyimbah seisi kamar. Sejenak Boruto kesilauan, ia tahu itu master bedroom dari ruangan yang luas. Tempat tidur queen-size untuk sepasang orang dewasa.
Ada meja kerja dengan seperangkat komputer, meja kerja dengan tumpukan jurnal. Foto kusam dirinya dan Himawari di atas meja yang kosong, juga bingkai foto Naruto dengan beberap orang yang ia tidak kenal.
Kedua meja itu bersisian dengan pintu kaca, pembatas antara kamar dengan balkon berpemandangan pekarangan taman belakang.
Cahaya dari pekarangan dan kolam renang, membiaskan warna biru, berpadu warna-warni Hydrangea, juga menggradasi sedikit spektrum bunga-bunga dalam jajaran apik potnya. Balkon berlampu putih terang, kucuran air dari tepi genting bahkan jadi terlihat cantik.
Boruto menyingkap bed-cover putih. Ketebalan selimut memakan energi untuk sekadar menyingkap. Selagi menanti Naruto datang, ia cermat mengamati sekeliling ruangan.
Cat dinding putih gading. Properti rata-rata didominasi cokelat kayu berpelitur. Perapian gas otomatis warna hitam, rekaan dinding bata memperhangat kesan ruangan. Sofa malas di depan perapian.
Televisi hitam elegan berlayar datar, ukuran normal (ia dalam hati mendecih, ukurannya tidak gigantis seperti yang ada di rumah Uchiha) decoder serba guna, dalam jarak wajar dari tempat tidur yang menghadap ke arahnya.
Head-board tempat tidur merupakan perpaduan antara kuning lemon dan krem terang. Bantal, guling, selimut gaya Barat, semua dilapisi dengan sampul putih. Anehnya tampak serasi dengan buffet cokelat di kedua sisi, serta ...
Boruto mengerjapkan mata. Benda di atas buffet itu terlihat seperti lampu tidur, tapi juga tidak. Lebih seperti vas yang ditutup dengan mangkuk terbalik.
Ia tahu diri untuk menepi dan membiarkan ayahnya membaringkan ibunya ke ranjang. Kali ini, memerhatikan Naruto perlahan-lahan melepaskan kedua sandal rumah dari kaki Hinata, menyelimutinya sampai persis di bawah dagu.
"Sssh. Sudah, kok. Maaf tadi menganggumu." Naruto menepuk-nepuk pelan punggung lengan Hinata dari balik selimut. Sorot matanya melembut, tidak juga ia sadar putranya menyadari itu.
Boruto mengamati ayahnya beranjak ke dekat nakas. Mengutak-atik benda vas dengan tutup serupa mangkuk. Diam saja karena gengsi mengakui ia tidak tahu apa itu sebenarnya.
Nah, benar dugaannya. Itu lampu tidur. Lagi-lagi menyala dengan aneh, membias cahaya lazuardi lembut. Naruto beranjak keluar kamar dan mematikan lampu utama.
"Boruto, tolong kau tutup tirai balkon," Naruto menunjuk ke arah tirai yang masih terikat rapi di gantungannya, "terus bukakan pintu kamar di sebelah kanan kamar ini, oke?"
Boruto beranjak ke dekat balkon, dari kaca pintu geser saja, ia bisa melihat hujan masih turun begitu lebat. Membludak volume air di kolam renang hingga tak henti bergolak. Hydrangea yang bermandikan hujan.
"Tou-chan mau ke mana?" Boruto menoleh usai menutup tirai.
Naruto asal melambaikan tangan. "Memindahkan Himawari ke kamarnya."
Garis-garis horizontal muncul di dahi Boruto. "Kamarnya?"
Hanya ada bunyi tapak kaki orang bergegas pergi.
Boruto mendengus sebal, tapi ia tetap menyelesaikan apa yang ayahnya minta untuk lakukan. Penerangan minimalis ruangan, tak mencegahnya untuk memungut remote perapian otomatis.
Sama persis dengan yang ada di ruang tamu. Boruto menekan beberapa tombol, perapian menyala. Gas menyulut api kebiruan, cahayanya menari-nari di tengah perangkat induktor hitam legam.
Boruto keluar kamar tanpa menutup pintu master bedroom. Menggerutu soal tidak ada kamar persis di sebelah master bedroom, karena terpisahkan ruang santai lain konsep terbuka dengan balkon ke taman balkon.
