| Sugar Baby |

Disclaimer : all characters that's Masashi Kisimoto own

Genre : romance/drama

Rate : M

EPILOG

"A Wonderful Day"

.

.

.

Maafkan untuk segala bentuk typo ataupun kesalahan lainnya.

Saya akan sangat senang dan mengghargai jika kalian berkenan memfollow, mereview dan memvote jika kalian menikmati setiap cerita yang saya tulis. Terima kasih.

Epilog ini saya persembahkan untuk readers tertjintah yang sudah setia mendukung dan mengikuti fiction Sugar Baby dari awal sampai akhir

Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, karena dengan adanya dukungan dari kalian membuat cerita ini cukup sedikit menjadi bahan pembicaraan, yah meski tulisannya masih amatiran. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan

SELAMAT MEMBACA

.

.

.

SUGAR BABY BY HEXE

Sebenarnya, apa yang paling diinginkan para wanita didunia ini? Cinta kah? Kasih sayang? Harta? Jabatan? Atau bersama dengan orang-orang menyayangi mereka dengan tulus dan sepenuh hati?

Sebenarnya, wanita menginginkan itu semua. Bisa hidup senang, hidup mewah, dan memiliki status sosial yang tinggi agar dihormati didepan masyarakat banyak. Wanita ingin dimanja, dihargai, dan dilindungi oleh orang yang mereka cintai dengan sepenuh hati.

Begitu pula dengan Hyuuga Hinata. Wanita yang kini berusia 27 tahun itu menginginkan dan memimpikan itu semua. Tumbuh dan besar di sebuah panti asuhan membuat dirinya tidak bisa merasakan kehidupan anak-anak pada umumnya. Dia di didik untuk menjadi sosok yang mandiri dan tidak menggantungkan diri pada siapapun.

Berusaha menanggung biaya hidup sendiri sejak meninggalkan panti asuhan, bersekolah sambil bekerja paruh waktu dan belajar dengan giat agar mendapatkan beasiswa di Universitasnya kelak.

Manis dan pahitnya kehidupan sudah Hinata rasakan disepanjang hidupnya.

Hingga pada saatnya ia bertemu dengan Tobirama Senju, sosok pria yang mengubah kehidupan melaratnya menjadi mewah layaknya orang kaya pada umumnya. Namun, kekayaan dan kemegahan yang didapatnya berdampak pada pergaulan sosialnya.

Dirinya dijauhi dan dikucilkan di lingkungan masyarakat karena status dirinya sebagai wanita simpanan pria tua kaya raya. Tentu saja, hal itu sangat tidak disukai para isteri yang takut jika suami mereka juga ikut menjadi incaran si nakal Hyuuga.

Namun Hinata yang sudah terlanjur kedalam jurang menyakitkan namun menyenangkan itu hanya mengabaikan mereka yang selalu mengunjingkan dirinya dengan terang-terangan.

Hinata tidak peduli dengan cacian dan makian yang mereka berikan padanya. Wanita Hyuuga itu terus maju dan melanjutkan kehidupannya senormal mungkin. Menghabiskan uang dengan cara berbelanja dan jalan-jalan adalah hal yang menyenangkan daripada sibuk mendekati seseorang untuk dijadikannya sebagai teman.

Alih-alih mencari seseorang untuk berbagi ceritanya, Hinata semakin menjauh dan menutup diri dari orang-orang yang berusaha mendekatinya. Bukan dia tidak mau, hanya saja Hinata takut jika suatu saat nanti orang itu akan berbalik menghianatinya dan menghina dirinya seperti yang orang lain lakukan pada dirinya.

SUGAR BABY

Bertemu dengan Uchiha Madara adalah hal yang paling tidak diduga dalam hidupnya. Hinata yang awalnya merasa benci dengan nama Uchiha karena keberadaan Uchiha Sasuke yang selalu saja mencari ulah dengan dirinya.

Pria arogan itu selalu berkata kejam dan menghinanya dengan terang-terangan bahkan didepan umum. Hal itu membuat Hinata menghindari dan tidak ingin berurusan dengan pria Uchiha manapun.

