Bad Girl ( Chapter 9 )
Author : Bacon14
Length : Chaptered
Genre : Romance, SchoolLife, Genderswitch
Disclaimer : FF ini aku share di fbku sendiri Ayu Meylianawati Santoso, pageku EXO Fanfic Indo, u/8926667/, wattpad AyuMeyliana dan blog EXO Fanfiction. So kalo ada yang pernah baca ff ini selain link" diatas itu namanya plagiat.
Main Cast :
- Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
Add Cast :
- Xi Luhan
- Do Kyungsoo
- Kim Taehyung
Sinopsis :
Byun Baekhyun. Yeoja berwatak keras, dingin dan sadis. Ia bertemu dengan Park Chanyeol. Seseorang geek yang selalu bergelut dengan buku-buku tebal. Bagaimanakah awal pertemuan mereka?
Happy Reading😁
"Aku mencintaimu, Baek." Baekhyun terdiam, terkejut dengan kata-kata Chanyeol. Hatinya menghangat dan wajahnya juga ikut memanas. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga. Dicintai adalah sebuah perasaan yang sangat membahagiakan. Tatapan Chanyeol masih menghujam matanya. Menunggu jawaban pasti dari bibirnya.
"A-aku.. Chan...A-aku.." Baekhyun sangat gugup. Ini lebih gugup dari pemilihan ketua kelas saat SD. Jantungnya berdebar-debar dan rasanya ribuan kupu-kupu menggelitik perutku. Terlalu menyenangkan untuk dilupakan. Lembutnya tatapan Chanyeol padanya, melelehkan dirinya perlahan-lahan. Baekhyun tidak tahu lagi harus menjawab apa.
"Aku juga mencintaimu." ucap Baekhyun lirih. Chanyeol tersenyum dan duduk lebih dekat ke Baekhyun. Wajahnya semakin dekat dan Baekhyun dihadiahi sebuah kecupan manis. Pipi Baekhyun memerah hingga ke telinganya. Ugh~ ini memalukan sekaligus menyenangkan.
"Kau harusnya mengatakannya sejak awal, Baek. Aku bisa membaca perasaanmu tau." goda Chanyeol. Baekhyun langsung memukul lengan Chanyeol dengan lengannya satu lagi. Pukulannya cukup keras untuk ukuran orang sakit. Chanyeol langsung memegangi tangannya yang memerah. Sepertinya ia harus mencatat dalam otaknya untuk tidak membuat Baekhyun marah karena pukulannya tidak main-main.
"Jangan kira aku akan baik-baik padamu karena kau namjachinguku. Aku akan memperlakukanmu sama seperti yang lain." ucap Baekhyun tajam. Chanyeol mengendikkan bahunya tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah yeoja mungil yang cerewet ini miliknya dan ia harus melindunginya dengan segenap kekuatannya.
"Uhh~~ aku takut. Tapi kau akan memperlakukanku dengan romantis bukan?" Baekhyun hanya mencibir ucapan konyol Chanyeol. Mulut Chanyeol itu tidak bisa dijaga dan berbicara semaunya. Ck...sepertinya Baekhyun harus terbiasa dengan sikapnya.
"Baek... Apartemenmu sedang direnovasi. Lalu kau akan tinggal dimana? Kembali ke rumahmu?" Baekhyun langsung menggeleng keras atas usulan Chanyeol. Shit.. Dia tidak mau kembali ke rumah itu. Terlalu banyak kenangan pahit dan menyakitkan disana. Sejenak ia memikirkan kata-kata Chanyeol, apa dia menginap di rumah Luhan saja ya?
"Mungkin aku akan menginap di rumah Luhan atau Kyungsoo." Ucap Baekhyun acuh tak acuh. Dirinya menyadari tidak memiliki tempat tinggal lain yang bisa ditujunya dan tujuan terakhir hanya teman-teman terdekatnya.
