Ties That Bind Us

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

.

.

Sasuke urung melanjutkan tujuan awalnya untuk bermalas-malasan sejenak di kamar saat ia mendapati Matsuri tengah duduk di salah satu kursi di ruangan sederhana yang memang khusus disediakan untuk berkumpulnya para pelayan, entah itu untuk agenda khusus atau hanya sekedar berkumpul mengisi waktu senggang.

"Kau sudah kembali?" tanya Sasuke, membuat perhatian Matsuri yang awalnya tengah membaca ulang surat-surat lama yang dikirimkan keluarganya terbagi. "Yang lainnya masih bermain di festival, 'kan?"

Matsuri berkedip dua kali sebelum mengangguk. "Ya. Aku cuma ingin pulang lebih awal."

"Kenapa? Bukannya menyenangkan? Suasana baru setelah sekian lama sibuk di dalam rumah," tanya Sasuke lagi, kini ia meraih kursi terdekat dan menempatkan dirinya untuk duduk.

Matsuri mengedikan bahu pelan. "Eumm rasanya... aku memang tidak terlalu terbiasa dengan keramaian seperti itu," jawabnya dengan kekehan kikuk.

"Jadi kau memutuskan untuk pulang dan menghabiskan waktumu untuk membaca ulang semua surat itu."

Matsuri tertawa kecil. "Sepertinya begitu. Kalau kau? Kenapa tidak menghabiskan waktumu di festival?"

"Malas. Lagipula aku harus bersiap di sini kalau-kalau Nona Hinata memintaku mengantar temannya pulang," ujar Sasuke, dalam hari masih merasa janggal ketika harus menyebut Hinata seperti itu.

"Oh..." Matsuri mengangguk kecil, sorot matanya seolah ia sembunyikan dari jangkauan Sasuke.

Menyadarinya, Sasuke menghela napas, agak lelah juga dengan kecanggungan tak berkesudahan ini. Jadi ia berpikir untuk meluruskan segalanya.

"Uh, hey... aku benar-benar minta maaf soal kejadian tempo hari. Aku tidak akan masuk begitu saja jika aku tahu kau tengah... yah..." Sasuke menggantungkan kalimatnya, namun ia tahu Matsuri paham atas apa yang ia sampaikan. "Tapi memang aku akui aku salah karena tidak mengetuk terlebih dahulu. Jadi sungguh, aku benar-benar meminta maaf."

"Ah, itu. itu... bukan hal besar, kok," balas Matsuri.

Sasuke tahu Matsuri tak mengatakan yang sebenarnya, ia tahu gadis itu mungkin masih merasa canggung dan mengatakan hal itu hanya untuk membuat Sasuke terbebas dari rasa bersalah.

"Bisa tidak kita lupakan saja soal itu kemudian kembali bersikap normal? Aku kangen mengobrol denganmu, kau tahu?" aku Sasuke secara gamblang.

"Tentu saja," respons Matsuri lagi yang kali ini terdengar nyaris seperti gumaman.

Sasuke menahan diri untuk kembali menghela napas. Gadis itu jelas masih terlihat kurang nyaman. Dan Sasuke sendiri tahu semuanya tak mungkin menjadi normal begitu saja sedetik setelah ia meminta maaf. Mereka harus kembali membiasakan diri terhadap satu sama lain. Atau lebih tepatnya Matsuri yang harus kembali membiasakan diri karena Sasuke jelas tak lagi ambil pusing, ia terlihat akan melakukan apapun untuk kembali mendapatkan teman ngobrolnya.

Di tengah kediaman mereka, entah dari mana datangnya, sebuah ide menyolek benak Sasuke.

"Tunggu sebentar. Aku akan kembali," ujar Sasuke sebelum menghilang dari ruangan itu.

Matsuri memandang Kepergian Sasuke dengan tatapan penuh tanya. Hingga sampai sekitar sepuluh menit, pemuda itu kembali masuk ke dalam area pandangannya.

