Previous Chapter
"Pulanglah, dan jangan pernah menemui Donghae sebelum kau mengembalikan apa yang kau curi. Itu hukuman untukmu." Siwon berujar tegas. Ia menarik tangan Eomma menjauhi Kyuhyun yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Kyuhyun mengepalkan tangannya. Tuduhan yang Eomma dan hyung-nya lemparkan untuknya menggoreskan luka yang begitu dalam. Dan hukuman tidak bertemu Donghae adalah hukuman terberat yang akan ia lewati. Kenapa semuanya bertambah rumit seperti ini? Dengan kasar Kyuhyun menghapus air matanya. Mengambil amplop berisi uang yang Siwon lempar tadi dan berlari meninggalkan rumah sakit. Saat melewati ruangan Donghae, wajah Hyung keduanya itu membingkai di matanya. Membuat dadanya semakin sakit. Membuat air matanya merembes lagi dan lagi.
"Cepat bangun, Hyung. Cepat sembuh. Aku pulang."
Chapter 9
"Ayo pulang, Hyung!"
"Teman barumu itu baik sekali padamu. Apa dia sebaik diriku?"
"Yang pasti dia lebih lucu darimu."
"Jinjja?"
"Tapi tidak ada yang kuinginkan selain dirimu, Hyung."
"Mulai sekarang, jadilah lebih kuat, arrachi?"
"Kau mau pergi ke—Aku ingin ikut bersamamu, Hyung."
"Aku tidak bisa ikut denganmu, Kyu. Pulanglah!"
"YA! Hyung! HAE HYUNG!"
.
.
Kyuhyun tersentak dalam tidurnya. Ia terbangun dengan napas memburu. Keringat bermunculan di tiap pori-pori tubuhnya. Membasahi pakaian asing yang entah sejak kapan dikenakannya. Seingatnya ia masih mengenakan seragam sekolah saat ia memutuskan untuk pergi dari rumah sakit dan pulang. Hanya saja, di tengah-tengah perjalanan, ia merasa kepalanya begitu sakit. Sakit itu tidak tertahankan sehingga membawa ia pada satu titik cahaya yang pada akhirnya mempertemukannya dengan hyung-nya. Donghae.
Masih dengan napas yang berhembus tidak teratur, Kyuhyun biarkan bola matanya bergerak gelisah mengamati keadaan di sekitarnya. Asing. Benar-benar asing. Kyuhyun tidak tahu di mana ia berada sekarang. Yang ia tahu, ia berada di sebuah rumah kecil di mana hanya ada tempat tidur, dapur, kamar mandi, sebuah meja serta lemari. Saat bola matanya menangkap sebuah pakaian berwarna putih dengan bet dan logo di sana-sini tergantung di sisi lemari, seketika namja berkulit pucat itu mengangkat tubuhnya dengan panik.
Apa aku ditangkap polisi gara-gara uang sumbangan itu? Batin Kyuhyun kalut saat yakin kalau pakaian yang menggantung di balik lemari itu benar-benar seragam polisi. Ani! Aniya! Kalau aku ditangkap polisi, aku pasti berada di penjara sekarang. Bukan di rumah ini. Ta-tapi, kenapa aku ada di sini? Ken—
"Ah… kau sudah bangun, huh?"
Segala pemikiran negatif itu buyar saat tiba-tiba saja seseorang membuka pintu ruangan tempatnya berada sekarang. Dengan waspada, Kyuhyun memerhatikan gerak-gerik namja berwajah tampan di hadapannya. "Nugu? K-kau siapa? Dan… Dan di mana aku?" Kyuhyun bertanya panik.
"Tentu saja kau di rumahku. Aku menemukanmu pingsan di jalan." Namja itu duduk di tepi tempat tidur. Dalam satu gerakan, ia menempelkan punggung tangannya di dahi Kyuhyun. "Syukurlah… demammu sudah turun."
"Aku harus pulang." Kyuhyun hendak bangkit dari tempat tidur. Tapi, belum sempurna tubuh itu berdiri tegak, pusing kembali mendera kepalanya. Mau tidak mau membuat Kyuhyun kembali mendudukan dirinya. Tangannya sibuk mencengkram kuat kepalanya.
"Makanlah dulu. Aku sudah membeli makanan untuk kita berdua."
