Gemuruh langkah kaki yang tak teratur menjadi latar suara ruang utama Central Hospital ini. Mulai dari para orang tua yang ketakutan ketika mendengar suara letupan selongsong yang mengarah ke luar pintu masuk, hingga beberapa pasang kaki bocah-bocah kecil yang hampir terpeleset sepuluh botol softdrink yang tumpah menggelinding berserta isi-isinya di lantai marmer rumah sakit. Pria petugas rumah sakit yang agak berjiwa kewanitaan itu menggerutu kesal sambil menghentak-hentakkan tongkat pel melihat lantai yang baru saja di pelnya kotor lagi. Keadaan kacau balau. Mendadak rumah sakit ini berubah menjadi suasana kapal bajak laut Black Pearl, dengan gadis pirang pucat berwajah kesal yang ikut terpeleset bersama kedua teman prianya.

"Kejar mereka, bodoh!" teriak Luna habis-habisan. Sang pria gendut, Vincent Crabbe, susah payah membantunya berpijak dengan benar dan bergegas lari menuju mobil, menghiraukan teriakan beberapa satpam rumah sakit yang langsung bungkam setelah Luna mengacungkan pistol jenis Beretta 92 dari balik jaket hitam kulitnya.

"Injak gasnya, Zac! Kita tidak bekerja untuk kelemahan!"


.

Harry Potter © JK. Rowling

o0o

Fast, Malfoy And Furious © Gallatrance Hathaway

.

.

.

Chapter 9: Can't Hold Us (PART 2)

"Tonight is the night, we'll fight 'til it's over
So we put our hands up like the ceiling can't hold us"

.

.

.

Happy reading, RnR!

.

.

.


"Bagaimana kalian bisa ada di sini?!" serbu Draco tanpa ampun sejak tadi pada dua manusia di kursi penumpang yang wajahnya tampak pias. Sang gadis malah tampak berusaha mengatur napasnya dengan benar, sementara si pria, cukup shock lagi sambil meremas-remas jok Ferrari Draco. Sambil menginterogasi mereka, iris biru Draco sesekali bermain cepat antara melihat jalanan di depan, dan kaca spion tengah untuk mengawasi kemungkinan Luna bisa menyusulnya.

Bagaimana tidak, Gemballa Mirage GT milik Luna itu memiliki top speed 330 km/jam!

Selera yang jelek, masa warna pilihan Ravenclaw aneh itu hitam pekat berdebu? pikir Draco meremehkan, namun kemudian melotot mendapati objek yang di bicarakannya dalam otak jeniusnya muncul tepat dari belokan Portobello Market.

Cepat!

"Malfoy, halangi sekutumu itu! Aku akan cari jalan aman dan err— Neville bisa bantu aku hubungi Harry? Lewat sini," ujar Draco memberikan iPhone-nya ke belakang dengan tangan kanan. "Katakan padanya, diamlah dulu di Central Hospital jika sudah sampai, dan oh ya! Jika dia tanya kenapa bisa kau yang telepon jangan jawab dulu atau dia akan cerewet, okay."

"Ok— okay, Draco," Neville berkata pelan. Pansy yang sedang memijit-mijit kepalanya menoleh pada Neville, berusaha mencari cara terbaik dan terefektif untuk memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Dilihatnya Neville yang masih mencoba mencerna keadaan ini, meski terlihat santai sedang menghubungi si Anak-Bertahan-Hidup itu.

Hermione masih tak bergeming. Ia sibuk memainkan kuku-kuku rampingnya dengan wajah sesantai mungkin—tanda cemberut tidak langsung, padahal jarak mereka dengan Luna hanya terpaut dua puluh meter dan kelihatannya di depan macet.

"Baiklah bukan sekutumu, tolong halangi Lovegood!" ujar Draco sedikit frustrasi seraya memindah stir ke kanan. Lelaki pirang itu mengernyit sebentar, menyadari suatu hal yang ganjil sejak tadi. Pansy! Ya, si Parkinson itu! Dia 'kan merupakan anggota—

"Kubantu, Hermione," Pansy beranjak dari duduknya menjadi berlutut menghadap belakang dengan Walther 99 tergenggam di kedua tangannya. "Granger," senyum Pansy saat menoleh sekilas ke depan kursi pengemudi.

Hermione menatap Pansy agak lama, wajah tegas Malfoy-nya seakan ingin menciptakan wajah sumringah, namun yang keluar akhirnya hanyalah senyum tipis dan sedikit sapaan datar penuh arti. "Pans."

Tahu jika dirinya akan merunyamkan keadaan yang sangat-sangat tidak dimengertinya ini jika bertanya 'Apa yang sebenarnya terjadi?' pada Draco, Neville memilih mengunci mulutnya.

"Pardon, Parkinson?" tanya Draco ragu, meyakinkan gadis Slytherin itu tidak berniat licik.

Tanpa menoleh kedepan lagi, Pansy sudah berdiri mantap melalui atap terbuka Ferarri California Draco, bersama Hermione di kursi penumpang depan. "Really, Granger!"

