.
.
.
A HEART FOR LOVE
The Character is belong to Masashi Kimoto-san
Story by
7 Gold
Warning: AU, AT, Typo, OOC, Alur gaje, Cerita se-mau-gue!
Happy Reading!
.
.
.
9 STEPS FROM 'HIM'
Ditempat lain seorang pemuda dengan tudung jubah yang sudah terlepas dan membebaskan rambut raven berbentuk pantat ayam itu masih membeku ditempatnya. Wajah pucatnya bertambah pucat sekarang. Jantungnya berdegup dengan kencang, walaupun suasana sekitarnya ramai dia tetap bisa mendengar degupan itu.
"Yo! Baka otouto! Apa kabar?" ucap pemuda itu dengan senyuman dan suara yang terdengar tanpa beban, keadaan pemuda itu seperti berbanding terbalik dengan orang dihadapannya
"I-Ini tidak mungkin. A-aku pasti berhalusinasi" Ucap sasuke –pemuda dengan rambut reven berbentuk pantat ayam itu
"Apa maksudmu, baka?! Kau ini kenapa sih? Setelah sekian lama tidak bertemu kau malah meracau seperti itu" senyuman ringan yang dipasang pemuda itu kini sudah berganti dengan raut yang sulit diartikan
"K-Kau.. A-apakah itu benar kau, itachi nii?" tanya sasuke pada pemuda dihadapannya, mata onyx yang serupa dengan miliknya itu menatap lembut onyx sasuke
"Iya sasuke. Ini aku, Uchiha Itachi" sahutnya dengan senyuman dan tanpa itachi duga sasuke menerjang tubuhnya dan memeluk dirinya –uchiha? Memeluk seorang pria ditempat seramai ini? Bukankah itu kejadian yang sangat langka?
"Hei! Lepaskan, baka! Kau ingin kita dianggap gay?!" bentak itachi seraya berusaha untuk melepaskan pelukan erat dari sang adik
"Ehem... Maaf!" sahut sasuke setelah 'sadar' dari apa yang baru saja dilakukannya
"Baiklah, ada perlu apa kau kemari?" tanya itachi setelah yakin perhatian semua orang yang tadi menatapnya kini sudah beralih
"Aku kemari karna aku sedang mencari sebuah organisasi bernama Akat–" belum sempat sasuke menyelesaikannya, tangan besar milik itachi sudah terlebih dahulu membekap mulutnya
"Jangan bicarakan itu disini. Ayo kita cari tempat yang lebih aman untuk membicarakan hal itu" ucap itachi kemudian memimpin langkah untuk beranjak dari tempat ramai itu
~OoOoO~
'Pemusatan fikiran, pengontrolan kekuatan, pengendalian emosi dan salurkan tenaga itu pada bagian yang perlu ditangani' batin sakura terus mengucapkan kalimat itu, seakan akan kalimat itu adalah sebuah mantra sihir.
Sudah berjam-jam sakura mencoba untuk menyembuhkan kelinci malang itu. Namun sejak tadi tidak ada hasil apapun. Keringat sudah menetes deras dari pelipis matanya namun dia tidak menyerah dan tidak akan pernah menyerah.
"Istirahatlah, sacchan. Kau sangat membutuhkan itu. Lagipula untuk membuka gerbang ke 6 membutuhkan paling tidak 2 bulan" ucap ino berusaha membujuk sakura untuk menghentikan latihannya
"Aku tidak punya waktu sebanyak itu, ino" sahut sakura ditengah-tengah latihannya
"Tapi kau sudah cukup mencoba untuk hari ini. Dan kau menunjukkan bahwa latihanmu sudah meningkat pesat" kali ini tenten yang ambil bagian
"Neji nii, katakan sesuatu! Aku tidak ingin hal ini membuat kondisi sakura memburuk" hinata yang sedari tadi memperhatikan dari jauh memohon pada sang kakak yang sekarang berdiri tepat disebelahnya
Setelah lama terdiam akhirnya neji melangkahkan kakinya mendekati sakura yang masih mencoba untuk menyembuhkan kelinci itu.