"Apa kau mau melibatkan Luhan dan Kyungsoo dalam masalahmu? Maaf mungkin ini kasar tapi orang itu bisa menyerang mereka. Apa kau mau teman-temanmu terluka?" ucap Chanyeol berusaha rasional menghadapi situasi ini. Luhan tidak terlalu tahu tentang masalah ini dan ia hanya mengetahui Baekhyun diserang akibat dendam masa lalu yang Luhan pun tidak tahu sama sekali. Terlalu bahaya melibatkan Luhan. Lalu Kyungsoo juga tidak tahu sama sekali tentang namja penyerang itu. Hanya Chanyeol yang tahu perbuatan gila apa saja yang mungkin dilakukan oleh namja bernama Kim Taehyung itu.
"Lalu apa solusimu? Apa kau menyuruhku tinggal di jalanan?" ucap Baekhyun sarkastis. Matanya melirik Chanyeol yang masih serius berpikir. Helaan nafas terdengar dari mulut Chanyeol.
"Bagaimana jika kau menginap di rumahku? Ada satu kamar kosong tepat di sebelah kamarku. Itu sebenarnya kamar kakakku tapi kau bisa menempatinya. Kakakku sedang pergi ke Busan dan kembali sekitar 1 minggu lagi. Renovasi apartemenmu memakan waktu 3 hari saja kan?" Baekhyun mengangguk. Idenya cukup bagus. Taehyung juga akan kesulitan menyerangnya karena rumah Chanyeol juga dihuni keluarga Chanyeol lainnya. Memang ada orang segila itu membunuh orang lain untuk menuntaskan keinginan balas dendamnya? Baekhyun berharap Taehyung tidak seperti itu dan setidaknya memiliki belas kasihan.
"Di rumahmu ada siapa saja?" Chanyeol mengatakan hanya ada ibunya dan dirinya sendiri. Baekhyun kembali mengangguk-angguk mengerti. Ia harus menjaga sikap dengan baik karena menginap di rumah ekhemm... Namjachingunya. Setidaknya ibu Chanyeol tidak akan mencapnya yeoja nakal dan sebagainya.
"Sebenarnya ruanganmu itu sangat strategis denganku jadi.. Kalau kau ketakutan kau bisa ke kamarku dan kita..." BUGH... Baekhyun memukul kepala Chanyeol dengan keras. Astaga.. Ternyata Chanyeol itu sangat mesum dan Baekhyun harus menjaga jarak dari kemesuman Chanyeol.
"Ya! BAEK! Aku ini namjachingumu. Jangan kasar-kasar dong." Chanyeol mengusap kepalanya yang berdenyut-denyut. Pukulannya tidak main-main. Kalau Baekhyun sudah seperti ini Chanyeol bisa memastikan Baekhyun tidak apa-apa dan tidak mengalami trauma serius.
"Aku sudah bilangkan kalau kau itu akan kuperlakukan sa-" Chanyeol membungkam bibir Baekhyun dengan ciumannya. Lumatan-lumatan kecil dari bibir Chanyeol berubah menjadi lumatan-lumatan kasar dan menuntut. Baekhyun benar-benar kewalahan menghadapi bibir Chanyeol. Lidahnya menjelajahi gua hangat milik Baekhyun, menelusuri setiap inchi gigi Baekhyun dan mengabsennya tanpa terlewat. Menggoda dinding atas Baekhyun dengan gerakan perlahan. Ciuman Chanyeol terputus kala Baekhyun mendorong dada Chanyeol sambil terengah-engah. Baekhyun akui Chanyeol itu monster dalam ciuman.
"Kau itu hhh~ Chan.. Astaga... Kau monster." Baekhyun mengatur nafasnya yang terengah-engah. Astaga... Ciuman Chanyeol itu sangat panas dan membuatnya kekurangan oksigen sesaat. Baekhyun membayangkan saat bibir Chanyeol melumat bibir kecilnya, menggigitnya, menariknya, memainkannya dengan lihai. Itu terlalu sempurna untuk Baekhyun. Dirinya tidak tahu kalau bibir Chanyeol itu bisa membuatnya melayang seperti ini.