DORRR.

Tembakan pertama dari Pansy Parkinson, tepat mengenai spion kanan Gemballa Mirage GT Luna, yang efektif membuat gadis pirang pucat itu terkesiap kaget serta langsung meneriaki keduanya.

"HOI, DUNGU! TURUNKAN PISTOLMU DAN KEMBALILAH," teriak Luna keji pada gadis berambut bob yang memasang wajah masam padanya. Sekali lagi, Pansy hanya diam, matanya masih mencari-cari celah bagus untuk menghentikan mobil Luna. "DAN KAU HERMIONE?! MEREKA MENCEKOKIMU AMORTENTIA MURAHAN?"

"Amortentia alami, Loony!" balas Pansy tak kalah geram, tak menyadari Neville berubah kemerah-merahan setelah mendengar itu. Hermione sedikit menunduk kebawah, menangkap pucuk kepala surai pirang platina yang agak basah akibat keringat. ia ... hampir 89% setuju pada Pansy tapi—

Luna mengeluarkan pistol paku andalannya, kemudian menargetkan ban kiri belakang Ferarri Draco sebagai sasarannya sambil bergumam "What the hell you two are?".

Kening pucat Draco William Granger kembali membentuk kerutan Einstein. Tepat lima blok di depannya terdapat mobil berhenti, sementara di kiri jalan ada nenek-nenek dengan keranjang buahnya sedang kesulitan menyeberang. Ia harus belok ke kiri.

Harus.

Tak ada jalan lain.

Okay.

DASHHHH.

"Ke kiri sedikit, Granger! Ban-nya bisa—"

"Tidak bisa ke kiri, Malfoy! Kau tak boleh mengorbankan nyawa nenek itu!"

"Tapi kita bisa menabrak kontainer itu! Think fast, Granger!" seru Hermione frustrasi melihat kontainer berlawanan arah dari kejauhan mulai mendekat. Keriuhan suara klakson yang tak henti-hentinya ber-'tin-tin' di udara akibat menghindari cara jalan kedua mobil yang saling kejar-kejaran ini makin menjadi. Kelap-kelip beberapa lampu merah yang menjulang tinggi di setiap perempatan seolah menjadi kotak pos busuk yang tak berguna. Tiap menit, kecepatan masing-masing dari mereka terus bertambah.

"And don't make careless decisions when you furious!*" balas Draco defensif seraya membanting stirnya ke kanan, lalu kembali lagi ke kiri. Kontainer yang di ributkan Hermione nyaris menggores badan kanan Ferrari Draco jika saja Draco telat membelok ke kiri jalan sedetik pun.

"Mereka tertinggal," seru Pansy mengamati pergerakan mobil Luna yang terhalang beberapa mobil di lampu merah, namun matanya masih tetap waspada.

"Aku yakin mereka tidak akan menyerah secepat—" ucapan datar Hermione terpotong ketika bunyi keras yang memekakkan telinga—spion kiri Ferarri yang mereka naiki pecah berkeping-keping. "Benar, 'kan."

"Bloody hell," gumaman meluncur dari bibir tipis Draco. Sepatu kanan vans bermotif jeans-nya kembali menginjak keras-keras pedal gas. Permainan stir kembali dimulai.

"Permainan keren, aku rindu ini," ucap Hermione agak pelan, telunjuk lihainya sibuk bermain di atas pelatuk FN 57 hitam semi abu-abu, dan hanya Draco yang mendengarnya berbicara.

"Oh dasar, gadis Bond kecil, ckck. Sepuluh tahun lalu dalam pengejaran kubu Staletto dan Malfoy, eh?"

"Kau mengetahuinya."

"Ya."

"Aw!" Pansy menjerit sambil menutupi mata kirinya.

"Ada apa, Pansy?!" seru Draco, Neville dan Hermione bersamaan.

"Water balloon gun, ini perih sekali," keluh Pansy terus mengucek-ngucek matanya.

Tawa psycho Luna sampai di telinga mereka yang hanya berjarak lima meter. Gadis pirang itu mulai mengeluarkan beberapa senjata aneh-anehnya.

"BERHENTI KALIAAN!" teriak Luna menggunakan pengeras suara, dijawab oleh gelengan meremehkan Hermione, Luna makin geram dan melemparkan pengeras suaranya ke arah Hermione. Beruntung, kegesitan gadis hazel tersebut kalah cepat dengan tenaga lemparan Luna. "Vincent! Lapor berita pembelotan ini sekarang juga pada kantor pusat! Kita kehilangan dua personel, pengkhianat!"

"Mereka menginginkanmu hidup-hidup lalu membunuhmu begitu saja setelah tahu dimana tempat chip itu 'kan? Agar keturunanmu habis semua!" Hermione berkata dingin, nada marah terselip dalam suara serak seksi Malfoy muda tersebut. Kibaran rambut cokelatnya menghiasi bingkai wajah yang penuh peluh.

"Sejak kapan kau peduli padaku?"

"..."

"..."

