Silence spring ch 9
.
.
.
.
Naruto milik MK-sensei
.
.
.
Happy reading ^^v
.
.
.
kalau saja Hinata bisa bicara, Hinata akan bilang kalau apa yang Naruto katakan itu tidak benar. Hinata memegang erat baju yang digunakan Naruto, posisinya sekarang berhadapan dengan Naruto. 'Setidaknya kau jangan mati dulu!' batin Hinata. Kepala Hinata menunduk semakin dalam. Ingin mengatakan kalau Naruto tidak seburuk itu dibandingkan dengan nasibnya.
"Hime?" tanya Naruto karena gadis dihadapannya menunduk dan bahunya sedikit berguncang.
Hinata menggeleng, jangan panggil Hinata dengan nada suara seperti itu. Apa yang harus Hinata katakan? Apa yang harus Hinata lakukan untuk mencegah Naruto semakin jauh ke tengah laut? Dan ide gila memasuki otaknya, dengan sekali tarikan Hinata menggapai bibir Naruto. Jika tidak bisa melakukannya dengan kata-kata, maka lakukan dengan perasaan dan tindakan. Ada sesuatu yang menariknya untuk melakukan itu, dan sejak accidental kiss itu, Hinata selalu mendamba ciuman lain diantara mereka, ingin mengetahui Naruto lebih jauh, padahal mereka baru bertemu.
Naruto cukup kaget dengan apa yang dilakukan Hinata sekarang, menciumnya? Kenapa? Bibir itu menyalurkan rasa takut yang hebat. Apa Hinata mencoba menghentikannya? Kenapa? Ada terlaku banyak pertanyaan diotak Naruto sekarang. Hinata yang baru dikenalnya tidak ingin dia pergi lebih jauh lagi dari ini?
oOo
Hinata tahu terbangun dipelukan laki-laki yang bahkan bukan ayah dan kakaknya adalah kesalahan, harusnya ada jeritan dan pukulan-pukulan yang diterima pria yang tengah memeluknya dengan posesif diatas hamparan pasir pantai yang mulai menghangat ditimpa sinar matahari.
Tapi bukannya menjauh, Hinata malah semakin menenggelamkan kepalanya di dada telanjang milik Naruto. Hinata pasti sudah gila, apa yang harus dia lakukan sekarang? Wajahnya mulai memanas karena malu.
"Ciuman semalam, itu hanya untuk mencegahku semakin jauh dari pantai kan? Hanya rasa simpati dan kasihan?" tanya Naruto mengeratkan pelukannya pada Hinata.
Hinata ingin menggelang, tapi tangan Naruto menekan kepalanya agar tak bisa mengangguk atau menggeleng. Naruto tidak ingin jawaaban apapun yang akan menyakiti hatinya, Hinata akui awalnya hanya rasa kasihan tapi melihat Naruto menunjukan rasa putus asanya semalam Hinata tahu dia ingin menyelamatkan Naruto lebih dari kasihan.
"Apapun yang kau rasakan, jangan membuat itu merubah sikapmu padaku. Marah, sedih, kesal dan apapun itu teruslah tunjukan padaku. Aku lebih senang kau seperti itu dibandingkan kau menunjukan rasa simpati dan kasihan padaku"
'Tidak! Bukan seperti itu Naruto, aku-'
"Aku hanya minta tolong padamu"
'Aku penjagamu bukan, Naruto? Aku akan melakukannya sampai rasa putus asa dihatimu hilang, kau fikir aku tidak akan bisa bertahan? Aku pelayan ayahku sendiri dan sekarang aku penjagamu juga.'
Naruto melepaskan pelukannya, semakin lama dia memeluk Hinata semakin dia ingin menunjukan kelemahannya seperti semalam dan itu tidak boleh terjadi lagi padanya. Pantai itu mulai ramai dengan kegiatan nelayan yang baru pulang melaut. Naruto bangun dan meregangkan tubuhnya sesaat, kemudian menatap Hinata yang duduk melihat kearah laut. Kaos itu membuat tubuh Hinata hangat semalam.
