Hello, EX
Cast : Kaisoo (Main Pair)
Etc.
Rated : M, Genderswitch
WARNING!
typo everywhere, absurd, dirty talk gagal/?, NC garing, ini fanfic pertama jadi mohon maklum hehe.
Enjoy
.
.
.
PLAKK
Soojung menampar Kyungsoo.
Wajahnya merah padam karna amarah.
Tapi Kyungsoo tersenyum sambil mengusap pipinya yang panas itu. Kenapa? Karna dibelakang Soojung, ada Baekhyun dan Jongin yang menyaksikan kejadian Soojung menamparnya.
Great!
.
.
.
.
.
This chapter have a some scenes inappropriate, and i'm sorry because make that scene.
.
.
"Apa yang kau lakukan?!" Ujar Jongin setengah teriak. Soojung tercekat begitu mendengar suara Jongin. Ia tidak berbalik, tapi malah menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dan..menangis? hey yang benar saja, dia yang salah tapi dia yang nangis. Sinting. Kyungsoo mengepalkan tangan melihat tingkah Soojung. Ini benar-benar membuatnya muak. Gadis itu tidak bipolar, dia hanya pandai berakting. Kedua makhluk yang tadi hanya menonton itu kini ikut bergabung dan menatap Soojung heran.
"Maafkan aku, sungguh aku minta maaf. Aku hilang kendali tadi..Kyungsoo ma–maaf.." Ujar Soojung sambil terisak, tangannya berkali-kali mengusap air mata yang terus berjatuhan itu. Hey, Soojung menangis sungguhan. Kyungsoo bertepuk tangan dalam hati, dia sungguh kagum dengan akting gadis dihadapannya ini.
"Apa maksudmu melakukan itu?" Tanya Jongin tegas, tangisan Soojung makin menjadi-jadi.
"Tidak apa-apa, aku tahu dia pasti kesal dengan ucapanku." Ujar Kyungsoo santai. Oh tentu saja ini harus ada balasannya, dikira ditampar seperti itu tidak sakit apa. Hanya saja Kyungsoo merasa harus mengimbangi permainan Soojung.
"Seriously Kyung, dia menamparmu dan kau bilang itu tidak apa-apa?where's your brain omg." Baekhyun geleng-geleng. Antara takjub, heran dan emosi, sahabatnya ini tipikal orang yang senggol dikit bacok.
"Jadi orang baik sehari." Tanggap Kyungsoo sambil pamer senyum manis terus pergi gitu aja.
Jongin menganga.
Baekhyun juga.
Soojung langsung berenti nangis.
Ada yang aneh,Kyungsoo fix kesurupan. Pikir mereka berdua, eh bertiga.
"Apaan sih!" Kyungsoo menatap kedua sahabatnya sinis, kedua makhluk berbeda jenis kelamin itu daritadi natap Kyungsoo aneh. Kadang geleng-geleng kepala, kadang keliatan mikir, kadang ngomong satu sama lain pake bahasa isyarat. Kyungsoo gak tahan sampe akhirnya dia teriak.
"Tidak," Kata Jongin.
"Kau..sehat kan?" Ini kata Baekhyun dan sukses dihadiahi jitakan yang mendarat mulus dikepalanya.
"Apa aku kelihatan sakit?"
"Iya. Ku rasa jiwamu yang sakit, masa iya tadi kau bertingkah seperti itu pada Soojung." Jelas Baekhyun dan Jongin ngangguk-ngangguk.
"Eh tunggu, kau, jangan-jangan kau bukan Kyungsoo! SIAPA KAUUUUUUUU!" Baekhyun teriak frustasi didepan wajah Kyungsoo sambil goyang-goyangin bahunya brutal. Baekhyun sinting, bagaimana bisa dia menganggap orang didepannya ini bukan Kyungsoo cuma karna Kyungsoo berubah baik? Jangan tanya Jongin ngapain, dia cuma diem like an idiot.
"Astaga berhenti Baek!" Teriak Kyungsoo tapi gak mempan, Baekhyun masih seperti orang sinting. Dengan terpaksa Kyungsoo mendorong Baekhyun. Baekhyun masang muka ketakutan.
"Ini aku hey, ini aku Kyungsoo!" Kyungsoo mulai frustasi. Baekhyun mendekat perlahan-lahan seolah Kyungsoo adalah Monster.
"Lalu kenapa tadi kau seperti itu?"
"Kau tidak tahu?"