"Ya... I'm your monster, Baek." Chanyeol kembali memagut belahan bibir Baekhyun. Tanpa lumatan kasar dan hanya berisi kelembutan yang membuat perut Baekhyun rasanya diaduk-aduk. Bibir Chanyeol bergerak sangat lambat, membiarkan Baekhyun mendominasi ciuman ini. Ciuman lembut tanpa tuntutan. Ciuman yang dilandasi rasa cinta satu sama lain.
"Saranghae, Baek."
"Baek... BAEKHYUN...bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih sakit uggh.. Itu bekas jahitannya? Aku benar-benar tidak membayangkan rasa sakitnya. Ditusuk jarum saja aku rasanya bisa pingsan saat itu juga. OMG kau dijahit lagi... Itu sakit sekali kan? Kapan bisa dilepas jahitannya?" Rasanya telinga Baekhyun ingin lepas mendengar suara cempreng Luhan di telinganya. Bahkan Sehun hanya geleng-geleng kepala melihat kekhawatiran Luhan yang berlebihan. Baekhyun terus menyuruh Luhan berhenti berbicara tapi yeoja berwajah imut ini terus mengomelinya.
"Setelah kau diperbolehkan melepas jahitan ini, kau tinggal bersamaku. Aku tidak mau kejadian ini terulang lagi padamu. Tangan, kakimu OMG kulitmu tidak halus lagi. Kau harus mulai perawatan bersamaku. Kita bisa membeli salep untuk menyembunyikan bekas luka dan kita bisa memakai masker bersama. Aaah.. Membayangkannya saja rasanya sangat menyenangkan. Otte? Mau?" Kalau saja tangan Baekhyun tidak diinfus dan satunya lagi tidak dalam keadaan sakit, Baekhyun pasti mengambil vas bunga di sampingnya dan memukul wajah manis temannya. Terutama bibir merahnya yang terus berbicara tanpa henti. Telinga Baekhyun rasanya sangat panas dan bisa saja meledak mendengar ocehan tidak bermutu itu.
"Aku tinggal dengan Chanyeol kok." ucap Baekhyun singkat
"APA?!" Sekarang pasangan HunHan itu bersama-sama berteriak. Oh my God rasanya kupingnya pecah. Sehun dan Luhan saling bertatapan satu sama lain dan tersenyum penuh arti. Kerlingan nakal di mata Luhan membuat Baekhyun bergidik ngeri.
"Kenapa? Jangan menatapku seperti itu, Lu. Kau terlihat aneh." Luhan makin tersenyum aneh. Matanya terus melirik ke arah Baekhyun sambil tetap mempertahankan senyuman anehnya.
"Aku tidak tahu kalau hubunganmu dengan Chanyeol sejauh itu. Apa kau tidur bersamanya juga? Wow... Kau hebat, Baek. Aku dan Sehun saja belum berani melakukannya sedangkan kau... Wah daebak... Memang Chanyeol itu terbaik. Keputusanmu memang tepat tinggal dengan Chanyeol. Aku lebih berharap kalau apartemenmu tetap rusak dan kau akan tinggal selamanya bersama Chanyeol dalam satu atap. Aah. Indahnya... Kita juga akan begitu kan, Hunnie?" Sehun mengangguk sambil memamerkan senyum tampannya sedangkan Baekhyun hanya memasang wajah datar. Ia tidak tahu lagi harus menanggapi ucapan Luhan yang tidak jelas.
"Terserah kau." Lagi dan lagi Luhan hanta tersenyum penuh arti. Ia tidak bodoh untuk mengetahui kalau Baekhyun jatuh cinta pada Chanyeol dan Chanyeol juga mencintainya. Perfect... Hanya tinggal menunggu waktu mereka menyadarinya. Padahal Luhan tidak tahu kalau mereka sudah menjadi sepasang kekasih yang sebenarnya.