Kyuhyun terdiam sebentar. Menatap lekat namja berambut hitam legam di hadapannya. Memastikan kalau orang yang sudah menolongnya itu benar-benar orang baik yang tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.
"Kajja! Kau hanya boleh pulang jika kau sudah mau makan."
"Tunggu! Kau seorang polisi?"
Namja itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Kyuhyun.
.
.
"Huft… kenapa tidak ada siapa-siapa di rumah ini? Apa mereka menginap di rumah sakit, eoh? Apa Kyu Hyung juga masih di sana? Aiisshh… dingin sekali."
Namja dengan beberapa plester luka di wajahnya itu tampak asyik bermonolog. Berbicara dengan butiran salju yang berjatuhan di hadapannya. Angin musim dingin yang berhembus terasa menusuk sendi-sendi tubuhnya yang masih terasa begitu ngilu. Ia merapatkan mantel abu-abu yang tengah digunakannya. Berusaha menahan dingin.
Sudah satu jam setelah Nam Ahjussi— penjaga sekolah— membantunya mengantar barang-barang sumbangan untuk Kyuhyun itu pergi, Henry berdiri di depan rumah kecil milik Kyuhyun. Menunggu salah satu si pemilik rumah datang. Tapi, Henry sama sekali tidak melihat ada tanda-tanda kedatangan Kyuhyun. Gang yang tadi ia lewati untuk sampai di tempat itu bahkan masih terlihat kosong.
"Aiisshh… jinjja." Henry mendudukan dirinya di depan pintu. Menekuk lututnya. Berusaha menghangatkan diri di antara tumpukan barang yang hampir menghalangi jalan. "Ahh… apa aku datang terlalu pagi ya? Kibum Hyung bahkan belum keluar kamar saat aku pergi." Henry melirik jam tangannya. Pukul sepuluh pagi. "Harusnya aku datang lebih sore. Apa aku pulang saja, eoh? Tapi, bagaimana dengan barang-barang ini? Aku tidak mungkin meninggalkannya. Aiisshh… apa tidak ada nomor keluarga Kyu Hyung yang bisa dihubungi? Aku bisa-bisa membeku di sini…"
Sementara Henry meracau sendiri di tempatnya, seseorang melangkah panjang-panjang menyusuri gang sempit itu. Jalan yang dilapisi salju yang cukup tebal membuat hentakan langkah yang lumayan cepat itu tidak terdengar sehingga Henry tidak menyadari ada yang tengah berjalan mendekatinya.
"Nuguya?"
Henry mendongak dan ia terperanjat. Buru-buru ia berdiri, menyapa namja berwajah tampan yang saat ini berdiri di hadapannya. "Kim Henry imnida," ujar Henry. Ia membungkukan badannya.
"Kau baru pindah, huh?"
"A-ani, Hyungnim. Aku ke sini ingin bertemu dengan Kyuhyun Hyung. Tapi, sepertinya ia sedang tidak ada."
"Bertemu Kyuhyun? Lalu… barang sebanyak ini punya siapa?" Siwon mengernyit bingung. Tidak mengerti dengan bocah asing di hadapannya.
"Tentu saja ini milik Kyuhyun Hyung. Ini simpatisan dari banyak orang atas musibah yang menimpa keluarga kalian. Apa Kyu Hyung tidak bercerita padamu?" Kedua alis tebal Henry saling bertaut. Ia menatap Siwon serinci mungkin. Wajah tampan itu menatap tak percaya ke arahnya.
"Sebenarnya aku ingin mengantar barang-barang ini sepulang sekolah kemarin. Tapi, karena terjadi ses—ah, aku lupa mengucapkan terima kasih pada Kyu Hyung. Dia sudah menolongku kemarin. Kalau tidak ada dirinya, mungkin aku dapat luka yang lebih parah dari ini."
Alih-alih merespon kata-kata Henry, Siwon lebih sibuk dengan segala pertanyaan dalam hatinya. Apa yang terlafal dari bibir mungil Henry yang masih terlihat sobek karena pukulan Hongki kemarin, seperti tumpukan salju yang dalam hitungan detik membekukan tubuhnya. Napas siwon tercekat. Rasa bersalah seketika mencengram kuat jantungnya. Kakinya lemas. Ia mundur beberapa langkah dan tubuhnya jatuh lunglai di atas tumpukan salju. Dosa apa yang telah aku lakukan pada dongsaeng-ku sendiri?