"Tidak. Memangnya kau tahu?" Kyungsoo sungguh ingin membenturkan kepalanya sekarang juga. Baekhyun membuatnya frustasi. Plis deh Baek, kenapa jadi ketularan virus lemotnya kang Idoy sih? *yg nonton Dunia Terbalik pasti tau wkwk*
"Kemarilah," Baekhyun mendekatkan kupingnya pada bibir Kyungsoo begitu menerima isyarat darinya. Jangan lupakan bahwa Jongin masih disini, Kyungsoo tidak mau memberitahu Jongin karna pasti pria itu malah menceramahinya. Sebenarnya Kyungsoo sudah sering bilang kalau Soojung itu munafik, tapi Jongin batu banget dia malah kekeh bilang kalau Soojung baik sungguhan. Baekhyun ngangguk-ngangguk begitu mendengar penjelasan Kyungsoo dan dapat diambil kesimpulan bahwa sikap Kyungsoo tadi karna Kyungsoo mulai mengikuti permainan Soojung karna gadis itu sudah mulai menunjukkan 'wujud' aslinya. Jika saat dibentak atau ditegur masih juga tidak mempan, cara lain menghadapi orang munafik adalah menjadi sepertinya hingga nanti Soojung akan muak dengan sendirinya karna melihat sikap Kyungsoo, begitu pikirnya.
"Kalian membicarakan apa sih?" Teriak Jongin.
"Kepo." Ujar Baekhyun sambil menggandeng tangan Kyungsoo untuk pergi.
"Hei hei mau kemana?"
"Pulang lah, apa lagi." Kali ini Kyungsoo yang menjawab.
"Kau serius mau pulang Kyung?"
"Dua rius malah." Jongin hanya memutar bola matanya malas.
"Temani aku, Baekhyun kau pulang saja sana." Jongin seenaknya mengambil Kyungsoo dari Baekhyun dan membawa gadis itu menjauh. Baekhyun ngomel-ngomel tidak jelas dan akhirnya dia memutuskan untuk pulang saja.
"Nyesel aku ikut denganmu." Ujar Kyungsoo sambil mengetuk-ngetukan sepatunya pada permukaan untuk menghilangkan bosan, padahal tidak berpengaruh sama sekali. Sungguh Jongin sialan, dia malah bawa Kyungsoo ke pusat Taman untuk melihat Ibu-ibu senam. yang benar saja!
"Kau tidak mau ikut senam Kyung?"
"Ogah." Jongin tertawa melihat ekspresi jengkel Kyungsoo. Dia malah membayangkan Kyungsoo senam kaya ibu-ibu SKJ sambil nyengir ga berenti-berenti.
"Kau itu suka tante-tante ya?" Tanya Kyungsoo jahil.
"Enak saja, tidak lah."
"Tapi mukamu mendukung. Ditambah lagi ekspresimu itu, kaya nafsu banget liat mereka senam." Jongin natap Kyungsoo sinis, Kyungsoo malah ketawa ngakak. Sebenarnya muka Jongin gak senista itu kok, tapi kalau liat mukanya pasti bawaannya pengen nistain mulu.
"Nah, itu dia." Kyungsoo langsung berhenti tertawa begitu sadar kalo kelompok ibu-ibu tadi udah gak ada dan digantikan oleh anak-anak muda seusianya yang sedang menari-nari ringan dengan sound system berukuran sedang yang mengeluarkan alunan musik hip hop.
"E-eh Jongin!" Kyungsoo bingung kenapa Jongin malah menuju anak-anak itu. Takutnya Jongin ngelakuin sesuatu yang malu-maluin, mau ditaro dimana muka Kyungsoo.
Tapi bukannya malu-maluin, Jongin malah bikin Kyungsoo gak kicep ngeliatnya. Jongin menari-nari lincah disana, tubuhnya sangat luwes seperti penari profesional, ditambah lagi lagunya itu mendukung banget. Kyungsoo heran, sejak kapan Jongin bisa menari seindah itu? Setahu Kyungsoo, Jongin tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu. Jongin yang ada dihadapannya sangat berbeda dengan Jongin di kesehariannya. Jika biasanya Jongin itu menyebalkan, idiot, jahil, dan nista-able, sekarang Jongin malah kelihatan hot, menggairahkan, punya aura beda, apalagi kulit eksotisnya itu, ugh. Kyungsoo harus beberapa kali menahan diri saat Jongin melakukan body roll agar tidak kelepasan berteriak seperti fangirl yang melihat oppa. Dia. Sangat. Hot.
Jongin sudah selesai menari, sayang banget padahal Kyungsoo masih ingin lihat.
"Jangan pasang tampang melas gitu ah. Aku bisa menari kapanpun untukmu. Dan aku juga bisa membuatmu manari-narikan pinggulmu dibawahku sambil berkata ughhh yeahh Jongin ahhh mhhh–"
"Tutup mulutmu, Idiot" Wajah Kyungsoo merah. Kata-kata Jongin barusan tidak tahu kenapa membuat darahnya berdesir cepat. Dan Jongin yang melihat ekspresi Kyungsoo malah tertawa keras.