Mendengus, tersenyum sombong melihat perapian, televisi, rak buku, sofa nyaman dan karpet beludru di ruang itu. Ada organ hitam mengilat dekat pintu balkon dan gitar yang tergeletak di atas sofa. Tidak cocok.
"Memang kau bisa memainkannya?" Boruto berdecak, menghujat ayahnya sendiri sudah jadi bagian dari dirinya selama ini. Tergerak mengurai tirai sampai menutup pintu kaca itu, barulah lanjut melangkah.
Ia bergegas ke kamar sebelah, tertegun begitu membuka pintu kamar.
Sejenak ada yang bergetar dalam dirinya, menyadari kamar bernuansa ungu muda dan putih lembut itu benar-benar dirancang untuk anak gadis.
Dinding kamar perpaduan warna-warna pastel lembut. Atap putih. Pintu geser kaca, lagi-lagi berbatasan dengan balkoni. Begitu Boruto mengintip dari tepi, pemandangannya sama pekarangan belakang, hanya persis di atas sepetak bunga Hydrangea.
Di sudut ruangan ada rak buku sekaligus pajangan dirapatkan ke dinding. Kosong dan sedikit berdebu. Meja belajar dan meja rias diletakkan berseberangan dari sudut pandang sisi kamar.
Tidak ada televisi atau perangkat elektronik apa pun. Aneh juga. Padahal di beberapa sudut strategis ruangan, terdapat stop kontak.
Tepat di sisi meja rias, ada pintu geser sewarna cat dinding. Menggesernya sedikit, Boruto mengerjapkan mata mendapati walk-in closet dengan cermin besar di sana, persis di sisi kamar mandi pribadi untuk anak perempuan.
Pulasan biru muda dinding dengan closet putih bersih. Keramik bermotif bunga melati mungil, wastafel dengan mangkuk bening dan meja marmer. Bath-up dengan shower persis di atasnya. Minimalis tapi manis.
Desir anomali menyusupi hati, cepat-cepat ia menutup walk-in closet dan kamar mandi.
Beralih lagi ke kamar, Boruto tercenung saat memandang ranjang. Lamat-lamat menghampiri, menyingkap bed-cover lavender terang, menggeser guling dan bantal bersarung biru muda lembut, dan menaruh boneka beruang teddy di sudut.
Boneka itu mengetukkan ingatan akan suatu hari, ketika ayah mereka naik pangkat di sekolah. Yang dari guru honorer, menjadi guru tetap; membawa kelas bimbingannya berprestasi dalam kancah nasional untuk bidang olahraga.
Mereka tidak begitu mengerti, tapi Boruto tidak mungkin lupa adik kecilnya dulu memaksa ingin membawa boneka beruang. Cokelat, lusuh, dan benar-benar memalukan. Mereka tarik-menarik sampai kepala si beruang putus dari badannya.
Sisanya, adalah hal yang paling ingin Boruto lupakan. Tetapi, mana mungkin ia bisa tidak ingat tiap dihadapkan dengan boneka yang nyaris serupa?
Sekalipun boneka dengan pita merah nan cantik di lehernya ini, ukurannya jauh lebih besar dan tidak berwarna cokelat.
"Aduh, pasti itu Kurama yang telepon lagi."
Gerutuan itu diiringi derap langkah. Boruto menepi ke bagian tempat tidur, ayahnya agak terengah kala membaringkan Himawari ke ranjang. Mengganjal tepi tempat tidur dengan guling, membuat Boruto refleks memutar bola mata.
Himawari sudah bukan batita mungil yang bakal jatuh terguling dari kasur, kalau tidak diganjal bagian samping tempat tidur. Namun ia tidak bisa mencegah pandangannya agak melunak melihat Himawari tampak menyamankan diri ketika diselimuti.
Belum sempat Boruto tanya macam-macam, pria itu mengacak rambutnya sambil nyengir. Boruto kasar menampik tangan Naruto.
"Kamarmu setelah belokan, dekat kamar mandi, oke?" Naruto nyengir, geli melihat rambut putranya berantakan.
Boruto membuang napas kasar. "Apa maksudmu dengan kamar—"
Mereka sama-sama menoleh ke arah pintu, mendengar dering Iphone dalam volume maksimum yang disamarkan deru hujan.
"Boruto, itu nyalakan saja lampunya." Naruto melirik lampu aneh itu lagi yang ada di atas nakas kecil dekat ranjang tempat Himawari terlelap.