Mereka pulang bersama ke kota, Naruto dengan santai duduk walaupun tubuhnya setengah telanjang sekarang, penumpang bus yang rata-rata orangtua hanya tersenyum maklum bahkan ada yang sampai tertawa dan menepuk pundak Hinata yang menunduk karena saking malunya. 'Kenakan kaosmu lagi, aku kan sudah menggembalikannya padamu_' tulis Hinata
"Kaosku bau keringat dan aku tidak suka memakai kaos bekas pakai orang lain" ucap Naruto santai
Perempatan siku-siku muncul didahi Hinata, Naruto ingin membuatnya malu apa? Kalau begitu Naruto sudah sukses membuat Hinata malu seumur hidup.
Buk!
Hinata memukul kepala Naruto dan memasang wajah kenakan-atau-kubunuh-kau. Naruto melempar kaos itu pada wajah Hinata. Hinata menahan nafasnya, kaos itu memang berbau tidak sedap. Dengan wajah pucat pasi Hinata mengembalikan kaos itu ketangan Naruto dan duduk diam.
"Kan sudah kubilang, kau itu memang keras kepala" ucap Naruto
Hinata mengangguk seperti robot dan diam selama dalam perjalanan. Jalanan meliuk-liuk disisi tebing pegunungan seperti ular hitam yang sangat panjang. Naruto fikir hanya untuk mencapai pantai indah itu, jalan yang sulitpun harus dibuat agar orang-orang nyaman saat menempuh perjalanan menuju pantai. Betapa sulitnya para pekerja hanya untuk membangun jalanan ini, berhari-hari sementara sekarang dirinya hanya tinggal duduk diam dan menikmati perjalanannya hanya 5 jam saja. Hidup juga seperti itu, untuk mencapai kesuksesan dirinya harus menempuh jalan yang dibukanya sendiri, dan hal lainnya akan mengikuti dengan mudah. Sekarang Naruto ada dibagian mana?
Kepala Hinata terkulai dibahu Naruto, dia benar-benar bosan sampai jatuh tertidur. Dia sempat mencolek Naruto untuk meminjam bahunya, tapi Naruto tenggelam dalam lamunannya. Matanya kembali terbuka saat Naruto mengguncang kepalanya, astaga dia baru saja memejamkan mata.
"Hime, kita sudah sampai" seru Naruto yang melihat Hinata akan tidur lagi.
Dengan sangat terpaksa Hinata membuka matanya dan berdiri. Naruto menuntunnya sampai turun ke depan halte kemudian masuk lagi. Hinata berjalan menuju taman, tenggorokannya terasa kering dan dia butuh cuci muka sekarang. Air minum itu cukup menyegarkan Hinata sekarang, tapi kakinya terasa sangat lemas untuk berjalan sampai rumah belum lagi perutnya yang berisik minta diisi.
Kryuyuuuuk!
Hinata tertawa sendiri mendengar bunyi perutnya, kemudian sadar kalau bukan hanya dirinya yang tertawa. Jade Gaara tak terlihat dibalik kelopak matanya, bibirnya ikut tertawa mendengar suara perut Hinata "Sepertinya aku benar memilih tempat untuk sarapan".
Kenapa jika bertemu Gaara dirinya selalu dalam keadaan memalukan seperti ini? Hinata menunduk malu saat Gaara duduk disampingnya, tangannya mengulurkan seporsi sandwich yang membuat air liur Hinata menetes. "Ini untukmu" tawarnya.
Hinata menggeleng dan tanpa sadar merangkai bahasa isyarat 'Untukmu saja, kau harusnya makan banyak. Setelah ini kau pasti bertugas lagi'
Gaara tersenyum menanggapi penolakan Hinata, "Adikku tidak bisa mendengar kalau kau fikir aku tidak bisa memahami bahasa isyarat, kau salah besar." komentarnya menarik tangan Hinata agar menerima sandwichnya. Masih ada sepotong sandwich yang bisa mengganjal perutnya sampai siang nanti.
'Benarkah?'
"Hmm kau fikir kenapa aku bisa berteman dengan kakakmu yang beda Fakultas itu? Kami sering berbagi pengalaman memiliki adik seperti kalian."