"A–aku lapar. Ayo pulang." Bukan bermaksud mengalihkan pembicaraan, tapi Kyungsoo lapar sungguhan.
"Aku punya dua buah telur dan sosis besar, dia bisa mengeluarkan mayonnaise jika kau menjilat dan menghisapnya terlebih dahulu. Kau mau?" Ujar Jongin sambil menampilkan smirk andalannya.
Telur? Sosis?
E–eh tunggu,
Shit.
Kyungsoo tahu kemana arah pembicaraan ini.
"Kedengarannya enak," Jawab Kyungsoo. "Aku sangat lapar~ cepat berikan." Demi Tuhan Kyungsoo sendiri tidak sadar dengan apa yang barusan ia katakan.
"Ouhh sabar sayang, sosisku ini tidak bisa dimakan ditempat umum." Jongin berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan fakta bahwa dia sedang on. Perkataan Kyungsoo berpengaruh besar padanya, terutama pada sesuatu yang berada diselangkangannya.
"Aku lapar sungguhan, Jong!" Kyungsoo benar-benar lapar sekarang, kata-kata Jongin memang berdampak untuknya, tapi rasa laparnya lebih mendominasi.
"Hehe. Ayo kita ke kafe."
"Tidak. Aku mau sarapan dirumah, Ibu pasti sudah memasak untukku, mubazir jika tidak dimakan."
"Tumben pikiranmu bener." Dengan secepat kilat Jongin langsung berlari, karna dia yakin Kyungsoo pasti akan memberikan sebuah pukulan telak untuknya.
Rumah Kyungsoo kosong.
Tidak ada siapapun.
Biasanya sabtu pagi jam segini Ayah dan Ibunya sedang menonton tv atau bercengkrama di teras. Padahal Jongin bersikeras untuk mengantar Kyungsoo dan bertemu dengan orang tuanya tapi malah tidak jadi.
"Kemana orang tuamu?" Tanya Jongin sambil mengekor Kyungsoo masuk kedalam rumah. Kyungsoo mengangkat bahunya acuh dan matanya tertuju pada sebuah stick note kuning yang tertempel dipintu kulkas. Biasanya stick note itu beisi memo dari Ibunya yang ingin bepergian saat Kyungsoo tidak dirumah.
'Ibu dan Ayah pergi ke Gyeonggi untuk menengok bibimu yang melahirkan, mungkin akan menginap beberapa hari disana. Tadi ponselmu ketinggalalan jadi ibu tinggalkan note ini. Semua keperluan makan sudah Ibu sediakan dan kartu kreditmu sudah diisi oleh Ayah. Jaga dirimu baik-baik, panggil Sehun untuk menemanimu dan telpon kami jika ada apa-apa. Kami mencintaimu.' Benar kan.
"Mereka kerumah bibiku yang sedang melahirkan." Jelas Kyungsoo setelah ia minum air mineral dari dalam kulkas.
"Jadi kau sendirian?'
"Tidak. Aku sama sofa, tv, kasur, dan lain-lain." Pertanyaan Jongin itu unfaedah sekali. Sudah tau masih juga nanya.
Kyungsoo beralih ke meja makan yang sudah menjadi tujuannya daritadi. Dia sudah bersiap-siap untuk makan, tapi,
.
.
Kosong.
Tidak ada makanan apapun disana.
Hanya ada teko berisikan air putih beserta gelas berukuran sedang.
"Hahhh?tidak ada makanan nih?"
Miris banget.
Udah semangat pulang abis olahraga, laper. Tapi pas nyampe gak ada makanan apa-apa.
"Pfffft..HAHAHAHAHAHAHAHA" Jongin ngakak liat ekspresi melas plus kelaparan Kyungsoo. Dalam hatinya ia mampus-mampusin Kyungsoo karna tadi tidak mau diajak makan.
"Sialan kau, Musnah saja sanaaaaaaa!"
Akhirnya dua makhluk itu kejar-kejaran kaya kucing dan anjing, sampe barang-barang rumah Kyungsoo tidak lagi tertata rapih ditempat semula.
Jongin mengamati Kyungsoo yang sedang makan dengan lahap. Karna Kyungsoo terus-terusan merengek karna lapar, akhirnya Jongin membuatkan sebuah steak panggang kesukaan Kyungsoo. Gadis itu benar-benar menikmati makanannya, sampai-sampai saus tomat itu meleleh keluar dari mulutnya. Pemandangan didepan Jongin ini sangat sayang untuk dilewatkan, melihat Kyungsoo makan lahap seperti ini membuat hati Jongin gembira, apalagi itu makanan yang dia buat. Kyungsoo tidak bisa masak, palingan hanya masak air, mie rebus atau telur. Harusnya wanita yang bisa masak, tapi ini malah kebalik.