"Oi—" Boruto tercengang karena ditinggal begitu saja. Menyaksikan ayahnya main pergi lagi, menyulut sedikit emosinya yang sempat mereda karena mengingatkan torehan kelam masa kecil.
Tiap mereka akan bermain atau sedang melakukan sesuatu, ayahnya akan pamit meninggalkan mereka karena kerjaan. Selalu saja begitu. Kerjaan nomor satu. Kalau boleh jujur, karena inilah Boruto membenci profesi guru.
Boruto sampai menyumpah, jangan-jangan memang ayahnya jadi guru itu kutukan. Mungkin dari orang tua, dan kakek-nenek yang entah di mana adanya itu, juga mengemban kutukan ini?
Ia memilih memungut boneka itu, menyelipkannya ke dalam pelukan Himawari yang serta-merta terbangun.
"Ngh ... Boruto Nii-chan?"
"Ssh, sudah, sudah ... tidur lagi saja, ya." Boruto menyelimuti lagi Himawari yang melindur kecil.
Setelah memastikan Himawari kembali pulas, Boruto mengutak-atik lampu sialan itu. Alisnya bertautan melihat kap mungil tertempel di bagian belakang lampu. Mata membola karena ia menekan satu tombol, yang keluar malah layar hologram.
Boruto membaca satu per satu ikon yang ada di sana. Menganalisis sebentar. Ada pilihan on, off, illuminates, dan ia ragu-ragu kala mencoba menyentuh yang terakhir. Terkesiap karena lampunya menyala remang, berdecak lagi tatkala muncul pertanyaan warna macam apa yang ia inginkan.
Ia duduk di tepi ranjang. Membiarkan lengan Himawari otomatis terentang memeluk pinggangnya. Otomatis Boruto mengelus lengan adiknya.
Setelah itu, ia iseng memilih warna-warna apa yang bisa dinyalakan lampu aneh ini. Pilihan akhir toh jatuh pada yang namanya Smooth Violet, menyenangi perpaduan cahaya remang lembut itu dengan biasan cahaya dari pekarangan belakang.
Agak lama ia mengutak-atik. Boruto mengernyit heran, ada banyak ikon yang bisa dilakukan. Baru akhirnya beberapa lama menelusuri program, ia paham itu adalah bluetooth lamp. Bukan produk lazim yang biasa ada di rumah, tapi benar-benar multifungsi.
Sebagai lampu baca maupun tidur. Weker otomatis dengan pelbagai variansi dering. MP3 dan MP4 player dengan playlist lagu, speaker pula. Bisa pula disambung dengan kabel USB jika ingin dipakai men-charger laptop ataupun ponsel.
Piranti ini harganya tidak mungkin murah, Boruto berkesimpulan demikian. Makin mencurigakan saja. Menekan seliweran perasaan yang ia memilih tidak mengartikannya, Boruto membenarkan posisi si lampu di tengah meja, tolah-toleh kanan-kiri mencari penghangat ruangan.
Tidak ada perapian seperti di master bedroom, tapi ada AC. Boruto mengambil remote, mengatur suhu dalam derajat yang tinggi. Dengung mesin AC tak terdengar. Embusan angin hangat berembus dari atas rak buku yang kosong, membelainya dan Himawari.
Boruto terkejut begitu ada bunyi semprot, dan tak lama, wangi lavender lembut merebak dari bluetooth lamp. Menyebar wangi dan kehangatan di ruangan yang mulanya berbau agak apak oleh debu.
Setelah menutup tirai pintu kaca dan jendela, mematikan lampu utama kamar, ia menatap wajah damai pulas adiknya yang mengusel wajah pada boneka beruang. Menghela napas puas, akhirnya melangkah keluar kamar.
Sebenarnya ini kesempatan untuk memergoki apa yang ayahnya lakukan. Tetapi, perkataan sang ayah tentang kamarnya itu benar-benar mengusik Boruto.
Berdecak, merasa labil dan bahkan mengizinkan kesempatan untuk mengeksplorasi itu mengesalkan diri sendiri, Boruto melewati kamar mandi, sebelum masuk saja ia sudah akan menyesali apa yang sekiranya akan ia temui.
Prediksinya tepat. Boruto terpaku di pintu. Memang, kalau ia jujur, kamar itu tidak apa-apanya dengan kamar megah nan luasnya di rumah Uchiha.