"Sudah cukup." Ucap neji singkat
"Tidak! aku tidak akan berhenti sampai kelinci ini bisa disembuhkan!" bentak sakura, matanya masih tetap fokus pada binatang yang sedang memejamkan matanya dengan nafas yang tidak teratur
"Kubilang sudah cukup!" bentak neji tak kalah keras, namun gadis itu tetap saja keras kepala sampai-sampai neji harus mencengkram pergelangan tangan gadis itu dan menjauhkannya dari seekor kelinci yang tidak memberikan perubahan apapun sejak tadi
"Kami mengajarimu membuka semua gerbang itu agar kau bisa melindungi diri dan menjadi lebih kuat! Bukan untuk menyiksamu seperti ini! Lihat kelinci itu!" perintah neji terselip nada amarah pada ucapannya, dengan sendu sakura menatap kelinci itu
"Lihat dengan baik! Apakah dia menunjukkan perubahan sejak pertama kali kau mengalirkan tenaga dalammu untuk menyembuhkannya?! Bahkan pendarahan yang dia alami tidak berhenti!" lanjut neji tangannya masih mencengkram kuat pergelangan tangan sakura, membuat gadis itu sedikit meringis
"Ma-Maaf.. hiks.. a-aku hanya ingin segera menolong kalian untuk bebas dari wanita itu" wajah sakura tertunduk –dia menangis. Melihat itu neji merasa bersalah dan dengan segera melepaskan cengkraman tangannya
"Kau sudah berusaha dengan baik, sacchan. Kami mengerti kalau kau ingin menolong kami, tapi membiarkan dirimu menjadi korban seperti ini bukanlah cara yang baik" ucap tenten berusaha menghibur gadis musim semi itu
"Semangatmu untuk berusaha menjadi lebih baik memang bagus, sakura. Hanya saja kau harus mengetahui kalau tubuhmu memiliki batas lelahnya juga, Kau mengerti kan? Kami hanya tidak ingin kau menyiksa dirimu sendiri" lanjut ino sebelah tangannya bergerak untuk mengelus pundak gadis itu
"Lebih baik sekarang kalian bawa dia masuk, karna hari sudah mulai gelap" Perintah neji yang langsung dipatuhi oleh ketiga gadis itu
"Dan tenten.." panggilnya membuat sang empunya nama menatap mata amethyst pemuda itu
"Bawa kelinci ini dan jadikan santapan makan malam" perintah pemuda itu seraya menyerahkan kelinci 'sekarat' itu pada tenten
~OoOoO~
Hari sudah semakin larut namun gadis bersurai merah muda ini tidak kunjung menutup matanya dan beranjak menuju dunia mimpi. Dia terus saja membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah. Entah apa yang sedang difikirkannya saat ini.
Setelah sekian lama bertahan dengan posisi tidur terlentang seperti itu akhirnya sakura menyerah. Dengan malas dia mendudukkan diri dan melirik sebuah jam yang bertengger ditembok yang ada tepat dihadapannya
"Tengah malam, ya?" gumam gadis itu
Dia berfikir mungkin udara segar bisa membuat fikirannya sedikit lebih rileks. Tanpa menunggu lama lagi akhirnya dia berjalandengan langkah mengendap-endap, agar gadis itu bisa keluar dari rumah tanpa membangunkan siapapun.
Setelah beberapa saat merasa was was karna takut membangunkan seisi rumah, akhirnya sakura bisa bernafas lega. Dibukanya dengan sangat perlahan sebuah pintu kayu yang ada dihadapannya kemudian ditutup kembali tanpa membuat kegaduhan sedikitpun.
Kaki jenjangnya melangkah menuju halaman depan rumah itu, kemudian dia duduk ditempatnya biasa memandangi bintang. Semilir angin menerpa wajahnya membuat anak-anak rambutnya yang digerai beterbangan.
Musim gugur hampir berakhir dan berganti dengan musim dingin. Namun sepertinya udara belum sepenuhnya terpengaruh oleh cuaca yang akan berganti itu.
Lama. Entah sudah berapa lama sakura duduk memandangi bintang seperti itu, namun sepertinya mata dan keadaan hatinya tidak bisa berkompromi sekarang ini.
Sakura merasa sangat gelisah. Kegelisahannya bukan hanya berasal dari ketidak berhasilannya dalam membuka gerbang ke 6, namun lebih kepada sebuah kerinduan.
Dia rindu pada pemuda itu, pemuda yang sudah mencuri ciuman pertamanya. Pemuda yang membuatnya terjerat dalam pesona yang dimilikinya. Pemuda yang membuatnya jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.
Mengingat cinta membuatnya mengenang masa-masa itu. Masa ketika segalanya masih terasa mudah dan indah. Masa ketika dia bertemu dengan seorang bocah laki-laki yang sangat tampan.
