Title: Akatsuki Nonton...
Author: MiraiIzError
Chapter: 9 - And Here It Is...
Note:
Untuk tulisan biasa, situasi yang sebenarnya (bukan di film).
Untuk tulisan yang miring semua, atau Italic, situasi di film. Dan yang dibatasi strip (-) merupakan latarnya.
-Suasana kelas di pagi hari-
"HEII!!!"
"Wah, kok bisa, sih??!!"
"Pagi semuanya!!"
"Aduh, jangan berisik, dong! Gue mau tidur, nih!"
"Woi, ngapain lo makan bekal pagi-pagi gini?"
"Eh, lo udah tahu si Toni dari kelas 11-X? Anaknya cakep banget, lho!"
Berisik.
"Apa-apaan, nih? Nggak jelas," kata Sasori.
"Sssttt!!! Kan memang biasanya awal-awal film itu nggak jelas, nanti kalau filmnya udah selesai jadi super jelas!" kata Itachi.
-Jalanan di siang hari-
Di sini juga sama. Berisik.
Kenapa sih, orang-orang membuat keributan?
Aku benci tempat berisik. Aku ingin ketenangan. Tapi, sepertinya tidak ada kata 'tenang' untukku.
Lihat saja, begitu tempat yang sepi kudatangi, semua orang yang ada di sana pasti langsung ribut.
Seperti sekarang ini.
Mereka semua tertawa. Mereka menertawaiku, aku tahu itu.
Mungkin karena aku ini...
"Hei, Toilet!"
"AH! itu dia! 'Toilet'!!" Deidara tiba-tiba teriak seneng.
"Emangnya kenapa sama toilet?" tanya Hidan.
"Itu kan judul filmnya, Hi-nii,"
"Iya juga, yah,"
"Terus, apa hubungannya, Dei-nii?" tanya Tobi.
"Yahh... Akhirnya filmnya nyambung juga sama judulnya, gitu loh!! Dari tadi kan belum ditampilin itu kata toilet,"
"Perasaan Kaku-nii udah, deh, waktu tokohnya keluar sekolah. Di sisi kanan ada papan tulisannya 'toilet',"
"Itu sih, WC sekolahan!"
"Udah, udah, diem!" Zetsu menenangkan.
"Plis, deh! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" kata cowok yang suaranya jadi narator dari tadi.
"Ah, itu kan panggilan 'kesayangan' lo, Toilet! Kenapa, sih, lo nggak mau dipanggil Toilet?" balas temannya yang berjenis kelamin sama, dan tinggi tubuhnya tidak dapat ditoleransi. Terlalu tinggi.
"Panggilan kesayangan apaan?! Aku sebel, tau, dipanggil gitu!"
"Rik, Rik. Kenapa nggak, sih? Emangnya ada masalah apa sama panggilan itu?"
"Semuanya! Emang kamu mau dipanggil Toilet? Atau nggak, WC?"
"Ya, ya. Tapi julukan itu kan pas banget buat lo! TO-I-LET. Tokang(1) ngiler en melet(2),"
"Heh? Kok 'tokang', sih? Bukannya itu harusnya 'tukang', yah?" komentar Sasori.
"Yah, emang harusnya gitu, tapi si author yang maksa jadi 'tukang', soalnya kalau 'tokang', kan, singkatannya jadi 'Toilet' bukan 'Tuilet'," jawab Kisame.
"Kebalik, tau! 'tukang' jadi 'tokang' dan 'Tuilet' jadi 'Toilet'!" Zetsu ngeralat Kisame.
"Oh, iya, salah,"
"Harusnya sih bukan 'Tokang', tapi 'Tobi'. Jadinya 'Tobi ngiler en melet'," kata Deidara.
"Loh, Dei-nii tau dari mana kalau di dalam topeng Tobi-chan ngiler sambil melet-melet?" Tobi kaget.
Yang lain ikut-ikutan kaget setelah denger ucapan Tobi, dan langsung menjauh dari Tobi, kecuali Hidan yang nggak bisa gerak sama sekali(3).
Layar menunjukkan wajah cowok yang dipanggil 'Toilet' tadi. Dari mulutnya keluar cairan. Yah, apalagi kalau bukan iler(4)?
Ia segera menghapusnya, lalu memalingkan wajahnya.
"Sedangkan kalau gue dipanggil WC, apaan coba? Nggak nyambung sama sekali,"
"Wadi Congok(5)! Puas??!! Nama panggilan kamu mulai sekarang!"
"Hei, jangan gitu dong sama temen sendiri..."
"Halah, kamu juga gitu, kok!"
"Ya, ya. Toilet dan WC. Kalian serasi banget, ya," seseorang tiba-tiiba muncul.
"Hei, Simon. Dari mana aja lo? Lama banget, sih," kata Wadi.
"Sori, sori. Gue tadi disuruh piket dulu sama KK(6) gue. Pegel, nih!"
"Apa urusan gue kalau lo pegel?"