"Doyan apa kelaparan." Ujar Jongin usil. Kyungsoo mendelik tajam dan melanjutkan makannya lagi.
"Kau gak makan?" Ujarnya disela-sela kegiatan makannya.
"Tidak. Melihatmu makan saja sudah membuatku kenyang." Jawab Jongin sambil senyum. Sebenarnya Jongin berniat untuk gombal pada Kyungsoo, tapi gadis itu malah cuek dan fokus pada makananya. Gagal sudah, lagian sejak kapan sih Kyungsoo bisa fokus pada hal lain saat ia sedang makan? Tidak pernah. Kyungsoo gak suka makan sambil ngobrol atau memikirkan hal lain, makan ya makan saja.
Sampai Kyungsoo selesai makan Jongin masih setia menungguinya, gadis itu tersenyum manis kearah Jongin sambil bilang terimakasih.
"Oi kenapa kau masih senyum-senyum begitu?" Tanya Jongin heran. Benar, Kyungsoo masih saja senyum-senyum gajelas, bikin Jongin takut karna gak biasanya Kyungsoo begini.
"Hehe," Kyungsoo tertawa kecil, "Piringnya cuci sekalian ya. Aku mau mandi." Nah kan, tertanya dibalik senyumannya itu ada niat tidak enak buat Jongin.
"Fak yu." Umpat Jongin sambil natap Kyungsoo sinis. Udah dimasakin, minta dicuciin pula. Gak tau diri. Pikirnya.
"Ckckck Jongin, anak remaja seperti kita tidak boleh mengumpat tahu." Jelas Kyungsoo sambil pasang muka menceramahi. Jongin pasang tampang 'You don't say?'
01.12 PM
Setelah selesai makan, Jongin dan Kyungsoo duduk dikamar sambil bercerita banyak. Maklum lah, kemarin-kemarin sejak kepindahan Jongin mereka gak akur, jadi gak nemu timing yang pas buat ngobrol begini. Jongin cerita gimana dia bisa jago nari, dan semua hal konyol yang pernah terjadi selama Jongin di Charterhouse. Kyungsoo juga gak kalah semangat pas cerita gimana kehidupan dia disini, tanpa Jongin. Jika Kyungsoo sedang cerita, Jongin pasti senyum-senyum terus dengerinnya, Kyungsoo itu seperti bocah jika sedang menceritakan sesuatu, semangatnya menggebu-gebu. Kadang disela obrolannya itu diselingi candaan ringan khas mereka, Jongin yang suka ngomong jail sama Kyungsoo dan Kyungsoo yang pemarah kalo dijailin. Jongin belum pulang kerumah, tadi dia sempet mandi dan pake baju yang dia pake pas pagi. Dia milih disini alasannya untuk menemani Kyungsoo, padahal masih ada tujuan lain dia disini. Hmm.
Bosan karna tidak ada lagi topik pembicaraan yang seru, Jongin ngacak-ngacak isi lemari buku Kyungsoo. Sedangkan Kyungsoo asyik dengan gadgetnya.
"Gadis aneh, Novel genrenya beginian semua." Ujar Jongin sambil melempar beberapa Novel kekasur Kyungsoo.
"Cih, Novel punyaku ini."
"Yakali Kyung, lihat ini thriller, mistery, pembunuhan, fantasy. Tidak ada comedy apa."
"Berisik sekali. Beli sendiri sana."
"Kyungsoo.." Jongin melompat kekasur Kyungsoo, mukanya keliatan serius.
"Hm,"
"Kamarmu berubah."
"Hm,"
"Kenapa dirubah posisinya? Karna keinget-inget aku terus yaaaaa."
Muka Kyungsoo merah.
Perkataan Jongin membuatnya ingat pada kejadian 4 tahun lalu.
Saat pertama kali mereka berdua saling 'menyentuh', disini, dikamar Kyungsoo.
"Tidak juga, geer sekali kau." Ujar Kyungsoo berusaha menghilangkan semburat merah diwajahnya.
"Hei Kyung, apa kau pernah 'on'?" Kyungsoo mengerutkan dahinya. On apa maksudnya?
"Ck, masa iya tidak mengerti. Horny Kyung, Horny." Jelas Jongin frontal.
"Tidak," Bohong, Padahal Kyungsoo pernah, bahkan hampir sering. Apalagi jika dia melihat ChanBaek sedang 'begitu' pasti dia langsung on.
