Si Bungsu Gin
Disclaimer: Bleach beserta karakternya bukan milik saya.
Summary :
Kira si kucing kembali datang, hanya kemudian untuk pergi selamanya. Sebagai gantinya, Gin menemukan seorang remaja yang mirip dengan kucing itu. AU.
Warning: Cerita ini AU, jadi selamat membaca cerita ini sebagaimana adanya.
Chapter 9
.-.-.
Dari balik jendela kamarnya di lantai dua, Gin melotot tidak percaya. Barangkali Sousuke yang kalem bakal tersedak tehnya atau Starrk yang hobi tidur sekalipun akan langsung terbangun mendapati pemandangan langka seperti itu: Gin yang biasanya berwajah rubah dengan mata selalu terpicing kali ini mendelik, memperlihatkan matanya yang hijau seperti danau.
"Kira!" jerit Gin kencang.
Di bawah sana, di dekat ayunan yang berdampingan dengan pohon kesemek yang ditanam Gin dahulu kala, seekor kucing berbulu terang tengah menggeliat malas di rerumputan.
Tanpa pikir panjang Gin tergopoh-gopoh melesat keluar kamar, menuruni tangga dan berlari ke halaman. Kira, si kucing, hanya mendongak ogah-ogahan. Dia bahkan tidak melawan saat Gin mendekapnya erat.
"Kau kembali! Aku kangen banget, lho!" seru Gin gembira. Senyumnya semakin lebar, memperlihatkan giginya yang rapi dan runcing-runcing. Kegembiraan terpancar jelas di raut wajahnya. Barangkali karena terlalu senang, pipi pucat dan tirus Gin jadi agak merona.
"Meow," balas Kira seraya menggesekkan kepalanya ke seragam Gin.
Gin terkekeh. Sejenak diangkatnya kucing itu. Matanya membulat begitu dirasakannya tulang-tulang Kira di bawah tangannya. Kira tetap saja kecil, bulunya yang dulu pirang lembut kini terasa kasar, kusut dan terlihat kotor. Gin ragu-ragu, apakah ini hanya perasaannya saja, tetapi mata biru cemerlang Kira sekarang nampak suram.
"Hei, kau kurus sekali," gumam Gin agak sedih.
Lagi-lagi Kira menyahut, "Miauuu!"
"Kau kumandikan, ya?" ujar Gin tiba-tiba. Seringai kecil kembali menghiasi wajahnya.
Bocah jangkung itu nyaris terlonjak karena kaget ketika sebuah tangan menepuk pundaknya lembut. "Starrk!" refleks Gin menyerukan nama kakak tengahnya.
Starrk mengamati Kira dan Gin bergantian. "Omong-omong, Gin, ganti dulu seragammu, baru main dengan kucing ini," tegurnya datar.
Saat itu Gin memang baru saja pulang sekolah. Dia baru membuka satu kancing seragamnya ketika matanya tertumbuk pada Kira.
"Hmm, iya deh," kata Gin akhirnya. "Sekalian saja aku ganti baju dan mandi. Kira, mandi bareng aku, yuk!" ajak Gin. Kira tidak lagi menyahut dengan meongannya. Kucing kecil itu hanya mengerjapkan matanya, yang kini terlihat semakin menonjol di wajah kurusnya.
Mendadak Starrk diliputi kecemasan. "Sebaiknya kucing ini dimandikan oleh pegawai pet shop saja. Jangan-jangan kau nanti membunuhnya."
Gin mengernyit tidak suka. "Mana mungkin aku membunuhnya! Kucing tidak akan mati gara-gara air," sanggah Gin sakit hati. Dia tersinggung dengan ucapan kakaknya. Sousuke saja tidak khawatir Gin bakal mati gara-gara mandi sendiri, masa Starrk berpikir dia tidak becus memandikan Kira?
"Hewan beda dengan manusia, Adik Kecil! Kucing akan mati kalau telinganya kemasukan air," terang Starrk, diam-diam mengerti kekesalan Gin.
"Kan ada cotton bud!"
Starrk menghela napas berat. "Katanya kau bocah genius, ternyata kau tidak sepintar kata orang, ya," kata Starrk menggelengkan kepala.