"Sebenarnya dimana keluargamu simpan benda itu?! Kita bisa mengambilnya dan menaruhnya di tempat aman, atau bisa ciptakan jebakan!" teriak Hermione mengabaikan pertanyaan ambigu Draco. Mati-matian ia berusaha menghentikan jalaran warna kemerahan di pipi mulusnya yang entah datang dari mana, tepatnya tidak tahu apa itu. Demam? Sampai ke pipi? Lupakan. Mulai malam dimana Draco hampir saja lewat gara-gara taksi keparat itu, tumbuh setitik rasa kepedulian dalam jiwa Hermione pada keturunan termuda dan terakhir Granger's Family tersebut, didorong oleh undefined feeling yang sering memenuhi ruang hati berdebu sang Malfoy muda.

"TEMBAK DUA LAMPU DEPANNYA, MALFOY!" perintah Draco tanpa menjawab rentetan pertanyaan sang Malfoy, sebab Luna semakin mendekati mereka. Masalah itu bisa dibahas nanti, dan tidak sekarang.

"Granger, bisa ke kanan sedikit?" ujar Pansy yang baru saja terguling ke kiri, ia tampak kesusahan mengimbangi sudut berdirinya.

Neville yang sejak tadi gabut, mulai merangkai-rangkai perkataan Hermione dan mengira-ngira masalah apa yang sebenarnya terjadi. Draco mau dibunuh? Chip? Keturunan?

DARRRR, CKLK PRANG.

"Bye, Loony," Pansy melambaikan jemarinya di udara dengan latar Gemballa Mirage GT Luna yang mulai oleng dan kehilangan kendali. Dalam kesempatan emas inilah Draco kembali menambah kecepatannya agar Luna tak lagi bisa mencium jejaknya. "Tidakkah kalian pikir mobilnya hanya dua kursi saja? Mereka bertiga, 'kan, ckck."

"Beres. Sekarang dimana?" ujar Hermione lelah, kembali duduk ke tempat duduknya bersamaan dengan Pansy dan atap mobil yang kembali tertutup.

"Dirumahku."

"Dirumahmu dan kita masih berkeliaran disini?! Don't spend your time, Granger. Go!"


"Cepat, waktu kita tidak banyak, Asto," seorang lelaki jangkung berambut cokelat tua berbicara pada gadis mungil berambut hitam yang sedang sibuk mengurusi baju-baju dalam koper American Standard-nya.

"Sabar sedikit," balas gadis itu pelan.

Oke, maafkan aku Draco William Granger, please, bisakah?

"Aku tunggu di luar," Theo melangkahkan sepatu beratnya menuju teras dengan dua koper ukuran sedang di kedua tangannya.

Astoria melirik kertas kecil berbentuk persegi panjang dengan stampel emas di pojok kanannya. Tiket pertandingan yang diberikan Draco seminggu yang lalu. Tertera disitu harga tiket, tempat duduk di bagian eksekutif 2, dan tanggal pertandingannya, besok malam.

Memang, dirinyalah yang merengek pada sahabat pirangnya itu hingga akhirnya tiket itu sampai di tangannya.

Memang, dia yang begitu ngotot melihat permainan Draco di atas marka-marka jalanan dengan nos-nya.

Namun ia tak menduga rencananya jadi meleset jauh seperti yang sudah dikukuhkan seminggu lalu. Keadaan berubah dengan cepat, instan seperti popmie.

Rasa bersalah berdesakan memasuki dada Greengrass muda itu detik ini. Apa yang ia pikirkan sejak kemarin? Hanyut dalam kenangan bersama Theo? Melupakan teman-teman sehidup sematinya selama ini?

Sambil menatap buku-buku jarinya yang menggenggam tiket tipis itu, Astoria memandangi setiap burung-burung kecil yang ditenun di karpet Oriental ruang tengah rumah Theo. Ia pun berharap punya sayap juga untuk bisa terbang dari konflik pelik ini. Tapi, rasanya ia sudah ikut tenggelam dalam kapal berbendera tengkorak milik Diggory. Bubur tidak bisa kembali menjadi nasi.

"Apa itu?" Theodore Nott berdeham dan tiba-tiba sudah berdiri di depan Astoria. Bahunya yang kokoh serta tatapan mata yang setajam elang seolah membuat nyali Astoria semakin ciut. Ia merasa energinya tersedot tiap kali bersama dengan kekasihnya ini.

Astoria tidak buru-buru memasukkan tiket itu kemana saja, ke kantong, ataupun dibalik singkapan roknya. Tapi hanya menaruhnya di dalam tas anyaman kecil yang disampirkannya di pundak kiri, kemudian menjawab dengan gelengan dan berkata tenang. "Pertunjukkan temanku, besok malam."

Bibir Theo mengerucut. "Kupastikan jadwal kita kosong besok malam dan aku bisa ikut juga."

Menahan bola matanya untuk tidak keluar—melotot, Astoria mengangkat kepalanya pasrah. "Yeah."

Salah lagi!