"Ya pijitin, dong. Sebagai temen yang baik masa lo nggak mau bantuin temen yang susah, sih?"
"Perasaan gue lo kaya, deh. Lihat aja, badan lo super subur gitu,"
Simon memandangi badannya yang memang sejak kecil berbobot melebihi rata-rata.
"Mending subur, daripada lo yang nggak makan setahun!" Simon menunjuk Wadi.
Sekarang Wadi yang menatap tubuhnya yang memang mirip tauge.
"Udah, udah. Kita jadi jalan, nggak, sih?" 'Toilet' menengahi kedua sahabatnya itu.
"Jadi, lah! Ayo, cabut!"
"Mereka mau nyabut apaan, sih?" tanya Tobi-chan.
"Bukan 'cabut' yang itu. 'Cabut' yang mereka bilang itu artinya 'pergi' atau 'berangkat'," jawab Deidara.
"Ohh..."
Layar menampilkan suasana di mall yang ramai.
"Kita mau ngapain dulu, nih?" tanya 'Toilet'.
"Makan dulu yuk, gue laper, nih!" kata Simon.
"Ah, makan terus yang lo pikir! Perasaan gue, baru aja lo ngabisin satu setengah bungkus kentang goreng, deh," Wadi mengomentari Simon.
"Apanya yang satu setengah? Gue cuma makan satu, kok!"
"Sisanya punya Riko kan lo makan juga tadi. Masih nggak nyadar? Kasihan tau si Riko, kentangnya langsung lo ambil gitu tadi!"
"Oh, jadi si Toilet itu nama aslinya Riko," kata Zetsu tiba-tiba.
"Kok tahu, sih?" tanya Sasori.
"Soalnya kan kita udah tahu kalau yang gendut itu namanya Simon, dan yang kurus itu namanya Wadi. Nah, terus, tadi Wadi bilang 'kasihan si Riko'. Riko itu siapa? Ya jelas yang tersisa, dong, si Toilet itu!"
"Ohh..."
"Yah, sori, ya Rik! Lo nggak marah, kan?"
Riko menggeleng.
"Tuh, kan!"
"Ya udah, deh! Tapi, habis makan segitu masa lo masih mau makan, sih?"
"Ya mau gimana lagi? Gue beneran laper, nih! Gue nggak kayak lo, Di! Lo, sih, makan sebutir kacang aja udah kenyang!"
"Mending! Hemat, tau! Daripada elo yang makan nasi goreng buat 10 orang berpuluh porsi juga nggak bakalan kenyang!"
"Itu namanya manfaatin hidup, Di! Kalau elo nggak bisa makan banyak lagi nanti, gimana?"
"Terserah deh, apa kata lo. Tapi, lo yang bayar, ya! Gue nggak mau nanggung, loh!"
Mereka pun menuju food court di lantai teratas.
"Kok gini-gini terus, yah? Bosen," kata Hidan.
"Udahlah, diem! Ini kan baru 10 menit-an dari awal kita nonton tadi. Wajar, dong, kalau masih pembukaan," kata Kakuzu.
-Kamar Riko-
Riko sedang tidur telentang, tentu saja di tempat tidurnya, menatap ke luar jendela di langit-langit kamarnya.
Saat itu sedang hujan. Riko menatap air yang tiada henti turun dari langit.
'Sama seperti mulutku ini, ya,' batinnya.
Ya, memang sama seperti mulutnya. Seperti yang Wadi bilang, 'tukang ngiler'.
Entah kenapa, dari kecil, bahkan sejak lahir, mulut Riko selalu mengeluarkan air ludah yang tidak pernah berhenti.
Kalau 'melet', itu hanya ejekan tambahan yang dicapkan padanya untuk melengkapi julukannya sehingga dapat disingkat menjadi ''Toilet'.
'Mengapa aku punya kelainan seperti ini? Sejak kecil, semua orang menatapku jijik. Karena kelainanku ini juga, aku tidak punya teman. Yah, kecuali Wadi dan Simon. Hanya dua orang itu yang mau berteman denganku,'
Krieett...
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
"Siapa?" Riko mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ini mama, Riko. Ayo makan, sudah jam segini. Mama masak makanan kesukaanmu, nih," Dari pintu yang terbuka itu muncul seorang ibu-ibu, sepertinya itu ibunya Riko.
"Baik, ma. Nanti aku turun,"
"Kenapa tidak sekarang saja? Apa kau sudah makan waktu jalan-jalan tadi?"
"Banyak, ma. Simon terus mengajak makan. Walaupun aku hanya minum, lebih dari 10 gelas pasti sudah cukup untuk membuatku kenyang, kan, ma?"
Ibunya hanya tersenyum.
"Ya sudah, tapi kalau kamu lapar, makan, ya. Nanti kamu sakit," ibunya berjalan keluar.
"Baik, ma,"
Pein dan Konan yang baru saja menyelesaikan kegiatan mereka dan keluar dari kamar, mendapati 'anak-anak' mereka sedang serius menonton film.