Namun kamar itu tampak hangat dengan perpaduan oranye dan krem. Perabotnya tidak berbeda jauh dengan yang ada di kamar Himawari, minus meja rias. Ada walk-in closet dan kamar mandi, nuansa warnanya lebih monokrom hitam-putih dan abu-abu.
Ada balkon menghadap bagian depan rumah. Menampakkan perumahan lain yang berderet, bukan rumah elit ataupun menengah ke bawah, tapi cukup membuat orang tahu bahwa yang bisa menempati komplek perumahan ini bukanlah orang susah.
Boruto terduduk di ranjang. Perasaannya tak keruan, terutama dengan kenyataan ia tidak bisa menetapkan anggapan bahwa ia benar-benar membenci semua ini.
Mungkin tanpa sadar ia butuh pelampiasan untuk perasaan yang ditimbulkan dari mengetahui seisi rumah ini, jelas disiapkan dengan baik. Bahwa mungkin, lebih dari ibu dan adiknya, Boruto yang paling tidak suka dengan segala sesuatu yang datang dari sang ayah.
Boruto keluar. Melongok dari tepi pembatas lantai atas, terkejut mendapati ayahnya tengah bergerak rusuh di ruang tamu. Memakai jaket kulit hitam dengan aksesori paku merah darah, mengantungi kunci mobil, ponsel, dompet, dan hilir-mudik rusuh mencari payung.
"Tou-chan mau ke mana?" Boruto cepat-cepat menuruni tangga dan menghampiri ayahnya.
"Hah?" Naruto memijat-mijat pangkal hidungnya. "Oh. Ada teman yang ... benar-benar membutuhkan Tou-chan saat ini."
"Maksudnya?" Boruto mengeraskan rahang. "Tou-chan mau pergi lagi?"
Menghindari tatapan mencurigai putranya, Naruto mengangguk singkat.
"Terus kami bagaimana?" Boruto bersidekap. Andai tatapan benar bisa menusuk, bisa jadi ayahnya telah terkapar berdarah-darah di tanah saat ini.
"Titip tolong jaga Kaa-chan dan Himawari, Boruto," pinta Naruto dengan suara berat. Menyisirkan tangan, mendorong rambutnya yang terurai ke dahi agar terdorong ke belakang. "Rumah juga."
Boruto mengerutkan kening mendapati ayahnya menjejalkan kunci rumah padanya.
"Dengarkan Tou-chan," Naruto bergegas keluar dari dapur dan ruang tamu, melewati spasi tempatnya bekerja tadi, ia menatap lekat Boruto sambil memakai pantofelnya lagi, "siapa pun yang datang, jangan dibukakan pintu kecuali kalau Tou-chan pulang."
"Kenapa?" Boruto mengeratkan genggaman pada kunci di tangannya. "Kalau itu tamumu, bagaimana? Kapan Tou-chan pulang?"
"Ya, makanya itu, jangan dibukakan pintu, meskipun itu tamuku." Naruto berdecak kecil.
"Aneh," cetus Boruto, refleks dan begitu saja. Mencermati reaksi ayahnya berubah. Lebih gelisah.
"Tou-chan akan pulang begitu urusannya selesai, jadi kau lebih baik istirahat saja, gih. Tidak usah menungguku. Mandi air hangat dulu kalau mau, supaya kau tidak sakit." Naruto merogoh saku jaketnya, mengacungkan kunci dan kartu dengan barcode lain. "Ada kunci cadangan ini."
Boruto nyaris mendamprat lagi, tetapi ayahnya menampakkan penyesalan yang memenuhi airmukanya.
"Maaf, Boruto, tapi Tou-chan janji akan cepat kembali."
Pintu ditutup. Ada kartu dimasukkan ke dalam slot. Interkom berdenging tanda password rumah dikunci telah diaktifkan. Bunyi kunci diputar.
Tangan meninju pintu, sesaat Boruto masih tergugu di situ. Bisikannya diredam dinding yang cuma bisa membisu.
"Karena itulah aku benci tiap kau sudah berjanji."
(#)
Hinata membenci ini.
Deru napas Sasuke tidak bau, tapi ketika menubruk sisi wajahnya, Hinata tidak bisa menolong diri sendiri bahkan untuk tidak merasa ngeri.
Dia memekik tatkala Sasuke menyedot kulit lehernya dengan keras-keras sambil menghirup napas. Tangannya bergetar lemah, berusaha mendorong dada sang suami untuk mundur.