"Sekarang aku serius, Baek. Sebenarnya ada masalah serius apa sih kau sama Kim Tae.. Taeyang.. Taeyeon.. Taeyung... Tae.. Yah orang itu lah.." Tangan Baekhyun kembali memilin-milik baju pasien miliknya. Kebiasaan saat dia gugup dan akan berbohong. Luhan memperhatikan tangan Baekhyun. Hampir 5 tahun mereka bersama jelas Luhan sangat tahu kebiasaan buruk Baekhyun itu.
"Jangan mencoba berbohong, Baek. Sangat terlihat jelas, babbo." Baekhyun langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam selimut. Keringat-keringat kecil meluncur bebas dari wajahnya. Astaga... Apa dia akan mengungkapkannya sekarang juga?
"Kim Taehyung itu mempunyai masalah pribadi denganku. Kau ingat kematian Kim Daehyun saat kita SMP. Dia... Dia adiknya dan dia mengincarku karena tidak terima atas kematian kakaknya." Mata sipit Luhan langsung melebar dan menatap tajam ke arah Baekhyun. Bagaimana mungkin masalah sebesar ini Baekhyun tidak beritahu? Ini bersangkutan dengan nyawanya. Ck.. Luhan tidak habis pikir dengan otak Baekhyun. Entah berapa banyak rahasia yang Baekhyun tutupi darinya.
"Apa dia juga menerormu dulu? Dan bekas luka tembakan itu... Oh what the hell...orang gila itu yang menembakmu bukan karena peluru nyasar kan? Lalu... Lalu... Sayatan pisau di tangan dan kakimu itu bukan karena kau ingin bunuh diri kan? Aku tahu kau yeoja yang kuat bahkan setelah kematian ibumu dan tidak mungkin terlintas di otakmu itu untuk bunuh diri. Aku sangat percaya pada Byun Baekhyun kalau kau tidak mungkin melakukan hal itu... Please Baek... Jelaskan apa saja yang kau rahasiakan dariku." Baekhyun menundukkan kepalanya. Mungkin ini saatnya Luhan mengetahui sedikit masa kelamnya.
"Yah.. Kau benar. Luka tembakan itu dia yang lakukan dan sayatan-sayatan itu bukan karena aku ingin bunuh diri. Aku pernah disekap dan dia melempariku dengan pisau." Baekhyun tersenyum kecut saat ingatan itu menghampirinya. Suara Taehyung yang tertawa terbahak-bahak masih terngiang-ngiang di telinganya. Luhan benar-benar terkejut dengan fakta yang baru diungkapkan Baekhyun.
"Kenapa kau menyembunyikannya? Kau anggap aku apa hah? Hey.. Aku temanmu. Kenapa kau tidak mau berbagi apapun denganku? Selama hampir 5 tahun aku tidak tahu apa-apa mengenai terormu itu dan tiba-tiba kau diteror oleh seseorang yang kita kenal. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku, Baek? Aku sakit hati melihatmu terbaring seperti itu. Aku peduli padamu. Sangat... Sangat peduli. Tidak bisakah kau lihat itu? Peristiwa sebesar itu kau sembunyikan sendiri lalu aku tidak tahu apa-apa seperti orang bodoh. Bahkan Chanyeol yang dekat denganmu beberapa bulan lalu saja sudah tahu. Aku merasa dikhianati, Baek. Aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa saat kau terbaring hampir mati kehabisan darah. Aish... Sudahlah, Baek. Percuma bicara dengan orang berkepala batu sepertimu. Aku memang bukan temanmu." Luhan langsung berdiri dan keluar dari ruangan, meninggalkan Sehun yang melihat Baekhyun dengan bingung.