"Sacchan?" panggil ino, membuat sakura memutar tubuhnya menghadap gadis itu
"Memandangi bintang seperti biasa, huh?" tanya ino kemudian mendudukkan dirinya tepat disamping sakura
"Seperti yang kau lihat" jawab gadis itu dengan ringan
"Kau sedang memandangi bintang atau sedang merindukan sasuke?" goda ino yang langsung membuat sakura blushing karna tebakan itu tepat mengenai sasaran
"A-apa yang kau bicarakan, baka?!" elak sakura, namun rona merah diwajahnya tidak bisa membohongi gadis yamanaka itu
"Haah, sudahlah sacchan. Aku sudah tau kalau kau mencintai sasuke. Terlihat jelas dari sikap dan tingkah lakumu." Sahut gadis itu dengan santai
"Apakah aku terlalu menunjukkannya padamu" gumam sakura
~OoOoO~
"Jadi? Sejak kapan gadis itu tinggal dirumah?" tanya jiraya setelah sesi perdebatan antara dirinya dengan naruto berakhir
"Sekitar beberapa bulan lalu, saat itu sasuke menemukannya tergeletak didepan rumah. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan keadaan sasuke saat dia pertama kali kau bawa kerumah, petapa genit" jawab naruto dengan santainya
"Lalu bagaimana keadaan gadis itu sekarang?" tanya tsunade
"Cukup baik. Dia bahkan sudah menguasai beberapa ilmu bela diri dan sedang kami ajarkan penggunaan mantra sihir"
"Baguslah, sepertinya kalian menanggapi ini dengan cepat." Gumam tsunade terselip nada kelegaan dalam kalimatnya "Aku bersyukur karna gadis itu berhasil kabur dari istana" lanjutnya
"Kau tau kan apa yang akan terjadi jika dia tidak kabur saat itu?" jiraya menatap muridnya dengan mandangan serius kali ini
"Wanita iblis itu akan mengambil jantungnya" jawab naruto, ada amarah yang terselip disana
"Nee, ino?" panggil sakura membuat gadis itu menoleh kearahnya
"Apa yang kau tau mengenai sasuke?" tanya gadis itu, matanya masih saja memandang hamparan bintang dilangit malam yang sangat pekat itu
"Dia adalah pemuda yang tenang, lebih suka bertindak daripada berbicara, mempesona seperti yang kau tau dan cer–"
"Tidak ino, bukan itu yang aku maksud" sela sakura membuat kalimat ino menggantung begitu saja
"Lalu?" tanya gadis yamanaka itu, wajahnya terlihat bingung
"Maksudku apakah kau mengetahui asal usul pemuda itu?" wajah sakura menunduk, dia menatap sendu rerumputan yang ada dibawahnya "Aku ingin tahu apa yang terjadi padanya 11 tahun yang lalu. Karna aku sering sekali melihat dia melamun" lanjutnya
"heeee? Jadi aku sering memperhatikan pemuda es itu ya?" goda ino membuat death glare ala haruno melayang kearahnya, dan bukannya takut ino malah tertawa dengan begitu keras
"Yang aku tau adalah seluruh klan uchiha dibantai habis oleh wanita iblis itu. kejadiannya juga tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada desaku." Sakura merasa bersalah ketika ino memperlihatkan wajah pedihnya itu
"Go-Gomen ino. A-aku tidak bermaksud membuatmu sedih" sakura gugup menghadapi keadaan gadis dihadapannya
"Tidak, sacchan. Ini bukan salahmu. Entah bisa disebut sebuah keberuntungan atau sebuah kutukan, tapi saat hal itu terjadi sasuke yang masih berumur 8 tahun sedang berada jauh dari desanya." Ino melanjutkan penjelasannya
"Dan saat dia kembali ke desanya, yang dia temukan hanyalah sebuah desa yang sudah hangus terbakar. Kemudian beberapa monster mulai mengejarnya dan saat itulah dia bertemu dengan jiraya jii-san."
"Begitukah? Darimana kau tau tentang hal ini?" tanya sakura penasaran
"Percaya atau tidak tapi sasuke sendirilah yang menceritakannya padaku" sahut ino
"Sebaiknya kita masuk sekarang. Keadaan semakin dingin diluar sini" ajak ino seraya bangkit dari posisinya
"Aku akan masuk sebentar lagi. Kau duluan saja" sahut sakura
"Baiklah tapi jangan terlalu lama. Kau bisa sakit jika terlalu lama berada diluar dengan udara seperti ini" nasehat ino yang langsung ditanggapi sebuah anggukan oleh sakura
~OoOoO~
Sakura masih bertahan pada posisinya setelah ino masuk kedalam rumah. Fikirannya menjadi tidak fokus setelah ino menceritakan lah itu padanya.
Namun fikirannya buyar ketika semak-semak yang berada tidak jauh dari tempatnya bergerak-gerak menimbulkan sebuah suara. Dia fikir itu hanyalah seekor binatang, yaa setidaknya dia berusaha untuk meyakinkan dirinya kalau itu hanyalah seekor binatang.