Kerlipan perak lampu disko yang menggantung di tengah-tengah Kanaloa Bar, menaungi belasan pucuk kepala yang berusaha menghilangkan kejenuhannya masing-masing pada lika-liku hidup. Rok-rok mini. Dress-dress ketat. Lovebird di tiap sudut. Kepulan asap rokok yang, sebenarnya, sudah menggerogoti paru-paru yang tampaknya terlalu murah bagi mereka, sedikit demi sedikit. Anggukan kepala dan hentakkan kaki sesuai irama musik yang menonjok. Ditemani bersloki-sloki minuman yang dibawa para bartender kecil itu. Biasa. Masalah perkejaan, relasi, keluarga, eh? Semua pasang telinga terhanyut dalam dentuman beat demi beat lagu electro yang dimainkan sang DJ di atas stage—yang sebenarnya sama galaunya dengan mereka. Rambut panjang hitam pekatnya yang menggapai pinggang itu semakin menambah aura misteri wajahnya yang juga sedingin es.

Terkadang ekspresi DJ perempuan tersebut terlihat ganjil, kedua matanya yang dipagari riasan smokey eyes tampak sangat awas mengamati pergerakan orang-orang di bawah stage-nya, kemudian kembali menerawang ke atas atap penuh jejak lampu sorot warna-warni yang seolah dapat memberitahunya keanehan yang dialami setiap mengucapkan nama sihir itu. Serena? Yeah, ia sebut nama sihir sebab setiap ia mengucapkan nama itu tanpa suara, otaknya langsung berdenyut-denyut tak karuan. Ini bukan semacam dejavu, lebih dari itu, yakinnya.

Dering dan getar nada pesan pada iPhone-nya membuat gadis itu mencopot headphone-nya sejenak sembari menekan tombol autoplay dari ratusan tombol-tombol hitam di hadapannya.

From: Jim

Helena baby, sore ini bos ingin bertemu denganmu. Persiapkan segala sesuatunya dengan baik. Ah ya, jangan lupa, kunci mobilmu ada di samping telepon rumah jika ingin menyetir sendiri. Kutunggu jam 5, love!

Mendadak kegugupan bercampur rasa takut menjerat jiwa Helena dalam keremangan bar yang semakin ramai. Pikirannya menggambarkan bahwa ada peristiwa tak terduga yang akan terjadi di pertemuannya dengan bos Jim itu. Gadis yang memiliki postur tinggi dan rahang tegas itu memejamkan matanya, kebiasannya dapat menerawang kejadian beberapa waktu ke depan kadang sangat membuatnya takut—apalagi jika terawangannya semacam sekarang ini.

Ada seseorang dari masa lalunya, memiliki peluang bertemu dengannya malam ini.

Namun masih peluang, sebab sosok lelaki itu masih kabur.

Kemudian, bos itu memiliki masa lalu yang hitam dengannya.

Masalah apa?

Helena berusaha mengorek lebih dalam isi pikiran masa lalu sosok yang ia temukan dalam jalur hitam pikirannya, tapi terkunci. Ia merasakan kepalanya makin berdenyut ketika berusaha menembus pertahanan pikiran calon bos-nya itu. Orang macam apa sih bos itu? Penyihir?

"Girl," sebuah suara memecahkan koneksi pikiran Helena dengan dunia abu-abunya. Sontak ia langsung membuka mata dan mendapati Dustin McKenzie, teman barunya yang orang Swiss itu menawarkan sebatang rokok. Helena menggeleng lemah.

Lelaki bernama Dustin itu mengernyit heran, tak biasanya gadis jutek dihadapannya ini menolak benda silinder kecil berwarna putih itu. "Ada apa, Hele?"

"Tak ada," jawab Helena datar sembari mengalungkan lotto hitam kecokelatan kesayangannya di bahu, dan menyesakkan kaki putih jenjangnya asal-asalan ke dalam converse motif macan tutul di bawah meja. "Aku izin malam ini."

Dustin memperhatikan langkah oleng Helena Ashlan—begitu nama lengkap yang dia tau— dari kejauhan. Sejak sebulan lalu gadis itu datang ke bar dengan segudang keahliannya bereksperimen dengan beat-beat musik electro kelas atas, Dustin sama sekali belum tahu bahwa sebenarnya selain bermain cepat dengan tempo lagu, gadis itu juga adalah ratu bermain dalam bahayanya jalanan malam dan ...

—kecepatan.


"Ini terlalu cepat! Bayangkan Granger, Cedric pasti juga ada dalam rapat itu. Lalu apa? Dia akan meracuni kita dengan cara klasik 'kopi beracun'?" Hermione mendengus keras sambil menumpukan lengannya ke jendela ruang utama rumah Draco.

"Dia tak akan berani," jawab Draco setelah lama berdiam. Lekukan buku-buku jarinya yang tadinya menumpu kening pucatnya kembali masuk kedalam kantung celana.

"Hah tanggapan yang lucu," tawa hambar Hermione bergema, sama sekali tak menoleh ke arah Draco. Diliriknya Pansy di ujung sofa yang sedang berusaha menceritakan semuanya pada Neville, yang masih mengernyit-ngernyit untuk mencerna kata demi kata yang meluncur dari mulut Pansy.