"Baek, dia hanya marah sesaat saja. Aku akan membujuknya. Cepatlah sembuh. Luhan sangat mengkhawatirkanmu. Bahkan dia mengabaikanku hanya demi dirimu. Sudah ya... Aku harus mengejar Luhan. Cepat sembuh!" Sehun mengikuti jejak Luhan keluar dari ruangan. Tersisa Baekhyun yang menatap pintu dengan tatapan menyesal. Bibirnya bergumam 'mianhae... mianhae' berkali-kali. Rasanya sangat menyesakkan saat teman baikmu mengatakan hal seperti itu kan?
"Baekhyun..." Baekhyun menatap pintu antusias, sayangnya antusiasmenya langsung menghilang saat melihat kepala Chanyeol menyembul di balik pintu. Ia kira Luhan yang datang kemari dan memaafkannya. Bibirnya mencebik kesal saat melihat Chanyeol menatapnya bingung.
"Gwenchana? Apa jahitanmu sakit atau ada yang lepas mungkin?" Baekhyun menggeleng. Ia memalingkan wajahnya dari wajah tampan Chanyeol. Saat ini ia membutuhkan istirahat karena kepalanya sangat pening. Ini pertama kalinya Baekhyun bertengkar hebat dengan Luhan. Biasanya Luhan akan mengalah dengan ego Baekhyun dan akhirnya mereka berbaikan. Chanyeol yang menyadari perubahan ekspresi Baekhyun menatap yeojachingunya khawatir. Saat masuk ke kamar Baekhyun, ia berpapasan dengan Sehun yang tengah mengejar Luhan. Sehun tidak memberi penjelasan apapun dan langsung mengejar Luhan. Firasatnya mengatakan kalau ada yang terjadi antara Luhan dan Baekhyun.
"Apa Luhan sunbae sudah tahu semua dan kau bertengkar dengannya?" Baekhyun mengalihkan perhatiannya kembali ke Chanyeol dan kepalanya mengangguk. Matanya menatap sedih ke arah Chanyeol. Ia tidak tahu akan semenyakitkan ini saat memberitahu kebenarannya pada Luhan. Tatapan Luhan padanya itu seperti memberi garam di atas semua luka penderitaannya. Rasa dikhianati, tidak percaya, sakit hati bercampur dalam kedua bola mata Luhan. Baekhyun dapat melihat jelas kekecewaan Luhan padanya dan mungkin hubungannya dengan Luhan tidak akan sama seperti dulu lagi. Ini semua salahnya karena menyembunyikan masalah dari awal.
"Sudahlah, Baek. Luhan pasti akan memaafkanmu. Kita beri dia waktu saja." Tangan Chanyeol merengkuh tubuh Baekhyun dan mengusap kepalanya perlahan. Tangan hangat Chanyeol benar-benar menenangkan hati Baekhyun.
"Sekarang kau istirahat okay? Ini sudah malam. Kau harus banyak istirahat." Baekhyun mengangguk. Tangan Chanyeol mengambil bantal di belakang tubuh Baekhyun yang tadi digunakan untuk membantu Baekhyun duduk bersandar lalu menaruhnya di atas tempat tidurnya. Dengan hati-hati Chanyeol menempatkan tubuh Baekhyun dengan benar.
"Mau dengar aku bernyanyi? Suaraku bagus loh.." Chanyeol mengambil gitar yang dibawanya tadi. Tangannya bersiap di atas gitar, menunggu respon Baekhyun.
"Yah... Baiklah. Aku ingin mendengar suaramu juga. Apa benar bagus atau jelek hehe.." Chanyeol merengut kesal dengan ejekan Baekhyun. Dia akan buktikan suaranya akan membuat Baekhyun meleleh saat ini juga.
"Ya.. Ya... Sekarang kau bisa meremehkanku. Lihat saat aku bernyanyi sekarang. Kupastikan kau akan meleleh mendengar suaraku." kata Chanyeol bangga.