"Apa itu?" tanya Matsuri seketika melihat Sasuke tak kembali dengan tangan kosong.

"Catur," jawabnya dengan senyum lebar. Diletakkannya papan catur yang ia bawa ke atas meja. Ia kemudian meminta Matsuri duduk di depannya, di sisi lain meja itu. "Ini menyenangkan, akan aku ajari cara mainnya."

Kerutan kejut tergambar di wajah Matsuri. "Kau bisa memainkannya?"

Sasuke memaklumi keterkejutan itu, bagaimanapun jarang sekali orang-orang seperti mereka yang bisa memainkan permainan elit seperti itu. Ditambah Matsuri yang memang tak tahu menahu soal masa lalunya di rumah itu.

"Hn. Aku pernah memainkannya saat masih kecil," jawab Sasuke tanpa detail.

"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Matsuri lagi smbil menunjuk papan beserta anak catur di atas meja setelah duduk berhadapan dengan Sasuke.

"Dari ruang perpustakaan," entengnya.

"Kalau orang lain tahu kita menggunakannya bagaimana? Kita bisa mendapat masalah," ujar Matsuri was-was, suaranya mengecil, matanya berkeliling memastikan tak ada orang lain melihat.

"Tidak akan ada yang tahu. Tuan Hizashi tidak pernah memainkannya dan Nona Hinata memiliki meja caturnya sendiri di kamar." Sasuke beralasan, sama sekali tak terlihat cemas. "Ini sudah tidak digunakan bertahun-tahun. Lihat, sangat berdebu, 'kan? Jadi ayo kita mainkan," ajaknya lagi.

Matsuri mengangguk meski masih dengan sedikit keraguan di dalam hatinya. Sasuke tersenyum kemudian mulai menata anak-anak catur tersebut sesuai tempatnya.

Ah, jika diingat-ingat, terakhir kali Sasuke menyusun anak catur seperti ini adalah setelah ia kalah dari Hinata tiga tahun lalu. Mau tak mau kenangan itu sedikit banyak muncul di benaknya, namun Sasuke berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya dan mengalihkan perhatiannya dengan mengajari Matsuri.

Matsuri cepat dalam menangkap apa yang Sasuke ajarkan. Ia bahkan mengakui kalau gadis itu lebih baik daripada dirinya saat Hinata pertama mengajarinya. Namun tetap saja, Matsuri masihlah pemula, sepanjang permainan pertama, Sasuke banyak menuntunnya, menunjukkan langkah terbaik dan langkah sampingan lainnya, menjelaskan akibat dari setiap langkah yang diambil. Satu hal yang tak pernah Hinata lakukan saat mengajarinya dulu.

Dulu, Hinata hanya menjelaskan padanya tentang pola gerak setiap buah catur dan bagaimana cara memenangkan permainan itu, tidak lebih. Bisa dibilang, Hinata terus-menerus mengalahkannya secara brutal di setiap permainan mereka dan membuatnya belajar lewat pengalaman itu sendiri.

Permainan mereka yang sesungguhnya baru dimulai setelah Matsuri sudah terbiasa dengan cara mainnya. Hasilnya? Sasuke menang, tentu saja. Bukan hal yang mengejutkan memang mengingat Matsuri yang merupakan pemula, namun Sasuke tetap merasa senang. Pasalnya, sejak pertama kali bermain catur, baru kali ini ia menang.

"Kapan kau akan mengantar temannya Nona Hinata pulang?" tanya Matsuri saat sesi lain dari permainan mereka berakhir.

Sasuke menengok ke arah jam dinding. "Kalau tepat sekitar satu jam lagi."

"Artinya kita masih bisa main satu kali lagi, 'kan?" tanya Matsuri.

Sasuke tersenyum. "Tentu."

..

...

..