Sakura melepaskan nafasnya yang sempat ditahan tepat setelah makhluk itu keluar dari semak-semak. Dan itu adalah seekor kelinci, sakura sempat terkekeh kecil, meremehkan dirinya sendiri yang kaget hanya karna seekor kelinci.
Setelah cukup puas memandangi bintang, gadis haruno itu beranjak dari tempatnya. Dan ketika dia membalikkan badan, sosok itu sudah berdiri disana.
Jubah yang dipakainya membuat sakura tidak bisa melihat dengan jelas wajah itu. Namun sakura masih bisa melihat sorot matanya yang memandang tajam juga beberapa sorot mata kepedihan, putus asa dan senduyang terselip dalam tatapan itu.
Jantung sakura berdegup dengan kencang ketika sosok itu mulai berjalan mendekat kearahnya. Keringat dingin mengalir melewati pelipisnya.
'Tap' 1 langkah
'Tap' 2 langkah
'Tap' 3 langkah
'Tap' 4 langkah
'Tap' 5 langkah
'Tap' 6 langkah
'Tap' 7 langkah
'Tap' 8 langkah
'Tap' 9 langkah
Sosok itu berhenti dilangkah kakinya yang kesembilan. Bagaikan sebuah gerakan slow motion manik hijau emerald itu tidak hentinya memperhatikan setiap gerakan yang dibuah oleh sosok yang sekarang hanya berada beberapa langkah saja darinya.
Perlahan tapi pasti kedua tangan sosok itu menarik tudung jubah yang dikenakannya, membuat sakura bisa melihat dengan jelas wajah yang sedari tadi tertutupi oleh tudung itu.
Mata gadis itu membelalak, bibirnya kaku dan lidahnya terasa kelu. Dia ingin berlari menjauh dari pemuda itu, masuk kedalam rumah dan menguncinya dengan sangat rapat, namun yang bisa dilakukannya hanyalah diam.
"Apa kau merindukanku, sakura?" tanya sosok itu
Sakura masih terpaku ditempatnya. Diam dan mematung. Sorot ketakutan terlihat jelas dimaniknya yang menyejukkan itu. Sosok itu kembali melangkah maju membuat debaran jantung sakura semakin berdegup kencang
"Ja-angan bergerak! D-diam ditempatmu, sabaku!" perintahnya sorot ketakutan masih terlihat jelas disana
"Jangan takut, kumohon. Aku sudah cukup lelah mencarimu kesana kemari" ucap sosok itu memecah keheningan diantara mereka
"U-Untuk apa k-kau datang kesini?!" tanya sakura, suaranya terdengar sangat bergetar
"Aku kemari karna aku ingin meminta bantuanmu, hime" sahutnya
"Ba-Bantuan? Ka-kalau yang kau maksud bantuan adalah dengan menyerahkan jantungku, lebih baik kau pergi sekarang." Sakura mulai memberanikan diri untuk meredam ketakutan yang sedang melanda dirinya
"Kau tau aku tidak akan pernah mau melakukan hal ini, tapi aku harus. Kumohon mengertilah, hime" sahut pemuda itu, sorot tajam dari matanya sudah sirna dan sekarang digantikan dengan sorot putus asa
"Apa maksudmu, sabaku?" tanya sakura tidak mengerti dengan ucapan pemuda dihadapannya
"Panggil aku gaara, sakura! Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu!" geram gaara
"Apapun panggilan yang kuberikan itu tetap tidak akan mengubah niatmu datang kemari kan?!" bentak sakura, matanya menatap galak pemuda dihadapannya
"Kumohon bantulah aku! Aku tidak memintamu menyerahkan jantungmu! Aku mau kau membantuku untuk membebaskan 'dia' dari wanita iblis itu" gaara memohon dengan nada yang sangat putus asa
"Dia...?" tanya sakura tidak mengerti
"Ya, dia adalah kakakku. Kau mengenalnya kan? Sabaku Temari" sahut gaara, raut pilu tidak terelakkan dari wajahnya
.
.
.
TBC
.
.
.
Area Author:
Hallo minna-saaaaaaaaaaaaaan! Jumpa lagi dengan gold! Author paling keceh sedunia *PLAAAK*
Gomenna minna-san! Karna gold terlambaat update *Nangis guling-guling* karna gold lagi coba buat bikin beberapa fanfic lain hoho~ Dan karna koneksinya juga ga bersahabat :( *Lebih tepatnya gold ga punya pulsa modem -_-*
Gimana dengan chapter ini? Ada yang kurang kah? Review yaaaaaa! *Big hug*