EXO - My Answer
nan ganghaeboyeodo usgo isseodo honjail ttaega manha
neul geokjeonghana eopseo boyeodo hal mari manha
cheom bon sungan neomuna kkeullyeoseo igeosjeogeot jaeji moshago malhaesseo
Baekhyun terbuai dengan suara seraknya. Sekali lagi Baekhyun jatuh dalam pesona Park Chanyeol.
The answer is you
My answer is you
nae modeungeol da boyeojwo bwasseo
You are my everything neomu hwaksinhaeseo
Oh Tuhan... Jauhkan Baekhyun dari Chanyeol. Astagaa... Suaranya membuat Baekhyun gila. Suara itu sangat seksi dan hatinya hangat saat mendengar suara huskynya memasuki pendengarannya.
"Bagaimana? Suaraku itu bagus.. Kau saja sampai tidak berkedip seperti itu. Lagunya bahkan belum selesai tapi kau sepertinya terpesona dengan suaraku ya." ucap Chanyeol narsis. Baekhyun yang tersadar dari suara Chanyeol langsung menjitak kepala Chanyeol. Heol... Ingatkan Baekhyun kalau Chanyeol itu namja yang narsis dan sok tahu.
"Heiy... Suaramu tidak bagus... Lebih bagus suaranya Chen tahu... Kau tidak bisa mencapai nada tinggi kan?" Sindir Baekhyun. Chanyeol kesal bukan main. Memang sih benar suara Chen bagus dan merdu tapi suaranya tidak kalah bagus kok. Suaranya seksi dengan nada rendah yang menggetarkan. Chanyeol yakin yeoja lain yang mendengar suara Chanyeol akan terhipnotis. Sayangnya Baekhyun tidak mau mengakui kalau dia juga terhipnotis dan terpesona dengan suara Chanyeol.
"Ya! Ya! Memang suaraku tidak sebagus Chen tapi hanya suaraku yang bisa membuatmu terpesona kan? Ck... Akui saja kau suka dengan suaraku." Chanyeol semakin mendekati wajah Baekhyun. Senyumnya semakin tertarik ke atas. Baekhyun langsung menelan ludahnya. Ia tahu akhirnya ia akan pasrah saat bibir Chanyeol menekan bibirnya. Lebih baik ia mengakuinya daripada Chanyeol mencium bibirnya lagi. Bukannya tidak suka tapi Chanyeol terlalu sering mencium bibirnya dan bibirnya bengkak. Hampir setiap saat Chanyeol menjenguknya, Chanyeol selalu mencuri satu ciuman darinya. Bukan hanya kecupan tapi ciuman liar yang membuat bibir Baekhyun memerah dan bengkak. Suster yang merawatnya selalu saja melihatnya dengan senyum-senyum aneh di wajahnya saat melihat bibirnya dan keberadaan Chanyeol di sekitarnya. Sungguh itu memuakkan.
"Baiklah, Park Chanyeol. Aku menyerah. Memang aku menyukai suaramu. Damn... Suaramu sangat seksi tau. Jangan berani-berani bernyanyi di depan yeoja lain ya." Chanyeol menjauhkan wajahnya dan tersenyum menggoda, membuat Baekhyun sedikit bernafas lega. Setidaknya bibir Baekhyun tidak dibuat lebih bengkak lagi oleh si telinga lebar ini.
"Ugh~ yeoja mungilku ini cemburu ya. Waah.. Tidak kusangka kau itu yeoja posesif. Aku suka sifatmu itu kok." Dengusan kasar terdengar dari bibir Baekhyun dan disusul suara tawa berta Chanyeol. Tangannya mengacak-acak poni Baekhyun dan mencuri satu ciuman di bibirnya. Hanya kecupan singkat yang membuat Baekhyun merona.
"Cepatlah sembuh. Aku suka kau yang cerewet dan pemarah ini. Setelah kau sembuh kita kencan okay?" Baekhyun menganggukkan kepalanya. Jari kelingkingnya terangkat ke atas.