Sasuke tak mengembalikan papan catur itu ke perpustakaan. Ia masih meyakini perkataannya kepada Matsuri, bahwa papan itu sudah lama tidak digunakan dan tidak akan ada yang kehilangan benda itu. Sasuke menyimpannya sendiri di kamarnya untuk ia gunakan di beberapa waktu saat ia dan Matsuri memiliki waktu senggang untuk memainkannya.

Matsuri semakin cekatan dalam setiap langkahnya, ia bahkan sudah dapat mengalahkan Sasuke di beberapa kesempatan meskipun kemenangan masih lebih banyak direbut oleh Sasuke. Tanpa sadar, benaknya membandingkan sesuatu.

Tidak seperti dulu, kali ini Sasuke tak keberatan dikalahkan oleh Matsuri. Gadis itu tidak menyombong, ia hanya tersenyum atau tertawa kecil atas kemenangan yang tak disangkanya. Sesuatu yang tak Hinata lakukan setiap menang dulu.

Sebenarnya, Hinata juga tak terlalu menampakkan kesombongannya, Sasuke mengakui itu. Namun Sasuke selalu terganggu setiap kali gadis itu mengatakan betapa membosankannya bermain bersama Sasuke atau bagaimana taktik Sasuke selalu dapat ditebaknya. Ia juga kesal setiap kali Hinata meremehkan kemampuan bermainnya bahkan sampai mengkritik pedas kepandaiannya.

Intinya, jelas Matsuri jauh jauh lebih rendah hati daripada Hinata.

"Wah, tidak disangka kau sudah semahir ini," ujar Sasuke di suat hari saat Matsuri mengalahkannya dua kali berturut-turut.

"Ya, sepertinya aku punya guru yang hebat," balasnya sambil menyembunyikan rona merah yang muncul di wajahnya setelah mendengar pujian tersirat Sasuke.

..

...

..

Mobil yang biasa digunakan Sasuke agak bermasalah sore itu. Durasi ritual hariannya di dalam garasi lebih lama dari biasanya karena ia harus memeriksa apa yang salah sebelum memutuskan apakah ia bisa mengatasinya atau mobil itu harus ditangani oleh montir ahli.

Sasuke selalu merasa akan lebih baik jika ia bisa memperbaikinya sendiri, meskipun agak merepotkan, namun dengan begitu ia tak perlu melaporkan apapun kepada Hizashi. Sejujurnya ia tak begitu menyukai gagasan untuk berinteraksi dengan Hizashi, dan kelihatannya pria paruh baya itu pun merasa demikian. Sasuke juga yakin, jika bukan karena rasa hormat Hizashi kepada mendiang Hiashi, mungkin Sasuke tak akan tinggal di rumah ini lagi.

Sasuke masih di tengah-tengah kegiatannya mengecek mesin mobil saat ia mendengar seseorang memasuki garasi. Agak terkejut ia melihat Matsuri di sana, terlebih dengan wajah cemas.

"Ada apa?" tanya Sasuke langsung.

Matsuri menengok ke kanan dan kirinya penuh waspada, ia kemudian kembali mengambil langkah untuk lebih mendekati Sasuke. "Nenek Chiyo mengumpulkan pelayan, perintah Tuan Hizashi," bisiknya agak bergetar.

Nenek Chiyo adalah kepala pelayan yang bekerja bahkan sejak Sasuke belum tinggal di rumah ini. Pekerjaannya tak terlihat mencolok, hanya memastikan semua pelayan melakukan tugasnya dengan benar. Dan saat nenek Chiyo mengumpulkan pelayan seperti ini, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, untuk memberitahukan tugas-tugas khusus setiap kali Hizashi akan mengadakan pesta atau sejenisnya di rumah. Dan yang kedua, ketika sesuatu yang tidak beres terjadi.

"Apa katanya?" tanya Sasuke, masih tak memiliki prasangka apapun.

"Nenek Chiyo berkata bahwa Tuan Hizashi mengatakan kepadanya kalau papan catur di perpustakaan menghilang dan Tuan Hizashi mencurigai ada pelayan yang mencurinya." Matsuri terlihat begitu panik saat menjelaskannya. "A-apa yang harus kita lakukan, Kei?"