"Hyung, apa yang kau lakukan? Kenapa kau duduk di sana?"
Baik Henry maupun Siwon, seketika menoleh ke arah sumber suara itu. Kyuhyun menatap Henry sebentar sebelum akhirnya berjongkok di samping Siwon. Henry sendiri memilih untuk tetap pada posisinya, memerhatikan kedua saudara itu dalam diam.
"Mianhae, Kyunie. Jeongmal mianhae…" Siwon meraih tubuh Kyuhyun dan memeluknya dengan erat. Air matanya mengalir begitu saja.
Kyuhyun tahu. Otak jeniusnya tidak perlu menebak apa yang sudah terjadi. Keberadaan Henry dan semua barang yang ada di depan rumahnya sudah membuatnya mengerti kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Siwon. Perlahan tapi pasti, tangan kurus Kyuhyun membalas pelukan Siwon. Dibenamkannya wajah pucat dan lelahnya di balik bahu kekar Hyung pertamanya itu.
"Hyung… biarkan aku menemui Donghae Hyung. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku begitu merindukannya." Kyuhyun melepaskan pelukannya. Dalam hati ia bersyukur akhirnya Siwon mengetahui kebenarannya sehingga hukuman tidak menemui Donghae tidak berlangsung cukup lama. Mimpinya semalam benar-benar membuat Kyuhyun begitu ingin melihat Donghae.
Sebentar Siwon menghapus air matanya. Ditatapnya mata cokelat Kyuhyun dengan lekat. Lantas ia mengangguk pasti.
"Gomawo, Hyung." Kyuhyun bangkit berdiri. Siwon melakukan hal yang sama. Dan Henry hanya tersenyum bingung di tempatnya. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi antara Kyuhyun dan hyung-nya itu.
Siwon tersenyum. Ia hendak mengajak Kyuhyun juga Henry masuk rumah saat handphone-nya berbunyi. Segera mungkin ia mengambil ponsel di saku mantelnya dan mengangkat panggilan masuk itu.
"Ne, Eomma?"
"Siwonie… Donghae…"
"Wae? Ada apa dengan Donghae?" tanya Siwon gusar. Suara Eomma terdengar begitu serak. Ada isakan pelan di baliknya. Mendengar itu membuat segala pemikiran buruk saling bermunculan dalam kepala Siwon. Tidak terkecuali untuk Kyuhyun dan Henry yang juga melihat seberapa gusarnya wajah Siwon saat itu.
"Donghae…"
"DONGHAE KENAPA, EOMMA?!" Siwon mulai berteriak tak sabar. Kyuhyun dan Henry sampai dibuat terkejut dengan teriakan itu. Air mata Siwon yang sempat dihapus, kembali meluncur. Kali ini untuk alasan lain.
"Donghae. Donghae kita sudah pergi, Siwonie… Donghae…"
BRUK!
Ponsel itu jatuh di atas tumpukan salju. Bersamaan dengan jatuhnya air mata dari balik mata cokelat milik Kyuhyun. Melihat cara Siwon berbicara, cara Siwon berteriak, cara Siwon menangis, membuat Kyuhyun tahu kalau sesuatu sudah terjadi dengan Donghae. Pasti sesuatu yang buruk, yang tidak pernah diinginkannya, sudah terjadi pada Hyung yang paling disayanginya itu. Dalam satu gerakan, Kyuhyun berlari meninggalkan tempatnya.
Mimpi itu…
Mimpi kalau Donghae pergi meninggalkannya.
Ani! Kau tidak boleh pergi secepat itu! Kyuhyun berteriak dalam hati. Terus berlari tanpa peduli dengan tubuhnya yang masih terasa sakit di sana-sini. Tidak peduli seberapa menggigilnya ia saat ini. Tidak peduli dengan teriakan Siwon dan Henry yang berlari menyusulnya dari belakang. Ia benar-benar tidak peduli. Ia hanya ingin menemui Donghae secepat yang ia bisa.
.
.
"YA! HYUNG! HAE HYUNG! IREONNA, HYUNG!"