"Disitu banyak petinggi-petinggi Indianapolis yang keluarganya takuti, dan mestinya ia tak akan menyulut api di hadapan mereka atau perjanjian-perjanjian mereka ikut gosong dalam apinya," Draco beranjak dari kursinya, melangkah mendekati Hermione yang masih menggunakan sport bra-nya dengan rambut berantakan. Baru kali ini Draco mau mengakui kalau Hermione Narcissa Malfoy ini ... seksi.

"Kuncinya ada di tiga tempat," ujar Draco hati-hati. Hermione langsung memiringkan kepalanya, membuat jarak mereka semakin dekat dengan hembusan napas yang semakin terdengar satu sama lain.

"New York—"

"—Kairo,"

"Lalu, Malfoy? Tonks bilang apa lagi?" Draco menyeringai senang.

Sudut bibir Hermione terangkat sebelah, kemudian menatap intens lelaki jangkung di depannya. "Justru itu yang harus kutanya padamu, Ginger."

Draco mendesah pelan. "Tonks pembelot yang setia. Hanya dia dari seluruh kerabat Malfoy yang pro pada Granger, 'kan?"

"Kurasa Dad sudah mulai melunak pada klanmu," ujar Hermione sambil angkat bahu. "Sejak, Granger Senior .."

"Kuakui itu sebagai sikap belasungkawa."

"Yeah. Kukira ini tidak akan terulang lagi. Mengingat di Hogwarts kau dan aku—"

"Itu karena dunia kita dua, haha. Topeng pertahanan yang bagus itu milik Diggory, bayangkan, tujuh tahun."

"Okay, okay. Dimana satu lagi?"

"Dasar tidak sabaran, ckck," ucap Draco mengelus dagu Hermione sekilas sebelum berbalik dengan ujung tumitnya. Sang Malfoy itu menggeleng penuh arti dan kembali merasakan sensasi panas menggelitik yang tiba-tiba berproduksi dalam tubuhnya. Akhir-akhir ini sikap Draco mulai berubah santai terhadapnya. Entah cara nomor berapa lagi yang akan mantan rivalnya keluarkan dalam melaksanakan permintannya mengenal itu dibarengi misi rumit saat ini.


"Rumit sekali," gumam lelaki berkacamata bulat dengan bekas luka berbentuk sambaran petir didahinya.

Sesekali iris emerald-nya itu menatap ke arah layar handphone, menunggu perintah Draco selanjutnya. Panasnya matahari siang London yang menembus kaca depan MINI Cooper pinjaman yang sedang parkir di pinggir jalan itu semakin menusuk.

"Hey, bukankah itu si Greengrass?" seru Ginny spontan ketika Range Rover abu-abu tepat di samping mereka berhenti menunggu si lampu merah berubah menjadi hijau. Gadis berambut hitam panjang di kursi penumpang yang diasumsikan Ginny sebagai Astoria, menarik perhatian Harry. Wajah Astoria begitu ruwet tak terdefinisi.

Benar.

"J-Jangan, Harry itu Theo!" tahan Ginny melihat gelagat Harry yang ingin keluar mobil dan menghampiri mobil itu. Bisa tambah gawat jadinya kalau Theo tahu bahwa dirinya sudah mematikan bom perintah dan bergabung dengan kubu Granger.

"Si Nott?!" ulang Harry sambil membetulkan letak kacamatanya yang miring. "Astaga! Sejak kemarin Astoria tak mengangkat panggilan teleponku dan sekarang—"

TING. Lampu hijau mulai melaksanakan tugasnya. Range Rover yang dikendarai Theo itu mulai beranjak menjauhi mereka dengan kecepatan diatas normal.

"Hey! Kita harus ikuti mereka," Harry mulai men-starter mobilnya. Ginny mulai menggelengkan kepalanya sambil terbatuk-batuk.

"Harry, please! Jangan bertindak di luar rencana. Ini akan mempersulit urusan Granger. Kalau kita sampai tertahan mereka juga, itu .. itu, uhuk, argh!" gadis ginger itu mengacak-ngacak rambutnya.

"Maaf, Ginevra," ucap Harry seraya menegakkan badannya kemudian menarik napasnya dalam-dalam. "Aku terlalu gegabah. Tapi, Astoria ... bodoh. Ada apa denganmu? Batukmu kambuh lagi? Kau bisa periksa ke Central Hospital."

"Tidak, tidak perlu, Harry. Ehm, maafkan aku juga, tadi rasanya pusing sekali. Ah, bagaimana kalau kita makan saja?" ujar Ginny kembali merapikan tatanan rambutnya, kemudian melongok ke luar jendela. "Arafat! Ayo kita makan dulu. Di sini ada restoran terdekat. Ya, 'kan, Harry?"