Sasuke berkedip sekali, agak tertegun. Ia benar-benar tak mengantisipasi hal ini. Ia terlalu yakin kalau papan catur itu sudah tak lagi digunakan.

"Tenang saja," ujar Sasuke mencoba meredakan kepanikan gadis di depannya meskipun kelihatannya sia-sia. "Aku akan mengembalikannya ke perpustakaan nanti malam."

"Bagaimana jika kau ketahuan, Kei?"

"Tidak akan. Aku akan mengembalikannya saat semua sudah tidur." Sasuke menepuk ringan bahu Matsuri dua kali. "Tenanglah. Ini bukan masalah besar. Lagipula papan catur seperti itu bukan hal mewah untuk orang-orang sekelas Tuan Hizashi."

Matsuri menggigit bibir, hatinya masih terasa berat dan penuh teror.

Sasuke menghela napas. "Sungguh, semuanya akan baik-baik saja. Kau cukup berperilaku seperti biasa. Aku bisa mengatasinya."

Butuh beberapa saat untuk membuat Matsuri cukup tenang untuk kembali ke dapur. Dan setelah gadis itu pergi, Sasuke kembali mengobrak-abrik mesin mobil yang sepertinya memang butuh tangan ahli. Mau tak mau Sasuke harus melaporkannya kepada Hizashi. Namun ia memutuskan untuk mengatakannya besok mengingat situasi yang terjadi ditambah hari yang semakin petang.

Sasuke keluar dari garasi dan memastikan tempat itu terkunci sebelum ia pergi. Selama itu, ia terus memikirkan permasalahan papan catur ini. Yang ia tahi, Hizashi tak menyukai catur, bahkan mungkin pria itu tak tahu-menahu bahwa mereka menyimpan satu set permainan itu di perpustakaan. Kalau begitu, bagaimana mungkin ia tahu papan catur itu menghilang?

..

...

..

Malam itu, setelah memastikan seluruh penghuni tertidur, dengan menenteng papan catur Sasuke kembali menyelinap ke perpustakaan. Bukan hal yang sulit karena saat itu memang sudah lewat jam tidur, ditambah para penjaga lebih sering bersiaga di luar rumah setiap saat.

Sasuke dihadapkan dengan suasana perpustakaan yang gelap setelah ia menutup pintu ruangan itu. Dinyalakannya lilin yang sebelumnya sengaja ia bawa sebelum ia mulai bergerak menuju tempat di mana ia mengambil papan catur itu sebelumnya.

Sasuke menghela napas, tetap menjaga kewaspadaannya. Yang perlu dilakukannya hanyalah meletakkan kembali papan catur itu kemudian kembali ke kamarnya.

Namun sepertinya keadaan malam itu tak berjalan semulus yang ia perkirakan. Bayangan Hinata yang duduk beberapa langkah darinya membuatnya berjengit hingga lilin yang ia pegang hampir terjatuh. Terlalu mengusahakan agar lilinnya tak sampai menyentuh lantai membuat apitan lengan Sasuke pada papan catur yang ia bawa mengendur hingga terjatuh. Untuk sekejap, perpustakaan yang semula hening menjadi berisik.

Hinata membungkuk, perlahan mengambil satu buah catur yang menggelinding dan berhenti di dekatnya. Diapitnya buah catur itu di sela jarinya kemudian ia angkat sedikit tanganna, sedikit memerhatikan apa yang barusan ia ambil. Sebuah bidak ratu hitam.

"Aku tahu pasti kau yang mengambilnya," bukanya dengan nada datar. "Selain aku, hanya kau yang tahu letak penyimpanannya."

Sasuke merasa mulutnya mendadak kering, membuatnya sulit untuk menggerakkan lidah, apalagi berkata-kata.

"Aku tahu bahkan jika aku tidak melihatmu mengambilnya," lanjutnya sambil memainkan bidak ratu di tangannya. "Dan benar saja."