Kyuhyun mengguncang tubuh putih pucat itu dengan keras. Sejak sampai di rumah sakit, Kyuhyun tidak berhenti melakukan itu meski Siwon juga dokter serta perawat sudah memaksanya untuk berhenti. Kyuhyun masih berharap dengan begitu namja yang saat ini terpejam dalam damai itu akan terbangun. Diraihnya tubuh lemas Donghae untuk didekapnya. Diciumnya. Dipeluknya. Kyuhyun menangis dengan keras melihat tidak ada reaksi apa pun dari hyung kesayangannya itu.
"Hyung…" Suara Kyuhyun terdengar lebih pelan.
Lalu hanya hening yang menyusul.
Siwon mundur beberapa langkah, membiarkan tubuhnya merosot dan bersandar di dinding. Dibenamkannya wajah lelahnya di balik kedua lututnya yang tertekuk. Sementara Nyonya Lee sudah sejak awal terduduk lemas di bawah ranjang Donghae. Meremas kuat rok yang dikenakannya. Demi Tuhan… tidak ada yang paling sedih selain dirinya saat ini. Ia yang melahirkan Donghae, orang yang pertama kali melihat wajah lucu anak keduanya itu. Ia orang pertama mendengar bagaimana tangis merdu anaknya itu. Ia adalah orang pertama yang bahagia bisa melahirkan Donghae dengan selamat. Dan ternyata, ia adalah orang pertama juga yang melihat bagaimana mata redup Donghae yang sempat terbuka akhirnya menutup sempurna. Ia orang pertama yang mendengar helaan napas terakhir putranya itu. Ia yang pertama menangis histeris saat Dokter bilang Donghae-nya sudah pergi.
Demi semua cinta kasih seluruh Ibu di dunia ini, tidak ada yang paling terluka selain dirinya. Tidak ada. Tidak ada ibu yang tidak bersedih ketika anak-anaknya, sesuatu yang jadi alasannya rela menghabiskan segala hal yang dimilikinya, direnggut paksa darinya. Tidak ada. Demi Tuhan. Tangisnya memang tidak sekeras tangis Kyuhyun, tapi luka dalam hatinya sudah pasti jauh lebih dalam dari lautan manapun.
Dan Henry. Satu-satunya orang asing di antara mereka, tidak bisa mengelak dari kesedihan yang ada. Ini pertama kalinya ia melihat Donghae. Ini pertama kalinya ia melihat keluarga Kyuhyun. Tapi, entah kenapa, kesedihan yang saat ini tengah menyapa keluarga kecil Kyuhyun turut menyapa hatinya juga. Membuat tangannya terkepal, menahan sesak. Matanya panas dan kemudian adik Kim Kibum itu menangis juga.
"Hyung, apa dia benar-benar hanya tidur?"
"Ani, Hyung… dia tidur seperti bayi. Rasanya tidak tega setiap kali harus membangunkannya."
"Hyung, apa dia benar-benar hanya tidur?"
"Ah, ani, Hyung. Tapi dia tidur seperti orang mati. Apa dia masih bernafas?"
"Bagaimana kalau aku kasih dia nafas buatan, Hyung?"
Semuanya yang sempat terekam, kembali berputar dalam ingatan. Satu-satu bermunculan seolah tengah membuka album kenangan. Suara manja itu. Tawa lepas itu. Tatapan polos itu. Semuanya. Semua yang ada pada diri Donghae memenuhi sudut-sudut hati mereka. Menusuk-nusuk sadis dada mereka sehingga hanya sesak yang menguasai.
"Semua yeoja begitu menginginkan ciumanku. Kau harusnya besyukur karena tidak perlu memintanya."
"Hyung! Aku itu tampan dan kau itu jelek!"
"Kyu… ayolah, temani aku, ne? Aku akan mentraktirmu eskrim yang banyak."
"Semoga harimu menyenangkan, Kyu…"
Sekali lagi, Kyuhyun menatap lama wajah pucat Donghae yang terkulai di lengannya. Lama sekali. Dan Kyuhyun sadar. Benar-benar baru menyadari bahwa wajah damai itu begitu tampan. Lebih tampan dari namja manapun. Kelopak matanya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, rambut hitamnya, semuanya adalah kesempurnaan. Dan Kyuhyun begitu menyesali baru bisa menikmati kesempurnaan hyung-nya itu di saat ia harus melepaskannya.