'Lalu dimana adik kakak sekarang?'
Gaara menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Hinata. "Dia bunuh diri karena putus asa dengan hidupnya." ucap Gaara mengelus puncak kepala Hinata "Aku bersyukur kau tidak berpikiran seperti adikku dan tetap hidup sampai sekarang"
Hinata tersenyum kecut, bukankah dia mencoba bunuh diri sebelumnya?
"Kau tahu, sakit kehilangn orang yang kau sayangi bisa membuatmu ikut putus asa terutama jika dia bunuh diri. Seolah kau berdosa besar karena tidak bisa membahagiakannya."
Mendengar itu, Hinata malah teringat pada Naruto. Wajahnya yang tampak putus asa kini memenuhi otak Hinata. Naruto harus ditolong.
oOo
Naruto keluar dari kamar mandinya, sangat menyegarkan setelah kemarin dirinya lengket oleh air laut kemudian diceramahi habis-habisan oleh Kaa-chan dengan dibanjiri air mata. Narutokan anak laki-laki, wajarkan kalau dia bilang main sampai lupa waktu? Padahal dirinya tergoda memasuki laut yang dalam kemarin. Kenyataan itu akan Naruto simpan rapat-rapat.
Sekarang giliran Sakura yang harus Naruto fikirkan. Karena tidak tahu awalnya, Naruto sangat blank dengan masalah mereka bertiga. Pertama, menemukan si Suke itu dulu dan menanyakan apa yang terjadi. Masalahnya Naruto tidak tahu si Suke itu dimana sekarang dan dirinya pun enggan berhubungan dengan masa lalu lagi. Mau tidak mau, harus berhubungan lagi.
Keluar dari kamarnya, Naruto menghampiri Kushina yang sedang duduk nonton tv, "Ano, apa Kaa-chan masih berhubungan dengan Mikoto-baasan?" tanya Naruto.
Kushina yang sedang menangis menikmati dorama kesukaannya hanya menggeleng pelan kemudian menatap Naruto "Kenapa kau menanyakan itu?"
"Hanya ingin tahu saja" kilah Naruto segera meninggalkan Kushina yang asik mengelap airmatanya dengan tisu.
"Kaa-chan tidak berhubungan lagi dengan keluarga Uchiha. Sekarang apa? Si Suke itu tampan, ya tidak lebih dariku. Berbakat, tentu lebih berbakat aku. Lalu apa?" fikir Naruto mengingat teman masa kecilnya itu. Umumnya ingatan anak dibawah lima tahun akan terlupakan begitu saja, tapi Naruto masih mengingat apapun sejak dia bisa bicara. "Selain dia suka menangis, dia bermain biola.. Apa dia jadi pemain musik? Sulit mengenalinya jika bertahun-tahun tidak bertemu" desah Naruto. Sasuke wajahnya seperti apa saja, Naruto tidak bisa membayangkannya. Pasti tidak lebih tampan dari Naruto.
Naruto mengenakan sepatunya, hari ini ada kelas siang yang harus dia hadiri, sampai di gerbang kampus dirinya malah melihat penjaganya sedang berdiri seperti preman. Sembari melirik jamnya berkali-kali.
Untuk kesekian kalinya Hinata melihat jam tangannya, dia lupa untuk menunggu Naruto di halte rumah sakit, 'semoga dia selamat sampai kampus' doanya pada Kamisama. Akhirnya, mata Hinata melihat Naruto juga, tanpa lecet sedikitpun. Hinata melambaikan tangannya tapi Shion segera menangkap tangannya "Dimana kau kemarin? Katakan? Apa kau tahu aku begitu panik saat kemarin Hanabi menelponku hanya untuk mencarimu? Aku terpaksa berbohong padanya! Mengatakan kau ada dirumahku. Dimana? Dimana ku kemarin malam?" tanya Shion bertubi-tubi.
Hinata hanya dapat melongo, bagaimana dirinya mau menjawab tangannya saja dipegang Shion. Dengan susah payah dirinya melepaskan diri 'Maafkan aku Shion. Sungguh terima kasih telah menolongku' pantas saja saat kembali tadi pagi, keluarganya tidak bertanya macam-macam.