Harry menggelengkan kepalanya sambil berdecak pelan melihat cengiran dan wajah kelaparan yang dibuat si bungsu Weasley itu. Ia melihat kedua mata Ginny yang agak memerah sehabis batuk besar tadi, namun diurungkannya niat bertanya sebab gadis itu pasti akan selalu berkata: 'Ini sudah biasa.' atau 'Serius, tak apa-apa.' diiringi tawa berderainya.

Dan Harry tidaklah sebodoh itu.


"Kuharap kau tidak bertindak bodoh nanti, Ced. Waktu kita masih cukup banyak sebelum kembali ke sekolah."

Cedric memejamkan kedua matanya sejenak, mengatur napas dan emosi yang bergejolak dalam dadanya. Sepatu Berluti hitam mengkilatnya mengetuk-ngetuk lantai kayu sejak tadi seolah menggali ide yang bagus untuk pertemuan tanpa ledakan dengan Granger satu jam kedepan. Dengan runtuhnya semua klan Granger dan skandal itu kembali tersimpan aman padanya, keluarganya bisa melangkahkan kaki ke ranah dunia internasional.

Sekaligus membayar dendam kecil di masa lalu.

"Ah, itupun jika aku masih selamat dalam perang gila sembunyi-sembunyi ini," Blaise Zabini dengan setia berkicau dengan santainya sembari menghisap cerutu yang bertengger di bibir tebal pria negro itu. "Ah, Luna bilang barusan ia minta maaf tak jadi membereskan Lara malam ini. Tentu saja, gadis itu ikut dalam rapat, 'kan." Jemari Blaise berhenti mengetik sesuatu di layar iPhone-nya, sambil menunggu Cedric untuk harus membalas apa.

Cedric mengangkat kepalanya mendadak, wajah pucat kejjinya menoleh ke arah Blaise. "Takkan kulakukan dahulu. Bersikaplah biasa. Bilang yang lainnya untuk berposisi di depan gedung hingga selesai," Cedric mengakhiri kalimatnya, kemudian melangkah keluar ruangan sambil mengancingkan kancing terakhir jas hitamnya.


Hermione mengamati pantulan dirinya di cermin lonjong kamar tamu Granger. Dress selutut tanpa lengan warna hitam pekat yang menonjolkan setiap lekukan tubuh idealnya, dengan softlens warna biru membuat penyihir terpintar kedua setelah Draco Wiliiam Granger ini tercetak sempurna. Sangat, sempurna. Lutut mulus ala gadis-gadis Beauxbatons juga dimiliki olehnya. Rambut cokelat tua lurusnya kini berganti menjadi agak blonde dengan hair chalk yang diberikan oleh Ginny beberapa minggu lalu. Benda itu sangat berguna, pikir Hermione senang.

Ia menatap ke arah cermin sekali lagi. Kemudian terkekeh sendiri.

Mirip Granger.

Hermione menaikkan alis matanya sebelah seolah ingin menunjukkan sisi lain dirinya dalam dunia muggle malam ini. Dirinya akan berdebat formal lagi dalam rapat besar 'bisnis' tanpa kehadiran kedua Malfoy Senior. Entah kemana Narcissa dan juga Lucius, masa bodo. Dirinyalah yang sekarang berhak mengatur arus saham dan properti klan Malfoy sendiri. Hermione tak terlalu peduli pada orangtuanya, apalagi Narcissa, wanita tua itu kadang-kadang bertindak defensif di manornya sendiri. Narcissa dan Hermione pun jarang sekali bercengkerama layaknya ibu dan anak. Seperti ada dinding aneh yang menghalangi Hermione untuk terlalu dekat dengan ibunya sendiri.

"Mione?" panggil suara pertama, Ginny.

"Malfoy, cepatlah."

Segera tangan rampingnya menyambar tas hitam kecil berkalung rantai perak berkilau tepat ketika suara ketukan pintu yang frekuensinya makin tinggi alias tidak sabaran, itu pasti Granger.


"Menunggu disini?" wajah Helena menyiratkan perasaan tidak suka ketika Jim menyuruhnya untuk menunggu di luar gedung besar yang ada di dalam jalan sempit dan gelap ini, sendirian. Bunyi-bunyian aneh dari tong sampah yang berjajar diujung jalan sempit ini selain berisik, cukuplah untuk membuat bulu kuduk siapapun merinding.

Lelaki bertubuh kekar itu tampak kikuk. Kemudian ia merogoh handphone dari kantong celananya dan mengirimkan pesan pada seseorang. Helena, yang masih mengenakan kaus putih berbalut lotto-nya dengan rambut yang tampak acak-acakan itu mengernyit.

"Akan ada orang yang menemanimu, Hele. Tenang saja, takkan lama."

"Kenapa bukan aku saja yang berjaga di dalam? Jelas-jelas aku perempuan."

"Tidak tahu, bos bilang kau harus disini. Nanti pokoknya tugasmu hanya menunggunya keluar dan kendarai mobil itu cepat-cepat," Jim menyerahkan kunci mobil sambil mengedikkan kepalanya ke arah Ferrari Four yang terparkir dibawah lampu jalan.