"Mianhae, ne? Hyung janji tak akan membiarkanmu sendiri lagi."
"Apa yang dokter bilang, Kyu? Apa dia bilang kau divonis sakit kanker seperti dalam drama?"
"Aku sudah tahu, Kyu. Dan separah apa pun penyakitmu, aku akan melakukan apa pun agar kau sembuh. Jadi, tak perlu membicarakannya lagi. Yang penting sekarang, kita berjuang bersama. Dan kau jadilah lebih kuat, arrachi?"
"Apa pun yang terjadi setelah ini, berjanjilah untuk selalu baik-baik saja, Kyu. Kau mau berjanji, kan?"
Kyuhyun mengigit bibir bawahnya sekeras yang ia bisa. Menahan segala nyeri yang tiba-tiba saja menggempurnya tanpa ampun. Wajah pias hyung pertamanya tampak damai meski kabut lelah tampak di baliknya. "Hyung… bangun. Hyung! Ya, Hyung! Buka matamu! Jangan tinggalkan aku sendiri. Kau sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanku sendiri lagi." Kyuhyun kembali menepuk-nepuk pipi Donghae yang tidak bereaksi sama sekali. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
"Tentu saja. Aku akan memberitahu mereka saat mereka pulang nanti."
"Aku memang tidak bisa membaca hati seseorang, Kyu. Tapi, aku bisa membaca bahasa tubuh seseorang. Kau lupa, aku calon psikolog hebat, huh?"
"Kyu, berjanjilah setelah ini kau akan baik-baik saja."
"Hyung… apa kau menyerah begitu saja? Kau bahkan belum menjadi psikolog hebat. Kau belum melakukan apa pun untuk membantuku mengetahui lebih jauh tentang penyakit Kibum. Kau juga belum memberitahu Eomma dan Siwon Hyung tentang apa yang terjadi padaku."
"Hyung… ireonna! Kau—hiks—siapa yang akan membelikanku es krim yang banyak nanti? Siapa yang akan membangunkanku setiap pagi? Hyung… aku tidak akan marah jika kau menciumku setiap pagi, asal kau tetap membangunkanku. Aku tidak akan marah bagaimana pun cara kreatifmu untuk membangunkanku. Bangunlah, Hyung. Jebal…"
"Hyung… aku tidak bisa baik-baik saja tanpamu."
Akhirnya Kyuhyun menyerah. Diciumnya kening Donghae dengan lama. Air matanya terus menderas membasahi wajah Donghae. Semua orang di ruangan itu hanya bisa diam, membiarkan Kyuhyun meracau sendiri. Mereka lebih sibuk mengenang Donghae dalam tangisan diam mereka.
Mereka tahu. Tahun lalu, di musim gugur, mereka kehilangan Appa mereka. Tahun ini, di musim dingin, mereka harus kehilangan anggota keluarga yang lain. Dan itu rasanya sama-sama menyakitkan. Benar-benar menyakitkan. Rasanya begitu menyesakan seperti seluruh oksigen di dunia ini menjauhi mereka.
Tapi, meski perih, kehilangan tentu adalah salah satu fase kehidupan yang harus mereka lalui. Fase untuk mereka belajar lebih kuat dan lebih ikhlas. Fase di mana mereka mesti tahu bahwa perpisahan adalah awal dari pertemuan lain yang lebih indah.
.
.
To be Continue
.
.
Selamat malam minggu reader-readerku yang baik^^ yang masih setia baca ff super geje-ku ini. Moga chapter ini bisa nemenin malam minggu kalian. Hehe…
Oya, maaf yaa aku gak jadi bales review kalian di chapter kemarin. Abisan aku bingung harus bales apa. Hehe… pokonya, yang udah kasih Review, makasih banget! Kalian bikin aku selalu semangat. Gomawo. Gomawo.
Tapi, buat kemarin ada yang nanya Henry itu siapa, jawabannya Henry itu adiknya Kim Kibum. Dia bukan tokoh utama tapi perannya penting juga kayak yang lainnya.
.
.
Finally…
Follow me, ne?
Twitter : nhyea1225
Wattpad : Naesu13
Blogger : www. nia-sumiati. blogspot. com
Wordpress : www. naemochi. wordpress. com