"Bohong. Wanita yang pernah disentuh pasti akan ketagihan, masa iya selama 3 tahun tanpaku kau tidak pernah on." Duh Jongin pintar juga ternyata.
"Kau, –kau sendiri bagaimana? Pernah tidak?"
"Malah balik nanya. Setiap lelaki pasti akan on setiap pagi."
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika sedang begitu?"
Jongin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Kyungsoo yang sedang tengkurap. Menghembuskan nafas berat dileher Kyungsoo dan menyebabkan darah gadis itu berdesir. "Kau pikir apa coba?" Suaranya parau dan itu disengaja oleh Jongin.
"Be–bermain..solo?" Jawab Kyungsoo gugup. Demi Tuhan jantungnya berpacu sangat cepat.
"Exactly. Tapi sambil membayangkanmu. Membayangkan saat kita melakukan itu, saat kau mendesahkan namaku, saat tubuhmu bersatu dengan tubuhku, saat payudara indahmu menempel dengan dadaku, saat lubangmu menjepit hangat penisku. Eunghhhh Kyunghhhh."
Glup.
Glup.
Glup.
Kyungsoo menelan ludah berkali-kali saat mendengar penjelasan Jongin. Hanya kata-kata tapi membuat darahnya berdesir hebat, seperti ada sesuatu yang tidak nyaman dibawah sana, rasanya gatal. Dan Kyungsoo sadar hanya karna perkataan Jongin dia menjadi 'on'.
"Kenapa, hm?" Jongin mengendus leher Kyungsoo, sengaja.
"si–singkirkan wajahmu dari leherku." Baru saja Kyungsoo ingin bangun tapi Jongin menahannya, membuat gadis itu terbaring dan Jongin pindah keatasnya.
"Katakan padaku, apa yang kau lakukan jika sedang on?"
"Tidak ada. Aku tidak melakukan apa-apa!" Kyungsoo bohong lagi. Tentu saja ia melakukan sesuatu untuk membuat dirinya 'off'.
"Ck. Mengaku sajalah Kyung. Apa kau membayangkanku juga, hm?" Bibir Jongin beralih pada telinga Kyungsoo. Menghembuskan nafas berat dan cepat. Lalu pindah ke perpotongan lehernya, menjilat serta membuat beberapa tanda cinta disana. Sungguh Kyungsoo benar-benar on, rangsangan yang Jongin buat sederhana tapi berdampak hebat. Tubuhnya menggeliat tak nyaman seolah kehabisan oksigen.
"Katakan padaku Kyung, apa yang kau lakukan." Sejujurnya Kyungsoo berusaha menjawab pertanyaan Jongin, tapi pria itu terus saja menyerang titik sensitifnya hingga ia takut bukannya jawabannya yang keluar tapi malah desahan.
"Hentikan dulu bodoh!" Ujar Kyungsoo cepat, suaranya parau menahan sesuatu. Jongin berhenti sejenak untuk menatap gadis dibawahnya ini.
"Ya," Kyungsoo berdehem sebentar.
"Aku membayangkanmu, membayangkan saat milikmu benar-benar menyentuh titik terdalamku." Kyungsoo mengusap penis Jongin pelan.
"Saat kau mencubit nippleku kencang," Tangannya beralih pada dada Jongin mencubit nipple pria itu kencang, persis seperti ucapannya tapi hanya beda posisi saja. Jongin mendesah tertahan.
"Saat bibirmu membelai bibir vaginaku," Tiba-tiba saja Kyungsoo mencium Jongin, Jongin yang terkejut awalnya diam tak bereaksi, tapi detik kemudian dia lah yang mengambil alih permainan. Melumat, perang lidah, bahkan menggigit. Mereka berdua sama-sama ingin memimpin, tapi karna Jongin pria jadi tentu saja Jongin yang menang.
"Mmmhhhhh.." Kyungsoo melenguh dalam ciumannya saat Jongin menggesekan penisnya dengan vagina Kyungsoo yang masih sama-sama terbalut celana. Sementara tangannya yang mengganggur ia gunakan untuk meremas gunung kembar yang mengganggu dadanya itu. Karna tangan Kyungsoo yang selalu refleks bergerak saat Jongin melancarkan aksinya, ia memutuskan untuk mengunci pergelangan tangan Kyungsoo dengan tangan kanannya diatas kepalanya. Gadis itu mulai bergerak-gerak risih, ia kehabisan oksigen, sungguh.
"Hahhh Hahhhhh.." Mereka berdua berlomba-lomba mengais udara, wajahnya keduanya sama-sama memerah karna kehabisan nafas dan juga ehm nafsu.
"Kau..indah."