Gadis itu mengambil kuncinya dan melangkah pelan ke arah mobil tersebut sambil menampilkan wajah terkagum-kagum. Jemari ramping berpoles cat kuku hitamnya mengelus pelan kap depan kendaraan dengan empat pintu itu hingga berhenti di sisi kanan tepat di bawah spion, tempat logo merk bergambar kuda hitam meringkik itu tertanam elegan.

"Mesin V12 6.3 liter yang dikawinkan transmisi tujuh percepatan dengan kopling ganda ..." Helena bergumam penuh kekaguman lagi. Iris hitamnya berkilat-kilat di bawah lampu langit senja ini.

"Kuharap kau tidak membawanya pergi untuk balapanmu, dear."


"Kau masuk duluan, bersama sepupu Croft-mu itu. Aku datang lima belas menit kemudian—"

"Bersama?"

"Rabastan."

"Oh, usahakan kau aman," Draco memutar bola matanya seraya mendengus mendengar nama paman Hermione yang misterius itu.

"Kami bisa menunggu di departement store tepat belakang gedung itu!" seru Pansy dan Ginny polos, alih-alih Harry dan Neville pasti akan mengikuti mereka juga. Kenyataannya, dua lelaki itu mengangkat bahu mereka tinggi-tinggi seraya menarik napas panjang.

"Ehm, aku ada teman di dekat gedung itu. Jadi aku bisa menunggu Mister Draco dan Miss Hermione sampai selesai," Arafat berkata setelah selesai berkutat dengan udang mayonaise-nya. "Err— boleh minta sedikit bensin untuk—"

"Kau tak bilang, Arafat! Ini," Draco memberi lelaki beralis tebal itu segenggam uang. "Kalau-kalau kau ingin rokok—aw, Malfoy!" rintih Draco ketika Hermione menyikut perutnya dengan tatapan tajam.

"Siap berangkat semuanya!" Draco membetulkan dasi merah maroon dan letak kerah kemejanya berlebihan saat melangkah menuju halaman rumahnya, diiringi wajah malas Hermione akibat ulah konyolnya itu. Sikap Draco yang santai-santai saja seolah seluruh masalah akan teratasi dengan cerdik itu malah membuat Hermione agak cemas. Apa memang seluruh keturunan Granger bersifat sok meski mereka memang pintar dalam segala hal seperti itu?


Jalan sempit dan gelap itu kini menjadi tambah sempit juga terang, akibat serbuan lampu-lampu beberapa mobil mewah yang menyesaki ruang gerak yang makin minim ini. Seorang gadis di sudut jalan itu mengamati mobil-mobil yang masuk satu per satu dengan kepulan asap putih yang sesekali keluar dari bibir tipis dinginnya. Orang-orang berjas hitam yang turun pun tak luput dari pengawasannya meski ia sama sekali tak kenal dan tidak tahu untuk apa orang-orang yang rata-rata botak ini berkumpul.

"Argh," Helena merintih pelan, kepalanya mulai berdenyut kencang saat pandangannya terkunci pada sesosok lelaki jangkung berambut pirang pucat yang baru saja turun dari mobilnya ditemani seorang wanita yang tampaknya lebih tua beberapa tahun darinya dengan kepangan panjang rambutnya yang menyentuh pinggang.

Hey, hentikan! Ini sakit.

Helena terus memerintah otaknya agar berhenti berdenyut. Namun tak berhasil. Ia merasakan dirinya sedang berusaha mengenali lelaki itu tapi tidak bisa. Maka itu kepalanya terus berdenyut-denyut seolah ada sesuatu dalam cerebrumnya yang ingin meloncat keluar. Gadis itu tidak mengerti mengapa beberapa bulan terakhir ini ia sering sakit kepala hebat setiap menatap beberapa orang yang kadang-kadang mengaku mengenalinya—padahal ia tidak mengenali mereka.

"Hey tunggu, Lara," Draco menghentikan langkahnya tiba-tiba. Iris birunya menangkap sesosok bayangan orang di sudut gedung sedang memegang kepalanya seolah kesakitan.

"Apa?"

"Arghh hentikan ini!" desis Helena kuat-kuat, ia mencoba memutuskan pandangannya dengan lelaki pirang sialan itu dengan berbalik menghadap dinding seraya membenturkan kepalanya. Draco berjalan mundur, menoleh dan mendapati sosok itu menghadap dinding.

"Itu hanya orang ... stress," Lara mengernyit sambil menyipitkan matanya dalam kegelapan. "Cepat, Drake," ucap kakak sepupu Draco itu kembali menarik tangan sang adik untuk segera masuk ke dalam. Saat itulah Helena kembali membalikkan badannya.

"Lumayan," pikir Helena setelah rasa sakitnya hilang akibat berhenti memandangi si pria pucat. Ia memumpukan tangan pada lututnya lelah, sembari mengatur napasnya yang tak beraturan.