"Kau... melihatnya?" Sasuke akhirnya bersuara.

"Ya. Kebetulan sekali waktu itu buku yang ingin Naruto pinjam disimpan di sini," jawab Hinata, masih dengan nada bicara yang sama, tak terbaca. "Jadi... apa kau sudah cukup bersenang-senang dengan si koki?"

"Bagaimana kau tahu..." gumam Sasuke, jelas tertegun.

"Ini rumahku," jawab Hinata penuh penekanan. "Aku tahu segala hal yang terjadi di bawah atapku sendiri." Hinata masih memainkan bidak ratu yang dipegangnya. "Kau pasti senang sudah menemukan orang yang selevel denganmu untuk memainkannya. Aku sih tidak masalah, kalau saja kau tidak mencuri barangku."

"Itu bukan milikmu. Belum menjadi milikmu sepenuhnya!" Dari semua alasan dan sanggahan yang dapat Sasuke katakan, ia malah melemparkan gertakan untuk membalas Hinata. "Lagipula sudah tidak ada yang menggunakannya!"

"Masih kugunakan atau tidak, tetap tidak mengubah kenyataan kalau kau mengambilnya tanpa seizinku," timpal Hinata, tak sampai terbawa oleh emosi yang tanpa sadar Sasuke luapkan.

"Sekarang aku sedang mengembalikannya," cebik Sasuke.

"Oh, benarkah? Kalau paman tidak sampai mencarinya, apa kau yakin kau akan mengembalikannya?" Nada merendahkan begitu terdengar dari tiap kalimat yang diucapkannya.

"Jika kau tidak terima, aku bisa membayarnya."

Hinata terkekeh singkat. "Kau? Membayarnya? Memangnya kau punya uang dari mana?"

"Belakangan ini aku mengumpulkan uang." Sasuke menahan diri untuk tidak menggeram kesal. " Temanmu itu memberikan tip yang cukup banyak," tambah Sasuke dengan menekan kata 'temanmu'.

Untuk sesaat, Hinata tak mengatakan apapun. Air mukanya juga masih tak terbaca. Matanya melirik malas beberapa buah catur yang berserakan di lantai. "Kumpulkan kembali semuanya," titahnya kepada Sasuke.

Sasuke tak menjawab ataupun bergerak.

"Kumpulkan kembali bidak caturnya!" ulangnya rendah dengan penekanan di setiap katanya. "Atau kau ingin aku melaporkanmu kepada paman?" ancamnya.

Rahang Sasuke mengerat, manik gelapnya menatap tajam. Namun pada akhirnya ia tak menolak, ia berlutut untuk mengumpulkan buah-buah catur yang terjatuh. Ia beberapa kali melirik Hinata yang masih memainkan ratu hitamnya dengan ekspresi bosan. Sasuke mengeratkan genggamannya ke salah satu bidak kuda yang baru ia ambil. Saat itu rasanya ia begitu ingin melemparkan bidak itu ke arah gadis yang duduk tak jauh dari tempatnya itu.

Saat akhirnya Sasuke selesai mengumpulkan semuanya—kecuali ratu hitam yang ada di tangan Hinata—ia berdiri.

"Yang terakhir." Hinata melempar ratu hitam yang ia genggam. Sekilas dilihat, gadis itu melemparkannya langsung ke arah Sasuke, namun Sasuke lebih dari tahu kalau Hinata sengaja melemparnya dengan arah yang membuat Sasuke sulit menangkapnya. "Ambillah."

Sasuke menggertakkan giginya, baginya Hinata sudah keterlaluan. "Tidak."

"Kau tidak menurutiku? Aku bisa saja membuatmu dipecat."

Saat itu, Sasuke benar-benar tidak peduli. "Kalau begitu lakukan saja," balasnya menantang.