Kyungsoo berantakan, rambut hitamnya kusut seperti orang bangun tidur. Tiga kancing teratas kemejanya sudah lepas tanpa Kyungsoo sadari. Dan saat seperti inilah saat terindah Kyungsoo bagi Jongin.
"Eumm..Jong," Ujar Kyungsoo pelan.
"Ya?"
"Apa kau pernah bercinta dengan wanita lain disana?"
Jongin berpikir sebentar, sebelum akhirnya menjawab, "Menurutmu?"
"Pasti pernah. Kau itu kan nafsunya besar, mana mungkin main solo bisa membuatmu puas." Kyungsoo berbalik memunggungi Jongin, rasanya dia seperti melubangi hatinya dengan ucapannya sendiri. Ucapannya itu bertolak belakang dengan suara hatinya, tentu ia tidak mau Jongin berhubungan badan dengan orang selain dirinya. Tapi bisa saja kan Jongin melakukan itu? Bagaimanapun dia adalah seorang pria yang hormonnya sedang meledak-ledak. Entahlah, Kyungsoo merasa pusing dengan spekulasi yang dibuatnya sendiri.
"Hei, kau kenapa?" Tanya Jongin lembut sambil mengecup bahu Kyungsoo, dan gadis itu hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya.
"Kyungsoo.."
"..." Tidak ada jawaban.
"Kyungie~"
"..." Kyungsoo masih diam.
"Cintaku, hidupku, nafasku, duniaku, mataha-"
"Diamlah, aku lelah."
"Kau marah?"
Kyungsoo menggeleng lagi, matanya terpejam dan posisinya menghadap Jongin.
"Aku tidak pernah membiarkan wanita lain menyentuhku. Aku memang punya banyak teman wanita disana dan ada juga yang mengejar-ngejarku, tapi kau tahu kan aku ini tipikal yang setia?" Jelas Jongin sambil mengusap lembut rambut Kyungsoo. Gadis itu makin meringkuk dalam dada bidang Jongin.
"Awas saja." Gumam Kyungsoo pelan.
"Hm? Kau bilang apa?"
"Awas saja jika kau berani macam-macam. Aku akan mencincang sosis besarmu itu!"
Glup.
Jongin bergidik mendengar ucapan Kyungsoo. Duh, yang benar saja sosis ini adalah kebanggaan Jongin, mau jadi apa masa depannya jika ia tak punya sosis. Lagi pula, ini kan mainan kesukaan Kyungsoo.
"Kiss me.." Gumam Kyungsoo lagi. Hatinya benar-benar labil, tadi dia marah, lalu mendekat lagi pada Jongin dan sekarang minta dicium.
Dengan senang hati Jongin menuruti keinginan gadisnya itu, dia merengkuh tubuh mungil Kyungsoo untuk memperdalam ciumannya. Kyungsoo melingkarkan kaki dan lengannya pada badan dan leher Jongin. Tidak peduli dengan saliva yang berlomba-lomba turun pada dagu masing-masing. Ciuman Jongin pindah pada daerah favoritnya; leher dan telinga Kyungsoo. Lagi-lagi meninggalkan tanda cinta disana, tanda yang tadi saja belum hilang. Kyungsoo menikmati setiap permainan lidah dan bibir Jongin, dia meremas rambut Jongin sebagai pelampiasan ketika Jongin memperdalam hisapannya.
Dengan cepat Jongin pindah ke inti tubuh Kyungsoo, membuka celana pendek Kyungsoo tidak teratur karna saking nafsunya. Jongin membuka lebar paha Kyungsoo. Gadis itu lagi-lagi mendesah. Tiba-tiba pikirannya melayang pada hari itu, hari saat mereka bertengkar didalam mobil dan Kyungsoo mengira Jongin akan memperkosanya. Lucu sekali.
"Kau cuma ingin melihatnya sa–ahhhhh" Belum selesai dengan ucapannya, Jongin sudah membuatnya seakan terbang. Kepala Kyungsoo tertarik kebelakang dan tangannya meremas rambut Jongin, berharap Jongin menghisap vaginanya dengan kuat.
"Jong–mmhhhh..moreeeee ahhh." Dengan lihai Jongin menyapu bibir vaginanya, lidahnya menari-nari dibawah sana. Menjilati seluruh permukan vagina Kyungsoo, tanpa ada satu bagian pun yang terlewat. Sesekali dia menggigit kecil klitoris Kyungsoo dan mengakibatkan gadisnya itu mendesahkan namanya hebat. Desahan Kyungsoo adalah candu baginya, desahan itu benar-benar membangkitkan semangat Jongin untuk berbuat lebih, apalagi saat bibir kissablenya itu mendesahkan nama Jongin, ugh.