Namun apa daya, Sasuke menindih, menghunjam masuk lebih brutal. Menyodok jauh-jauh ke dalam dirinya, mendengus nikmat seorang diri. Mengucapkan umpatan kenikmatan dengan murahan, mengabaikan isakan kesakitan Hinata.
Ia menjerit sakit. Pita suara seakan dipelintir, berkelindan dengan tenggorokan dan kerongkongan, begitu ada tangan berpermukaan terlalu halus bahkan untuk lelaki, meremas dan memutar-mutar buah dadanya. Mencubit titik puncaknya hingga mengeras, memilin, lalu menggigit dengan gigi sampai terasa nyeri.
Sudah bertahun-tahun, tapi dicumbu sebernafsu itu tetap melumpuhkannya. Dari raga hingga jiwa.
Hinata tak berdaya bukan karena tak lagi punya daya, hanya saja tatapan memburu dan menguliti jiwa itu, umpatan bercampur klaim dan gigitan brutal menodai hamparan kulit. Terasa menodai.
Sasuke tertawa, yang Hinata pernah dengar banyak sekali wanita memuji itu terdengar seksi luar biasa. "Kau milikku. Ingat itu!"
"A-awhh, sakit!" Hinata digulingkan ke samping, Sasuke mengangkangkan kakinya, menggenjot keras Hinata yang mencakari seprai dan tempat tidur.
"Nanti juga terasa nikmat. Ck. Kenapa kau kering sekali?" Sasuke memaki.
Ia memaju-mundurkan bokong. Kejantanan Sasuke keras nan beringas menerobos keluar-masuk organ paling rahasia perempuan, berdecih, menampar bokong sintal Hinata, meremasnya bersamaan dengan dada istrinya dalam putaran yang sama.
"Mendesahlah, jangan takut terdengar seperti pelacur murah! Argh." Sasuke menyambar dagu Hinata, menciumnya paksa dan melumat gila-gilaan bibir istrinya. Memasukkan saliva sampai berleleran ke luar, saliva bercampur airmata dan membanjiri wajah sang wanita.
"Hmmph—!" Hinata melengkungkan badan, tangan mencengkeram bantal kuat-kuat.
Dinding-dinding alat vital lecet dan terluka karena gesekan keras, sementara miliknya tak lagi memproduksi pelumas. Hinata menangis, merasa tercekik karena lagi-lagi Sasuke mencerabut kasar sisa-sisa rambut halus bibir organ pribadinya.
Sasuke menggigit bibir Hinata, menyeringai bangga—yang kata orang terlihat tampan bukan rupawan. Darah berluruhan, bercampur airmata, dan luruhan salivanya.
Hinata tersedu-sedan. Merintih kesakitan, meski ia tahu takkan pernah didengarkan.
Sasuke mendengus. "Senikmat itukah?"
Sasuke mengobok-obok kedua dada yang menggantung, menderukan tentang dua gundukan yang telah mengendur. Semena-mena menarik titik tegang yang kiri, menyedot keras-keras puncaknya. Nadanya keji tapi bagi Hinata terasa begitu menghina, hah, payah. Tidak ada lagi susunya.
Sasuke mengeluarkan kejantanannya, memutar lagi tubuh Hinata, menariknya agar menungging sementara ia memuaskan diri dengan pemandangan istrinya tergolek tak berdaya.
"Ayo goyangkan pantatmu untukku! Kau sudah bukan perawan. Sasuke menampar bokong Hinata. Menguleninya seolah tengah mengaliskan adonan roti yang mengembang sempurna. Memanggang buntal kenyal itu dengan tamparan keras. "Bersuaralah! Lebih bernafsu—aku ingin mendengarkannya."
Sasuke mempertahankan posisi Hinata agar stabil. Menarik pinggulnya mundur, lalu menusuk lagi keras dari belakang. Mengulang berkali-kali sampai bunyi bokong sekal Hinata berbenturan brutal dengan daging dan kulitnya memeriahi jungkat-jungkit kasur.
Hinata meredam jerit sakitnya di bantal. Kalau terlalu keras, ketakutannya hanyalah anak-anaknya mendengar. Ini bukan sesuatu yang patut untuk keduanya tahu.
Maka selagi Sasuke menyenggamanya dari belakang, menceracau tentang gaya anjing dalam bercinta, benak menjerit sakit.
Nyeri.