"Ahh... tentu saja kau tidak akan keberatan." Hinata terlihat seperti berpikir-pikir. " Tapi bagaimana kalau koki itu yang kupecat?"

Sasuke terdiam.

"Kelihatannya kalian sangat akrab. Sayang sekali kalau kalian berpisah," sindir Hinata. "Pasti sulit untuk menemukan pekerjaan baru jika aku mengatakan pada paman untuk tidak memberinya referensi. Memikirkannya saja sudah terlihat menyedihkan."

"Kau sudah kelewatan, Hinata," ujar Sasuke lirih, daripada amarah, ia lebih merasakan kekecewaan saat mengatakannya.

"Jangan sebut namaku seperti itu!" sergah Hinata, keluar dari zona tanpa ekspresinya.

Sasuke diam sebentar sebelum berbalik untuk mencari buah catur yang Hinata lempar. Ia benci dirinya sendiri karena sudah membiarkan Hinata bertingkah semena-mena terhadapnya. Sasuke bisa saja melawan, tapi ia tak bisa membuat Matsuri terlibat. Gadis itu tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan permasalahannya dengan Hinata.

"Tunggu," ucapan Hinata menghentikan Sasuke. "Tinggalkan lilinnya di sini."

Jika diilustrasikan, mungkin seluruh tubuh Sasuke kini sudah dikelilingi kobaran api, namun ia berusaha menahannya sebaik mungkin. Ia kemudian meletakkan lilin yang ia bawa di atas meja di dekat tempat Hinata duduk. Saat itu ia baru menyadari kalau Hinata masuk tanpa membawa lilin.

Sasuke berbalik, bergerak lebih jauh ke dalam bayangan. Mau tak mau ia harus berlutut mencari sisa bidak yang sengaja Hinata jatuhkan, bedanya kali ini ia dikelilingi kegelapan karena cahaya lilin yang kini menemani Hinata tak sampai menjamahnya.

Satu waktu tanpa sengaja Sasuke membenturkan kepalanya dengan salah satu rak di sana, menimbulkan suara yang lebih dari cukup untuk mengganggu keheningan perpustakaan kala itu. Sasuke yakin Hinata mendengar debum itu, ia bahkan sudah mengira gadis itu akan menertawakannya. Tapi tidak, ia tak merasakan respons apapun dari Hinata.

Entah bagaimana, hal ini mengingatkannya pada mimpi yang sering menghampirinya saat ia menjangkit sakit parah beberapa tahun lalu. Mimpi di mana dirinya kembali ke rombongan karnaval, terjebak di bawah panggung, tanpa bantuan terus mencari jalan keluar yang tak bisa ia temukan. Di dalam mimpi itu Sasuke selalu sendirian, merangkak dalam kegelapan.

Sasuke tak tahu lagi sudah berapa lama terlewatkan dan ia belum juga bisa menemukan apa yang ia cari. Hinata sangat tidak rasional pikirnya. Mana mungkin ia bisa menemukan potongan bidak kecil itu di ruangan dengan banyak rak di dalamnya, terlebih tanpa adanya pencahayaan. Ia menghela napas kemudian berdiri dan memutuskan untuk kembali ke hadapan Hinata.

Dilihatnya Hinata menghentikan tangannya yang memainkan sebuah replika timbangan di atas meja saat merasakan kehadiran Sasuke.

"Kau sudah menemukannya?" tanya Hinata acuh tak acuh.

Sasuke diam.

"Di mana?" tanyanya lagi.

"Aku tidak tahu," gumam Sasuke.

"Kau tidak tahu?" Hinata mengulang apa yang Sasuke katakan, ia sedikit mendongakkan wajahnya untuk dapat menangkap tatapan Sasuke. "Hanya begitu? Aku kira pertemananmu dengan koki itu lebih berharga dari ini."

"Aku pikir pertemanan kita lebih berharga dari ini!" Sasuke membentak cepat, tangannya bergerak menunjuk dirinya dan Hinata bergantian. Kalau ia ingat lagi, mungkin ini kali pertama ia membentak Hinata. Dan mungkin karena itulah untuk beberapa saat, Sasuke dapat melihat keterkejutan di wajah Hinata.