"Ini tidak gratis, kau harus menceritakan kemana kau kemarin" desak Shion. Dia khawatir, sahabatnya belum pernah seperti ini sebelumnya. Ada yang berubah dari Hinata, dan Shion ingin tahu itu.
"Kau sudah selesai? Bisa aku pinjam dia?" tanya Naruto dibalik punggung Shion.
Shion berbalik pada Naruto, pandangannya menyelidik. "Siapa kau? Ada urusan apa dengan Hinata?"
"Hanya teman biasa, bisakah aku membawanya sekarang?" jawab Naruto asal dan tidak sabar.
"Tidak, aku ingin tahu urusanmu dengan sahabatku." kukuh Shion.
"Hime, bisa singkirkan dia dulu?" ucap Naruto menunjuk dahi Shion.
Shion menatap Hinata yang gelagapan. 'Shion, aku janji akan menceritakan semuanya setelah ini. Tapi biarkan aku pergi dengannya dulu' pinta Hinata dengan wajah memelas.
Shion nampak kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tangannya merangkai isyarat pada Naruto 'Dasar brengsek'
Naruto hampir tersedak dikatai brengsek. Dia menyesal sudah belajar bahasa isyarat tadi pagi. "Kau yang brengsek, Nona." geram Naruto menarik tangan Hinata, yang memasang wajah syok. Naruto baru sadar Hinata suka sekali memakai isyarat bersamanya, dia bisa mendengar Naruto tapi menjawab dengan tulisan.
Naruto bisa bahasa isyarat? Sejak kapan? Apa dia pura pura tidak bisa bahasa isyarat?
"Aku baru belajar pagi ini" ucap Naruto seolah mengetahui isi kepala Hinata. "Kita akan ke toko buku kalau kau ingin tahu, dan aku akan bolos kuliah siang ini" tambahnya.
Hinata menyamakan langkahnya dengan Naruto mengikuti kemana Naruto menariknya pergi.
"Kau harus mencari nama Uchiha Sasuke di setiap majalah musik yang ada" terang Naruto, untuk mendeskripsikan wajahnya Naruto urungkan, dia bahkan tidak bisa memprediksi wajah si Suke itu setelah dewasa. Tiba-tiba Hinata menariknya kedalam sebuah toko.
Hinata menarik Naruto ke tempatnya kerja part time, toko buku Shino. Sang pemilik misterius yang suka memakai baju kerah tinggi hingga mampu menyembunyikan setengah dari wajahnya. Dia bilang itu cosplay dari tokoh anime kesukaannya. Belum hoodie dan kacamatanya membuatnya semakin mirip teroris, eh entahlah. "Siang Hinata, kau sip malam kan?" tanya Shino menurunkan komik 18++.
'Aku mencari majalah musik untuk temanku'
Shino hanya mengangguk mengerti karena Naruto yang menerjemahkan bahasa isyarat Hinata. Naruto menaikan alisnya, dia memgangguk sambil bicara atau hanya mengangguk saja? Apa Naruto harus mengatakan sesuatu? Tapi tangan Hinata segera menariknya ke area majalah musik.
'Sasuke Uchiha ya?' batin Hinata membuka sebuah majalah musik dan mulai mencari. Dilihatnya Naruto antusias mencari di majalah Top bikini summer. Dengan wajah memerah Hinata menarik majalah itu dari Naruto dan memukulkannya pada kepala Naruto 'Baka!' mana ada pemain musik pria menggunakan bikini, kecuali dia menjadi desainer.
Naruto meringis mendapat pukulan dari Hinata. Dia baru membuka halaman pertamanya saja. Naruto menguap membuka lembar demi lembar majalah musik yang ke sepuluh. Tidak ada Sasuke, hanya ada Uchiha dan dia bukan laki-laki tapi perempuan.
Hinata menggeleng pelan mendengar erangan Naruto. Pasti belum ketemu, saat mencari lagi tak sengaja Hinata melihat majalah bisnis edisi terbaru dengan sampul Kakaknya Neji.
"Hime sini" panggil Naruto melambaikan tangannya yang sedang bersandar di rak buku.