"Eunghhhh Jonginahhhhh..." Jongin memasukkan jari telunjuknya pada vagina Kyungsoo, awalnya terasa perih tapi karna dibarengi dengan hisapan Jongin, rasa perih itu tidak ada apa-apanya. Tangan Jongin menyelusup masuk kedalam kemeja Kyungsoo. Meremas gunung kembar kesukaannya dengan keras, lalu memelintir nipple pink favoritnya itu. Jangan tanya ekspresi Kyungsoo seperti apa, desahannya makin menjadi-jadi, dia gila karna Kim Jongin.
"Ahhh Jonginhh ak–aku..mhhh aku akh–" Jongin sialan, Kyungsoo hampir klimaks tapi dia malah menghentikan aksinya. Kyungsoo berinisiatif untuk bermain sendiri tapi Jongin mencekal tangannya.
"Lanjutkan, kumohon.." Ujar Kyungsoo melas. Dia sangat membutuhkan Jongin saat ini, butuh sentuhan Jongin.
"Apa sayang? Apa yang kau inginkan, hm?" Jongin memainkan vagina Kyungsoo lagi dengan jari telunjuknya, tapi itu tidak memberikan kenikmatan sama sekali karna Jongin memainkannya dengan sangat pelan.
"Argh shit! Aku mau ini, aku mau penismu!" Kyungsoo menggenggam penis Jongin frustasi, tidak peduli dengan ucapannya yang frontal dan vulgar karna dia benar-benar membutuhkan 'sosis' itu memasukinya sekarang juga.
"Calm down babe, kau akan mendapatkannya."
Jongin membuka resleting celananya dengan gerakan slow motion, dan itu membuat Kyungsoo jengkel. Orang ini maksudnya apasih? Menggoda Kyungsoo?
Tanpa dikomando Kyungsoo bangun dan meraih celana Jongin, membukanya dengan tidak sabaran sampai Jongin juga ikutan ketarik-tarik.
"Biasa aja Kyung, yaampun gak sabaran banget."
"Lagian kau lama!"
"Katakan padaku apa yang kau inginkan?"
"Kau.."
"Bukan itu."
Kyungsoo mendorong Jongin hingga tubuhnya berbaring dan mengambil posisi diatas Jongin. Membuka kaos oblong Jongin dengan tidak sabaran juga. Jongin full naked dan terpampanglah pemandangan kesukaan Kyungsoo, dada bidang Jongin dengan kulitnya yang eksotis.
"Aku ingin penismu," Kyungsoo dengan nakalnya menduduki penis Jongin yang sudah sangat siap itu. Jongin melenguh seketika, menyadari bahwa kini kemaluan mereka menempel satu sama lain tidak ada sehelai benang pun yang menutupinya.
"Aku ingin ini –ahhhhhh.." Mereka mendesah bersama saat Kyungsoo tiba-tiba memasukkan penis Jongin pada lubangnya. Kyungsoo tidak sepenuhnya mendesah, dia merasa perih. Vaginanya memang sudah basah tapi rasa sakit itu tetap saja ada. Kyungsoo terus membuat penis itu masuk sepenuhnya sambil menggigit bibir bawahnya menahan perih.
"Kyung, apa tidak sakit? Kau tahu –ahhh milikmu sangat rapat, eunghhhh." Kyungsoo tidak menjawab dan tetap menahan rasa sakit itu hingga kenikmatan yang ditunggunya datang.
"Bergerak.." Ujar Kyungsoo parau.
"Hah?"
"Kau..bergeraklah.."
"Kan kau yang diatas."
"Aku tidak kuat, kau saja–ahhhh." Jongin selalu saja tiba-tiba. Pria itu menggerakan pinggulnya naik turun, tidak lama kemudian Kyungsoo juga ikut gerak, pinggulnya berlawanan arah dengan gerakan Jongin. Tangan Jongin meraih kemeja Kyungsoo yang belum terbuka sepenuhnya, membuka kancing-kancing itu hingga payudara Kyungsoo yang tertutup bra coklat menyembul keluar. Jongin menarik bra itu kasar dan meremas sesuatu yang ada didalamnya. Tubuh Kyungsoo makin terlonjak-lonjak karna Jongin menambah tempo geraknya menjadi lebih cepat.
"Jong–ahhhh..mhhhh" Tidak peduli dengan peluh berkali-kali turun dikening masing-masing, mereka asyik dengan kegiatan panas itu. Jongin bangkit dan membalik posisi tanpa melepaskan penisnya dari Kyungsoo, dia frustasi dengan posisi itu karna tidak bisa bergerak bebas.
Kyungsoo mendesah hebat saat Jongin mulai menusuknya dalam-dalam, seluruh kenikmatan itu menjalar ke setiap inci tubuh Kyungsoo.