Lima belas menit berselang, sebuah Porsche GT9-R datang dengan lampu depan yang menyilaukan matanya. Dua orang, perempuan berambut cokelat semi blonde dan seorang pria 30 tahunan dengan jenggot tipis di sekitar dagunya keluar dan berjalan cepat menuju pintu masuk gedung yang dijaga seorang pria mirip satpam, tapi mirip polisi juga.

Apalagi ini?!

Helena berpikir dirinya tak akan mau lagi disuruh menunggu dan melihat banyak orang-orang asing ini. Kali ini, seolah ada kekuatan yang menarik tubuhnya mendekat pada gadis blonde tersebut. Sensasi dingin sekaligus mencekam, membuat topangan berdiri Helena agak lemah. Hermione yang tadinya lancar berjalan dengan high heels tinggi 7 cm-nya mendadak juga ikut terseok-seok menuju tempat berdiri Helena. Rasanya seakan-akan ia adalah boneka bertali, dan ada seseorang yang menarik talinya, mengarahkan kepala keduanya sesuai keinginan.

"Hei, apa ini?!" seru Hermione lepas kendali, menghentakkan kakinya hanya sedikit memberikan hasil. Jaraknya dengan Helena hanya lima langkah didepan mata.

Helena pun tak kalah panik, digapainya dinding, tiang lampu jalan, hingga tanaman kecil untuk menghindari tabrakan dirinya dengan gadis cantik itu. Namun energinya seolah hilang sebagian terserap dinginnya udara malam.

Brak.

Orang bilang kecelakaan bisa dihindari jika kita taat pada peraturan, tapi sekarang kondisinya berbeda.

"Maaf, maaf," ucap Helena sedatar mungkin. Ia turut membantu Hermione berdiri dengan benar, serta membersihkan pundak gadis yang tidak dikenalnya itu dari daun-daun kering.

"Tak apa. Aneh sekali," Hermione balas berkata dingin ala Malfoy dengan bibir melengkung tajam sambil mengerutkan dahinya. Beberapa detik mereka saling berpandangan. Memiringkan kepalanya, Hermione terkekeh dengan pandangan meremehkan sambil berbicara sesuatu. "Seperti berkaca."

"Maaf?" Helena sebenarnya mengerti maksud gadis itu, ia sendiri juga seperti berkaca pada cermin. Mereka cukup mirip, namun rambut Helena cenderung lebih menyerupai warna teh gelap. Dengan wajah dan dagu sama-sama berpotongan tegas, hidung tajam dan alis yang melengkung. Rasanya seperti menatap diri sendiri pada permukaan air, dengan bagian wajah yang sedikit terombak oleh gelombang.

"Ah, mungkin ini efek kurang tidur. Permisi, nona," Hermione berbalik dan menyeret badannya susah payah menuju pintu masuk. Sensasi ditarik itu makin kuat seiring menjauhnya Hermione, namun tak berapa lama rasa itu mulai pudar. Ketika Hermione menoleh sekali lagi untuk sekedar melihat gadis yang barusan ditabraknya, Rabastan Lestrange ikut menoleh dan bola matanya membesar seketika. Rabastan sempat memelototi Helena sekilas, namun gadis jutek itu balas mengangkat dagunya menantang—itu caranya mengekspresikan wajah bingung. Buru-buru pria Lestrange itu mendorong keponakannya masuk gedung. Meninggalkan Helena Ashlan dengan kening berkerut sambil memicingkan mata. Sayangnya, Hermione tak sempat melihat ekspresi Rabastan saat itu.

Ketika Helena mengalihkan pandangannya ke arah parkiran, ia mendapati gadis bersurai pirang menuju putih sedang berjalan santai dengan ketukan high-heels ekstremnya. Dua lelaki di belakangnya mengekorinya cepat-cepat. Alis mata Helena naik sebelah saat gadis itu menyodorkan tangan berkuku panjangnya seraya menurunkan kacamata berdiameter cukup besar—yang sangat tidak cocok dengan mata kecil hijau gelapnya.

"Jadi, kau, Seren— maksudku Helena Ashlan?"

Helena mengangguk datar tanpa bersuara. Nama itu lagi.

"Kuharap kau partner kerja yang baik. Mari minum dulu sampai menunggu mereka rampung dengan masalahnya."

.

.

.

TBC


Kristen Stewart as Helena Ashlan (Serena Smith)

A/N: Yah, kemarin harusnya satu chap digabung segini hehe. Trus fix ini kecepetan update wkwk bcs takut gasempet lagi ketunda-tunda sama hal lain ew curcol, bu? Iseng-iseng juga bikin vid trailer-nya meski gue tau itu sama sekali belum pro untuk ngegambarin semuanyaT-T. OK thanks a lot lot lot lot buat yang kemarin review di chapter 8: Adis, Ms. Loony Lovegood, Adellelicea, poosy-poo20, gothicamylee, Last-Heir Black, christabelicious, priscillaveela, Nyanmaru desu and Wiandavirgo i'll reply your review via mana aja yang pasti terkirim.

Vid link: you tube dot com / watch?v=57niq0CzTIM&


Thanks for reading, give me your opinion on the box below! I appreciate any reviews that you write ;D