"Kau ini bicara apa?" sanggah Hinata setelah kembali memasang ekspresi datarnya. "Memangnya sejak kapan kita berteman," cibirnya rendah.

Sasuke menggertakkan giginya. "Apa kiranya yang akan ayahmu katakan jika beliau mendengar perkataanmu itu?" balas Sasuke miris, suaranya rendah, ia bahkan tak yakin apakah pertanyaan itu ia tujukan kepada Hinata ataukah dirinya sendiri.

"Jangan berani-beraninya kau bicara tentang ayahku!" Hinata berdiri, ekspresinya jelas tak sestabil sebelumnya. "Kau tidak berhak! Kaulah yang menyebabkan kematiannya!"

"Demi Tuhan, Hinata! Hampir seisi rumah bahkan seluruh kota ini terjangkit! Aku yakin kau tahu paman Hiashi bisa tertular di manapun oleh siapapun! Jadi berhentilah menggunakan alasan itu untuk membenciku!" Sasuke berhenti untuk mengambil napas, berusaha untuk tak lebih termakan oleh emosinya. "Jika kau tetap ingin membenciku, silakan. Tapi setidaknya berikan aku alasan yang jelas," sambung Sasuke dengan nada yang lebih rendah juga suara yang lebih lirih.

"Aku benci kau."

Gumaman pendek dari Hinata itu dirasa sangat lebih dari cukup untuk memukul dada Sasuke, membuatnya sesak seketika.

"Aku membencimu, Kei," ulang Hinata.

Sasuke terdiam, ia tak bisa mengatakan apapun meskipun ia begitu ingin membuat Hinata berhenti mengucapkan ungkapan itu terhadapnya.

"Ayah hanya menjengukmu saat kita berdua sama-sama bisa mati karena penyakit itu. Kau... kau yang hanya seorang anak miskin yang bahkan dibuang oleh kelompok karnavalmu itu," ungkap Hinata lirih, ia tak menunduk namun sorot matanya begitu menerawang di tengah redupnya cahaya lilin. "Padahal yang kau lakukan hanyalah menyusahkan ayahku. Kau selalu terlibat masalah, selalu bertingkah bodoh, merusak ini dan itu, membuat dirimu sendiri terluka. Kemudian kau mulai suka keluar, pergi ke kota tanpa tujuan yang jelas, menghabiskan uang yang ayahku berikan. Dan saat ayah memberimu kesempatan untuk membuktikan bahwa kau bisa menjadi seseorang yang lebih, kau malah terlibat hubungan dengan tutor privatmu. Apa kau tahu bagaimana jadinya reputasi ayahku nantinya jika orang luar mengetahui tentang hal itu?" papar Hinata.

"Terlibat... hubungan?" Sasuke menyela, dari semua yang Hinata ucapkan, hal itulah yang paling mengganggunya. Rasanya ia bahkan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "Bagaimana bisa kau berpikiran begitu?!" sanggahnya tak terima.

"Dari awal aku sudah mengetahuinya," gumam Hinata.

"Kau ini bicara apa?" tanya Sasuke dalam kebingungannya.

Apa baru saja Hinata menuduhnya memiliki hubungan lebih dengan tutor mereka dulu? Sungguh? Dari mana gadis itu mendapatkan pemikiran gila seperti itu?

Sasuke akui, ia memang cukup dekat dengan Karin, mantan tutornya itu. Selain merupakan seorang guru yang hebat, Karin juga merupakan teman bicara yang menyenangkan dan pendengar yang baik. Di sela sesi privatnya, beberapa kali Sasuke menceritakan beberapa hal yang mengganggunya. Dan kebanyakan adalah tentang Hinata mengingat saat itu mereka tengah terjebak dalam perang dingin yang mereka buat sendiri.