Namun, takdir berkata lain. Ketika dirinya ingin menjerat dan merayu Hatake Kakashi disebuah hotel kenamaan, dirinya malah bertemu dengan Madara yang pada saat itu dengan gambalngnya menunjukkan rasa tertariknya pada Hinata.

Pertemuan pertama mereka didalam elevator sekaligus cumbuan pria jangkung itu padanya membuat Hinata meleleh seketika. Bibir pria itu yang berwarna kecokelatan dan sedikit tebal, rambut jabriknya yang halus, juga garis wajahnya yang manly membuat Hinata terpesona.

Jangan lupakan tubuh kekarnya yang seksi, kedua bahunya yang lebar, juga dadanya yang sangat keras menambah kesan gagah sesungguhnya dari seorang pria.

Hinata sangat menikmati percintaan pertama mereka, Hinata tidak menyangka jika Madara yang pada saat itu berusia pertengahan abad bisa membuat dirinya meleleh sepenuhnya didalam rengkuhan pria tua itu.

Sentuhan dan cumbuannya yang begitu menggetarkan seluruh tubuh Hinata membuat dirinya tidak bisa beralih dari sentuhan Madara pada dirinya. Hinata menginginkan sentuhan Madara sepenuhnya, hanya untuk dirinya sendiri.

Dan wanita itu mendapatkannya, Hinata mendapatkan Madara seutuhnya. Bahkan pria itu sebenarnya sangat menggilai dirinya jika Hinata ingin tahu.

Madara sudah jatuh pada pesonanya sejak pertemuan pertama mereka dan Hinata tidak menyadari dengan kenyataan itu.

Beberapa waktu berlalu, Hinata sangat senang dengan keberadaan Madara dalam hidupnya. Pria tua itu memberikan apa yang Hinata inginkan. Apapun, Madara memberikan dirinya apapun yang Hinata minta.

Dan fakta itu membuat Hinata semakin jatuh cinta pada Madara tanpa disadari oleh dirinya sendiri.

Hingga saat itu tiba, saat dimana dirinya terbaring koma karena ulah Uchiha Sasuke, yang notabennya adalah keponakan dari pria yang dicintainya melukai dirinya dengan tidak manusiawi dan tidak bermoral.

Uchiha Sasuke memperkosa dirirnya di mansion Madara, dan hal itu membuat janin yang tidak Hinata ketahui dalam rahimnya harus keguguran akibat aksi brutal yang dilakukan Sasuke pada dirinya.

Hinata pikir Uchiha Sasuke memang sudah gila. Pria itu terobsesi pada dirinya hingga nekat melakukan hal keji dan rendahan seperti itu pada dirinya.

Dan saat itulha Hinata melihat sosok Madara yang lain. Madara yang begitu mencintai dirinya dan bukan karena gairah dan nafsu semata. Pria tua itu jatuh cinta padanya, bahkan berniat untuk membuat dirinya mengandung anak pria tua itu dalam rahimnya.

Hinata yang pada waktu itu menolak dengan keinginan Madara yang ingin memiliki seorang anak membuat pria tua itu marah dan menjauhi dirinya beberapa hari.

Hinata tidak suka dengan hal itu, dirinya merasa kesepian dan sakit hati dengan perlakuan Madara yang mendiamkan dirinya begitu saja. Sikap pria tua itu juga sangat dingin dan mengancam. Bahkan Madara tidak pulang ke mansionnya sendiri.

Setelah perdebatan alot diantara keduanya, akhirnya Madara mengerti keinginan dirinya akan hubungan yang sesungguhnya dan bukan sekedar teman kenjang dan partner ranjang semata. Karena jujur saja, Hinata memang sangat menginginkan ikatan pernikahan yang sah dan resmi dengan Madara.

Hinata tidak bisa membayangkan jika Madara pergi dan menghilang didalam kehidupannya. Mungkin dirinya akan merana seumur hidupnya, karena Hinata sangat menginginkan Madara untuk dirinya dan untuk hidupnya.

SUGAR BABY

Hinata menatap sayang kearah bingkai foto besar yang terpajang dengan indah diatas tungku perampian, bingkai foto yang berisikan keluarga kecilnya yang bahagia. Keluarga yang sangat diimpikan dirinya sejak kecil, keluarga yang membuat hidupnya menjadi beratus bahkan berjuta kali lipat membuat dirinya merasa bahagia dan dicintai dengan sepenuhnya.