"Janji?" Chanyeol mengaitkan jari kelingkingnya yang terlihat begitu besar dibandingkan jari kelingking Baekhyun. Senyum lebar terulas di bibirnya dan sebuah janji manis terbentuk.
"Aku selalu menepati janjiku, chagi."
"OPPA! TAEHYUNG OPPA! AISH... BANGUN!" Taehyung mengucek-ucek matanya sambil mengucapkan sumpah serapah. Suara cempreng siapa lagi itu? Ini masih pagi dan seorang yeoja dengan suara cempreng membangunkannya.
"Jennie? Sejak kapan kau tiba di Korea? Shit... Kenapa tidak menghubungi oppa? Oppa kan bisa menjemputmu." Yeoja yang dipanggil Jennie itu hanya memanyunkan bibirnya kesal. Astaga...demi celana dalam oppanya yang sangat bau, dia sudah menghubungi oppanya hampir 50 kali dan ponsel oppanya tidak aktif sama sekali. Apa dia harus menunggu di bandara seperti orang bodoh?
"Cek ponselmu. Aku sudah menghubungimu hampir 50 kali bodoh. Tidak bisakah kau charge ponselmu? Apa sulitnya menancapkan charger dengan ponselmu? Aigoo... Aku 3 jam menunggu seperti orang bodoh di bandara." omel Jennie. Ia melempar tasnya dan membaringkan tubuhnya di samping Taehyung.
Taehyung dan Jennie adalah saudara tiri. Ayah Taehyung menikah dengan ibu Jennie setelah ibu Taehyung meninggal. Mereka bertiga ( saat masih ada Daehyun) sangat akur. Jennie gampang beradaptasi dengan kedua oppanya. Bahkan mereka terlihat seperti saudara kandung. Setelah Taehyung membuat masalah dengan Baekhyun saat SMP, Jennie langsung ambil tindakan membantu oppanya dengan membawa oppanya ke Amerika selama beberapa tahun. Mereka berdua hidup bersama hingga beberapa orang menganggap mereka sepasang kekasih. Setelah Taehyung kembali ke korea, Jennie menetap di Amerika.
"Apa kau masih mengejar Baekhyun itu?" Taehyung mengangguk sambil memainkan laptopnya. Memantau CCTV ruangan Baekhyun yang menampilkan Baekhyun tengah tertidur pulas. Tangannya menyesap kopi hangat yang dibuat Jennie perlahan.
"Oppa... Sebenarnya aku ada permintaan khusus. Kau tahu namja yang dulu aku sempat sukai saat aku masih di Korea? Itu loh namja berkacamata yang memberiku pinjaman jaket. Kudengar dia berpacaran dengan Baekhyun itu. Namanya Park Chanyeol." Taehyung langsung menoleh mendengar nama yang disebut Jennie. Salah satu alisnya terangkat.
"Aku tahu Park Chanyeol. Memangnya kenapa?" Senyum seringai timbul di bibir Taehyung.
"Aku sangat... sangat menyukainya. Tidak bisakah kau berikan dia untukku? Aku tidak peduli dengan Baekhyun yang sedang kau incar sekarang. Aku hanya ingin Chanyeol menjadi milikku." Taehyung semakin memiringkan senyumnya. Wow... Tidak disangka adiknya menyukai Park Chanyeol. Ini akan lebih mudah jika Jennie bisa merebut Chanyeol dan Baekhyun tidak memiliki pelindungnya lagi.
"Geurae. Apa rencanamu sekarang?" Jennie mengambil beberapa surat dari kopernya dan memberikannya pada Taehyung. Sederetan huruf tertata rapi di atas kertas. Mata Taehyung membulat.
"Kau mau pindah ke sini? Ke sekolah Park Chanyeol?" Jennie mengangguk antusias.