Gin terpekur. "Iya sih, aku juga pernah dengar ada kucing anggora yang tewas gara-gara dimandikan tuannya," cetus Gin agak tidak rela.
Pada akhirnya Starrk mengantar Gin ke sebuah pet shop. Setelah Kira dimandikan, Starrk masih harus mengekor adiknya ke deretan rak di tempat itu untuk membeli makanan kucing. Tidak tanggung-tanggung, Gin membelikan Kira makanan kucing terbaik dan termahal yang ada di rak. Tanpa beban remaja itu tersenyum seraya menyeret sang kakak ke kasir.
Gin, si bocah yang menurut guru-guru di sekolahnya termasuk genius, lihai mendapatkan yang diinginkannya tanpa mengeluarkan duit sepeser pun. Yah, kecuali kalau duo kakaknya sudah sepakat untuk mengerjainya terlebih dahulu, meski sebenarnya Starrk lebih mudah dibujuk daripada si tegas Sousuke.
.-.-.
Sousuke membiarkan Gin membawa Kira ke dalam rumah. Kucing itu tidak lagi terlihat dekil. Kira sama sekali tidak punya potongan kucing liar atau buas.
Kira nampak lebih bersemangat daripada ketika Gin menemukannya sore itu. Makhluk berbulu itu bergelung manja di pangkuan Gin.
Si sulung itu cuma memandang Gin dan Kira. Diam-diam ada kelegaan menyapu dadanya melihat Gin menggelitik riang perut Kira. Di mata Sousuke, Gin yang bercanda ria dengan kucing yang dulu sempat hilang itu terlihat seperti remaja normal lainnya, bukan lagi nampak seperti rubah licik. Menurut pendapatnya, hanya dirinya dan Starrk yang nampak normal, yah, kalau dari segi penampilan sih.
Setelah Kira kembali, Gin bersikap lebih posesif. Dia tidak membiarkan kucing pirang itu pergi dari pengawasannya. Batinnya, toh Kira tidak bertuan, tidak ada salahnya mengambil dan memeliharanya di rumah. Remaja (anak orang) kaya itu lebih dari mampu untuk menampung dan memberi kenyamanan padanya. Gin tidak sayang merogoh koceknya tapi dua kakaknya, yang notabene sudah mampu menghasilkan duit sendiri, bertindak sebagai jadi donatur untuk si kucing.
"Sou," panggil Gin disela-sela seringainya, "Kira suka kesemek tidak, ya?"
Si sulung mengalihkan mata coklatnya dan balas memandang Gin. "Kucing tidak suka buah," balas Sousuke memberi komentar. "Buah favoritmu belum tentu disukai hewan, Gin."
Gin agak cemberut. Dia memang maniak kesemek. Sewaktu SD, dia menanami kebun belakang dengan pohon kesemek.
Sousuke geleng-geleng, takjub dengan pemikiran adiknya.
Dia tidak setuju jika Kira tidur dengan Gin. Akhirnya jengkel dengan alibi Gin, Sousuke mengijinkan Kira tidur di kamar Gin, asal kucing itu tidur di keranjang rotan yang dibelikan Starrk.
.-.-.
Starrk terbangun saat seseorang mengguncang tubuhnya dengan hebat. Ogah-ogahan pria berjenggot tipis itu membuka matanya sedikit dan melirik jam dinding. Hari masih terlalu pagi.
"Ada apa, Gin?" gerutunya sebal, terlebih ketika adiknya itu menarik selimut yang menutup tubuhnya.
"Starrk, Kira kenapa? Dia tidak bergerak," kata Gin, suaranya gemetar hebat.
Kantuk Starrk menghilang seketika. Baru kali itu dia mendapati Gin seperti itu. Pasti serius! Batinnya.
Starrk memegang kucing kecil itu, membuka matanya yang terpejam dan mengusap tubuhnya. Di sebelahnya Gin mengamatinya dengan wajah cemas. Sekali lagi Starrk memeriksa si kucing. Barulah setelah berkali-kali mengecek tatapan kosong Kira, Starrk menggelengkan kepala, miris sekaligus prihatin.