Didalam foto itu, tampak dirinya yang memakai gaun hitam panjang dan bertali, Madara yang mengenakan setelan jas Hitam juga ketiga anak lelaki Triplets atau kembar tiga yang tampak lucu dengan setelan jas mini yang sama dengan yang Madara kenakan. Bedanya, ketiga jagoannya memakai dasi kupu-kupu berwarna merah khas Uchiha.

Hinata sangat senang dan bersyukur bisa melahirkan mereka bertiga kedunia, keberadaan mereka bertiga membuat hidup Hinata terasa sempurna seutuhnya. Bahkan Madara tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih karena telah memberi pria tua itu tiga anak kembar sekaligus.

Hinata tampak terkekeh, mengingat kejadian lima tahun lalu saat dirinya melahirkan. Madara, suami tuanya itu tampak kalut dan ketakutan seperti remaja yang baru saja menghamili seorang gadis. Uchiha Madara tampak gusar dan frustrasi, karena pria itu menghawatirkan kondisi dirinya yang akan melahirkan tiga bayi sekaligus.

Bahkan keluarga Uchiha yang lain memarahi suaminya yang tampak berlebihan dan malah memperkeruh keadaan dengan reaksinya yang berlebihan. Beberapa perawat yang membantu persalinannya mengeluh karena Madara terus menggangu konsentrasi mereka dalam persalinan.

Dan pada akhirnya, dokter Tsunade menyeret Madara agar keluar dari ruang bersalin. Tentu saja Madara tidak menurut dan diam begitu saja. Butuh tenaga ekstra untuk menyadarkan Madara yang sedang kalut dan bertingkah seperti orang tidak waras.

Hingga pada akhirnya Uchiha Tengu lah yang membuat pria tua itu diam dan menunggu dengan tenang dikursi tunggu lorong rumah sakit. Sungguh, mertua Hinata memarahi suaminya itu seperti seorang ayah yang memarahi anak remajanya yang nakal.

Bahkan Sakura dan Naruto menggelengkan kepala mereka melihat aksi uring-uringan dari Madara. Uchiha Fugaku yang mentertawakan Madara, juga Sasuke yang mengejek pamannya yang super overprotektive jika sudah menyangkut dengan Hinata.

Hinata juga ingat, ketika ketiga bayi laki-lakinya lahir dengan sehat dan menangis dengan kencang. Madara menerobos masuk dan langsung menggendong salah satu bayinya dilengan pria itu yang kekar.

Madara menitikan air mata bahagia sambil berkata, "Lihat, sayang. Mereka sudah lahir dan sangat miirp denganku." dengan tangisan dan kekehan bahagia, Madara kembali menggendong kedua bayinya yang lain secara bergantian.

"Oh, Uchiha Hinata. Aku sangat sangat mencintaimu, terima kasih." Waktu itu Madara mencium bibir Hinata dengan sayang, mengecup keningnya dan kening ketiga bayi mereka dengan sayang.

"Aku akan menamai mereka Izuna untuk putera sulungku, Shisui untuk yang kedua, dan Arata untuk yang terakhir."

Hinata tampak menitikan air mata mengingat itu semua, dirinya sangat bersyukur bisa hidup dan dicintai oleh Madara berserta keluarga besar suaminya yang lain.

Pria itu sudah memberikan apa yang Hinata mimpikan selama ini. Harta, status sosial, cinta dan kasih sayang, bahkan sebuah keluarga.

SUGAR BABY

Hinata menyeka air mata yang sempat keluar dari kedua manik amethystnya. Suara ketiga putera mereka terdengar melengking memanggil dirinya. Mereka sudah pulang, pikirnya. Madara sudah pulang, suaminya menjemput ketiga puteranya dari mansion utama Uchiha, mansion dimana Uchiha Tengu tinggal, kediaman mertuanya.

Sekarang sudah memasuki musim salju dan sebentar lagi Natal. Cuaca yang sangat dingin memaksa dirinya untuk menyuruh Madara menjemput ketiga puteranya lebih awal, karena Hinata tidak ingin jika ketiga puteranya demam atau terserang flu jika terlalu lama berada diluar.