"Aku membutuhkan tanda tanganmu. Kau tahu appa sangat sibuk dan eomma juga sibuk. Tanda tangan waliku di Korea akan sangat membantuku, oppa. Ayolah tanda tangan." Taehyung menaikkan senyumnya. Tidak disangka adiknya cerdas sekali. Kalau Taehyung yang masuk ke sekolah Baekhyun dan Chanyeol, mereka mungkin mengetahui identitasnya dengan cepat sedangkan kalau Jennie tidak ada yang tahu sama sekali karena sebagian besar ia menyelesaikan sekolahnya di Amerika. Hanya saat kelas VIII ia bersekolah di Korea dan saat itu dirinya bertemu Park Chanyeol, cinta pertamanya.
"Okay. Sekolahlah yang baik dan kau tinggal disini kan? Ada satu kamar kosong di sebelah. Jadikan itu kamarmu saja." Jennie langsung melompat dan memeluk Taehyung. Satu kecupan diberikannya di pipi Taehyung. Tangan Taehyung memeluk pinggang Jennie dan memberinya satu kecupan di bibir. Biasanya mereka melakukan ciuman dan sebagainya saat di Amerika sehingga banyak yang salah sangka kalau mereka sepasang kekasih.
"Sana mandi. Aku akan tanda tangan dan mengurus berkasmu. Aku akan membuatmu mendapatkan Chanyeolmu." Taehyung melepas pelukannya dan membiarkan Jennie keluar kamar.
"Jennie akan membuat hubungan kalian lebih berwarna." ucap Taehyung sambil menatap ke arah laptopnya yang menampilkan Chanyeol baru masuk ke kamar Baekhyun.
"Baekhyun... Dokter bilang besok kau bisa pulang. Jahitanmu sudah kering dan bisa dilepas. Mungkin akan meninggalkan bekas luka nanti. Gwenchana?" Baekhyun mengangguk. Ia memang sudah bosan di rumah sakit. Astaga... Melihat ruangan yang dominan putih dan berbau obat-obatan membuatnya mual. Untungnya Chanyeol selalu menyemangatinya.
"Apa tidak boleh hari ini. Aku benar-benar bosan." Chanyeol menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kita ke taman belakang? Tanganmu sudah tidak apa-apa kan?" Baekhyun melirik tangan kirinya yang diperban dan mengangguk. Chanyeol mengambil kursi roda dan menggendong Baekhyun ke atas kursi roda. Setelahnya Chanyeol mendorong kursi roda itu keluar kamar.
"Chan... Apa Luhan tidak kesini?" Chanyeol menggeleng. Matanya melirik Baekhyun yang berubah sedih. Setelah pertengkarannya kemarin Luhan tidak kesini hari ini. Bahkan Sehun pun juga tidak kesini. Hanya Kyungsoo dan Kai yang sempat berkunjung kesini tadi.
"Berikan dia waktu, Baek. Dia pasti akan memaafkanmu. Gwenchana." Tangan besar Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dengan kasih sayang. Setelah beberapa menit, mereka tiba di taman belakang rumah sakit.
Taman belakang rumah sakit terlihat sepi karena ini jam makan siang. Chanyeol mengambil duduk di salah satu kursi. Jari-jarinya menggenggam jari-jari mungil Baekhyun. Matanya menatap lembut ke Baekhyun.
"Baek berjanjilah padaku kalau kau akan tetap bersamaku apapun yang terjadi. Walaupun Taehyung mengancammu untuk pergi dari sisiku. Tetaplah bersamaku." Baekhyun mengangguk.
"Kau juga harus berjanji. Kalau ada yeoja lain yang menyukaimu kau tidak boleh melihatnya. Matamu akan kucopot walaupun kau hanya kau milikku. Semua yang ada padamu itu milikku. Milik Byun Baekhyun." Chanyeol tersenyum mendengar keposesifan yeojachingunya. Aigoo... Lucu sekali saat melihat Baekhyun mengatakannya dengan imut.
"Yes, Baek. I'm yours."
TBC