Pedih.
Perih.
Ngilu.
Pilu.
Tetapi, kata siapa Sasuke mau tahu semua itu?
Hinata cinta keluarga Hyuuga, tapi kenapa mereka tega membiarkannya terjebak dalam pernikahan sebegini gilanya?
Ceraikan aku.
Apa salahku? Tubuhnya melengkung, Hinata berceracau, memohon ampun tatkala Sasuke menggulung rambut panjangnya, menjambaknya seolah rambut indigo itu adalah taling kekang kuda. Menunggang dari belakang dengan perkasa.
Ceraikan aku.
Apa dosaku? Kuku Sasuke menghunjam punggungnya. Mencakar. Melenguh nikmat, menindih Hinata tanpa ada jarak, meremas-remas onggokan daging dan puting seolah ia adalah peternak tengah memerah susu sapi.
Ceraikan aku!
"Huuurgh!" Hinata melengking, terdorong ke atas ranjang karena genjotan kuat Sasuke, terisak karena dahinya keras membentur head-board. Pening sekeliling, sekujur tubuhnya ngilu seakan tulang-belulang hancur berantakan.
Tuhan, mengapa harus aku yang mengalami semua ini?
"Urrgh ... kau harus menjepitku lebih rapat!"
"Uh-hu—aakh!"
Tangan Sasuke menampar dan mencakar paha Hinata yang lututnya tak kuat lagi disuruh menahan tubuh. "Bukan kakimu yang menjepitku sekeras itu! Lubangmu itu, pergunakan dengan benar, jangan hanya dipakai kencing saja!"
"Sa-sakit ..." rintih Hinata.
Sasuke mendengus. "Nanti juga terasa nikmat, karena itu ... nikmatilah."
Dunia terasa berputar-putar, tapi waktu seperti berhenti.
Hinata selalu mencoba. Berkali-kali bersenggama di tiap hari-hari bersama Sasuke, membayangkan memori yang kian samar. Tawa dan erang nikmat yang pernah ada di atas tempat tidur, ketika ia pernah bercinta dengan seorang pria yang juga amat mencintainya.
Jangan ditutupi begitu, kau tidak perlu malu. Kegelapan dari halauan lengan, digantikan dengan sorot lembut dari sepasang mata biru yang menaungi. Seperti langit musim panas yang melingkupi Hinata dengan hangatnya.
Kalau sakit, langsung bilang saja. Oke? Ada kecupan manis selalu di dahinya.
Hahaha, maaf, maaf! Mukamu lucu sih kalau kugoda begitu! Pria itu selalu nyengir, usil menggigit kecil cuping hidungnya, tertawa begitu Hinata gemas meremas pundaknya. Lambat menghunjam sampai Hinata memekik dengan tubuh melengkung sensual. Ah ... sebelah sini? Nikmat?
Cantik. Tatapannya selembut kecupan yang ditanamkan pada pipi Hinata yang terengah. Istriku memang sangat cantik.
Parau penuh kenikmatan menyatukan mereka berdua—seolah musim panas akan berlangsung selamanya untuk mereka, aku sayang kamu.
Sayang sekali.
Hinata memeluk bantal erat-erat, dengan hati hancur tak bisa mencegah benaknya merintih. Meretih. Kalau melunturkan kemunafikan yang selama ini ia pasang bagai topeng baja di ekspresinya, maka Hinata tak lagi merasakan apa-apa.
Ia mati rasa.
Hingga, rasanya, tak ada lagi yang bisa ia rasa.
Tak ada lagi yang berarti di dunia ini.
Aku ingin mati.
Aku ingin mati.
Aku ingin mati.
Tuhan, aku tidak kuat lagi ... maafkan aku.
"Sa-Sasuke-kun ..." Hinata merintih begitu Sasuke membalikkan badannya lagi hingga ia tergoler di ranjang.
"Hn?"
Sepasang bola mata itu penuh oleh airmata, bendungan emosinya tak lagi terisi. Kini hampa ekspresi seperti mati.
Kedua lengan tergeletak begitu saja, kali ini tak lagi berdaya untuk melawan. Hinata telah belajar dari pengalaman, bahwa melawan hanya akan membuat Sasuke tersulut untu membuas menyenggamanya.
Sasuke melenguh puas, menjilat airmata dan darah di sudut dagunya. "Ada hal yang perlu kita coba, Hinata. Bukannya kau sangat ingin kenikmatan dan kebahagiaan?"