Karena jika sudah berada di mansion utama Uchiha, mereka selalu dimanjakan oleh kakeknya itu, termasuk diijinkan bermain salju ditaman mansion. Tentu saja Hinata tidak ingin ketiga puteranya terlalu berlama-lama berada dibawah guyuran salju. Hal itu tidak baik untuk kesehatan mereka yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Hinata keluar dari ruangan santai, menuju ruang tengah dan menyambut keempat lelaki yang paling dicintainya.

Uchiha Shisui berlari kearahnya dengan kedua tangan balita itu yang dibentangkan, Hinata memeluk anak keduanya itu dan menggendongnya. Sementara si sulung Izuna menjinjitkan kedua kakinya untuk mencium pipi Hinata yang kini berjongkok, dan si bungsu Arata sudah terlelap digendongan Madara.

Hinata kembali berdiri dan menerima kecupan sayang dari suaminya.

"Bagaimana kabar Ayah?"

"Ayah sangat sehat, bahkan beliau terlihat sangat senang bermain dengan ketiga cucunya."

Hinata tersenyum dengan manis, "Ayo anak-anak. Waktunya tidur, sekarang sudah pukul delapan. Lihat, adik kalian Arata juga sudah tidur."

Uchiha Shisui terlihat merenggut, tampaknya putera keduanya itu belum merasa mengantuk.

"Mommy, Shisui belum mengantuk."

Hinata menaikkan satu alisnya mendengar penuturan puteranya itu, Shisui menguap penuh saat sesudah berbicara seperti itu pada Hinata.

"Shisui, dengarkan apa kata Mommy."

Shisui tampak mengerucutkan kedua bibirnya, putera kedua mereka cenderung bersifat seperti Hinata. Sementara Izuna dan Arata sepenuhnya mewarisi apa yang Madara miliki. Rambut, mata, bahkan sifat mereka seperti Madara. Yang membedakan hanyalah senyum mereka yang lebih mirip dengan Hinata.

"Daddy, aku akan tidur. Tapi Daddy harus berjanji akan memberikanku adik perempuan yang cantik."

Hinata tergelak, mendengar penuturan si sulung yang berbicara dengan mudahnya. Diliriknya Madara dengan penuh selidik, merasa semua ini berasal dari ulah suaminya yang semena-mena.

Madara tampak menyeringai kearahnya, "Baiklah jagoan. Daddy akan memberikanmu adik permepuan yang cantik."

Izuna tersenyum tipis. Astaga, Hinata tidak menyangka jika putera sulungnya itu ternyata sudah memiliki pemikiran seperti orang dewasa. Dengan tenang, Izuna berjalan mendahului mereka menuju kamar mereka dilantai dua. Menaiki tangga dengan langkah tenang dengan kedua tangan kecilnya yang dimasukan kesaku mantel bulunya.

"Daddy, apa yang kau ajarkan pada puteraku, hm?"

Madara terkekeh, mereka berjalan mengikuti langkah Izuna menuju lantai dua. Segera menidurkan Arata dan Shisui yang kini ikut terlelap digendongan Hinata seperti Arata yang terlelap digendongan Madara.

SUGAR BABY

Hinata menikmati saat-saat seperti ini, saat dimana dirinya dipeluk dengan sayang oleh Madara. Kini, mereka sedang duduk didepan tungku perampian yang menyala untuk menghangatkan ruangan.

Ketiga putera mereka sudah tidur, kini mereka menikmati saat-saat dimana mereka bisa bermesraan. Karena jujur saja, sejak kehadiran si kembar tiga, waktu mereka untuk bermesraan sangatlah terbatas.

Madara dengan kesibukannya mengurus perusahaan dan Hinata yang sibuk mengurus ketiga puteranya yang nakal bukan main. Namun mereka berdua sangat menikmati saat dimana mereka disibukkan oleh ketiga putera mereka.

Madara merengkuh tubuh Hinata dari belakang, mereka duduk berdua dikursi berlengan dan panjang yang menampung dua orang. Madara meletakan kedua tangannya untuk melilit perut Hinata yang datar, sementara dagu pria tua itu tumpukan diatas kepala Hinata.