Apa Naruto sudah menemukannya? Setelah dekat, bukannya berkata sesuatu tapi Naruto malah menariknya duduk dan menyandarkan kepalanya dibahu Hinata. "Aku ingin tidur sebentar" bisiknya memejamkam kedua matanya.
'Bikin kaget saja! Diakan bisa bersandar pada rak buku' rutuk Hinata.
"Boleh pinjam pahamu?" tanya Naruto. Tidur sambil duduk rasanya kurang nyaman.
'Eh? Eeeeeh? Apa maksudnya?' batin Hinata panik, apa Naruto akan meraba-raba tubuhnya?
Belum juga Hinata menjawab, Kepala Naruto sudah turun ke paha Hinata, surainya menusuk masuk serat kain celana Hinata, membuatnya sedikit geli. Naruto meluruskan tubuhnya menatap Hinata yang menunduk memandangnya. "Kau berfikiran mesum lagi" ucap Naruto mengetuk dahi Hinata.
Pssssh! Rona merah menyebar diwajah Hinata. Kenapa Hinata jadi begini? Keduanya terdiam cukup lama hingga Hinata memegang kedua pipinya yang terasa panas dan menggeleng pelan, kemudian menutupinya dengan majalah bisnis yang terbawa tangannya.
"Kubilangkan musik, bukan bisnis" Komentar Naruto melihat sampul majalahnya.
Tunggu! Ada nama Uchiha disana. 'Penerus Uchiha Grup, Itachi Uchiha. Sukses diusia muda, apa kabar dia sekarang?'. Naruto menarik majalah itu dari tangan Hinata. Membuka halaman dimana gambar Itachi berada. 2 dari 3 halaman itu berisi artikel mengenai Itachi yang dikemas seperti dalam sesi tanya jawab sesungguhnya.
"Itachi adalah kakak Sasuke" jelas Naruto membaca artikel tersebut, semoga ada Sasuke didalamnya.
Hinata menarik rambutnya kebelakang telinga, dia ingin ikut membaca tentang Itachi dan melihat wajah Uchiha tapi Naruto semakin menekuk buku itu ketubuhnya hingga Hinata harus menunduk lebih rendah lagi.
Naruto menyadari pipi Hinata yang menekan hidungnya pelan. Sepertinya Hinata tidak sadar kalau mereka sudah bersentuhan sekarang. Hingga Naruto menempelkan majalah itu ketubuhnya. Hinata berdecak sebal, kemudian matanya melebar menatap shappire Naruto, mereka lebih dari sekedar dekat.
Tubuh Hinata mendadak kaku, seperti engsel yang rusak dan tidak mau bergerak. Hanya perlu menggeser kepalanya sedikit dan bibir hangat-
CTAK!
Naruto menjitak dahi Hinata dengan telunjuknya, membuat Hinata meringis menjauhkan kepalanya dari Naruto "Kau berfikir mesum lagi" Ucap Naruto, padahal dirinya tidak jauh berbeda dari Hinata.
'Aku baru saja memikirkannya' batin Hinata mendelik kesal pada Naruto.
"Itachi tidak menyinggung pekerjaan si Suke itu." alih Naruto kembali membaca, menghindari tatapan kesal Hinata.
Foto Itachi yang memenuhi satu halaman nampak berwibawa dengan jas hitamnya, bibirnya tersenyum kecil, sebagai formalitas semata. 'Dia tampan' batin Hinata, bibirnya tersenyum suka.
"Aku lebih tampan" ucap Naruto menutup buku itu, melihat Hinata tersenyum karena foto Itachi hatinya tiba-tiba tidak rela.
Hinata memajukan mulutnya, Naruto memang suka menghancurkan kesenangan orang lain. Menyerah dengan majaklah musik, Naruto mengambil sebuah buku horror dan membayarnya dikasir.
Wajah Hinata sumringah mendengar musik piano solo mengalun dari speaker toko. Lagu 'Ketika senyumannya hilang' milik Kushina, 'Shino darimana kau dapat lagu ini?_' ketik Hinata.