Dan dengan itu, tangan Sasuke menekan kepala Hinata lekat ke ranjang, mencekik lehernya keras-keras. Tersenyum dengan sorot mata damai dan senyum tipis memesona bukan kepalang.
"B-bu-bunuh saja," rintih Hinata, "a-aku ... Sa-Sasu—cgrhhk!"
Hinata megap-megap, merasakan jalaran dingin mematikan dari ujung kaki merambat cepat naik sampai ke pangkal leher. Nanar dan kosong menatap Sasuke yang jauh di dalam hati, tak pernah ia anggap suami.
Namun di detik ketika Hinata berpikir ia lega semua ini akan berakhir, terbersit lagi musim panas yang dulu pernah ia miliki. Hatinya pernah mekar dan berbunga, hingga buah hati mereka yang ada sampai saat ini.
Boruto.
Himawari.
Anak-anakku sayang.
Naruto-kun ...
Cintaku.
Hinata memberontak keras, tepat saat Sasuke melenguh puas. Menyemprotkan mani dan menghabisi bagasi yang semula penuh terisi nafsu. Keluar begitu saja, menduduki sang istri dan menyemburkan sisanya di antara belahan dada Hinata.
"Hhh. Darah." Sasuke melihat miliknya yang berhenti mengeras setelah semua hasrat terlepas, menarik selimut untuk menggosok kejantanan, membersihkan dari noda-noda darah. Memegang batang lesunya dan mendecih, "tsk. Kenapa setiap kali menidurimu, milikku selalu terasa sakit?"
Hinata bungkam, merasakan lelehan cairan dari organ kewanitaannya. Begitu perihnya hingga ia menggigit bibir.
Sasuke berguling, merebahkan diri dan menjarah kelenggangan ranjang. Hingga ia berdecak, terbangun melihat ada darah menempel di lengannya.
"Hn. Semua ini salahmu." Sasuke bangkit dari kasur, menendang bed-cover sampai jatuh. Menunjuk selimut dan seprai yang mana berceceran darah, juga maninya. "Bau. Kau kencing juga, ya? Jorok."
Sasuke melenggang masuk ke kamar mandi. Menengok, tatapannya dingin dan menatap Hinata seolah ia adalah manusia di dunia yang paling tak berarti.
"Bereskan semua kekacauan itu." Sasuke mendengak dagu ke arah ceceran baju dan kekacauan kamar tidur mereka.
Tanpa menutup pintu, Sasuke memutar air hangat di shower. Sengaja tidak ditutup, Hinata tahu mengapa. Agar ia bisa memantau Hinata untuk tak bermalas-malasan, dan segera membereskan kamar mereka yang pecah-belah.
Mungkin bahkan kamar ini tidak lebih berantakan dan hancur daripada hati Hinata. Wanita itu memungut selimut, memakai lagi pakaiannya. Tertatih, merintih karena nyeri dan sakit berkelindan menjerat, selagi ia merapikan kamar.
Mengganti seprai dan lain-lain, karena itulah Hinata selalu menyiapkan cadangan di kamar. Mengerikan jika ia mesti keluar kamar pagi buta, kemudian anak-anak atau pelayan rumah memergoki kondisinya yang mengerikan.
Ia malu dan merasa makin ingin mati jika sampai ada yang tahu gelora birahi dalam kamar. Betapa memilukan, meratapi semua ini, dan merasa malu terutama pada Tuhan.
Karena Hinata meminta untuk mati.
Karena ada begitu banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dan mengerikan, sementara ia masih saja minta ampun untuk menyerah. Memohon pada Tuhan agar memusnahkan sisa kontrak hidupnya di dunia.
Namun memang yang Hinata inginkan hanyalah menyerah. Untuk semua sakit, derita, nestapa, dan pelecehan yang tak pernah bisa ia balaskan.
Hinata mengambil lap pel. Membersihkan tetesan darah yang meluruh dari organ kewanitaan, bercampur mani, menetesi lantai dan dipudarkan airmatanya.
Ia merasa terhina.
Tak berharga.
Mati bahkan lebih baik daripada nelangsa, karena dengan mati, ia bisa melepaskan segalanya.
Sasuke keluar dari kamar mandi, segar, bersih, hangat, dan rasanya semua wanita di dunia juga tahu ia benar-benar tampan tiada tandingan. Mengangguk puas karena kamar tampak spotless, dan lebih wangi karena Hinata menyemprotkan parfumnya.