"Ini 'Toilet', ya?" tanya Pein.
Hening.
Tidak ada yang menjawab, bahkan menggubris pertanyaan Pein.
"Haloo??? Ada orang, nggak, sih?" tanya Pein lagi.
Masih hening.
"Ini rumah apa kuburan, sih?!" Pein kemudian pergi karena kesal.
-Suasana sekolah pada waktu pulang sekolah-
"Hei, Wadi," panggil Riko.
"Oh, Riko. Ada apa?" tanya Wadi.
"Kita jadi pergi setelah ini?"
"Oh, itu... Mmmm... Anu, gue nggak bisa, nih... Masalahnya... Ehh... Gimana bilangnya, ya...."
"Wadi! Jangan lupa, ya, jemput aku nanti di rumahku jam 2!" kata seorang perempuan pada Wadi.
"Oh, oh, iya! Tunggu aja, deh!" balas Wadi pada perempuan itu.
"Oh, jadi itu masalahnya..." kata Riko.
"He... Hehe... Sori, Rik. Tapi ini pentiiiinnnngggg.....banget! Lo tahu, kan, kalau gue lagi PDKT sama itu cewek? Tadi dia ngajakin gue jalan, masa kesempatan dibiarin gitu aja, sih?! Jadi, yah..."
"Ah, nggak apa, kok. Kita kan kemarin sudah jalan juga,"
"Yang bener, Rik? Yess, doain gue, yah, biar gue sukses deketin tuh cewek!"
Riko mengacungkan ibu jarinya pada Wadi, yang membalas Riko dengan senyum lebarnya.
"Hmm," Konan yang tadi ikut menonton terlihat begitu serius menonton film itu.
Sementara itu, Pein yang kembali karena bosan sendirian, duduk di sebelah Konan dan ikut menonton.
Riko berjalan, menyusuri lorong sekolahnya yang ramai. Ia lalu melihat Simon dan menyapanya.
"Hei, Simon!" sapa Riko.
"Hei, Rik! Kenapa?" balas Simon.
"Anu, itu... Kita jadi jalan, nggak?"
"Eh, anu, gue ada urusan, sih... Jadi, kali ini nggak bisa... Sori, ya, Rik. Lain kali, deh,"
"Oh, nggak apa, kok,"
"Ya, maaf, ya, Rik! Gue duluan, yah! Harus buru-buru, nih! Daahhh!!"
"Hati-hati, ya!"
"Sipp dah!"
Simon pun berlari pergi. Meninggalkan Riko sendirian.
Riko melihat punggung Simon yang lebar, berlari menjauh meninggalkannya.
Lalu ia mendesah. Kemudian berbalik dan berjalan pergi.
PET!!
Tiba-tiba lampu mati. Otomatis, TV dan DVD player ikut mati.
"WUAAAHHHH!!!!" sedetik kemudian, terdengar suara keras yang dapat menimbulkan polusi suara dalam jarak maksimal 2 km dari asal suara, yaitu markas Akatsuki.
To Be Continued...
~Chapter 9: And Here It Is...~End~
Keterangan:
(1) Seperti yang telah dikatakan Kisame, merupakan plesetan dari 'tukang'.
(2) Menjulurkan lidah.
(3) Hidan tidak dapat bergerak karena di akhir chapter sebelumnya, tubuhnya terpotong dan yang ada di dalam rumah hanya kepalanya yang belum disambungkan kembali dengan tubuhnya.
(4) Air ludah.
(5) Sejenis dengan bodoh, merupakan kata hinaan.
(6) Singkatan dari Ketua Kelas.
Yah, akhirnya mereka jadi nonton juga, walaupun ada gangguan...
Tapi karena gangguannya di tengah-tengah film dan di akhir chapter, jadinya tidak terlalu mengganggu (anggapan author) dan mereka akan langsung menonton lanjutannya di chapter berikutnya...
Kalau ada pertanyaan, "kenapa filmnya nggak diselesaikan aja di satu chapter?", jawabannya karena saya tidak ingin membuat satu chapter terlalu panjang, jadi saya pisah.
Dan... saya ingin meminta maaf karena fic buatan saya ini tidak jelas, membosankan, tidak lucu, terkesan terlalu dilama-lamakan, jelek, terlalu dibuat-buat, OOC, kurang deskripsi, ataupun yang lainnya. Saya akan mencoba untuk memperbaiki semua kesalahan saya itu.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih pada Anda karena telah membaca cerita dan juga chapter ini, juga karena telah me-review.
Dan bagi orang-orang yang menyadari ada disclaimer untuk Stephanie Meyer-sensei...
Bukan berarti saya memparodikan karya dari beliau, tapi saya hanya mengambil judul dari salah satu karyanya yang telah saya ubah. Anda pasti tahu karyanya yang mana yang sya sebut. Jika tidak, ucapkanlah kata 'Toilet' terus menerus dengan cepat.
Itu saja, dan terakhir, saya akan mencoba untuk meng-update fic ini secepatnya.
Best regards.