"Aku membeli edisi terbatasnya ditoko online,"
'Apakah dia akan kembali ke dunia musik?_'
Shino hanya mengangkat bahu.
Naruto disamping Hinata hanya diam, Hinata yang mengetik dan Shino yang berkerah tinggi membuatnya hanya mematung. Bagaimana bisa kedua mahluk itu melupakan Naruto, sedikit yang bisa Naruto tangkap dari ketikan Hinata, mereka membahas sebuah lagu.
"Kau menanyakan lagu apa?" tanya Naruto penasaran.
'Tepatnya musik instrumental saja, dari seorang pianis. Melodynya membawa perasaan naik turun.'
"Oh," komentar Naruto pendek. Pianis ya?
Tes.
Tes. Tes.
Hinata menatap langit yang mulai mengeluarkan jutaan tentaranya, beberapa berhasil menyentuh wajah Hinata. 'Hujan' batinnya mulai mempercepat langkahnya ke halte rumah sakit.
"Sial semakin deras!" teriak Naruto menarik tangan Hinata untuk segera berlari ke halte yang hanya tinggal beberapa meter lagi "Huh! Basah" omel Naruto mengibaskan surainya yang lepek terkena air hujan.
Hujan. Halte. Hanya mereka berdua, harusnya ini jadi moment romantis untuk mereka bukan? Tapi Hinata benci Hujan, karena-
"Ha- ha-tcih"
Karena Hinata mudah kena flu, lalu bagaimana dengan air laut tempo hari? Ah, pantai itu rasanya hangat berbeda dengan- "Hatcih" sekarang. Dingin, rintik hujan, dan angin. Hinata menggosok Hidungnya yang memerah.
Naruto melihat hidung Hinata yang memerah seperti hidung badut. Tangannya gatal ingin mencubit hidung itu agar semakin merah "Lain kali bawa saputangan" ucap Naruto menyodorkan sapu tangannya.
Hinata menerima sapu tangan itu 'Yang dulu saja belum sempat kukembalikan' batin Hinata menatap sapu tangan itu, sapu tangan berwarna biru dengan sulaman nama Naruto. Sayang sekali kalau buat- "Hatcih" segera saja sapu tangan itu berpindah ke hidung Hinata, tidak ada kata sayang untuk barang yang memang sudah ada fungsinya.
Seorang pria berpayung putih bergabung tak lama kemudian, jas putih panjangnya menandakan kalau dia seorang dokter,
"Hime, besok mau kah kau mengantarku ke gudang alat musik?" tanya Naruto
'Untuk?'
"Antar saja"
'Asal jangan berniat merusak saja'
"Hmm"
'Jawab yang benar!'
"Hmm mungkin"
Bus yang ditunggu Naruto berhenti pria yang menggenakan payung itu segera menutup payungnya dan masuk.
Hinata mencekal tangan Naruto. 'Jangan memberi jawaban yang membingungkan seperti itu'
Bukannya menjawab Naruto malah mendekap Hinata dan mendekatkan wajahnya, otomatis Hinata menutup matanya, tapi tidak ada yang terjadi selain Naruto yang berbisik "Dasar mesum" dan masuk ke dalam bus.
Naruto memilih tempat duduk paling belakang yang diisi oleh dirinya dan seorang dokter di sebrang Naruto. Hinata sedang memukul kepalanya sendiri dengan wajah menyesali ekspresinya 'baka' apa yang dia fikirkan tadi? Astaga! Naruto memang suka mempermainkan Hinata. Mata Hinata melihat Naruto yang memandanginya sejak tadi.
'Apa?'
Sebagai ganti senyum dibibirnya Naruto menggambar emoticon smile dikaca bus yang memburam dan menulis 'See you tommorow'
Naruto merilik sekilas dokter yang sedang memejamkan mata sambil mendengar musik. 'Pantat ayam' batin Naruto melihat gaya rambut dokter itu 'Diakan dokter bukan pelawak' komentar Naruto.
.
.
.
.
.
tbc...
.
.
.
.
Footnote :
Terima kasih untuk reviewnya, follownya, favoritnya dan tentu siapapum yang baca fic ini ^^v #semangat!
.
.
.
mind to R&R?