Dengan lembut, Madara mulai menciumi puncak kepala Hinata, kedua telapak tangannya mulai merayap, mengelus dan menyentuh apa yang bisa mereka sentuh. Hinata mendesah tertahan kala lidah basah suaminya itu menyapu bagian belakang daun telinganya.

Madara sudah keras, dan Hinata dapat merasakan gairah suaminya yang mengeras itu dibelakang tubuhnya. Hinata menikmati cumbuan yang dilakukan suaminya itu, yang bisa ia lakukan hanya mendesah dan menerima apa yang Madara berikan padanya.

Dengan perlahan, Madara menarik sisi kepala Hinata agar menoleh kearahnya. Madara meraup bibir Hinata dengan lembut, memberikan sentuhan dan lumatan yang sangat menggairahkan.

Hinata mengerang dan mendesah dalam ciumannya, dengan tidak sabar, Hinata membalikkan tubuhnya dan duduk diatas kedua paha suaminya. Kembali saling memangut, lidah mereka bertautan dengan mesra,

"Oh, Hinata."

Hinata meremas surai panjang suaminya dengan lembut, mulut Madara kini menjelajah bagian leher dan semakin turun kearah dadanya yang sedikit membusung. Dilepasnya blus hitam yang Hinata kenakan, Madara langsung memasukkan puncak yang tampak memerah itu kedalam mulutnya dan sesekali menggigitinya.

"Oh, Madara. Emh,,"

Hinata menggerakan pinggulnya, bagian tubuh Madara sudah mengeras dengan sempurna dan Hinata bisa merasakan itu dengan sangat jelas. Madara menggeram, merasakan gerakan pinggul Hinata yang menggoda dirinya.

Dengan kepiawaiannya, Madara memposisikan Hinata diatas dirinya dengan sempurna. Tentu saja dirinya sudah melucuti seluruh kain yang menutupi tubuh isteri tercintanya. Kini mereka sama-sama telanjang, bercinta diatas kursi santai dan didepan tungku perampian yang menyala.

Dengan gerakan mantap, Madara mendudukan Hinata dan dirinya berhasil memasuki Hinata dengan perlahan. Memasuki selubung hangat dan basah milik isteri yang membuat dirinya candu dan gila.

Madara membantu gerakan naik-turun yang dilakukan Hinata. Kedua telapak tangannya mencengkram lembut kedua sisi pinggang Hinata yang ramping. Dengan napas terengah dan terputus-putus, Hinata mendesah lirih sambil menatap sayu kearah suaminya.

Tanpa membuang kesempatan, Madara meraih mulut Hinata dengan mulutnya, membawa wanita itu kedalam ciuman panjang yang menggebu.

Mereka terus bergerak bersama, saling meraba, saling mengecup sambil mendesahkan nama mereka satu sama lain.

"Hinata, oh sayangku."

"Yha, Madara. Aku sangat mencintaimu."

Akhirnya, mereka mencapai puncak bersama, dengan kedua tubuh mereka yang bergetar merasakan kenikmatan yang tiada habisnya. Madara mengecup kening Hinata, membisikan kalimat yang sangat Hinata sukai dari pria tua itu padanya.

Satu kata yang sangat berarti dalam hidupnya, satu kata yang membuat hatinya merasakan euforia kebahagiaan yang tidak terbatas, satu kata yang membuat dirinya bertambah mencintai pria tu itu.

"Uchiha Hinata, Aku mencintaimu."

Dan beginilah akhirnya, akhir dari petualangan Hyuuga Hinata seorang Sugar Baby yang berakhir dan jatuh dalam pelukan Uchiha Madara. Pria tua yang telah memberikan segala yang diinginkannya didunia, pria yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk Hinata, tentunya bagi ketiga puteranya juga.

Bahkan mungkin, bagi calon janin yang akan tumbuh didalam rahimnya. Hinata berdoa dengan penuh harap didalam hatinya yang terdalam, agar dirinya dan Madara diberikan seorang bayi perempuan cantik yang bisa melengkapi keluarga kecilnya yang bahagia

.

.

.

TAMAT