You can call me monster
I'm creeping in your heart babe
dwijipgo muneoteurigo samkyeo
Ponsel Kyungsoo berbunyi, dan gadis itu sama sekali tidak punya niat untuk mengangkatnya.
Ganggu aja, gatau orang lagi seneng-seneng kali. Batinnya jengkel.
"Ponselmu..." Ujar Jongin disela-sela genjotannya.
"Biarkan saja..mmhhhhhhh."
"Jika itu orang tuamu bagaimana?"
Oh benar juga.
Jadi Kyungsoo minta Jongin berhenti untuk mengangkat panggilan tersebut.
Byun Baekhyun
Kyungsoo hampir saja mengumpat saat melihat nama orang yang terpampang dilayar ponselnya.
"Bocah sialan tukang ganggu. Lanjutkan Jong."
"Siapa?"
"Baekhyun."
"Angkat saja, siapa tahu penting."
"Ogah. Cepat lanjutkan."
"Angkat dulu."
Dengan malas Kyungsoo mengangkat panggilan itu.
"Ada apa sih!"
"Santai saja kali. Kau dirumah tidak?"
"Iya! Memangnya kena–ahhhhh..Shit, berhenti –ahhhh" Lagi-lagi Jongin melakukannya tiba-tiba, dan parahnya saat Kyungsoo sedang bicara dengan Baekhyun. Kyungsoo yakin Baekhyun pasti mendengarnya.
"Hei kau kenapa? Kau baik-baik saja kan?"
"Ya..mhhh aku baik. ada apaan cepat." Sumpah ini susah sekali. Berusaha bicara normal saat ada orang yang sedang menggenjotmu dengan cepat. Kyungsoo menatap Jongin tajam dan Jongin membalasnya dengan smirk andalannya.
"Nanti malam aku kerumahmu."
"Ya baiklah."
Panggilan terputus dan Kyungsoo yang mengakhirinya.
"Sialan kau –nghhhh."
Kedua insan itu semakin larut dalam kenikmatan bercinta, Jongin menggenjot makin cepat dan Kyungsoo mendesah makin keras.
"Menurutmu dia sedang apa?"
"Dari suaranya sudah dapat dipastikan."
Meanwhile in other side ada pasangan hiperaktif yang sedang berdiri didepan rumah Kyungsoo.
Chanyeol dan Baekhyun.
Sebenarnya tadi saat Baekhyun telfon, dia sudah ada didepan rumah Kyungsoo. Untuk memastikan saja gadis itu ada dirumah atau tidak karna Baekhyun mau main. Soalnya tadi waktu mereka lagi chattingan lewat kakao talk, Kyungsoo bilang orang tuanya pergi untuk beberapa hari. Tapi ada hal tak terduga yang Baekhyun dengar, Kyungsoo mendesah. Itu kenapa Baekhyun bilang bahwa dia akan kerumah Kyungsoo nanti malam.
Kedua orang itu saling tatap dengan tatapan aneh, saling mengangguk-anggukan kepalanya lalu berjalan masuk kedalam rumah Kyungsoo yang tidak terkunci itu.
"Dimana kamarnya?" Tanya Chanyeol pelan.
"Pintu satu lagi, itu kamarnya."
"Kau yakin orang tuanya tidak ada?"
"Gak percayaan amat sih!"
Chanyeol dan Baekhyun mendekatkan telinga mereka pada pintu kamar Kyungsoo, berusaha menangkap ada tidaknya suara yang tadi sempat mereka dengar ditelfon.
"Mhhh..ahhh Jonginahhh..fasterrr...ahhh"
Mereka berdua saling pandang.
"Kau dengar tidak?" Tanya Chanyeol pelan sekali.
"Dengar. Kyungsoo mendesah nama Jongin..?"
"HEHEHE."
.
.
.
BRAKKK
.
.
.
"Hei kalian!"
"KYAAAAAAAAAAAAAA."
.
.
.
.
.
TBC
Sorry updatenya lama, qu sibuk qaqa T.T
Buat yang udah nunggu dan kasih review makasih banyak makasih makasihhhhhh ^O^
Ini tadinya mau aku kelarin kemaren, tapi aku kesel banget. Kan aku nulis langsung di ffn, eh malah keluar sendiri dan GAK KESIMPEN mana huruf 'E' di keyboard aku rusak, lengkap sudah. Dan maafin aku hadir dengan scene seperti ini T.T
gak hot ya?
gak jelas ya?
Maafin duh. Masih amatiran kalo nulis adegan ence :'v
Dan aku mau minta doanya karna awal april aku UN, ngerasa dosa banget mau UN bukannya belajar malah nulis beginian :'v gapapa, lagi khilaf wkwk.
See you later~~~~~