Tapi soal hubungan yang Hinata tuduhkan? Yang benar saja!

Dan bicara soal skandal ketertarikan, bukankah Hinata sendiri yang terlibat di dalamnya saat gadis itu begitu memuja Sasori? Sasuke selalu menduga Hinata memiliki ketertarikan lebih kepada lelaki itu sejak Hinata selalu bercerita tentangnya. Memang menyebalkan bagi Sasuke, tapi ia membiarkan Hinata terus bercerita melihat bagaimana bersemangatnya gadis itu, tak seperti biasanya.

Tak masalah jika hal itu mengganggunya, asalkan Hinata senang. Karena yang Sasuke inginkan hanyalah melihat Hinata bahagia.

Sasuke tak tahu pasti sejak kapan ia memiliki tekad itu. Padahal pada awal pertemuan mereka Sasuke benar-benar mencap buruk Hinata. Sasuke ingat, kali pertama mereka bertemu, dirinya benar-benar dibuat naik darah oleh setiap kata yang gadis itu ucapkan. Tapi kemudian, malamnya, saat mereka bermain catur untuk yang pertama kalinya, Sasuke bisa melihat sisi lain dari Hinata. Sasuke menyadari betapa kesepiannya gadis itu. Sama kesepiannya seperti dirinya.

Dan mungkin, mungkin memang pada saat itulah Sasuke mulai memiliki niat untuk selalu menemani Hinata. Untuk membuat gadis itu bahagia.

Tapi melihat situasi mereka saat ini... benar-benar sebuah ironi.

"Kau berani bertaruh kalian benar-benar memanfaatkan jam privat yang dibayar dengan uang ayahku 'kan, Kei?" sinis Hinata.

Kening Sasuke berkerut. Ia benci dituduh melakukan hal yang tak ia lakukan. Terlebih ia benci bagaimana kecutnya Hinata menyebut namanya meski nyatanya itu bukanlah nama aslinya.

Apa yang membuat Hinata seperti ini? Apa karena salah sangkanya yang membuatnya harus memberhentikan Karin yang otomatis juga membuat Sasori berhenti menjadi tutor mereka? Apa Hinata seperti ini karena menganggap Sasuke lah penyebab Sasori berhenti mengajarnya?

"Tidak seperti itu! Sungguh, kau salah sangka, aku bersumpah—"

"Aku tidak ingin mendengarkan apapun," sela Hinata cepat, memotong pembelaan Sasuke.

"Sayang sekali, aku ingin tetap bicara!" Kali ini Sasuke berteriak. Ia tak peduli apa alasan Hinata. "Tidak ada yang terjadi antara aku dan Karin! Aku bahkan tak tahu dari mana kau mendapatkan kesimpulan itu!" Sasuke berhenti sejenak untuk mengambil napas, sedikit demi sedikit menekan emosinya kembali. "Dengar... aku minta maaf soal Sasori, aku minta maaf jika kesalahpahaman inilah yang juga membuatnya harus berhenti," lanjut Sasuke dengan nada yang lebih tenang.

Hinata menatap Sasuke dengan sorot yang tak berwarna, hanya beberapa saat sebelum ia berpaling. "Terserah," ujarnya acuh tak acuh kemudian pergi tanpa ingin mengatakan atau mendengarkan apapun lagi.

"Maaf." Sasuke berbisik dengan kepala sedikit tertunduk, meski sebenarnya ia tahu indera pendengaran Hinata tak akan menangkap kata maaf darinya itu. Ia membiarkan Hinata pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

Sejujurnya ia tak yakin apa yang harus ia katakan lagi. Melihat bagaimana Hinata menatapnya secara pasif setelah ia menyebut nama Sasori... aneh karena tiba-tiba ia merasa begitu terganggu dengan hal itu. Ia marah juga sedih melihat bagaimana bahkan sampai sekarang, Sasori masih dapat mempengaruhi suasana hati Hinata sampai sejauh ini.

.

to be continued...

..

.