"Kau belajar kata-kata seksi luar biasa, Hinata," puji Sasuke, menyeringai tipis. Naik ke atas ranjang, merebah dengan wajah lelah. "Kau tahu, tidak? Tidur denganmu membuat milikku terasa sakit."
"Maaf," otomatis Hinata meretih.
Hinata tanpa mengucap permisi, bergegas ke kamar mandi. Menutup pintu dan mengunci. Menyalakan shower, menggosok tiap jengkal kulit dengan sabun batangan.
Namun tetap saja Hinata merasa, tidak akan pernah bisa meluruhkan sensasi seumpama dosa yang tidak jemu-jemu menggelayuti tiap inci tubuhnya.
Shower mengaburkan hujan yang berjatuhan dari sepasang mata yang memendam lara, melarutkan darah yang membuat sang wanita jatuh merosot ke lantai. Bersandar pada keramik, tersedu-sedu meski ia telah berusaha membekap mulut.
Sampai suaminya mendengar semua itu, maka ia akan dinafsui lagi untuk kedua kali. Mengganggu jam tidur Sasuke setara meminta Mahadewa memecutkan cambuk siksa.
Hinata megap-megap menelan isakan, meski tumpah lagi tatkala jemarinya bergetar menyentuh darahnya sendiri.
Darah.
Darah yangada, tidak hanya di badannya.
Tuhan ...
Aku tidak kuat lagi.
Aku ingin mati.
Milikilah aku kembali.
... maafkan aku.
Hinata memeluk dirinya sendiri.
Jika benar telah lama hatinya terasa mati, mengapa tetap saja bisa merasa sesakit ini?
(#)
ORANGE
.
Chapter 9: Broken Promises and Soul
.
(A heart that's broke is a heart that's been loved)
A/N:
(1) Bagian yang Naruto nyanyikan supaya Hinata tertidur ini, diambil dari Reffrain lirik lagu I Swear This Time I Mean it-nya Mayday Parade.
(spesial line chapter ini dikutip dari Supermarket Flowers – Ed Sheeran)
Begitu kalian baca sampai sini terus ngerasa ga beres, saya menganjurkan untuk buka profil akun Fragransia sekarang juga. Ini karena bakal terlalu panjang mengulas tentang pemerkosaan, depresi, niat bunuh diri, serta perbedaan antara raep/pemerkosaan dan mana yang tidak.
Terutama untuk kalian yang merasa tidak setuju dan berpikiran: "Kalau diperkosa, kok enggak ngelawan sih?! Lawan, dong!"
Tolong dibaca, adinda, kakanda.
Untuk Atago: soal riset hydrangea dll buat fic, ada yang memang udah tahu sebelumnya, dan ada juga saya cari tahu. Makasih ya ; )
.
Maaf baru update, bikin teman-teman lama menunggu. Saya sempat sakit, so, teman-teman jangan lupa jaga kesehatan, ya.
to flamers: yang hobi ngatain ortu saya pelacur dan penghancur rumah tangga orang, Hinata lacur Sasuke dsb, dan menafsui fanfiksi saya; yang setia nge-flame dan setia pula saya hapusin flame-nya tiap chapters. Kalau nge-fans sama saya dan fanfic saya mah ngomong aja, ga usah tsundere begitu vigarooo
Sekarang saya mengerti kenapa ada banyak authors memutuskan hijrah menulis ke platform lain.
Untuk para pembaca setia, mohon maaf atas keputusan dan ketidaknyamanan ini. Sampai berjumpa di wattpad. Judul fanfiksinya akan tetap ORANGE, tapi nanti bukan dengan nama pena Fragransia.
Mudah-mudahan kesehatan saya memungkinkan untuk tetap melanjutkan (di FFN juga, mungkin), tapi saya tetep bakal update sampe chapter 10.
Maaf belum bisa balas review, akandibalas nanti. Terima kasih atas apresiasi kalian yang luar biasa: Alwi Syahab, Portgas d ali, Dona, UCHIHA SHINOKO, ska, Xiao Yu3, megahinata, TRicco, vii san, Gumizaq, rachman . fatur . 161 , Keith Faron Lucifer, David 504, Atago, Jefferson2512, ShiranuiShuichi, Aquarius D Zhura, whoamimh, Uzunami1, yashan, katarays, Thanatos, Indra223, Hanakire.