"Maaf Gin, sepertinya Kira..."
Dia bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Gin mulai terisak.
"Tidak mungkin..." ujar Gin terbata. Air mata besar-besar menuruni pipinya yang kurus. Bulu matanya basah, bahunya berguncang. Dia meraih kembali kucing yang sudah tak bernyawa itu. "Kemarin..kemarin dia tidak apa-apa," isaknya parau.
Pria jangkung itu beringsut dan mengusap rambut perak Gin. "Kira masih kecil, rentan terhadap penyakit. Apalagi dia baru kembali ke sini. Kita tidak tahu dia telah mengembara ke mana saja, apa saja yang sudah masuk ke perutnya," urai Starrk panjang lebar.
"Tapi dia nampak sehat," tolak Gin getir. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kucing yang baru kemarin diadopsinya telah mati.
Sang kakak kini mengusap punggung Gin, berusaha menghiburnya. "Mungkin saja dia ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya. Pasti Kira bahagia sudah bermain denganmu sebelum dia pergi."
"Tidak ada kucing mati dengan bahagia!" tepis Gin gusar bercampur sedih. Kausnya basah oleh tetesan air mata yang jatuh mengenainya, bahkan bulu di beberapa bagian tubuh Kira ikut basah. Remaja itu mendekap erat tubuh Kira.
Helaan napas panjang dan letih keluar dari hidung Starrk. Dia diam, berusaha mengerti kebingungan Gin yang kehilangan Kira. Ya, dia bisa mendeteksi kesedihan, kebingungan dan rasa galau yang berkecamuk di dada Gin karena itulah yang bertahun-tahun lalu dirasakannya saat anjing kesayangannya mati. Mati di depan matanya. Walau terpukul, paling tidak Gin tidak melihat kucing itu meregang nyawa dengan mata kepalanya sendiri.
Starrk tidak tega menambahkan kemungkinan kematian Kira. Kucing itu memang masih kecil, belum terlalu kuat. Selain itu, bisa saja -Starrk menduga- Kira menelan potas atau sejenis racun lain yang dibalut makanan, menyembunyikan racun berbahaya yang membunuh hewan yang memakannya berjam-jam kemudian.
Diam-diam Sousuke menghampiri ranjang Starrk. Rambut ikalnya masih acak-acakan karena bantal. Mata coklatnya silih berganti mengawasi bahu Gin yang naik turun karena terisak dan kucing pirang kecil di dekapannya. Tatapannya melembut, akhirnya memahami yang sebenarnya terjadi.
Starrk bertukar pandang dengan si kakak, yang baru saja tergopoh memasuki kamarnya. Sousuke menaikkan alis, yang dibalas anggukan samar olehnya.
Kini tangan lebar Sousuke yang mengelus puncak kepala Gin, memberinya simpati atas kematian kucingnya.
Gin, remaja umur lima belas menjelang enam belas, bocah bertampang rubah yang wajahnya menimbulkan rasa ngeri, saat ini sesenggukan karena kehilangan kucing yang disayanginya. Gin tidak mudah mengeluarkan air mata, tapi sekali menangis, sulit menghentikannya.
.-.-.
TBC
A / N : Menyaksikan hewan peliharaan mati dengan mata kepala sendiri benar-benar membuat hati bagai digodam palu. Menanggapi review di chapter lalu, wah, sebenarnya saya tidak bermaksud menyelempitkan pesan moral kok, sumprit-prit-prit (geleng kepala kuat-kuat). Saya hanya ingin berbagi cerita. Ah, saya jadi malu sendiri. Chapter itu aja deh yang seperti itu, selanjutnya akan saya bumbui humor. Tapi saya tidak bisa menahan diri, bahwa lambat laun cerita ini tidak hanya bermuatan humor saja. Sepertinya chapter ini tidak ada humornya, yang ada malah sedih. Apalagi awalnya saya tidak berencana membuat cerita ini sampai ber-chapter-chapter. Dulu saya kira akan tamat setelah tiga chapter saja. Ternyata...Selamat membaca!
